"Berapa harga mobil ini?" Moonela melihat mobil sport yang tersangkut di belakang dari kaca spionnya, lalu bertanya dengan getir, "Apa kita sanggup membayar ganti ruginya?"
Lillia membelalakkan matanya. "Kukira kamu sengaja menabraknya karena nggak suka melihat orang merebut tempat parkir."
"Aku panik, tapi nggak bodoh!" Mengingat harus mengganti rugi, ekspresi Moonela tampak sangat buruk. Lillia menarik rem tangan di mobil itu, lalu membuka pintu mobil. "Coba aku lihat."
Pemilik mobil sport itu juga turun dari mobil. Itu adalah seorang pria tampan setinggi 190 cm, dia mengenakan kacamata hitam dan hanya menampakkan setengah wajahnya. Hidungnya sangat mancung dan bibirnya berwarna merah segar. Dia menghentikan gerakan mengunyah permen karet saat melihat Lillia dan tersenyum. "Cantik, apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Kenapa kelihatannya kamu familier sekali?"
Lillia juga merasa orang ini sangat familier. Saat berjalan mendekatinya, dia baru menyadari bahwa orang ini adalah sahabat Claude, Cedron Rusli.
Cedron dan Claude tumbuh besar bersama. Namun, Lillia hanya pernah bertemu dengan pria ini sekali pada dua tahun lalu. Saat itu Claude mabuk, Lillia pergi menjemputnya, lalu bertemu dengan Cedron. Lillia melihat mobil sport dan wajah Cedron secara bergantian, lalu tersenyum tipis. "Cedron?"
Cedron tertegun sejenak, dia membuka kacamata hitamnya, lalu memicingkan matanya untuk menatap Lillia. "Cantik, kita pernah bertemu?"
"Aku Lillia."
Setelah termenung sejenak, Cedron baru mengingat nama Lillia. Dia berdiri tegak dan berkata, "Kak Lillia ...."
Lillia juga tidak banyak menjelaskan. Dia melihat sekilas mobil sport itu dan berkata, "Ini ...."
Cedron menepuk tangannya sendiri dan berkata, "Semua ini salahku! Aku buru-buru mau bertemu seseorang, jadi berebutan tempat parkir. Bukan masalah besar, nanti akan kuserahkan ke perusahaan asuransi saja."
Lillia tersenyum sejenak, lalu berkata, "Boleh saja, biaya perbaikannya nanti aku laporkan ke Claude."
Cedron langsung membalas, "Nggak perlu! Ini hanya masalah kecil, kamu teruskan saja apa yang ingin kamu lakukan!"
Lillia langsung berbalik dan pergi. Dia menatap Moonela yang berkeringat dingin dan berkata, "Kenapa masih bengong saja? Ayo pergi! Kita ke parkiran gedung seberang saja."
"Oh ... oke." Moonela tadi juga mendengar percakapan kedua orang itu di mobil, dia bertanya dengan ragu-ragu, "Kamu nggak takut dia bilang ke Claude nanti?"
"Nanti saja baru dipikirkan lagi, asalkan kita bisa aman dulu untuk saat ini." Lillia melanjutkan dengan cuek, "Kalau menghabiskan waktu dengannya, kita bukan hanya akan menghabiskan uang, tapi juga akan kehilangan klien."
Apalagi dinilai dari hubungan Cedron dan Claude, Cedron pasti tidak akan mempermasalahkan biaya kecil seperti itu. Setelah terdiam sejenak, Lillia kembali berpesan, "Setelah ke Queen nanti, kamu adalah Lorraine, aku adalah asistenmu."
Moonela tidak mengerti. "Kenapa begitu? Bukankah kalau begitu jadinya aku yang berjasa?"
Lillia memelototi Moonela. "Kamu bodoh ya? Bagaimana kalau Cedron ke Queen, lalu tahu bahwa aku ini Lorraine dan memberitahukannya pada Claude?"
Lillia tadi mengatakan bahwa dia baru menjanda! Kalau Claude sampai tahu Lillia adalah Lorraine, bukankah pria itu akan menghabisinya?
Moonela terdiam mendengarnya. Kedua orang itu memarkirkan mobil di gedung seberang dan berkeliling sejenak. Saat tiba waktunya pukul 3 siang, mereka baru berangkat ke perusahaan hiburan Queen karena merasa tidak akan sesial itu bertemu lagi dengan Cedron.
Saat staf resepsionis mendengar bahwa mereka adalah utusan dari Studio LMOON, wanita itu melihatnya sekilas dan bertanya dengan suara pelan, "Apakah kamu Lorraine?"
Lantaran merasa canggung, Moonela membeli sebuah kacamata hitam untuk menyembunyikan ekspresinya. Dia menjawab dengan suara rendah, "Ya, ini adalah asistenku."
Staf resepsionis itu langsung membawa mereka ke arah lift dengan wajah terkagum-kagum. "Presdir kami sudah lama menunggumu!"
Moonela hanya tersenyum, lalu berjalan masuk ke lift. Setibanya di depan pintu kantor presdir, mereka mendengar suara yang acuh tak acuh dari dalam ruangan, "Lorraine sudah datang?"
Lillia dan Moonela terkejut hingga mematung di depan pintu. Mereka saling bertukar pandang dengan Cedron yang berada di dalam ruangan. Moonela yang terlebih dulu bereaksi, "Halo Pak Cedron, aku Lorraine, sekaligus bos Studio LMOON, Moonela."
Cedron menjabat tangan Moonela, tetapi tatapannya tetap jatuh pada Lillia. "Ini adalah ...."
Moonela menjelaskan, "Ini adalah asistenku."
Cedron hampir saja tertawa terbahak-bahak, dia menoleh ke arah samping sambil mengejek, "Kak Claude, kamu sudah mau bangkrut ya?"
Mengikuti arah pandangannya, Lilla melihat sebuah sosok yang familier sedang duduk di sofa sambil membelakangi mereka. Meski hanya dilihat dari belakang, Lillia tetap bisa mengenali bahwa orang itu adalah Claude. Lillia tak kuasa mengerucutkan bibirnya. Memang benar kata orang, musuh bebuyutan selalu saja bertemu. Lantaran tidak sempat bertemu di kantor catatan sipil tadi, mereka akhirnya bertemu di sini sekarang.
Claude juga sedang memandangnya dengan tatapan curiga. Cedron mengalihkan pandangannya ke arah kedua orang itu secara bergantian, lalu berkata sambil tertawa, "Bu Moonela, kami sudah lama menunggumu. Silakan masuk."
Lillia mengalihkan pandangannya dan mengikuti di belakang Moonela untuk berusaha memainkan perannya dengan baik. Pada dasarnya, kerja sama antara Queen dan LMOON sudah ditetapkan. Langkah terakhir adalah persetujuan dari bos kedua belah pihak ini.
Meski Moonela bukan Lorraine yang sesungguhnya, dia cukup mengerti konsep desain karena tinggal dengan Lillia selama setahun lebih saat itu. Jadi, dia sama sekali tidak takut dengan pertanyaan apa pun yang akan diajukan.
Hanya dalam beberapa saat, mereka telah memasuki tahap penandatanganan kontrak. Cedron meletakkan kontraknya ke samping, lalu berkata, "Nona Moonela, kita nggak perlu buru-buru untuk masalah kontrak. Aku punya sebuah permintaan untukmu. Bisakah Anda mendesain sebuah gaun untuk temanku? Ini tidak termasuk dalam kontrak, jadi kamu bisa menetapkan harga sesuka hatimu. Asalkan bisa menyelesaikan gaun ini sebelum acara Met Gala perusahaan kami bulan depan saja sudah cukup."
Di ruangan seluas itu hanya ada Cedron dan Claude. Orang bodoh sekalipun tahu siapa yang dimaksud dengan "teman" itu. Moonela tersenyum dari luar, tetapi hatinya terus mengutuk. Pada akhirnya, dia berkata dengan sopan, "Pak Cedron, belakangan ini suamiku baru meninggal. Khawatirnya, hasil desainku nggak akan bisa memuaskan temanmu itu. Jangan merusak acara baikmu karena berita dukaku, sehingga memengaruhi pertemanan kita."
Usai bicara, Moonela langsung berdiri tanpa ragu-ragu sambil mengambil kontrak itu. "Karena Pak Cedron masih mau mempertimbangkannya, kalau begitu aku ambil dulu kontrak ini. Aku masih ada urusan lainnya, pamit dulu ya."
"Eh!" Cedron mengulurkan tangannya ingin menahan Moonela. Padahal dia hanya mengungkit masalah ini, tidak mengatakan bahwa dia tidak mau menandatangani kontrak. Namun, jelas sekali kedua orang itu tidak berniat untuk tinggal lebih lama lagi. Mereka langsung keluar begitu saja.
Cedron baru berhasil membuat janji temu dengan Lorraine setelah bersusah payah, tapi kini dia malah pergi begitu saja. Cedron menatap Claude dengan heran. "Lho? Kak Lillia adalah asisten Lorraine, kenapa kamu nggak cari dia untuk membantumu?" Kenapa Claude harus menggunakan koneksi sejauh itu?
"Kalian bertengkar?" Cedrom bergumam, "Nggak kelihatan seperti itu. Saat datang tadi, dia menabrak mobilku. Tatapannya masih kelihatan berbinar saat mengungkit namamu."
Claude membatin, 'Mana mungkin tatapan Lillia berbinar karenaku? Yang benar itu tatapan Lillia berbinar karena uangku.' Claude hanya meliriknya sekilas, lalu berkata, "Memang benar ayahmu nggak membiarkanmu mewarisi Keluarga Rusli."
Kalau tidak, perusahaan mungkin sudah hancur dibuatnya. Setelah berkata demikian, Claude mengambil jasnya dan langsung pergi.
....
Setelah keluar, Lillia bersin dengan kuat. Dia mengucek matanya dan bertanya-tanya apakah dirinya ini bersin karena kedua orang itu sedang memakinya di dalam.
Moonela segera melepas kacamata hitamnya dan menggerutu, "Apa-apaan si Claude itu. Kamu saja belum bercerai dengannya, dia malah nggak peduli sama sekali dengan pandangan orang. Memang benar keputusanmu untuk bercerai. Sebaiknya cepat jaga jarak dari pria berengsek sepertinya."
Watak Moonela memang meledak-ledak, tentunya dia juga tidak segan-segan saat memaki orang. "Hebat sekali dia bisa mencari istrinya untuk membuatkan gaun demi pelakor! Memangnya wanita itu pantas memakai gaun rancanganmu?"
Kehilangan klien besar seperti Queen ini membuat Moonela murka. Dia melemparkan semua kesalahan pada Claude. Lillia hanya tersenyum getir. Setiaap ucapan Moonela ini memang fakta yang menyakitkan, tetapi Lillia kini juga tidak merasakan apa pun lagi. Dia hanya ingin bercerai dengan Claude secepatnya.
"Sebaiknya kita cepat pergi. Kalau cedron mengejar kita dan minta ganti rugi mobil, kita akan rugi dua kali." Lillia menambahkan lagi, "Lagi pula, untuk apa kamu perhitungan dengan anjing sepertinya."
Saat Claude menyusul mereka, dia hanya mendengar ucapan Lillia yang terakhir. Seketika, ekspresinya langsung menjadi muram. Wanita ini sudah menggunakannya sebagai tameng, tapi malah mengatainya anjing. Besar sekali nyalinya.
Lillia dan Moonela tidak menyadari hal ini sama sekali. Mereka naik ke mobil sambil mengobrol. Moonela menyalakan mesin mobil, lalu buru-buru kabur. Saat di perjalanan, Moonela masih tidak merasa puas. "Oh ya, aku sudah mendapatkan undangan untuk Met Gala Queen. Nanti kita pergi sama-sama. Aku akan menghabisi pelakor yang berani menindasmu itu!"
Lillia terus tertidur, dia tidak mendengar apa pun. Saat terbangun, dia baru menyadari bahwa Moonela tidak memarkirkan mobilnya di depan pintu studio, melainkan di kompleks apartemen yang baru dibangun. Dia menatap Moonela yang sedang memainkan ponselnya di kursi sopir, lalu bertanya, "Ada klien?"
Melihatnya sudah bangun, Moonela melambaikan kunci di tangannya, lalu berkata, "Tentu, aku mau membawamu melihat dunia luar!"
Setelah turun dari mobil, Lillia baru menyadari bahwa Moonela bukan membawanya menemui klien. Ini adalah apartemen yang dibelikan Moonela untuknya secara diam-diam. Tempat ini terdiri dari tiga ruangan, tetapi cukup untuk ditinggali Lillia sendirian.
Moonela berkata dengan perhatian, "Kamu nggak bisa terus tinggal di studio. Tidurmu nggak nyenyak dan kurang aman di sana. Tempat ini dekat dengan studio. Kamu masih belum bercerai, aku takut pria berengsek itu akan merebutnya. Jadi, tempat ini masih di bawah namaku. Setelah kamu bebas nanti, aku akan menggantinya menjadi namamu."
Lillia memegang kunci itu, tidak tahu harus bagaimana bereaksi.
Moonela melambaikan tangannya. "Duh, uang ini semua hasil jerih payahmu. Kamu selalu mendapat bagian yang kurang setiap tahunnya. Kali ini anggap saja aku mengganti kerugianmu! Aku masih berharap sketsamu bisa membawa kesuksesan untukku!"
Mendengarnya, Lillia tidak lagi merasa sungkan. Dia menerima kunci itu dari Moonela.
Keesokan paginya, Lillia terbangun karena telepon. Begitu membuka ponselnya, ternyata ada 33 panggilan tak terjawab. Moonela meneleponnya 32 kali, sementara 1 lagi adalah panggilan dari Claude.
Lillia langsung menelepon Moonela, "Ada apa?"
"Nggak apa-apa, aku hanya mau mengingatkanmu untuk nggak usah sibuk bekerja sementara ini. Awalnya aku khawatir kamu nggak sempat menggambar desainnya. Tapi sekarang ternyata ada klien yang mengeluh gaun yang mereka pesan nggak sesuai dengan permintaan mereka. Mereka nggak mau uang mukanya lagi dan bersikeras mau meretur semua pesanan. Pakaian jadinya masih digantung di toko. Kerja kerasmu belakangan ini sia-sia."
Lillia mengerutkan alisnya. "Nggak sesuai dengan permintaan mereka?"
Setelah beroperasi selama ini, studio mereka belum pernah menemui masalah seperti ini. Studio mereka masih kecil dan reputasinya masih belum terlalu terkenal. Tidak mungkin ada merek ternama lainnya yang akan menargetkan mereka.
Lillia meremas ponsel di tangannya dengan erat. "Aku akan ke sana sekarang juga. Tunggu sebentar." Setelah itu, Lillia mengakhiri panggilan itu dan bergegas memanggil taksi untuk pergi ke studio. Di tengah perjalanan, dia masih membalas pesan dari Moonela.
Tiba-tiba, muncul notifikasi tweet baru di Twitter. Ternyata itu adalah tweet dari Nikita. Lillia telah lupa sejak kapan dia mengikuti akun media sosial Nikita dan entah apa tujuannya saat itu. Namun, dia mengeklik notifikasi itu.
[ Hal yang paling membahagiakan dalam hidup ini adalah ada orang yang mengorbankan segalanya untuk melakukan suatu hal untukmu. ]
Di bawahnya adalah swafoto Nikita, dengan latar gedung perusahaan Queen. Di bagian kanan bawah foto itu terlihat pundak seorang pria. Jas yang dikenakan pria itu terbuat dari bahan berkualitas tinggi, dengan desain yang sangat teliti. Hari ini, Lillia melihat Claude mengenakan jas ini di kantor Cedron.
Lantaran tidak bisa mendapat desain dari Lorraine, pria ini malah menghancurkan bisnis orang. Dia bahkan tidak mempertimbangkan nasib istri sahnya. Memang pria berengsek! Lillia menekan tombol unfollow, lalu mematikan ponselnya dengan gusar.
....
Saat ini, pekerjaan di studio sangat sibuk. Telepon terus berdering bersahut-sahutan. Saat mendengarnya, sebagian besar telepon itu adalah untuk meretur pembelian mereka.
"Apa kalian sudah menghubungi klien? Apa katanya?"
Moonela awalnya tidak ingin membuat Lillia khawatir. Namun, dia benar-benar tidak bisa mengendalikan emosi lagi saat melihat jumlah retur yang semakin bertambah. "Mereka hanya cari-cari alasan mengatakan desainnya nggak cocok. Aku susah payah mencari tahu dari langganan kita, katanya mereka menerima sejumlah uang dari orang. Lalu bertanya apakah kita menyinggung seseorang."
Siapa lagi yang bisa mereka singgung? Hanya Claude satu-satunya! Lillia bertanya dengan terus terang, "Berapa kerugiannya?"
"Semua pesanan itu adalah gaun yang dirancang khusus sesuai permintaan klien. Awalnya aku berencana akan membayar ke pihak pabrik setelah klien melunasi sisa pembayaran. Sekarang mereka nggak mau barangnya lagi. Kalau nggak dapat sisa pembayaran dari klien, kita nggak bisa melunasi utang ke pihak pabrik."
"Setelah ditotal, jumlahnya hampir 40 miliar ...."
Empat puluh miliar .... Mereka benar-benar bisa bangkrut kalau begitu. Lillia benar-benar kesal sekarang. Saat baru saja ingin mengatakan sesuatu, ponselnya tiba-tiba berdering. Ternyata itu adalah panggilan dari Claude.