"Taksi!"
Malam kian merangkak larut. Mungkin pesta sedang sangat meriah saat ini. Bisa saja sesi dansa berpasangan sedang berlangsung di sana. Membayangkan meriahnya pesta perusahaan, hati Elsa jadi sedih.
Sambil berdiri di tepi jalan kota yang tak jauh dari Hotel California, ia merajuk sambil menunggu taksi melintas.
Benar-benar miris sekali nasibnya. Padahal dia istri dari CEO Group Parker yang tersohor. Tak sepantasnya dia terbuang seperti ini.
Mestinya malam ini dia mengenakan gaun sutra yang mewah. Bisa saja gaun yang Landon pesan khusus untuknya. Dia akan jadi pusat perhatian para tamu di pesta, lalu berdansa mesra dengan Landon.
Sialnya semua itu cuma mimpi bagi Elsa.
"Hei, Nona? Saya harus antar Anda ke mana?"
Elsa tersentak dari lamunannya, sopir taksi sedang menatapnya heran sambil duduk menghadap kemudi mobil.
Elsa segera mengangguk. "Iya, Pak! Antar saya ke Bungalow Parker!"
"Bungalow Parker? Apa Nona bekerja di sana?" Sopir taksi bertanya lagi setelah Elsa duduk di kursi penumpang.
Bekerja?
Elsa terdiam.
Mungkin sopir taksi berpikir, jika dia bekerja di rumah Landon sebagai pelayan. Sial! sebagai seorang istri CEO, dia sama sekali tidak mencolok!
"Nona sudah lama bekerja di sana? Kalau ada lowongan, tolong ajak keponakan saya. Setelah lulus S1, dia cuma jadi beban." Sopir bicara lagi sambil mengemudikan mobil.
Elsa menarik nafas dalam-dalam. Sopir itu pasti menganggapnya pelayan. Dia bisa saja marah, tapi bibirnya terasa terkunci. "Hm, sebenarnya aku nggak kerja di bungalow itu," jawab Elsa perlahan.
Sopir terkesiap. "Oh, iya? Lantas mau apa kau ke sana? Apa mau minta sumbangan?"
Mendengarnya hati Elsa jadi jengkel. "Hei, aku ini istrinya Tuan Muda Landon! Putra tunggalnya Tuan Parker! Enak saja kau bilang aku mau minta sumbangan! Aku bahkan sudah tinggal di rumah itu selama lima bulan! Lima bulan, kau tahu?!"
Mendengar ocehan gadis itu sopir taksi tertawa geli. "Kau itu kalau mabuk jangan ngaco deh! Mana mungkin istrinya Tuan Landon tampangnya macam kau begitu? Mimpi saja kejauhan!" katanya meremehkan.
Elsa jadi sebal. Namun percuma juga dia terus berdebat dengan sopir taksi. Itu hanya akan membuatnya semakin terlihat rendahan.
"Setahu saya, istrinya Tuan Landon itu tinggal dan bersekolah di luar negeri! Kenapa kau tidak bercermin dulu sebelum membual?" Sopir geleng-geleng sambil tersenyum geli.
Hati Elsa terbakar amarah dibuatnya. Namun sebelum dia memaki Pak Tua itu, mobil tiba-tiba saja dihentikan. Dia jadi kaget dan heran.
"Ada apa? Kok berhenti di sini?" tanya Elsa.
Sopir tidak menjawab. Ia cuma menunjuk ke depan dengan dagunya. Terlihat oleh Elsa mobil Mercedes hitam yang memblokir jalan. Apa mereka para bandit? Tidak mungkin mobilnya sebagus itu!
Seorang pria keluar dari mobil itu seraya menyalakan api rokoknya. Mata Elsa terbelalak melihatnya.
Itu Landon?
"Seret dia keluar!"
Dua orang pengawal segera maju setelah mendapat perintah. Sementara Landon cuma duduk di bagian depan mobil mewah itu sambil sibuk dengan rokoknya.
"Hei, keluar kau!"
Kaca mobil dipukul-pukul. Sopir taksi mulai panik. Ia melirik ke belakang di mana Elsa juga tampak sedang ketakutan.
"Cepat keluar, Nona Elsa!"
Para pengawal mulai bersikap kasar. Jika Elsa tidak segera keluar maka mereka bisa saja membakar mobil taksi itu.
"Nona, cepat temui mereka!" Sopir taksi memohon pada Elsa.
Meski ragu gadis itu mengangguk. Sopir segera tancap gas setelah Elsa menutup pintu dari luar. Melihatnya dari jarak sekitar lima meter, Landon tersenyum penuh misteri.
Dijatuhkan puntung rokok di tangannya, lalu Landon menginjak benda itu dengan pantofel mewahnya. Dengan gagah ia berjalan menuju pada Elsa. Tangannya menyambar sebuah benda tumpul yang sedang dipegang oleh seorang pria.
Bug!
Bug!
"Uhuk! Uhuk!"
Elsa batuk-batuk, tubuhnya sudah tergolek di tanah berdebu. Ia tak bertenaga lagi setelah Landon memukulinya dengan membabi buta. Sementara tiga orang pria tetap berdiri mengelilingi dan menonton aksi gila bos mereka terhadap istrinya.
Burung malam yang hinggap di dahan kering pohon pinus melihat segalanya, perbuatan keji orang-orang itu terhadap Elsa.
Mereka menyiksa seorang gadis tanpa belas kasih. Elsa memiliki tubuh yang amat kecil dan lemah, mana mampu ia melawan para iblis itu.
Matanya yang berdarah terangkat berusaha menggapai wajah pria itu. Sinar lampu mobil menyoroti tubuh tinggi Landon. Seringai penuh kepuasan terbit di bibirnya.
"Wanita busuk! Atas perintah siapa kau datang ke pesta ku, hah?!"
"Arkh!"
Wajah penuh luka dan darah itu terpaksa mendongak saat genggaman kuat Landon menjambak rambutnya yang lembab dibasahi darah. Elsa meringis kesakitan. Matanya beruasha mengincar tatapan pria itu.
"Aku cuma ingin berikan ini ..."
Elsa merogoh ke saku blazer merah yang dikenakan, lalu menunjukkan secarik kertas ke wajah Landon dengan jari gemetaran.
Dengan cepat Landon menyambar kertas itu lalu merobek-robeknya. "Persetan! Kau mestinya tahu di mana posisimu! Kau sangat jelek dan tak punya otak! Kau tak pantas menjadi istri seorang Parker, apalagi muncul di pesta ku!" Ia berteriak ke telinga Elsa, satu detik sebelum melempar gadis itu ke tanah.
Debu-debu berterbangan saat tubuh lemas Elsa ambruk di antara rerumputan kering. Di bawah kesadaran yang kian memudar ia mencoba menangkap bayangan tinggi yang mulai menjauh darinya.
"Landon, tunggu aku ... jangan tinggalkan aku ..."
Dia berkata dengan suara yang tercekat di tenggorokan. Tangannya yang berlumuran darah terangkat seolah memanggil pria itu untuk kembali.
Landon mungkin tidak tuli, tapi dia tidak akan berbalik meski mendengar rintihannya.
Pria itu sangat kejam dan psikopat. Elsa tidak tahu banyak tentang Landon. Mereka menikah begitu saja setelah asisten Landon memberikan banyak uang kepada orang tua angkatnya.
Tidak ada kata romantis yang pernah Landon ucapkan padanya. Bahkan malam pernikahan yang semestinya penuh gairah dan cinta, harus Elsa lalui dengan penyiksaan dan tangisan kesakitan.
Setelah menikah, Landon mengurung Elsa di sangkar emas yang disebutnya Bungalow Parker--rumah mewah puluhan juta dolar yang menurut Elsa bagaikan neraka.
Elsa hanya gadis dari desa kecil yang terisolasi dari gemerlap kota. Pendidikannya yang minim membuat Elsa kesulitan memahami apa yang sebenarnya sudah terjadi padanya.
Menjadi istri seorang CEO muda, kaya raya dan tampan, Elsa pikir dia akan bahagia bersama Landon. Nyatanya hanya hinaan dan kekerasan yang ia terus rasakan.
Tidak mungkin Landon jatuh cinta padanya saat pertama kali melihatnya di festival kembang api, seperti ucapan asistennya sewaktu menemui Elsa.
Semua itu bohong! Landon tidak pernah mencintainya! Semuanya omong kosong!
Namun mengapa Landon menikahinya, lalu menyiksanya?
Apa salahnya?
Apa karena dia jelek dan tak punya gelar? Jika benar, kenapa baru sekarang Landon menyadarinya?
Mengingat semua itu, batin Elsa meraung-raung. Dia akan dibuang setelah benar-benar merasakan jatuh cinta. Kemudian mati dalam tekanan yang menyedihkan.
Dan sebelum kesadaran itu pergi daripadanya, tiba-tiba saja ada pantulan sinar terang yang membidik ke wajah Elsa. Sebuah mobil menepi di seberang jalan. Dua mobil di belakang turut berhenti karenanya.
Entah siapa mereka. Mungkinkah Landon menyesali perbuatannya? Pria itu kembali untuk meminta maaf dan melarikannya ke rumah sakit? Benarkah begitu?
Dengan tubuh yang sudah mati rasa, samar-samar Elsa melihat orang-orang berpakaian hitam turun dari mobil. Satu orang dari mereka--yang keluar dari mobil paling mewah tiba-tiba berjalan cepat menuju padanya.
Elsa mendengar suara derap langkah orang itu. Juga deru nafasnya yang tergesa-gesa. Sosok jangkung itu kian mendekat, namun dia kecewa karena bukan Landon yang datang.
"Cepat panggil ambulans!" teriak pria itu dengan suara yang keras.
Elsa melirik ke wajah orang itu. Namun sinar lampu membidik punggung pria tersebut. Ia gagal melihat wajahnya. Tak lama dekapan hangat melingkupi dirinya. Hingga rasa nyaman yang Elsa rasakan diambang kesadaran yang nyaris menghilang.
"Kau akan baik-baik saja. Jangan cemas!"
Dengan kedua tangan kekarnya, pria itu meraih tubuh kecil Elsa. Langkah yang cepat, ia membawanya menuju mobil ambulans. Elsa bisa mendengar debaran jantungnya yang bertalu-talu.
Ia pernah merasakan hal itu sewaktu ia kecil. Tepatnya saat ia jatuh dari sepeda, dan ayahnya datang membantunya. Saat itu kakinya terkilir. Elsa tak bisa berjalan. Ayah menggendongnya menuju pulang.
Debaran itu terasa familiar, seperti dulu Ayah menggendongnya. Hangat, cemas dan melindungi. Hanya seorang ayah sejati yang bisa merasakan hal itu kepada anak mereka. Lalu siapa pria ini?
"Ada tiga tulang rusuk yang patah, juga pendarahan hebat. Kami sudah atasi semuanya. Namun, dia sudah kehilangan bayinya."
Mendengar penuturan dokter, Alex cuma mengangguk. Matanya tidak luput dari pasien wanita yang sedang terbaring di ruang ICU.
Sambil berdiri di tepi kaca jendela ruangan itu, ia memantau kondisi Elsa.
Alex menemukan gadis itu di antara rerumputan dan tanah berdebu yang tak jauh dari Hotel California. Ceceran kertas berserakan di sekitarnya. Entah siapa gadis itu. Alex cuma ingat, bahwa ia pernah bertemu dengan Elsa di dalam lift.
"Apa sudah hubungi keluarganya?" tanya Alex. Pandangan pria itu tidak berpaling sedetik pun dari Elsa.
Dokter agak sungkan. "Selain berkas laporan medis kandungannya, kami tidak menemukan kartu identitas apapun yang dibawa olehnya."
Alex terdiam. Matanya masih menatap ke arah Elsa. Siapa sebenarnya gadis malang itu? Apa yang terjadi padanya sampai ditemukan dengan kondisi yang parah dan kehilangan bayinya. Apa dia korban perampokan?
"Pihak rumah sakit sudah hubungi polisi. Anda tidak perlu cemas." Dokter bicara lagi pada Alex.
Pria itu tersenyum getir menanggapi, "Untuk apa aku harus mencemaskannya?"
Dokter agak terkejut. Dengan sungkan ia segera menunduk.
"Aku masih ada banyak urusan. Setelah kondisinya pulih, ijinkan dia pulang."
"Baik, Tuan."
Alex melirik satu kali ke arah Elsa sebelum ia melangkah pergi.
Tiga hari Elsa tidak sadarkan diri di rumah sakit. Sementara Landon malah sibuk bermesraan dengan wanita lain. Hingga kabar Elsa pun tiba padanya.
["Nyonya ada di rumah sakit! Dia kehilangan bayinya!"]
Landon tampak jengah saat mendengar berita yang disampaikan oleh asistennya. Melihat pria itu diam saja, wanita berpakaian minim segera mendongak padanya. Landon cuma tersenyum menanggapi.
Persetan dengan Elsa!
Landon tidak peduli. Pria itu kembali melanjutkan aktivitas panasnya dengan wanita bayaran.
***
Hari berikutnya di Pusat Kesehatan Parker.
"Anda sudah dibolehkan meninggalkan rumah sakit, Nona Elsa."
Wanita itu hanya tersenyum pahit menanggapi perkataan seorang perawat. Mereka sedang berkemas-kemas. Pagi ini juga ia sudah diharuskan meninggalkan rumah sakit.
Namun hati Elsa amat sedih dan kecewa. Kemana ia harus pulang? Tak mungkin dirinya bisa diterima di Bungalow Parker lagi setelah apa yang sudah Landon perbuat.
Pria kejam itu memukulinya dengan brutal, sampai-sampai ia kehilangan bayinya dan hampir mati karena pendarahan hebat. Landon benar-benar kejam! Dia telah membunuh anaknya sendiri!
Elsa mendongak ke atas langit-langit. Ia berusaha kuat mesti sudah kehilangan bayinya, dia tak boleh terus bersedih karena kekejaman Landon.
Yang harus ia pikirkan sekarang, ia harus kemana untuk bersembunyi sementara waktu dari Landon. Apakah dia harus kembali ke desanya?
Entah, apakah Paman Xavier masih mau menerimanya atau tidak. Dia sangat bingung.
"Nona Elsa, kenapa Anda murung? Apa masih ada keluhan pada kesehatan Anda?" Perawat bertanya setelah melihat tampang kuyu Elsa.
Hampir dua pekan wanita itu berada di rumah sakit ini. Namun tidak ada seorangpun yang datang menjenguknya. Elsa pasti sangat sedih, karena baru saja kehilangan bayinya.
Namun mereka masih penasaran tentang siapa sebenarnya wanita muda itu. Selain namanya, Elsa tak memberitahu apa pun tentang identitasnya pada pihak rumah sakit.
"Ah, tidak. Aku baik-baik saja, kok! Terima kasih kalian sudah merawat ku dengan telaten," ujar Elsa disertai senyuman yang dipaksakan.
Perawat membalas senyum. Untuk beberapa saat mereka memandangi Elsa. Gadis itu diantar ke sini oleh pemilik rumah sakit, dengan kondisi badan penuh luka dan pendarahan hebat.
Diketahui, Elsa yang sedang hamil muda kondisinya sangat lemah dan mengalami stres berat. Akibat kekerasan fisik yang dialaminya, kandungan Elsa yang baru berusia dua bulan tak bisa lagi diselamatkan.
"Baiklah, semuanya! Aku akan segera pulang. Trims atas bantuannya!" Elsa membungkuk pada dokter dan perawat yang mengantar dia sampai ke lobi. Setelahnya dia segera pergi.
Saat Elsa sedang menunggu mobil taksi, tiba-tiba saja dua orang petugas polisi menghampirinya. Gadis itu dibuat terkejut.
"Jadi, kau tak mau beritahu siapa yang sudah memukuli mu malam itu?"
Polisi tampan bernama Noah bertanya dengan tatapan tegas kepada Elsa. Selama Elsa di rumah sakit, Noah sering datang untuk melihat kondisinya. Juga menyelidiki kasus kekerasan yang dialami oleh wanita muda bertubuh mungil itu.
Elsa cuma mengangguk kecil. Wajahnya dipalingkan dari tatapan Noah. Dia tahu, jika tidak mudah membohongi seorang petugas kepolisian. Dan Noah sudah membuat dia bingung.
Pelaku sebenarnya adalah Landon, suaminya sendiri. Dia tidak mungkin mengatakan hal itu kepada Noah.
Sementara Noah tidak puas dengan jawaban Elsa. Dia tahu jika gadis itu sedang sembunyikan sesuatu. Namun dia pun tak bisa terus mendesak Elsa. Akhirnya ia membiarkan Elsa masuk ke mobil taksi.
Brak!
Alex yang sedang menerima telepon dari rekan bisnisnya di luar kota, dibuat sangat terkejut saat seorang tamu melempar sebuah dokumen ke depan mejanya.
Panggilan pun segera diakhiri, mata Alex mengincar wajah pria yang kini berdiri di hadapannya. Pria itu tersenyum sinis menanggapi.
"Bajingan kau, Alex! Bukankah kita sudah sepakat mau menjadi besan? Kenapa kau malah menikahkan putramu dengan gadis lain? Apa kau sedang menghina kami, hah?!"
David Wilson, pria itu tampak sangat marah. Hingga para bodyguard yang berdiri di depan pintu nyaris saja mengeluarkan pistol mereka untuk menembaknya yang bersikap kurang ajar kepada pimpinan perusahaan.
Melihat kawan lama yang datang sambil membawa emosi, Alex segera meraih dokumen yang David lemparkan ke mejanya. Ia membaca semua itu dengan teliti.
Dokumen itu berisi surat keterangan dari catatan sipil. Dalam surat itu dijelaskan jika Landon sudah menikah lima bulan yang lalu. Setelah membacanya Alex sangat terkejut.
"David, aku bahkan tidak tahu hal ini," ujarnya seraya menatap pada pria di seberang meja.
David menatap dengan mata berapi-api. Kemudian ia berkata dengan keras. "Jangan pura-pura tak tahu apa-apa! Adela bisa loncat dari balkon kamarnya jika tahu hal ini! apa kau mau melihat foto mayat putriku muncul di surat kabar?!"
Alex menggeleng. "Aku tidak tahu, David. Tapi kau tahu Landon tidak pernah membuat keputusan tanpa melawan keinginanku. Aku akan selesaikan kekacauan ini," terangnya.
David cuma buang muka. Dia kesal karena merasa dipermainkan oleh Alex.
"Rebeca, panggil Ernes ke ruangan ku sekarang!"
Setelah David meninggalkan kantornya, Alex segera meminta asisten datang ke ruangannya. Ini sungguh gila! Bisa-bisanya Landon menikah tanpa memberitahunya. David bisa menuntut mereka atas hal memalukan ini.
"Bos memanggilku?"
"Cepat kemari."
Ernes segera berjalan menuju pada Alex. Sang presiden direktur tampak sedang berdiri di tepi garis jendela ruangan. Wajahnya kelihatan dingin, dengan gelas wine di genggaman.
Dengan sungkan-sungkan Ernes membungkuk lalu berdiri dengan jarak sekitar dua meter dari tempat Alex berdiri. Manik-manik biru Alex yang menggelap mengincar wajah pria itu.
"Aku butuh tahu kebenarannya, Ernes. Di lingkungan Parker tidak ada laporan tanpa campur tanganku. Jadi, kenapa kau bersekongkol dengan Landon dan mendukung aksi gilanya itu?"
Mendengar ucapan Alex, Ernes gemetaran. "Hm, anu, Bos ...," katanya dengan gugup.
"Katakan, kapan dan di mana Landon menikah? Serta, siapa gadis yang telah dia nikahi?" Alex bicara dengan suara yang bergetar dan tegas.
Kemarahan sang pimpinan perusahaan bisa membakar seluruh San Alexandria jika Ernes tetap memilih diam.
Ernes masih tampak gugup di sela-sela rasa takut yang bisa membunuhnya saat ini juga. "Sa-Salvador Barat! Tuan Muda menikah dengan gadis dari desa kecil di sana! Saya pun sempat mengingatkan dia, tapi ..."
Alex mengangkat satu tangannya. Seketika Ernes pun berhenti bicara. Sang asisten segera menunduk, takut.
"Panggil Landon ke hadapanku sore ini juga!" perintah Alex.
Ernes mengangguk. "Baik, Bos."
Alex masih bergeming di tempat selepas kepergian Ernes.
Landon, anak itu tak pernah berubah. Hubungannya dengan sang putra tidak begitu baik sejak Veronica meninggal. Landon terus memusuhinya. Bahkan menganggap jika kematian ibunya karena kesalahan Alex.
Sejak itu Landon tak pernah mengunjunginya. Menurut Ernes, putranya mulai kecanduan minuman dan obat-obatan. Bahkan Landon suka memesan wanita penghibur secara acak.
Alex pikir hidup Landon sudah hancur sejak kematian Veronica. Olehnya ia pun berpikir untuk mencarikan gadis yang baik untuk Landon.
Hubungannya dan David sangat dekat. Alex pikir dia bisa menikahkan Landon dengan putri bungsu David yang bernama Adela.
Namun apa yang sudah terjadi di luar rencananya. Landon ternyata sudah menikah diam-diam. Dia harus cari tahu, siapa gadis yang sudah Landon nikahi itu.