Bab 1

"Berita terkini, terjadi tabrakan dari belakang di Jalan Nasional 257. Seorang pengemudi truk mabuk menabrak taksi di depannya sampai terguling. Kondisi penumpang taksi tersebut belum diketahui, tapi para saksi mengatakan salah satu dari mereka adalah seorang wanita hamil yang hendak melahirkan."

Suara sirene, teriakan, dan deru lalu lintas memekakkan telinga.

Hiruk-pikuk suara mengguncang gendang telinga Kayla Herdian dengan rasa sakit yang menusuk dan udara menguar dengan bau anyir darah yang pekat.

Dalam keadaan hampir tidak sadarkan diri, dia berhasil meraih ponselnya dan menghubungi sebuah nomor.

Tepat saat panggilan telepon itu hendak terputus, seseorang mengangkatnya.

Suara wanita yang tidak asing menjawab, "Kak Kayla, Kak David sedang mandi dan tidak bisa menjawab panggilan telepon. Ada apa? Apa ini mendesak?"

Pada saat ini, hati Kayla hancur.

Itu adalah suara Vanessa Wilarso! Tentu saja!

Orang yang sanggup membuat David mengabaikannya, memblokir nomornya, bahkan pada hari persalinannya adalah Vanessa, adik angkat tercinta yang tumbuh bersama David Wilarso.

Dengan mata terpejam, Kayla merasakan sesuatu yang hangat mengalir keluar dari bawah tubuhnya, yang menandakan kehidupan di dalam dirinya perlahan memudar. Berusaha menahan semua rasa sakit, dia masih berjuang untuk memohon, "Tolong aku ... Jalan Nasional 257 ... selamatkan anakku ...." Darah yang terus mengucur membuat suaranya terpotong-potong.

Kecelakaan yang tiba-tiba itu telah merobohkan pagar di kedua sisi dan seketika memblokir akses ke jalan nasional sehingga tidak memungkinkan kendaraan lain memasuki lokasi kecelakaan, termasuk tim penyelamat, yang terjebak di luar.

Proses pengerahan helikopter terlalu rumit. Namun, Kayla tahu bahwa Keluarga Wilarso memiliki helikopter pribadi. Jika David dapat mengirimkan helikopter itu sesegera mungkin, masih ada harapan baginya untuk selamat.

"Maaf, Kak Kayla. Kak David sedang sibuk dengan persiapan ulang tahunku hari ini dan tidak sempat untuk mengurus urusanmu," ucap suara gadis muda itu, terdengar naif tetapi kejam.

Kemudian, sambungan telepon terputus.

Kehilangan harapan satu-satunya, tubuh Kayla lunglai seketika dan terjatuh di jalan. Bau bensin yang kuat tercium di hidungnya, yang menandakan bahwa dia harus segera melarikan diri sebelum kendaraan itu meledak.

Namun, tiba-tiba dia merasa pasrah akan nasibnya.

Di saat-saat terakhirnya, dia memikirkan tentang 25 tahun hidupnya, yang separuhnya dihabiskan untuk mencintai seorang pria yang tidak mencintainya.

Dari seorang nona manja Keluarga Herdian yang dihormati, dia telah terperosok menjadi sosok yang dibuang dan diinjak-injak.

Dia telah mempertaruhkan seluruh harta Keluarga Herdian, tetapi gagal mendapatkan sedikit pun cinta sejati David.

Dia kelelahan dan kehilangan keinginan untuk mencintai pria itu lagi.

Menyadari bahwa dalam kehidupan ini dia telah membuat keputusan yang buruk, dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak membuat kesalahan yang sama di kehidupan berikutnya.

"Nyonya Kayla, apa Anda benar-benar akan mengenakan gaun haute couture merah muda yang mencolok ini ke lelang amal malam ini? Meskipun Pak David ...." Minah, sang pelayan, berhenti sejenak sebelum berusaha membujuk dengan sopan "Sepertinya gaun pendek ini kurang sopan jika dikenakan di acara tersebut. Apa Anda tidak ingin mengenakan gaun lain?"

Begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya, dia langsung mengamati ekspresi wanita itu di depan cermin dengan cemas.

Setelah bekerja untuk Keluarga Wilarso selama bertahun-tahun, Minah mengerti betapa Kayla sangat mencintai David. Untuk menyenangkan David, Kayla berusaha menyesuaikan gaya hidupnya dengan preferensi pria itu.

Jantung Kayla berdegup kencang saat melihat pemandangan yang tidak asing di hadapannya.

Bukankah seharusnya dia sudah mati? Bukankah lelang amal ini diselenggarakan tiga tahun yang lalu? Mungkinkah dia ... telah terlahir kembali?

"Nyonya Kayla?"

Suara Minah yang mendesak menyadarkan Kayla kembali ke dunia nyata.

"Pak David akan datang menjemput Anda dalam 1 jam lagi. Anda harus segera bersiap! Bagaimana dengan gaun putih ini? Ini tampak lebih elegan ...."

Mata Kayla berbinar dan senyum tipis muncul di bibirnya.

Lelang ini diselenggarakan oleh Keluarga Harahap, keluarga tertua dan paling misterius di Jepa. Sekilas, acara ini tampak seperti acara kalangan atas, tetapi sesungguhnya, ini adalah cara bagi beberapa keluarga untuk memperkenalkan diri pada Keluarga Harahap.

Keluarga Harahap sangat menghargai keharmonisan keluarga, itulah sebabnya David perlu mengajak Kayla.

Sebelumnya, dia cemburu pada Vanessa karena menarik semua perhatian David. Untuk memikat hati David, dia meniru Vanessa dalam segala hal.

Namun, upaya kerasnya untuk menyenangkan hati David hanya membuat pria itu semakin membencinya.

Pada lelang amal ini, David bahkan telah mengambil kalung zamrudnya tanpa seizinnya untuk membuat Vanessa terkesan, sehingga wanita itu dapat memamerkannya di acara tersebut.

Ketika Kayla mencoba mengambil kembali kalung itu, David menuduhnya cemburu, menjadikannya bahan ejekan di kalangan elit.

Karena mendapat kesempatan lagi dalam hidup ini, dia bersumpah untuk mendapatkan kembali semua yang menjadi miliknya!

Merenungkan pengalaman masa lalunya, Kayla berkata dengan tenang, "Aku akan mengenakan gaun krem yang dibuat khusus. Gaun ini pasti sangat cocok dikenakan dengan kalung zamrudku."

Setelah bertahun-tahun meniru Vanessa, dia hampir kehilangan jati dirinya sebagai tuan putri kesayangan Keluarga Herdian, yang dibesarkan dengan disiplin yang ketat.

Betapa bodohnya dia sehingga bersaing dengan seorang putri angkat dari keluarga biasa.

Minah berkata dengan cemas, "Tapi biasanya Pak David kurang menyukai pakaian formal seperti itu dan kalung zamrud itu adalah hadiah mas kawin dari nenek Anda, yang bahkan tidak rela Anda pakai pada pesta pernikahan Anda. Bukankah kalung ini tampak terlalu berlebihan untuk sekadar menghadiri sebuah acara lelang?"

Kayla bangkit berdiri dan menepis kekhawatiran Minah dengan berkata, "Ambilkan gaun itu. Aku akan mengambil kalung itu. Buang semua gaun di lemari dan ganti dengan yang baru."

Minah memandang Kayla, yang sedang berjalan menuju ruang ganti, dengan takjub. Setelah merasa ragu sejenak, akhirnya dia tetap melaksanakan perintahnya.

Alih-alih menunggu David menjemputnya, Kayla mengendarai Lamborghini dari garasi sendirian dan langsung berangkat menuju acara tersebut.

Lelang amal diselenggarakan di kawasan pribadi di tepi pantai.

Di bawah matahari terbenam, Kayla tampak memukau dalam balutan gaun berwarna krem.

Gaun yang dirancang khusus tersebut memamerkan bentuk tubuhnya yang langsing. Rambutnya yang disanggul modern dan rapi dipadukan dengan riasan wajah yang elegan, berhasil meningkatkan daya tariknya.

Saat dia menyerahkan kunci mobilnya pada seorang petugas parkir, ponselnya berdering dan nama "David" berulang kali muncul di layar ponselnya.

Kayla mendengus dan tepat setelah dia menekan tombol jawab, suara marah terdengar dari ujung telepon, "Siapa yang mengizinkanmu untuk mengambil kalung zamrud itu?"

Bab 2

Nada bicara David memerintah, seolah-olah Kayla telah melakukan pencurian.

"Kamu ada di mana? Aku sudah berjanji pada Vanessa untuk membiarkannya mengenakan kalung itu di pelelangan. Kembalikan sekarang juga!"

Sambil menyerahkan undangannya pada manajer acara di ambang pintu, Kayla menjawab, "Kalung ini adalah mas kawinku dari Keluarga Herdian. Sejak kapan orang lain boleh mengatur siapa yang memakainya? Apa Keluarga Wilarso sebegitu rendahnya sehingga mereka harus bergantung pada mas kawin istri?"

David tercengang.

Dia belum pernah mendengar Kayla, yang biasanya tunduk padanya, menjawab dengan nada menantang.

Dengan suara tegas, dia berkata, "Kayla, aku katakan padamu untuk terakhir kalinya. Kembalikan kalung itu sekarang juga atau aku kehilangan kesabaranku dan kamu akan menyesal!"

Dulu, ketika David menegur dengan nada dingin seperti itu, ini artinya pria itu sudah benar-benar kehabisan kesabaran.

Biasanya, David akan memblokir nomornya dan mengabaikannya setidaknya selama sebulan. Tidak peduli seberapa keras Kayla memohon padanya, dia tidak pernah bisa menggugah hati pria hati untuk tersenyum padanya.

Saat memikirkan kehidupan sebelumnya, di mana dia merendahkan diri seperti anjing hanya untuk mendapatkan sedikit perhatian dari David, Kayla tidak merasakan apa pun selain rasa jijik.

"Aku juga akan mengatakan ini untuk terakhir kalinya. Menggunakan mas kawin istrimu untuk mengesankan wanita lain, David, apa kamu seorang CEO atau hanya seorang gigolo?" Kemudian, dia mendengus dingin dan melanjutkan, "Jika kamu ingin marah, silakan. Aku tidak peduli."

Dengan itu, dia menutup panggilan telepon dan meninggalkan David yang marah di telepon.

David selalu menjadi orang yang menutup panggilan telepon terlebih dahulu, bukan dia.

Berdiri di samping David, Vanessa berkata dengan ragu, "Kak David, apa Kak Kayla kesal karena kamu ingin mengajakku ke acara lelang sehingga dia tidak mau meminjamkan kalung itu padaku?"

Pernyataan ini hanya menambah amarah David yang sudah membara.

Dia mendengus dan berkata, "Hmph, dia hanya sedang memainkan trik supaya aku memperhatikannya. Kami baru menikah selama setahun dan sekarang dia sudah menjadi wanita yang pencemburu dan sangat manipulatif!"

Melihat penolakan tegas Kayla untuk menyerahkan kalung itu, Vanessa merasa khawatir dan kesal, tetapi dia memasang ekspresi sedih.

"Lupakan saja, lebih baik aku tidak menghadiri acara lelang itu. Kalau Kak Kayla sekesal itu hanya karena kalung saja, bayangkan bagaimana reaksinya kalau kamu mengajakku sebagai pendampingmu!"

"Jika dia ingin menggila, biarkan saja. Bagaimanapun juga, yang malu adalah Keluarga Herdian, bukan kita," ucap David dengan marah.

Setelah melampiaskan kekesalannya, dia mengacak-acak rambut Vanessa dengan lembut sambil bergumam, "Jangan khawatir, kamu akan mengenakan kalung zamrud itu dan menjadi bintang di acara lelang tersebut."

Dengan mata berbinar, Vanessa memeluk David dan berseru, "Kamu memang yang terbaik, Kak David!"

Saat Kayla memasuki tempat lelang, seorang manajer profesional menghampirinya dan bertanya, "Nyonya Kayla, bolehkah saya bertanya barang apa yang akan Anda sumbangkan di acara lelang?"

Kayla tertegun sejenak sebelum menjawab, "Aku ingin menyumbang atas namaku sendiri, bukan atas nama Keluarga Wilarso. Apa ini memungkinkan?"

Sang manajer terkejut sejenak, tetapi dia buru-buru menjawab, "Tentu saja! Kami menghormati keinginan individu semua donatur."

Kayla mengangguk dan menyentuh kalung zamrud yang tergantung di lehernya dengan lembut dan berkata, "Aku ingin menyumbangkan kalung ini."

Sang manajer semakin tercengang. Sebagai seorang profesional di industri lelang, dia menyadari betapa besar nilai kalung tersebut.

"Nyonya Kayla, meskipun kami sangat berterima kasih atas kemurahan hati Anda, tapi yang perlu Anda ketahui, lelang ini merupakan lelang amal yang bertujuan untuk mempererat hubungan antar keluarga, termasuk Keluarga Harahap, bukan berfungsi sebagai balai lelang profesional. Kalung ini dibuat dari bahan yang langka dan dibuat oleh pengrajin papan atas. Mengingat nilai sejarahnya yang begitu penting, kalung ini mungkin terlalu berharga untuk acara seperti ini. Apa Anda tidak merasa sayang jika kalung itu berakhir di sini?"

Kayla tersenyum tipis. Dia tentu saja mengetahui nilai kalung itu karena kalung itu adalah hadiah berharga dari neneknya. Awalnya, dia tidak pernah berencana untuk melelangnya.

Namun dia ingat dengan jelas bagaimana Vanessa telah melelangnya tanpa seizinnya untuk menarik perhatian.

Pada saat itu, kalung itu menarik perhatian Rini Hasibuan, tuan rumah acara tersebut, yang membelinya dengan harga tertinggi, dan menjalin kerja sama dengan Keluarga Wilarso, sehingga Keluarga Wilarso melompat dari keluarga kaya biasa menjadi konglomerat papan atas.

Sebagai pemilik sebenarnya dari kalung itu, Kayla dicap orang gila oleh David ketika dia mencoba mengambilnya kembali. Pria itu menyeretnya keluar dengan paksa dan menguncinya di dalam mobil.

Setelah itu, dia tidak pernah menghadiri acara apa pun lagi.

Sekarang, alih-alih membiarkan orang lain mengambil manfaat dari mas kawinnya, dia memutuskan untuk memegang kendali.

"Karena ini untuk amal, wajar jika seseorang menunjukkan ketulusan dan keikhlasannya, di mana ini sejalan dengan niat Ibu Rini dalam menyelenggarakan acara ini," ucap Kayla dengan sopan dan murah hati, yang disambut dengan tatapan kagum dari sang manajer.

Kayla tersenyum cerah dan melanjutkan, "Tapi, aku punya satu permintaan kecil. Aku ingin secara pribadi mempersembahkan kalung ini di atas panggung, karena tidak ada yang lebih mengenal kalung ini selain aku."

Sang manajer terkejut dengan permintaan Kayla yang tidak biasa, tetapi mengingat lelang amal ini bersifat informal dan status Kayla sebagai donatur, dia menyanggupi permintaannya selama itu tidak berlebihan.

"Tentu saja, saya akan memberi tahu Anda saat giliran Anda naik panggung."

Tanpa disadari, percakapan ini didengar oleh dua orang di sebuah ruang pribadi di lantai dua. Yang satu adalah seorang pria mengenakan setelan berwarna sampanye dengan kemeja terbuka, yang memperlihatkan dadanya yang berotot sehingga tampak begitu mencolok.

"Wah, Nyonya Kayla sungguh murah hati. Dia memberikan kalung yang sangat berharga dan bahkan memberikannya sendiri. Orang yang berhasil mendapatkannya di lelang pasti akan melihatnya dalam sudut pandang baru!"

Kemudian, pria itu menoleh ke arah pria lain, yang sedang duduk di sofa dan sebagian tubuhnya tersembunyi di balik bayangan. "Mungkinkah dia tahu bahwa nenekmu selalu menginginkan kalung itu?"

Kiran Harahap, cucu Rini, menyesap anggur dan memutar-mutar anggur itu sebelum menjawab dengan suara lirih, "Bukankah dia sudah menikah? Kenapa dia datang sendirian ke sini?"

Bab 3

Mendapat pertanyaan ini, Faris Wagiman langsung tersenyum cerah dan mengedipkan mata pada Kiran.

Dia berkata, "Mungkin kamu belum pernah mendengarnya karena kamu baru saja pulang dari luar negeri, tapi hal ini sudah menjadi buah bibir di Jepa! David memiliki adik angkat yang sangat dia sayangi seperti sebuah permata yang berharga. Demi menikah dengan David, Kayla menyuntikkan dana investasi bagi David sehingga dia bisa menyelamatkan keuangan Keluarga Wilarso."

"Tapi, apa balasan yang didapat Kayla? Setahun kemudian, adik David masih terus menemani David di setiap acara sosial. Seluruh Keluarga Wilarso memujanya, sementara Kayla, yang merupakan putri Keluarga Herdian, diperlakukan seperti pelayan dan tidak dihargai."

Faris mendecakkan lidah dan melanjutkan, "Aku tidak habis pikir dengan David. Dari segi penampilan dan kepribadian, Kayla, yang merupakan dulunya sosialita nomor satu di Jepa karena kecantikan dan kekayaannya, jauh lebih baik daripada adik angkat David. Bagaimana bisa dia mengabaikan wanita cantik seperti itu dan malah mengagumi adik angkatnya yang tidak diketahui asal-usulnya?"

Setelah sekian lama tidak mendapat tanggapan, Faris berbalik dan mendapati pria yang duduk di sofa telah menghilang.

"Hei, Kak, tunggu aku ...."

Ketika Kayla baru saja selesai membubuhkan tanda tangan dan sedang mencari tempat untuk mengambil minuman, sebuah teriakan marah terdengar dari belakangnya. "Kayla, siapa yang mengizinkanmu datang ke acara ini sendirian tanpa seizinku?"

Ketika berbalik, Kayla melihat Vanessa, yang berdandan begitu glamor, memeluk lengan David. Wanita itu tampak begitu lembut dan polos, tetapi tidak bisa menyembunyikan kesombongan di sorot matanya.

"Kak David, jangan marah pada Kak Kayla. Mungkin dia kesal karena aku yang menjadi pendampingmu, sehingga dia datang ke sini lebih awal untuk membuat masalah. Sebaiknya aku pulang saja. Aku tidak ingin membuat Kak Kayla kesal," ucap Vanessa sambil menatap David dengan memasang raut wajah sedih.

David menatap Kayla dengan ekspresi dingin.

Kayla telah menanggalkan gaun yang tidak sesuai dengan gayanya menjadi gaun yang menonjolkan ketenangan dan keanggunannya dengan sempurna. Sosoknya yang elegan dan sikapnya yang penuh percaya diri seolah-olah membangkitkan kenangan saat dia menjadi sosialita nomor satu di Jepa, yang dingin dan penuh percaya diri.

David mencibir dan berkata, "Membiarkan seorang wanita manja dan sombong di sisiku akan merusak reputasi Keluarga Wilarso di acara seperti ini."

Kemudian, dia menepuk tangan Vanessa dengan penuh kasih sayang dan berkata dengan lembut. "Dari kamu masih kecil sampai dewasa, kamu selalu menjadi pendampingku di setiap acara, dan kamu akan menjadi satu-satunya kelak."

Kekompakan mereka membuat Kayla tampak begitu remeh di hadapan semua orang.

"Kenapa Nyonya Kayla repot-repot datang ke sini? Dia tahu suaminya lebih menyukai adik angkatnya, tapi dia terus mencoba bersaing, yang akhirnya malah mempermalukan diri sendiri," bisik para penonton.

Namun, Kayla menanggapi dengan tersenyum tenang dan berkata, "Ya, aku justru merasa lega jika Vanessa yang mendampingimu."

Semua orang tidak menyangka Kayla, yang sebelumnya begitu emosional dan keras kepala, menjadi seorang istri yang berbudi luhur dan penuh perhatian.

Vanessa tertegun sejenak dan mengira Kayla menjadi jinak setelah ditegur David. Namun, dia hanya merasa senang sampai Kayla menyelesaikan kalimatnya. "Setidaknya dia lebih baik dari pelacur."

Kilatan kemarahan melintas di mata Vanessa.

Dengan berlinang air mata, dia menegur Kayla, "Kak Kayla, aku tahu kamu sengaja mengincarku di setiap kesempatan karena Kak David selalu baik padaku. Aku tidak keberatan. Berasal dari keluarga kaya, kamu mungkin merasa berhak memandang rendah kami. Tapi ingat, Keluarga Wilarso bukanlah keluarga biasa yang bisa kamu hina begitu saja. Jika kamu punya masalah, katakan langsung padaku, bukan malah mengumbarnya ke publik."

Mendengar kata-kata itu, Kayla hanya mencibir di dalam hati.

Saat David menikahi Kayla, Keluarga Wilarso sedang mengalami kemerosotan, sehingga media menuduhnya bergantung pada kekayaan istri dan membuatnya merasa harga dirinya terinjak-injak.

Setiap kali latar belakang keluarga dibahas, dia akan merasa Kayla sedang memandang rendah dirinya, padahal sebenarnya dia sendiri yang merasa rendah diri.

Hal ini dimanfaatkan oleh Vanessa untuk memicu pertengkaran di antara mereka, yaitu dengan membuat Kayla terlihat seperti memamerkan latar belakang keluarganya, sehingga memicu amarah David terhadap Kayla.

Seperti yang diduga, David menoleh tajam ke arah Kayla dan menegur, "Kamu harus minta maaf padanya! Dulu aku pikir kamu hanyalah wanita manja, yang angkuh dan sok berkuasa. Tapi sekarang kamu menjadi begitu liar dan kasar. Apa ini cara Keluarga Herdian membesarkan putri mereka? Apa istimewanya keluargamu?"

Dia memelototi Kayla dengan kilatan peringatan di matanya dan melanjutkan, "Minta maaf pada Vanessa sekarang juga dan serahkan kalung yang kamu kenakan. Minta maaflah dengan tulus dan aku mungkin akan memaafkanmu!"

Cara bicara David terhadap Kayla terdengar begitu memerintah.

Dulu, Kayla paling takut ditegur seperti ini, sehingga dia langsung menyetujui permintaan David yang paling tidak masuk akal sekalipun, hanya agar pria itu tidak mendiamkannya selama berbulan-bulan.

Sekarang, ketika dia harus berhadapan dengan kata-kata kasar David lagi, dia sudah tahu bagaimana menanggapinya.

"Apa? Kamu menyuruhku berlutut di hadapan adik angkatmu?"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED