Bab 1

"Maya, apa jadwal saya selanjutnya?" tanya Rain.

"Jam sebelas siang meeting dengan pemilik lahan Raharja dan notaris di Star Break Coffee. Mungkin Anda makan siang di sana kalau meeting-nya berlangsung lama."

"Tolong siapkan berkas-berkas yang akan dibawa.”

"Baik, semuanya sudah disiapkan. Pak Hendra sepuluh menit lagi sampai." Sambil menengok jam tangannya dengan strap yang terbuat dari kulit, memberikan kesan elegan dan stylish, terutama saat dipakai oleh Maya yang cenderung berkulit putih.

"Oke, Maya, kamu tunggu di mobil. Saya mau ke toilet dulu."

"Baik, Pak."

***

Star Break Coffee, kafe dengan suasana modern dan selalu dipenuhi pengunjung. Rain, Maya, dan kliennya melakukan pertemuan siang itu untuk penandatanganan kerja sama.

"Baik kalau begitu. Semua surat-suratnya sudah ditandatangani dan dananya sedang di urus oleh asisten saya, ya, Pak Raharja."

"Iya, terima kasih, Pak Rain. Lain waktu mampir ke rumah saya, Pak."

"Pasti, Pak, sampai bertemu lagi."

Pak Raharja bangun dari tempat duduknya dan berlalu pergi.

"Maya, jam makan siang sudah lewat. Sebaiknya kamu makan dulu sebelum kembali ke kantor."

"Iya, Rain, kamu juga makan, kan?" tanya Maya. Rain dan Maya akan memanggil santai jika tidak sedang di kantor dan tidak ada urusan pekerjaan.

"Saya cuma mau makan snack," ujar bosnya itu sembari memainkan ponselnya yang berwarna hitam.

"Toast or french fries?" tanya sekretaris yang duduk di seberangnya.

"Toast and macchiato, please."

"Ok, wait."

Setelah makan camilan, mereka kembali ke kantor untuk cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan. Rain ingin segera pulang. Entah kenapa hari itu ia sangat rindu dan ingin segera bertemu keluarga kecilnya.

***

"Yee, Papaa pulaang. Mama mana, Pa?" tanya Cyra, putri pertamanya dengan wanita bernama Hanna.

"Mama? Papa gak bareng Mama, Sayang."

"Biii ...? Bi Ina ...?"

"Iya, Pak. Sudah pulang, toh, Pak? Maaf saya baru selesai di dapur. Ibu mana, Pak?" tanya asisten rumah tangga yang sudah bertahun-tahun dipercayanya.

"Loh, kok, nanya saya, Bi. Saya, kan, baru pulang kerja." Raut wajah Rain mendadak gelisah.

Ia coba menerka-nerka ke mana kiranya Hanna pergi tanpa memberi kabar pesan ataupun telepon. Karena ke mana pun istrinya pergi pasti selalu meninggalkan pesan. Rain mengira bahwa wanita tercintanya itu baik-baik saja di rumah seperti biasanya.

"Tadi, Ibu pamit mau ketemuan sama Bapak, seperti biasa mau antar makan siang untuk Pak Rain,” sahut Bi Ina.

"Gak ada, Bi! Saya gak ketemu Hanna hari ini. Lagi juga saya udah kasih tahu ke Hanna untuk enggak menyiapkan dan mengantar makan siang ke kantor karena saya mau meeting di luar.

"Lah, terus Ibu ke mana, Pak, sampai sekarang belum pulang?" tanya Bi Ina yang bergantian kebingungan.

Rain terlihat berpikir sambil memutar-mutar iris mata, sedangkan jemarinya berpaut di antara dahi.

"Cyra Sayang, udah makan?" Rain mengalihkan perhatiannya sebentar.

"Udah, Pa. Cyra ngantuk. Cyra mau bobo sama Mama." Cyra merajuk sambil memeluk kaki kanan Rain yang jenjang.

"Cyra, Cyra bobo dulu sama Bi Ina, ya? Papa mau cari Mama dulu ke rumah Oma."

"Iya, Pa." Cyra berjalan ke kamar dituntun Bi Ina sambil mengerucutkan bibirnya dan berjalan dengan malas.

Malam itu hujan turun sangat lebat diiringi dentuman petir yang menggelegar. Rain mondar-mandir di ruang kerjanya sambil sesekali memandangi jam di dinding. Ia tak melepas ponselnya barang sebentar saja.

Sudah jam delapan malam Hanna belum juga pulang. Sementara, hujan di luar sudah reda hanya tinggal rintik-rintik dan dentuman kecil petir dari langit.

Tiba-tiba ada pesan masuk dari nomor Hanna.

[Pa, Mama pergi ke rumah Ibu dulu. Papa gak usah menyusul ke sini. Besok juga Mama pulang.]

Ketenangan mulai merasuki jiwa seorang Rain ketika mendapatkan sebuah pesan dari seseorang yang dinantikannya.

[Oke, Sayang, besok pulang, ya? Cyra kangen kamu. Love Hanna].

Balas Rain di akhir kalimat pesannya. Akhirnya, ia bisa tertidur lelap, pikirnya.

Sementara itu, Rain berjalan pelan mengintip ke kamar berwarna pink di samping kamarnya. Ia melihat Cyra sudah tertidur. Adapun Bi Ina masih duduk di sampingnya sambil bersenandung lagu Nina Bobo, menunggu sampai Cyra benar-benar terlelap dalam mimpinya.

***

Esok paginya setelah sarapan bersama Cyra dan sebelum pergi ke kantor. Rain sempatkan membuka ponsel dan mencari kontak Elly, mertuanya, untuk menanyakan kabar Hanna.

"Halo, Bu, bisa Rain bicara dengan Hanna? Rain telepon ke hp-nya enggak aktif, Bu."

"Hanna? Hanna enggak ada di sini Rain?" jawab Elly. Ia bingung ketika pagi-pagi sekali menantunya sudah menelepon untuk mencari Hanna yang tidak ada di sana.

"Yang benar, Bu? Dari kemarin Hanna enggak ada di rumah ... Hanna bilang kemarin ada di rumah Ibu dan mau pulang hari ini."

"Benar, Rain. Hanna belum telepon Ibu lagi sejak dua hari yang lalu."

Ya, ampun. Ada apa ini? batin Rain dengan perasaan cemas, gelisah, dan tak karuan.

"Ya, udah. Rain cari Hanna dulu, Bu."

"Kabari Ibu secepatnya, ya, Rain? Ibu juga akan bantu tanyakan ke saudara-saudara dekat dan teman-teman Hanna.”

"Ya, Bu," jawab Rain seraya memutus sambungan teleponnya.

"Pak, Maya sama Hendra udah menunggu di depan," sela Bi Ina.

"Ya, Bi," Ia menjawab dengan perasaan cemas dan akar pikirannya bercabang ke mana-mana.

"Bi, tolong jaga Cyra baik-baik, ya? Hubungi saya secepatnya kalau ada kabar apa pun tentang Hanna," pinta Rain dengan raut wajah penuh kekhawatiran.

"Baik, Pak. Hati-hati di jalan."

Rain melangkah masuk ke mobilnya sambil memegangi ponsel yang sejak pagi hari belum dilepasnya. Ia coba menghubungi semua keluarga, saudara, dan teman-teman Hanna, tetapi masih belum menemukan hasil sedikit pun.

"Ada apa, Pak?" tanya Maya.

"Hanna hilang," sahutnya dengan irama datar dan ekspresi sedih.

"Astaga, sejak kapan?

"Kemarin siang kata Bi Ina."

"Udah hubungi keluarganya Bu Hanna, Pak?" tanya Hendra kemudian.

"Udah, tapi enggak ada satu pun yang tahu."

"Duuuh, Hana kamu ke mana? Please pulanglah, semoga kamu baik-baik aja di mana pun," gumam Rain dengan suara parau dan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Semoga Ibu Hanna cepat pulang, ya, Pak," ujar Hendra sambil fokus menyetir mobil.

Rain pun tak menjawab lagi karena sibuk memandangi ponselnya.

Sampai di kantor, Rain berjalan dengan sangat cepat untuk masuk ke ruangannya tanpa menoleh ke sekitar dan tak menyapa karyawan lain seperti biasanya.

Ia menjatuhkan diri di kursi kebangsaannya, bersandar sembari menengadahkan kepalanya dengan mata terpejam. Ia berpikir ke mana lagi Hanna akan pergi kiranya.

Belum ada lima menit Rain merebahkan dirinya di kursi. "Pak, coba liat di TV ada berita," sahut Maya sembari meraih remote dan menyalakan tombol power-nya. Ia memindahkan saluran TV ke berita terkini.

"Telah ditemukan seorang wanita di lokasi proyek Willy Group. Wanita itu berusia sekitar 28 tahun dan dipastikan jenazah adalah Hanna, menantu dari Willy Group, jenazah diperkirakan—"

Dengan spontan Rain berlari ke lokasi di berita yang tidak lain lokasi proyek hotel yang sedang digarapnya. Mobil sedan berwarna putih dengan lambang empat cincin saling bertautan itu dipacu dengan kecepatan 80-100 kilometer perjam.

Rain membunyikan klakson bagi siapa pun yang menghalangi jalannya. Lampu merah pun diterobosnya. Matanya mulai memerah dan membendung air mata. Dada yang terasa sesak membuat napasnya tersengal. Ia menangis terisak sambil memacu kencang mobilnya.

Sesampainya di lokasi, ia bergegas keluar dari mobil dan berlari menghampiri jenazah yang tadi diberitakan di TV untuk memastikan kebenarannya.

"Hannaa!" teriaknya. Ia langsung berlari ke kerumunan, menghampiri tubuh istrinya, dan sontak menyusupkan tangan kirinya di bawah punggung Hanna. Ia menahan tubuh istrinya yang sudah dipastikan tak bernyawa itu. Tangan kanannya mengelus wajah Hanna yang sudah membiru kedinginan dan dipenuhi darah. Ia meratapi wajah wanita yang sangat dicintainya.

"Hanna ... Hanna, Sayang ... bangun!" Suaranya merintih.

Banyak orang yang ingin menyaksikan kematian tragis dari Hanna. Mereka pun merasa iba ketika melihat Rain mengerang dan menangis terisak.

"Hannaaaa ... jangan tinggalin aku ... Hanna, please!" teriaknya sambil memeluk tubuh Hanna yang sudah dingin.

"Hannaaaa ...!" Ia menangis sesenggukkan sambil memeluk, kemudian menciumi wajah istrinya yang pucat pasi. "Kamu pasti kedinginan. Kamu sejak kemarin di sini, kan? Hemmh ...? Semalaman hujan dan Hanna sendirian di sini. Maafkan aku, Hanna, maafkan ...."

"Siapa pun orang bodoh yang berani menyakiti Hanna akan berurusan langsung denganku.” Suara teriakannya makin kencang di antara banyak orang yang berkumpul.

Bab 2

"Hanna pasti kedinginan ... kamu sejak kemarin di sini, ya, hmm? Semalaman hujan deras dan kamu sendirian di sini. Maafkan aku, Hanna, maafkan ....” Ia pun menangis sesenggukan.

"Siapa pun orang bodoh yang berani menyakiti Hanna akan berurusan langsung denganku, aaaarrrgghhhh!" Suara teriakannya makin kencang.

Isak tangisnya begitu menyeruak membuat orang-orang yang berada di sana merasa iba melihatnya.

Tangan dan kemeja putih Rain penuh dengan darah dari luka kepala istrinya. Ia pun meratapi paras cantik istrinya yang akan dilihatnya untuk terakhir kali. Tak lama, tangannya merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel pintar untuk kemudian menghubungi seseorang.

"Andy, bantu aku!"

"Hai, Rain. Apa yang bisa kubantu?" Andy adalah teman semasa kuliah yang sudah lama menjadi sahabat terdekatnya.

"Kamu tahu apa yang kumaksud, kan?"

"Aku mengerti, Rain. Nanti siang aku akan berkunjung ke kantormu.”

"Baiklah, sekarang aku harus mengurus Hanna dulu."

***

Satu minggu sebelum kejadian.

"Pak, untuk lahan perkebunan milik Pak Raharja, aku sudah mendatanginya dan mereka minta bertemu di lokasi," jelas Maya.

"Kamu sudah atur waktunya?"

"Hari Senin pekan depan, pukul sepuluh," sahut Maya.

"Oke. Oh, ya, Maya. Sudah jam tujuh, kamu boleh pulang. Saya mau selesaikan pekerjaan dulu."

"Apa Anda perlu sesuatu lagi, Pak?" tanya Maya sebelum pulang.

"Tak usah. Oh, ya, kamu bisa pulang bareng Hendra. Saya mau menyetir sendiri."

"Baik, Pak. Saya pamit pulang."

Rain hanya mengangguk. Ia menyelesaikan pekerjaannya dalam tiga puluh menit dan bergegas ke mobil untuk pergi ke suatu tempat.

Di lokasi itu sudah ada seorang wanita cantik alami dengan rambut terurai sedang duduk menunggu.

"Malem, Hun. Kamu udah nunggu lama?" sapa pria bermata hitam tegas itu sambil mengecup pipi merah istrinya.

Hanna menggeleng, "Aku belum lama sampai. Gimana kerjaan kamu?"

"Begitulah ... aku lagi ngurus lahan di daerah Bandung."

Rain, melihat-lihat buku menu. Sementara, seorang waitress sudah mengantar makanan yang dipesan Hanna sebelumnya.

"Kamu udah pesan, Hun?"

"Udah, Sayang. Aku juga udah pesankan menu favoritmu,” jawab Hanna dengan suara lembutnya.

Rain tersenyum sambil membuka serbet dan memasangkan di atas paha Hanna yang berbalut dress berwarna maroon.

Mereka makan malam romantis berdua. Begitulah setiap bulannya mereka selalu menghabiskan waktu berdua untuk sekedar makan atau berjalan-jalan berkeliling kota, mengobrol tentang apa yang tidak sempat mereka diskusikan di rumah karena kesibukan masing-masing.

***

"Cyra?" panggil Rain.

"Papaaa, Mamaaa ....”

Rain memeluk Cyra yang berlari dari kamarnya.

"Rain?" panggil seseorang yang keluar dari dalam kamar Cyra.

"Oh, Papa. Kapan sampai sini?"

"Tadi sore, Rain. Mama kangen ketemu Cyra," sahut William.

"Mama mana, Pa?"

"Di dapur lagi bantu Bi Ina. Oh, ya, Rain, gimana proyek hotel dan lahan Raharja?" William berjalan masuk ke salah satu ruangan yang difungsikan untuk bekerja, diikuti Rain di sampingnya.

"Hotel masih dalam tahap design akhir oleh tim, Pa. Kalau tidak ada halangan akan segera dimulai proses pembangunan akhir bulan ini. Untuk lahan Raharja, mereka baru setuju bertemu pekan depan."

"Kamu harus dapat proyeknya, Rain. Karena Papa dengar dari Heri kalau Delta dan Graha Bumi juga mau membeli lahan Raharja."

"Pasti, Pa. Tempat itu memang sangat strategis untuk proyek perumahan, dekat akses jalan tol, dan tidak jauh ke pusat kota.”

"Ya, itu investasi yang sangat menguntungkan Rain."

***

Tiga hari sebelum hari kejadian.

"Pak, Maya dan Hendra sudah menunggu," ujar Bi Ina.

"Iya, Bi, terima kasih."

"Maya, saya tidak akan ke kantor hari ini. Kita akan berangkat ke lokasi lahan Raharja sebentar lagi, sekitar jam sembilan. Jadi, nanti kalian bisa istirahat di—

"Tante Mayaa?" teriak Cyra memotong penjelasan Rain.

"Halo, Cyra Sayang. Kamu udah bangun?" Maya menyapa dengan riang sambil merendahkan tubuhnya setinggi Cyra.

"Udah, Tante," jawab Cyra. "Maaa Cyra mau sarapan sama Tante Maya," teriaknya pada Hanna.

"Iya, Sayang.” Hanna menyahuti dari kejauhan.

Hanna membawakan beberapa sandwich dan teh manis untuk Maya dan Hendra sambil mengobrol di halaman depan rumahnya yang penuh dengan bunga tulip.

Cyra sangat dekat dengan Maya karena Maya sering bermain dengannya ketika berkunjung ke rumah.

"Maa, susu Cyra mana?"

"Oh, ya, Sayang. Mama lupa ... Mama ambil dulu, ya, di dapur."

"Biar saya ambilkan, Bu. Saya mau sekalian ke toilet," ujar Hendra mengusulkan.

"Oh, boleh kalau gak keberatan. Makasih, ya, Hen.” Hanna tersenyum.

***

Sementara itu, di lokasi lahan, Pak Raharja mengajak Rain berkeliling lahan bersama sekretaris dan sopirnya Rain.

"Begini, Pak, dikarenakan lahan ini ada di tengah-tengah pemukiman warga, jadi saya juga harus menjaga beberapa milik warga setempat. Saya tidak mau ada warga mengeluh atas pembangunan proyek Pak Rain. Di samping itu ada Delta dan Graha Bumi yang sudah lebih dulu menawarkan kontrak."

"Pak Raja?" Rain menghentikan perjalanannya diikuti Pak Raja dan yang lainnya. "Saya berjanji tidak akan mengganggu dan membatasi aktivitas warga. Saya akan memberi dan lebih lagi akan mengindahkan akses jalan yang tentunya menguntungkan juga bagi warga. Dengan begitu ... saya yakin warga akan mendukung," ucap Rain dengan tulus dan mencoba meyakinkan Pak Raharja dengan kata-katanya.

Pak Raharja tersenyum mendengar penjelasan dari Rain.

"Kalau begitu saya akan mempelajari kontrak Pak Rain dan dua perusahaan lainnya. Kalau saya sudah yakin, saya akan segera menghubungi Anda lagi," terang Pak Raharja.

"Terima kasih, Pak Raja. Saya tunggu titik terangnya," ucap Rain penuh harap.

"Hendra, antar saya ke rumah!" tegas Rain setelah masuk ke dalam mobil.

"Kita gak ke kantor, Pak?" tanya Maya.

"Hari ini saya akan mengajak Hanna dan Cyra piknik. Jadi, tolong alihkan meeting hari ini untuk besok."

"Baik, akan segera saya urus, Pak.”

Sesampainya di rumah, Cyra mengejar Rain saat keluar dari mobil mewahnya.

"Papaaa, sekarang jadi jalan-jalannya sama Cyra sama Mama?"

"Jadi, dong, Sayang. Mama mana?"

"Mama lagi dandan, Pa."

"Maya dan Hendra, kamu boleh kembali kantor atau langsung pulang."

"Pa, Cyra mau jalan-jalan cama Tante Maya," rengek Cyra sambil memegang pergelangan tangan Maya.

Rain dan Hendra menatap Hanna yang baru keluar dari rumahnya seraya memberi jawaban dengan anggukan.

"Cyra, Cyra boleh ajak Tante, tapi Cyra gak boleh gangguin Tante Maya, ya?" ucap Hanna.

"Cyra janji, Ma," jawabnya dengan girang sambil menunjukkan jari kelingkingnya lantas dilingkarkan oleh jari kelingkingnya Hanna. Kemudian, mereka saling menyentuh hidung dengan telunjuk diikuti tawa renyah Cyra.

"Oke, Maya dan Hendra, kalian boleh ikut hitung-hitung refreshing," ujar Rain.

Maya dan Hendra mengangguk setuju, "Terima kasih, Pak," sahut mereka bersamaan. Mereka saling bertatapan satu sama lain, lalu senyum tersungging di kedua bibir mereka.

"Cyra mau jalan-jalan ke mana?" tanya Rain di dalam mobil.

"Cyra want to go the zoo, Papa," jawab Cyra yang duduk di pangkuan Rain.

"Oke Zoo, I'm coming !" seru Rain, Hanna, dan Cyra berteriak bersama.

Maya dan Hendra tertawa melihat keharmonisan keluarga Rain dari kaca spion.

Sampai di Taman Safari, Rain dan Hanna menuntun tangan Cyra, sementara Maya dan Hendra berjalan di belakangnya.

Rain yang pergi ke toilet, tanpa disadari Hanna kehilangan Cyra. Maya berpisah dari mereka untuk mencari Cyra. Sementara, Hendra masih bersama Hanna.

"Adik Cantik, kamu lagi apa?" tanya seorang gadis remaja yang melihatnya sedang kebingungan.

Cyra terdiam, mulutnya mengerucut, dan matanya berkaca-kaca.

"Dik?" Gadis itu mengangkat tangannya untuk memegang bahunya Cyra, tetapi Cyra berjalan mundur ketakutan.

"Gak apa-apa, Sayang. Kakak gak jahat, kok. Mamamu mana?" tanya gadis bertubuh tinggi itu.

Cyra menangis sejadi-jadinya, kemudian gadis itu menghampiri untuk memeluk Cyra sambil menepuk-nepuk punggungnya.

"Gak apa-apa, Sayang. Coba cerita sama Kakak, ya? Kamu kenapa menangis, hmm?"

"Ma-mama i-ilaang," jawab Cyra.

"Hilang?” Ia berpikir sejenak. “Kamu tenang dulu, ya. Kita cari Mama sama-sama, mau?" tanya gadis muda itu.

Cyra mengangguk, kemudian gadis itu menggendong Cyra serta membawanya ke ruang information centre dan meminta petugas di sana mengumumkan berita kehilangan anak.

"Pengumuman, bagi pengunjung yang kehilangan seorang anak perempuan usia sekitar tiga tahun dengan ciri-ciri rambut diikat dua, memakai baju pink, dan rok jeans, silakan mengunjungi pusat informasi, terima kasih."

Hendra yang mendengar informasinya lekas menarik pergelangan tangan Hanna dan berlari ke pusat informasi.

"Cyra?" panggil seorang wanita dari kejauhan.

Cyra lantas melepas pelukan gadis itu dan berlari ke arah panggilan.

"Kamu baik-baik aja?" tanya Maya.

Cyra mengangguk.

"Emmh ... kalau begitu saya permisi dulu. Cyra, jangan jauh-jauh dari mamamu lagi, ya," ujar sang gadis sebelum berbalik pergi.

"Thank you, Good Sister," ucap Cyra sambil menatap gadis itu beranjak pergi.

Sementara gadis itu pergi, Hendra datang sambil berlari bersama Hanna. Maya pun melirik ke arah tangan Hendra yang menggenggam pergelangan tangan Hanna sambil berlarian.

Bab 3

Maya melirik ke arah tangan Hendra yang menggenggam pergelangan tangan Hanna sambil berlarian.

Hanna pun melepas genggaman di tangannya begitu melihat Cyra dan berlari menggendong putrinya yang sedang dituntun Maya.

"Cyra, are you okay? Mama khawatir banget, Nak."

"I'm okay, Mama," jawabnya disertai anggukan.

Rain datang dari kejauhan langsung memeluk Cyra dan Hanna.

"I'm sorry, Papa," lirih Cyra menyesal.

"It's okay. Kita pulang, ya, sekarang."

***

Di rumah, dua hari sebelumnya.

"Hendra, kita langsung jalan ke lokasi proyek Grand William hotel hari ini!” perintah Rain pada sopirnya yang sedang duduk di teras.

"Baik, Pak," jawab Hendra.

"Sayang, ini bekalnya ketinggalan?" ujar Hanna dari dalam rumah sambil membawakan lunch box berwarna turquoise favoritnya.

"Thank you, Hun," sambil mengecup keningnya.

"Kamu pakai baju santai, Pa?"

"Iya, aku mau ke lokasi proyek, takut kotor bajunya, Hun.”

"Hmm ... oke. Take care, Pa," sahut Hanna sambil melambaikan tangan dan menuntun Cyra.

"Bye, Hun, Cyra ....”

"Maya, bagaimana proyek perencanaannya?" tanya Rain di dalam mobil.

"Ya, ini rencana struktur bangunan dan ini dalam bentuk digitalnya, Pak." Maya menerangkan sambil menyodorkan tablet lipatnya ke Rain yang duduk di belakangnya.

"Bagaimana dengan fasilitas?"

"Kolam renang menghadap tepat ke barat yang memandang langsung ke arah bukit. Kids zone ada di lantai bawah di antara pusat kebugaran dan salon atau spa. Jadi, anak-anak bisa terlihat langsung oleh orang tuanya saat sedang beraktifitas.

“Dan sebuah penthouse yang dilengkapi ruang tamu besar dan akses langsung menuju rooftoop. Dokter jaga perusahaan sudah disiapkan dan service menunya ditangani oleh koki lokal yang sudah tidak diragukan lagi.”

"Kerja bagus!"

Maya tersenyum sambil melihat tatapan mencurigakan Hendra dari balik spion mobil.

Proyek Grand William Hotel sudah mulai difondasi. Perkiraan selesai dibangun sekitar dua bulan yang akan datang. Rain selaku direktur sedang fokus dalam mengamati rencana proyek hotelnya. Ia akan berkunjung ke kantor jika ada hal-hal mendesak atau pertemuan penting saja.

Siang hari di lokasi proyek, Rain berkeliling bersama Maya untuk melihat para pekerja dan progress pembangunannya.

Saat jam makan siang, pria dengan tinggi 180 sentimeter itu tidak malu memakan bekalnya bersama para pekerja bangunan lain yang dalam kondisi pakaian kotor dan berisik suara mesin. Mereka makan bersama sembari bercengkerama dan bercerita satu sama lain.

"Aah, air minum saya ketinggalan di rumah.”

"Biar saya belikan, Pak?" Maya menawarkan diri.

"Tidak usah, Maya. Kamu makan saja, biar saya beli sendiri!" tegas Rain menolaknya.

Maya mengangguk sambil meneruskan makan siangnya.

Ia pun pergi ke minimarket yang lokasinya tidak jauh dari area hotel. Setelah membeli satu botol air mineral, ia melihat seekor kucing yang mencuri perhatiannya. Kucing berwarna orange dengan bulu lebat, tetapi tak terurus itu mengeong, berjalan pelan mencari-cari makanan di sekitarnya.

Tanpa berpikir panjang, Rain pun membeli makanan di warung makan terdekat dan kembali ke tempat kucing tadi. Lalu, ia berjongkok, mengelus-elus kucingnya yang terlihat ketakutan. Setelah kucing itu tenang dalam usapan tangannya, ia memberikan makanan tadi pada kucing itu.

"Om, kenapa makanannya diberikan ke kucing? Memangnya, makanan itu gak enak?” Seorang gadis yang melintas tiba-tiba bertanya.

"Tidak, saya hanya kasihan." Rain tak menoleh pada gadis berambut keriting gantung itu. Setelah menemani kucing itu menghabiskan makanannya, Rain beranjak pergi ke lokasi proyeknya.

"Om, ini!" panggil gadis itu sambil memberikan paksa bungkusan putih.

"Apa ini?"

"Ini buatmu, Om. Om pasti merasa lapar karena makanannya diberikan ke kucing."

"Tapi, saya su—"

"Udah, gak usah malu-malu! Terima saja, Om,” paksa gadis itu sambil berlalu pergi meninggalkannya.

"Hei, memang kamu siapa!"

"Oh, saya Sea, Om. SE-YA!" teriaknya sambil mengeja nama dan segera berlari menjauh.

"Maksud saya, siapa kamu sembarangan memberi saya makanan! Siapa juga yang kelaparan, Dasar Gadis Aneh!" decaknya.

Ia pun kembali ke lokasi proyek, menghampiri mobil sedan hitam di depannya, dan mengetuk kaca mobil yang di dalamnya ada Hendra sedang tertidur.

"Dra, udah makan belum?"

Hendra terperanjat, kemudian membuka jendela mobilnya.

"Belum, Pak. Saya ketiduran."

"Nih, makan!” ujarnya sambil mengasongkan sebungkus makanan yang tadi diberikan gadis aneh.

"Terima kasih, Pak.”

***

Satu hari sebelumnya

Rabu pagi di kota Bandung dengan udara yang masih dingin setelah diguyur hujan, Rain pergi ke lokasi proyek hanya dengan kaos berwarna navy merek Gucci, celana pendek merek Hush Puppies, sandal kulit merek Birkenstock Milano Birko-Flor Nubuck, dan tak lupa ransel favoritnya.

Pengerjaan proyek sudah sampai pada tahap struktur bangunan. Rain bersama mandornya sedang memantau para pekerja dari bawah gedung.

Mereka berkeliling ditemani Maya dan Hendra. Di tengah bisingnya suara exavator dan dump truck yang lalu lalang keluar masuk proyek, Hendra mendengar samar-samar suara gesekan besi yang sedikit bergema. Ada perasaan gelisah timbul menggerayangi pikirannya.

"Awas, Maya!" Hendra berteriak lantang.

Sontak Rain menoleh ke arah Hendra dan melihat ada sesuatu yang akan terjatuh dari atas. Ia melangkah jauh, lantas mendorong tubuh Maya hingga terjatuh bersamaan. Beberapa scaffolding berjatuhan dan menimpa kaki Rain.

“Aaaaaah!”

"Pak Rain!" teriak Hendra.

Ia menolak bantuan Hendra walaupun kakinya kesakitan. "Saya baik-baik saja. Cepat kamu bantu Maya!" Rain memanggil orang proyek untuk merapikan scaffolding yang menimpa mereka.

"Maya, kamu baik-baik saja?" tanya Rain pada Maya yang masih shock. "Kepalamu terluka!" Ia melihat darah di kening dan luka gores di tangan serta kaki Maya.

"Hendra, kamu bawa dia ke tempat yang aman. Saya beli obat dulu!" Rain bangun perlahan dan membersihkan kotoran yang menempel di pakaiannya. Kemudian, ia berusaha jalan ke luar lokasi proyek. Saat keluar minimarket, ada sesuatu yang berjalan mengelilingi kakinya.

"Kamu lagi,” gumamnya ketika seekor kucing berputar-putar di kakinya.

Rain merendahkan tubuhnya untuk mengelus kucing yang kelihatannya meminta makanan lagi dan ia berpikir untuk mampir ke sebuah warung yang sebelumnya ia datangi untuk membeli nasi beserta lauknya. Kemudian, pria bertubuh atletis itu mengajak kucingnya ke pinggir jalan pedestrian agar aman selama menyantap makanan.

"Om, ini!" Suara seorang gadis yang memakai seragam SMA menggamit bahu Rain dari belakang.

"Hah, kamu lagi!" pekiknya.

"Aku kasihan. Om cuma bekerja bangunan di sana.” Sambil menunjuk lokasi proyek. “tapi, malah memberi makanannya ke kucing. Gaji bangunan, kan, enggak seberapa," paparnya.

Rain terkekeh, "Uangnya kamu tabung saja daripada membelikan saya makanan!"

"Uang jajan saya masih banyak, kok. Om tenang aja," katanya sambil mengelus kucing itu juga.

"Om, suka kucing atau memang suka binatang?" lanjutnya sambil memandang pria yang terlihat berantakan itu.

Rain tak menjawab. Ia malah berlalu pergi meninggalkannya bersama kucing jalanan itu.

"Ooom ...!" teriaknya.

Ia tetap tidak menoleh, tetapi gadis itu menarik lengannya.

"Mau apa kamu, hah!" ketusnya sambil menatap lengan yang menariknya dan menangkisnya kemudian.

"Tangannya ....” tunjuk Sea ke lengan Rain yang mengeluarkan darah.

Sea lantas menarik tangan Rain dan mendudukkannya di pinggir jalan khusus pedestrian. Ia melihat kantong obat yang baru saja dibeli Rain dan merebutnya. Kemudian, dibukalah obat itu dengan saksama, diambilnya kapas untuk membersihkan darah pada tangan yang terluka, lalu memberikan obat antiseptik dan terakhir menutupnya dengan perban.

"Beres!" serunya sambil tersenyum sipit melihat pria yang lebih dewasa darinya itu.

"Ah, kepalanya juga ...." Sea menunjuk ke arah dahi si pria.

Tak senang dengan perlakuan gadis itu yang bersikap tanpa izin, Rain pun menangkis tangan Sea yang akan menyentuh pelipisnya. Ia lantas berdiri, kemudian melangkah ke lokasi proyek tanpa menghiraukan si gadis aneh.

"Take care, Om.”

"Dra, ini.” Sambil memberikan kantong berisi obat. “Tolong obati Maya!"

"Baik, Pak!"

"Pak Rain tangannya sudah diobati?" tanya Maya.

"Sudah!" jawabnya masih dengan nada kesal setelah bertemu si gadis. "Dra, setelah ini kamu antar Maya pulang dulu.”

"Maya, besok kamu selesaikan pekerjaan di kantor saja!"

"Tapi, Pak—"

"Kamu mau saya pecat? Saya sudah bilang berbahaya buat wanita ada di lapangan seperti ini. Kamu kerjakan saja urusan lain di kantor," tegasnya sambil berjalan kembali mengamati proyek.

Maya hanya mengangguk dan merengut.

***

Hari Kejadian, Starbreak Coffee

"Pak Raja, kalau boleh saya tahu apa yang membuat Anda memilih saya sebagai rekanan proyek ini?"

"Saya suka visi misi Anda, Pak Rain. Terlebih lagi saat Anda mengatakan tidak akan membatasi warga. Di situ saya bisa melihat ketulusan Anda."

Sambil menyeruput kopi hitam, Rain menahan malu sekaligus bangga pada diri sendiri.

"Lantas, bagaimana dengan Delta dan Graha Bumi, Pak?"

"Saya sudah memberi penjelasan kepada mereka kalau visi dan misi mereka berbeda jauh dari Anda."

"Apakah mereka tidak akan memberi jalan bagi warga di kampung ini ?"

"Begitulah, Pak Rain. Walaupun kelak lahan ini berpindah tangan, tapi saya tidak ingin warga di sini terganggu apalagi sampai tidak ada jalan bagi mereka. Saya tidak mau mereka tertindas oleh orang-orang beruang."

"Orang-orang beruang?" Rain bingung.

"Orang berduit, Pak Rain," jelas Pak Raja, nama pendek Pak Raharja.

"Oh, ber-uang maksudnya Pak Raja. Saya sampai berpikir jauh.” Rain terkekeh. "Oh, ya, ngomong-ngomong panggil saya Rain saja, Pak. Saya bukan siapa-siapa, kok."

"Ah, kamu ini bisa saja, Rain. Kalau Nak Rain yang begitu bukan siapa-siapa, terus saya yang begini apa, dong? Kacang rebus?" guyon Pak Raharja membuat Rain terbahak.

Mereka tertawa sambil bersenda gurau setelah meeting selesai.

"Baik, kalau begitu semua surat-suratnya sudah ditandatangani dan dananya akan di urus oleh asisten saya, ya, Pak Raja."

"Iya, terima kasih, Rain. Lain waktu mampir ke rumah saya, ya."

"Pasti, Pak Raja, pasti. Sampai bertemu lagi, Pak.”

Sepeninggal kliennya, Rain menghabiskan waktu makan siang berdua dengan Maya yang duduk di dekat jendela kafe. Sementara itu, Hendra hanya memperhatikan Rain dan Maya dari dalam mobil.

"Oh, ya. Hendra ajak ke sini, Maya. Dia belum ma—"

"Hendra bilang tadi belikan saja untuknya. Nanti dia makan di mobil," sela Maya memotong ucapan Rain.

"Kalau begitu, tolong pesankan makanan dan minumnya untuk Hendra."

“Baik, Pak.”

Lima belas menit kemudian Maya kembali dengan makanan yang dibungkus untuk Hendra.

"Ayo. Kita segera kembali ke kantor!"

"Ada hal penting, Pak?" tanya Maya.

"Saya mau selesaikan urusan kantor lalu cepat-cepat pulang!"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED