"Mas Adam, aku mau kita bercerai!" seru Fani dengan santai tanpa beban.
Adam yang tengah memainkan tangan mungil putrinya terkejut, ditatapnya wajah istrinya yang baru pulang dari kemarin. Adam mencium kening Sasa putrinya yang baru berumur satu bulan itu.
"Maksud kamu apa, Yang. Sebaiknya kamu istirahat dulu," ucap Adam lembut memapah istrinya untuk duduk di tepi ranjang.
"Aku serius, Mas. Aku mau pisah!" kata Fani sambil menatap Adam.
"Yang, kalau ada masalah kita bicarakan baik-baik tidak seperti ini. Apa karena aku enggak mentransfer uang kemarin kamu marah terus minta pisah sama aku," ujar Adam dengan mencoba tenang menghadapi wanita yang begitu dicintainya.
Fani menatap pria yang sudah hampir dua tahun itu menjadi suaminya, tapi sayangnya Adam hanya seorang dosen lepas. Sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhannya selama ini, walaupun ia mencintainya. Namun, hampir satu tahun ini Fani sudah selingkuh dari suaminya.
Fani yakin kalau Sasa anak Adam karena selama ia selingkuh dengan Raka, tidak pernah melakukan hubungan intim. Wanita itu sudah berjanji setelah melahirkan akan meminta pisah dari Adam.
"Bukan, tapi aku mau pisah karena aku sudah ada pria lain," ucap Fani santai.
Adam terdiam, ia begitu ingat sudah berapa kali diperingatkan oleh Devan kalau Fani ada main di belakangnya, tetapi karena rasa cinta yang mendominasi ia mengabaikan apa yang di katakan sahabatnya itu.
Wajah yang tadinya terlihat santai dan tenang, sekarang Fani bisa melihat rahang suaminya mengeras dan terdengar suara gemeretak dari giginya menahan marah.
Kedua tangan Adam mengepal untuk tidak sampai hilang kendali dengan apa yang didengarnya langsung dari mulut wanita yang hampir dua tahun ini menjadi istrinya.
"Tinggalkan dia, aku akan menerima mu lagi demi Sasa," kata Adam dengan wajah dingin.
"Keputusanku sudah bulat, Mas. Maaf selama ini belum pernah menjadi istri dan ibu yang baik buat mu dan Sasa," ucapnya sambil menatap Adam, "semoga kamu dapat perempuan yang baik sepertimu."
Fani berjalan menuju ke lemari dan mulai mengambil kopernya, saat wanita itu sudah selesai mengemas pakaiannya dia segera meninggalkan Adam dan putrinya di kamar. Perempuan itu terkejut saat membuka pintu ada Mirna mertuanya.
"Fani Mama mohon, Nak. Jangan tinggalkan Adam dan putrimu, kasihan dia masih kecil masih membutuhkan asi dan kasih sayang seorang Ibunya," kata Mirna sambil menangis.
"Maaf Mam, ini sudah jadi keputusan Fani. Lagian Sasa tidak pernah aku kasih asi, jadi Mama enggak usah khawatir," ucap Fani
Tiba-tiba Wanita paruh baya itu bersujud di depan Fani, memohon supaya tidak meninggalkan putra dan cucunya, tetapi apa di kata Ibu dari bayi itu melangkah keluar meninggalkan mertuanya yang sedang terduduk di lantai dengan tangis pilunya.
Adam yang baru keluar dari kamar hendak mengejar Fani langkahnya langsung terhenti saat melihat wanita yang sudah melahirkannya terduduk di lantai sambil menangis.
"Mama," kata Adam terkejut
"Adam kamu kejar Fani, Nak. Tolong kamu bujuk dia untuk kembali ke rumah, Dam," ucapnya dengan suara melemah sedetik kemudian Mama Mirna pingsan di dekapan putranya.
Dari tangga Nadia terkejut melihat apa yang terjadi, ia langsung menghampiri Om dan Neneknya sambil berucap, "Ada apa ini?" tanya Nadia
"Nadia mana Rangga?" tanya Adam dengan wajah khawatir.
"Ada apa Om?" Rangga bertanya saat sampai di dekat kamar Adam.
"Angga tolong Nenek pingsan," kata Adam panik.
"Om tenang saja, sayang kamu ambil air putih kasih ke Om Adam biar tenang!" titah Rangga
Tanpa menunggu lama Nadia segera menuju dapur untuk mengambil air buat Adam yang terlihat shock saat melihat neneknya pingsan. Gadis itu segera kembali ke ruang atas, dia menatap pria yang terlihat sedih saat ini.
"Om, sebenarnya apa yang membuat Nenek pingsan?" Nadia bertanya sambil menggendong Sasa yang sedang rewel.
Adam menceritakan semuanya, hal itu membuat Nadia terkejut. Sebenarnya gadis itu sudah tahu kalau Fani main di belakang pria yang kini di sampingnya, tetapi karena melihat Omnya begitu mencintai istrinya akhirnya ia memilih diam dan membiarkan supaya kelak tahu sendiri.
"Sekarang mana Tante Fani, Om?' tanya Nadia yang sudah terlihat kesal.
Adam menarik napas dalam dan menghembuskan secara kasar sambil berucap, "Dia pergi."
Nadia yang akan memberondong pertanyaan kepada Adam ia urungkan karena Rangga calon suaminya keluar dari kamar Omnya.
"Yang," kata Rangga
"Nenek hanya shock saja, tetapi jangan sampai beliau berpikir keras lagi, darah tingginya naik lagi. Yang apa obatnya enggak pernah di minum lagi?" tanya Rangga kepada wanita yang dicintainya itu.
"Maaf," kata Nadia
Adam hanya diam sedari tadi, kemudian ia pamit kepada Nadia serta menitipkan Sasa kepada keponakannya itu.
Adam mengendarai motor sportnya dengan kecepatan tinggi menuju ke arena balap yang sudah lama tak dikunjunginya selama menikah dengan Fani. Perjalanan yang biasa ditempuh satu jam, kini Adam hanya membutuhkan waktu hanya tiga puluh menit saja sudah sampai.
Devan sahabatnya tersenyum tipis , saat melihat Adam muncul dengan wajah yang bisa ia tebak sedang ada masalah berat.
"Ada apa, Fani tidak pulang lagi, hem?' tanya Devan sambil duduk di samping sahabatnya itu.
"Dia tidak akan pernah kembali, Van,"jawab Adam sambil menatap rekan yang lainnya yang mau ikut balapan.
"Maksudnya?" tanya Devan bingung dengan jawaban Adam.
Adam kembali menceritakan kalau Fani setelah dua hari tidak pulang, tiba-tiba minta cerai dengan alasan sudah ada pria lain selain dirinya. Devan yang mendengar itu tersenyum getir, padahal semua sudah Adam berikan kepada mantan istrinya itu. Namun, wanita rubah itu tidak juga bersyukur.
"Jadi kamu menyerah sekarang, Dam?" tanya Devan sambil menatap sahabatnya itu.
"Aku sudah menyuruhnya untuk meninggalkan Raka Nugroho, dan akan memaafkannya demi Sasa. Namun, sia-sia dia lebih memilih pengusaha kaya itu dibanding aku dosen yang tidak tetap," jelas Adam
Devan hanya bisa prihatin dengan nasib rumah tangga Adam saat ini, saat umur anaknya genap satu bulan ibu kandungnya pergi meninggalkan hanya demi pria lain yang lebih kaya dari suaminya.
"Kalau butuh apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi," tawar Devan sambil mengusap bahu Adam.
Adam hanya tersenyum tipis, apa begitu menyedihkan dirinya saat ini sampai Devan mengatakan hal itu. Tiba-tiba handphonenya bergetar tanda ada pesan masuk. Matanya langsung melebar saat membaca pesan Nadia yang mengatakan kalau Sasa di bawa ke rumah sakit karena tiba-tiba kejang.
Adam segera berlari menuju ke motornya, Devan yang melihat itu tidak tinggal diam. Pria itu langsung merampas kunci motor Adam dengan Paksa saat tahu kalau Sasa masuk rumah sakit dari penjelasan Adam.
Setelah satu jam membelah kepadatan kendaraan ibu kota Devan baru sampai di depan UGD rumah sakit medica. Adam yang langsung melompat sebelum motor berhenti membuat Sahabatnya mengumpat sepanjang jalan menuju ruang UGD.
Wajah Adam langsung pias saat melihat Nadia menangis histeris di pelukan Rangga, pria itu menatap keduanya dengan rasa was-was.
"Bagaimana keadaan Sasa, Nad?" tanya Adam dengan suara bergetar.
Bersambung ya ....
Nadia menatap Adam dengan mata yang sudah sembab karena menangis sedari tadi, dia langsung berhambur di pelukan Omnya. Adam membalas pelukan ponakannya dan berharap putrinya baik-baik saja. Sedangkan Rangga hanya bisa menghela napas panjang, tak lama dokter keluar dari ruang UGD sambil tersenyum menatap Rangga rekan sejawatnya.
"Bagaimana?" tanya Rangga langsung.
"Demamnya terlalu tinggi, dan dia alergi protein sapi makanya keluar ruam merah di tubuhnya," ujar Maya sambil menepuk bahu Rangga.
Adam diam terpaku, ia menatap lekat Rangga. Devan yang melihat sahabatnya hanya diam mematung mengajaknya untuk duduk sedangkan Nadia mengikuti dokter untuk mengurus kepindahan ruang rawat Sasa si bayi mungil.
Setelah Sasa di pindahkan ke ruang rawat semuanya masuk ke ruangan, hati Adam begitu pedih saat melihat tangan mungil bayi berumur satu bulan itu harus dipasang jarum Infus.
"Om, coba hubungi Tante Fani. Sasa butuh asinya sekarang," jelas Nadia yang sedang duduk di samping branker di mana tubuh kecil itu sedang berbaring.
Adam menatap Devan dan Rangga kedua pria itu mengangguk menyetujui usul dari Nadia, saat Adam menghubungi Fani nomornya sudah tidak aktif. Pria itu bergegas pergi dengan langkah panjang.
"Dasar gila!" umpat Devan saat melihat Adam pergi begitu saja.
Devan dengan berlari mengejar Adam, ia tak akan membiarkan sahabatnya itu untuk mengendarai motor sendiri.
"Dam, biar aku yang bawa motornya. kamu bilang saja minta antar kemana!" seru Devan.
"Apartemen Fani," kata Adam
Tanpa menunggu lama Devan melajukan motor sport warna hitam itu membelah jalanan ibukota. Setelah tiga puluh menit keduanya sampai di lobby apartemen tempat Adam dan Fani tinggal dulu.
"Apa kamu yakin, dia ada di dalam," kata Devan Saat Adam akan memasukan password apartemennya.
Devan tak ingin jika Adam langsung masuk akan melihat pemandangan yang akan membuatnya terpuruk nantinya. Namun, Adam tetap membukanya. Keduanya masuk sambil memperhatikan sekeliling, tetapi tiba-tiba keduanya saling tatap saat mendengar suara desahan dari kamar.
Adam mengepalkan kedua tangannya, rahangnya mengetat dengan wajah yang sudah memerah. Dia langsung mendobrak pintu kamar dengan kekuatan penuh hingga membuat dua orang yang sedang memadu kasih di dalam terperanjat.
Fani langsung menutup tubuhnya dengan selimut, sedangkan Raka hanya diam tanpa ada rasa bersalah. Devan yang melihat sahabatnya sudah di batas kesabaran langsung mengajaknya pergi, tetapi Adam tiba-tiba memberikan bogeman ke wajah pria yang sedang memakai kaosnya.
"Fani Santika! detik ini aku talak kamu dan sekarang kamu bebas!" seru Adam lantang membuat Fani menegang sedangkan Raka hanya tersenyum sinis sambil mengusap bibirnya yang berdarah.
Adam seakan lupa dengan tujuannya datang ke apartemen, pria itu tidak menyangka kalau wanita yang masih sah menjadi istrinya berbuat hal menjijikkan seperti tadi.
Devan menatap Adam yang terlihat berantakan, dia sudah mengira ada Raka karena melihat mobil yang tak asing terparkir tak jauh dari motor Adam tadi.
"Temani aku mencari susu kedelai buat Sasa," ajak Adam.
"Air tahu mana ada jam segini, Dam!" sahut Devan kesal.
"Cih, siapa cari air tahu," guman Adam
"Serah deh!" balasnya Devan kesal
Devan kembali mengendarai motornya menuju apotek terbesar di ibukota, Adam tanpa ragu segera turun, ia konsultasi terlebih dahulu dengan apoteker yang menghampirinya. Setelah ia mendapatkan apa yang dicarinya Adam segera menghampiri Devan.
"Sudah dapat air tahunya?" tanya Devan yang melihat Adam membawa kantong besar.
Adam tak menjawab, tetapi matanya menatap jengah sahabatnya itu. Setidaknya susu yang dibelinya cukup buat Sasa, sampai menjelang gajian nanti. Pria itu sekarang akan fokus kepada Sasa, karena rasa sakit atas apa yang ditorehkan oleh mantan istrinya begitu dalam.
Setelah menempuh perjalanan dua puluh menit Kedua pria itu sampai di rumah sakit. Berjalan beriringan keduanya selalu menjadi perhatian pengunjung dan para perawat wanita.
Adam perlahan membuka ruang rawat anaknya, ia begitu terkejut saat melihat Mamanya sedang menjaga Sasa.
"Mama, kenapa bisa ada di sini?" tanya Adam sambil memeluk wanita yang dari siang tadi tak dijumpainya.
"Mama mau jaga Sasa, Sayang. Hari ini Nadia harus ada operasi dadakan," ujar Mirna sambil tersenyum menatap putranya.
Wanita paruh baya itu melihat ada luka yang menganga dari tatapan putranya, walau Adam tersenyum hangat padanya, tetapi dia tahu apa yang kini dirasakan oleh Ayah satu anak itu.
"Apa kalian sudah makan?" tanya Mirna sambil menatap Adam dan Devan bergantian.
"Belum Tante, takutnya saya lagi makan Adam menggila!" gerutu Devan sembari menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada di pojok ruang rawat bayi mungil itu.
Adam hanya melengos saja saat Devan mengatakan dirinya gila, ia akhirnya keluar untuk membeli makanan. Setelah Adam pergi Mirna beranjak dari duduknya, dia menghampiri Devan yang terlihat begitu lelah.
"Van, apa Adam tadi mencari Fani?" tanya Mirna sambil duduk di depan pria yang kini membetulkan posisi duduknya.
Devan menatap wanita yang sudah di anggap seperti ibunya sendiri itu hanya menganggukan kepalanya, ia juga menceritakan kalau Adam sudah menalak istrinya, karena sudah melihat perselingkuhan Fani.
Mirna hanya menarik napas panjang sembari mendesah, sedetik kemudian air matanya mengalir begitu saja membasahi wajah keriputnya. Anaknya harus menjadi duda dan membesarkan putrinya sendiri, Fani begitu tega kepada putri kandungnya sendiri.
Sebagai seorang wanita Mirna begitu membenci kalau ada seorang Ibu yang menelantarkan putri kandungnya sendiri, tetapi ini kenyataan di depan matanya saat Fani dengan senang hati meninggalkan Sasa.
Sasa cucunya yang malang harus dirawat ke rumah sakit karena alergi protein sapi, Devan yang melihat wanita paruh baya itu sedang bersandar sambil menangis dalam diam merasa iba, di saat umurnya seharusnya hanya bermain dengan cucu-cucunya. Namun, harus membantu Adam untuk membesarkan Sasa.
Bayi itu pastinya membutuhkan sosok seorang ibu, Devan beranjak dari duduknya untuk melihat malaikat kecil Adam yang sedang tertidur nyenyak. Tak lama pintu terbuka yang memperlihatkan sosok tegap berjalan menuju ke sofa di mana mamanya terlelap.
"Dam, lihat dia mirip sekali dengan mu, aku yakin dia anakmu," ujar Devan.
Adam mengerutkan dahinya, bahkan dia tidak pernah berpikir kalau Sasa anak dari pengusaha kaya itu, tetapi karena rasa penasarannya pria itu ikut memperhatikan wajah putrinya yang kini terlelap.
"Apa kamu mau tes DNA?" tanya Devan yang langsung kena centil keningnya oleh Adam.
"Aku yakin dia anakku, banyak kesamaan coba kamu lihat telinganya," ucap Adam sambil melangkah ke arah sofa karena sedari tadi cacingnya sudah demo.
Seketika tawa Devan langsung meledek membuat Sasa menangis histeris karena terkejut. Mirna yang mendengar cucunya menangis segera menghampirinya.
"cup ... cup ... cup," Kata Mirna sambil menepuk punggung cucunya pelan.
"Kamu itu jelas sedang di ruang rawat bayi, ketawa enggak bisa pelan!" umpat Adam kesal saat melihat putrinya menangis sampai wajahnya memerah.
"Sudah-sudah, jangan ribut sana pada makan dulu, biar mama buatkan susu!" seru Mirna yang mendengar anaknya ribut
Devan dan Adam akhirnya duduk bersebelahan, tanpa menunggu lama keduanya makan dengan lahap, Mirna yang melihat itu merasa lega. Namun, sedetik kemudian tiba-tiba tubuh kecil itu kejang untuk kedua kalinya. Hingga ketiganya panik, tetapi dengan gesitnya Devan langsung meminta pertolongan.
Adam lemas saat melihat mata putrinya hanya terlihat putihnya saja, kini ketiganya disuruh keluar ruangan oleh suster, Devan akhirnya harus menenangkan Ibu dan anak yang terlihat begitu khawatir menunggu dokter memeriksa Sasa.
"Cucuku malang nasibmu, Nak!" serunya sambil menangis didekapan Devan.
Adam mondar mandir di depan pintu rawat putrinya, terlihat dari wajahnya lelaki itu begitu Khawatir. Devan semakin pusing melihat sahabatnya yang tak mau duduk.
Tak lama dokter keluar sambil tersenyum menatap Adam, sambil berucap. "Mari ikut ke ruangan saya."
Adam langsung berjalan mengikuti dokter yang sudah merawat anaknya itu, saat sampai di ruangan dokter ia dipersilahkan untuk duduk.
"Bagaimana Dok?" tanya Adam yang sudah tidak sabar mendengarkan penjelasan dokter mengenai putrinya.
Dokter wanita itu hanya bisa menarik napas panjang, ia juga terkejut saat mendengar kalau ibunya sang bayi tidak mau memberikan asinya kepada anaknya. Apa lagi sekarang balita mungil itu sedang alergi protein sapi. Semua itu ia dengan sendiri dari rekannya Nadia.
"Kejangnya karena demamnya yang terlalu tinggi, tolong kompres terus pakai air hangat, Pak."Jelasnya.
"Apa kejangnya itu bahaya, Dok?" Tanya Adam.
"Kejang karena demam kompleks sering dihubungkan dengan meningkatnya risiko ke epilepsi. Tetapi, ini tidak terbukti, Pak. Faktanya, sebagian besar kejang demam pada anak tidak memiliki keterkaitan dengan peningkatan risiko kematian di masa kanak-kanak ataupun dewasa."
"Sebagian besar kasus kejang karena demam tidak memiliki dampak jangka panjang. Saya harap jangan sampai saat putrinya kejang nanti Bapak panik.Kejang saat demam tidak akan menyebabkan kerusakan otak, kesulitan belajar, ataupun gangguan mental. Selain itu, kejang demam juga tidak menjadi indikasi penyakit epilepsi pada anak, yaitu kecenderungan kejang berulang akibat sinyal elektrik abnormal dalam otak." Jelas dokter Maya sambil tersenyum
"Bagaimana biar kejangnya tak berulang, Dok?" tanya Adam lagi.
"Pak, Sebagian besar penyebab dari kejang tidak diketahui secara pasti, oleh karena itu sangat sulit untuk menentukan apakah seseorang bisa sembuh atau tidak. Namun, yang terpenting adalah menjaga agar seseorang tidak mengalami kekambuhan kejang kembali, agar dapat menjalani kehidupan sosialnya seperti biasa dan dapat melakukan fungsinya kembali."
"Selama demam sebaik kompres menggunakan air hangat walaupun sudah di beri obat untuk menurunkan demamnya," pesan dokter Maya
"Baik dokter, terimakasih banyak." Kata Adam sambil beranjak untuk pamit keluar dari ruangan.
Adam kembali lagi menuju ke ruang rawat putrinya, di sana sudah ada Devan dan mama Mirna sedang berdiri di samping branker Sasa.
"Apa kata dokter, Nak?" wanita paruh baya itu bertanya pada putranya yang baru saja masuk.
"Setengah jam sekali kita cek suhu badannya, Ma. Selama masih panas kita bantu kompres dengan air hangat," ujarnya sambil menatap sendu putri cantiknya yang tengah terlelap.
"Iya," kata Mama Mirna
"Dam, sebaiknya kamu disini saja. Biar aku pulang mengambil baju gantimu," ujarnya sambil menatap iba pada sahabatnya itu.
"Tante sebaiknya bersiap, jangan sampai ikut sakit juga," ucap Devan.
"Kamu mau bawa Mama pulang naik motor sport!" kata Adam menatap sahabatnya kesal.
Devan langsung menepuk jidatnya, pria itu lupa kalau mobilnya ia tinggal di arena balap. Wanita paruh baya itu hanya terkekeh melihat Devan yang malu sembari menatap Adam yang masih menatap tajam sahabatnya.
"Nenek pulang sama Nadia saja," sahutnya sambil berjalan mendekati Adam dan putrinya.
"Kata Dokter Maya tadi kejang lagi!" kata Nadia sambil mengusap pipi lembut sepupunya itu.
"Iya. Namun, kalau bisa jangan sampai berulang kejangnya," ucap Adam.
Nadia mengusap air matanya, ia begitu iba dengan Sasa yang masih kecil sudah di tinggalan Ibu kandungnya demi kebahagiaan dengan pria lain. Entah mengapa dia begitu geram dengan Fani.
Rangga yang baru masuk ruangan peri kecil itu menatap yang lainnya dengan penuh tanda tanya, apa ;lagi melihat calon istrinya beberapa kali mengusap air matanya.
"Sudahlah jangan menangis lagi, anggap saja ini pelajaran untukku biar lebih bisa memperhatikan Sasa," kata Adam sambil mencium kening Sasa.
Putrinya seakan tahu, setelah dicium Ayahnya bayi itu tersenyum dalam lelapnya. Hal itu membuat Adam mengembangkan senyum di bibirnya. Sasa tersenyum beberapa kali seakan mengatakan semua akan baik-baik saja tanpa Ibunya.
"Om, Nadia antar Nenek pulang dulu. Habis magrib Nad akan ke sini lagi," katanya sambil beranjak dari duduknya.
"Iya hati-hati," jawabnya tanpa melihat keponakannya karena masih fokus menatap wajah imut di depannya.
Ranga dan Nadia segera pamit kepada Adam dan Devan, begitu juga dengan Ibu Mirna karena sudah terlihat begitu lelah. Sebenarnya Nenek Sasa itu enggan untuk pulang meninggalkan cucunya, tetapi kondisi tubuhnya kurang fit pasca kejadian tadi.
Devan kembali lagi duduk di sofa, sedangkan Adam menarik kursi untuk duduk di samping branker putrinya. Pria itu terlihat begitu terpuruk saat ini, rasanya sia-sia pengorbanannya selama ini untuk Fani mantan istrinya.
Adam merasa ia tidak ada harga diri, ditatapnya Devan yang sedang asik main game di ponselnya, kemudian ia menghampiri sahabatnya itu. Pria itu ingin meminta tolong Devan mengurus perceraiannya dengan Fani.
"Ada apa?" tanya Devan malas saat Adam menghampirinya.
"Tolong hubungi Devano untuk mengurus surat perceraianku," ucap Adam
"Kamu kayak enggak tahu Vano saja, dia sedang berlibur," jawab Devan
Adam hanya mendesah, tetapi ia tahu pasti sepupu dari Devan itu bisa membantunya untuk membuat Sasa menjadi hak asuhnya. Devan yang melihat sahabatnya melamun merasa tidak tega.
"Besok aku hubungi dia, secepatnya akan diurus gugatan mu," balas Devan sambil beranjak berdiri.
"Mau kemana?" tanya Adam
"Beli kopi, kamu mau," tawar Devan
"Boleh," jawab Adam Singkat
Setelah Devan keluar ruangan Adam kembali lagi duduk di samping ranjang putrinya.
****
Sementara itu di apartemen, pasca kejadian tadi Fani sedang mengobati bibir Raka yang sobek karena bogem mentah dari Adam, pria itu menahan sambil meringis karena merasa bibirnya pedih saat kekasihnya itu menyentuh lukanya.
"Apa kamu menyesal sudah di talak Adam?" tanya Raka sambil memegang tangan Fani.
Wanita itu hanya tersenyum, entah mengapa saat Adam mengatakan talak hatinya begitu sakit. Di tatapnya lelaki yang sedang menatapnya lekat.
"Ini sudah takdir, berarti jodohku dengannya hanya sampai di sini," jawabnya sambil mengemasi kota p3k yang diambilnya tadi.
"Maafkan aku sudah membuat rumah tanggamu berantakan," ujarnya sambil menatap sendu wajah wanita di depannya.
Fani tertegun saat Raka meminta maaf kepadanya, bukankah selama ini dia yang mengejar dirinya dan selalu memanjakannya dengan kartu kredit. Namun, wanita itu berusaha menepis prasangka negatifnya.
"Sekarang kita tinggal tunggu surat cerai dari Mas Adam," kata Fani sambil menyandarkan tubuhnya di dada bidang Raka, sedangkan pria itu mengusap dengan lembut kepala kekasihnya.
"Aku akan mengurusnya bulan depan, pakai pengacara keluargaku saja nanti," ujarnya sambil mengecup pucuk kepala Fani.
"Apa tidak merepotkan, Mas?" tanyanya padahal dalam hati ia begitu senang.
"Ini semua demi kebahagiaan kita, sayang. Kamu sudah mengorbankan keluarga kecil mu untuk bahagia bersamaku, kini waktunya aku berkorban untuk mu," jelasnya sambil mengeratkan pelukannya.
"Kamu memang pria terhebat, aku enggak salah pilih," pujinya sambil mengedipkan mata ke arah Raka.
"Maafkan aku Mas Raka, sebenarnya aku masih mencintai Adam, tetapi karena kamu lebih dari segalanya terpaksa aku memilih mu," batin Fani sambil tersenyum merasa sudah bisa menjerat atm berjalannya.