Nada bicara David memerintah, seolah-olah Kayla telah melakukan pencurian.
"Kamu ada di mana? Aku sudah berjanji pada Vanessa untuk membiarkannya mengenakan kalung itu di pelelangan. Kembalikan sekarang juga!"
Sambil menyerahkan undangannya pada manajer acara di ambang pintu, Kayla menjawab, "Kalung ini adalah mas kawinku dari Keluarga Herdian. Sejak kapan orang lain boleh mengatur siapa yang memakainya? Apa Keluarga Wilarso sebegitu rendahnya sehingga mereka harus bergantung pada mas kawin istri?"
David tercengang.
Dia belum pernah mendengar Kayla, yang biasanya tunduk padanya, menjawab dengan nada menantang.
Dengan suara tegas, dia berkata, "Kayla, aku katakan padamu untuk terakhir kalinya. Kembalikan kalung itu sekarang juga atau aku kehilangan kesabaranku dan kamu akan menyesal!"
Dulu, ketika David menegur dengan nada dingin seperti itu, ini artinya pria itu sudah benar-benar kehabisan kesabaran.
Biasanya, David akan memblokir nomornya dan mengabaikannya setidaknya selama sebulan. Tidak peduli seberapa keras Kayla memohon padanya, dia tidak pernah bisa menggugah hati pria hati untuk tersenyum padanya.
Saat memikirkan kehidupan sebelumnya, di mana dia merendahkan diri seperti anjing hanya untuk mendapatkan sedikit perhatian dari David, Kayla tidak merasakan apa pun selain rasa jijik.
"Aku juga akan mengatakan ini untuk terakhir kalinya. Menggunakan mas kawin istrimu untuk mengesankan wanita lain, David, apa kamu seorang CEO atau hanya seorang gigolo?" Kemudian, dia mendengus dingin dan melanjutkan, "Jika kamu ingin marah, silakan. Aku tidak peduli."
Dengan itu, dia menutup panggilan telepon dan meninggalkan David yang marah di telepon.
David selalu menjadi orang yang menutup panggilan telepon terlebih dahulu, bukan dia.
Berdiri di samping David, Vanessa berkata dengan ragu, "Kak David, apa Kak Kayla kesal karena kamu ingin mengajakku ke acara lelang sehingga dia tidak mau meminjamkan kalung itu padaku?"
Pernyataan ini hanya menambah amarah David yang sudah membara.
Dia mendengus dan berkata, "Hmph, dia hanya sedang memainkan trik supaya aku memperhatikannya. Kami baru menikah selama setahun dan sekarang dia sudah menjadi wanita yang pencemburu dan sangat manipulatif!"
Melihat penolakan tegas Kayla untuk menyerahkan kalung itu, Vanessa merasa khawatir dan kesal, tetapi dia memasang ekspresi sedih.
"Lupakan saja, lebih baik aku tidak menghadiri acara lelang itu. Kalau Kak Kayla sekesal itu hanya karena kalung saja, bayangkan bagaimana reaksinya kalau kamu mengajakku sebagai pendampingmu!"
"Jika dia ingin menggila, biarkan saja. Bagaimanapun juga, yang malu adalah Keluarga Herdian, bukan kita," ucap David dengan marah.
Setelah melampiaskan kekesalannya, dia mengacak-acak rambut Vanessa dengan lembut sambil bergumam, "Jangan khawatir, kamu akan mengenakan kalung zamrud itu dan menjadi bintang di acara lelang tersebut."
Dengan mata berbinar, Vanessa memeluk David dan berseru, "Kamu memang yang terbaik, Kak David!"
Saat Kayla memasuki tempat lelang, seorang manajer profesional menghampirinya dan bertanya, "Nyonya Kayla, bolehkah saya bertanya barang apa yang akan Anda sumbangkan di acara lelang?"
Kayla tertegun sejenak sebelum menjawab, "Aku ingin menyumbang atas namaku sendiri, bukan atas nama Keluarga Wilarso. Apa ini memungkinkan?"
Sang manajer terkejut sejenak, tetapi dia buru-buru menjawab, "Tentu saja! Kami menghormati keinginan individu semua donatur."
Kayla mengangguk dan menyentuh kalung zamrud yang tergantung di lehernya dengan lembut dan berkata, "Aku ingin menyumbangkan kalung ini."
Sang manajer semakin tercengang. Sebagai seorang profesional di industri lelang, dia menyadari betapa besar nilai kalung tersebut.
"Nyonya Kayla, meskipun kami sangat berterima kasih atas kemurahan hati Anda, tapi yang perlu Anda ketahui, lelang ini merupakan lelang amal yang bertujuan untuk mempererat hubungan antar keluarga, termasuk Keluarga Harahap, bukan berfungsi sebagai balai lelang profesional. Kalung ini dibuat dari bahan yang langka dan dibuat oleh pengrajin papan atas. Mengingat nilai sejarahnya yang begitu penting, kalung ini mungkin terlalu berharga untuk acara seperti ini. Apa Anda tidak merasa sayang jika kalung itu berakhir di sini?"
Kayla tersenyum tipis. Dia tentu saja mengetahui nilai kalung itu karena kalung itu adalah hadiah berharga dari neneknya. Awalnya, dia tidak pernah berencana untuk melelangnya.
Namun dia ingat dengan jelas bagaimana Vanessa telah melelangnya tanpa seizinnya untuk menarik perhatian.
Pada saat itu, kalung itu menarik perhatian Rini Hasibuan, tuan rumah acara tersebut, yang membelinya dengan harga tertinggi, dan menjalin kerja sama dengan Keluarga Wilarso, sehingga Keluarga Wilarso melompat dari keluarga kaya biasa menjadi konglomerat papan atas.
Sebagai pemilik sebenarnya dari kalung itu, Kayla dicap orang gila oleh David ketika dia mencoba mengambilnya kembali. Pria itu menyeretnya keluar dengan paksa dan menguncinya di dalam mobil.
Setelah itu, dia tidak pernah menghadiri acara apa pun lagi.
Sekarang, alih-alih membiarkan orang lain mengambil manfaat dari mas kawinnya, dia memutuskan untuk memegang kendali.
"Karena ini untuk amal, wajar jika seseorang menunjukkan ketulusan dan keikhlasannya, di mana ini sejalan dengan niat Ibu Rini dalam menyelenggarakan acara ini," ucap Kayla dengan sopan dan murah hati, yang disambut dengan tatapan kagum dari sang manajer.
Kayla tersenyum cerah dan melanjutkan, "Tapi, aku punya satu permintaan kecil. Aku ingin secara pribadi mempersembahkan kalung ini di atas panggung, karena tidak ada yang lebih mengenal kalung ini selain aku."
Sang manajer terkejut dengan permintaan Kayla yang tidak biasa, tetapi mengingat lelang amal ini bersifat informal dan status Kayla sebagai donatur, dia menyanggupi permintaannya selama itu tidak berlebihan.
"Tentu saja, saya akan memberi tahu Anda saat giliran Anda naik panggung."
Tanpa disadari, percakapan ini didengar oleh dua orang di sebuah ruang pribadi di lantai dua. Yang satu adalah seorang pria mengenakan setelan berwarna sampanye dengan kemeja terbuka, yang memperlihatkan dadanya yang berotot sehingga tampak begitu mencolok.
"Wah, Nyonya Kayla sungguh murah hati. Dia memberikan kalung yang sangat berharga dan bahkan memberikannya sendiri. Orang yang berhasil mendapatkannya di lelang pasti akan melihatnya dalam sudut pandang baru!"
Kemudian, pria itu menoleh ke arah pria lain, yang sedang duduk di sofa dan sebagian tubuhnya tersembunyi di balik bayangan. "Mungkinkah dia tahu bahwa nenekmu selalu menginginkan kalung itu?"
Kiran Harahap, cucu Rini, menyesap anggur dan memutar-mutar anggur itu sebelum menjawab dengan suara lirih, "Bukankah dia sudah menikah? Kenapa dia datang sendirian ke sini?"
Mendapat pertanyaan ini, Faris Wagiman langsung tersenyum cerah dan mengedipkan mata pada Kiran.
Dia berkata, "Mungkin kamu belum pernah mendengarnya karena kamu baru saja pulang dari luar negeri, tapi hal ini sudah menjadi buah bibir di Jepa! David memiliki adik angkat yang sangat dia sayangi seperti sebuah permata yang berharga. Demi menikah dengan David, Kayla menyuntikkan dana investasi bagi David sehingga dia bisa menyelamatkan keuangan Keluarga Wilarso."
"Tapi, apa balasan yang didapat Kayla? Setahun kemudian, adik David masih terus menemani David di setiap acara sosial. Seluruh Keluarga Wilarso memujanya, sementara Kayla, yang merupakan putri Keluarga Herdian, diperlakukan seperti pelayan dan tidak dihargai."
Faris mendecakkan lidah dan melanjutkan, "Aku tidak habis pikir dengan David. Dari segi penampilan dan kepribadian, Kayla, yang merupakan dulunya sosialita nomor satu di Jepa karena kecantikan dan kekayaannya, jauh lebih baik daripada adik angkat David. Bagaimana bisa dia mengabaikan wanita cantik seperti itu dan malah mengagumi adik angkatnya yang tidak diketahui asal-usulnya?"
Setelah sekian lama tidak mendapat tanggapan, Faris berbalik dan mendapati pria yang duduk di sofa telah menghilang.
"Hei, Kak, tunggu aku ...."
Ketika Kayla baru saja selesai membubuhkan tanda tangan dan sedang mencari tempat untuk mengambil minuman, sebuah teriakan marah terdengar dari belakangnya. "Kayla, siapa yang mengizinkanmu datang ke acara ini sendirian tanpa seizinku?"
Ketika berbalik, Kayla melihat Vanessa, yang berdandan begitu glamor, memeluk lengan David. Wanita itu tampak begitu lembut dan polos, tetapi tidak bisa menyembunyikan kesombongan di sorot matanya.
"Kak David, jangan marah pada Kak Kayla. Mungkin dia kesal karena aku yang menjadi pendampingmu, sehingga dia datang ke sini lebih awal untuk membuat masalah. Sebaiknya aku pulang saja. Aku tidak ingin membuat Kak Kayla kesal," ucap Vanessa sambil menatap David dengan memasang raut wajah sedih.
David menatap Kayla dengan ekspresi dingin.
Kayla telah menanggalkan gaun yang tidak sesuai dengan gayanya menjadi gaun yang menonjolkan ketenangan dan keanggunannya dengan sempurna. Sosoknya yang elegan dan sikapnya yang penuh percaya diri seolah-olah membangkitkan kenangan saat dia menjadi sosialita nomor satu di Jepa, yang dingin dan penuh percaya diri.
David mencibir dan berkata, "Membiarkan seorang wanita manja dan sombong di sisiku akan merusak reputasi Keluarga Wilarso di acara seperti ini."
Kemudian, dia menepuk tangan Vanessa dengan penuh kasih sayang dan berkata dengan lembut. "Dari kamu masih kecil sampai dewasa, kamu selalu menjadi pendampingku di setiap acara, dan kamu akan menjadi satu-satunya kelak."
Kekompakan mereka membuat Kayla tampak begitu remeh di hadapan semua orang.
"Kenapa Nyonya Kayla repot-repot datang ke sini? Dia tahu suaminya lebih menyukai adik angkatnya, tapi dia terus mencoba bersaing, yang akhirnya malah mempermalukan diri sendiri," bisik para penonton.
Namun, Kayla menanggapi dengan tersenyum tenang dan berkata, "Ya, aku justru merasa lega jika Vanessa yang mendampingimu."
Semua orang tidak menyangka Kayla, yang sebelumnya begitu emosional dan keras kepala, menjadi seorang istri yang berbudi luhur dan penuh perhatian.
Vanessa tertegun sejenak dan mengira Kayla menjadi jinak setelah ditegur David. Namun, dia hanya merasa senang sampai Kayla menyelesaikan kalimatnya. "Setidaknya dia lebih baik dari pelacur."
Kilatan kemarahan melintas di mata Vanessa.
Dengan berlinang air mata, dia menegur Kayla, "Kak Kayla, aku tahu kamu sengaja mengincarku di setiap kesempatan karena Kak David selalu baik padaku. Aku tidak keberatan. Berasal dari keluarga kaya, kamu mungkin merasa berhak memandang rendah kami. Tapi ingat, Keluarga Wilarso bukanlah keluarga biasa yang bisa kamu hina begitu saja. Jika kamu punya masalah, katakan langsung padaku, bukan malah mengumbarnya ke publik."
Mendengar kata-kata itu, Kayla hanya mencibir di dalam hati.
Saat David menikahi Kayla, Keluarga Wilarso sedang mengalami kemerosotan, sehingga media menuduhnya bergantung pada kekayaan istri dan membuatnya merasa harga dirinya terinjak-injak.
Setiap kali latar belakang keluarga dibahas, dia akan merasa Kayla sedang memandang rendah dirinya, padahal sebenarnya dia sendiri yang merasa rendah diri.
Hal ini dimanfaatkan oleh Vanessa untuk memicu pertengkaran di antara mereka, yaitu dengan membuat Kayla terlihat seperti memamerkan latar belakang keluarganya, sehingga memicu amarah David terhadap Kayla.
Seperti yang diduga, David menoleh tajam ke arah Kayla dan menegur, "Kamu harus minta maaf padanya! Dulu aku pikir kamu hanyalah wanita manja, yang angkuh dan sok berkuasa. Tapi sekarang kamu menjadi begitu liar dan kasar. Apa ini cara Keluarga Herdian membesarkan putri mereka? Apa istimewanya keluargamu?"
Dia memelototi Kayla dengan kilatan peringatan di matanya dan melanjutkan, "Minta maaf pada Vanessa sekarang juga dan serahkan kalung yang kamu kenakan. Minta maaflah dengan tulus dan aku mungkin akan memaafkanmu!"
Cara bicara David terhadap Kayla terdengar begitu memerintah.
Dulu, Kayla paling takut ditegur seperti ini, sehingga dia langsung menyetujui permintaan David yang paling tidak masuk akal sekalipun, hanya agar pria itu tidak mendiamkannya selama berbulan-bulan.
Sekarang, ketika dia harus berhadapan dengan kata-kata kasar David lagi, dia sudah tahu bagaimana menanggapinya.
"Apa? Kamu menyuruhku berlutut di hadapan adik angkatmu?"