Bab 1

"Makan dua orang ya, Ning. Bapak-bapak yang ada di pojokan sana!" Faiz berkata pada Ningsih. Perempuan yang dia pekerjakan di warung makan miliknya.

Ningsih sudah bekerja hampir 3 bulanan ini. Apa yang dikatakan Faiz tadi lebih berupa perintah. Ningsih langsung bergerak cepat mengambil dua mangkuk kecil berisi air untuk mencuci tangan juga memberikan dua gelas air putih kepada bapak-bapak itu. Begitu selesai, perempuan itu langsung bergerak ke arah depan. Dia lantas mendekati etalase kaca yang terhidang banyak lauk-pauk dan sayur-mayur.

"Lauknya apa, Mas Faiz?" tanyanya pada Faiz. Laki-laki berusia 35 tahun itu terlihat sedang repot membungkus nasi pesanan pengunjung warung makan.

Faiz menoleh sejenak pada Ningsih. "Satu ayam goreng dan satu ayam bakar."

Ningsih kemudian cepat mengambil nasi dan meletakkannya di piring. Dia menyendok sambal lado, menaruh lalapan ketimun dan daun ubi di piring makan itu. Ningsih lantas menyiapkan gulai nangka di dua piring kecil, kemudian mengambil ayam goreng untuk piring nasi yang satu dan meletakkan ayam bakar di piring nasi satunya. Setelahnya dia bergerak membawa dua piring itu ke arah bapak-bapak yang tadi duduk di bangku pojok, sebagaimana instruksi dari Faiz.

Ningsih hampir tidak peduli ketika dua orang bapak itu melihatnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dia sudah terlampau biasa melihat hal ini. Ningsih juga sadar, bahwa mungkin dia masih begitu menarik.

Tak salah, bukan, jika memuji diri sendiri? Ya, Ningsih merasa, walaupun usianya kini sudah menginjak angka 29, dirinya masih begitu menarik.

Untuk ukuran perempuan seperti dirinya, Ningsih merasa masih muda. Hanya cap janda tanpa anak yang membuatnya merasa sudah begitu tua. Bagaimanapun, Ningsih pernah gagal dalam berumah tangga.

Tiba-tiba Ningsih mengingat wajah mantan suami-nya. Wajah laki-laki yang dulu pernah ada bersamanya. Seharusnya Ningsih sudah tak perlu mengingat-ingatnya kembali. Terlebih, status janda sudah melekat padanya selama 3 tahun ini, sementara Haris Prayoga—mantan suaminya—sudah menikah lagi dengan perempuan bernama Kamila Dewi.

"Ning, buat es teh dua ya, untuk ibu dan bapak itu!" Faiz menunjuk seraya berkata agak keras supaya Ningsih dapat mendengarnya.

"Yaaa!" Ningsih menjawab tak kalah keras agar suaranya juga didengar oleh Faiz. Suara mereka yang sama-sama meninggi, itu sudah biasa untuk keduanya. Kalau tidak dengan cara itu, kadang suara mereka tertelan oleh pengunjung yang datang ke warung makan ini.

Lamunan Ningsih buyar ketika Faiz berkata seperti tadi padanya. Ningsih langsung bergerak ke ruangan kecil. Tempat membuat es dan berbagai minuman. Dengan cekatan perempuan itu membuat es teh dan menyuguhkannya ke pengunjung yang disebutkan Faiz tadi.

Warung makan milik Faiz memang sedang ramai-ramainya di jam segini. Sekarang sudah pukul 12.00. Waktunya jam makan siang. Mereka hanya bekerja berdua saja. Faiz Wibisono sebagai pemilik dan Ningsih Widyastuti sebagai karyawan. Sebetulnya Bu Narti—ibu Faiz—kadang ikut membantu keduanya. Namun, anak Faiz yang kecil bernama Ara sedang rewel. Jadi Bu Narti sedang mengurusi cucunya di kamar lantai atas.

Warung makan ini memang berada di ruko dua lantai. Ruko yang cukup murah, yang terletak di dekat pasar. Satu tahun yang lalu, setelah sebelumnya hanya dapat menyewa lapak kecil, Faiz kini berhasil menyewa ruko berharga lumayan murah itu.

Selagi sibuk melayani pengunjung yang datang, Faiz melihat ke arah Ningsih. Perempuan itu dilihatnya tengah bekerja dengan cekatan. Ningsih memang lincah. Faiz masih ingat betapa dulu saat Ningsih baru-baru bekerja di warung makan miliknya, perempuan itu belum tahu apa-apa. Dia bekerja apa adanya. Dalam artian, Ningsih bekerja sesuai apa yang diperintahkan oleh Faiz. Tapi, sekarang Faiz sudah lepas tangan dengan Ningsih. Karena Faiz tahu, Ningsih sudah fasih mengerjakan pekerjaannya dan rasanya tidak perlu lagi untuk diperintah-perintah.

Waktu bergerak ke arah pukul 14.00. Bahkan di jam segini masih ada beberapa pengunjung yang datang. Ningsih tanpa lelah melayani mereka. Dia memang sangat profesional. Salah satu sifat itulah yang Faiz sukai dari Ningsih.

Ketika pengunjung sudah mulai sepi, Ningsih bersiap untuk mencuci piring-piring kotor. Namun ....

"Ning, biar saya yang cuci piring. Kamu makan siang dulu saja gih. Nanti kamu sakit, sayanya jadi susah."

"Biarkan Ningsih cuci piringnya dulu ya, Mas, biar nanti baru makan sesudahnya."

"Sudah hampir jam dua lewat, Ning."

"Ningsih juga belum lapar, Mas. Tadi pagi juga, kan, sudah sarapan nasi uduk yang Mas Faiz belikan. Jadi cukup buat mengganjal perut."

"Baiklah." Faiz akhirnya menyerah. Perempuan ini memang keras kepala. Kalau katanya A, ya tetap A, susah untuk mengubahnya menjadi B. Itu per-umpamaan yang kadang dipikirkan Faiz pada Ningsih.

"Baiklah, tapi janji, kalau sudah mencuci piring, kamu makan siang dulu, ya?"

"Iya, Mas."

Ningsih lalu bergerak mencuci piring yang seabrek banyaknya. Tanpa mengeluh, perempuan itu melaku-kan semuanya dengan lincah.

Faiz lalu bergerak ke depan. Pengunjung sudah mulai sepi. Laki-laki itu lantas mengangkat piring dan gelas kotor, membawanya ke belakang, tempat Ningsih sedang mencuci piring.

"Maaf ya, Ning, cucian piringmu hari ini banyak sekali."

"Taruh saja, Mas. Ini juga sudah jadi pekerjaan Ningsih."

"Tapi maaf, saya nggak bisa bantuin."

"Mas, ini semua sudah kewajiban Ningsih. Mas Faiz sebaiknya beres-beres di bagian depan saja."

"Ya, Ning."

Faiz kembali lagi ke depan. Dia lantas membersihkan etalase. Dia juga membersihkan meja panjang tempat meletakkan baskom-baskom besar yang tadi isinya cabai hijau, gulai nangka, juga sederet hidangan lain, serta dengan telaten membersihkan cipratan bekas bumbu rendang dan cabai yang mengotori meja. Terakhir, Faiz membersihkan meja-meja bekas makan pengunjung. Masih ada satu-dua gelas yang kotor, dan Faiz membawanya ke belakang.

Terlihat piring-piring sudah dicuci oleh Ningsih. Perempuan itu tengah meniriskannya, meletakkan piring dan gelas ke rak besar.

"Saya makan dulu ya, Mas."

"Iya, makanlah dulu. Jika ada pengunjung yang datang lagi, biar saya yang layanin."

Ningsih mengangguk, menatap majikannya sejenak sebelum ke depan. Dengan sigap dia mengambil piring dan menyendok nasi putih beserta lauk. Siang ini Ningsih ingin makan ikan bakar kembung, dan lauk itulah yang dia pilih untuk makan siangnya. Kemudian dia duduk dan makan dengan lahap.

Melihat hal itu, Faiz sigap ke ruang kecil untuk membuat es teh. Begitu es teh selesai, dia langsung memberikannya untuk Ningsih. "Nah, minum yang manis dan segar, biar tenaganya pulih kembali."

"Nggak usah repot-repot, Mas, Ningsih bisa membuatnya sendiri kok."

"Sekali-kali saya buatin, kan, nggak papa," ucap Faiz sambil tersenyum.

Sebenarnya sudah sering kali Faiz melakukan itu. Semuanya tulus dia lakukan karena kasihan juga melihat Ningsih giat bekerja tanpa mau minum apa pun. Lagi pula siang ini sudah tidak begitu repot lagi. Jadi, apa salahnya jika Faiz membuatkannya es teh manis?

Ningsih lalu meneguk es teh manis itu, dan sekonyong-konyong melihat Bu Narti yang turun dari tangga.

"Faiz, kayaknya si Ara mau demam. Nanti malam dibawa ke dokter saja," kata Bu Narti, seraya melihat Ningsih yang sedang makan.

"Makan, Bu Narti," kata Ningsih.

"Ya." Bu Narti tersenyum.

"Badannya panas ya, Bu?" tanya Faiz sedikit cemas.

"Nggak begitu sih, tapi Ara rewel sekali hari ini."

Faiz mendekati ibunya. "Ya sudah, biar Faiz bawa dia ke dokter nanti malam."

Bu Narti mengangguk-angguk, lalu perempuan paruh baya itu naik lagi ke lantai atas. Sementara Faiz kembali menghampiri Ningsih yang kini sudah selesai makan dan hendak membawa piring bekas makannya ke belakang.

"Ning, nanti malam bisa minta bantuan kamu nggak?"

"Bantuan apa, Mas? Kalo mau pinjam uang sama Ningsih, Ningsih tentu saja nggak punya." Ningsih berkata polos, dan Faiz langsung tersenyum.

"Ya, bukan bantuan seperti itu, Ning," jawab Faiz dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. "Nanti sore, kan, kamu pulang. Pas nanti malam, kamu tolong kembali ke sini lagi, ya. Terus Mas minta tolong kamu belanja ke supermarket tempat Mas biasa belanja untuk warung makan."

"Supermarket yang di mal dekat sini itu, kan, Mas?"

"Iya, karena di sana lengkap. Harus beli beras dan keperluan sembako lain. Nanti soal sayur-mayur atau lauknya, biar saya seperti biasa belanja di pasar. Nanti malam saya nggak bisa, karena harus bawa Ara ke dokter."

"Oke, Mas, saya maklum. Jam berapa nanti, Mas?"

"Habis magrib kamu nanti ke sini," ucap Faiz seraya menatap sepasang mata perempuan itu dalam-dalam. "Ning, kamu nggak papa, kan? Maksud saya, nggak keberatan, kan?"

"Ningsih nggak keberatan kok, Mas. Anggap saja Ningsih kerja lembur. Hehehe." Ningsih terkekeh, hingga akhirnya menciptakan senyum lagi di bibir Faiz.

"Ya sudah, sebaiknya setelah ini kamu istirahat dulu bentar, biar Mas yang layani pengunjung."

Usai berkata seperti itu, Faiz kembali ke depan. Ada beberapa pengunjung yang datang. Faiz melayani mereka dengan baik, tanpa mau menyuruh Ningsih seperti tadi. Karena Faiz tahu Ningsih terlihat sudah begitu lelah. Ningsih juga terlihat sedang mencuci piring bekas makannya tadi dan beberapa peralatan kotor.

Usai melayani pengunjung yang tadi datang, Faiz kini duduk seraya menatap ruangan warung makan miliknya. Namun, perhatiannya kini teralihkan ketika Ningsih membawa piring-piring bersih hasil cuciannya. Diam-diam Faiz merasa kagum pada perempuan ini. Perempuan yang dikenalnya ini begitu rajin, tidak banyak tingkah, juga selalu baik dalam bekerja. Ningsih juga bisa "nrimo". Kadang, Faiz tak habis pikir, mengapa suami Ningsih dulu sampai bisa menceraikannya? Apa sebetulnya kesalahan Ningsih?

Tak jauh-jauh dari kehidupannya, Faiz juga kadang berpikir, apa kesalahan dirinya pada istrinya sampai istrinya itu berpaling, dan kemudian mereka bercerai?

Sejak bercerai, Faiz membawa anak mereka, dan meminta hak asuh anak jatuh padanya. Ratna—mantan istrinya—tak dapat berbuat apa-apa. Terlebih dalam asuhan Faiz, kedua anaknya tumbuh dengan baik.

Si sulung Fathan kini kelas 4 SD, dan jika belum pulang jam segini, itu artinya Fathan sedang mengikuti les tambahan di sekolahnya.Sementara si kecil Ara Puspita, bocah perempuan berumur satu tahun lebih itu baru bisa belajar ngomong. Gadis kecil itu memiliki sifat pendiam. Tak beda dengan ayahnya yang tidak terlalu banyak bicara. Dan benar-benar perjuangan bagi Faiz saat merawat Ara. Tubuh gadis kecil itu rentan terkena penyakit,meski selalu berada dalam keadaan baik-baik saja. Tak terkecuali hari ini, kata Bu Narti, Ara demam, itu sebabnya nanti malam Faiz akan membawanya ke klinik dokter terdekat.

Lagi-lagi pandangan Faiz menatap ke arah Ningsih, dan tanpa sadar Ningsih menatap ke arah Faiz.

Kikuk karena ketahuan menatap Ningsih, Faiz jadi tersenyum malu-malu dan Ningsih juga melakukan hal serupa. Untuk mengalihkan semuanya, pandangan Faiz jatuh pada TV yang kini sedang menayangkan sebuah acara, yang memang diletakkan di meja sudut. Sementara Ningsih masih tetap memperhatikan duda dua anak itu.

***

Bab 2

Ningsih menatap rumah kontrakan kecil di ujung gang. Rumah kontrakan berpintu warna hijau. Ningsih berjalan ke rumah itu lalu membuka pintu rumah itu dengan kunci yang ia bawa.

Ningsih dengan cepat melepas sepatunya, untuk kemudian melepas lelah sejenak di kursi sederhana di ruang tamu.

Tak ada barang berharga di rumah ini. Rumah kontrakan yang terbilang kecil. Hanya ada satu kamar, yang kini menjadi kamarnya. Ada dapur dan kamar mandi. Ruang tamu pun hanya berukuran kecil. Hanya berisi kursi keluaran tahun lama, juga televisi berukuran kecil yang memang jarang dihidupkan Ningsih.

Pasca bercerai, hidup Ningsih memang kembali dari nol. Ningsih juga menolak kembali ke rumah orang tua, karena rumah orang tua sudah diisi Naning, adik satu-satunya yang kini sudah berkeluarga. Naning hidup bahagia di rumah orang tua mereka, dengan memiliki suami yang bekerja sebagai sopir, dan satu anak laki-laki berusia dua tahun. Naning jugalah yang turut andil tiga bulan lalu mencarikan kerja untuk Ningsih, dan merekomendasikan Faiz untuk memperkerjakan kakak perempuan kandungnya. Ya, kedua orang tua mereka sudah meninggal. Jadi, hanya tinggal  mereka berdua yang harus hidup akur sebagai saudara.

Dulu, ketika memutuskan menikah dengan Haris. Ningsih juga tak punya tuntutan apa-apa. Mereka menikah juga karena atas dasar cinta. Sebelumnya mereka berpacaran, meski Ningsih tahu mertua perempuannya tidak pernah menyetujui hubungannya dengan Haris, sampai akhirnya terjadi pernikahan.

Haris yang merupakan pria yang berasal dari kalangan menengah, akhirnya memboyong Ningsih ke rumah kontrakan yang lumayan besar.

Haris juga bekerja sebagai pegawai swasta, sehingga ia mampu mengontrak rumah yang cukup besar untuk mereka berdua tinggal. Namun, di samping itu juga Haris sebenarnya tidak mau ibunya cekcok dengan Ningsih. Oleh sebab itu, setelah satu minggu menikah Haris langsung memboyong Ningsih.

Pernikahan yang hanya tinggal kenangan. Mereka bercerai karena Ningsih sudah tidak tahan menghadapi tekanan dari ibu Haris. Suatu ketika ibu Haris-ibu Yati pernah terang-terangan berucap sesuatu yang menyakiti hatinya. Semuanya lantaran setelah tiga tahun menikah, dia tak kunjung hamil. Ningsih tahu dia bukan menantu yang diinginkan ibu Haris.

Waktu mereka berpacaran, ibu Haris lebih setuju anaknya bersanding dengan anak pak RT, Kamila Dewi. Dan setelah setahun bercerai, Haris lalu menikah lagi dengan Kamila Dewi, sebagaimana permintaan ibunya.

Sejak bercerai Ningsih terpuruk. Dia pergi dari rumah kontrakan itu. Dia memulai hidup baru. Naning banyak menasehatinya, hingga Ningsih pun tegar. Ningsih akhirnya bekerja serabutan. Karena memang dia tak biasa bekerja saat berumah tangga dulu. Namun bagi Ningsih suasana sudah berbeda. Ia harus dapat bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri. Meski banyak duda-duda ataupun laki-laki muda mengajaknya menikah.

Ningsih masih memendam trauma. Sehingga dia pun akhirnya menolak untuk berpacaran lagi ataupun punya pikiran untuk menikah lagi. Ningsih sudah cukup puas dengan kesendiriannya, meski dia juga merasa amat kesepian. Jika dia mulai merasa sepi, dia akan datang ke rumah orang tua dan menemui Naning dan anaknya. Melihat Amir, dan melihat adik perempuan satu-satunya membuat Ningsih merasa bahagia. Jadi, ia tidak perlu memikirkan apapun untuk sekarang.

***

Ningsih bekerja di warung makan milik Faiz dari pukul tujuh pagi hingga pukul lima sore. Jika tepat pukul lima sore dia akan disuruh Faiz pulang seraya Faiz memberikan lauk, nasi juga sayur untuk disantap Ningsih makan malam. Ningsih akan meninggalkan laki-laki itu karena warung makan memang akan tutup pukul delapan malam. Biasanya Faiz akan menjaga warung makan bergantian dengan ibunya, karena batas jam kerja Ningsih yang sudah habis.

Namun, mendadak malam ini Ningsih harus kembali ke warung makan Faiz sesudah magrib. Tadi, sudah dijelaskan pada Faiz bahwa dia harus berbelanja ke supermarket di mall dekat sini lantaran Faiz harus membawa Ara, anak perempuannya yang baru berumur setahun lebih ke klinik dokter tak jauh dari sini.

Ningsih dengan cepat ke dapur. Meletakkan bungkusan nasi, sayur juga lauk untuk makan malamnya dari Faiz tadi. Ningsih lalu beres-beres rumah kontrakan sebentar. Untuk kemudian dia mandi lalu kembali lagi ke warung makan.

Ningsih sudah kembali ke warung makan ketika jam tujuh tepat Faiz sudah menutup warung makannya. Warung makan tutup lebih cepat karena pria itu harus ke dokter.

"Ning, ini catatan belanjaannya, dan ini uangnya. Nanti belanjaannya diteliti ya, jangan sampai ada yang kurang," kata Faiz seraya menggendong anak perempuannya. Terlihat laki-laki itu mengelus punggung Ara yang terlihat lemah.

"Iya, mas," jawab Ningsih. Dia lalu melihat kondisi Ara, lalu tangan Ningsih meraba kening gadis kecil itu.

"Masih panas ya mas?"

Faiz mengangguk. Dan Ningsih merasakan kening dan leher Ara yang hangat. Gadis kecil itu menggeliat saat  Ningsih melakukan itu.

"Sudah dikompres ya, mas."

"Sudah, oleh Ibu. Ibu sekarang lagi sama Fathan diatas. Lagi nyiapin Fathan makan malam."

"Kalau begitu, Ningsih langsung pergi ya mas,"

"Iya, kamu hati-hati ya, itu kunci motorku. Biar aku naik motor yang satu lagi," kata Faiz.

Ningsih lalu mengangguk. Dia mengambil kunci motor di meja. Untuk berbelanja, Faiz meminta naik motornya saja. Lagipula mall nya juga nggak terlalu jauh dari sini.

Tak lama, Faiz sudah melihat Ningsih pergi dengan motornya.

***

Begitu memarkir kendaraan roda dua itu, Ningsih lalu bergerak cepat ke lantai 3 mall Cempaka ini.

Supermarket dalam mal ini ada di lantai tiga. Dan Ningsih sedang bergerak menuju kesana.

Sesampainya di supermarket, Ningsih lalu mulai mencari bahan sembako yang ia butuhkan. Ia melihat-lihat catatan yang tadi diberikan Faiz dan satu-persatu bahan belanjaan sudah masuk ke dalam troli yang ia bawa.

Dan Ningsih terkejut ketika di depannya terlihat  pria itu tegak di hadapannya. Ini kebetulan atau tanpa sengaja, yang pasti Haris sudah berdiri di depannya.

"Ningsih!" Pria itu telah memanggilnya. Nadanya terdengar terkejut sekaligus senang karena bertemu dengan Ningsih.

"Mas... Har..ris," lidah Ningsih bahkan kelu untuk menyebut nama mantan suaminya.

"Sedang apa disini?" tanya pria itu, dan baru tahu saat troli Ningsih sudah terlihat bahan belanjaan yang cukup banyak. "Belanja?"

"Iya mas,"

"Banyak sekali. Belanja bulanan?"

"Bukan mas. Disuruh boss."

"Oh, aku tahu. Boss kamu tempat bekerja sekarang?"

Ningsih mengangguk-angguk. "Mas Haris sedang apa?" Ningsih celingak-celinguk, dan melihat-lihat ke sekeliling Haris.

"Belanja Ning. Dan aku sedang cari madu. Ibu minta titip beli madu."

"Oh..." Bibir Ningsih sudah membulat.

"Tenang saja Ning. Aku sendirian. Nggak ada istriku," kata Haris untuk mempertegas semuanya. Haris tahu maksud Ningsih lihat sana-sini karena   untuk melihat istri Haris. Siapa tahu Kamila Dewi ikut belanja.

"Jadi mas pergi sendirian?"

"Ya, begitulah," ujar pria itu dengan tampang lesu. "Aku juga soal apa-apa kadang pergi sendiri karena Kamila sibuk dengan pekerjaannya sendiri."

Dan Ningsih tahu pekerjaan Kamila. Punya toko manisan yang menjual kue-kue juga bahan-bahan pembuatan kue.

"Maaf mas, aku langsung kesana, ada masih banyak bahan yang harus kubeli."

"Kok buru-buru Ning. Apa kau sengaja menghindar dari aku?"

"Mas," lirih Ningsih.

"Aku bahkan belum tanya kabar kamu?"

"Aku baik-baik saja mas, seperti yang mas Haris lihat,"

Haris menarik napas panjang. "Ning, boleh jika nanti mas main ke rumah kontrakanmu?"

Ningsih menatap mata pria itu. Belum menjawab dan tak akan dapat menjawab, karena  memang dia sudah tak mau berdekat-dekatan lagi dengan mantan suaminya.

"Ning," ucap Haris lagi, menyadarkan Ningsih dari lamunan.

"Boleh mas. Boleh saja. Namun malam hari bertamunya. Ning kerja kalau dari pagi hingga sore."

"Ya, mas tau."

"Ya sudah, kalau begitu Ningsih kesana ya mas. Masih mau belanja lagi."

"Ya," kali ini meski tak rela Ningsih berlalu pergi, namun Haris telah berkata demikian.

Dilihatnya kini Ningsih sudah melewatinya.

Haris menjadi kebas. Sebagian hatinya masih terletak pada perempuan itu. Namun ia kini tak dapat berharap banyak. Ternyata bercerai dengan Ningsih bukan pilihan yang sepenuhnya benar. Dan memilih menikah lagi dengan perempuan pilihan ibunya-Kamila Dewi- juga bukanlah sesuatu yang sepenuhnya juga benar.

Haris seperti berada di persimpangan. Terombang-ambing.

Haris masih menatap punggung mantan istrinya, yang kini telah berjalan menjauh. Dan penyesalan itu masih melekat dalam batin terdalamnya.

***

Bab 3

Ningsih baru pulang ketika jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Dia lega karena barang-barang belanjaan yang Faiz minta sudah dibelikan semuanya. Tadi ketika sampai di ruko, Ningsih menitipkan semua belanjaannya pada Bu Narti. Faiz belum juga pulang dari klinik dokter.

"Semuanya sudah ya Bu, saya permisi pulang," tukas Ningsih pada Bu Narti.

"Iya, terima kasih Ning," kata Bu Narti seraya menatap ke arah Ningsih. Ningsih juga bersiap pulang. Motor yang tadi dipakainya untuk pergi ke mall telah ia masukkan ke samping ruko.

"Pulangnya naik apa, Ning?" tanya Bu Narti lagi.

"Ojek online saja, Bu."

"Sudah pesan? tarifnya berapa?"

"Belum Bu," ujar Ningsih seraya mengeluarkan HP-nya. Ningsih mulai mengetik titik penjemputan di aplikasi ojek online, juga mengetik tujuan pulang.

"Berapa Ning uangnya, biar ibu kasikan,"

"Nggak usah Bu, cuma tujuh ribu. Ningsih ada uangnya segitu."

"Bukan masalah uangnya Ning. Anggap saja itu upah kamu belanja tadi."

"Ah Ibu, dari dahulu kan ibu tahu Ningsih..."

"Sudah, ini uangnya." Bu Narti sudah mengangsurkan selembar uang 10 rb pada Ningsih.

"Bu,"

"Sudah, pulanglah..."

Tak lama tukang ojek pun datang di depan ruko. Ningsih lalu pamit pada ibu tua itu. Dia naik di boncengan motor dan pulang ke rumah kontrakan.

***

Ningsih menatap semua barang-barang yang ada di ruang tamu. Dari TV berukuran kecil, kursi, sampai akhirnya dia menatap poto perkawinannya yang kandas. Sekilas, Ningsih mengambil pigura itu. Menatapnya dengan dalam. Sampai akhirnya beberapa  bulir air mata akhirnya tumpah.

Ningsih teringat masa-masa pacaran dulu. Terutama apabila dia telah bepergian jalan-jalan dengan Haris, lalu diajak laki-laki itu untuk duduk di ruang tamu rumah.

Ningsih kadang ditinggal di sofa ruang tamu rumah Haris. Dan Haris kadang masuk ke dalam rumah, untuk mengambilkan makanan ataupun minuman untuknya. Namun malam itu Ningsih mendengar percakapan Haris dan ibunya. Sebenarnya bukan malam itu saja. Malam-malam sebelumnya apabila Ningsih diajak bertandang ke rumah Haris, pasti percakapan seperti itu yang didengarnya.

"Kamu masih tetap memilih perempuan itu untuk kamu nikahi nanti?" kata seorang perempuan, yang diketahui Ningsih sebagai Ibu  Yati, ibu kandung Haris.

"Bu, Haris kan sudah beberapa kali bilang sama ibu-"

"Haris, seberapa pun cantiknya perempuan pilihanmu, ibu tidak peduli. Ibu tetap tidak setuju!"

"Ibu, apa kesalahan Ningsih. Apa dia perempuan nggak bener. Apa dia?"

"Kamu nggak perlu tahu alasannya, ibu tetap tidak setuju jika kamu memilih dia!" potong ibunya cepat.

"Ibu, jangan keras-keras, Ningsih...ada di luar!"

"Ibu tidak peduli. Lebih bagus kalau dia dengar. Biar dia tahu kalau ibu-"

"Aku akan tetap menikahi Ningsih! karena aku mencintai dia! Terlebih kami berpacaran sudah lama sekali!"

"Haris!" kata ibunya. "Ibu lebih setuju kamu sama Kamila. Anak perempuan pak RT itu lebih cocok sama kamu ketimbang Ningsih!"

"Dan aku tidak menyukainya!" tukas Haris. "Sudah, Haris bosan membahas ini terus. Haris mau ke depan, menemui Ningsih."

Namun, saat Haris berjalan ke ruang tamu untuk menyajikan Ningsih panganan kecil juga minuman, perempuan itu tidak ada di ruang tamu. Dia duduk di beranda depan rumah, seraya menatap rembulan malam.

Ningsih tidak ingin mendengar suara-suara itu. Sakit rasanya. Ucapan-ucapan itu ia dengar sebelum mereka menikah. Lalu, apa nanti yang akan ia dengar lagi dari mulut ibu Haris setelah mereka resmi menikah nanti.

"Ning, kok kamu disini?"

"Di dalam panas sekali mas. Jadi Ningsih keluar."

"Ya sudah, ini minum dulu."

Haris menyuguhkan minuman itu, yang akhirnya ia letakkan di atas meja kecil. Ningsih sudah duduk di kursi depan rumah, sambil pikirannya nyalang. Dan Haris duduk di bangku satunya.

"Maafkan, jika tadi..."

"Aku sudah mendengar semuanya mas," ucap Ningsih. "Dan bukan baru kali ini rasanya aku mendengar semua itu."

"Ningsih,"

"Seharusnya kita nggak pacaran mas. Seharusnya kita juga nggak perlu meneruskan hubungan ini. Sebaiknya mas menikah dengan perempuan pilihan ibunya mas."

"Dan apa itu nanti bisa menjamin kebahagiaan mas," tukas Haris. "Menikah adalah keputusan sendiri. Karena menikah, aku yang akan jalani, bukan ibuku atau orang lain!"

"Tapi..."

"Sudahlah, kamu tak perlu memikirkan itu."

"Ningsih memang kadang memikirkan semuanya mas. Dan Ningsih takut jika kita menikah, lalu ibu..."

"Ibu tak akan macam-macam padamu, sudahlah."

Tapi nyatanya, Bu Yati macam-macam  pada Ningsih. Tiap kali Haris mengajak Ningsih berkunjung ke rumah mertuanya. Ada saja nada cibiran yang keluar dari bibir perempuan tua itu untuk Ningsih. Dan hal itu membuat Ningsih trauma untuk datang ke rumah mertuanya sendiri.

Sebulan sekali Haris memang akan datang mengunjungi ibunya, karena Haris sudah mengontrak rumah sendiri bersama Ningsih setelah menikah.

Haris memperkerjakan pembantu untuk menemani ibunya di rumah besar itu. Ayah Haris memang telah lama meninggal dunia, dan Haris anak tunggal. Jadi tidak ada sesiapapun yang menemani ibunya jika Haris tidak tinggal di rumah itu. Alhasil Haris memperkerjakan pembantu yang bisa menginap, yang selain dapat mengurus rumah, juga dapat mengurus ibunya.

Lalu, suatu kali saat bertandang menemui mertuanya. Saat itu Ningsih berada di ruang tamu. Haris terlibat percakapan dengan ibunya, yang membuat Ningsih benar-benar sakit hati.

"Ceraikan perempuan itu!"

"Ibu ngomong apa? Ibu jangan melantur! Haris bahkan-"

"Haris!" hardik ibunya. "Tak ada gunanya mempertahankan istri yang tidak bisa punya anak. Kamu mau jadi orang yang sudah tua tanpa anak?"

"Ibu barangkali..."

"Barangkali apa? istrimu mandul. Dia tak bisa punya anak. Sudah setahun kamu menikah, tapi dia tak kunjung hamil juga!"

"Ibu, suaranya jangan keras-keras!"

"Biarkan saja. Biarkan Ningsih dengar! Dia mandul. Bahkan, setahun perkawinan tak ada tanda-tanda-"

"Ibu, barangkali belum waktunya. Barangkali Tuhan..." Haris dengan cepat memotong perkataan ibunya.

"Sampai kapan kamu bertahan punya istri yang seperti itu!"

Haris  diam. Haris jadi bimbang. Dia mulai memikirkan kata-kata ibunya.

"Coba! sampai kapan kamu mempertahankan istri mandul macam Ningsih!"

Bahkan Ningsih yang biasa berlari ke depan rumah, tidak kuat mendengar kata-kata itu. Bahkan, ingin sekali ia melabrak ibu Haris, kalau saja ia tidak memikirkan, bahwa itu adalah hal kurang ajar yang ia lakukan sebagai menantu. Sampai akhirnya Ningsih hanya bertahan di beranda rumah dengan air mata yang berlinang.

Ningsih hanya diam sepanjang perjalanan dari rumah mertuanya. Lalu, ketika baru sampai rumah dan berada di  kamar mereka, Ningsih mengatakan semuanya pada Haris.

"Aku memang bukan ditakdirkan untuk jadi istrimu mas."

"Kamu ngomong apa?" tukas Haris.

"Lihatlah apa yang kutakutkan telah terjadi. Ibumu terus merongrongku."

"Ningsih, aku hidup denganmu. Aku yang merasakan semuanya."

"Namun kau mulai memikirkan ucapan ibumu, kan? Sepertinya aku memang mandul. Sudah setahun kita berumah tangga, namun..."

"Sudahlah, mungkin Tuhan belum mengijinkan kita punya anak. Bukankah kau sudah beberapa kali periksa ke dokter, dan tak ada masalah dengan semuanya. Bukankah dokter mengatakan dirimu subur."

Dan Ningsih hanya diam, memikirkan ucapan suaminya, yang begitu sangat sayang padanya.

Malam itu Ningsih tidur dengan pikiran carut-marut. Bahkan sampai Haris jatuh tertidur, Ningsih belum juga dapat memejamkan matanya. Hingga akhirnya beberapa hari setelahnya Ningsih pergi ke dokter lagi. Memeriksakan kesuburannya.

Dokter Ina, dokter kandungan yang biasa menangani Ningsih jika dia ke rumah sakit ini menyambut Ningsih dengan baik. Dokter itu sangat antusias mendengarkan keluhan Ningsih. Hingga Ningsih diperiksa lebih lanjut. Ia berbaring di brankar yang ada di ruangan dokter Ina, dan ia menuruti instruksi dokter Ina, hingga pemeriksaan pun selesai.

"Semuanya baik. Mungkin jangan sampai kecapaian saja." tukas dokter Ina. "Ibu nggak kerja kan?"

"Hanya di rumah saja dokter, ngurus suami yang pekerja swasta. Dulu sebelum menikah hanya bekerja di toko."

"Ya baguslah, jangan terlalu kecapaian,"

"Lalu, langkah apa dokter yang sebaiknya saya lakukan, supaya saya dapat memiliki anak. Karena mertua saya..."

"Lagi-lagi kebanyakan masalah mertua. Saya...memahami itu, karena nggak cuma kamu yang mengeluh bilang seperti ini. Setidaknya kamu melakukan hubungan intim dengan suamimu pada saat masa subur kan?"

"Ya dokter, saya selalu mendengarkan nasihat dokter Ina."

"Mungkin masalahnya ada pada suami. Sudahkah suami juga memeriksakan diri?"

Ningsih diam. Dan baru menyadari. Dia seharusnya sudah lama menanyakan hal ini. Namun, pernah suatu kali ia bertanya pada Haris. Tapi katanya ia baik-baik saja, dalam artian tidak ada masalah dalam organ reproduksi.

"Suatu kali ia pernah bilang dokter. Bahwa tidak ada masalah pada organ reproduksinya."

"Nah baguslah, hanya tinggal menunggu dan berdoa. Mungkin hanya Yang Kuasa belum ingin menitipkan."

"Ya dokter,"

Dan tak lama kemudian, Ningsih keluar dari ruangan dokter Ina dengan berbagai pertanyaan. Terutama pertanyaan sensitif tentang suaminya yang telah memeriksakan diri atau belum. Namun pikiran semacam itu cepat ditepis oleh Ningsih. Mungkin memang belum waktunya Tuhan memberinya anak.

Namun, 2 tahun berlalu. Tetap tak ada tanda-tanda kehamilan. Ibu Haris sewot dan terus saja menyalahkan Ningsih. Dan Haris juga lebih banyak bertengkar dengan Ningsih lantaran perkara soal anak yang terus dibahas ibunya.

"Sudah ibu bilang, ceraikan Ningsih, dan kamu menikah lagi. Pak RT menyetujui jika kamu melamar anaknya, Kamila Dewi. Dan ibu rasa kamu akan cocok dengan dia, dan mungkin bisa punya anak darinya."

"Ibu, tidak bisa begitu. Bagaimanapun..."

"Kalau kamu tidak enak hati sama Ningsih, biar ibu yang bicara dengannya."

Dan malam itu juga ibu Yati langsung menemui Ningsih yang diam di ruang tamu rumah mertuanya.

"Ibu meminta Haris untuk cepat menceraikanmu! Jadi kalau kau yang menggugat cerai Haris, itu lebih baik bagimu!"

"Apa salah saya, sampai ibu harus berkata seperti ini," Ningsih mencoba membela dirinya.

"Ningsih! Apa kamu tak menyadari kamu mandul. Kini, apakah kamu bisa memberi Haris anak. Memberi saya cucu. Dari dulu saya tidak pernah setuju dengan perempuan pilihan Haris, hingga akhirnya jadi begini!"

"Ibu!" Haris sudah memekik pada ibunya. "Ibu benar-benar tidak memikirkan perasaan Ningsih!"

"Biar saja. Ibu sudah tidak tahan lagi punya menantu sepertinya. Jadi sebaiknya kalian bercerai. Dan kamu Haris, tidak ada gunanya mempertahankan istri seperti dia!" Ibu Haris sudah menunjuk-nunjuk ke arah Ningsih. Ningsih merasa batinnya terluka. Sampai akhirnya dua Minggu setelah perdebatan malam itu di rumah mertuanya, Ningsih langsung menggugat cerai Haris. Haris tak mampu melakukan apapun.

Perceraian tak mampu terelakkan. Setelah persidangan akhir, mereka resmi bercerai. Ningsih langsung keluar dari rumah kontrakan dan bekerja serabutan untuk menghidupi dirinya. Dan setahun setelah itu, dia mendengar Haris menikah lagi dengan perempuan pilihan ibunya. Hingga dua tahun berlalu, terdengar kabar kalau mereka belum juga dikaruniai anak.

Kini, Ningsih mulai ragu bahwa Haris apakah sudah pernah memeriksakan dirinya ke dokter sebagaimana yang ia katakan. Namun Ningsih tidak ingin memikirkan hal itu. Karena bagaimanapun hidup harus terus berjalan. Entah, sudah beberapa laki-laki yang ingin mengenalnya lebih dalam. Terutama duda. Namun ia masih memilih sendiri. Ia masih trauma untuk kembali menjalin hubungan, lalu menikah. Dan ia pun bekerja sebaik-baiknya di warung makan milik Faiz tanpa memikirkan pernikahan.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED