Suasana terasa panas di ruang kerja Elena. Malam itu ia kembali harus bertengkar dengan Damar, sang kekasih. Lagi-lagi masalah tentang Elena yang ketahuan bekerja hingga larut malam. Namun, dibandingkan pertengkaran sebelumnya, pertengkaran kali ini jauh lebih panas dibanding sebelumnya.
"Apa sih yang kamu kejar dengan kerja sampai larut malam gini? Kasih tau aku supaya aku paham apa yang kamu mau. Berapa kali aku bilang untuk kamu gak terlalu hectic ke kerjaan?" ucap Damar dengan wajah memerah.
"Dam, kita udah sepakat. Kita bahkan sudah sering bahas hal ini. Kamu tau sendiri kalau apa yang aku lakukan ini semua karena memang tanggung jawab aku," balas Elena yang mencoba menekan amarahnya agar tidak meledak. Melawan Damar yang sedang marah dengan kemarahan tidak alam berujung baik.
"Sepakat apa? Aku setuju kamu kerja asal kenal waktu. Kamu sadar gak sih kesibukan kamu itu membuat kita makin berjarak? Sebenarnya apa yang kamu cari, Len? Uang? Aku bisa kasih."
Elena menggeleng pelan. Bukan. Bukan itu alasan Elena bekerja saat ini. Ia hanya ingin hidup mandiri tanpa bergantung pada siapapun.
"Kalau kita nikah kamu gak perlu sibuk kayak gini. Apa pun yang kamu minta akan aku kasih. Aku punya banyak uang kalau kamu lupa. Kamu tinggal bilang dan aku akan kasih dengan sukarela. Kamu pernah pikirin itu gak, sih?" tanya Damar dengan emosi yang sudah meluap.
"Dam. Jangan kayak gini. Aku tau kamu kesal. Aku minta maaf. Tapi jangan merembet kemana-mana gini."
"Ini bukan masalah maaf, Len. Aku sedang bertanya apa yang kamu kejar sampai kerja kayak gini. Kamu tinggal bilang kamu mau apa. Kamu tinggal jadi istriku dan duduk dengan manis, semua yang kamu inginkan bisa aku kasih," lanjut Damar kembali meluapkan kekesalannya.
"Kamu hanya cukup jawab iya. Sekarang aku tanya. Semua akan mudah kalau kamu gak mempersulitnya dengan menggantungkan hubungan kita. Bahkan sampai saat ini lamarku pun belum kamu jawab, Len. Aku butuh kepastian, Len. Bunda bahkan sudah gak sabar supaya kita cepat menikah. Tetapi apa? Kamu sampai saat ini bahkan belum memperkenalkan aku pada keluargamu. Kamu anggap aku apa? Kamu anggap hubungan kita apa?"
Elena menelan salivanya susah payah. Damar lagi-lagi membahas masalah itu. Masalahnya sampai saat ini Elena belum bisa menjawab lamaran Damar.
"Kenapa kamu diam? Jangan bilang memang kamu gak mau jawab? Atau... ada pria lain yang kamu sukai?" tuduh Damar karena sedari tadi Elena memilih bungkam.
"Gak seperti itu. Aku hanya... belum siap," balas Elena dengan nada pelan di akhir kalimat. Sejujurnya ia bukan tidak mau. Hanya saja ia merasa belum begitu yakin untuk menikah. Ia belum begitu yakin bisa menjalani pernikahan saat ini.
Kekehan mengejek terdengar di telinga Elena. Pasti Damar saat ini tengah mencemooh jawabannya. "Belum siap? Butuh berapa tahun lagi hubungan kita supaya kamu siap?" tanya pria itu dengan nada dingin.
"Jujur sama aku. Apa yang buat kamu gak siap menikah denganku?" tanya Damar dengan nada mengintinidasi. Membuat Elena takut karena masalahnya ada di dalam dirinya sendiri. Maaf, Dam. Aku gak bisa bilang. Aku malu. Aku juga takut kalau kamu tahu hal ini akan buat kamu pergi tinggalkan aku.
"Kasih aku waktu," pinta Elena akhirnya.
"Waktu? Berapa lama lagi? Berapa tahun lagi? Kadang aku penasaran, sebenarnya kamu cinta gak sih sama aku?" tanya Damar dengan tatapan menyelidik yang membuat bibir Elena kembali mengatup.
Sebelah bibir Damar tampak naik. Pria itu tampaknya tidak suka dengan pembicaraan mereka kali ini. "Aku kasih kamu waktu untuk merenungkan hubungan kita. Coba kamu pikirkan mau dibawa kemana hubungan ini. Apa kurangnya aku sampai kamu gak yakin untuk jalani hubungan ke jenjang selanjutnya sama aku." Kalimat terakhir yang diucapkan Damar seakan menjadi penutup pertengkaran mereka malam itu. Karena sesudahnya, pria itu menutup panggilannya.
"Berengsek!" umpat Damar sambil melempar ponselnya untuk melampiaskan kekesalannya kepada Elena. Di saat yang bersamaan, seorang wanita masuk ke dalam kamar yang Damar tempati. Mata mereka bertemu dan wanita itu melemparkan senyuman kepadanya.
“Kenapa? Udah gak tahan, yah?” tanyanya dengan nada menggoda.
“Sabar, yah. Aku mandi dulu. Biar nanti enak mainnya,” lanjut wanita itu sambil melenggang genit melewati Damar.
Merasa tengah membutuhkan pelampiasan akan kekesalannya, Damar pun langsung mencekal pergelangan tangan Janeta. Tanpa banyak kata pria itu langsung menyerang sang wanita dan menjatuhkannya di atas ranjang. “Gak perlu. Toh, nanti juga lo keringetan lagi,” ucapnya sebelum melumat habis bibir Janeta dan menghabiskan malam bersama dengan wanita itu seperti malam-malam sebelumnya.
Entah sudah berapa lama waktu yang mereka habiskan untuk saling memuaskan. Hingga akhirnya tubuh keduanya terlepas dengan peluh yang sudah membanjiri tubuh.
Tuhuh Damar berguling ke samping Janeta. Pria itu menutup mata menggunakan lengannya. Mencoba mengatur napasnya yang masih terengah.
Tidak jauh berbeda dengannya, Janeta yang berbaring di samping Damar tampak kelelahan dengan napas yang memburu. Wanita itu menatap Damar dalam. "Ada masalah lagi? Lo gak capek berantem terus?" tanya wanita itu. Sebenarnya Janeta sempat mendengar yang marah kepada kekasihnya sebelum Janeta masuk ke dalam kamar dan benar saja, begitu masuk ke dalam kamar Janeta menemukan Damar yang tampak emosi.
"Kalau udah gak bahagia ngapain masih lo lanjutin sih hubungan kalian? Mending putusin aja," lanjut Janeta karena Damar tidak merespon ocehannya.
Damar yang menatap Janeta sinis. Pria itu tidak suka mendengar ocehan dari Janeta. "Lo kalau gak tau apa-apa mending diem. Gue cinta sama pacar gue. Gue juga gak akan putusin dia."
Janeta berdecak. Wanita itu memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Damar. "Percuma cinta kalau lo gak bahagia. Buktinya, lo jadi lebih sering hubungi gue buat bikin lo seneng, kan?"
Damar menatap Janeta tajam, ia tersenyum sinis ke arah wanita itu. "Jangan pernah sekalipun lo bandingin diri lo sama pacar gue. Dia wanita baik-baik yang bakalan gue nikahin. Sementara lo, lo itu cuma cewek yang gue temui kalau gue butuh," ucap Damar membuat Janeta kesal.
"Oh, yah? Lo yakin dia masih mau nikah sama lo kalau tau kelakuan lo di belakang dia kayak gini?" tanya Janeta sambil menaikkan ujung bibirnya mengejek Damar.
"Gue peringati lo. Supaya jangan melewati batas. Hubungan lo sama gue cuma sebatas senang-senang aja sesuai omongan lo di awal. Dan hubungan kita ini gak akan diketahui sama pacar gue. Dia gak boleh tau," ucap Damar penuh penekanan kepada Janeta sebelum akhirnya pria itu meninggalkan Janeta.
***
Jantung Elena berdegup kencang kala mendapati ruang tamu rumahnya tampak terang. Kaki wanita itu mendadak kau begitu memasuki pekarangan rumahnya. Seingatnya malam ini ia seharusnya sendirian. Elang, adiknya mengatakan akan menginap dan juga... tidak biasanya pria itu menyalakan lampu ruang tamu seperti ini.
Dengan memberanikan diri, Elena mencoba menghubungi Elang, tetapi panggilannya tidak juga dijawab oleh pria itu. Dengan perasaan tidak tenang, Elena mencoba berpikir dan menimbang-nimbang akan masuk ke dalam rumah atau tidak mengingat malam sudah sangat larut.
Merasa tidak ada pilihan lain, dengan keberanian yang tersisa, Elena memaksa kakinya untuk berjalan menuju pintu. Sambil menguatkan hati ia membuka pintu rumahnya, berharap jika mungkin saja Elang ada di rumah dan menunggunya di sana.
Perasaan Elena makin tidak karuan ketika mendapati seseorang tengah berada di dalam rumahnya itu menatapnya tajam. Membuat jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya malam itu.
“Loh? Kok, Bunda ada di rumah?” tanyanya dengan nada suara yang berusaha ia buat senormal mungkin di antara degup jantungnya yang terasa memburu.
“Kenapa? Bunda gak boleh ada di rumah?”
“Ga-gak gitu, Bun. Aku cuma kaget aja. Bukannya Bunda biasanya pulang setiap akhir pekan?” Elena menghampiri wanita yang ia panggil dengan sebutan Bunda itu. Mengambil tangannya dan mencium punggung tangan wanita itu.
“Bunda tadi ada meeting di sini. Besok juga Bunda bakalan kembali lagi ke Bandung.” Elena menganggukkan kepalanya. Bunda memang bekerja di luar kota. Biasanya wanita itu pulang ke rumah di sabtu pagi.
“Kamu sudah makan, Len?” tanya Bunda lagi sambil beranjak dari sofa yang ia duduki. Dari nada bicaranya, Elena tahu jika sang Bunda sedang marah kepadanya dan ketika ia tengah sibuk memikirkan akan merespon apa, Felicia sudah lebih dulu berbicara.
“Pasti belum. Kamu tuh kok yah kebiasaan jelek dipelihara terus, Len. Sudah tahu punya penyakit lambung. Masih aja rapel makan malam jadi sarapan, makan siang jadi makan malam. Memang kamu sepertinya harus punya alarm hidup yang ingetin kamu supaya gak telat makan.” Elena menghela napas. Ia bergerak mengikuti sang Bunda. Memeluk wanita yang tengah menyiapkan makan malam untuk Elena itu dari belakang.
“Bunda… aku udah gede, loh. Kalau lap-“
“Kalau tahu sudah gede gak perlu Bunda ingatkan terus dong, Len. Ini kalian berdua sama aja. Mentang-mentang Bunda gak tinggal bareng kalian jadi suka seenaknya. Yang satu suka pulang malam. Yang satu suka gak pulang. Kalian ini-“
Satu kecupan Elena berikan di pipi sang Bunda. Ia paham Ibunya ini akan terus menceramahinya. Bunda sama seperti ibu-ibu lain yang akan terus berbicara untuk menutupi rasa khawatirnya. Yah, se-tua apapun ia, tetap saja bagi Bunda Elena dan Elang adalah bocah yang masih harus Bunda pantau dan ingatkan.
“Aku makan yah, Bun.” Elena mengambil piring yang sudah terisi nasi dan lauk untuk ia bawa ke meja makan.
Bunda menatap Elena sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia bersyukur karena kedua anaknya tidak pernah membantah apa yang ia katakan walaupun mungkin ada nada protes yang mengisi kepala mereka, keduanya akan tetap mendengarkannya. Yah… walaupun jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan mereka, biasanya keduanya akan mencari waktu yang tepat untuk membahasnya dengan Bunda.
“Len, kamu gak ada niat untuk menikah?” tanya Bunda sambil menatap Elena lekat.
Elena yang awalnya tengah makan dengan nikmat, seketika merasa jika makanan yang ia telan kali ini terasa hambar. Dirinya bahkan dengan susah payah menelan makanannya begitu mendengar pertanyaan Bunda.
“Kamu memang tidak ingin berumah tangga? Usia kamu sudah cukup matang, Len,” tambah Bunda karena Elena memilih diam sejak ia membuka masalah mengenai pernikahan.
“Usia kan gak menjadi jaminan untuk orang berumah tangga, Bun,” jawab Elena. Tangannya meraih gelas dan menenggak isinya untuk sejenak menetralkan suasana hatinya karena pembahasan yang akan mereka bicarakan malam ini.
“Yah, Bunda tahu, cuma… Bunda takut kamu kesepian.” Elena sempat terkekeh mendengar ucapan Bunda yang sarat akan kekhawatiran itu. Ia yakin bukan itu yang Bunda khawatirkan.
“Gak, lah. Aku kan punya Bunda. Punya Elang. Aku gak mungkin kesepian.”
“Kamu tahu bukan itu maksud Bunda, Len.” Bunda menatap Elena dengan serius.
Felicia sebenarnya sudah lama ingin membahas ini dengan Elena. Namun, ia menahannya. Mencoba percaya jika akan ada saatnya Elena datang padanya mengenalkan seorang pria yang nantinya akan berstatus sebagai calon suami dari Elena.
“Bunda gak akan terus menemani kamu. Begitu pun Elang. Yang Bunda maksud suami, Len. Kapan kamu akan memperkenalkan calon suami kamu sama Bunda?”
"Aku... sepertinya belum siap untuk menikah, Bun," jawab Elena dengan ekspresi tenang yang coba ia tunjukkan di saat hatinya sedang bingung untuk merespon pertanyaan sang Bunda. Karena sesungguhnya, ia tidak ingin menambah kekhawatiran Bunda.
"Kamu sudah mau kepala tiga, Len, apa yang bikin kamu gak siap?" Bunda memang bertanya dengan nada lembut tanpa intimidasi. Tetapi pertanyaan yang Bunda lontarkan bukanlah sesuatu yang siap Elena jawab. Hal ini sangat sensitif untuk dibahas oleh keduanya.
"Kamu sudah dewasa, Len. Karir kamu pun sudah berada di posisi bagus. Lalu apa lagi yang kamu kejar?" tanya Felicia sembari menatap Elena dengan tatapan sendu. Ia sebenarnya tahu apa yang menyebabkan Elena belum tertarik dengan pernikahan. Hanya saja, ia ingin mendengar itu dari bibir Elena.
Elena menelan salivanya susah payah. Di hadapannya kini, Bunda sedang menunggu jawaban dari dirinya. Ia berada di posisi sulit. Jika ia jujur, Bunda pasti terluka. Tetapi jika ia berbohong, ia yang akan mendapatkan masalah karena dihantui rasa bersalah.
"Apa karena pernikahan Bunda yang gagal?" Elena yang bungkam seperti ini, tidak akan mau bicara sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Elena memang seperti itu. Mengunci mulut dan menyimpan semuanya sendirian.
Elena hanya bisa menghela napas panjang. Ia masih diam di tempat tanpa mau menjawab pertanyaan Felicia. Membahas pernikahan, bagi Elena layaknya membahas masa depan yang entah akan berakhir seperti apa. Layaknya menjalani suatu perjalanan dengan seseorang yang bahkan tidak kita tahu ke mana arahnya. Tentang bagaimana belajar mempercayai seseorang sementara diri sendiri tidak pernah bisa menaruh kepercayaan pada siapapun.
"Len. Pernikahan Bunda dengan orang itu memang gagal. Tetapi gak dengan kamu. Kamu berbeda dengan Bunda. Kamu gak akan bernasib sama seperti Bunda." Felicia sudah menduga hal ini sedari lama.
Felicia tahu jika luka yang ia dan ayah Elena torehkan pada wanita itu sangat dalam. Terlebih itu terjadi di saat Elena masih kecil. Tidak menutup kemungkinan Elena trauma akan pernikahan jika ia melihat dengan mata dan kepalanya sendiri bagaimana seorang pria yang menjadi cinta pertama Elena dengan mudahnya mencurangi keluarganya sendiri. Memilih orang asing dibanding dirinya dan sang Bunda.
"Len. Bunda meminta kamu menikah bukan semata-mata hanya menuntut. Kamu tau itu kan?" tanya Bunda sambil meraih tangan Elena. Mengusapnya penuh kasih sayang.
"Kamu mau sampai kapan terus mengalah untuk keluarga ini? Kamu harus punya masa depan, Len. Kamu harus bangun masa depanmu dengan keluargamu sendiri." Jujur, Felicia takut jika Elena memutuskan untuk terus sendiri hingga tua dan kesepian pada akhirnya.
"Elena. Bunda gak pernah meminta apapun dari kamu. Kali ini aja, Len. Tolong kamu penuhi keinginan Bunda." Felicia menatap Elena dengan mata berkaca-kaca.
Elena buru-buru bangun dari duduk. Menghampiri sang Bunda dan memeluknya erat. Elena dan Felicia merasakan lukanya. Perasaan sakit yang mereka pendam selama bertahun-tahun. Perih yang tidak bisa digambarkan dengan kata, hingga mereka memilih mengubur semua kenangan yang dulu terasa sangat indah untuk mereka berdua, demi menjaga kewarasan tetap pada tempatnya.
Di dalam pelukan sang Bunda, Elena kemudian mengingat sinyal-sinyal yang coba Damar kirimkan padanya jika pria itu ingin hubungan mereka masuk ke tahap yang lebih serius. Elena bukan tidak membaca kode itu. Hanya saja ia belum… yakin?
Seharusnya sinyal-sinyal itu ia yang mengirimkan sebagai wanita. Seharusnya ia pula akan menerima sinyal itu dengan bahagia seperti wanita lain yang akan bahagia begitu kekasih yang lama ia pacari mengirimkan kode untuk segera menikah. Tetapi Elena… justru merasa bimbang dan menghindar.
Elena sekali lagi menghembuskan napas panjang. Berharap melalui udara yang masuk ke dalam paru-parunya, beban yang ia rasakan sedikit terangkat.
Apa ini saatnya gue terima ajakan Damar buat menikah?
***
Elena berusaha bekerja secepat mungkin agar bisa cepat-cepat pulang dan menyiapkan kejutan untuk sang kekasih yang hari itu kembali dari luar kota. Wanita itu bahkan menyempatkan diri membeli beberapa makanan untuk ia persiapkan di apartemen Damar. Karena selama ini Damarlah yang biasanya sibuk memberikan kejutan untuknya. Biasanya Damar yang memasakan makanan untuknya ketika mereka kencan, tetapi kali ini, biar Elena yang akan melakukannya.
Hari itu ia berniat menjawab pertanyaan Damar yang selama ini ia gantungkan. Pertanyaan tentang kesiapannya untuk hubungan mereka yang akan melangkah ke jenjang yang lebih serius. Malam itu ia akan menjawab kesediaannya. Elena sudah memantapkan hatinya semenjak semalam, semenjak pembicaraan antara dirinya dengan sang Bunda.
Langkah Elena mendadak gugup ketika mulai berhadapan dengan pintu apartemen pria yang telah menjadi kekasihnya itu. Jujur, ia tidak pernah datang sendirian ke apartemen Damar meskipun tahu kode akses untuk masuk ke apartemen kekasihnya.
Elena sempat mengehembuskan napas panjang guna menetralkan rasa groginya. Hari ini ia akan memantapkan hatinya untuk menerima permintaan Damar untuk menikah dengan pria itu. Walaupun masih ada sebersit rasa tidak yakin, tetapi ia akan mencoba, demi sang Bunda.
Elena berhasil masuk ke dalam apartemen Damar. Namun, langkahnya terhenti begitu melihat sesuatu yang terlihat janggal. Ia melihat ada sepasang sepatu wanita di depan pintu yang terlihat berserakan, seakan si pemilik terburu-buru melepasnya. Sepatu berhak tinggi berwarna merah itu membuat Elena berpikir. Seingatnya, Damar tidak memiliki adik perempuan. Atau... apa mungkin itu sepatu Ibu Damar? Tetapi dilihat dari bentuknya, Elena tidak yakin itu sepatu seorang wanita yang berusia lima puluh tahunan.
Elena mencoba menenangkan hatinya, ia berjalan semakin dalam memasuki apartemen Damar. Menyimpan kue dan beberapa barang yang dibelinya untuk menyiapkan kejutan bagi sang kekasih di pantry.
Saat langkahnya semakin masuk ke dalam, sebuah suara asing menyapa telinga Elena. Suara seorang pria yang ia yakini adalah suara Damar.
Untuk memastikannya, Elena mencoba menguatkan dirinya. Ia berjalan perlahan menuju asal suara dengan perasaan berdebar yang tidak biasa. Suara itu makin kencang terdengar ketika dirinya semakin mendekat ke arah kamar sang kekasih. Suara itu... terdengar tidak asing di telinganya. Terdengar seperti rintihan, tetapi juga ada decapan di sela rintihan itu.
Elena menelan salivanya dengan susah payah. Ia berusaha untuk tetap kuat berdiri, walaupun saat ini kakinya sudah gemetar. Dengan perlahan ia mendorong pintu kamar Damar yang tidak tertutup sempurna. Mata Elena membola. Degup jantung Elena berdetak lebih kencang. Wanita itu merasakan sesak ketika menyaksikan apa yang ada di depannya. Sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tidak. Ini… gak mungkin terjadi kan?
Elena sampai lupa untuk bernapas ketika melihat apa yang terjadi di depan matanya. Damar dan seorang wanita yang tidak Elena kenal, tengah asik memacu tubuh mereka bergerak dengan penuh nafsu.
Elena terdiam. Tubuhnya terasa beku hingga sulit untuk ia digerakan saking terkejutnya. Keadaan ini berbanding terbalik dengan Damar dan wanita itu yang justru makin semangat bergerak, mengejar puncak tanpa menyadari ada seseorang yang tengah memperhatikan apa yang Damar dan wanita itu lakukan dengan perasaan luka.
Suara serak penuh dengan hasrat memenuhi ruangan itu. Membuat kepala Elena pening tanpa bisa berpikir. Seakan ada seember es tengah menyiram tepat di atas kepalanya.
Jantungnya terasa sakit, bagai ditarik paksa dari rongganya. Namun lidahnya kelu untuk sekedar berteriak menyuarakan rasa sakitnya. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa orang yang Elena percaya melakukan hal ini padanya? Pertanyaan itu berulang kali muncul di kepalanya saat itu.
Hal itu membuat Elena merasakan perasaan jijik. Suara asing keduanya pun memenuhi rongga telinga Elena.
Mata Elena kini menatap Damar yang saat itu tengah memacu tubuhnya, kepalanya menengadah, merasakan hantaman rasa nikmat yang bisa Elena dengar dengan sangat jelas ketika pria itu memuji wanita yang berada di bawah kungkungannya makin menambah hancur hati wanita itu.
Perutnya bergejolak, seolah semua isi perutnya terdorong untuk segera keluar. Elena sudah berada di batas toleransinya.
Elena tidak mampu lagi menyaksikan ini.
Dengan wajah pucat ia memaksakan kakinya untuk segera pergi dari tempatnya berdiri. Dengan sekuat tenaga dia berlari keluar dari ruangan itu di tengah gempuran suara-suara Damar dan pasangannya yang terdengar berisik memenuhi telinga Elena.
Elena berlari sekuat yang ia bisa sambil menahan gempuran rasa mual dan degup jantung yang berdetak dengan kencang. Wanita itu itu akhirnya berhasil keluar dari apartemen Damar dengan tubuh gemetar.
Elena bahkan baru bisa menyadari jika kakinya terasa lemas akibat syok dengan apa yang baru saja terjadi. Dengan napas menderu, wanita itu berusaha untuk menenangkan pikirannya yang kalut. Sebuah mobil melaju tepat di depan Elena tanpa wanita itu sadari. Bahkan bunyi klakson yang sang pengemudi bunyikan tidak ia dengarkan. Kejadian itu terjadi begitu cepat. Elena yang sudah tidak bisa lagi menopang tubuhnya jatuh pingsan tepat di depan mobil itu.
Rasky, si pengemudi mobil tentu saja panik. Beruntung ia sempat menginjak rem sehingga mobilnya tidak menabrak wanita yang tiba-tiba jatuh pingsan tepat di depan mobilnya itu.
Merasa kasihan sekaligus bertanggung jawab, Rasky kemudian turun keluar dari mobilnya, mendatangi wanita yang terkapar tidak sadarkan diri di depan mobilnya. Tanpa membuang banyak waktu, Rasky menggendong tubuh Elena dan membawa wanita itu ke dalam mobil.
Rasky kemudian melajukan mobilnya keluar dari lokasi kejadian. Apa yang ia lakukan benar-benar ia lakukan tanpa pikir panjang, yang pria itu tahu adalah, dirinya harus segera menolong wanita asing itu. Hingga beberapa menit kemudian ia tersadar. “Lah, ini gue harus ke mana yah? kalau ke rumah sakit nanti bakalan ada wartawan,” gumam Rasky bingung. Dirinya yang seorang artis tentu sangat berisiko jika membawa wanita dalam keadaan tidak sadarkan diri seperti ini ke rumah sakit. Bisa-bisa ia menjadi santapan gosip esok pagi.
“Kalau anterin nih cewek pulang, gue gak tau alamatnya di mana," monolognya dengan perasaan bingung.
"Gue bawa balik aja kayaknya. Nanti sampai apartemen gue hubungi dokter," putus Rasky yang langsung mengarahkan mobilnya menuju apartemen miliknya.
Sesampainya di apartemen, Rasky langsung membaringkan Elena di kamar pria itu. Sejenak Rasky memandangi wajah Elena yang terlihat pucat, ada rasa yang tidak bisa pria itu deskripsikan saat itu. “Kasihan, Dia pucet banget. Apa yang baru aja lo alami sih, Mbak?” gumamnya tanpa sadar.
Pria itu kemudian bangkit dari duduknya, berniat untuk mengambil wewangian yang bisa membuat Elena tersadar.
Bertepatan dengan Rasky yang melangkah pergi, Elena tersadar dari pingsannya beberapa saat lalu. Dahi wanita itu berkerut kala menyadari ia bangun di tempat yang asing.
Matanya menyapu seluruh benda yang ada di ruangan itu dan berhenti tepat di sebuah foto besar yang menampilkan sesosok pria yang Elena kenal tertempel di dinding. Astaga! Gue ada di mana? Kenapa di sini ada muka dia? Gue harus kabur. Gue harus buru-buru pergi dari sini.
Baru saja Elena bergerak ingin pergi dari ruangan itu, ia justru dikejutkan oleh suara si pemilik ruangan. “Loh, kamu sudah sadar?” tanya Rasky yang saat itu tengah berjalan mendekat ke arah Elena. Mata wanita itu membola begitu menemukan Rasky ada di ruangan itu. Degup jantungnya berdetak cepat begitu melihat pria yang sangat ia benci berdiri tepat di hadapannya. Alarm tanda bahaya seolah berbunyi nyaring di kepalanya. Kabur Elena, lo harus segera kabur.
Elena buru-buru pergi keluar dari apartemen pria itu tanpa mau menjawab pertanyaan Rasky. Saat itu yang ada di pikiran Elena adalah cepat-cepat pergi dari tempat Rasky.
Rasky yang ditinggal pergi begitu saja, tentu merasa bingung dan panik. Pria itu secepat kilat mengejar Elena. Ia khawatir akan terjadi sesuatu pada wanita itu, mengingat mungkin saja kesadaran wanita itu belum pulih sepenuhnya sehingga berperilaku aneh seperti itu.
Beruntung, Rasky masih bisa menemukan Elena yang baru saja menaiki sebuah taksi. Tanpa pikir panjang, Rasky mengikuti ke mana taksi itu pergi. Ia begitu serius mengikuti taksi itu agar tidak kehilangan jejak dari wanita yang baru saja ia tolong itu.
Hingga taksi berhenti tepat di sebuah rumah dan Elena turun dari taksi tepat di depan rumah itu. Rasky memperhatikan Elena yang kini menatap rumah di hadapannya dengan wajah murung. Lalu, wanita itu sempat menghembuskan napas kasar, sebelum masuk ke dalam rumah itu.
Rasky yang menatap kejadian itu tentu saja bingung. Namun, pria itu merasa lega. Karena sudah memastikan wanita itu sampai di tempat yang aman.
Pria itu sempat terdiam beberapa lama di depan rumah Elena. Ia merasa ada yang aneh dengan dirinya saat ini. Tidak biasanya Rasky begitu peduli, terlebih pada orang asing. “Ini kenapa gue ikutin dia, yah?” monolognya begitu menyadari apa yang baru saja ia lakukan.
Diantara kebingungan yang Rasky rasakan, pria itu rupanya menyadari satu hal. Ada ketenangan yang ia rasakan begitu mengetahui wanita yang baru saja ia tolong sudah sampai dengan selamat. Juga… debaran yang aneh di dadanya. “Kok, gue jadi deg-degan gini, yah? Gak mungkin kan gue jatuh cinta sama tuh cewek?” monolognya sebelum akhirnya ia memilih pergi meninggalkan area rumah Elena dengan senyuman yang tebit di bibirnya.