Bab 2

Ucapan Mamah mertua selalu terngiang di telinga Claudia, ia berpikir setelah menikah akan hidup dengan bahagia. Mempunyai anak dari seorang yang dia sayangi, tapi kenyataannya jauh berbeda. Ia tidak diperbolehkan untuk mempunyai keturunan dari suaminya sendiri, membuatnya sangat terpukul.

Claudia kemudian mengambil handuk, lalu membersihkan diri. Setelah itu ia mencari pakaian yang pantas untuk digunakan makan malam.

"Mas, tadi Mamah minta Claudia untuk dandan. Emang siapa yang datang?" tanya Claudia sambil mengoleskan lipstik ke bibirnya di depan kaca.

"Sahabat Mamah sayang, tidak dandan kamu terlihat cantik kok," balas Rayhan mencolek dagu istrinya.

"Mas, jangan ganggu dong," ucap Claudia.

Rayhan lalu memeluk istrinya dari belakang, ia lalu membenamkan wajahnya dan mengecup leher istrinya yang jenjang. Claudia pun merasa geli, dan langsung membalikkan badannya.

"Mas, jangan ganggu dulu. Nanti kita terlambat lagi," ujar Claudia.

"Sayang, aku sudah tidak sabar mempunyai anak yang lucu dan mirip denganmu," ungkap Rayhan hendak meraup bibir mungil istrinya, dengan cepat Claudia menutupnya dengan tangan.

"Itu tidak mungkin, Mas," terang Claudia.

Rayhan mengerutkan dahinya, tak disangka ternyata istrinya berbicara seperti itu. Ia kemudian melepaskan pelukannya, dengan perlahan.

"Maksudnya tidak mungkin mirip aku, pasti anak pertama kita mirip kamu, Mas," jelas Claudia tersenyum.

"Kalau begitu Mas ingin mempunyai anak lebih dari satu," ujar Rayhan mencium pipi istrinya dengan lembut. Claudia mengambilkan handuk untuk Rayhan, agar suaminya itu cepat mandi.

Di ruang tamu semua anggota keluarga sudah menunggu mereka, sambil mengobrol dengan tamu Eva.

"Tania, kapan kamu pulang?" tanya Rayhan.

Gadis berambut pirang bernama Tania itu langsung menuju ke arah Rayhan, dan hendak memeluknya. Namun, Rayhan segera menghindar karena lebih menghargai istrinya.

"Rayhan, kenapa kamu menolak pelukanku? Aku belain datang ke sini, karena kangen sama kamu," ungkap Tania mengerucutkan bibirnya.

Rayhan hendak mengenalkan Claudia sebagai istrinya, tapi Eva dengan cepat menghalangi dan langsung mengajak Claudia ke ruang makan.

"Kamu, bantuin Narsih di dapur saja! Siapin makanan buat tamu kita," pinta Eva.

Claudia mengikuti apa perintah mertuanya, walaupun perlakuan Eva tidak baik ia berusaha untuk menghormati. Bagaimanapun juga Eva merupakan orang tua suaminya.

"Sabar ya, Non. Yang datang siapa sih? Bikin ribet aja," ujar Mbak Narsih.

"Sahabat Mamah, Mbak. Anaknya namanya Tania," jelas Claudia.

"Si ulat bulu itu! Pasti nempel Tuan muda," cetus Mbak Narsih. Memang kenyataannya seperti yang dikatakan Mbak Narsih, Rayhan sampai geli kalau Tania datang. Pernah juga kabur dari rumah dengan melompat jendela kamarnya.

Rayhan menyusul istrinya ke dapur, ia ikut menyiapkan makan malam untuk tamu Mamah Eva.

"Mas, kok tamunya ditinggal," ujar Claudia.

"Itu tamu Mamah, Sayang. Kamu cemburu?" tanya Rayhan menatap istrinya penuh tanya.

"Aku percaya sama, Mas," ungkap Claudia tersenyum.

Mereka semua saat ini berkumpul di ruang makan, tanpa terkecuali. Papah Andi, Mamah Eva, Aruna, dan ketiga tamunya.

"Jeng, mari kita nikmati hidangan seadanya ini," ajak Mamah Eva menuangkan air putih ke dalam gelasnya.

"Makasih banyak lho, jeng. Sudah disambut dengan baik," ungkap Mamanya Tania.

"Claudia, kenalkan ini namanya Tania. Selain dia cantik, dia juga mandiri. Sekarang dia sudah memegang perusahaan sendiri di luar negeri," terang Eva menyombongkan keberhasilan Tania, Claudia hanya bisa tersenyum.

"Ulat bulu," sahut Mbak Narsih.

"Narsih, kamu bicara apa?" tanya Eva melotot ke arah Mbak Narsih.

"Anu Nyonya, di pohon belakang rumah banyak ulat bulu. Bikin merinding," cetus Mbak Narsih membuat Rayhan menahan tawanya.

Mereka semua sampai menunda makan, karena asyik mengobrol. Rayhan juga menyela memperkenalkan Claudia sebagai istrinya, Tania lalu langsung pulang begitu saja.

Eva menjadi marah kepada Rayhan, dengan alasan tidak mengundang keluarga Tania ke pernikahannya karena keluarga Tania tidak bisa dihubungi. Padahal Eva sengaja, agar Tania mengejar Rayhan lalu menceraikan Claudia menantu miskinnya.

Claudia kemudian mengajak suaminya masuk ke dalam kamar, agar tidak berdebat dengan Mamanya. Karena saat ini Eva masih berdebat dengan suaminya, sedangkan Aruna lebih memihak Mamanya.

"Semua ini gara-gara Rayhan menikahi wanita itu, Pah. Seharusnya anak kita menikah dengan Tania, yang sudah jelas kaya," Kata Eva.

"Cukup, Mah! Anak kita sedang berbahagia, jangan merusak suasana," terang Papah Andi. Tidak mempermasalahkan status sosial menantunya, mau miskin atau kaya yang penting bisa membuat Rayhan bahagia. Beliau sadar kalau jodoh dan maut hanya Tuhan yang menentukan, bukan dirinya.

"Mah, Pah, jangan bertengkar terus dong! Semua ini salah kakak, tidak bisa memilih calon istri yang baik," sahut Aruna.

Pertengkaran akhirnya berakhir, setelah Rayhan meminta agar orang tuanya beristirahat. Masalah pernikahannya sudah menjadi keputusannya sendiri, dan Rayhan mengatakan kalau sangat bahagia.

Keesokan harinya Rayhan hendak pergi bekerja, ia diantarkan ke depan rumah oleh istrinya.

"Sayang, Mas pamit kerja dulu. Kalau ada apa-apa telpon saja," ucap Rayhan sembari mengelus pucuk kepala istrinya.

"Mas, hati-hati. Kalau boleh nanti siang Claudia antarkan makan siang," ujar Claudia.

"Tentu saja boleh, Sayang," terang Rayhan dengan lembut.

Tak lupa Rayhan menjabat tangan istrinya, dan mencium keningnya. Begitu juga sebaliknya, mereka berdua pasangan yang sangat mesra.

Kini Claudia berada di rumah bersama Mamah Eva, dan Mbak Narsih. Sebagai menantu yang baik, Claudia membantu membersihkan rumah dan memasak, walaupun Mbak Narsih melarang tetapi sudah menjadi kebiasaannya di rumah sendiri.

"Gak usah cari muka! Miskin tetap aja miskin," ketus Eva saat melihat Claudia mengepel lantai.

"Mah, Claudia sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan seperti ini. Kalau niat Claudia cari muka, pasti nunggu Mas Rayhan pulang," jelas Claudia.

"Mulai berani kamu! Menantu tidak tau diri," Kata Eva menendang ember yang berisi air untuk mengepel lantai, airnya sampai mengotori lantai yang sudah bersih.

Saat hendak berjalan Eva terpeleset, membuat pinggangnya sakit. Claudia lalu membantu Eva berdiri, tetapi Eva menolak dan memilih memanggil Narsih.

"Ini namanya kualat, Nyonya. Makanya jadi mertua jangan jahat-jahat," tutur Narsih membawa Eva duduk di sofa.

"Sembarangan kamu bicara! Pinggangku sakit nih," Ujar Eva.

Claudia menawarkan diri untuk memijat pinggang Eva, lagi-lagi ditolak dengan alasan takut terkena sial dan jadi miskin.

"Mertua stres ya begitu, Non. Sabar dulu semua akan indah pada waktunya," kata Mbak Narsih membantu Claudia mengeringkan lantai.

"Hust ... gak boleh bicara gitu, Mbak," ujar Claudia.

"Untung tadi tidak stroke, Non. Biar Tuan bisa nikah lagi, ya gak? He ... he ... he ... " kelakar Mbak Narsih dengan tertawa.

Eva sudah berteriak lagi, minta dipanggilkan tukang urut. Ia sudah tidak bisa menahan rasa sakit di pinggangnya.

Claudia menuju ke arah mertuanya, daripada memanggil tukang urut belum tentu kapan datangnya ia mencoba memijat pinggang mertuanya itu. Ia memijat dengan pelan dan hati-hati, walaupun Eva memakainya Claudia melakukan dengan ikhlas.

"Gimana, Mah? Udah enakan belum?" tanya Claudia. Eva tidak menjawab, rupanya tertidur. Ia lalu mengambil selimut, untuk menutupi tubuh mertua galaknya.

Siang hari Claudia berangkat ke kantor Rayhan, ia membawakan bekal makan siang seperti yang tadi pagi ucapkan. Dengan senyum diwajahnya, membuat wanita itu terlihat begitu cantik. Ia berjalan menyusuri trotoar, walaupun terik matahari begitu panas ia tetap berjalan tanpa pelindung apapun. Pakaian yang digunakan saat ini, dress dengan panjang selutut berlengan pendek.

"Pasti Mas Rayhan menyukai makan ini," ucapnya dalam hati.

Saat hendak menyebrang jalan, ada motor yang melaju kencang. Claudia menjerit dan memeluk bekal makanan yang dia bawa, seharusnya ia berlari menjauh.

"Untung saja bisa diselamatkan," kata Claudia.

Pemotor itu ternyata menghentikan motornya di pinggir jalan, ia marah dengan Claudia yang sudah membuatnya hampir celaka.

"Nona, kalau menyebrang jalan hati-hati! Saya hampir menabrak anda, gimana kalau saya celaka?" tanya orang itu.

"Maaf Tuan, saya tidak sengaja. Tadi buru-buru mau mengantarkan makanan untuk suami saya," jelas Claudia.

Orang itu langsung merebut bekal yang dibawa Claudia, dan membawanya pergi naik motor. Claudia hanya bisa menangis, takut Rayhan kecewa karena Claudia tidak menepati ucapannya.

Bab 3

Claudia berjalan masuk ke dalam kantor, dengan langkah gontai.

"Sayang, kamu kenapa menangis?" tanya Rayhan sembari mengusap air mata Claudia yang menetes di kedua pipinya.

"Mas, maafkan aku. Tadi makanan yang aku bawa diambil orang, saat mau menyebrang jalan," terang Claudia menundukkan kepala.

Rayhan langsung memeluk istrinya, dan mengajaknya untuk makan siang di cafe terdekat. Soal makanan ia sama sekali tidak mempermasalahkan, yang terpenting adalah keselamatan istrinya.

***

Di sisi lain, seorang pemuda yang sudah merebut makanan Claudia menyerahkannya kepada orang yang sudah menyuruhnya.

"Nyonya, ini bekal makanan yang saya ambil," ujar pemuda itu.

"Kerja yang bagus! Buang saja ke tempat sampah. Ini bayaran kamu," kata wanita itu.

"Hampir saja saya mencelakai wanita itu, Nyonya. Untung saja dia bisa menghindar," jelas pemuda itu.

Wanita paruh baya itu marah kepada orang suruhannya, justru kalau bisa mencelakai Claudia akan lebih baik dan dia mendapatkan bayaran yang lebih besar.

***

"Sayang, lebih baik aku antarkan kamu pulang dulu. Mas tidak mau terjadi apa-apa," ujar Rayhan setelah selesai makan siang.

"Tidak perlu, Mas. Lagi pula kedatangan Claudia hanya mengganggu Mas saja," tolak Claudia terlihat begitu sedih.

"Sayang, jangan ngomong seperti itu. Mas ini suami kamu, bukan orang lain. Dari dulu kamu gak pernah berubah ya, masih malu-malu," pungkas Rayhan mencubit gemas hidung istrinya.

Rayhan akhirnya meminta sopir kantor untuk mengantarkan Claudia pulang ke rumah, karena ia mendadak ada meeting yang tidak bisa ditunda.

"Wah ... ! sekarang hidup kamu enak ya, pulang diantarkan sopir." cibir Eva yang melihat kedatangan Claudia, wanita paruh baya itu sedang tiduran di sofa merasakan pinggangnya yang masih sedikit sakit.

"Tadi Mas Rayhan ada pekerjaan, Mah. Jadi tidak bisa mengantarkan sendiri," jelas Claudia hendak berjalan menuju kamarnya.

Tiba-tiba Narsih datang sambil menangis, dia meminta cuti pulang kampung selama tiga hari karena saudaranya ada yang sakit.

"Kenapa tidak bilang dari tadi, ada gantinya tidak! Terus yang mau bersih-bersih rumah siapa? Kerjaan di rumah ini banyak lho," ujar Eva tidak mengizinkan Narsih pulang.

"Telponnya juga barusan, Nyonya. Kalau dari tadi saya sudah cari pengganti ke yayasan," jelas Narsih.

Papah Andi yang baru pulang dari kantor mengizinkan Narsih pulang, lagi pula hanya tiga hari. Menurut beliau Eva dengan dibantu Aruna juga bisa melakukan tugas rumah, kalau hanya sekedar cuci piring, ngepel lantai, cuci baju.

"Papah, kenapa bilang gitu! Tangan Mamah nanti bisa lecet," ujar Eva dari dulu suaminya selalu memanjakan, jadi bersikap seenaknya.

"Narsih juga harus pulang, Mah. Sadar dong, jangan seperti anak kecil!" tegas Papah Andi.

Claudia merasa tidak enak, bak pahlawan kesiangan buat Narsih. Ia keluar dari kamar dan mengatakan kalau akan mengambil alih tugas Narsih selama tiga hari.

Papah Andi tidak setuju, dan memutuskan semua keluarganya harus melakukan aktivitas sendiri-sendiri. Beliau memutuskan seperti itu, agar semua adil.

Eva lalu menelpon ke yayasan setempat, untuk meminta pengganti selama tiga hari. Namun, semua tenaga kerja sedang ada pekerjaan semua. Alhasil ia menyalahkan Claudia, karena ikut mengizinkan Narsih.

"Lihat saja besok! Aku akan membuatmu seperti hidup di neraka." kata Eva dalam hati, menatap Claudia seperti melihat musuh.

Karena tau Papah mertuanya baru pulang kerja, ia pergi ke dapur dan membuatkan secangkir kopi untuk beliau. Tak lupa potongan kue juga ia sertakan, untuk menemani minum kopi.

"Claudia, teh manis saya mana? Kenapa cuma Papah yang dibuatkan, cari muka ya," kata Eva dengan sinis.

"Bentar, Mah. Saya buatkan dulu," ujar Claudia berjalan ke dapur lagi.

"Mah, Claudia itu istrinya Rayhan. Mamah bisa tidak jangan bersikap kasar seperti itu!" terang Papah Andi menatap tajam istrinya.

Eva marah dengan suaminya, karena dianggap membela Claudia. Dan saat Claudia datang membawa secangkir teh yang dia minta, Eva menyiramkan ke tubuh Claudia. Tumpahan air teh panas itu mengenai tangan Claudia, hingga menjadi memerah.

Papah Andi dengan segera mengambilkan obat untuk Claudia, lalu pergi untuk menenangkan istrinya.

"Apa salahku, kenapa Mamah selalu marah kepadaku?" tanyanya dalam hati.

Claudia kemudian masuk ke dalam kamarnya, ia menangis meratapi nasibnya. Baru saja merasakan pernikahan yang diidam-idamkan harus merasakan kesengsaraan, yang dilakukan oleh mertuanya.

Dulu sebelum menikah Eva selalu bersikap baik, begitu terlihat menyayanginya. Setelah ia menikah dengan Rayhan, sikapnya berubah drastis 180 derajat seperti bukan Eva yang dikenalnya.

Claudia menghapus air matanya, lalu membersihkan diri dan segera mengobati tangannya. Ia melakukannya sebelum Rayhan datang, agar tidak ketahuan kalau tangannya terluka. Baru juga ia menyisir rambut, Rayhan sudah datang.

"Cantik sekali istriku, mau kemana nih?" canda Rayhan menggoda sang istri.

"Mas, bisa aja," sahut Claudia tersenyum.

"Sayang, tangan kamu kenapa memerah seperti ini?" tanya Rayhan memegang tangan Claudia.

"Tadi di dapur kena air panas, Mas," jelas Claudia berbohong.

"Lain kali hati-hati, sayang. Kita obati dulu yuk," ajak Rayhan.

Claudia menurut apa kata suaminya, walaupun ia sudah mengoleskan obat. Setelah selesai mereka pergi ke dapur untuk makan, Claudia meminta Rayhan menunggu di ruang keluarga.

Claudia menyiapkan semuanya sendiri, tanpa ada yang membantu. Padahal Eva dan Aruna saat ini hanya menonton televisi, di ruang keluarga. Setelah semua siap, ia memberitahu kepada anggota keluarganya.

"Kakak ipar, ambilkan nasi," pinta Aruna fokus dengan ponsel yang dia pegang.

Rayhan langsung mengambil ponsel Aruna, dan memasukkan ke dalam saku. "Makan dulu, dan ambil sendiri. Nanti jadi kebiasaan gak baik!" tegasnya.

"Kembalikan ponselku, Kak!" teriak Aruna.

"Rayhan, sama adik sendiri kok gitu," sahut Eva membela Aruna.

"Bisa tidak kalau kita makan hentikan aktivitas lain, dan jangan menyuruh. Narsih ambil cuti tiga hari, kalian semua harus mandiri!" tegas Papah Andi.

Tidak ada yang berani membantah ucapan Papah Andi, mereka kemudian makan dengan tertib tidak ada yang berbicara. Selesai makan Aruna kembali membuat onar, dia meletakkan piring kotornya di depan Claudia.

"Kakak ipar, cuci sekalian. Aku ada tugas dari kampus," pinta Aruna berlari ke kamarnya.

"Aruna!" teriak Papah Andi.

"Biarkan saja, Pah. Nanti Claudia yang cuci," sahut Claudia.

Eva tidak berani berkutik lagi, bahkan ia ikut membersihkan meja makan. Tadi saat di dalam kamar, Papah Andi sudah mengancam akan menceraikannya kalau tidak mau merubah sikap.

Rayhan membantu istrinya mencuci piring kotor, bahkan dia juga yang menata dalam rak piring. Dalam benaknya ia sangat malu, keluarganya yang begitu hobi berdebat dan setiap hari ada keributan.

"Sayang, maafkan keluarga Mas ya," kata ayhan saat berada di dalam kamar.

"Kenapa minta maaf, Mas? Sudah tugas seorang wanita, kalau soal mengurus dapur dan rumah," terang Claudia pura-pura kuat di depan suaminya.

Rayhan langsung memeluk istrinya, dan mencium keningnya. Ia sangat berterima kasih, karena istrinya bisa mengerti keadaan keluarganya.

Pagi hari Claudia bangun lebih awal, ia mencium pipi suaminya lalu masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka. Mengingat di rumah tidak ada Narsih, ia bergegas pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.

Ia melakukannya dengan senang hati, tanpa mengharapkan balasan apapun. Sebenarnya Claudia betah tinggal di sini, ia juga akan berusaha memaklumi dan meluluhkan hati Mamah mertua.

Selesai memasak, ia kemudian mencuci pakaian semua anggota keluarganya tanpa terkecuali. Semua pekerjaan rumah saat ini sudah beres, ia lalu membersihkan diri dan membangunkan suaminya.

"Mas, bagun! Sudah siang," ucapnya membuka tirai jendela sehingga sinar matahari masuk ke dalam.

Rayhan menutup mukanya dengan bantal, agar tidak terkena terik matahari. Claudia merebut bantal suaminya, dan memeluk bantal itu.

"Sayang, ini masih pagi. Ayo kita tidur lagi," ajak Rayhan meraih tubuh istrinya.

"Lepas, Mas! Cepat bagun, nanti telat kerja," ujar Claudia berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya.

Hari ini Rayhan tidak masuk kerja, ia mengambil cutinya selama satu minggu. Rencananya ingin mengajak sang istri tercinta, untuk honeymoon ke pulau Bali.

Rayhan kemudian bangkit dari tidurnya, lalu membersihkan tubuh. Setelah selesai mereka menuju ke ruang makan.

"Sayang, kamu masak ini semua?" tanya Rayhan. Melihat berbagai hidangan di meja makan, ada ayam goreng, nasi goreng, dan roti tawar beserta beberapa selai dengan berbagai rasa.

"Hum ... " sahut Claudia.

Rayhan yang biasanya sarapan dengan roti selai rasa coklat, kini memilih makan nasi goreng buatan istrinya. Ia meminta Claudia untuk mengambilkan yang banyak.

"Makanan apa ini! Kenapa tidak ada bubur ayam?" tanya Eva yang biasanya sarapan dengan bubur ayam buatan Narsih. Eva memilih makan roti, takut sakit perut.

Papah Andi dan Aruna juga memilih makan nasi goreng, karena mereka berdua jarang makan seperti ini. Dalam hati Aruna juga mengatakan kalau nasi goreng buatan kakak iparnya sangat enak, tapi gengsi untuk mengatakan.

"Pah, Mah, nanti sore Rayhan dan Claudia mau berangkat ke Bali. Kita mau honeymoon di sana," ujar Rayhan.

"Apa! Honeymoon?" kaget Eva.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED