Bab 1

Alya duduk di sudut ruang tamu yang sunyi, memandangi jari-jarinya yang bergetar. Udara terasa dingin, namun bukan hanya itu yang membuat tubuhnya gemetar. Malam ini terasa sangat panjang dan kelam, penuh rasa perih yang menggumpal di dalam dadanya. Keputusan yang diambil suaminya, Raka, untuk menjualnya pada pria asing, seolah menandai titik akhir dari segala pengorbanan dan harapannya.

Dia tak pernah menyangka, pria yang pernah bersumpah mencintainya akan tega melakukan hal sekejam ini. Delapan tahun bersama seharusnya membuat mereka semakin kuat menghadapi cobaan. Namun, kenyataannya Raka berubah. Sejak setahun terakhir, kata-kata pedas dan sindiran kasar selalu keluar dari mulutnya, menyudutkan Alya sebagai wanita yang "tidak berguna" hanya karena mereka tak memiliki anak.

Malam itu, ketika Raka datang bersama mertuanya dan menyampaikan rencana mengerikan ini, Alya hanya bisa membisu. Suaminya berbicara seolah-olah dia adalah barang yang bisa ditukar, tanpa memikirkan perasaannya sedikit pun. Tatapan penuh kebencian di mata Raka seolah menegaskan bahwa dia bukan lagi seseorang yang layak mendapatkan cinta ataupun simpati.

"Alya," suara mertuanya terdengar keras dan tajam. "Kami sudah sabar selama delapan tahun menunggu kehadiran seorang cucu. Tapi kamu? Kamu tak pernah memberi kami apa-apa selain kekecewaan!"

Alya mencoba menahan tangisnya. Bibirnya bergetar saat ia memandang wajah tua mertuanya yang menatapnya dengan penuh penyesalan. "Bu... aku tak pernah berniat mengecewakan kalian. Aku... aku ingin punya anak, tapi..."

"Cukup!" Raka memotong dengan suara tegas. "Alasan tidak akan mengubah kenyataan bahwa kamu tidak bisa memberiku keturunan. Kau tahu betul betapa aku ingin menjadi seorang ayah, dan sekarang... cukup. Aku sudah menemukan solusi untuk masalah ini."

Alya terdiam, merasa napasnya tersendat. "Solusi?" tanyanya lemah, meski hatinya sudah merasa ngeri dengan apa yang mungkin akan dikatakan suaminya.

Raka tersenyum dingin, matanya menyipit seolah memandangnya dengan penghinaan. "Aku sudah membuat perjanjian dengan seseorang. Seorang pria kaya yang bersedia menanggung bebanmu. Kamu akan pergi bersamanya malam ini juga."

Kata-kata itu menghantam Alya seperti badai. Dia merasa seluruh tubuhnya lumpuh, tak mampu bergerak. "Kau... Kau serius, Raka?" suaranya pecah di antara isakan.

Raka mengangguk tanpa ragu, ekspresi di wajahnya tetap dingin. "Kau tak lagi berguna bagiku, Alya. Jika kau tak bisa memberiku keturunan, setidaknya kau bisa menjadi cara untuk membebaskan diriku dari segala beban."

Hati Alya hancur. Di satu sisi, ia ingin berteriak, memohon agar suaminya tak sekejam ini. Namun, di sisi lain, ia tahu bahwa harga dirinya tak akan membiarkan dia memohon pada pria yang telah mengkhianati cintanya. "Baik," katanya dengan suara yang nyaris berbisik, menahan air mata yang siap jatuh kapan saja. "Jika itu yang kau inginkan, aku akan pergi. Tapi ingat, Raka, suatu hari kau akan menyesali keputusanmu ini."

Alya dibawa ke sebuah hotel mewah oleh sopir yang diperintahkan Raka. Hatinya semakin sakit saat ia menginjakkan kaki di ruangan megah itu. Rasanya seperti mimpi buruk yang tak berujung. Di sana, di dalam ruangan yang terang dengan lampu kristal yang indah, berdirilah seorang pria dengan postur tegap dan tatapan tajam. Pria itu bernama Adrian, salah satu orang terkaya di kota ini.

"Alya," sapanya dengan suara dalam yang terkesan dingin namun penuh wibawa. "Saya sudah lama mendengar namamu."

Alya menatap pria itu dengan sorot mata penuh luka dan kebencian yang tak dapat disembunyikan. "Kenapa... kenapa Anda setuju dengan perjanjian ini?"

Adrian mengangkat bahu dengan sikap acuh tak acuh. "Karena aku membutuhkan seseorang di sisiku yang bisa kubawa ke berbagai acara tanpa harus terikat komitmen. Dan kebetulan, aku punya kekuasaan untuk mendapatkan apa pun yang aku inginkan."

Jawaban itu membuat Alya merasa semakin terjebak. Dalam hatinya, ia ingin lari, namun ke mana? Raka sudah meninggalkannya, dan keluarganya... ah, keluarga Alya tak pernah peduli padanya. Dia hanya seorang wanita yang dianggap tak berguna, sekadar 'barang' yang bisa dibuang sesuka hati.

"Aku bukan mainan yang bisa kau beli," Alya berbisik penuh luka.

Adrian tersenyum sinis. "Jika kamu punya pilihan lain, Alya, silakan pergi. Tapi aku tahu, kamu tak punya siapa-siapa lagi."

Kata-kata itu, meskipun tajam, tak bisa dibantah oleh Alya. Ia terdiam, merasakan kesedihan yang begitu mendalam. Malam itu menjadi malam penuh kehampaan dan kebencian yang terus menghantuinya. Alya merasa seperti terperangkap di dalam jerat tanpa akhir. Namun, ia tak sadar bahwa takdir akan segera membawanya pada kenyataan yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Sebulan setelah malam kelam itu, Alya berdiri di depan cermin kamar mandi, menggenggam alat uji kehamilan yang menunjukkan hasil positif. Matanya tak berkedip, tubuhnya gemetar, dan dalam hatinya, perasaan campur aduk mulai memenuhi pikirannya. Ini adalah hal yang ia tunggu-tunggu selama delapan tahun, namun mengapa rasa bahagianya terasa pahit?

Anak ini... bukan anak Raka.

Alya jatuh terduduk di lantai, menangis tersedu-sedu. Bagaimana mungkin ini terjadi? Anak yang sangat diidamkannya, ternyata bukanlah anak dari pria yang selama ini menjadi suaminya. Kini ia dihadapkan pada pilihan sulit yang bisa menghancurkan atau menyelamatkan hidupnya. Alya tahu, apa pun keputusan yang diambilnya, hidupnya tak akan pernah sama lagi.

Bab 2

Malam itu, Alya terisak sendirian di kamar. Seluruh pikirannya berputar tak tentu arah. Bayangan Raka yang menatapnya dengan kebencian, wajah mertuanya yang tak pernah puas, hingga senyuman sinis Adrian, semuanya berputar bagai mimpi buruk yang tak kunjung berakhir. Rasa sakit dan kehancuran yang ia rasakan selama bertahun-tahun kini memuncak, membuatnya lelah.

"Kenapa harus begini?" bisiknya pelan sambil memegangi perutnya yang baru saja ia ketahui menjadi tempat bertumbuhnya kehidupan kecil. Keajaiban yang ia nantikan selama delapan tahun, tapi sekarang datang di saat yang paling tak terduga, di tangan pria asing yang bahkan tak mengenalnya.

Alya menghela napas panjang, mencoba meredakan emosinya yang memuncak. Namun, ia sadar bahwa dia harus segera membuat keputusan. Bagaimana ia akan menjalani hidup dengan anak ini? Bagaimana jika Raka mengetahui dirinya hamil dari pria lain? Rasa takut dan kebingungan menyelimuti pikirannya, namun di balik semua kekacauan itu, Alya merasa ada kehangatan di dalam dirinya-sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun bersama Raka.

Ia bangkit dari tempat tidurnya, mengusap air matanya, dan mengambil ponsel. Satu nama terpampang di layar: Raka. Ada dorongan dalam hatinya untuk menghubungi pria itu, memberitahunya tentang kehamilan ini, meski ia tahu jawabannya akan penuh dengan kebencian dan amarah.

Namun, jemarinya terhenti. Hatinya bergetar, menyadari bahwa keputusannya untuk menelepon Raka adalah karena ia masih berharap mendapatkan sedikit penghargaan atau mungkin kehangatan dari pria itu. Tapi, setelah semua yang terjadi, haruskah ia masih mengharapkan itu?

Sambil menatap layar ponsel, Alya menekan nomor Raka dengan ragu. Panggilan tersambung, namun suara yang menjawab adalah suara wanita lain.

"Halo?" suara asing itu terdengar lembut namun angkuh. "Ada yang bisa saya bantu?"

Alya terdiam. Napasnya tercekat, ia mencoba menenangkan diri, meski perasaannya sudah terombang-ambing. "Bisakah saya berbicara dengan Raka?" tanyanya dengan nada pelan namun terdengar tegas.

"Oh, kamu pasti Alya, kan?" suara itu terdengar sinis. "Aku dengar dari Raka kalau kamu sudah tidak ada urusan lagi dengannya."

Jantung Alya berdegup keras. "Siapa kamu?" tanyanya, meski ia sudah bisa menebak jawabannya.

Wanita di seberang sana tertawa kecil, suaranya penuh dengan kepuasan. "Aku Nadya, tunangan Raka. Raka sudah tidak memikirkanmu lagi, Alya. Jadi, kuharap kamu tidak mengganggu kami lagi."

Panggilan terputus, dan Alya berdiri kaku. Semua harapan yang sempat ia bangun hancur berkeping-keping. Bukan hanya dirinya yang disingkirkan, tetapi Raka bahkan sudah melangkah lebih jauh dengan wanita lain, tanpa sedikit pun perasaan bersalah.

Malam itu, Alya merasa dirinya berada di dasar paling kelam dalam hidupnya. Namun, di balik perasaan sakit dan kecewa yang begitu mendalam, perlahan-lahan tumbuh kekuatan yang tak pernah ia sadari. Bayangan akan seorang anak di dalam rahimnya menjadi satu-satunya harapan yang tersisa-harapan yang ia yakini akan memberinya tujuan hidup baru.

Hari demi hari berlalu, Alya mulai menjalani hidup yang tak lagi bergantung pada Raka ataupun masa lalunya. Ia fokus pada kehamilannya, menghadapi segala tantangan yang ada seorang diri. Selama berbulan-bulan, Alya menghindari kontak dengan Raka dan keluarganya, mencoba membangun kembali hidupnya yang baru, meskipun harus mulai dari nol.

Suatu pagi, saat Alya sedang berjalan di taman, ia bertemu dengan Adrian. Pria yang dulu membelinya, pria yang awalnya ia benci dan tak ingin ia temui lagi. Namun, Adrian menatap Alya dengan ekspresi berbeda kali ini. Ada kelembutan dan ketulusan dalam sorot matanya, jauh berbeda dari kesan dingin yang ia tunjukkan saat pertemuan pertama mereka.

"Alya," panggil Adrian pelan sambil mendekatinya. "Kau baik-baik saja?"

Alya terkejut mendengar nada suaranya yang hangat. Ia tak tahu harus berkata apa, namun ada sesuatu dalam tatapan Adrian yang membuatnya merasa nyaman. "Aku... aku baik-baik saja," jawabnya pelan, mencoba tersenyum.

Adrian menatap perut Alya yang kini sudah terlihat jelas. Tatapan kagum terpancar dari matanya, namun ada juga kekhawatiran yang tersembunyi. "Itu... anakku, kan?" tanyanya pelan, suaranya bergetar, seolah menahan emosi.

Alya terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Meski kehamilan ini adalah hasil dari malam penuh keterpaksaan, Alya sadar bahwa anak ini juga adalah bagian dari Adrian. "Iya," jawabnya akhirnya, lirih namun penuh keyakinan.

Tatapan Adrian melembut. Ia menarik napas dalam, seolah sedang mencerna kenyataan bahwa ia akan menjadi seorang ayah. "Alya, biarkan aku bertanggung jawab. Aku tahu ini semua bermula dari hal yang salah, tapi aku ingin memberikan yang terbaik untuk anak ini. Dan juga... untukmu."

Alya terkejut mendengar kata-kata itu. Pria yang dulu ia anggap kejam dan tak berperasaan kini berbicara seolah-olah benar-benar peduli padanya dan calon anak mereka. Namun, ia masih ragu. Perasaan sakit dan pengkhianatan dari masa lalunya masih membekas, membuatnya takut untuk percaya lagi pada siapa pun.

"Aku tak butuh belas kasihan," jawab Alya sambil menatap Adrian dengan mata tajam. "Aku hanya ingin hidup tenang bersama anakku."

Adrian mengangguk perlahan, memahami keraguan di mata Alya. "Aku tahu kau butuh waktu untuk percaya, Alya. Tapi, aku tidak akan pergi ke mana pun. Aku akan selalu ada di sini, kapan pun kau membutuhkan aku."

Kata-kata itu perlahan meresap ke dalam hati Alya. Untuk pertama kalinya sejak malam kelam itu, ia merasa sedikit lebih kuat, sedikit lebih yakin bahwa mungkin, di tengah semua penderitaan ini, ada harapan baru yang bisa ia bangun, bersama dengan anak yang tumbuh di dalam rahimnya dan pria yang berjanji akan selalu ada di sisinya.

Bab 3

Beberapa bulan berlalu, dan Alya terus berjuang menjalani hari-harinya. Kehamilannya semakin besar, dan setiap gerakan kecil di dalam perutnya seolah menjadi pengingat bahwa ia tak sendiri lagi. Anak ini adalah harapan barunya, satu-satunya hal yang memberinya kekuatan untuk bertahan meski telah dihancurkan oleh orang-orang yang ia percayai.

Namun, ada hari-hari di mana rasa sakit itu kembali menghantuinya. Kenangan akan pengkhianatan Raka dan ejekan sinis Nadya sering kali datang tak diundang, membawa perasaan luka yang belum sepenuhnya sembuh. Alya berusaha untuk tetap tegar, namun terkadang, ia tak bisa menahan rasa perih yang mendera. Terutama saat malam tiba, ketika ia terbaring sendirian, ditemani oleh keheningan yang menyakitkan.

Di saat-saat seperti itu, tanpa ia sadari, Adrian kerap hadir di sisinya. Meski pria itu masih menjadi sosok asing baginya, Alya perlahan-lahan mulai melihat sisi lain dari dirinya. Adrian adalah seseorang yang, di balik sikap dinginnya, ternyata memiliki perhatian yang tulus dan keteguhan hati. Ia sering kali mengunjungi Alya, memastikan bahwa semua kebutuhannya tercukupi, bahkan memeriksakan kondisi kehamilannya secara rutin.

Suatu malam, ketika Alya tengah menatap langit malam dari jendela kamarnya, ia mendengar ketukan di pintu. Saat ia membuka pintu, Adrian berdiri di sana, membawa seikat bunga mawar putih dan senyuman lembut yang jarang ia perlihatkan.

"Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja," ucap Adrian, meletakkan bunga itu di meja kecil di samping tempat tidur Alya.

Alya tersenyum tipis, merasa terharu namun juga sedikit bingung dengan sikap Adrian yang begitu peduli. "Terima kasih, Adrian. Aku... aku tak tahu harus berkata apa."

Adrian menatapnya dengan lembut. "Kau tak perlu berkata apa-apa, Alya. Aku hanya ingin kau tahu, aku ada di sini. Aku tahu semua ini berat bagimu, tapi kau tak perlu menanggungnya sendirian."

Kata-kata itu begitu menenangkan hati Alya. Ia merasa seolah ada seseorang yang benar-benar memahami beban yang ia rasakan. Di tengah kebingungannya, Alya mendapati dirinya mulai mempercayai Adrian, meski hatinya masih dipenuhi dengan luka dari masa lalunya.

"Adrian..." Alya berbisik, suara bergetar. "Aku takut... Aku takut kalau suatu hari nanti, kau akan meninggalkanku seperti yang dilakukan Raka."

Adrian mendekatinya, meraih tangan Alya dengan lembut. "Percayalah, aku bukan Raka. Aku takkan melakukan hal yang sama padamu. Aku mengerti rasa takut dan sakit yang kau alami, tapi aku berjanji, aku akan menjadi ayah yang baik untuk anak ini, dan jika kau mengizinkanku, aku juga ingin menjadi seseorang yang selalu ada untukmu."

Alya terdiam, tak sanggup berkata-kata. Kata-kata Adrian menyentuh hatinya yang rapuh, memberikan sedikit harapan di tengah kegelapan yang ia rasakan. Namun, meski begitu, luka yang ia alami terlalu dalam, dan ia tak bisa begitu saja melupakan rasa sakitnya.

"Adrian," Alya berkata pelan, suaranya bergetar. "Aku butuh waktu... Aku butuh waktu untuk menyembuhkan diriku sendiri."

Adrian mengangguk penuh pengertian. "Aku akan menunggumu, Alya. Berapa lama pun yang kau butuhkan, aku akan tetap ada di sini."

Waktu berlalu, dan hubungan mereka perlahan-lahan berubah. Adrian menjadi tempat Alya bersandar, seseorang yang selalu hadir di saat ia membutuhkan. Ketulusan Adrian sedikit demi sedikit membuka hatinya yang terluka, meskipun Alya tahu, ia tak bisa sepenuhnya melupakan rasa sakit yang ia alami.

Suatu hari, ketika Alya sedang berjalan di taman bersama Adrian, ia melihat sosok yang tak asing baginya dari kejauhan. Jantungnya berdetak kencang saat melihat Raka dan Nadya, berpegangan tangan dan terlihat mesra, berjalan mendekati mereka.

Mata Raka membelalak saat melihat Alya bersama Adrian, dan terutama saat melihat perut Alya yang sudah semakin besar. Wajahnya berubah, campuran antara kaget dan marah. Nadya, yang menyadari perubahan ekspresi Raka, menatap Alya dengan tatapan penuh cemburu dan kemarahan.

"Jadi ini yang kau lakukan setelah aku meninggalkanmu, Alya?" tanya Raka dengan nada mengejek. "Hamil dari pria lain secepat ini?"

Alya terdiam, berusaha menahan amarahnya. Namun, Adrian segera melangkah maju, berdiri di depan Alya seolah menjadi tameng pelindungnya.

"Raka, kau tak punya hak untuk menilai Alya," kata Adrian tegas. "Kau yang meninggalkannya, dan kau yang memilih untuk mengkhianatinya. Sekarang, dia tak lagi ada hubungannya denganmu."

Raka tertawa sinis. "Aku hanya terkejut melihatnya bersama pria lain. Apakah ini balasan atas apa yang terjadi selama ini? Menyembunyikan diri hanya untuk muncul bersama pria lain?"

Alya merasakan amarah yang terpendam dalam hatinya mendidih, namun ia mencoba untuk tetap tenang. Dengan suara gemetar namun penuh ketegasan, ia menjawab, "Aku mungkin tidak bisa memberikanmu keturunan, tapi setidaknya aku masih punya harga diri. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa dihargai, meski bukan olehmu."

Nadya, yang merasa tersinggung dengan pernyataan Alya, berbisik kasar pada Raka, "Ayo pergi dari sini. Dia tidak layak untuk perhatian kita."

Raka menatap Alya dengan penuh kebencian, namun tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia menggenggam tangan Nadya erat, lalu pergi, meninggalkan Alya dan Adrian yang tetap berdiri dengan tegar.

Setelah mereka pergi, Alya merasa lemas. Semua emosi yang ia tahan akhirnya pecah, dan ia tak bisa menahan tangisnya lagi. Adrian dengan lembut meraih bahunya, menenangkannya tanpa berkata apa-apa. Ia membiarkan Alya menangis, memberi Alya ruang untuk meluapkan semua perasaan yang selama ini ia pendam.

Di saat itu, Alya menyadari bahwa ia tak lagi sendirian. Adrian, meski awalnya hanyalah sosok asing, kini telah menjadi tempatnya bersandar, seseorang yang tulus menerima dirinya apa adanya. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, ia akan mampu menjalani hidup barunya bersama pria ini dan anak yang tumbuh di dalam rahimnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED