Sembari merajut, Suri bolak-balik memindai jam dinding di ruang tamu. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Namun Prasetyo, suaminya, belum juga pulang ke rumah. Suri gelisah. Biasanya paling lambat pukul tujuh malam Pras sudah sampai di rumah. Jikalau pun Pras meeting atau sekedar mengobrol dengan client, biasanya Pras akan mengabarinya. Memintanya untuk tidak menunggunya makan malam karena ia akan makan di luar. Tidak biasa-biasanya Pras seperti ini.
Suri meletakkan peralatan rajutnya. Ragu-ragu ia meraih ponsel di atas meja. Ia ingin menelepon Pras. Sebenarnya ia bukanlah type istri yang cerewet. Bukan pula type istri yang selalu ingin merazia suami sendiri. Hanya saja ia khawatir karena tidak ada kabar dari Pras, dari sore hingga malam seperti ini. Suri menimang-nimang ponselnya. Ragu-ragu antara ingin menghubungi Pras atau tidak.
"Aku tidak suka di telepon-telepon saat aku sedang mencari nafkah di luar rumah. Aku bukan anak kecil yang harus kamu beritahu kapan pulang dan beristirahat. Aku bisa mengatur diriku sendiri."
Saat Suri teringat akan pesan yang pernah diutarakan Pras, ia meragu. Ia takut kalau Pras memarahinya. Akhir-akhir ini Pras memang mudah sekali naik darah. Sedikit saja kesalahan yang tidak sengaja ia lakukan, akan berujung pada makian.
Ya, Pras yang sekarang sangat berbeda dengan Pras yang ia kenal sepuluh tahun yang lalu. Sepuluh tahun lalu Pras adalah sosok pemuda yang santun namun memiliki semangat juang yang besar. Mereka berdua berasal dari kampung yang sama, dan bersama-sama mengadu nasib ke ibukota. Bahkan melamar pekerjaan di tempat yang sama pula.
Bedanya adalah dirinya hanya tamatan SMP, sedangkan Pras seorang sarjana muda. Singkat cerita mereka pun akhirnya berpacaran karena seringnya bertemu. Bayangkan, kost-an mereka hanya berjarak beberapa meter dan satu perusahaan pula. Mereka berdua melamar pekerjaan di PT Adi Busana Eka Cipta. Sebuah pabrik garmen besar di ibukota. Yang berbeda hanya jabatan mereka saja. Dirinya adalah buruh jahit di perusahaan garmen tersebut, sementara Pras staff bagian pemasaran. Wajar posisi mereka berbeda. Karena keterampilan yang mereka miliki berbeda pula.
Setelah dua tahun berpacaran, mereka pun menikah. Dari pernikahan itu lahirlah seorang putra tampan nan cerdas. Prawira Prasojo namanya. Wira, demikian putra mereka biasa disapa adalah segalanya bagi mereka berdua.
Setelah memiliki Wira, Pras memintanya berhenti bekerja. Gaji sebagai buruh jahit tidak seberapa katanya. Lebih baik ia mengasuh putra mereka di rumah.
Suri kala itu menyetujui usul Pras. Toh perekonomian mereka sudah mulai membaik. Begitulah, Suri berhenti bekerja, dan mengurus rumah tangga seutuhnya setelah putranya lahir.
Tahun demi tahun berlalu. Karir Pras terus merangkak naik dan naik. Hingga akhirnya Pras dipercaya sebagai pimpinan tertinggi di perusahaan. Pras telah menduduki jabatan sebagai direktur utama PT Adi Busana Eka Cipta. Kedudukan tertinggi di bawah pemilik perusahaan. Pras sekarang bukanlah Pras yang hanya seorang staff bagian pemasaran lagi.
Ketika waktu menunjukkan pukul dua belas tepat, Suri tidak tahan lagi. Ia meraih ponsel dari atas meja dan menekan kontak Pras. Panggilannya tersambung, namun tidak diangkat oleh sang empunya ponsel. Hingga nada panggil habis, ponsel juga tidak kunjung diangkat. Suri mengulangi panggilan. Perasaannya tidak tenang sebelum mendengar suara suaminya. Suri adalah type orang yang tidak suka mengetik melalui aplikasi percakapan. Apa enaknya berinteraksi dengan ketikan bukan?
"Hallo!"
Suri kaget saat mendengar suara bentakan Pras. Ia menjauhkan ponsel sejenak. Berusaha menenangkan hatinya dulu baru berbicara. Terkadang nada suara dan bahasa yang tidak enak bisa memicu pertengkaran bukan?
"Hallo, Mas. Mas ada di mana? Sekarang sudah jam dua belas malam."
"Aku tahu ini jam berapa, Ri. Kamu pikir aku buta sampai tidak bisa melihat jam?"
Suri mengelus dada.
Sabar, Ri. Suamimu sedang mencari nafkah.
"Kalau Mas tahu, mengapa Mas belum pulang? Setidaknya mengabariku, Mas itu ada di mana. Aku khawatir, Mas."
"Aku mencari uang di luar, Ri. Melobby client. Bukannya duduk ongkang-ongkang kaki sepertimu di rumah. Jadi jangan cerewet. Aku akan pulang kalau semua urusanku sudah selesai."
Klik.
Suri masih memegangi ponsel kala Pras menutup panggilannya begitu saja.
Sudahlah, Ri. Setidaknya kamu sekarang sudah tahu kalau Pras baik-baik saja.
Suri menyimpan ponsel di saku celana. Setelahnya ia meraih bungkusan peralatan rajutnya dan menyimpannya ke dalam lemari. Ia sudah tidak berhasrat melanjutkan rajutannya lagi. Saat akan beristirahat ke dalam kamar, motifikasi ponselnya berbunyi. Wanti, rekan kerjanya saat sama-sama bekerja sebagai buruh jahit dulu mengechatnya. Sampai saat ini Wanti memang masih bekerja di sana. Hanya saja jabatannya sudah berbeda. Wanti sekarang sudah menjadi manager pemasaran. Bukan buruh jahit lagi.
"Sudah baikan belum sakit perutnya, Ri?"
Suri mengerutkan kening. Sakit perut? Mengapa Wanti mengira kalau dirinya sedang sakit perut? Namun tak urung Suri membalasnya juga. Ia ingin tahu dari mana Wanti mendapatkan kabar itu.
"Udah mendingan, Ti. Kamu kok tahu aku sakit perut?" Suri membalas chat Wanti sembari menyisipkan pertanyaan. Ia penasaran.
"Ya dari Mas Pras lah. Kami semua merayakan ulang tahun perusahaan beserta keluarga. Hanya Mas Pras yang datang sendiri. Makanya aku heran. Kata Mas Pras kamu sakit."
Pras membohonginya.
"Ya begitulah, Ti. Aku 'kan punya penyakut asam lambung. Terlambat makan sedikit saja, langsung kumat." Walau dadanya terasa nyeri, Suri mengikuti sandiwara yang telah dimainkan Pras. Ia masih ingin menjaga muka suaminya.
"Iya sih. Ehm, aku meneleponmu sebenarnya ingin menceritakan sesuatu. Tapi bagaimana ya, aku tidak enak mengatakannya."
Suri mengelus dada perlahan. Mempersiapkan mental agar siap mendengar apapun yang akan diceritakan oleh Wanti. Dirinya dan Wanti sudah saling mengenal lama. Oleh karenanya saat nada suara Wanti bimbang seperti ini, Suri sudah menangkap sesuatu. Bahwa apapun yang akan dikatakan oleh sahabatnya itu nanti bukanlah hal yang menggembirakan.
"Kamu ingin bilang apa, Ti? Katakan saja. Kamu ini seperti sedang berbicara dengan orang lain saja." Suri sedapat mungkin memperdengarkan nada suara yang biasa-biasa saja. Padahal denyut jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
"Begini ya, Ri. Entah ini hanya perasaanku saja. Tapi aku merasa sikap Pras terhadap Bu Murni agak-agak terlalu akrab untuk hubungan antara ehm atasan dan bawahan. Aku malah melihat mereka cenderung mesra. Seperti pasangan suami istri saja."
Degh!
Suri mengelus dada ketiga kalinya. Mendadak seperti ada jarum-jarum kecil yang menancap di sana. Nyeri sekaligus menegangkan. Berbagai macam syak wasangka berkecamuk di kepalanya. Murni Eka Cipta adalah pemilik perusahaan. Usia Murni hanya dua tahun di atas Pras. Status Murni janda beranak satu. Murni sudah berpisah lama dengan Pak Damar Adhiyatna.
"Mungkin itu hanya perasaanmu saja, Ti. Dari dulu Bu Murni 'kan memang selalu dekat dengan staff-staffnya. Dengan kita dulu juga begitu 'kan?"
"Aku tahu. Tapi kedekatannya dengan Pras, lain dari yang lain, Ri. Coba kamu bayangin, Bu Murni mengambilkan makanan dan minuman untuk, Pras. Pantas tidak itu, Ri? Aneh kan? Seperti suami istri saja!"
"Mungkin itu sebagai bentuk penghargaan Bu Murni pada Mas Pras. Kata Mas Pras, ia bekerja keras untuk kemajuan perusahaan akhir-akhir ini."
Suri mencoba menengahi kecurigaan Wanti. Ia bukannya tidak percaya pada Wanti. Ia hanya tidak mau suudzon. Ia harus memastikan kebenarannya terlebih dahulu sebelum menuduh seseorang. Semakin panas hatinya, semakin ia coba mendinginkan kepalanya.
"Ck! Itulah mengapa tadi aku ragu-ragu menceritakannya padamu. Kamu 'kan orang selalu berpikir positif, bahkan untuk sesuatu yang negatif. Penempatan pikiran positifmu itu terkadang terlalu berlebihan, Ri. Aku takut, saat kamu menyadari kebenarannya nanti, semuanya sudah terlambat. Aku mengatakan ini karena aku menyayangimu. Kita sama-sama anak rantau, Ri. Ya sudah, aku tutup dulu teleponnya. Pertimbangkan baik-baik kata-kataku ini, Ri. Tanyakan baik-baik pada Pras. Mencegah itu lebih baik daripada ke pengadilan kan, Ri?"
Pengadilan. Itu artinya Wanti serius dengan ucapannya.
Suri menutup ponsel dengan hati gelisah. Semoga saja apa yang dikatakan Wanti ini tidak benar adanya. Namun apa yang disarankan oleh sahabatnya itu akan ia tunaikan. Setelah Pras pulang nanti ia akan menanyakan kebenarannya.
Suara pintu pagar yang digeser seketika membuat kantuk Suri lenyap. Suri memindai jam dinding. Pukul tiga dini hari. Client seperti apa yang harus dilobby hingga pagi buta seperti ini?
Suri beringsut dari ranjang. Ia menggelung rambutnya asal, dan bergegas keluar. Ia bermaksud membantu Pras mengunci pintu pagar. Mbok Inah sudah tidur sedari tadi.
Suri membuka pintu utama tepat saat mobil Pras berhenti di depan garasi. Tergopoh-gopoh Suri membuka pintu garasi. Mobil Pras melaju dan langsung masuk ke dalam garasi dengan mulus. Suri bergegas berlari ke pintu pagar. Menguncinya dengan teliti. Suri menunggu hingga Pras keluar dari mobil. Ia bermaksud mengunci pintu garasi, setelah Pras keluar.
"Aku capek. Tolong ambilkan tas kerjaku di mobil. Aku mau mandi kemudian tidur. Aku tidak mau diinterogasi malam ini." Pras menyerahkan remote mobil dan melenggang masuk ke dalam rumah. Suri menerima remote mobil sembari mencium-cium udara. Aroma tubuh Pras yang melintas sangat tidak enak di hidungnya. Ada berbagai aroma bercampur baur di sana. Seperti aroma parfum, asap dan juga tembakau.
Namun seperti yang diinginkan Pras, Suri tidak banyak bertanya. Ia segera mengeluarkan tas kerja dan mengunci pintu mobil serta garasi. Setelah mengunci rumah sekaligus mematikan lampu ruang tamu, Suri tergopoh-gopoh ke kamar. Pras tadi bilang kalau dirinya ingin mandi. Untuk itu ia akan mempersiapkan baju ganti Pras seperti biasanya.
Ketika tiba di pintu kamar, Suri menghentikan langkahnya. Ia mendengar Pras tengah berbicara dengan seseorang di ponsel. Siapa yang menelepon Pras pada jam tiga subuh seperti ini?
Penasaran, Suri menempelkan telinganya pada daun pintu. Ia ingin mendengarkan pembicaraan Pras. Sebenarnya Suri tidak mau menguping. Hanya saja ia penasaran karena Pras berbicara dengan sangat pelan, hingga nyaris berbisik. Seolah-olah Pras takut kalau pembicaraannya terdengar oleh telinga lain. Telinganya tepatnya. Hal tersebut tentu saja membuat Suri makin penasaran. Dengan siapa sesungguhnya Pras berbicara?
"Aku juga baru tiba di rumah, Mur. Tidak masalah. Suri tidak akan banyak tanya. Aku bisa menanganinya. Dia 'kan tidak tahu apa-apa soal bisnis. Tidak masalah, Mur. Kamu boleh menelepon dan menanyakan apa saja dan kapan saja padaku. Ponselku dua puluh empat jam terbuka untukmu. Sama-sama, Mur. Selamat beristirahat juga."
Setelah tidak mendengar apapun lagi, perlahan Suri membuka pintu kamar. Ia memunguti pakaian kotor Pras yang menumpuk di sudut kamar. Seperti katanya tadi, Pras memang akan mandi.
"Siapa yang menelepon pukul tiga dini hari begini, Mas?"
"Kamu ini mau tahu saja urusan orang," omel Pras kesal.
Urusan orang kata Pras?
"Urusan orang? Orangnya itu 'kan suami sendiri. Wajar kalau aku ingin tahu, Mas," tukas Suri tegas. Statusnya adalah seorang istri. Ia berhak mengetahui urusan suaminya.
"Sudah! Jangan diperpanjang lagi. Aku mau mandi. Suami baru pulang bukannya disambut dengan senyuman, ini malah diajak ribut. Istri macam apa kamu?" Pras mendengkus sembari berjalan ke kamar mandi.
Istri macam apa kata Pras?
"Istri yang ingin mengetahui siapa yang menelepon suaminya pukul tiga dini hari. Jawab pertanyaanku, Mas?" Suri tidak mau mengalah. Sudah cukup beberapa bulan ini Pras memperlakukannya tidak selayaknya seorang istri. Selama ini ia terus bersabar dan menghibur diri. Mengucapkan dalam hati, bahwa Pras tengah disibukan oleh pekerjaan, makanya sikapnya tidak mengenakan. Ia terus merapal kalimat penghibur diri itu layaknya mantra setiap hari, agar dirinya tidak suudzon pada suami sendiri.
Tapi kali ia tidak mau sabar lagi. Pembicaraannya dengan Wanti tadi sesungguhnya sudah membuat hatinya ketar-ketir. Ditambah dengan sikap Pras yang menutup-nutupi pembicarannya dengan seseorang yang ia duga keras adalah Bu Murni, mengait emosi Suri. Kesabarannya telah sampai ke titik nadir. Malam ini ia mengkaji kesehatan dalam rumah tangganya ini. Apakah masih bisa dipertahankan, atau memang harus disudahi sampai di sini.
"Aku capek, Ri. Aku mau mandi dan istirahat. Apa kamu tidak bisa menunggu sampai besok pagi?!" Nada suara Pras makin meninggi.
"Untuk orang yang menelepon Mas tadi, Mas menyediakan waktu hingga dua puluh empat jam. Tapi untuk istri sendiri tiga menit saja tidak bisa ya, Mas?" Suri menembakkan amunisinya. Ia sudah mendengar semuanya. Ia juga sudah bisa menebak siapa perempuan yang menelepon Pras itu. Murni Eka Cipta. Ia hanya ingin menguji Pras saja. Apakah Pras akan jujur atau tidak. Kalau Pras jujur, itu artinya memang tidak ada apa-apa antara Pras dengan Murni. Tetapi karena Pras keukeh tetap ingin merahasiakannya, itu artinya memang ada apa-apa di antara keduanya. Kecurigaan Wanti memang berdasar.
"Kamu menguping pembicaraan orang, Ri?" Pras mengamuk.
"Sudah dua kali Mas menyebut diri sendiri dengan orang. Itu artinya Mas tidak merasa sebagai suamiku lagi." Suri tersenyum miris. "Apa memang Mas sungguh-sungguh sudah tidak ingin menjadi suamiku lagi? Katakan saja terus terang, Mas? Mas tahu 'kan kalau aku menyukai kejujuran?" tantang Suri lantang. Dengan sengaja ia menghadang langkah Pras yang ingin masuk ke kamar mandi.
"Baik! Yang meneleponku tadi memang Bu Murni. Bu Murni hanya ingin tahu apakah aku sudah sampai di rumah. Itu saja! Kamu ini, hal kecil begitu saja dipermasalahkan."
"Hal kecil?" Suri tertawa tanpa merasa lucu.
"Kalau itu memang hal kecil, mengapa Mas tidak langsung menjawab saja saat aku tanya tadi? Lagi pula apa pantas seorang atasan menelepon bawahannya hanya untuk menanyakan apakah bawahannya sudah sampai dengan selamat di rumah pada pukul tiga dini hari? Bawahan yang berlainan jenis lagi!" bantah Suri sengit. Sepertinya apa yang dikatakan Wanti tadi masuk akal juga. Hubungan Murni dan Pras terlalu mesra untuk status atasan dan bawahan. Lagi pula sejak kapan Pras memanggil Murni dengan namanya saja? Akrab sekali!
"Memang kenyataannya begitu! Kamu kan tahu sendiri kalau Bu Murni ini orangnya ramah. Apalagi terhadap karyawannya sendiri. Kamu jangan cemburu buta begini dong, Ri." Suara Pras mulai rendah. Sepertinya ia sadar kalau dirinya memang salah.
"Aku bukannya cemburu buta, Mas. Aku hanya mengemukakan fakta. Analoginya begini. Kalau benar apa yang Mas katakan, bahwa Bu Murni itu sangat ramah dan perhatian pada semua karyawannya, berarti Bu Murni akan menelepon setiap karyawannya setiap mereka lembur. Bayangkan, Bu Murni akan menelepon seratus tujuh puluh-an karyawannya setiap hari. Kira-kira itu masuk akal tidak Mas? Kalau menurutku sih tidak mungkin. Bayangkan 170-an orang karyawan. Apa nggak dower itu bibirnya Bu Murni? Satu lagi, sejak kapan Mas memanggil Bu Murni dengan panggilan Mur saja? Akrab sekali ya, Mas?" sindir Suri getas. Sindirannya sepertinya mengena. Karena air muka Pras langsung berubah. Ia terlihat serba salah.
"Sudahlah, Ri. Aku capek. Aku mau mandi dan tidur. Besok saja kita bahas masalah ini. Satu yang pasti, tidak ada apa-apa di antara aku dan Bu Murni. Percayalah. Kami dekat karena membahas masalah pekerjaan. Tidak ada hal lainnya. Percayalah padaku, Ri."
Suri memandangi wajah Pras dengan seksama. Ia tahu Pras berbohong. Karena selama mereka berbicara Pras tidak berani menatap matanya. Suri sangat mengenal gerak-gerik suaminya.
"Baiklah, kalau Mas tidak mau jujur, aku tidak bisa memaksa. Namun ingat satu hal ya, Mas? Jangan sampai aku mendengar kecurangan Mas dari orang lain. Kalau itu sampai terjadi, aku akan hitung-hitungan dengan Mas," ancam Suri dingin.
"Terserah kamu saja. Kamu mau hitung-hitungan dengan cara apa memangnya? Cerai? Mau jadi kamu kalau bercerai dariku? Tamatan SMP tidak ada artinya di ibukota ini. Paling juga menjadi buruh cuci."
Suri mematung. Ia sama sekali tidak mengira kalau ternyata Pras sangat memandang rendah pendidikannya. Padahal sewaktu Pras melamarnya dulu, Pras mengatakan bahwa pendidikan formalnya bukanlah yang utama. Karena pendidikan yang paling penting di matanya adalah pendidikan akhlak dan hati yang mulia. Makanya dulu ia bersedia menerima lamaran Pras. Karena di matanya, Pras adalah laki-laki baik yang bersedia menerima kekurangan dan kelebihannya. Tak disangka tak dinyana ternyata semua itu adalah bualan semata. Suri sakit hati mendengar hinaan Pras. Harga dirinya bagai dicampakkan seperti setumpuk kotoran.
"Maaf, aku tidak sengaja mengucapkannya. Aku sedang lelah lahir batin, Ri. Makanya ucapanku jadi tidak terkontrol."
Secepat mulut Pras berucap, secepat pula itunya ia meminta maaf. Suri tidak menjawab. Tapi kini ia sudah mengantongi satu hal. Bahwa selama ini Pras memang memandang rendah dirinya. Hanya saja ia menutupinya dengan baik. Dan kini pada saat emosinya terkait, maka semua yang dibatini Pras keluar dengan sendirinya. Bukankah sesuatu yang tidak sengaja terucap adalah kebenaran yang sesungguhnya? Karena apa? Karena sesungguhnya hal tersebut memang telah lama bersemayam di benaknya.
"Tidak masalah, Mas. Walaupun apa yang Mas katakan sangat melukaiku, tapi memang begitulah kenyataannya. Aku ini hanya lulusan SMP. Tetapi soal buruh cuci, aku tidak setuju Mas. Pemilik PT Sinar Mas, Eka Tjipta Widjaja, serta motivator Andri Wongso pun hanya lulusan SD. Tapi siapa yang tidak mengenal mereka berdua di negeri ini? Sementara para sarjana-sarjana hebat seperti Mas ini malah menjadi keroco di perusahaan-perusahaan yang menurut Mas orang bodoh tadi. Benar tidak, Mas?" tantang Suri. Ia memang bukan seorang sarjana seperti Pras. Tetapi, ia punya otak. Untuk itu ia akan menantang Pras beradu argumen. Zaman sekarang pengetahuan tidak melulu harus didapatkan melalui jalur formal. Internet dan kelas-kelas online telah bertebaran di mana-mana. Ia sudah lama belajar hal-hal baru melalui internet. Pengetahuannya sekarang semakin luas dan beragam. Ia sekarang mengetahui banyak hanya dari sebuah ponsel.
"Wah, sudah hebat ya kamu sekarang? Bisa membahas-bahas soal pemilik PT dan seorang motivator. Jangan-jangan besok-besok kamu akan diangkat menjadi tim sukses oleh salah seorang pejabat. Hehehe." Pras tertawa. Tapi tawanya adalah tawa mengejek yang menyakitkan hati.
"Jangan suka mengejek orang, Mas. Apalagi terlalu memandang ke atas. Takutnya kalau suatu nanti Mas jatuh, orang akan beramai-ramai menyukurinya," tukas Suri geram. Sikap Pras akhir-akhir ini sungguh keterlaluan. Penghinaannya sudah mulai terang-terangan.
"Dan siapa orang-orang yang kamu maksud itu? Dirimu sendiri bukan?" Suara Pras makin lama makin keras. Emosi membuat urat-urat di lehernya bersembulan.
"Kamu ini memang bodoh sekali! Bukannya mendoakan keberhasilan suami, ini malah menginginkan kejatuhannya. Dengar baik-baik. Kalau aku jatuh, maka kamu pun akan ikut sengsara juga. Buka otakmu lebar-lebar. Dibilang bodoh kamu tidak terima. Dibilang pandai, nyamuk pun tertawa mendengarnya. Sana, aku mau mandi. Menghalangi jalan saja." Suri nyaris terjengkang saat Pras mendorongnya dari pintu kamar mandi. Untung saja ia masih sempat menyeimbangkan tubuhnya. Air mata Suri menitik saat Pras membanting pintu kamar mandi di belakangnya.
Dengan kasar Suri menghapus air matanya. Ia harus melakukan sesuatu. Ia tidak mau terus dijadikan keset oleh Pras. Tapi untuk itu ia harus memperbaiki dirinya dulu. Ia harus memiliki senjata untuk menghadapi Pras. Karena berperang maju tak gentar tanpa persiapan, itu namanya bunuh diri. Ia tidak sebodoh itu. Bukan hanya pernikahan yang membutuhkan persiapan. Tetapi perceraian juga.
Suri menulusuri toko demi toko untuk mencari benang rajut yang sesuai dengan pesanan customer. Dari beberapa toko yang ia singgahi belum ada yang sesuai dengan keinginannya. Baik itu sesuai dengan jenis benang dan warna benang, atau sesuai dengan budgetnya.
Sudah dua bulan ini Suri mencoba memasarkan berbagai hasil rajutannya melalui marketplace dan media sosialnya. Ia memasarkan baju hangat, syal, selimut, topi, kaus kaki, dan juga tas yang lucu-lucu. Wanti yang mengusulkannya.
Wanti emosi saat ia menceritakan perseteruannya dengan Pras. Apalagi pada bagian Pras menghinanya hanya bisa menjadi buruh cuci kalau bercerai darinya. Wanti ikut panas dan mengusulkannya untuk mencoba mencari penghasilan sendiri, agar tidak lagi dihina-hina suami. Saat ia bingung harus bekerja apa, Wanti pun memberi satu ide cemerlang. Yaitu memanfaatkan keahliannya merajut untuk mendapatkan penghasilan.
Menurut Wanti ia bisa mencari penghasilan dengan memanfaatkan keahliannya merajut dan menjualnya melalui marketplace atau media sosial. Wanti juga menasehatinya untuk berani mencoba hal-hal baru, kalau tidak mau tergilas zaman. Pendidikan yang rendah tidak boleh membuatnya apatis terhadap perkembangan zaman. Semua orang bisa belajar, katanya lagi.
Dalam bidang pendidikan Wanti memang jauh lebih baik darinya. Wanti tamatan Sekolah Menengah Kejuruan Bisnis dan Manajemen. Dulu Wanti terpaksa menerima pekerjaan sebagai buruh jahit, karena belum juga mendapat panggilan kerja. Padahal sudah berpuluh-puluh surat lamaran yang ia layangkan pada perusahaan-perusahaan besar incarannya.
Satu-satunya perusahaan besar yang menerimanya adalah PT Adi Busana Eka Cipta ini. Makanya Wanti terpaksa menerima walau dengan posisi sebagai buruh jahit daripada ia menganggur. Hasil memang tidak akan menghianati usaha. Buktinya beberapa tahun kemudian Wanti sudah diangkat menjadi manajer pemasaran hingga sekarang.
Wanti terus menyemangatinya saat dirinya ragu akan kemampuannya berdikari. Menurut Wanti berniaga pada zaman sekarang sangat mudah. Ia tinggal memotret barang dagangan dan mengunggahnya pada marketplace atau media sosial. Barang yang ia jual juga bisa menggunakan sistem pre order atau pesanan. Jadi ia bisa berjualan dengan uang muka dari pemesan. Selain itu, ia juga tidak perlu takut kalau barangnya tidak laku. Karena memang sistemnya sudah dipesan terlebih dahulu.
Tertarik mendengar usul Wanti, Suri pun mulai mempraktekkannya. Ia menginstal sebuah marketplace ternama dan mengunggah barang-barang hasil rajutannya. Untung saja, ia memiliki cukup banyak stok rajutan. Ia menggunggah baju hangat, syal, selimut, topi, kaus kaki, dan juga tas tangan yang lucu.
Hasil uji cobanya mulai menampakkan hasil pada minggu pertama, dan terus meningkat setiap harinya.
Dalam kurun dua bulan ini dagangan ready stocknya sudah habis. Sekarang ia membuka pre order tas rajut lucu yang alhamdullilah banyak sekali peminatnya. Makanya ia sekarang sibuk mencari warna-warna benang yang sesuai dengan pesanan customernya. Suri sama sekali tidak menduga, kalau tas rajut yang polanya ia adopsi dari YouTube kini laris manis.
Selain itu demi memenuhi permintaan pasar, Suri juga merekrut beberapa teman sesama buruh jahitnya dulu. Dan lagi-lagi Wanti lah yang membantunya mengumpulkan teman-temannya itu. Ada lima orang penjahit yang bersedia membantunya merajut paruh waktu.
Mengenai hubungannya dengan Pras, saat ini mereka sedang dalam fase perang dingin. Mereka tidak bertengkar. Hanya saja mereka mengurangi intensitas kebersamaan. Masing-masing hanya berbicara seperlunya saja. Tidak ada lagi obrolan santai atau canda tawa seperti awal-awal pernikahan mereka dahulu.
Pras makin sering pulang malam dan tidak pernah mengabarinya lagi. Suri pun pasrah dan tidak berinisiatif untuk mencari tahu lagi.
Alih-alih mencemaskan Pras, Suri kini memanfaatkan waktu luangnya dengan hal yang lebih bermanfaat, yaitu merajut dan menguprade diri.
Setelah menyusuri hampir dua belas toko, Suri nyaris berteriak girang kala memindai warna-warna benang di toko terakhir. Ya akhirnya, ia melihat ada warna purple gold dan dragasi watercolors di pajangan kaca toko.
Pencariannya berakhir sudah. Semoga saja harganya juga bersahabat. Karena selain membeli benang-benang ia juga harus membeli media pendukung lain. Seperti pengait tas yang bagus, resleting dan segala hiasan-hiasan untuk mempercantik barang-barang rajutannya. Suri takut kalau uangnya tidak cukup.
Sudah dua bulan ini Pras mengurangi nyaris separuh jatah bulanannya. Pras beralasan kalau ia sedang mempunyai kebutuhan lain. Pras mengusulkan untuk memangkas hal-hal yang tidak perlu. Cukup tidak cukup, ya cukupkan saja, kalau menurut istilah Pras. Pada waktu itu Suri hanya mengangguk. Apalagi yang bisa ia lakukan bukan?
Sesuai dengan apa yang Pras intruksikan, Suri terpaksa memberhentikan Fahmi. Supir yang selama ini mengantar jemput Wira atau mengantarnya beraktivitas. Sebagai gantinya Suri sendirilah yang mengantar jemput Wira.
Pada awal Pras membeli mobil dulu, Suri memang sangat ingin belajar mengemudi. Pras sempat mengajarinya sebentar sebelum akhirnya menyerah. Pras ngeri melihat caranya mengemudi. Tanpa sepengetahuan Pras, Suri melanjutkan belajar mengemudinya melalui kursus mengemudi. Setelah tiga minggu belajar, Suri bisa mengemudi. Hanya bisa saja, tetapi belum mahir.
Waktu berlalu dan keuangan mereka pun semakin membaik. Ketika Pras mendapat fasilitas mobil dari kantor, Pras baru memperkerjakan Fahmi sebagai supir pribadinya dan Wira. Wira sudah mulai bersekolah playgroup waktu itu.
Suri yang masih berhasrat ingin bisa mengendarai mobil sendiri, sesekali meminta Fahmi menemaninya mengemudi. Demikianlah setelah tiga bulan berjalan, Suri bisa mengemudi dengan baik. Pras tidak mengetahuinya. Suri takut kalau Pras marah karena ia telah melanggar perintahnya. Suri tidak menyangka kalau pada akhirnya kemampuannya ini sangat berguna sekarang.
"Cari apa, Bu? Benang rajut ya? Ibu mau benang rajut jenis apa? Wol, nylon, aklirik, katun, rayon atau sutra?" Seorang pramuniaga yang ramah menghampiri Suri.
"Saya lihat-lihat dulu ya, Mbak? Ini yang berwarna purple gold dan watercolors berapa persatuannya ya?" Suri menujuk benang yang dicarinya. Toko ini seperti menjawab semua pencariannya. Warna dan semua jenis benang ada. Begitu juga media-media lain. Ada rantai tas, kancing tekuk tas, hiasan-hiasan, juga ring D untuk ujung tas. Keperluannya ada semua dalam satu toko.
"Benangnya seratus tiga puluh delapan ribu rupiah pergulungnya, Bu? Satu gulung 100 gram, 138 meter. Ibu mau warna yang mana saja?" tanya sang pramuniaga ramah.
Suri tercenung. Seratus tiga puluh delapan ribu rupiah pergulung. Sementara untuk membuat satu tas ukuran tiga puluh sentimeter dikali dua puluh tujuh sentimeter, ia membutuhkan empat gulung benang. Pesanan tasnya sebanyak lima puluh buah. Berarti ia membutuhkan sekitar dua ratus gulung benang. Nominal uangnya adalah dua puluh tujuh juta enam ratus ribu rupiah. Ia tidak memiliki uang sebanyak itu.
"Sebenarnya saya membutuhkan masing-masing seratus gulung untuk dua warna ini. Tapi karena sesuatu hal, saya membeli masing-masing warna lima puluh gulung dulu. Bisa, Mbak?" tawar Suri.
"Bisa saja, Mbak. Tapi saya tidak menjamin, saat Mbak ingin membeli lagi, stok benangnya bisa saja sudah habis. Karena warna purple gold dan watercalors ini sedang trend akhir-akhir ini. Banyak sekali pengrajin rajut yang mencarinya. Berhubung stoknya masih ada kenapa Mbak tidak membeli sesuai yang Mbak butuhkan saja," usul sang pramuniaga.
"Saya maunya juga begitu, Mbak. Tapi masalahnya uang saya tidak cukup." Suri tersenyum rikuh.
"Ambil saja dulu, Suri. Kamu bisa membayarnya apabila sudah memiliki uang nanti." Sebuah suara bariton terdengar dari balik punggungnya. Suri sontak berbalik. Ia penasaran dengan orang yang menyela pembicaraannya dengan sang pramuniaga.
Damar Adhiyatna! Mantan suami Murni Eka Cipta.
"Selamat sore, Pak Damar. Maaf saya tidak menyadari kehadiran Bapak." Suri membungkukkan sedikit tubuhnya. Kehadiran Damar membuatnya rikuh. Istimewa Damar mengetahui kesulitannya.
"Sore juga. Saya baru saja tiba di toko. Wajar kalau kamu tidak melihat kehadiran saya."
Suri hanya tersenyum kecil. Ia tahu harus bersikap bagaimana menanggapi kata-kata Damar. Damar dulu mengenalnya sebagai seorang buruh jahit di perusahaan mantan istrinya. Lantas sebagai istri Pras. Hubungan mereka hanya sebatas atasan dan bawahan. Makanya Suri kikuk. Walau mereka bukan atasan dan bawahan lagi, tetapi tetap saja, dalam hati Suri ada perasaan sungkan berhandai-handai dengan Damar. Ia merasa tidak selevel.
"Silakan melanjutkan acara belanjanya, Suri. Jangan sungkan, ini adalah toko salah seorang kerabat saya. Saya yang memasok semua bahan-bahannya. Jadi sudah pasti harganya lebih murah. Saya menemui pemilik toko dulu."
Suri mengangguk. Selanjutnya ia kembali melihat-lihat bahan-bahan rajutan. Ia memilih dua puluh lima buah rantai tas berwarna emas, dua puluh buah lima buah kancing tekuk tas, dan lima puluh buah ring D dengan warna yang sama. Ia berencana akan menyelesaikan dua puluh lima tas dulu. Setelah ia mempunyai cukup uang, baru ia akan membeli bahan-bahan lagi. Ia tidak mau berhutang. Apalagi berhutangnya dengan mantan suami Murni. Ia harus menjaga nama baik Pras di kantor.
"Tambahkan masing-maaing lima puluh gulung benang berwarna purple gold dan watercolors tadi, Sari. Jadi benangnya genap dua ratus gulung seperti yang dibutuhkan oleh Ibu ini." Damar kembali menyela saat pramuniaga yang dipanggil Sari itu tengah membungkus barang-barang belanjaannya.
"Eh tidak usah, Pak Damar. Saya--"
"Tidak apa-apa, Suri. Seperti yang saya katakan tadi, toko ini adalah milik salah seorang kerabat saya. Kalau kamu merasa tidak enak berhutang dengan kerabat saya, anggap saja kamu berhutang pada saya. Setuju?" tawar Damar lagi. Suri dengan cepat menggeleng. Ia memang tidak suka berhutang.
"Terima kasih atas tawarannya, Pak Damar. Tapi maaf, saya tidak ingin memulai usaha dengan hutang. Sekali lagi, maaf." Suri tetap pada pendiriannya.
"Baiklah. Saya tidak akan memaksa. Niat saya hanya ingin mempermudahmu saja. Saya permisi dulu." Damar mengangguk kecil sebelum meninggalkan toko. Suri balas mengangguk disertai senyum kecil. Suri memandangi punggung lebar Damar yang berjalan cepat di antara para pengunjung pasar.
Damar tidak berubah. Ia tetap sederhana dan membumi seperti sepuluh tahun lalu. Bayangkan seorang boss PT. Karya Tekstil Adhyatna ini, masih mau blusukan ke pasar-pasar. Mengecek toko-toko pelanggannya. Lebih jauh lagi, masih peduli pada mantan karyawati mantan istrinya.
"Ini saja barang belanjaannya, Bu? Tidak ingin menambah resleting atau hiasan pita-pita kecil lucu ini, Bu?"
Teguran sang pramuniaga memutus lamunan Suri.
"Cukup, Mbak. Nanti kalau ada yang kurang saya akan ke sini lagi." Suri mengeluarkan kartu debit. Ia membayar belanjaannya dengan DP pre order dari customer. Rencananya setelah menjual beberapa perhiasan pribadinya, baru ia akan membeli bahan-bahan lagi. Ia memang memiliki dua buah gelang yang dibeli dari hasil keringatnya sendiri. Kalau perhiasan-perhiasan dari Pras, ia tidak mau mengusiknya. Ia takut diamuk oleh Pras nantinya.
"Ibu parkir di mana? Biar karyawan toko saja yang mengangkat barang belanjaan Ibu. Lumayan berat soalnya." Sang pramuniaga yang ramah kembali mengusulkan hal yang sangat membantunya.
"Oh, kalau begitu Masnya bisa mengikuti saya saja, Mbak." Suri mencangklong tas di bahunya. Bersiap berjalan ke tempat parkir. Namun ia mengurungkan niatnya, saat merasakan ponselnya bergetar di dalam tas. Suri kembali membuka resleting tas. Mengeluarkan ponsel yang masih terus berdering. Ketika mendapati nama Mbok Inah sebagai pemanggil, jantung Suri berdebar. Ada apa Mbok Inah meneleponnya? Jangan-jangan terjadi sesuatu pada Wira?
"Ha--"
"Cepat pulang ke rumah ya, Bu? Bapak marah-marah karena Ibu memberhentikan Fahmi tanpa memberitahu Bapak. Cepat ya, Bu? Bapak benar-benar mengamuk ini!"