Langit malam Jakarta tampak gemerlap, dipenuhi cahaya dari gedung-gedung pencakar langit dan lampu pesta yang menerangi sebuah ballroom mewah. Para tamu dalam balutan gaun mahal dan jas berkelas mengangkat gelas sampanye mereka, menikmati alunan musik klasik yang mengalir lembut di udara. Malam itu seharusnya menjadi malam bahagia bagi dua keluarga berpengaruh-tetapi bagi Adeline Vyantara, itu adalah awal dari kehancurannya.
Adeline berdiri di sudut ruangan, jemarinya meremas erat gelas kosong yang sejak tadi tak tersentuh. Dia tak pernah membayangkan dirinya berada di pesta ini, terlebih sebagai bagian dari rencana yang tak pernah dia setujui. Dia datang hanya sebagai tamu, sebagai undangan biasa. Namun, detik berikutnya, dia telah menjadi pusat perhatian.
Sebuah bisikan tajam menusuk telinganya.
"Pernikahannya batal."
Adeline menoleh, matanya bertemu dengan seorang wanita paruh baya dengan ekspresi panik. Sang pengantin wanita-saudara sepupunya, Celestine-telah melarikan diri di menit terakhir, meninggalkan calon pengantin pria dan keluarganya dalam aib yang tak tertahankan. Pernikahan yang seharusnya menjadi simbol kekuatan antara dua keluarga kini berantakan dalam sekejap.
Dan dalam kekacauan itu, hanya ada satu solusi yang tersisa.
"Kamu yang akan menggantikannya," suara dingin dan berkuasa itu datang dari ayahnya, Adriel Vyantara. Tatapan tajam pria itu menusuk langsung ke dalam jiwa Adeline, membuat napasnya tercekat.
"Tidak mungkin," bisiknya, tubuhnya menegang.
"Ini bukan permintaan," balas sang ayah dengan nada mengancam. "Ini perintah."
Adeline merasa tubuhnya membeku. Kepanikan menjalar ke seluruh nadinya. Dia bukan Celestine. Dia bukan yang seharusnya berdiri di altar itu. Namun, di sekelilingnya, tekanan semakin kuat. Pihak keluarga Mahendra menuntut jawaban. Mereka tak bisa membiarkan pewaris mereka dipermalukan.
Dan di tengah keributan itu, mata Adeline bertemu dengan sosok pria yang selama ini hanya dia kenal dari berita bisnis-Alaric Mahendra.
Tatapan pria itu gelap, penuh kemarahan. Rahangnya mengeras saat dia menatap Adeline seolah dia adalah duri yang menusuk harga dirinya.
"Kau pasti bercanda," suaranya rendah namun mengandung ancaman.
"Aku juga tidak ingin ini terjadi," Adeline membalas dengan suara bergetar, jantungnya berdetak tak beraturan.
Alaric melangkah mendekat, berdiri hanya beberapa inci darinya. Mata tajamnya menelanjangi Adeline, seolah menimbang apakah dia layak untuk menggantikan Celestine.
"Lalu kenapa kau masih berdiri di sini?" desisnya.
Adeline menggigit bibir bawahnya, menahan guncangan emosinya. "Karena aku tidak punya pilihan."
Beberapa jam kemudian, di ruangan pernikahan yang telah dihiasi dengan mawar putih, Adeline berdiri di pelaminan dengan gaun pengantin yang bukan miliknya. Cincin di jari manisnya terasa lebih berat dari yang seharusnya, seakan melambangkan beban takdir yang kini menghimpitnya.
Di sisinya, Alaric berdiri kaku, wajahnya tanpa ekspresi, tetapi sorot matanya penuh kemarahan yang tak terselubung. Pernikahan mereka telah resmi. Namun, tak ada senyum bahagia, tak ada ucapan selamat yang sungguh-sungguh.
Dan saat para tamu bertepuk tangan, hanya satu hal yang memenuhi benak Adeline-dia telah terjebak dalam pernikahan yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Adeline tak tahu bagaimana dia bisa berdiri di sini. Semua terasa seperti mimpi buruk yang belum berakhir.
Begitu pesta pernikahan selesai, tanpa banyak basa-basi, Alaric menyeretnya keluar dari aula pernikahan dengan genggaman dingin di pergelangan tangannya. Tak ada bulan madu, tak ada pelukan hangat atau kecupan mesra di dahi seperti yang didapat pengantin lain. Yang ada hanya sunyi yang menegangkan, udara yang dipenuhi ketegangan, dan seorang pria yang jelas-jelas membenci keberadaannya.
Dia duduk diam di kursi belakang Rolls-Royce hitam yang membawa mereka ke rumah baru mereka-bukan, bukan rumah mereka, tapi rumah Alaric. Tempat di mana dia sekarang terjebak dalam pernikahan yang bahkan tak pernah dia bayangkan.
"Jangan salah paham, Adeline," suara Alaric terdengar tajam, memecah keheningan di dalam mobil. "Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai istriku."
Adeline memalingkan wajahnya ke arah pria itu. Mata tajam Alaric menatap lurus ke depan, wajahnya datar, tetapi amarahnya begitu kentara.
"Aku juga tidak pernah meminta pernikahan ini," balasnya dingin.
Alaric menoleh, matanya menyipit seolah menilai setiap kata yang keluar dari mulutnya. "Bagus. Maka kita sudah sepakat."
Sepakat? Sepakat bahwa pernikahan ini adalah penjara bagi mereka berdua? Adeline mengepalkan tangannya di atas pangkuannya. Itu bukan kesepakatan-itu adalah hukuman.
Begitu mereka tiba di rumah Alaric-sebuah penthouse mewah di jantung kota-Adeline tak punya waktu untuk mengagumi keindahan interior modern yang mahal itu. Dia terlalu sibuk menahan detak jantungnya yang berdebar keras saat Alaric membuka pintu dengan kasar dan berjalan masuk, tanpa sedikit pun menoleh ke arahnya.
"Kamar utama adalah milikku," ucap Alaric tanpa menoleh. "Kau bisa memilih salah satu kamar tamu di lantai atas."
Adeline mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. "Aku tidak butuh belas kasihanmu."
Alaric berhenti melangkah, lalu berbalik, menatapnya dengan sorot mata penuh sindiran. "Belas kasihan?" Dia tertawa rendah. "Jangan salah paham. Aku hanya tidak ingin berbagi tempat tidur dengan wanita yang bukan pilihanku."
Kata-kata itu menusuk lebih tajam daripada yang seharusnya. Adeline mendongak, menolak untuk menunjukkan bahwa ucapannya berpengaruh padanya.
"Aku juga tidak ingin berbagi tempat tidur dengan pria yang menganggap dirinya terlalu berharga," balasnya, mencoba menahan emosinya.
Tatapan Alaric menjadi lebih gelap. Mereka saling menatap dalam diam, seakan saling mengukur seberapa dalam kebencian yang bisa mereka arahkan satu sama lain.
Akhirnya, Alaric tersenyum sinis. "Bagus. Kalau begitu, mari kita buat aturan."
Adeline melipat tangannya di dada. "Aturan?"
Alaric melangkah lebih dekat, membuat jarak di antara mereka hampir tidak ada. "Ya. Kau tidak menyentuh hidupku, dan aku tidak akan menyentuh hidupmu. Kau bisa tinggal di sini sebagai 'istriku' di depan publik, tapi di dalam rumah ini, kita adalah orang asing."
Adeline menatapnya tajam. "Sempurna."
"Dan satu hal lagi." Alaric mendekatkan wajahnya, suaranya semakin rendah. "Jangan pernah berpikir kau punya hak atas apa pun dariku. Bukan perhatianku, bukan waktuku, dan yang paling penting, bukan hatiku."
Jantung Adeline berdegup keras, tapi dia menolak mundur. Dia mengangkat dagunya, menatap pria itu tepat di matanya. "Percayalah, Alaric. Aku bahkan tidak ingin tahu apakah kau punya hati atau tidak."
Alaric tertawa kecil, suara yang penuh ejekan. "Selamat datang di rumahmu, Nyonya Mahendra. Semoga kau menikmati neraka kecil ini."
Lalu dia berbalik dan pergi, meninggalkan Adeline berdiri di tengah ruangan, sendirian, dengan beban yang kini terasa semakin menghancurkannya.
Adeline menatap bayangannya di cermin besar di dalam kamar tamu yang kini menjadi miliknya. Gaun pengantin yang masih melekat di tubuhnya terasa seperti belenggu yang mencekiknya perlahan. Setiap helaian kain putih itu terasa seperti simbol penghinaan, bukan kebahagiaan.
Tangannya terangkat, perlahan melepaskan tiara yang sejak tadi terasa berat di kepalanya. Rambut panjangnya yang semula ditata rapi kini berantakan, sama seperti hidupnya yang porak-poranda dalam satu malam.
Terlalu banyak hal yang terjadi. Terlalu cepat.
Dia datang sebagai tamu, tapi pulang sebagai istri dari pria yang bahkan tidak menginginkannya.
Tidak, bukan hanya tidak menginginkan. Alaric Mahendra membencinya.
Adeline mendudukkan diri di tepi tempat tidur. Matanya terarah ke jari manisnya, di mana cincin pernikahan berkilau dalam redupnya cahaya kamar. Tangannya terkepal. Jika dia bisa, dia ingin melepasnya, membuangnya jauh-jauh-tetapi dia tahu itu tidak mungkin.
Di luar sana, dunia melihatnya sebagai Nyonya Mahendra. Seorang istri dari pewaris paling berpengaruh di negeri ini.
Tapi di dalam rumah ini, dia tidak lebih dari seorang penyusup yang dipaksa masuk dalam hidup seorang pria yang tidak menginginkannya.
Dan dia harus bertahan.
Pagi pertama sebagai Nyonya Mahendra dimulai dengan cara yang jauh dari kata nyaman.
Ketika Adeline turun ke lantai bawah, aroma kopi yang pahit memenuhi udara. Dia menemukan Alaric duduk di meja makan, membaca koran dengan ekspresi serius.
Pria itu tampak sempurna dalam balutan kemeja putih dengan lengan tergulung, memperlihatkan pergelangan tangannya yang kokoh. Bahkan dalam sikap santainya, Alaric tetap terlihat seperti seseorang yang terbiasa memiliki kendali atas segalanya.
Termasuk kendali atas hidupnya.
Tanpa menoleh sedikit pun, Alaric berbicara. "Kita perlu membuat sesuatu menjadi jelas."
Adeline melangkah mendekat, duduk di kursi di seberangnya. "Apa lagi?"
Alaric melipat korannya, menatapnya dengan dingin. "Aku tidak ingin ada yang berubah dalam hidupku hanya karena kita terjebak dalam pernikahan ini. Jangan mengusik ruang pribadiku, jangan ikut campur dalam bisnis atau urusan pribadiku."
Adeline menyilangkan tangan di dada. "Itu sudah jelas."
"Dan satu hal lagi," lanjut Alaric, suaranya semakin tajam. "Di depan publik, kita harus berperan sebagai pasangan yang harmonis. Keluargaku, para media, dan para pemegang saham tidak boleh tahu bahwa pernikahan ini hanyalah omong kosong."
Adeline terkekeh sinis. "Jadi, aku hanya harus menjadi istri pura-pura di depan orang lain?"
Alaric tersenyum dingin. "Kau cukup pintar untuk memahami konsepnya."
Adeline mengangguk, lalu bersandar ke belakang. "Kalau begitu, aku juga punya aturan sendiri."
Alaric mengangkat alis. "Oh? Aku penasaran."
Adeline menatapnya tajam. "Aku tidak akan menjadi istri yang patuh dan tunduk padamu hanya karena kita menikah. Aku tidak akan mengikuti perintahmu, dan aku tidak akan membiarkanmu mengendalikan hidupku."
Alaric tertawa rendah. "Dan kau pikir aku peduli dengan apa yang kau lakukan dalam hidupmu?"
Adeline tersenyum sinis. "Bagus. Maka kita sudah sepakat."
Mata mereka bertemu dalam tatapan penuh tantangan. Mereka mungkin telah diikat oleh sebuah pernikahan yang tidak mereka inginkan, tetapi tidak ada yang akan tunduk begitu saja.
Pernikahan ini bukan tentang cinta.
Ini adalah perang.
Dan hanya waktu yang akan menentukan siapa yang akan memenangkan pertempuran pertama.