Bab 1

"Mobil Mas kenapa jelek? Kecil lagi. Coba lihat mobilku. Besar, bagus, kinclong. Mobil Mas pasti gak ada AC-nya?" tanya Eva pada Gunawan.

"Iya, gak ada, Va. Cuma AC alami aja." Gunawan mengakhiri obrolan dengan tersenyum sembari meninggalkan adiknya yang berdiri di ambang pintu menyambut kedatangan sang kakak.

"Mbak. Gimana kabarnya?" tanya Eva pada Riska. Kakak iparnya.

"Baik, Va."

Pandangan Eva pada kakak ipar sedikit aneh. Ia menaikkan sedikit bibirnya karena memandang Riska yang datang ke rumah mertua hanya memakai sendal jepit berlapis kaus kaki.

"Mbak gak malu ke sini cuma pakai sendal jepit?" Sontak pertanyaan Eva membuat semua orang yang ada di ruang tamu memandang ke arah kaki Riska. Ibu Gunawan, Ayahnya, dan suami Eva sangat terkejut. Sang ibu mertua bahkan sampai menggelengkan kepala melihat penampilan Riska.

Eva beranjak masuk setelah menyapa kedua keponakannya.

"Mas katanya di Jakarta punya usaha, tapi kok mobilnya jelek gitu? Kayaknya bisa jalan aja sukur." Mobil taft tahun 90'an masih diamatinya. Rasa jijik tampak pada wajah Eva.

"Mas suka sama mobil itu, Va. Udah lama jadi inceran mas."

"Gun. Apa kamu gak kasihan sama anak-anak? Beli mobil kok gak ada AC-nya. Katanya istri kamu juga kerja, mana hasilnya? Pulang kampung bawa mobil bobrok gitu." Sang ibu menimpali.

"Coba lihat adikmu. Baru tiga tahun nikah, mobilnya bagus, rumahnya mewah. La kamu, mobil aja butut gitu. Coba ibu lihat foto rumah yang katanya baru kamu beli kaya gimana? Pasti cuma lantai satu, ya?"

Riska dan Gunawan diam mendengarkan sang ibu berbicara.

"Sudahlah, Bu. Toh, Gunawan sama Riska sehat. Cucu-cucu kita juga sehat. Mau rumah mereka besar atau enggak, ya emangnya kenapa?"

"Pak, lihat Riana sama Gilang. Bajunya kumel gitu. Mana apek. Lagian beli mobil gak ada AC-nya kasian lho Pak, anak-anak kegerahan."

"Gak apek, Bu. Jangan ngada-ngada. Orang bapak udah cium mereka, kok. Pada wangi-wangi."

"Ah, Bapak ini. Mampet, ya, hidungnya."

Riska beranjak setelah berpamitan ke kamar. Ia berniat membereskan baju dan beristirahat.

"Kamu mau ke mana? Orang tua lagi ngomong itu jangan minggat."

"Bu. Riska itu mau istirahat. Kasian perjalanan jauh."

"Gunawan juga mau istirahat, Bu. Capek nyetir seharian."

"Makanya, beli mobil bagus yang gak bikin capek kalo lama-lama nyetir, Mas."

Gunawan, Riska, dan kedua anak mereka masuk ke kamar.

Sedari mereka menikah, cacian sudah biasa diterima oleh Gunawan dan Riska. Terlebih oleh sang ibu. Gunawan yang hanya lulusan STM menjadi bahan olok-olok keluarga ibunya. Sedari muda, ia merantau di kota Metropolitan dan membiayai sekolah adiknya, Eva. Tak hanya itu, ia juga mengajari adik sepupunya bernama Sundari untuk bekerja.

Eva berhasil lulus sarjana karena bantuan kakaknya hingga ia bisa mencari pekerjaan di sebuah bank swasta. Posisi yang cukup bagus di bank itu hingga bisa mengangkat derajat kedua orang tua. Sedangkan Sundari, yang hanya bisa lulus di bangku SMA, kini memiliki usaha cake sendiri di rumah.

Gunawan yang keluar dari rumah ketika berumur enam belas tahun, mencoba keberuntungan di kota. Berpindah-pindah kota sering dilakukannya. Hingga pernah terusir dari kos-kosan karena terlambat membayar. Hingga suatu ketika ia bertemu dengan Riska dan bekerja padanya.

Riska, anak pengusaha kaya yang jatuh hati pada seorang bawahan ayahnya. Riska terdidik sebagai pribadi yang mandiri, sopan, sederhana, baik, dan tidak suka bermewah-mewah. Sedari kecil, didikan ayahnya tak mengijinkan ia diantar memakai mobil ke sekolah. Membeli alat tulis mewah dan bermanja-manja dengan asisten rumah tangga.

Wanita dua puluh delapan tahun itu terbiasa melakukan pekerjaan rumah meski ia memiliki rumah tiga lantai. Berteman dengan siapa saja tanpa terkecuali anak-anak asisten rumah tangga ayahnya.

Kesederhanaan Riska bahkan sempat menjadi bahan olok-olok teman-temannya di sekolah. Sebagai orang mampu, ia masuk di SMA favorit yang cukup terkenal di Jakarta.

"Lo gak tahu ini sekolah elit? Lo pasti anak babu yang disekolahin ama majikan, ya?" ejek Dinda. Gadis cantik nan modis dengan dandanan tak wajar sebagai siswi sekolah.

"Kenapa? Ini tas sama sepatu juga gue beli pakai duet gue sendiri. Walaupun murah, seenggaknya gue gak ngemis sama orang tua."

"Dasar anak babu! Awas aja, ya, lo ketemu lagi ama gue."

"Yuk, gaes. Gue gak tahan di sini lama-lama. Entar ketularan miskin lagi." Dinda dan teman-temannya meninggalkan koridor sekolah.

Siang itu, ketika sepulang sekolah, Dinda dan teman-temannya yang berada tepat di belakang Riska berjalan dan hampir menempel pada gadis sederhana itu.

Salah satu teman Dinda, menanyakan tugas yang diberikan guru pada saat jam pelajaran hampir usai. Beberapa menit ia mengajaknya mengobrol. Tanpa disadari, Dinda dengan teman yang lain, mengiris tas Riska dengan cutter. Tak berselang lama, beberapa barang berjatuhan dari sana.

"Hah, apaan tuh?" teriak Dinda seketika. Ia berpura-pura terkejut dan segera menyembunyikan benda tajam itu dibalik sakunya.

Riska segera berbalik badan dan ikut terkejut. Alat tulis, juga beberapa benda lain miliknya jatuh berantakan. Dilihatnya, tas yang ia pakai sudah sobek.

"Eh, anak babu. Tas udah sobek masih aja dipakai. Bener-bener gak punya duit, ya? Ahahahaha." Dinda dan teman-teman lainnya menertawakan Riska yang tampak kesal. Murid yang lain hanya melihat ke arah Riska. Tanpa menjawab, gadis itu segera berlari keluar sekolah. Ia tak menangis, hanya saja teramat kesal. Tas yang baru ia beli saat berganti semester, kini sudah rusak. Ia tahu, Dinda sengaja merobek tasnya karena Riska ingat betul tas itu semula baik-baik saja.

Baru sampai di rumah dan belum berganti seragam, Riska mendengar papanya berbicara ditelepon. Nada yang cukup mengkhawatirkan sehingga membuat Riska berlari menghampiri sang papa.

"Kenapa, Pa?"

"Sopir operational kantor kecelakaan, Sayang. Sekarang lagi ada di rumah sakit."

"Sopir operational? Pak Mukti, Pa?" tanya Riska.

"Iya. Pak Mukti."

"Kasian, Pa. Dia dulu pernah nolongin Riska pas mau jatuh dari tangga."

"Kamu masih ingat, Riska?"

"Iya. Riska ikut, ya, Pa."

Selain baik, rasa empati Riska juga tinggi. Terlebih kepada orang yang selama ini setia bekerja pada sang papa. Saat Riska kecil, ia hafal betul dengan sosok Pak Mukti. Lelaki paruh baya yang rendah hati dan murah senyum juga giat bekerja.

Sesampainya Riska di rumah sakit, ia terkejut. Ada gadis seumuran dirinya menangis di depan ruang rawat Pak Mukti.

"Dinda?" Gadis itu menoleh.

"Riska?"

"Apa lo anak Pak Mukti?" tanya Riska.

Dinda mengangguk disertai isakan tangis.

"Jadi, lo anak Pak Suryo?" tanya Dinda setelah melihat Riska datang dengan sang papa.

"Iya."

Dinda beranjak dan memeluk Riska dengan erat. Dipelukan gadis yang selama ini ia hina, ia menangis kencang.

"Maafin gue, Ris. Gue udah hina lo. Gue udah keterlaluan sama lo. Gue gak tahu kalo lo anak Pak Suryo."

"Jadi lo takut sama Papa gue?"

"Iya, Ris. Jangan pecat Papa gue, ya. Gue janji, apa yang lo minta gue turutin. Asal jangan pecat Papa gue."

"Din. Semua manusia itu sama. Lo gak boleh beda-bedain anak siapa dia, kaya atau enggak. Harta itu cuma hiasan aja. Semua manusia lahir gak bawa apa-apa. Jadi, gue minta sama lo, hargai manusia entah siapa pun dia. Gue gak sakit hati, Din, lo ejek. Gue mau lo hargai gue apa adanya gue, sebagai diri gue, bukan anak dari Suryo Utomo. Ngerti."

Dinda mengangguk pelan. Ternyata, gadis yang selama ini ia hina dan sempat ia kerjai itu adalah anak dari bos tempat ayahnya bekerja.

Semenjak saat itu, berita begitu cepat tersebar. Semua murid di sekolah begitu menghargai dan menghormati Riska. Mereka kini tak mempermasalahkan kesederhanaannya meski pulang pergi, ia masih menaiki angkot atau bajaj.

Kejadian itu masih ia ingat hingga kini. Dinda pun bekerja di kantor Riska. Kantor yang ia dirikan dari nol tanpa bantuan nama besar papanya.

"Kenapa kamu gak ijinin Ayah bawa Alpart, Bun? Seenggaknya, Eva gak akan ejek kita seperti ini."

Riska tersenyum dan berkata, "Buat apa, Yah. Pamer? Apa harta itu untuk dipamerkan? Toh, dari dulu Ibu sama Eva juga udah ejek kita dari awal kita mulai usaha."

"Kamu gak sakit hati, Bun? Tiap kita ke sini, lho mereka begitu?"

"Sama sekali gak, Yah. Aku ingin mereka itu hargai kita dengan apa adanya, bukan karena harta."

"Sulit, Bun. Ibu memang seperti itu dari dulu."

"Bunda gak masalah, Yah. Dari dulu, sejak bunda masih sekolah juga sering diejek cuma karena pake tas jelek, sepatu jelek."

"Ayah bangga punya istri seperti Bunda."

*****

Tak berapa lama Gunawan dan keluarga beristirahat di kamar, Eva tiba-tiba masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu.

"Mas. Bisa pindahin mobilnya gak? Mobil aku mau lewat. Takut kegores, soalnya baru beli seminggu yang lalu."

Gunawan pun beranjak tanpa menjawab adiknya.

"Eh, Mas. Mobil Mas udah lunas belum? Gak mungkin dong mobil butut belum lunas. Mobil aku yang bagus aja udah lunas."

Gunawan menarik napas dan melihat ke arah Eva. Ia masih berusaha menahan emosi terhadap sang adik. Andai bukan mulut adiknya yang berbicara, mungkin emosi Gunawan sudah meluap sejak pertama ia datang.

Bersambung......

Bab 2

Senja datang mengganti siang. Angin sepoi diiringi warna jingga langit menyuguhkan suasana asri khas pedesaan. Satu, dua kendaraan berlalu-lalang memecah kesunyian.

Kedua anak Gunawan tampak asik sendiri bermain di halaman ditemani sang kakek. Sesekali mereka mengajak kakeknya bermain bersama atau mengobrol saja. Tiba-tiba nenek datang dari dalam rumah.

"Riana, Gilang. Ayo, mandi terus ikut nenek."

"Kemana, Nek?"

"Ke rumah Mas Fajri."

Keduanya lantas beranjak dan masuk ke dalam rumah.

"Bunda, kita mau diajak Nenek ke rumah Mas Fajri. Bunda ikut gak?" tanya Gilang.

"Ikut, Nak. Gilang sama Ria berangkat dulu, ya. Nanti bunda sama Ayah nyusul."

"Horee."

Gilang dan Riana mandi bergantian. Setelah memakaikan baju Gilang, kini ia harus mendandani anak gadisnya. Riska sengaja memakaikan baju yang cukup bermerek. Hal ini ia lakukan untuk berjaga-jaga bila ada yang mengungkit penampilan anak-anaknya.

"Bunda, kita berangkat dulu, ya. Assalamualaikum." Kedua anak manis itu takzim kepada sang Bunda.

"Lho, Ris. Ini anak-anak udah pada mandi?" Ibu mertua muncul dari arah dapur.

"Iya, Bu. Anak-anak udah mandi."

"Kok, bajunya hampir sama kaya yang tadi?"

"Iya, Bu. Sama warnanya, tapi mereka ganti, kok, Bu."

"Ya, ampun, Riska. Pilihin baju buat anak itu yang bagusan dikit kenapa. Warnanya kok gelap gitu. Kalau milih baju itu yang terang dong, yang cerah biar kelihatan seger gitu wajahnya. Mana baju kumel gini. Pasti murahan, ya, ini?"

Riska hendak menjawab, tapi sudah didahului anak laki-lakinya.

"Enggak, Nek. Ini mahal. Belinya aja di Matahar*. Baju Gilang sama Riana itu belinya di mall semua, Nek. Gak ada yang belinya di pasar. Apalagi baju lebaran kemaren, pesennya di butik, lho, Nek." Ibu mertua Riska hanya melirik kesal sambil berlalu begitu saja tanpa berkata apa-apa.

"Gilang, jangan pamer gitu sama Nenek. Gak baik, Nak."

"Abis Bunda diejek terus sama Nenek. Gilang gak suka Bunda."

Riska menghela napas. Sebenarnya apa yang dilakukan sang anak, tidaklah salah. Memang sesekali, nenek Gilang perlulah dibalas agar tidak berbicara semaunya sendiri.

"Ya, udah berangkat sana. Inget, ya. Jangan buat Nenek marah."

"Siap Bunda."

Tiba-tiba Riska teringat masa di mana pertama kali ia menginjakkan kaki di rumah ini. Waktu itu, ia sengaja dibawa Gunawan untuk berkenalan dengan kedua orang tua Gunawan. Hal pertama kali yang ditanya Ibu mertuanya adalah harta. Padahal, waktu itu keuangan perusahaan sang papa sedang sulit karena rupiah anjlok. Anjloknya nilai tukar berimbas hampir ke semua bidang termasuk perusahaan properti sang papa.

Cobaan datang ketika sang mama harus mengalami sakit kanker otak. Uang yang digelontorkan untuk berobat tidaklah sedikit. Bukan lagi rumah sakit lokal, namun juga internasional sudah dijajaki demi mencari kesembuhan.

Saat Riska dan Gunawan memantapkan hati maju ke jenjang pernikahan, keuangan sang papa benar-benar diuji. Rumah megah tiga lantai harus tergadai demi menutupi biaya pengobatan sang mama. Ucapan dan hinaan mulai terlontar oleh ibu Gunawan saat ia mendatangi rumah Riska.

"Ngakunya kaya, mana? Rumah cuma satu lantai. Mana yang katanya sampai lantai tiga. Mobil di garasi berjejer-jejer. Mobil cuma satu, butut pula. Ih, dasar penipu," umpatnya.

"Bu. Jangan begitu. Mama Riska itu lagi sakit. Biayanya gak murah, Bu. Rumah dia sementara dijual. Juga semua mobil."

"Oh, jadi calon besan ibu itu bangkrut?"

"Bu. Pak Suryo itu gak bangkrut. Di tengah kesusahan, beliau bahkan gak mau ambil uang perusahaan sedikit pun karena mikirin karyawan. Beliau mengalah menjual rumah dan aset-asetnya sendiri. Nyaris gak ada manusia seperti Pak Suryo, Bu."

"Alah, alesan. Bilang aja bangkrut. Awas, ya. Kalau pas kamu nikah nanti ada apa-apa. Ibu gak mau ikut campur."

Riska yang tak sengaja mendengar pembicaraan Gunawan dan ibunya menangis tersedu di pojok kamar. Ia tak menyangka, calon mertuanya begitu kasar kepada keluarganya. Ia bahkan sempat ragu akan melanjutkan hubungannya atau tidak.

"Aku gak nyangka ibu kamu bisa sepicik itu, Mas. Gak ada sama sekali rasa empati lihat mamaku sakit."

"Maafin ibu aku, ya. Aku juga gak nyangka dia bakal bicara begitu. Mas janji, kita akan tinggal di sini supaya kamu gak keganggu sama omongannya."

"Aku jadi ragu sama kamu, Mas."

"Ris. Kamu ngomong apa? Mas ini beda dengan ibu, Mas. Kenapa kamu jadi ragu sama Mas?"

"Gak tahu, Mas. Rasanya, gak dihargai sedikit pun sama ibu kamu itu bener--bener sakit."

Sayangnya, Pak Suryo dan istri sudah terlanjur suka dengan Gunawan meski calon menantunya itu hanya karyawan biasa dan seorang perantau pula. Mereka benar-benar menghargai kerja keras Gunawan di kantor.

Riska tak enak hati kepada orang tuanya. Ingin diceritakan ocehan ibu Gunawan, tapi rasanya tak sampai hati apalagi ketika melihat sang mama terbaring lemas di rumah sakit.

"Cobaan menjelang pernikahan itu memang banyak, Nak. Kamu harus kuat dan harus yakin. Papa lihat, Gunawan itu orangnya baik, penyayang, perhatian. Buktinya, dia juga mau biayai adiknya sekolah. Dia juga mau berhemat untuk diri sendiri supaya bisa mencukupi kebutuhan adiknya."

Papa Riska tahu segalanya tentang Gunawan meski sang adik sekolah di luar kota.

Naas, tepat sehari sebelum acara pernikahan, mama Riska meninggal dunia. Semua acara yang sudah diatur sejak jauh-jauh hari berantakan. Ibu Gunawan marah besar karena acara pernikahan terancam gagal.

"Apa ibu bilang, Gun. Sekarang keluarga Riska seenaknya mau batalin pernikahan kamu. Enak aja, ya. Ibu udah keluar modal banyak. Bolak-balik ke Jakarta, beli ini beli itu, sampai ikut nyumbang buat acara nikahan di sana, sekarang mereka main batalin gitu aja. Ibu gak terima."

"Bu. Mama Riska baru meninggal. Gak mungkin acara dilanjutin, Bu. Apa kata orang?"

"Terserah, Gun. Kalau kamu gak mau lanjutin sekarang, suatu saat ibu gak akan terima Riska sebagai mantu ibu. Satu lagi, kembalikan semua uang ibu."

"Ibu! Ibu ini kenapa? Itu uang bapak. Bapak jual sawah warisan dari kakeknya Gun. Bapak memang sengaja siapkan sawah itu untuk anak-anak. Kenapa Ibu bilang gitu? Kita itu harus mengerti kesusahan keluarga Riska, Bu. Istighfar. Mereka lagi berduka."

"Alah, Bapak ini sama aja."

Dengan terpaksa, pernikahan dilakukan di kediaman Gunawan dengan Papa Riska sebagai wali dari sang anak perempuan. Sejak kejadian ini, pak Suryo cukup mengerti sifat keluarga Gunawan. Sedikit banyak ia mulai paham bahwa sang besan tak ingin acara digagalkan begitu saja meski harus mundur beberapa hari.

Keluarga besar Suryo juga sengaja tak diberitahu. Hal ini bertujuan untuk menjaga nama baik sang besan yang tak ingin pernikahan mundur lebih lama lagi.

*****

Gunawan dan Riska baru datang ke kediaman bibi Maryam. Adik kandung ibu Gunawan. Di sana banyak sanak saudara yang baru datang karena lusa anak pertamanya akan menikah. Gilang dan Riana tampak bermain dengan sanak saudara lainnya.

"Assalamualaikum, sehat, Bi." Riska mengucap salam saat kakinya menginjak di rumah berwarna hijau tersebut. Ia langsung meraih tangan bibi Maryam dan memeluknya serta mencium kedua pipi sang bibi.

"Waalaikumsalam. Sini, Ris. Sini-sini masuk."

Riska masuk dan duduk bergabung dengan ibu mertua dan keponakan lain, juga dengan adik mertuanya yang lain. Setelah selesai menyalami semua orang di sana, Riska pun ikut berbaur. Tangannya cekatan mengambil daun pisang untuk ikut membungkus lemper.

"Pi, itu gelang kamu berapa gram? Lumayan gede, baru, ya?" tanya ibu Gunawan.

"Iya, Mbak Sur. Ini baru beli pas bapaknya Niko pulang dari Lampung. Ini sepuluh gram, emas dua empat, Mbak."

"Walah, emas dua empat, toh. Malah itu."

"Iya, Mbak. Lumayan sih kalo belinya di sini."

"Eh, Ris katanya punya usaha, ya, di Jakarta? Usaha apa?" tanya Elvi.

"Iya, Bi. Ada usaha properti."

"Wahh, lumayan itu. Banyak duit, dong kamu."

"Alah, banyak duit opo. Mobil aja butut kok, Pi. Mana, tangan sama jarinya gak ada pake emas. Jangankan dia, anak gadisnya aja gak dipakein apa-apa," sahut ibu mertua.

"Lho, Mbak. Usaha properti itu bagus lho. Artis-artis banyak yang punya usaha itu. Pada banyak duit."

"Wong pulang kampung aja gak bawa apa-apa kok banyak duit. Beda Pi sama si Eva, tiap ke rumah pasti bawa pizza, martabak, sate, buah. Macem-macem yang dibawa." Ibu mertua Rika melirik menantunya. Rasa benci tergambar jelas di kedua manik matanya.

Semua orang di sana diam dan tak menyahut. Elvi yang setengah membela Riska ikut diam karena takut salah bicara. Di tengah kesunyian, Yuni, anak dari bibi Maryam datang.

"Mbak Riska, apa kabar?" Riska tampak sedikit sumringah. Ia berjabat tangan dengan adik sepupu dan mencium kedua pipinya.

"Ayo, Mbak ke kamar aku sebentar."

Riska sedikit merasa lega. Rasa kesalnya berkurang sedikit karena memiliki alasan untuk pergi dari sana. Diliriknya ibu mertua yang tampak cuek saja. Bersikap sabar selalu ia lakukan meski ia sudah membelikan gamis beserta hijab terkini untuk hadiah kepada sang ibu mertua, nyatanya sama sekali tak terlihat di mata ibu Gunawan.

Makanan dan camilan juga tak lupa menjadi barang bawaan saat pulang kampung. Sayang, makanan yang ia bawa habis dimakan Eva beserta sang suami saat Riska baru saja tiba. Belum lagi amplop uang yang sengaja Riska siapkan untuk ibu mertuanya itu. Riska sebagai menantu hanya bisa berulang kali menghela napas karena memiliki mertua seperti ibu Gunawan.

"Lihat aja bajunya. Sama sekali gak bermerek." Ibu mertua masih saja mencaci saat Riska beranjak. Entah harus bersabar bagaimana lagi menghadapi ibu mertuanya itu.

Bersambung.......

Bab 3

"Maaf, ya, Mbak. Waktu Mbak nikah aku gak datang. Kata ibu, nikahan Mbak termasuk dadakan, ya?" tanya Yuni.

"Gak papa, Yun. Hem, dadakan sih enggak. Cuma kurang persiapan aja." Riska tersenyum pasi meski hatinya menahan perih bila mengingat kejadian masa itu. Terlebih soal ibu mertua yang sama sekali tak menghargainya.

"Mbak katanya punya usaha di Jakarta, boleh dong nanti suami aku ikut sama Mbak. Siapa tahu bisa berhasil kaya Mbak."

"Insya allah, boleh, Yun, tapi harus sabar. Ya, namanya kerja itu kan, butuh usaha."

"Sebenernya, aku pengen banget cerita banyak sama Mbak. Kalo Mbak ada waktu."

"Cerita apa, Yun? Kayaknya penting."

Yuni mendekat kepada Riska. Diliriknya susana sekitar. Saat ia mendapati pintu terbuka, buru-buru ia tutup dan kembali duduk di tempat semula.

"Sebenernya, Mas Imran itu bukan orang kaya, Mbak."

"Imran calon suami kamu?"

"Iya. Orang tuanya di kampung cuma petani biasa. Sedangkan dia di sini, cuma pegawai toko swalayan."

"Terus masalahnya di mana?"

Yuni memegang tangan Riska. Matanya mulai berkaca-kaca dengan bulir bening yang akan tumpah.

"Ibu gak setuju, Mbak kalo aku nikah sama orang yang biasa-biasa aja."

Riska menghela napas. Ia tak menyangka keluarga besar ibu mertuanya itu memang sama-sama hanya memikirkan harta duniawi saja. Dihadapan Riska, Yuni menangis tersedu menceritakan hal ini.

"Aku sama Mas Imran berbohong, Mbak. Aku bilang sama ibu kalau Mas Imran anak yatim piatu dan pemilik swalayan di mana dia bekerja." Bahu Yuni naik turun sembari tangannya menyeka air mata yang berjatuhan.

Riska bingung hendak berkata apa. Dalam diam, ia mengelus bahu adik sepupu iparnya itu. Kasihan betul, karena gadis yang akan melepas masa lajangnya ini harus berbohong hanya karena ambisi sang ibu.

"Kamu tau, kan apa yang kamu lakuin ini salah, Yun?"

"Tau, Mbak. Terus Yuni sekarang harus gimana?"

Riska kembali diam. Kedatangannya ke sini justru harus membuatnya ikut campur dalam masalah Yuni. Di sisi lain dia merasa kasihan, namun di sini lainnya ia juga tak membenarkan kelakuan yang diperbuat Yuni.

"Aku sangat cinta dengan Mas Imran, Mbak. Biaya skripsi aku bahkan sebagian besar dia yang biayai. Walaupun kami masih pacaran, uang gaji sebagian besar dia kasih ke aku. Katanya supaya aku bisa lulus dan jadi sarjana dan gak seperti dia yang cuma lulusan SMA."

"Oke, mbak akan bantu kamu. Kamu mau mbak gimana?"

Beberapa saat kemudian, Yuni bertanya-tanya kepada Riska. Ia ingin meminjam mobil Riska. Tadinya ia hanya ingin meminjam mobil yang Riska pakai pulang kampung, tapi Riska menawarinya mobil lain yang ia miliki.

Bukan hanya itu, Yuni juga meminjam sejumlah uang untuk membeli mas kawin. Dengan senang hati Riska menyetujuinya. Bukan bermaksud membela kebohongan adik sepupunya, hal ini ia lakukan demi cinta kedua anak muda ini. Melihat Yuni begitu sedih meratapi nasibnya, Riska takut apabila Yuni tak berjodoh dengan Imran, mereka bisa berbuat nekat.

"Mbak akan turutin semua mau kamu, Yun. Asalkan pernikahan kamu lancar, tapi, mbak ada satu syarat."

"Apa, Mbak?"

"Setelah kalian resmi menikah, tolong ceritakan yang sejujurnya sama ibu kamu. Kamu gak mau kan, selamanya berbohong?"

Yuni menunduk. "Iya, Mbak. Insya allah, Yuni akan cerita nanti. Gak mau Mbak kalau Yuni berbohong terus. Yuni juga takut dosa."

"Oke. Mbak harap kamu tepati janji."

Yuni memeluk kakak sepupunya dengan rasa lega luar biasa. Ia akhirnya mendapatkan jalan keluar atas masalahnya. Lewat Riska Yuni bisa mempertahankan Imran. Lelaki bertanggung jawab yang ia cintai.

*****

"Enak bener di kamar ngobrol. Aku aja udah bau asep," ucap Eva yang memergoki Riska keluar dari kamar Yuni.

"Gak sayang ama bajunya kok dibau-bauin asep? Mahal kan, itu pasti." Riska tersenyum melihat eskpresi Eva. Ia setengah terkejut dan merasa kesal.

"Gaklah. Baju aku emang mahal semua sih, kalo rusak, tinggal buang aja terus beli lagi."

"Iyalah. Kan, uangnya banyak."

Eva semakin kesal karena Riska menjawab apa yang ia katakan.

"Iya, dong. Ini tuh belinya di butik. Mahal, mana mampu Mbak Riska beli yang kaya gini. Paling juga baju Mbak itu beli di tana* abank, ya, yang grosiran itu?"

"Tau aja kamu. Abis mbak suka beli di sana. Tawar menawar itu asik buat mbak." Riska tersenyum. Eva tak tau gamis yang dipakai Riska cukup bermerek dan hanya dibuat satu warna dengan satu ukuran. Hanya saja ia sengaja merendah di depan adik iparnya yang bermulut bak silet itu.

"Iyalah. Beda sama aku. Gak suka sih belanja di pasar. Gerah."

"Eh, Eva. Gimana kabarnya?" tanya Yuni yang keluar dari kamar karena tidak sengaja mendengar obrolan Riska dan Eva.

"Baik, kok. Kamu sendiri gimana? Eh, selamat, ya bentar lagi jadi istri orang."

"Iya, makasih. Eh, ngomong-ngomong baju kamu samaan lho sama baju ibu aku cuma beda warna aja. Belinya di pasar tana* abank kan?"

Eva terkejut mendengar perkataan Yuni. Wajahnya memerah seketika dengan bola mata yang berpindah ke sana ke mari.

"E-ehm. Masa sih? I-ni buatan butik, kok. Ah, m-mungkin banyak yang jiplak aja." Ia tampak salah tingkah dengan sesekali tersenyum, namun dengan terpaksa.

"Eh, aku lupa tadi dipanggil sama ibu. Aku ke dapur dulu, ya, Yun."

Dengan cepat, Eva berjalan ke arah dapur. Riska dan Yuni terheran-heran melihat tingkah Eva. Sampai batang hidung Eva tak nampak, keduanya tertawa keras sambil memandang satu sama lain.

"Hahahahahahaha."

Riska segera menutup mulut dengan telapak tangannya setelah ia tertawa.

"Kamu nguping, ya?" tanya Riska.

"Gak nguping, Mbak. Cuma gak sengaja denger aja. Abis dia kan, ngomongnya keras. Mbak juga kalau ada di dalem pasti kedengeran."

"Ada-ada aja kamu ini. Eh, emang bener baju bi Mar samaan sama punya Eva?"

"Sama Mbak. Persis banget modelnya juga. Cuma beda warna aja. Lagian ngapain juga aku bohong."

Riska menggelengkan kepalanya.

"Eh, Mbak emang si Eva itu gitu, ya? Kalo ngomong suka gak dipikir. Seenaknya aja bilang baju Mbak beli di pasar. Aku lihat baju Mbak ini mahal kok, kayaknya. Iya, kan?"

"Ah, enggak kok, Yun. Biasa aja. Standar. Sama kok beli di pasar juga."

"Gak mungkin Mbak. Aku kenal kok bahan sama model gamis yang Mbak pake ini. Paling adanya juga di mall, ya, kan?" tebak Eva.

"Udah, jangan bahas baju mbak. Gak enak nanti kalo Eva denger."

Tak lama berselang, Eva kembali muncul dengan baju yang berbeda. Bibirnya tampak tertekuk ke bawah dengan memandang Riska.

"Lho, Va kok ganti baju?" tanya Yuni.

"Ini, baju yang tadi kena minyak. Karna aku bawa ganti, ya, udah aku ganti aja. Gak enak pake baju kotor."

Riska dan Eva tambak membulatkan bibir sambil mengangguk bersama.

"Aku ke sana dulu, ya. Disuruh bawa kopi ini ke depan."

"Iya, Va"

Dengan percaya diri Eva berjalan melewati Riska dan Eva hingga tak sadar kakinya menginjak plastik putih lalu jatuh tersungkur. Beberapa cangkir kopi yang ia bawa tumpah mengenai tubuhnya.

"Aaaaa, bajuku kena kopi. Huaa, ini kan baju mahal!" teriak Eva. Ia bahkan menangis sambil meratapi bajunya yang mahal.

Bersambung.....

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED