Burung-burung telah berkicau di pagi hari. Matahari sudah terbit dari timur hingga masuk celah-celah jendela kamar orang yang sedang terlelap dalam tidurnya.
Alarm di nakasnya berbunyi, namun dihempaskan hingga hancur oleh pemiliknya. Sudah beberapa kali beli alarm namun nihil tidak ada yang selamat.
"ANINDYA, BANGUN... TELAT NANTI SEKOLAHNYA!!" Teriak Nisa, Bundanya.
"Apaan sih Bun... Anindya di skors tauuu, jadi nggak sekolah," Kata Anindya sembari menggeliat dalam tidurnya, mencari posisi yang lebih nyaman.
"Kamu tuh yah... Buat ulah apa lagi sampe di skors?!" Nisa duduk disebelah Anindya, menarik tangan putri semata goleknya.
"Anindya bully adek kelas," Jawab Anindya bangun dengan ogah-ogahan.
"Kenapa bully Adek kelas? Bisa-bisanya, Bunda nggak ngajarin ya!"
"Habisnya ngusik Anindya sih..."
Bunda menghela napas panjangnya. "Awas kalo besok-besok kena skors lagi, Bunda masukin kamu ke pondok pesantren tau rasa," Ucap Nisa saking gregetnya.
Anindya hanya memutar bola matanya malas, mana tega Bundanya memasukkannya di pondok pesantren. Anindya pun melanjutkan tidurnya yang sempat terusik lagi.
"JANGAN TIDUR LAGI ANINDYA!! ANAK SIAPA SIH? GEMES DEH."
"Bunda ih! Anindya masih ngantuk tadi malem begadang liat drakor, lagian nanti Anindya mau keluar," Ujar Anindya kembali bangun.
"Keluar kemana? Sama siapa?" Sergap Nisa cepat dengan pertanyaan.
"Biasa hehe, jalan-jalan sama sepupu," Jawab Anindya berjalan ke kamar mandinya.
"Dari pada jalan-jalan, mending ikut Bunda aja." Tawar Nisa.
Anindya membalikkan badannya seketika. "Kemana, Bun?" Tanya nya antusias. "Liburan kah?"
Nisa tersenyum tipis. "Ke pondok pesantren temen Ayah, mau ikut?"
Anindya mendengus. "Nggak nggak, Anindya nggak mau, nanti malah ribet disuruh pakai jilbab, pakai ciput, pakai baju syar'i dan apalah itu banyak banget peraturannya. Males."
"Udah Bunda tebak sih, pasti nggak mau ikut. Lain kali harus ikut, Bunda maksa," Nisa menyipitkan matanya, menatap Anindya.
"Iya Bunda... Tapi lain kali yaaaa."
"Alhamdulillah deh, akhirnya kamu mau juga." Nisa merubah ekspresi wajahnya menjadi sumringah.
"Lain kalinya dikali-kali ya, Bun!" Teriak Anindya kala Bundanya keluar kamar.
Anindya pun bersiap-siap sebelum Gilang—Sepupunya menyusul. Selesai mandi ia langsung berganti baju dan menggunakan make up natural.
Sambil menunggu dijemput, Anindya memainkan ponselnya yang tidak dibuka sedari semalam, kan kasian kesepian.
Anindya membuka room chatnya bersama Lita, teman lamanya.
Anindya: P
Litai: Nape nyai?
Anindya: Ikut gw yok
Litai: Kmn emg?
Anindya: jln sm Gilang
Litai: Lo lupa ato gmn dah, gw lg di sklh 🐕
Anindya: Gw gk lupa! gw cm nnya lo join kagak?
Litai: Klo iya macem mna keluar sklh ini bestyy😭
Anindya: Tnggl bobol pager blkng sklh ap sshny sih Ta!
Litai: Wah! Ajaran sesat
Anindya: Lo jadi gk sih! Ribet amat😑
Litai: Ya jadilah, Gw kan
Berperi ketemanan
Anindya: Gw tnggu di taman
Litai: Ya iyalah! Masa
Di toilet
(Read)
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Teriak Gilang sembari menyalimi punggung tangan Tantenya.
"Astaghfirullah, ampunilah ponakan saya ya Allah." Nisa menjingkat kaget mendengar teriakan ponakannya, anak dari kakaknya.
"Aamiin ya Allah..." Gilang meraup muka setelahnya.
"Anindya mana, Tante?"
"Anak Tante satu itu tuh! Kebo banget, Tante bangunin harus pake jurus-jurus yang manjur, baru bisa bangun," Ujar Nisa masih kesal dengan kejadian tadi.
"Curhat nih, Tan?" Tanya Gilang menaik turunkan alisnya tersenyum lebar.
"Nggak, cuci piring. Ya iyalah curhat."
"Iya deh, biar fast," Ucap Gilang sambil menuju sofa dan mendudukkan pantatnya.
Tak lama kemudian, seorang perempuan berjalan dengan riang menuruni tangga, lengkap dengan membawa tas ransel dan ponsel di genggamannya.
"Annyeong! Good pagi epribadehh!!" Teriak Anindya menyapa.
Bundanya hanya memutar bola matanya malas, sedangkan Ayahnya hanya menganggukkan kepala sambil melanjutkan makannya.
"Astaghfirullah Bundaaaa!!"
"Kenapa?"
"Bunda udah nggak sayang sama Anindya?" Tanya Anindya memasang wajah sedihnya.
Bundanya mengelus dadanya sabar. "Sayang banget PAKE BANGET, orang kamu anak semata golek nya Bunda."
"Anindya juga sayang Bunda deh." Respon Anindya mencium pipi Bundanya.
"Oh iya sayang." Panggil Bunda.
"Kenapa, Bun?" Balas Anindya dengan mata yang seolah menanyakan 'apa'.
"Jadi mau ikut Bunda nggak?" Tanya Bunda berharap yang keluar dari mulut Anindya adalah kata iya.
"Kan udah Anindya kasih tahu tadi, masa kurang jelas." Anindya memanyunkan bibirnya dan duduk dimeja makan.
"Mau jadi Sholihah nggak?"
"Iya, yang penting nggak jadi Sholihin tukang sayur nggak papa," Balasnya terkekeh pelan, sementara Gilang menepuk-nepuk pundak Anindya menyemburkan tawanya.
Emang mempunyai anak seperti Anindya membutuhkan ekstra sabar.
"Tahu zina? Zina adalah perbuatan yang buruk, sebuah perbuatan yang keji, jalan yang nggak benar, makanya kalau mau jadi Sholihah jangan pacaran. Kalau udah terlanjur sekarang juga putusin." Terang Bunda dengan kalimat panjangnya.
Anindya memposisikan tubuhnya menghadap Bundanya. "Iya, kalau Anindya nggak lupa. Hehe" Balas Anindya terkekeh pelan.
"Apa? Coba ulang."
"Iya-iya, Bun. Anindya insyaAllah nggak akan pacaran."
"Bagus, kalo sampe ngelanggar langsung Bunda nikahin."
Anindya menganggukkan kepalanya cepat. "Iya nggak papa. Tapi kalo suaminya ganteng, pinter, peka, kaya raya, sholeh, dan rajin menabung."
"Iya, itu mau kamuuuu."
"Aminin, Bundaaa."
Nisa menggelengkan kepalanya. "Bunda jelasin ya, singkat saja kalau dalam Islam, ada beberapa jenis zina yang perlu diketahui beserta perbedaannya. yaitu zina Al-Laman, zina muhsan dan ghairu muhsan."
"Kalau zina Al-Laman itu dilakukan oleh seseorang menggunakan panca indra. Rasulullah pernah bersabda yang artinya telah diterapkan bagi anak-anak Adam yang pasti terkena, kedua mata zinanya adalah melihat, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lisan zinanya adalah berkata-kata, tangan zinanya adalah menyentuh, kaki zinanya adalah berjalan, hati zinanya adalah keinginan atau hasrat, dan yang membenarkan dan mendustakan adalah kemaluan."
"Jadi kalau Anindya ngeliat cowo ganteng itu juga zina, Bun?"
"Kalau ngeliatnya hanya sekilas dan emang nggak sengaja tak apa, tapi kalau ngeliatnya lama... itu zina mata namanya." Bunda menjelaskan.
"Terkecuali sama mahramnya boleh-boleh saja, seperti Ayah, Bunda, Om, Tante." Tambah Niko, Ayah Anindya.
"Jauh-jauh sana lo, bukan mahram gue." Anindya mengibaskan tangannya dan menjulurkan lidahnya pada Gilang disebelahnya.
"Eh-eh, jangan gitu juga dong cielah."
Bunda dan Ayah Anindya tertawa dibuatnya.
"Terus kalau zina muhsan dan ghairu muhsan itu apa?" Tanya Gilang tak menggubris perkataan Anindya, menatap wajah Ayah dan Bunda Anindya.
"Zina muhsan itu bagi pasangan suami istri yang melakukan perselingkuhan hingga melakukan hubungan intim, jenis zina ini terjadi karena melibatkan alat kelamin yang bukan mahramnya."
"Sedangkan zina ghairu muhsan adalah jenis zina yang dilakukan oleh pasangan yang belum menikah atau belum resmi menjadi suami istri. Jenis zina ini sangat perlu dihindari, karena pasangan yang belum menikah dapat terhasut godaan dan hawa nafsu, sehingga melakukan perbuatan zina." Lanjutnya.
"Udah paham sekarang?" Tanya Bunda bersedekap dada menatap Anindya dan Gilang bergantian.
Anindya dan Gilang tersenyum sembari menganggukkan kepalanya kompak.
"Baik anak-anak, sekian materi hari ini, saya mau berangkat ke kantor dulu," Kata Ayah Anindya.
"Iya, pak guru." Balas Anindya.
"Dengerin kata Tulus, Om!" Intrupsi Gilang.
Ayah Anindya mengernyitkan dahinya dan menggerakkan alis sebelahnya.
"Hati-hati dijalan," Ucap Gilang tersenyum bangga.
"Siappp."
Anindya dan Gilang menyalimi tangan Niko sebelum berangkat.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
"Bunda." panggil Anindya setelah Ayahnya benar-benar hilang dari penglihatannya.
"Iya?"
"Anindya pamit jalan-jalan yah?"
"Yaudah hati-hati, Gilang jaga Anak Tante ya."
"Gampang Tan, bocah semprul kayak gini doang."
"Bilang apa lo!!" Mata Anindya membulat sempurna menatap Gilang tajam.
"Ampun deh, maapinnn." Gilang menumpu kedua tangannya meminta ampun.
Setelah perdebatan dan mendapatkan siraman rohani, Anindya langsung pamit jalan-jalan bersama Gilang. Mereka berdua akan menuju alun-alun kota yang terdapat banyak jajanan.
Alih-alih menyusul Lita, mereka berdua malah menuju alun-alun kota. Gilang tak kuasa menolak permintaan Anindya, bisa berabe nanti kalo Gilang tidak mendapat maaf dari sepupunya itu. Anindya memang paling pinter memanfaatkan keadaan.
Gilang hanya bisa pasrah, kalau seperti ini Anindya sangat gencar dalam mengincar uang Gilang yang baru di transfer Ayahnya. Tak apalah, penting nggak pergi ke mall, kemauan Anindya bejibun soalnya.
"Kalo si Lita marah gimana?" Tanya Gilang dengan wajah sok cemasnya, mulutnya tak berhenti mengunyah telur gulung yang dibelinya.
"Biarin, kita bawain dia es krim aja, luluh dia," Kata Anindya tanpa menatap wajah Gilang. Matanya tak berhenti menatap berbinar pada penjual jajanan masa kecilnya.
"Lo mau itu?" Gilang menunjuk pada penjual aru manis. Lalu pandangannya beralih pada Anindya.
Anindya menganggukkan kepalanya senang. "Mauuu, gih beliin." Anindya memerintah Gilang.
"Cosplay jadi babu lo kalo kayak gini, beli sendiri sono." Gilang menyodorkan dua lembar uang berwarna merah pada Anindya.
"Enggak mauuu."
"Lo yang mau bukan gue, jadi lo yang harus beli."
"Gilangggg."
"Apa?! Yang mau kan elu cielah, masa gue yang harus beli lagi..."
Anindya menggelengkan kepalanya. "Elu aja yang beli pokoknya, sekalian beli es krimmmm."
"Ck! Siap kanjeng ratu," Pasrah Gilang, kalau dilanjutkan bisa panjang perdebatannya.
"Iya babu," Balas Anindya tertawa senang.
"Babu matamu!"
°°°°°
Mobil Gilang berhenti dipertigaan komplek perumahan dekat sekolahan, Lita menghentak-hentakkan kakinya menghampiri Gilang dan Anindya.
"Heh! Kalian tahu nggak sih, gue nunggu kalian lama bangetttt. Mending gue tadi kagak usah bolos sekolah, nilai gue udah anjlok tambah anjlok. Kalian jemput gue pake ngaret segala, huh!" Omel Lita.
"Utututu, sini bestyy masuk dulu. Panas tahu diluar." Anindya menarik tangan Lita menuju mobil.
"Kalian berdua ke mana aja hah! Gue panas-panasan nunggu kalian, tadi gue juga nolak ajakan anak SMP waktu mau barengin gue!" Sembur Lita mengeluarkan segala unek-uneknya.
"Idih, anak SMP nggak tuh." Anindya tertawa dibuatnya.
"Udah-udah, maafin kita ya Lita cantik. Kalo marah-marah lo makin jelek deh," Ucap Gilang seraya menyodorkan kantong kresek yang dalamnya terdapat beberapa es krim.
"Ck! Lo niat muji gue atau ngejelekin gue sih, btw apaan?" Lita mengangkat sebelah alisnya.
"Buka aja deh, makan. Nyerocos mulu kaya mercon." Gilang menggelengkan kepalanya, mengendarai mobilnya santai.
"Lo tau nggak Anindya, setelah ceramah tadi berasa banyak dosa gue." Gilang memulai pembicaraan.
"Dosa lu emang bejibun kali." Lita menyahuti sembari menyomot 2 es krim ditangannya.
"Enak aja, lo juga ya! jangan munafik." Gilang tak terima.
"Lo mah, gue mau tobat aja setelah ini," Kata Lita.
"Kek nggak tau aja sifat lo, gegayaan tobat tapi besoknya balik lagi sama kelakuan yang nauzubillah." Respon Gilang tidak terkejut lagi ketika Lita mengatakan ingin tobat.
"Ya jangan gitu lah, Lang. kali ini gue serius kok."
"Makan tuh serius."
"Mikin tih siriis," Ejek Lita memonyongkan bibirnya.
"JODOH NIH, JODOHHH." Anindya bersorak setelah berdiam diri memperhatikan perdebatan Gilang dengan Lita.
"Gundulmu jodoh!" Lita melirik sinis.
Anindya tertawa terbahak. "Aminin napa?"
"GAK!!" Ucap Gilang dan Lita kompak.
"Nah, jodoh ini nih jodoh." Sorak Anindya, lagi.
"Apaan sih!! Nah sampai," Kata Gilang.
"Lo culik gue kemana?" Tanya Anindya beranjak keluar mobil.
"Enak aja dibilang nyulik," Kata Gilang sambil menyugar rambutnya.
"Ya ya ya, terserah lo." Anindya mengendikkan bahunya.
"Yuk masuk, gue tinggal baru tau rasa," Ajak Anindya antusias melihat Kafe yang belum pernah dimasukinya.
Mereka pun masuk ke dalam Kafe itu, entah kenapa saat ketiganya masuk semua pandangan langsung tertuju pada mereka.
"Duduk dipojokan deket jendela." Intrupsi Gilang.
Mereka mengambil posisi duduk dimeja pojokan deket jendela, meja favorit di manapun mereka berada.
"Gilang, Lo cowo kan?" Tanya Anindya melirik Gilang disebelahnya.
"Iyalah anjir! Baru nyadar?"
"Lo yang mesen ya, biar gentle gitu, ya nggak Ta." Anindya tersenyum senang.
"Iya dong, pasti."
"Siapapun ayo culik gue, gue ternistakan ini, gue tersakitiii," Ucap Gilang dramatis.
"Apa! Lo mau mati." Pekik Anindya kaget.
"Lo sarap? Yakali gue mau mati disini."
"Hilih, Gue kira Lo mau mati."
"Nyumpahin gue mati lo?"
"Gue kira dodol." Anindya menoyor kepala Gilang kesal.
"Sakit bambang."
"Sikit bimbing." Tiru Anindya menye-menye.
"Kalau diperhatikan, Lo emang jarang diperhatikan." Ujar Gilang meneliti tampang Anindya.
Anindya mendengus kesal. "Lo juga."
"Lo lebih jarang."
"Lo apalagi."
"Gilang!"
"Anindya!"
"Gil---"
"STOP!" Tiba-tiba Lita bangkit dan menggebrak meja. Pandangannya menatap sekitar, seketika malu-malu pada orang-orang di sekelilingnya.
"Kalian kenapa sih... Kalo ketemu mesti berantem mulu! Gue di kacangin lagi! Kacang mahal loh sekarang."
"Tadi marah-marah, sekarang malah bahas kacang." Gilang menggelengkan kepalanya.
"Lebay kau loh..." Kata Anindya.
"Humalabaik!" Balas Lita cepat.
Gilang tertawa terbahak. "Kok bisa pas ya."
"Iya yah," Ucap Lita dan Anindya kompak.
"Dih! ngikut-ngikut." Anindya menggerakkan bibirnya ke kanan dan kiri mengarahkan pada Lita.
"Situ kali yang ngikut." Balas Lita tak kalah menggerakkan bibirnya cepat.
"Lo yang ngikutinnnnn."
"Halah... Kalian berdua juga gitu, kalo ketemu mesti berantem dan gue di kacangin lagi! Kacang mahal."
"Itu kata-kata gue." Lita menatap tajam Gilang.
"Hehe, gue minjem dulu," Kata Gilang.
"Mana ada minjem."
"Cepet mesen, perut gue udah demo minta makan nih," Kata Anindya melirik Gilang.
"Iya-iya, gue mesen dulu." Ucap Gilang beranjak pergi memesan makanan.
"Eh Anindya, emang tadi Lo sama Gilang abis di ceramahin apaan? Sama siapa sihh? Kok gitu amat." Sifat kepo Lita mulai menampakkan dirinya.
"Ayah, Bunda gue. Biasa ceramah ibu-ibu pengajian."
"Nggak nyangka gue Bunda bisa kaya gituan, tausiyah apaan emang?" Lita segera menyiapkan telinganya untuk mendengar jelas ucapan Anindya.
"Tentang zina. Jujur aja hati gue rada tersentuh sih, tapi ya namanya juga Anindya, sebisanya aja dan berusaha menjadi lebih baik."
"Loh-loh, lo kok ngikut jadi gitu sih, kaya ukhti-ukhti."
"Ya ya ya, gue berusaha aja dulu, jalanin prosesnya." Anindya merubah posisi tangannya, menyilangkan di depan dada.
"Tumben pikiran lo nggak sesat, rahasianya apaan tuh." Lita menarik turunkan alisnya, seolah menanyakan 'apa'.
"Bunda ngancem mau masukin gue ke pondok pesantren, sebenarnya gue biasa aja sih nanggepinnya soalnya mana mungkin Bunda tega. Apalagi anak satu-satunya." Anindya mengendikkan bahunya sambil memperhatikan sekitarnya.
"Wagelasehh, bener banget sih apa kata lo." Lita bertepuk tangan.
"Tapi siapa tahu kan? Gue nggak bisa mastiin kedepannya bakal gimana kalau gue tetep ngerusuh di sekolah," Ucap Anindya memelas.
"Kalo semisal Bunda masukin lo ke pondok pesantren beneran, gimana?"
Brak!
Suaranya begitu keras terdengar oleh para pengunjung, Anindya dan Lita pun juga ikut mendengarnya.
"Suara apaan tuh?" Tanya Lita langsung berdiri dan menghampiri arah suara.
"Eh-eh, mau ke mana lo?! Ngapain ngurusin bukan urusan kita juga." Anindya menghembuskan napas lalu membiarkan Lita pergi begitu saja menuju ke arah suara.
Memang pada dasarnya Lita itu keras kepala, jadi tidak perlu memberikan nasihat padanya, buang-buang tenaga saja. Mending nungguin makanan sambil memainkan ponselnya.
Tak lama kemudian, Gilang datang bersama waiters yang membawakan sebagian makanan dan minuman yang dipesan Gilang.
"Sampai juga lo, lama banget sih persen makanan doang." Anindya menggerutu sebal.
"Eh, nyaii. Gue ini masih baik ya sama elu pada—eh! btw Lita ke mana?" Gilang menggerakkan kepalanya ke atas satu kali, seolah bertanya pada Anindya.
"Ngilang dia. Kepo banget sama suara keras tadi," Jawab Anindya sembari memilih-milih makanan yang akan ia makan. Sudah Hafal sekali Gilang soal makanan kesukaan Anindya sama Lita.
"Lah bego banget dah! Kan suara tadi asalnya dari gue, terus sekarang tuh anak ke mana?" Gilang mengarahkan pandangannya ke sekeliling. Orang-orang bahkan sudah tidak berkumpul lagi seperti tadi ketika ia tidak sengaja ditabrak oleh seorang lelaki. Lalu pertanyaannya di mana Lita sekarang?
"Mana saya tahu, saya kan tempe." Balas Anindya bodo amat.
Gilang hendak emosi, namun ia langsung sadar dan mengusap dadanya sabar menghadapi lawan bicaranya seperti Anindya. Lah, memang Anindya!
"Perasaan dari tadi lo suka banget khawatirin Lita deh. Apa jangan-jangan—" Anindya menyipitkan matanya menatap lurus Gilang yang mulai salah tingkah dilihatnya seperti itu.
"Jangan-jangan apa?! Gue nggak ada apa-apa yah sama curut kayak Lita!" Balas Gilang cepat, sebelum pikiran Anindya berpikiran yang 'iya-iya' kepadanya.
"Loh, emang siapa yang bilang lo sama Lita ada apa-apa?"
Gilang jadi kelimpungan sendiri. "Ya... Nggak ada sih." Jawabnya sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Lah iya, terus kenapa lo sampe bilang kayak gitu? Apa benar lo ada apa-apa sama Lita yah, ngaku!" Anindya menunjuk Gilang yang hanya diam saja.
"Kita itu udah jadi pren dari orok Gilang, lo masih mau main rahasia-rahasia sama gue?" Tanya Anindya, lagi.
"Halo gaess!! Kembali lagi bersama Lita... Ngomong-ngomong kalian bahas rahasia-rahasia apaan sih," Cerocos Lita datang-datang.
Gilang bisa bernapas lega selamat dari pertanyaan maut Anindya, namun kenapa pula si Lita nanya segala. Gilang gemes jadinya.
"Tanya noh sama orangnya." Anindya menunjuk pada Gilang.
Pandangan Lita beralih pada Gilang. "Apa, Lang?"
"Nama gue Gilang, G-i-l-a-n-g Gilang. Bukan lang-lang, dikira gue bolang apah," Ucap Gilang mengeja namanya. Lagaknya Gilang sedang mengalihkan pembicaraan.
"Udah biasa manggil gitu gue, nggak bisa diubah. Anggap aja panggilan kesayangan dari gue," Kata Lita mengedipkan sebelah matanya pada Gilang.
"Sa ae lu," Ucap Gilang menoyor kepala Lita pelan.
"Sakit tahu!" Lita mengelus bagian kepalanya.
Anindya hanya tertawa dengan kelakuan absurd mereka berdua.
"Kali ini gue baik, tapi nggak tahu kalau besok. Bisa-bisanya gue nabrak meja orang mana lagi bawa makanan banyak, tapi btw orang yang gue tabrak baik banget sumpah," Kata Gilang.
"Lebay deh lo." Anindya menepuk lengan Gilang.
"Emang beneran loh. Bayangkan aja kalo lo jadi laki-laki itu, udah gue tabrak, bajunya jadi kotor kan ketumpahan makanan yang gue bawa, terus dia yang gantiin makanan gue padahal dia nggak salah." Ujar Gilang kemudian duduk di tengah-tengah Anindya dan Lita.
"Terserah Lo deh, Lang. Yang penting gue bisa makan dan kenyang." Anindya tak perlu ambil pusing atas ucapan Gilang.
"Wihh..." Lita menatap berbinar menatap makanan dan minuman tertata rapi di meja. Terdapat croffle, beef bowl, milk tea, cinnamon roll, dan kwetiau.
"Tahu banget lu makanan kesukaan kita." Celetuk Anindya mengambil beberapa makanan. Gilang hanya berekspresi sangar dengan bangganya.
"Enak nggak nih?" Lita mengambil beef bowl lalu memakannya.
"Kamu nanya?" Ejek Gilang. Ia baru saja menemukan trend baru di Tik-tok nya.
"Mulai deh lo, iya gue bertanya-tanya!" Lita jadi gemas.
Gilang tertawa terbahak. "Nggak, gue bercanda."
Usai memakan habis makanan, Mereka bertiga tiba-tiba merasa ngantuk karena kekenyangan. Lagi pula juga sudah tidak mempunyai tujuan lagi mau ke mana.
Mereka bertiga memutuskan untuk pulang. Tak lupa membayar makanannya. Kini ketiganya sudah di parkiran hendak memasuki mobil Gilang, namun sebelum itu pergerakan mereka dihentikan oleh intrupsi Anindya.
"EH, STOP!!" Ucap Anindya.
"Kenapa?" Tanya Lita mengerutkan keningnya.
"Kata pak ustadz..."
"Apa?" Tanya Gilang tidak sabaran.
"Barang siapa yang ketinggalan?"
"Terus?" Tanya Lita yang juga makin penasaran karena Anindya tak kunjung melanjutkan perkataannya.
"Barang siapa yang ketinggalan?!" Ucap Anindya sedikit meninggikan suaranya karena temannya tidak peka-peka juga.
"Oh ya, tas gue ketinggalan..." Lita membulatkan matanya dan berlari kembali ke Kafe itu lagi.
Sembari menunggu Lita, Anindya bersama Gilang mencari tempat duduk disekitarnya.
"Woi!"
"Nah, itu Anaknya." Gilang menoleh ke arah Lita, begitu juga Anindya.
"Cepet banget lu." Anindya sedikit heran.
"Orang gue cuma ngambil tas doang, kaga berak dulu di sana." Lita mengangkat sebelah tangannya menunjukkan tasnya.
Allahu Akbar, Allahu Akbar...
Suara adzan terdengar jelas ditelinga Anindya.
"Sholat dulu kuy." Ajak Anindya langsung berjalan menuju mushola yang ada di dekat Kafe.
"Tumben." Gilang keheranan.
"Kan emang kewajiban seorang muslim itu sholat bukan?"
"Iya deh, ukhti."
"Ya iyalah ukhti, dari dulu emangnya gue ukhta?"
"Canda bos."
"Ayok sholat, karena sholat adalah suatu kewajiban yang harus kita kerjakan. karena kita butuh sholat, bukan Allah yang membutuhkannya." Terang Anindya sesekali bersenandung ria menuju mushola.
"Kalian tahu nggak?" Tanya Anindya menatap kedua temannya yang kini menggelengkan kepalanya.
"Amal ibadah yang lebih dulu di hisab adalah sholat."
"Kok Lo tau?" Tanya Gilang mulai antusias dengan arah pembicaraan Anindya.
"Keinget aja yang dikatakan Ayah sama Bunda sebelum gue tidur masa kecil."
"Daya ingat lo bagus juga." Gilang berucap sembari menyilangkan tangannya didepan dada.
"Gue udah tau sih, tapi lupa. Dan sekarang lo ingetin lagi" Respon Lita tersenyum bangga dengan perubahan Anindya yang dimulai dari hal kecil.
"Makanya ayo sholat dulu sebelum pulang." Ajak Anindya menggandeng tangan Lita dan Gilang menuju masjid.
"Bukannya kita bukan mahram ya." Celetuk Gilang menatap tangannya yang digandeng Anindya.
"Ups! Oh iya ya. Hehe." Balas Anindya dengan wajah watadosnya.
***
"Tenang rasanya kalau udah sholat." Celetuk Gilang merentangkan kedua tangannya. Berjalan menuju mobil.
"Langsung pulang aja habis ini," Ucap Anindya sembari menyelipkan rambut bayinya di belakang telinga.
"Terserah kalo gue mah." Balas Gilang.
"Gue ngikut," Kata Lita .
"Ups! maaf," Ujar seseorang dengan sengaja menyenggol lengan Anindya.
"Elo." Anindya membulatkan matanya terkejut oleh laki-laki yang menyenggol lengannya.
"Lo kok bisa disini juga?" Tanya laki-laki itu.
"Ini tempat umum, bukan milik Lo."
"Masa sih?" Katanya mengejek.
"Apaan sih Lo, Hafiz." Anindya memukul lengan Hafiz ringan.
"Hahaha, kangen lo ya sama gue..." Tebak Hafiz pede tingkat akut. Pasalnya mushola yang Anindya kunjungi dekat dengan apartemen yang Hafiz tempati.
"Nggak ya, gue cuma ke Kafe! Enak aja." Pekik Anindya.
"Hilih! Mana mau tersangka itu jujur," Kata Hafiz.
"Jangan halangi jalan gue Apizzz! Gue mau pulang." Anindya greget sekali.
"Kalau nggak mau?"
"Minggir! Lo apaan sih, kalau mau ngusilin Anindya besok aja disekolah gue jabanin." Lita merasa gerah dan lengket badannya, ingin cepat-cepat pulang kemudian mandi.
"Orang kayak gini terobos aja." Gilang mulai tak sabaran.
Anindya dan kedua temannya meninggalkan Hafiz yang tersenyum smirk dibelakangnya.
"Tunggu gue disekolah besok, Anindya."
"Bodo amat! Gue nggak denger," Balas Anindya jengkel.