Bab 2

"Ibu tidak mungkin berbuat seperti itu sayang, dan adik adiku juga anak baik aku tau betul seperti apa mereka, soal pekerjaan rumah kan memang kewajiban mu membantu ibu, ibu ku kan juga ibu mu sekarang"

"Tapi kenyataannya begitu mas, aku seperti pembantu di sini semua pekerjaan aku yang pegang ibu tak pernah membantu jika aku kerepotan, bahkan kadang membuat susu Kinan pun harus aku yang melakukan dan lagi uang ku juga sering kali digunakan untuk kebutuhan rumah bahkan membeli susu Kinan padahal kan perjanjianya dulu semua ditanggung ibu, karena semua gaji ibu yang pegang aku cuman dikasih sedikit dan itu untuk keperluan pribadiku " aku menghela napas . Mas Wahyu masih terdiam.

"Selama ini aku diam, karena berfikir mereka akan luluh melihat kesabaranku. Tapi ini sudah keterlaluan mas"

"Dan lagi, itu Aryo selalu memintaku mengerjakan tugas kuliahnya bahkan kemarin dia marah dan mendorongku hingga kepalaku terbentur siku kursi. sakiit Mas, sebagai kakak ipar mereka tidak sedikitpun menghormatiku. Kalau minta tolong sesekali gak masalah Mas, tapi ini dia selalu menyuruhku. Untuk apa dia kuliah kalau begini !"

aku mulai menangis, sakit bila mengingat itu semua. Sudah terlalu sabar aku menghadapi mereka aku fikir hati mereka akan melembut melihat kesabaranku, ternyata tidak .

Mas Aryo tampak sedang berfikir dia menghembuskan napas kesal

"Baiklah sayang, soal uang nanti aku akan membicarakannya dengan ibu pun dengan tugas kuliah Aryo akan kuminta ia mengerjakan sendiri. Tapi aku masih tidak percaya ibu dan Aryo berbuat seperti itu, aku akan menanyakan ini nanti pada mereka." Aku hanya terdiam masih menangis, duduk di tepi ranjang.

"Sekarang aku harus berangkat dulu, ada meeting yang tak bisa ditunda, nanti sepulang kerja aku akan membicarakan ini dengan ibu dan adiku." Mas Wahyu mendekati ku.

Aku berdiri dan mengantar suamiku ke depan, selsai sarapan tadi aku sengaja memintanya kembali ke kamar karena ada yang perlu dibicarakan. Semaam ia lembur jadi aku tak sempat mengadu. Selama ini Mas Wahyu memang tak tau perlakuan keluarga mereka. Karena mereka akan bersikap baik saat mas Wahyu di rumah.

Sampai di pintu depan aku menyium tangannya dan diapun mengecup keningku. Sesaat setelah ia melepas kecupannya dan hendak berbalik aku memanggilnya.

"Mas.."

"Ya ?."

"Jika keadaannya tetap begini, aku tak yakin aku bisa bertahan. Aku lelah"

"Jangan bicara begitu sayang, aku akan menegur mereka nanti" Dia mengelus pipiku pelan.

"Yasudah, Mas berangkat dulu ya" aku mengangguk dan tersenyum.

"Hati hati mas"

Mas Wahyu masuk ke dalam mobil dan perlahan mobil itu melaju meninggakan rumah. Di dalam mobil ia terus merenungkan apa yang baru saja istri nya sampaikan. Selama ini Wahyu kira hubungan istri dan keluarganya baik baik saja . Karena baru kali ini Ayu mengeluh tentang keluarganya .

*

"Kenapa lu bro ? Kusust amat tuh muka."

Rendra-sahabat Wahyu menarik kursi dan duduk di samping Wahyu.

Wahyu terdiam, ia bingung apakah ia harus menceritakan keluhan istrinya pada Rendra.

"Kalo mau cerita, cerita aja kali . Barangkali gue bisa bantu. Kan lu juga sering bantu gue" ucap Rendra lagi karena melihat Wahyu masih terdiam .

"Iya, sebenarnya gue ada sedikit masalah sama Ayu-Istri gue, dia bilang kalo dia meras diperlakukan seperti pembantu karena semua pekerjaan di yang pegang kadang urusan Kinan-keponakan gue juga dia yang urusin" Wahyu menggeser posisi duduknya.

"Dan dia bilang Aryo juga sering menyuruh dia mengerjakan tugas kuliahnya bahkan kemarin dia mendorong ayu sampai jatuh, tapi gue belum sepenuhnya percaya"

Rendra melongo mendengar cerita Wahyu.

"Emm gue kenal Ayu, kayaknya gak mungkin bohong. Tapi kalo bener begitu masa lu gak tau"

"Nah itu dia, dia juga bilang uang dia yang 300ribu sering kepake untuk membeli keperluan rumah dan susu Kinan, sedangkan semua itu harusnya jadi urusan ibu karena semua gaji ibu yang pegang"

Rendra tampak sangat kaget. Sampai dia keselek saat minum es teh.

"Eh eh kenapa lu ? Minum pelan pelan dong."

"Gue gak papa, itu beneran si Ayu selama 2 taun jadi istri lu cuma dikasih uang segitu ?"

"Ia, kenapa ? Segitu juga kan banyak, semua keperluan udah diatur Ibu"

"Gila lu, uang segitu lu bilang banyak ? Kalo dia pengen beli sesuatu gimana ? Pengen jajan atau keperluan pribadi lainnya, kuota juga emang ckup itu sebulan ? Parah lu . Belum lagi kalo dia pengen kirim uang ke orang tuanya." Rendra geleng geleng kepala.

"Iya juga ya.. emang gaji lu istri semua yang pegang ?"

"Iyalah, gue juga sama masih tinggal sama orang tua gue, adik gue empat lagi, tapi gaji tetep istri yang pegang dan orang tua gue gue kasih dengan nominal yang disepakti sama istri dan orangtua gue seneng seneng aja"

"Owh, oke deh nanti gue ngomong sama Ibu gue"

"Iyalah kasian si Ayu. Pasti dia tertekan banget"

"Makasih ya.. udah mau denger cerita gue"

"Iya.. santai aja kali "

"Woyy.. makan kagak ngajak ngajak ya"

Dion yang juga Teman Wahyu tiba tiba datang mengagetkan mereka.

"Apain si lu bikin kaget aja !"

"hehe ya maaf , lagian serius amat kayanya. Lagi ngomongin apaan ?"

"Yee Kepo luh" Rendra menggeser kursinya supaya Dion bisa ikut duduk bersama. Sedang wahyu masih mencerna percakapannya tadi dengan Rendra.

"Ehh eh kalian tau gak ada karyawan baru loh, cewek cantik lagi"

"Ingeet Istri woyy" Rendra menonyor kepala Dion. Dia memang terkenal playboy .

"Ya inget emang . Tapi ini cantik banget. Eh tuh dia panjang umur dateng ke sini tuh ! Cantik kan ?"

Otomatis Rendra dan Wahyu menoleh ke arah yang ditunjuk Dion . Rendra hanya menatap sekilas lalu kembali makan . Sedangkan Wahyu menajamkan penglihatan dan terlihat seperti berfikir lalu bergumam pelan.

"Vina.."

Bersambung.

Trimaksih yang sudah baca.. like dan komen. bantu subcribe dan follow akunku di kbm app ya dengan nama Dian13

Bab 3

Setelah mobil suaminya hilang dari pandangan. Ayu masuk lagi ke dalam rumah. Langsung menuju dapur dan mencuci piring yang digunakan sarapan tadi.

Sementara Neny dan Ibunya sudah berdandan rapi, Neny menggunakan dress merah menyala dan Bu Sekar memakai setelan batik yang terlihat elegan. Mereka akan pergi ke sebuah acara arisan .

"Ayu.. Ibu dan Neny pergi dulu ya, jangan lupa bereskan rumah dan masak untuk malam nanti, mungkin kami akan pulang sore "

Teriak bu Sekar dari ruang tamu, lalu mereka pergi setelah mendapat jawaban dari Ayu.

Ayu menghempaskan diri di kursi ruang tamu, lelah rasanya setelah membereskan rumah yang besar ini seorang diri. Angannya mengembara ke masa lalu .

*

"Sudah lah Mas, mungkin kita memang tidak jodoh, toh keluargamu tak ada yang setuju karena aku hanya gadis kampung"

Aku duduk di kursi yang diletakan di tengah tengah taman sambil memijat kepala yang terasa pening.

"Jangan begitu dong sayang, Masa kamu mau menyerah secepat ini ? Mas janji mas akan berjuang untuk mendpat restu ibu" Mas Wahyu duduk di samping ku .

Ia menghela napas panjang, menggenggam tanganku dan mengangkat daguku supaya aku menatapnya.

"Lagi pula, ibu belum menyukai mu karena belum kenal, nanti kalau sudah kenal pasti akan menyukai mu. Karena kamu gadis yang baik"

Mas Wahyu mencoba meyakinkan ku. Karena memang aku mencintainya. Dan melihat kegigihan mas Wahyu untuk menikahiku maka akupun berusaha berjuang kembali.

"Baiklah Mas, aku akan mendukungmu"

Aku berusaha tersenyum walau dalam hati masih ada rasa sedih.

"Trimakasih, ayo aku antar pulang, ini sudah sore"

Mas Wahyu bangkit dari duduk nya, berjalan keparkiran. Aku mengikuti di belakangnya.

*

"Apa kamu serius Nduk mau memperjuangkan cinta mu pada Wahyu ?"

Tanya si Mbok saat selesai shalat dan duduk selonjor di Musola kecil di dalam rumah si Mbok.

"Entahlah Mbok, aku mencintainya. Tapi Ibunya tak menyukai ku dan bahkan seolah sangat membenciku, tapi melihat kegigihan mas Wahyu memperjuangkan aku , rasanya tak pantas jika aku mundur begitu saja"

Aku bergeser ke arah si Mbok, perlahan membaringkan diri dan meletakan kepalaku di paha si Mbok.

Si mbok mengelus pelan kepalaku, aku merasakan kasih sayang disetiap belaianya .

"Setiap pilihan ada resikonya Nduk, si mbok mu ini akan selalu mendukung keputusanmu, jika nanti kamu memilih melanjutkan perjuangan. Pikirkan resiko terburuk yang akan kamu terima . Mungkin kamu akan hidup dalam kebencian Mertua. Tapi kita punya Allah Nduk, Allah maha membolak balikan hati. Mudah saja bagi Gusti Allah mcengubah orang yang membencimu menjadi mencintaimu dan sebaliknya" tutur si Mbok panjang lebar, matanya menerawang jauh ke depan .

Tiba tiba usapan tangannya berhenti , aku seketika mendongakkan kepalaku, belia tersemyum .

"Tapi, pernikahan itu bukan main main, lakukan jika kamu merasa sanggup menanggung resikonya. Jangan peduli omongan orang yang penting hati mu, yang menjalani itu kamu, jika kamu memutuskan berjuang, maka berjuang se maksimal mungkin, Allah bersama orang orang yang sabar, tapi jika kamu merasa tak sanggup maka mundurlah." Si Mbok kembali mengelus pelan kepalaku.

"Yang dikatakan mbok mu benar Tapi pernikahan itu ibadah seumur hidup lo Nduk, berat. Kalo menurut bapak kamu mundur saja. Memang ada kemungkinan Ibu mertuamu nanti berubah. Tapi kalau tidak ? Bapak gak mau putri bapak ini menderita setelah menikah. Wong bapak sama si Mbok mu selama ini selalu berusaha supaya kamu gak menderita masa setelah menikah malah sengsara ?"

Tiba tiba saja Bapak menyahut rupanya dari tadi bapak mendengar percakapan kami.

"Iya pak, Ayu akan pertimbangkan lagi"

"Bapak tak dapat memaksa. Tapi jika nanti yang bapak takutkan terjadi, ingat Nduk, jika mereka sudah melewati batas, maka bangkitlah jangan terus mengalah"

*

Beberapa hari setelah percakapan itu, mas Wahyu memberi kabar kalau Ibunya setuju dia menikah dengan ku. Dengan syarat gaji mas Wahyu Ibunya yang pegang urusan rumah juga Ibunya yang mengatur. Aku akan diberi uang untik keperluanku saja.

"Gimana sayang ? Gak papa kan? Yang penting kan kamu juga pegang uang dan itu bebas kamu gunakan, semua kebutuhan sudah diurus sama ibu"

Aku terdiam, saat itu belum tau berapa uang yang akan kuterima. Aku fikir berapapun uangya kalau hanya untuk keperluan pribadiku akan kuterima dan ku kelola sebaik mungkin.Toh aku bukan tipe orang boros. Maka aku mengiyakan permintaan mas Wahyu. Aku meminta izin orang tuaku. Awalnya bapak keberatan tapi karena aku berkata aku sanggup menanggung resiko nya, maka mereka pun setuju.

Hari pernikahan pun tiba, Ibu dan bapak hadir walau bapak merasa keberatan karena tak yakin mertuaku akan berubah.

Saat aku akan pergi ke rumah mas Wahyu bapak memeluk ku dan berbisik.

"ingat pesan bapak, berjuang semampumu.. jika sudah tak kuat, bangkitlah"

**

Air mata Ayu menetes mengingat itu, kini ia sadar inilah saatnya untuk bangkit perjuangannya akan ia akhiri. Selama ini ia sudah sabar dan selalu berdoa supaya mertuanya mau menerima dan menyayanginya tapi mungkin Allah punya rencana lain.

"Mulai sekarang Kamu harus bangkit Ayu. Kamu harus tegas ! "

Bersambung.

Trimakasih yang sudah berkenan mampir..

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED