Setelah perdebatan dan mendapatkan siraman rohani, Anindya langsung pamit jalan-jalan bersama Gilang. Mereka berdua akan menuju alun-alun kota yang terdapat banyak jajanan.
Alih-alih menyusul Lita, mereka berdua malah menuju alun-alun kota. Gilang tak kuasa menolak permintaan Anindya, bisa berabe nanti kalo Gilang tidak mendapat maaf dari sepupunya itu. Anindya memang paling pinter memanfaatkan keadaan.
Gilang hanya bisa pasrah, kalau seperti ini Anindya sangat gencar dalam mengincar uang Gilang yang baru di transfer Ayahnya. Tak apalah, penting nggak pergi ke mall, kemauan Anindya bejibun soalnya.
"Kalo si Lita marah gimana?" Tanya Gilang dengan wajah sok cemasnya, mulutnya tak berhenti mengunyah telur gulung yang dibelinya.
"Biarin, kita bawain dia es krim aja, luluh dia," Kata Anindya tanpa menatap wajah Gilang. Matanya tak berhenti menatap berbinar pada penjual jajanan masa kecilnya.
"Lo mau itu?" Gilang menunjuk pada penjual aru manis. Lalu pandangannya beralih pada Anindya.
Anindya menganggukkan kepalanya senang. "Mauuu, gih beliin." Anindya memerintah Gilang.
"Cosplay jadi babu lo kalo kayak gini, beli sendiri sono." Gilang menyodorkan dua lembar uang berwarna merah pada Anindya.
"Enggak mauuu."
"Lo yang mau bukan gue, jadi lo yang harus beli."
"Gilangggg."
"Apa?! Yang mau kan elu cielah, masa gue yang harus beli lagi..."
Anindya menggelengkan kepalanya. "Elu aja yang beli pokoknya, sekalian beli es krimmmm."
"Ck! Siap kanjeng ratu," Pasrah Gilang, kalau dilanjutkan bisa panjang perdebatannya.
"Iya babu," Balas Anindya tertawa senang.
"Babu matamu!"
°°°°°
Mobil Gilang berhenti dipertigaan komplek perumahan dekat sekolahan, Lita menghentak-hentakkan kakinya menghampiri Gilang dan Anindya.
"Heh! Kalian tahu nggak sih, gue nunggu kalian lama bangetttt. Mending gue tadi kagak usah bolos sekolah, nilai gue udah anjlok tambah anjlok. Kalian jemput gue pake ngaret segala, huh!" Omel Lita.
"Utututu, sini bestyy masuk dulu. Panas tahu diluar." Anindya menarik tangan Lita menuju mobil.
"Kalian berdua ke mana aja hah! Gue panas-panasan nunggu kalian, tadi gue juga nolak ajakan anak SMP waktu mau barengin gue!" Sembur Lita mengeluarkan segala unek-uneknya.
"Idih, anak SMP nggak tuh." Anindya tertawa dibuatnya.
"Udah-udah, maafin kita ya Lita cantik. Kalo marah-marah lo makin jelek deh," Ucap Gilang seraya menyodorkan kantong kresek yang dalamnya terdapat beberapa es krim.
"Ck! Lo niat muji gue atau ngejelekin gue sih, btw apaan?" Lita mengangkat sebelah alisnya.
"Buka aja deh, makan. Nyerocos mulu kaya mercon." Gilang menggelengkan kepalanya, mengendarai mobilnya santai.
"Lo tau nggak Anindya, setelah ceramah tadi berasa banyak dosa gue." Gilang memulai pembicaraan.
"Dosa lu emang bejibun kali." Lita menyahuti sembari menyomot 2 es krim ditangannya.
"Enak aja, lo juga ya! jangan munafik." Gilang tak terima.
"Lo mah, gue mau tobat aja setelah ini," Kata Lita.
"Kek nggak tau aja sifat lo, gegayaan tobat tapi besoknya balik lagi sama kelakuan yang nauzubillah." Respon Gilang tidak terkejut lagi ketika Lita mengatakan ingin tobat.
"Ya jangan gitu lah, Lang. kali ini gue serius kok."
"Makan tuh serius."
"Mikin tih siriis," Ejek Lita memonyongkan bibirnya.
"JODOH NIH, JODOHHH." Anindya bersorak setelah berdiam diri memperhatikan perdebatan Gilang dengan Lita.
"Gundulmu jodoh!" Lita melirik sinis.
Anindya tertawa terbahak. "Aminin napa?"
"GAK!!" Ucap Gilang dan Lita kompak.
"Nah, jodoh ini nih jodoh." Sorak Anindya, lagi.
"Apaan sih!! Nah sampai," Kata Gilang.
"Lo culik gue kemana?" Tanya Anindya beranjak keluar mobil.
"Enak aja dibilang nyulik," Kata Gilang sambil menyugar rambutnya.
"Ya ya ya, terserah lo." Anindya mengendikkan bahunya.
"Yuk masuk, gue tinggal baru tau rasa," Ajak Anindya antusias melihat Kafe yang belum pernah dimasukinya.
Mereka pun masuk ke dalam Kafe itu, entah kenapa saat ketiganya masuk semua pandangan langsung tertuju pada mereka.
"Duduk dipojokan deket jendela." Intrupsi Gilang.
Mereka mengambil posisi duduk dimeja pojokan deket jendela, meja favorit di manapun mereka berada.
"Gilang, Lo cowo kan?" Tanya Anindya melirik Gilang disebelahnya.
"Iyalah anjir! Baru nyadar?"
"Lo yang mesen ya, biar gentle gitu, ya nggak Ta." Anindya tersenyum senang.
"Iya dong, pasti."
"Siapapun ayo culik gue, gue ternistakan ini, gue tersakitiii," Ucap Gilang dramatis.
"Apa! Lo mau mati." Pekik Anindya kaget.
"Lo sarap? Yakali gue mau mati disini."
"Hilih, Gue kira Lo mau mati."
"Nyumpahin gue mati lo?"
"Gue kira dodol." Anindya menoyor kepala Gilang kesal.
"Sakit bambang."
"Sikit bimbing." Tiru Anindya menye-menye.
"Kalau diperhatikan, Lo emang jarang diperhatikan." Ujar Gilang meneliti tampang Anindya.
Anindya mendengus kesal. "Lo juga."
"Lo lebih jarang."
"Lo apalagi."
"Gilang!"
"Anindya!"
"Gil---"
"STOP!" Tiba-tiba Lita bangkit dan menggebrak meja. Pandangannya menatap sekitar, seketika malu-malu pada orang-orang di sekelilingnya.
"Kalian kenapa sih... Kalo ketemu mesti berantem mulu! Gue di kacangin lagi! Kacang mahal loh sekarang."
"Tadi marah-marah, sekarang malah bahas kacang." Gilang menggelengkan kepalanya.
"Lebay kau loh..." Kata Anindya.
"Humalabaik!" Balas Lita cepat.
Gilang tertawa terbahak. "Kok bisa pas ya."
"Iya yah," Ucap Lita dan Anindya kompak.
"Dih! ngikut-ngikut." Anindya menggerakkan bibirnya ke kanan dan kiri mengarahkan pada Lita.
"Situ kali yang ngikut." Balas Lita tak kalah menggerakkan bibirnya cepat.
"Lo yang ngikutinnnnn."
"Halah... Kalian berdua juga gitu, kalo ketemu mesti berantem dan gue di kacangin lagi! Kacang mahal."
"Itu kata-kata gue." Lita menatap tajam Gilang.
"Hehe, gue minjem dulu," Kata Gilang.
"Mana ada minjem."
"Cepet mesen, perut gue udah demo minta makan nih," Kata Anindya melirik Gilang.
"Iya-iya, gue mesen dulu." Ucap Gilang beranjak pergi memesan makanan.
"Eh Anindya, emang tadi Lo sama Gilang abis di ceramahin apaan? Sama siapa sihh? Kok gitu amat." Sifat kepo Lita mulai menampakkan dirinya.
"Ayah, Bunda gue. Biasa ceramah ibu-ibu pengajian."
"Nggak nyangka gue Bunda bisa kaya gituan, tausiyah apaan emang?" Lita segera menyiapkan telinganya untuk mendengar jelas ucapan Anindya.
"Tentang zina. Jujur aja hati gue rada tersentuh sih, tapi ya namanya juga Anindya, sebisanya aja dan berusaha menjadi lebih baik."
"Loh-loh, lo kok ngikut jadi gitu sih, kaya ukhti-ukhti."
"Ya ya ya, gue berusaha aja dulu, jalanin prosesnya." Anindya merubah posisi tangannya, menyilangkan di depan dada.
"Tumben pikiran lo nggak sesat, rahasianya apaan tuh." Lita menarik turunkan alisnya, seolah menanyakan 'apa'.
"Bunda ngancem mau masukin gue ke pondok pesantren, sebenarnya gue biasa aja sih nanggepinnya soalnya mana mungkin Bunda tega. Apalagi anak satu-satunya." Anindya mengendikkan bahunya sambil memperhatikan sekitarnya.
"Wagelasehh, bener banget sih apa kata lo." Lita bertepuk tangan.
"Tapi siapa tahu kan? Gue nggak bisa mastiin kedepannya bakal gimana kalau gue tetep ngerusuh di sekolah," Ucap Anindya memelas.
"Kalo semisal Bunda masukin lo ke pondok pesantren beneran, gimana?"
Brak!
Suaranya begitu keras terdengar oleh para pengunjung, Anindya dan Lita pun juga ikut mendengarnya.
"Suara apaan tuh?" Tanya Lita langsung berdiri dan menghampiri arah suara.
"Eh-eh, mau ke mana lo?! Ngapain ngurusin bukan urusan kita juga." Anindya menghembuskan napas lalu membiarkan Lita pergi begitu saja menuju ke arah suara.
Memang pada dasarnya Lita itu keras kepala, jadi tidak perlu memberikan nasihat padanya, buang-buang tenaga saja. Mending nungguin makanan sambil memainkan ponselnya.
Tak lama kemudian, Gilang datang bersama waiters yang membawakan sebagian makanan dan minuman yang dipesan Gilang.
"Sampai juga lo, lama banget sih persen makanan doang." Anindya menggerutu sebal.
"Eh, nyaii. Gue ini masih baik ya sama elu pada—eh! btw Lita ke mana?" Gilang menggerakkan kepalanya ke atas satu kali, seolah bertanya pada Anindya.
"Ngilang dia. Kepo banget sama suara keras tadi," Jawab Anindya sembari memilih-milih makanan yang akan ia makan. Sudah Hafal sekali Gilang soal makanan kesukaan Anindya sama Lita.
"Lah bego banget dah! Kan suara tadi asalnya dari gue, terus sekarang tuh anak ke mana?" Gilang mengarahkan pandangannya ke sekeliling. Orang-orang bahkan sudah tidak berkumpul lagi seperti tadi ketika ia tidak sengaja ditabrak oleh seorang lelaki. Lalu pertanyaannya di mana Lita sekarang?
"Mana saya tahu, saya kan tempe." Balas Anindya bodo amat.
Gilang hendak emosi, namun ia langsung sadar dan mengusap dadanya sabar menghadapi lawan bicaranya seperti Anindya. Lah, memang Anindya!
"Perasaan dari tadi lo suka banget khawatirin Lita deh. Apa jangan-jangan—" Anindya menyipitkan matanya menatap lurus Gilang yang mulai salah tingkah dilihatnya seperti itu.
"Jangan-jangan apa?! Gue nggak ada apa-apa yah sama curut kayak Lita!" Balas Gilang cepat, sebelum pikiran Anindya berpikiran yang 'iya-iya' kepadanya.
"Loh, emang siapa yang bilang lo sama Lita ada apa-apa?"
Gilang jadi kelimpungan sendiri. "Ya... Nggak ada sih." Jawabnya sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Lah iya, terus kenapa lo sampe bilang kayak gitu? Apa benar lo ada apa-apa sama Lita yah, ngaku!" Anindya menunjuk Gilang yang hanya diam saja.
"Kita itu udah jadi pren dari orok Gilang, lo masih mau main rahasia-rahasia sama gue?" Tanya Anindya, lagi.
"Halo gaess!! Kembali lagi bersama Lita... Ngomong-ngomong kalian bahas rahasia-rahasia apaan sih," Cerocos Lita datang-datang.
Gilang bisa bernapas lega selamat dari pertanyaan maut Anindya, namun kenapa pula si Lita nanya segala. Gilang gemes jadinya.
"Tanya noh sama orangnya." Anindya menunjuk pada Gilang.
Pandangan Lita beralih pada Gilang. "Apa, Lang?"
"Nama gue Gilang, G-i-l-a-n-g Gilang. Bukan lang-lang, dikira gue bolang apah," Ucap Gilang mengeja namanya. Lagaknya Gilang sedang mengalihkan pembicaraan.
"Udah biasa manggil gitu gue, nggak bisa diubah. Anggap aja panggilan kesayangan dari gue," Kata Lita mengedipkan sebelah matanya pada Gilang.
"Sa ae lu," Ucap Gilang menoyor kepala Lita pelan.
"Sakit tahu!" Lita mengelus bagian kepalanya.
Anindya hanya tertawa dengan kelakuan absurd mereka berdua.
"Kali ini gue baik, tapi nggak tahu kalau besok. Bisa-bisanya gue nabrak meja orang mana lagi bawa makanan banyak, tapi btw orang yang gue tabrak baik banget sumpah," Kata Gilang.
"Lebay deh lo." Anindya menepuk lengan Gilang.
"Emang beneran loh. Bayangkan aja kalo lo jadi laki-laki itu, udah gue tabrak, bajunya jadi kotor kan ketumpahan makanan yang gue bawa, terus dia yang gantiin makanan gue padahal dia nggak salah." Ujar Gilang kemudian duduk di tengah-tengah Anindya dan Lita.
"Terserah Lo deh, Lang. Yang penting gue bisa makan dan kenyang." Anindya tak perlu ambil pusing atas ucapan Gilang.
"Wihh..." Lita menatap berbinar menatap makanan dan minuman tertata rapi di meja. Terdapat croffle, beef bowl, milk tea, cinnamon roll, dan kwetiau.
"Tahu banget lu makanan kesukaan kita." Celetuk Anindya mengambil beberapa makanan. Gilang hanya berekspresi sangar dengan bangganya.
"Enak nggak nih?" Lita mengambil beef bowl lalu memakannya.
"Kamu nanya?" Ejek Gilang. Ia baru saja menemukan trend baru di Tik-tok nya.
"Mulai deh lo, iya gue bertanya-tanya!" Lita jadi gemas.
Gilang tertawa terbahak. "Nggak, gue bercanda."
Usai memakan habis makanan, Mereka bertiga tiba-tiba merasa ngantuk karena kekenyangan. Lagi pula juga sudah tidak mempunyai tujuan lagi mau ke mana.
Mereka bertiga memutuskan untuk pulang. Tak lupa membayar makanannya. Kini ketiganya sudah di parkiran hendak memasuki mobil Gilang, namun sebelum itu pergerakan mereka dihentikan oleh intrupsi Anindya.
"EH, STOP!!" Ucap Anindya.
"Kenapa?" Tanya Lita mengerutkan keningnya.
"Kata pak ustadz..."
"Apa?" Tanya Gilang tidak sabaran.
"Barang siapa yang ketinggalan?"
"Terus?" Tanya Lita yang juga makin penasaran karena Anindya tak kunjung melanjutkan perkataannya.
"Barang siapa yang ketinggalan?!" Ucap Anindya sedikit meninggikan suaranya karena temannya tidak peka-peka juga.
"Oh ya, tas gue ketinggalan..." Lita membulatkan matanya dan berlari kembali ke Kafe itu lagi.
Sembari menunggu Lita, Anindya bersama Gilang mencari tempat duduk disekitarnya.
"Woi!"
"Nah, itu Anaknya." Gilang menoleh ke arah Lita, begitu juga Anindya.
"Cepet banget lu." Anindya sedikit heran.
"Orang gue cuma ngambil tas doang, kaga berak dulu di sana." Lita mengangkat sebelah tangannya menunjukkan tasnya.
Allahu Akbar, Allahu Akbar...
Suara adzan terdengar jelas ditelinga Anindya.
"Sholat dulu kuy." Ajak Anindya langsung berjalan menuju mushola yang ada di dekat Kafe.
"Tumben." Gilang keheranan.
"Kan emang kewajiban seorang muslim itu sholat bukan?"
"Iya deh, ukhti."
"Ya iyalah ukhti, dari dulu emangnya gue ukhta?"
"Canda bos."
"Ayok sholat, karena sholat adalah suatu kewajiban yang harus kita kerjakan. karena kita butuh sholat, bukan Allah yang membutuhkannya." Terang Anindya sesekali bersenandung ria menuju mushola.
"Kalian tahu nggak?" Tanya Anindya menatap kedua temannya yang kini menggelengkan kepalanya.
"Amal ibadah yang lebih dulu di hisab adalah sholat."
"Kok Lo tau?" Tanya Gilang mulai antusias dengan arah pembicaraan Anindya.
"Keinget aja yang dikatakan Ayah sama Bunda sebelum gue tidur masa kecil."
"Daya ingat lo bagus juga." Gilang berucap sembari menyilangkan tangannya didepan dada.
"Gue udah tau sih, tapi lupa. Dan sekarang lo ingetin lagi" Respon Lita tersenyum bangga dengan perubahan Anindya yang dimulai dari hal kecil.
"Makanya ayo sholat dulu sebelum pulang." Ajak Anindya menggandeng tangan Lita dan Gilang menuju masjid.
"Bukannya kita bukan mahram ya." Celetuk Gilang menatap tangannya yang digandeng Anindya.
"Ups! Oh iya ya. Hehe." Balas Anindya dengan wajah watadosnya.
***
"Tenang rasanya kalau udah sholat." Celetuk Gilang merentangkan kedua tangannya. Berjalan menuju mobil.
"Langsung pulang aja habis ini," Ucap Anindya sembari menyelipkan rambut bayinya di belakang telinga.
"Terserah kalo gue mah." Balas Gilang.
"Gue ngikut," Kata Lita .
"Ups! maaf," Ujar seseorang dengan sengaja menyenggol lengan Anindya.
"Elo." Anindya membulatkan matanya terkejut oleh laki-laki yang menyenggol lengannya.
"Lo kok bisa disini juga?" Tanya laki-laki itu.
"Ini tempat umum, bukan milik Lo."
"Masa sih?" Katanya mengejek.
"Apaan sih Lo, Hafiz." Anindya memukul lengan Hafiz ringan.
"Hahaha, kangen lo ya sama gue..." Tebak Hafiz pede tingkat akut. Pasalnya mushola yang Anindya kunjungi dekat dengan apartemen yang Hafiz tempati.
"Nggak ya, gue cuma ke Kafe! Enak aja." Pekik Anindya.
"Hilih! Mana mau tersangka itu jujur," Kata Hafiz.
"Jangan halangi jalan gue Apizzz! Gue mau pulang." Anindya greget sekali.
"Kalau nggak mau?"
"Minggir! Lo apaan sih, kalau mau ngusilin Anindya besok aja disekolah gue jabanin." Lita merasa gerah dan lengket badannya, ingin cepat-cepat pulang kemudian mandi.
"Orang kayak gini terobos aja." Gilang mulai tak sabaran.
Anindya dan kedua temannya meninggalkan Hafiz yang tersenyum smirk dibelakangnya.
"Tunggu gue disekolah besok, Anindya."
"Bodo amat! Gue nggak denger," Balas Anindya jengkel.