Bab 1

Leonard Mahendra duduk di ruang tamu yang terletak di sudut rumahnya. Suasana tenang dan sunyi, hanya terdengar suara kipas angin yang berputar lembut di sudut ruangan. Pagi itu, seperti biasa, ia menyeduh secangkir kopi hitam yang sudah menjadi rutinitas setiap hari. Rumah yang besar dan megah ini terasa sepi, tanpa ada suara riuh anak-anak atau kehadiran seorang wanita. Sungguh, hidupnya berjalan sangat teratur, tanpa ada gangguan berarti.

Tapi segalanya mulai berubah ketika Evelyn, putri sahabat lamanya, datang untuk tinggal bersamanya. Sang ayah, yang bekerja di luar negeri untuk beberapa tahun ke depan, meminta Leonard untuk menjaga Evelyn, yang baru saja lulus dari universitas. "Jaga dia baik-baik, Leonard. Kamu tahu betapa pentingnya dia bagi kami," pesan sahabatnya yang selalu membuat Leonard merasa lebih seperti keluarga daripada sekadar teman.

Leonard tidak pernah menyangka bahwa kehidupan yang awalnya tenang dan teratur itu akan berubah begitu cepat. Ia mengingat hari pertama Evelyn datang, wajahnya yang cerah dan senyumnya yang selalu membuatnya terkesima. Namun, ia mencoba menahan perasaan itu, mengingat ia adalah seorang teman lama ayah Evelyn, dan tidak ada yang bisa lebih rumit dari menjalin hubungan dengan anak sahabat sendiri.

Pagi itu, Evelyn masuk ke ruang tamu, membawa seplastik roti bakar dan secangkir jus jeruk. "Pagi, Om Leonard. Ini buat sarapan," kata Evelyn dengan senyum cerianya, sambil meletakkan makanan di meja.

Leonard menatapnya, berusaha untuk tetap tenang, namun hatinya tak bisa menghindari detak yang lebih cepat setiap kali melihat Evelyn. "Terima kasih, Evelyn. Kamu baik sekali," jawabnya, mencoba mengalihkan perhatian dengan melanjutkan pekerjaan yang belum selesai di mejanya.

Namun, Evelyn tidak menghiraukan kata-katanya dan duduk di samping Leonard, memperhatikan layar laptopnya. "Om Leonard, aku harus ngerjain laporan ini. Bisa bantuin aku?" tanyanya, dengan mata yang memohon.

Leonard mengalihkan pandangannya ke Evelyn, ragu sejenak. "Tentu, aku bisa bantu, tapi aku rasa kamu bisa melakukannya sendiri. Kamu sudah lulus kuliah, kan? Pasti sudah cukup pintar untuk ini," jawabnya, meski di dalam hati ia ingin lebih dekat lagi dengannya.

Evelyn tertawa kecil. "Iya, tapi kadang aku butuh bantuan Om. Kamu lebih berpengalaman, kan?"

Leonard tersenyum tipis, merasa canggung. Evelyn sangat polos dan tak tahu betapa sulitnya baginya menjaga jarak dengan gadis yang sudah begitu dia anggap sebagai adik sendiri, meski hatinya menyimpan perasaan yang jauh lebih rumit. "Baiklah, kita lihat apa yang bisa aku bantu," jawabnya, menghindari tatapan langsung dari Evelyn.

Sementara itu, Evelyn yang sibuk dengan laporan di laptopnya sesekali mencuri pandang ke arah Leonard. Ada sesuatu yang berbeda hari ini. Ada ketegangan yang terasa di antara mereka, meski tidak diungkapkan secara langsung. Ia merasa ada yang berubah, meski tak tahu persis apa itu.

Setelah beberapa saat, Evelyn menutup laptopnya dan memandang Leonard dengan serius. "Om Leonard, aku ingin bertanya sesuatu," katanya, suaranya sedikit ragu.

Leonard menoleh, sedikit terkejut. "Tanya saja, Evelyn. Apa yang kamu pikirkan?"

Evelyn menghela napas, mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Aku tahu ini mungkin aneh, tapi... aku merasa aku mulai melihatmu sebagai lebih dari sekadar teman ayahku." Ia menunduk, wajahnya memerah. "Maksudku, Om Leonard, kadang aku merasa lebih nyaman denganmu daripada dengan orang lain. Aku... aku merasa kita bisa saling memahami."

Leonard terdiam, perasaannya langsung campur aduk. Ia bisa merasakan kedekatan yang Evelyn rasakan, namun itu adalah perasaan yang tak bisa ia balas. Mengingat posisi mereka, hal itu tidak boleh terjadi. "Evelyn, kita harus hati-hati dengan perasaan seperti itu," kata Leonard akhirnya, suara berat, mencoba mengatur kata-katanya. "Aku tahu kamu merasa begitu, tapi kamu harus ingat kita hanya teman, dan aku sudah seperti keluarga buatmu."

Evelyn merasa cemas mendengar itu, hatinya mulai berkecamuk. "Tapi Om, aku nggak bisa membohongi perasaanku. Aku suka kamu, dan... aku merasa nyaman di dekatmu."

Leonard merasakan dadanya sesak. Ia tahu, perasaan Evelyn bukan hanya sekadar kekaguman biasa. Ada sesuatu yang lebih dalam, dan itu membuatnya takut. Ia menatap Evelyn dengan penuh perhatian, mencoba menjaga ketenangannya. "Evelyn, aku tahu ini sangat sulit, tapi kita tidak bisa membiarkan perasaan itu berkembang. Aku lebih tua dari kamu, dan kita punya hubungan yang harus kita jaga."

Namun, meskipun kata-kata itu keluar begitu tegas, Leonard tahu bahwa dirinya pun tak mampu sepenuhnya mengabaikan perasaan yang tumbuh dalam dirinya. Dan saat itu, ia sadar bahwa mungkin ia sudah terperangkap dalam perasaan yang tak bisa ia hindari.

Tiba-tiba, pintu depan terbuka, dan Gustavo, ayah Evelyn, muncul di ambang pintu. Ia baru saja kembali dari perjalanan bisnis yang panjang.

"Evelyn, Leonard," sapa Gustavo, senyum lebar terukir di wajahnya. "Aku baru saja sampai. Ada apa ini? Kenapa kalian terlihat canggung seperti itu?"

Evelyn cepat-cepat menyembunyikan ekspresinya, mencoba menenangkan dirinya. "Nggak, Pa. Kami hanya ngobrol aja."

Leonard berpura-pura santai, meskipun ada ketegangan yang jelas terjaga antara dirinya dan Evelyn. Namun, satu hal yang pasti-kehadiran Gustavo kali ini mungkin lebih penting daripada yang mereka duga. Karena tak lama setelah itu, semuanya akan berubah.

Bab 2

Sejak pertemuan pagi itu, suasana antara Leonard dan Evelyn tidak lagi seperti biasa. Meski keduanya berusaha menjaga sikap profesional dan menjaga jarak, ada ketegangan yang tak bisa disembunyikan. Setiap kali mereka bertemu, percakapan terasa canggung, seakan ada sebuah rahasia yang tidak diucapkan, yang menggantung di antara mereka. Evelyn berusaha untuk tidak memikirkannya, namun hatinya tak bisa bohong. Perasaan yang ia coba sembunyikan kini semakin kuat, semakin mendalam.

Hari-hari berlalu dengan cepat, dan keduanya kembali berusaha berperan sesuai dengan apa yang diharapkan dunia mereka-Leonard sebagai teman ayah Evelyn, dan Evelyn sebagai gadis yang tinggal sementara di rumahnya. Namun, malam itu, sesuatu yang tidak bisa dihindari akhirnya terjadi.

Leonard sedang duduk di ruang makan, menyelesaikan pekerjaan kantornya, saat ia mendengar suara langkah kaki dari luar. Evelyn muncul di pintu, mengenakan gaun kasual berwarna biru yang menonjolkan kecantikannya. Wajahnya sedikit pucat, matanya tampak lelah, tapi ada sesuatu yang berbeda. Evelyn berjalan dengan langkah ragu, seolah sedang memikirkan sesuatu yang berat.

"Om Leonard," suara Evelyn terdengar lembut, penuh ketegangan.

Leonard menoleh dan tersenyum tipis. "Evelyn, ada apa? Kamu kelihatan cemas."

Evelyn menelan ludah, ragu sejenak sebelum akhirnya dia melangkah mendekat. "Aku nggak bisa menahan ini lebih lama, Om. Aku harus bicara sama kamu."

Leonard merasakan sesuatu yang berat di dadanya. Perasaan cemas menyergapnya. "Apa ada yang salah?" tanya Leonard, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang.

Evelyn duduk di kursi yang ada di sebelahnya, jaraknya begitu dekat, tetapi keduanya tetap terpisah oleh sebuah ruang yang tak kasat mata. "Aku nggak tahu bagaimana harus memulainya. Aku tahu kamu mungkin merasa ini aneh, atau bahkan salah, tapi aku nggak bisa menghindari perasaanku lagi," Evelyn berkata, suaranya bergetar. "Aku... aku suka kamu, Om Leonard. Aku nggak bisa mengontrol ini. Dan aku nggak tahu apa yang harus aku lakukan."

Leonard terdiam, mulutnya terasa kering. Hatinya berdegup kencang. Ini bukan percakapan yang dia bayangkan terjadi, meskipun dalam hatinya ia tahu bahwa perasaan itu ada, meski ia berusaha menahan diri untuk tidak mengakuinya. "Evelyn," suara Leonard rendah dan tegas, mencoba menenangkan dirinya. "Kita tidak bisa seperti ini. Aku tahu perasaanmu, tapi kita harus berhati-hati. Aku sudah seperti keluarga buatmu, dan ini bisa merusak semuanya. Kamu tahu itu, kan?"

Evelyn menggigit bibir bawahnya, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku tahu, Om. Aku tahu ini salah. Tapi aku nggak bisa berhenti merasa seperti ini. Rasanya seperti... seperti ada sesuatu yang mengikat kita berdua, dan aku nggak tahu harus bagaimana."

Leonard merasakan hatinya terhimpit, melihat gadis muda itu menderita. Bagaimana bisa ia menyakiti Evelyn? Namun di sisi lain, ia tahu bahwa ini adalah jalan yang harus diambil, demi kebaikan mereka berdua. Ia menarik napas dalam-dalam dan menatap Evelyn dengan penuh kehangatan, mencoba memberikan rasa aman meskipun hatinya kacau. "Evelyn, percayalah, perasaan itu akan hilang seiring waktu. Kita bisa tetap dekat tanpa melangkah lebih jauh."

Namun, Evelyn menunduk, air mata mulai mengalir di pipinya. "Aku nggak bisa, Om. Aku nggak bisa membohongi diriku sendiri. Aku suka kamu, dan aku nggak bisa menahan perasaan itu lebih lama."

Leonard merasa dunia seakan berputar cepat. Ia mengangkat tangannya, ingin mengelus rambut Evelyn, namun ia menarik kembali tangannya, takut akan kesalahan yang lebih besar lagi. "Evelyn, aku..."

Tiba-tiba, pintu depan terbuka dengan keras, membuat keduanya terkejut. Gustavo muncul di ambang pintu, wajahnya serius, meski ada kegelisahan yang tersembunyi. "Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Gustavo dengan nada yang lebih berat daripada biasanya.

Evelyn terkejut, buru-buru menghapus air matanya, berusaha untuk terlihat biasa. "Nggak, Pa. Cuma ngobrol biasa. Gak ada apa-apa."

Tapi Gustavo tahu ada yang tidak beres. Ia melihat ekspresi cemas di wajah anaknya, dan melihat ketegangan yang jelas terjaga antara Evelyn dan Leonard. "Evelyn," suara Gustavo lebih lembut, namun tajam, "apa yang kamu sembunyikan?"

Leonard mencoba menenangkan situasi. "Gustavo, kita baru saja... kita sedang berbicara tentang masa depan Evelyn, dan bagaimana dia harus fokus pada karirnya setelah lulus kuliah."

Namun, Gustavo tidak mudah dibohongi. "Aku tahu ada yang lebih dari itu. Evelyn, kamu bisa jujur sama Pa. Apa yang terjadi?"

Evelyn terdiam, menatap ayahnya dengan tatapan penuh kebingungannya. Ia tak tahu harus berkata apa. Akhirnya, dengan suara yang sangat pelan, ia mengungkapkan, "Pa, aku... aku suka Om Leonard."

Gustavo terkejut, seolah dunia runtuh di sekitarnya. Ia menatap Evelyn dengan mata yang lebar, tak percaya. "Apa yang kamu katakan, Evelyn? Kamu tahu itu tidak bisa terjadi, kan?"

Evelyn menunduk, air matanya mengalir lagi. "Aku nggak bisa berhenti merasakannya, Pa. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku memang suka dia."

Leonard merasakan ketegangan itu semakin menekan, dan untuk pertama kalinya, ia merasakan kecemasan yang mendalam tentang perasaannya sendiri. Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana ia bisa melangkah mundur, sementara perasaan yang terpendam begitu kuat?

Gustavo berdiri diam, menatap Leonard dengan tatapan penuh kemarahan yang tertahan. "Leonard, kamu harus bertanggung jawab atas ini. Kamu yang memulai semua ini. Kamu yang memengaruhi perasaan anakku!"

Leonard terkejut, tapi ia tahu bahwa apa yang Gustavo katakan ada benarnya. "Gustavo, ini bukan seperti yang kamu pikirkan. Aku tidak pernah bermaksud membuat Evelyn merasa seperti ini. Tapi aku tahu kita harus berhati-hati."

Tapi Gustavo tak bisa menahan amarahnya lebih lama. "Kamu harus menjauh dari anakku, Leonard. Aku tidak akan membiarkan ini terus berlanjut. Kalau kamu tidak bisa mengendalikannya, aku yang akan mengakhirinya."

Suasana di ruangan itu semakin memanas, dan satu hal yang pasti-semua yang selama ini mereka sembunyikan akhirnya terungkap, dan semuanya mulai berubah.

Bab 3

Malam itu, ketegangan yang menggantung di udara masih belum mereda. Setelah perdebatan sengit dengan Gustavo, Leonard memilih untuk menghindari kontak dengan Evelyn selama beberapa hari. Namun, ia tahu itu tidak akan bertahan lama. Setiap sudut rumah ini mengingatkannya pada gadis itu-senyumnya, suara tawanya, dan tatapan matanya yang begitu terang namun penuh keraguan.

Di sisi lain, Evelyn merasa hampa. Ia tahu ayahnya tidak akan pernah setuju, tapi hatinya berkata lain. Ia ingin membenci Leonard karena menjauh, tapi ia juga tahu bahwa pria itu hanya mencoba melindunginya. Namun, apakah itu yang benar-benar ia inginkan?

Suatu malam, Leonard baru saja selesai mandi ketika suara ketukan pelan terdengar dari pintu kamarnya. Ia terdiam sejenak, sebelum akhirnya berjalan dan membukanya. Di depannya, berdiri Evelyn, mengenakan sweater kebesaran dan celana pendek, rambutnya sedikit berantakan.

"Evelyn?" Suaranya terdengar rendah, hampir bergetar.

Evelyn menggigit bibirnya, seolah ragu untuk melanjutkan. "Aku tahu seharusnya aku nggak ada di sini, tapi aku nggak tahan lagi, Om."

Leonard menatap gadis itu lama. "Evelyn, ini bukan ide yang bagus."

"Tapi aku butuh jawaban, Om," suara Evelyn terdengar penuh emosi. "Kamu bilang aku harus melupakan perasaanku, tapi bagaimana dengan kamu? Apa kamu benar-benar nggak merasa apa-apa?"

Leonard menghela napas berat. "Bukan itu masalahnya."

"Lalu apa? Umur? Status? Om takut dengan Papa?" Evelyn mendekat, tatapannya tajam. "Atau Om takut dengan perasaan Om sendiri?"

Leonard menggeram pelan, berusaha menahan dirinya. "Evelyn, aku lebih tua dari kamu. Aku teman ayahmu. Ini salah."

Evelyn tertawa kecil, pahit. "Kenapa cinta harus selalu ada aturannya?"

Ia melangkah lebih dekat, dan Leonard bisa mencium wangi lembut dari tubuhnya, aroma yang selama ini tak pernah ia sadari bisa membuatnya kehilangan kendali.

"Evelyn, jangan," Leonard berbisik, seolah memperingatkan dirinya sendiri lebih dari gadis itu.

Evelyn menatapnya, penuh keputusasaan. "Aku hanya ingin tahu... kalau aku ini hanya seorang anak kecil di matamu, atau ada sesuatu yang lebih."

Jantung Leonard berdetak cepat. Ia tahu ini salah. Ia tahu ia seharusnya menghentikan semuanya saat ini juga. Tapi saat ia menatap mata Evelyn, ia sadar bahwa garis batas yang seharusnya ia pertahankan mulai kabur.

Dan sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, Evelyn sudah berjinjit, menempelkan bibirnya dengan lembut di pipi Leonard.

Suara pintu yang tertutup membuyarkan segalanya. Leonard berdiri diam di kamarnya, masih merasakan kehangatan yang ditinggalkan oleh gadis itu. Ini gila. Ia harus menghentikannya. Tapi bagaimana caranya, ketika ia sendiri tidak yakin ingin berhenti?

Satu hal yang ia tahu, setelah malam ini, semuanya tidak akan pernah sama lagi.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED