"Hanna pasti kedinginan ... kamu sejak kemarin di sini, ya, hmm? Semalaman hujan deras dan kamu sendirian di sini. Maafkan aku, Hanna, maafkan ....” Ia pun menangis sesenggukan.
"Siapa pun orang bodoh yang berani menyakiti Hanna akan berurusan langsung denganku, aaaarrrgghhhh!" Suara teriakannya makin kencang.
Isak tangisnya begitu menyeruak membuat orang-orang yang berada di sana merasa iba melihatnya.
Tangan dan kemeja putih Rain penuh dengan darah dari luka kepala istrinya. Ia pun meratapi paras cantik istrinya yang akan dilihatnya untuk terakhir kali. Tak lama, tangannya merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel pintar untuk kemudian menghubungi seseorang.
"Andy, bantu aku!"
"Hai, Rain. Apa yang bisa kubantu?" Andy adalah teman semasa kuliah yang sudah lama menjadi sahabat terdekatnya.
"Kamu tahu apa yang kumaksud, kan?"
"Aku mengerti, Rain. Nanti siang aku akan berkunjung ke kantormu.”
"Baiklah, sekarang aku harus mengurus Hanna dulu."
***
Satu minggu sebelum kejadian.
"Pak, untuk lahan perkebunan milik Pak Raharja, aku sudah mendatanginya dan mereka minta bertemu di lokasi," jelas Maya.
"Kamu sudah atur waktunya?"
"Hari Senin pekan depan, pukul sepuluh," sahut Maya.
"Oke. Oh, ya, Maya. Sudah jam tujuh, kamu boleh pulang. Saya mau selesaikan pekerjaan dulu."
"Apa Anda perlu sesuatu lagi, Pak?" tanya Maya sebelum pulang.
"Tak usah. Oh, ya, kamu bisa pulang bareng Hendra. Saya mau menyetir sendiri."
"Baik, Pak. Saya pamit pulang."
Rain hanya mengangguk. Ia menyelesaikan pekerjaannya dalam tiga puluh menit dan bergegas ke mobil untuk pergi ke suatu tempat.
Di lokasi itu sudah ada seorang wanita cantik alami dengan rambut terurai sedang duduk menunggu.
"Malem, Hun. Kamu udah nunggu lama?" sapa pria bermata hitam tegas itu sambil mengecup pipi merah istrinya.
Hanna menggeleng, "Aku belum lama sampai. Gimana kerjaan kamu?"
"Begitulah ... aku lagi ngurus lahan di daerah Bandung."
Rain, melihat-lihat buku menu. Sementara, seorang waitress sudah mengantar makanan yang dipesan Hanna sebelumnya.
"Kamu udah pesan, Hun?"
"Udah, Sayang. Aku juga udah pesankan menu favoritmu,” jawab Hanna dengan suara lembutnya.
Rain tersenyum sambil membuka serbet dan memasangkan di atas paha Hanna yang berbalut dress berwarna maroon.
Mereka makan malam romantis berdua. Begitulah setiap bulannya mereka selalu menghabiskan waktu berdua untuk sekedar makan atau berjalan-jalan berkeliling kota, mengobrol tentang apa yang tidak sempat mereka diskusikan di rumah karena kesibukan masing-masing.
***
"Cyra?" panggil Rain.
"Papaaa, Mamaaa ....”
Rain memeluk Cyra yang berlari dari kamarnya.
"Rain?" panggil seseorang yang keluar dari dalam kamar Cyra.
"Oh, Papa. Kapan sampai sini?"
"Tadi sore, Rain. Mama kangen ketemu Cyra," sahut William.
"Mama mana, Pa?"
"Di dapur lagi bantu Bi Ina. Oh, ya, Rain, gimana proyek hotel dan lahan Raharja?" William berjalan masuk ke salah satu ruangan yang difungsikan untuk bekerja, diikuti Rain di sampingnya.
"Hotel masih dalam tahap design akhir oleh tim, Pa. Kalau tidak ada halangan akan segera dimulai proses pembangunan akhir bulan ini. Untuk lahan Raharja, mereka baru setuju bertemu pekan depan."
"Kamu harus dapat proyeknya, Rain. Karena Papa dengar dari Heri kalau Delta dan Graha Bumi juga mau membeli lahan Raharja."
"Pasti, Pa. Tempat itu memang sangat strategis untuk proyek perumahan, dekat akses jalan tol, dan tidak jauh ke pusat kota.”
"Ya, itu investasi yang sangat menguntungkan Rain."
***
Tiga hari sebelum hari kejadian.
"Pak, Maya dan Hendra sudah menunggu," ujar Bi Ina.
"Iya, Bi, terima kasih."
"Maya, saya tidak akan ke kantor hari ini. Kita akan berangkat ke lokasi lahan Raharja sebentar lagi, sekitar jam sembilan. Jadi, nanti kalian bisa istirahat di—
"Tante Mayaa?" teriak Cyra memotong penjelasan Rain.
"Halo, Cyra Sayang. Kamu udah bangun?" Maya menyapa dengan riang sambil merendahkan tubuhnya setinggi Cyra.
"Udah, Tante," jawab Cyra. "Maaa Cyra mau sarapan sama Tante Maya," teriaknya pada Hanna.
"Iya, Sayang.” Hanna menyahuti dari kejauhan.
Hanna membawakan beberapa sandwich dan teh manis untuk Maya dan Hendra sambil mengobrol di halaman depan rumahnya yang penuh dengan bunga tulip.
Cyra sangat dekat dengan Maya karena Maya sering bermain dengannya ketika berkunjung ke rumah.
"Maa, susu Cyra mana?"
"Oh, ya, Sayang. Mama lupa ... Mama ambil dulu, ya, di dapur."
"Biar saya ambilkan, Bu. Saya mau sekalian ke toilet," ujar Hendra mengusulkan.
"Oh, boleh kalau gak keberatan. Makasih, ya, Hen.” Hanna tersenyum.
***
Sementara itu, di lokasi lahan, Pak Raharja mengajak Rain berkeliling lahan bersama sekretaris dan sopirnya Rain.
"Begini, Pak, dikarenakan lahan ini ada di tengah-tengah pemukiman warga, jadi saya juga harus menjaga beberapa milik warga setempat. Saya tidak mau ada warga mengeluh atas pembangunan proyek Pak Rain. Di samping itu ada Delta dan Graha Bumi yang sudah lebih dulu menawarkan kontrak."
"Pak Raja?" Rain menghentikan perjalanannya diikuti Pak Raja dan yang lainnya. "Saya berjanji tidak akan mengganggu dan membatasi aktivitas warga. Saya akan memberi dan lebih lagi akan mengindahkan akses jalan yang tentunya menguntungkan juga bagi warga. Dengan begitu ... saya yakin warga akan mendukung," ucap Rain dengan tulus dan mencoba meyakinkan Pak Raharja dengan kata-katanya.
Pak Raharja tersenyum mendengar penjelasan dari Rain.
"Kalau begitu saya akan mempelajari kontrak Pak Rain dan dua perusahaan lainnya. Kalau saya sudah yakin, saya akan segera menghubungi Anda lagi," terang Pak Raharja.
"Terima kasih, Pak Raja. Saya tunggu titik terangnya," ucap Rain penuh harap.
"Hendra, antar saya ke rumah!" tegas Rain setelah masuk ke dalam mobil.
"Kita gak ke kantor, Pak?" tanya Maya.
"Hari ini saya akan mengajak Hanna dan Cyra piknik. Jadi, tolong alihkan meeting hari ini untuk besok."
"Baik, akan segera saya urus, Pak.”
Sesampainya di rumah, Cyra mengejar Rain saat keluar dari mobil mewahnya.
"Papaaa, sekarang jadi jalan-jalannya sama Cyra sama Mama?"
"Jadi, dong, Sayang. Mama mana?"
"Mama lagi dandan, Pa."
"Maya dan Hendra, kamu boleh kembali kantor atau langsung pulang."
"Pa, Cyra mau jalan-jalan cama Tante Maya," rengek Cyra sambil memegang pergelangan tangan Maya.
Rain dan Hendra menatap Hanna yang baru keluar dari rumahnya seraya memberi jawaban dengan anggukan.
"Cyra, Cyra boleh ajak Tante, tapi Cyra gak boleh gangguin Tante Maya, ya?" ucap Hanna.
"Cyra janji, Ma," jawabnya dengan girang sambil menunjukkan jari kelingkingnya lantas dilingkarkan oleh jari kelingkingnya Hanna. Kemudian, mereka saling menyentuh hidung dengan telunjuk diikuti tawa renyah Cyra.
"Oke, Maya dan Hendra, kalian boleh ikut hitung-hitung refreshing," ujar Rain.
Maya dan Hendra mengangguk setuju, "Terima kasih, Pak," sahut mereka bersamaan. Mereka saling bertatapan satu sama lain, lalu senyum tersungging di kedua bibir mereka.
"Cyra mau jalan-jalan ke mana?" tanya Rain di dalam mobil.
"Cyra want to go the zoo, Papa," jawab Cyra yang duduk di pangkuan Rain.
"Oke Zoo, I'm coming !" seru Rain, Hanna, dan Cyra berteriak bersama.
Maya dan Hendra tertawa melihat keharmonisan keluarga Rain dari kaca spion.
Sampai di Taman Safari, Rain dan Hanna menuntun tangan Cyra, sementara Maya dan Hendra berjalan di belakangnya.
Rain yang pergi ke toilet, tanpa disadari Hanna kehilangan Cyra. Maya berpisah dari mereka untuk mencari Cyra. Sementara, Hendra masih bersama Hanna.
"Adik Cantik, kamu lagi apa?" tanya seorang gadis remaja yang melihatnya sedang kebingungan.
Cyra terdiam, mulutnya mengerucut, dan matanya berkaca-kaca.
"Dik?" Gadis itu mengangkat tangannya untuk memegang bahunya Cyra, tetapi Cyra berjalan mundur ketakutan.
"Gak apa-apa, Sayang. Kakak gak jahat, kok. Mamamu mana?" tanya gadis bertubuh tinggi itu.
Cyra menangis sejadi-jadinya, kemudian gadis itu menghampiri untuk memeluk Cyra sambil menepuk-nepuk punggungnya.
"Gak apa-apa, Sayang. Coba cerita sama Kakak, ya? Kamu kenapa menangis, hmm?"
"Ma-mama i-ilaang," jawab Cyra.
"Hilang?” Ia berpikir sejenak. “Kamu tenang dulu, ya. Kita cari Mama sama-sama, mau?" tanya gadis muda itu.
Cyra mengangguk, kemudian gadis itu menggendong Cyra serta membawanya ke ruang information centre dan meminta petugas di sana mengumumkan berita kehilangan anak.
"Pengumuman, bagi pengunjung yang kehilangan seorang anak perempuan usia sekitar tiga tahun dengan ciri-ciri rambut diikat dua, memakai baju pink, dan rok jeans, silakan mengunjungi pusat informasi, terima kasih."
Hendra yang mendengar informasinya lekas menarik pergelangan tangan Hanna dan berlari ke pusat informasi.
"Cyra?" panggil seorang wanita dari kejauhan.
Cyra lantas melepas pelukan gadis itu dan berlari ke arah panggilan.
"Kamu baik-baik aja?" tanya Maya.
Cyra mengangguk.
"Emmh ... kalau begitu saya permisi dulu. Cyra, jangan jauh-jauh dari mamamu lagi, ya," ujar sang gadis sebelum berbalik pergi.
"Thank you, Good Sister," ucap Cyra sambil menatap gadis itu beranjak pergi.
Sementara gadis itu pergi, Hendra datang sambil berlari bersama Hanna. Maya pun melirik ke arah tangan Hendra yang menggenggam pergelangan tangan Hanna sambil berlarian.
Maya melirik ke arah tangan Hendra yang menggenggam pergelangan tangan Hanna sambil berlarian.
Hanna pun melepas genggaman di tangannya begitu melihat Cyra dan berlari menggendong putrinya yang sedang dituntun Maya.
"Cyra, are you okay? Mama khawatir banget, Nak."
"I'm okay, Mama," jawabnya disertai anggukan.
Rain datang dari kejauhan langsung memeluk Cyra dan Hanna.
"I'm sorry, Papa," lirih Cyra menyesal.
"It's okay. Kita pulang, ya, sekarang."
***
Di rumah, dua hari sebelumnya.
"Hendra, kita langsung jalan ke lokasi proyek Grand William hotel hari ini!” perintah Rain pada sopirnya yang sedang duduk di teras.
"Baik, Pak," jawab Hendra.
"Sayang, ini bekalnya ketinggalan?" ujar Hanna dari dalam rumah sambil membawakan lunch box berwarna turquoise favoritnya.
"Thank you, Hun," sambil mengecup keningnya.
"Kamu pakai baju santai, Pa?"
"Iya, aku mau ke lokasi proyek, takut kotor bajunya, Hun.”
"Hmm ... oke. Take care, Pa," sahut Hanna sambil melambaikan tangan dan menuntun Cyra.
"Bye, Hun, Cyra ....”
"Maya, bagaimana proyek perencanaannya?" tanya Rain di dalam mobil.
"Ya, ini rencana struktur bangunan dan ini dalam bentuk digitalnya, Pak." Maya menerangkan sambil menyodorkan tablet lipatnya ke Rain yang duduk di belakangnya.
"Bagaimana dengan fasilitas?"
"Kolam renang menghadap tepat ke barat yang memandang langsung ke arah bukit. Kids zone ada di lantai bawah di antara pusat kebugaran dan salon atau spa. Jadi, anak-anak bisa terlihat langsung oleh orang tuanya saat sedang beraktifitas.
“Dan sebuah penthouse yang dilengkapi ruang tamu besar dan akses langsung menuju rooftoop. Dokter jaga perusahaan sudah disiapkan dan service menunya ditangani oleh koki lokal yang sudah tidak diragukan lagi.”
"Kerja bagus!"
Maya tersenyum sambil melihat tatapan mencurigakan Hendra dari balik spion mobil.
Proyek Grand William Hotel sudah mulai difondasi. Perkiraan selesai dibangun sekitar dua bulan yang akan datang. Rain selaku direktur sedang fokus dalam mengamati rencana proyek hotelnya. Ia akan berkunjung ke kantor jika ada hal-hal mendesak atau pertemuan penting saja.
Siang hari di lokasi proyek, Rain berkeliling bersama Maya untuk melihat para pekerja dan progress pembangunannya.
Saat jam makan siang, pria dengan tinggi 180 sentimeter itu tidak malu memakan bekalnya bersama para pekerja bangunan lain yang dalam kondisi pakaian kotor dan berisik suara mesin. Mereka makan bersama sembari bercengkerama dan bercerita satu sama lain.
"Aah, air minum saya ketinggalan di rumah.”
"Biar saya belikan, Pak?" Maya menawarkan diri.
"Tidak usah, Maya. Kamu makan saja, biar saya beli sendiri!" tegas Rain menolaknya.
Maya mengangguk sambil meneruskan makan siangnya.
Ia pun pergi ke minimarket yang lokasinya tidak jauh dari area hotel. Setelah membeli satu botol air mineral, ia melihat seekor kucing yang mencuri perhatiannya. Kucing berwarna orange dengan bulu lebat, tetapi tak terurus itu mengeong, berjalan pelan mencari-cari makanan di sekitarnya.
Tanpa berpikir panjang, Rain pun membeli makanan di warung makan terdekat dan kembali ke tempat kucing tadi. Lalu, ia berjongkok, mengelus-elus kucingnya yang terlihat ketakutan. Setelah kucing itu tenang dalam usapan tangannya, ia memberikan makanan tadi pada kucing itu.
"Om, kenapa makanannya diberikan ke kucing? Memangnya, makanan itu gak enak?” Seorang gadis yang melintas tiba-tiba bertanya.
"Tidak, saya hanya kasihan." Rain tak menoleh pada gadis berambut keriting gantung itu. Setelah menemani kucing itu menghabiskan makanannya, Rain beranjak pergi ke lokasi proyeknya.
"Om, ini!" panggil gadis itu sambil memberikan paksa bungkusan putih.
"Apa ini?"
"Ini buatmu, Om. Om pasti merasa lapar karena makanannya diberikan ke kucing."
"Tapi, saya su—"
"Udah, gak usah malu-malu! Terima saja, Om,” paksa gadis itu sambil berlalu pergi meninggalkannya.
"Hei, memang kamu siapa!"
"Oh, saya Sea, Om. SE-YA!" teriaknya sambil mengeja nama dan segera berlari menjauh.
"Maksud saya, siapa kamu sembarangan memberi saya makanan! Siapa juga yang kelaparan, Dasar Gadis Aneh!" decaknya.
Ia pun kembali ke lokasi proyek, menghampiri mobil sedan hitam di depannya, dan mengetuk kaca mobil yang di dalamnya ada Hendra sedang tertidur.
"Dra, udah makan belum?"
Hendra terperanjat, kemudian membuka jendela mobilnya.
"Belum, Pak. Saya ketiduran."
"Nih, makan!” ujarnya sambil mengasongkan sebungkus makanan yang tadi diberikan gadis aneh.
"Terima kasih, Pak.”
***
Satu hari sebelumnya
Rabu pagi di kota Bandung dengan udara yang masih dingin setelah diguyur hujan, Rain pergi ke lokasi proyek hanya dengan kaos berwarna navy merek Gucci, celana pendek merek Hush Puppies, sandal kulit merek Birkenstock Milano Birko-Flor Nubuck, dan tak lupa ransel favoritnya.
Pengerjaan proyek sudah sampai pada tahap struktur bangunan. Rain bersama mandornya sedang memantau para pekerja dari bawah gedung.
Mereka berkeliling ditemani Maya dan Hendra. Di tengah bisingnya suara exavator dan dump truck yang lalu lalang keluar masuk proyek, Hendra mendengar samar-samar suara gesekan besi yang sedikit bergema. Ada perasaan gelisah timbul menggerayangi pikirannya.
"Awas, Maya!" Hendra berteriak lantang.
Sontak Rain menoleh ke arah Hendra dan melihat ada sesuatu yang akan terjatuh dari atas. Ia melangkah jauh, lantas mendorong tubuh Maya hingga terjatuh bersamaan. Beberapa scaffolding berjatuhan dan menimpa kaki Rain.
“Aaaaaah!”
"Pak Rain!" teriak Hendra.
Ia menolak bantuan Hendra walaupun kakinya kesakitan. "Saya baik-baik saja. Cepat kamu bantu Maya!" Rain memanggil orang proyek untuk merapikan scaffolding yang menimpa mereka.
"Maya, kamu baik-baik saja?" tanya Rain pada Maya yang masih shock. "Kepalamu terluka!" Ia melihat darah di kening dan luka gores di tangan serta kaki Maya.
"Hendra, kamu bawa dia ke tempat yang aman. Saya beli obat dulu!" Rain bangun perlahan dan membersihkan kotoran yang menempel di pakaiannya. Kemudian, ia berusaha jalan ke luar lokasi proyek. Saat keluar minimarket, ada sesuatu yang berjalan mengelilingi kakinya.
"Kamu lagi,” gumamnya ketika seekor kucing berputar-putar di kakinya.
Rain merendahkan tubuhnya untuk mengelus kucing yang kelihatannya meminta makanan lagi dan ia berpikir untuk mampir ke sebuah warung yang sebelumnya ia datangi untuk membeli nasi beserta lauknya. Kemudian, pria bertubuh atletis itu mengajak kucingnya ke pinggir jalan pedestrian agar aman selama menyantap makanan.
"Om, ini!" Suara seorang gadis yang memakai seragam SMA menggamit bahu Rain dari belakang.
"Hah, kamu lagi!" pekiknya.
"Aku kasihan. Om cuma bekerja bangunan di sana.” Sambil menunjuk lokasi proyek. “tapi, malah memberi makanannya ke kucing. Gaji bangunan, kan, enggak seberapa," paparnya.
Rain terkekeh, "Uangnya kamu tabung saja daripada membelikan saya makanan!"
"Uang jajan saya masih banyak, kok. Om tenang aja," katanya sambil mengelus kucing itu juga.
"Om, suka kucing atau memang suka binatang?" lanjutnya sambil memandang pria yang terlihat berantakan itu.
Rain tak menjawab. Ia malah berlalu pergi meninggalkannya bersama kucing jalanan itu.
"Ooom ...!" teriaknya.
Ia tetap tidak menoleh, tetapi gadis itu menarik lengannya.
"Mau apa kamu, hah!" ketusnya sambil menatap lengan yang menariknya dan menangkisnya kemudian.
"Tangannya ....” tunjuk Sea ke lengan Rain yang mengeluarkan darah.
Sea lantas menarik tangan Rain dan mendudukkannya di pinggir jalan khusus pedestrian. Ia melihat kantong obat yang baru saja dibeli Rain dan merebutnya. Kemudian, dibukalah obat itu dengan saksama, diambilnya kapas untuk membersihkan darah pada tangan yang terluka, lalu memberikan obat antiseptik dan terakhir menutupnya dengan perban.
"Beres!" serunya sambil tersenyum sipit melihat pria yang lebih dewasa darinya itu.
"Ah, kepalanya juga ...." Sea menunjuk ke arah dahi si pria.
Tak senang dengan perlakuan gadis itu yang bersikap tanpa izin, Rain pun menangkis tangan Sea yang akan menyentuh pelipisnya. Ia lantas berdiri, kemudian melangkah ke lokasi proyek tanpa menghiraukan si gadis aneh.
"Take care, Om.”
"Dra, ini.” Sambil memberikan kantong berisi obat. “Tolong obati Maya!"
"Baik, Pak!"
"Pak Rain tangannya sudah diobati?" tanya Maya.
"Sudah!" jawabnya masih dengan nada kesal setelah bertemu si gadis. "Dra, setelah ini kamu antar Maya pulang dulu.”
"Maya, besok kamu selesaikan pekerjaan di kantor saja!"
"Tapi, Pak—"
"Kamu mau saya pecat? Saya sudah bilang berbahaya buat wanita ada di lapangan seperti ini. Kamu kerjakan saja urusan lain di kantor," tegasnya sambil berjalan kembali mengamati proyek.
Maya hanya mengangguk dan merengut.
***
Hari Kejadian, Starbreak Coffee
"Pak Raja, kalau boleh saya tahu apa yang membuat Anda memilih saya sebagai rekanan proyek ini?"
"Saya suka visi misi Anda, Pak Rain. Terlebih lagi saat Anda mengatakan tidak akan membatasi warga. Di situ saya bisa melihat ketulusan Anda."
Sambil menyeruput kopi hitam, Rain menahan malu sekaligus bangga pada diri sendiri.
"Lantas, bagaimana dengan Delta dan Graha Bumi, Pak?"
"Saya sudah memberi penjelasan kepada mereka kalau visi dan misi mereka berbeda jauh dari Anda."
"Apakah mereka tidak akan memberi jalan bagi warga di kampung ini ?"
"Begitulah, Pak Rain. Walaupun kelak lahan ini berpindah tangan, tapi saya tidak ingin warga di sini terganggu apalagi sampai tidak ada jalan bagi mereka. Saya tidak mau mereka tertindas oleh orang-orang beruang."
"Orang-orang beruang?" Rain bingung.
"Orang berduit, Pak Rain," jelas Pak Raja, nama pendek Pak Raharja.
"Oh, ber-uang maksudnya Pak Raja. Saya sampai berpikir jauh.” Rain terkekeh. "Oh, ya, ngomong-ngomong panggil saya Rain saja, Pak. Saya bukan siapa-siapa, kok."
"Ah, kamu ini bisa saja, Rain. Kalau Nak Rain yang begitu bukan siapa-siapa, terus saya yang begini apa, dong? Kacang rebus?" guyon Pak Raharja membuat Rain terbahak.
Mereka tertawa sambil bersenda gurau setelah meeting selesai.
"Baik, kalau begitu semua surat-suratnya sudah ditandatangani dan dananya akan di urus oleh asisten saya, ya, Pak Raja."
"Iya, terima kasih, Rain. Lain waktu mampir ke rumah saya, ya."
"Pasti, Pak Raja, pasti. Sampai bertemu lagi, Pak.”
Sepeninggal kliennya, Rain menghabiskan waktu makan siang berdua dengan Maya yang duduk di dekat jendela kafe. Sementara itu, Hendra hanya memperhatikan Rain dan Maya dari dalam mobil.
"Oh, ya. Hendra ajak ke sini, Maya. Dia belum ma—"
"Hendra bilang tadi belikan saja untuknya. Nanti dia makan di mobil," sela Maya memotong ucapan Rain.
"Kalau begitu, tolong pesankan makanan dan minumnya untuk Hendra."
“Baik, Pak.”
Lima belas menit kemudian Maya kembali dengan makanan yang dibungkus untuk Hendra.
"Ayo. Kita segera kembali ke kantor!"
"Ada hal penting, Pak?" tanya Maya.
"Saya mau selesaikan urusan kantor lalu cepat-cepat pulang!"