Bab 1

Vortez City

Di sebuah Apartemen Mewah...

Pagi yang dingin menyelimuti lantai marmer apartemen mewah itu. Di tengah ruangan, seorang pria muda berlutut, memohon dengan putus asa.

"Sayang, pinjami aku dua puluh ribu Kredit Standar (20.000 KS)! Aku mohon, ibuku sedang dalam masa kritis di rumah sakit. Aku sangat butuh uang itu sekarang!" Gerald (23 tahun), dengan wajah tampan yang kini dipenuhi kecemasan, menatap memelas pada wanita yang duduk di kursi tunggal berlapis beludru.

Wanita itu, Clarisa, mengenakan gaun sutra rumahan yang elegan. Dia hanya menatap Gerald dengan sorot mata yang sulit diartikan, antara iba dan lelah.

"Gerald, kamu ini! Dasar menantu sampah! Tiap hari hanya bisa menyusahkan Clarisa saja!"

Sebelum Clarisa sempat menjawab, sebuah teriakan marah yang memekakkan telinga datang dari ambang pintu apartemen. Di sana, berdiri seorang wanita paruh baya dengan dandanan mencolok, wajahnya memerah karena emosi.

"Bu, mengapa kamu ada di sini?" Clarisa terkejut, beranjak dari kursi menghampiri ibunya, Nyonya Maya.

"Kalau Ibu tidak datang, bukankah kamu akan memberi suamimu yang tidak berguna ini uang?!" Nyonya Maya melangkah masuk, tatapannya menghina lurus tertuju pada Gerald yang masih berlutut.

"Bu, jangan seperti ini. Mau bagaimana pun, Gerald adalah suamiku," Clarisa mencoba menenangkan, suaranya terdengar pahit.

Ia kembali menatap Gerald dengan rasa kasihan yang mendalam. "Gerald, aku akan segera mentransfer uangnya padamu. Cepat pergi ke rumah sakit sekarang."

"Tidak boleh!" Nyonya Maya berteriak keras. "Clar, kamu tidak boleh terus membela dia. Lagipula, kamu seharusnya cerai dengan dia! Ingat, pernikahan kalian hanyalah sebuah pernikahan tanpa perasaan!"

Gerald mendongak, hatinya terasa remuk. Kalimat itu, 'pernikahan tanpa perasaan', selalu menjadi belati yang menusuk harga dirinya. Ya, dia tahu statusnya. Dia hanya suami di atas kertas, menantu yang hanya menumpang.

"Aku tahu diri, Bu. Aku tidak akan memintanya lagi. Aku akan mencari cara lain," ujar Gerald, berusaha berdiri. Keputusasaan di matanya tak bisa disembunyikan.

"Mencari cara lain? Mau cari di mana? Dengan wajahmu yang menipu itu, kau hanya akan berakhir jadi penipu ulung," cibir Nyonya Maya sinis. "Dengar, kau bukan lagi bagian dari keluarga kami. Clarisa sudah menyiapkan surat perceraian."

Kata-kata Nyonya Maya bak pukulan telak. Gerald menoleh ke arah Clarisa.

"Clar... benarkah itu?" Suara Gerald bergetar.

Clarisa menghindari tatapannya. Dia kembali duduk, memijat pelipisnya. "Aku lelah, Gerald. Aku lelah dengan semua ini. Ibu benar, kita menikah tanpa cinta. Selama dua tahun, kau tidak pernah memberiku apa-apa. Kau hanya... beban."

Air mata Gerald menetes. Ia tidak marah pada Clarisa, ia marah pada nasibnya sendiri. Ia adalah keturunan dari salah satu keluarga yang sangat kaya dan kuat, namun sebuah insiden membuatnya terpaksa hidup miskin, dia benar-benar tidak ingin menghubungi Kakeknya jika tidak perlu, sementara pernikahan kontrak ini? Itu adalah apa yang di atur oleh kakek Clarisa, kakek Clarisa dulunya adalah kepala pengurus rumah tangga di keluarganya.

"Baiklah, aku mengerti," ujar Gerald pelan, suaranya serak. Ia mengeluarkan ponsel lamanya dan mengetik beberapa pesan. Setelah itu, ia berkata dengan kesungguhan. "Aku akan mencari uang untuk operasi ibu, dengan caraku sendiri. Aku janji, ini terakhir kalinya kau melihatku dalam kondisi seperti ini."

Clarisa tiba-tiba merasa cemas melihat wajah Gerald yang kini tampak dingin, kehilangan semua keputusasaan yang tadi ia tunjukkan. "Gerald, tunggu! Uang untuk pengobatan..."

"Aku bilang tidak usah!" potong Gerald cepat, nadanya tegas dan penuh kehinaan yang tertahan. "Simpan saja uangmu, Clarisa. Jaga dirimu baik-baik."

Dia tidak menunggu lagi. Gerald berbalik, melangkahkan kaki keluar dari apartemen, menutup pintu dengan bunyi dentuman yang menggema.

Nyonya Maya tertawa puas. "Bagus, Clar! Akhirnya kau mengambil keputusan yang tepat. Sekarang, carilah menantu yang sepadan dengan keluarga kita."

Clarisa hanya diam, menatap pintu yang baru tertutup. Entah mengapa, Hatinya terasa perih. Sejujurnya, selama dua tahun ini, Gerald cukup baik padanya. namun tekanan dari ibunya dan gosipan 'tetangga' nya membuatnya harus memilih.

--

Gerald berjalan terhuyung di sepanjang trotoar. Ponsel di tangannya tiba-tiba berdering. Itu pesan balasan dari pesan yang baru saja ia kirim.

'Tuanmuda Ketiga, dana 500.000 Aurum (500.000 Au) telah ditransfer ke rekening Kamu, dan Tuan Besar sepertinya tidak melarangku mengirim uang padamu. Sepertinya, dia sudah memaafkan mu dan keluarga mu.'

Hmph, dia mungkin sudah memaafkan keluargaku. Tetapi aku, masih tidak bisa memaafkan 'bajingan' tua itu. Batin Gerald Mendengus dingin.

Gerald menarik napas dalam. 500.000 Au. Jauh lebih besar dari dua puluh ribu Kredit Standar yang ia mohonkan pada Clarisa. Selama dua tahun ini, ia hidup dari uang saku minim, dia kerja serabutan, terkadang dia hanya bergantung pada istrinya 'Clarisa' Gerald selalu menahan diri untuk tidak menghubungi siapa pun dari keluarganya, berharap bisa menjalani hidup yang damai dan tenang.

"Ibuku sedang sekarat. Aku hanya bisa menghubungi mereka, Huh, lupakan saja. Nanti jika aku ada uang, aku akan mengganti uang ini, aku tidak ingin menerima belas kasihan dari 'Bajingan' tua itu." gumam Gerald pada dirinya sendiri, suaranya dipenuhi tekad yang kuat.

Ia segera memesan taksi online. Tujuannya adalah Rumah Sakit Utama Vortez.

Di rumah sakit, ibu Gerald, Bu Rina, terlihat pucat di atas ranjang. Di sampingnya, seorang wanita muda yang tampak lelah sedang menangis, itu adalah adik Gerald, Nadia.

"Nadia! Bagaimana Ibu?" tanya Gerald, tergesa-gesa mendekati mereka.

Nadia menoleh, air matanya membanjiri pipi. "Kak, akhirnya kau datang. Dokter bilang kita harus segera membayar biaya operasi sebesar dua puluh ribu Kredit Standar. Kalau tidak..."

Gerald mengeluarkan Kartu Aura Hitam (Abyssal) dari dompetnya. Kartu ini telah lama ia simpan, sebuah kunci ke kekayaan yang luar biasa. Hanya saja, sudah lama tidak ia gunakan!

"Aku sudah urus semuanya. Uangnya sudah ada. Ibu akan dioperasi hari ini juga," kata Gerald, suaranya meyakinkan.

Nadia terkejut. "Dua puluh ribu Kredit Standar? Bagaimana kau mendapatkannya? Bukankah Kak Clarisa tidak memberimu?"

"Bagaimana Aku mendapatkannya. Itu tidak penting sekarang," potong Gerald. "Aku akan menemui dokter. Kau jaga Ibu."

--

Di meja administrasi rumah sakit, seorang perawat menolak mentah-mentah kartu Gerald.

"Maaf, Tuan. Ini bukan kartu pembayaran biasa. Kami butuh transfer bank atau Kartu Aura Debit/Kredit yang valid."

Gerald menghela napas. Tentu saja. Kartu Standar 'Putra Mahkota' ini tidak dikenali oleh sistem bank umum. Ia mengeluarkan ponselnya dan menelepon kontak khusus.

"Aku butuh 50.000 Aurum ditransfer ke rekening rumah sakit ini sekarang. Pakai kode bank Vortez Hospital."

"Baik, Tuan Muda," jawab suara di ujung telepon dengan hormat.

Hanya dalam sepuluh detik, telepon terputus.

Perawat itu bersiap untuk mengusir Gerald. Ketika Tiba-tiba, bunyi notifikasi transfer masuk berdering di komputer mereka.

"Tunggu sebentar... transfer masuk sebesar... lima puluh ribu Aurum?!" Perawat itu terperanjat, matanya melebar tak percaya. Lima puluh ribu Aurum itu sekitar tujuh ratus lima puluh ribu Kredit Standar! Jauh di atas dua puluh ribu Kredit Standar yang mereka minta.

Gerald menatap perawat itu dengan dingin. "Lima puluh ribu Aurum. Gunakan dua puluh ribu Kredit Standar untuk operasi. Sisanya untuk perawatan terbaik VVIP Ibuku. Dan aku minta, kau urus perpindahan kamar Ibu ke bangsal VVIP elit, sekarang juga."

Wajah perawat yang tadinya sombong kini berubah pucat pasi dan penuh hormat. "Ba... Baik, Tuan! Maafkan kami atas ketidaknyamanan ini. Semuanya akan kami urus dalam lima menit."

Gerald tidak berkata apa-apa. Ia berbalik dan kembali ke kamar ibunya.

Bersambung...

*****

Catatan Informasi Mata Uang Novel

Kredit Standar ($KS) dan Aurum ($AU) adalah mata uang yang digunakan di dunia novel ini. Kredit Standar adalah mata uang dasar, sementara Aurum adalah mata uang besar (biasanya digunakan oleh orang-orang kaya dan berkuasa alias orang-orang elite)

Perbandingannya, 1 $AU sama dengan 15 $KS.

Lalu, Kartu Aura Hitam (Kartu Abyssal) adalah kartu debit Eksklusif yang menunjukkan kekayaan dan status. di bawah tingkatan kartu ini, masih ada kartu-kartu yang tingkatannya lebih rendah.

Bab 2

Gerald kembali ke kamar perawatan Ibunya dengan langkah mantap. Rasa sakit hati dari perpisahan dengan Clarisa masih terasa, tetapi kini tertutup oleh tekad yang kuat. Ia harus memastikan ibunya selamat, sisanya bisa ia urus nanti.

Nadia masih berdiri di sisi ranjang, wajahnya pucat karena kelelahan dan ketakutan. Saat melihat Gerald, matanya langsung berbinar penuh harap.

"Kak, bagaimana? Apakah mereka setuju?" tanya Nadia, suaranya bergetar.

Gerald tersenyum tipis, senyum yang sudah lama tidak ia tunjukkan. Senyum penuh keyakinan. "Sudah beres. Jauh lebih beres dari yang kau bayangkan. Ibu akan segera dipindahkan ke bangsal VVIP dan operasi akan dilakukan hari ini."

Nadia mengerutkan kening. "VVIP? Kak, biaya kamar biasa saja sudah sulit. Bagaimana kita bisa membayar VVIP?"

Saat Nadia bertanya, seorang suster yang tadi melayani Gerald di meja administrasi tiba-tiba masuk dengan tergesa-gesa, diikuti dua perawat lain yang membawa peralatan canggih.

"Maaf, Tuan Muda. Kami telah menyiapkan transfer ke Kamar Elite, nomor 808 di Lantai Delapan. Kamar itu memiliki fasilitas udara bersih otonom dan pengawasan medis 24 jam," ujar perawat itu dengan nada hormat yang berlebihan, menundukkan kepalanya sedikit. "Kami akan memindahkan Nyonya Rina sekarang juga."

Nadia ternganga melihat perlakuan ini. Ia menatap Gerald, matanya dipenuhi pertanyaan yang tak terucapkan.

"Aku sudah bilang, kau tidak perlu khawatir," kata Gerald lembut pada adiknya. "Fokus saja pada kesehatan Ibu. Biarkan mereka bekerja."

Tepat saat Bu Rina dipindahkan dengan sangat hati-hati oleh tim medis, pintu kamar terbuka lagi. Kali ini, yang masuk adalah seorang pria paruh baya mengenakan setelan jas mahal, diikuti oleh seorang wanita muda dengan seragam administrasi mewah. Pria itu, Tuan Herlambang, adalah Kepala Administrasi Rumah Sakit Vortez.

"Hallo, Tuan Muda! Nona! Saya Herlambang, Kepala Administrasi. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan yang mungkin kau alami di meja depan," ucap Tuan Herlambang sambil membungkuk dalam-dalam, membuat Nadia hampir menjatuhkan rahangnya.

Sebenarnya, perawat yang melayani Gerald di meja administrasi melaporkan masalah kelalaiannya, pada Tuan Herlambang. Lagipula, seseorang yang bisa mengeluarkan 50.000 $Au dengan mudah, pasti bukan orang biasa, kan? Jadi, demi keamanan, perawat itu melaporkan hal ini pada atasannya.

"Aku dengar Nyonya Rina adalah ibumu. Kami telah menunjuk tim dokter terbaik di Vortez City, Dr. Elara, untuk memimpin operasi ini. Semua biaya tambahan, termasuk biaya pemulihan pasca-operasi, akan ditanggung oleh pihak rumah sakit sebagai permohonan maaf kami."

Gerald menatapnya datar. "Tidak perlu. Aku sudah bayar. Pastikan saja ibuku mendapat yang terbaik. Jika ada hal buruk terjadi, aku tidak akan segan untuk membuat rumah sakit ini berganti kepemilikan."

Ancaman itu diucapkan dengan tenang, namun mengandung bobot yang jauh lebih berat daripada teriakan marah. Tuan Herlambang seketika menjadi pucat. Dia benar-benar merasakan aura intimidasi yang kuat dari pemuda yang ada dihadapannya.

"Tentu saja, Tuan Muda! Kami jamin itu. Aku akan mengawasi jalannya operasi secara pribadi!" janji Tuan Herlambang.

Gerald mengangguk puas. Setelah ibunya dipindahkan dan Nadia ikut mendampingi, Gerald memutuskan untuk mengambil udara segar. Ia berjalan keluar dari rumah sakit, mengabaikan tatapan kaget dan hormat dari para staf.

--

Gerald duduk di kafe terdekat, menikmati kopi hangat. Tiba-tiba Ponsel lamanya kembali berdering. Nama yang muncul di layar adalah Tuan Leo, pengawal pribadinya sekaligus tangan kanan ayahnya yang mengurus urusan bisnis rahasia dimasa lalu.

"Tuan Muda Ketiga, mengapa kau tiba-tiba mencairkan $500.000 Aurum? Bukankah Tuan besar, akan marah?" Suara Tuan Leo terdengar cemas.

"Ibuku masuk rumah sakit, Tuan Leo. Dan aku tidak punya pilihan... lagipula, bajingan tua itu, berutang padaku dan ibuku!," jawab Gerald, menatap pantulan dirinya di jendela kafe. Ia melihat pantulan seorang pria yang seolah merasa lelah dengan kehidupannya.

"Dan lagi, aku tidak menghubungi 'Bajingan Tua' itu. Aku menghubungi kontak darurat (bekas anak buah ayahku)," koreksi Gerald tajam.

Tuan Leo menghela napas di seberang telepon. "Baiklah, aku mengerti. Mengenai pernikahan kau dengan Nona Clarisa dari Keluarga Alvero... apakah itu masih akan dilanjutkan?"

Gerald tersenyum pahit. "Tidak perlu. Clarisa sudah menyiapkan surat cerai. Aku telah menjadi 'beban' hidupnya selama dua tahun, Tuan Leo. Sekarang, aku harus mengurus perceraian ini dengan cara yang pantas."

"Aku akan mengirimkan tim hukum terbaik untuk kau urus perceraiannya, Tuan Muda. Dan...ngomong-ngomong Tuan Besar menyuruhku memberikan sebuah surat padamu, aku tidak tahu apa isinya. Apakah kau sudah siap untuk menerimanya?"

Gerald meneguk kopinya, matanya berkilat dingin. "Siap. Kirimkan semua suratnya ke alamat apartemen Clarisa. Aku akan kembali ke sana sekarang untuk menyelesaikan apa yang harus aku selesaikan."

"Baik, Tuan Muda. Selamat tinggal."

Gerald mematikan telepon, perasaannya campur aduk. Ia akan kembali ke sarang singa, ke rumah Clarisa, tidak lagi sebagai suami Clarisa, tetapi sebagai mantan suaminya.

--

Gerald tiba kembali di apartemen mewah itu. Ia menggunakan kunci cadangan yang ia miliki. Di ruang tamu, Clarisa dan Nyonya Maya masih berada di sana. Mereka tampak sedang berdebat serius, sepertinya membicarakan masa depan Clarisa yang akan segera menjanda.

"Sudah Ibu katakan, kamu harus menikah dengan Aldo Sanjaya! Dia punya $50.000 Aurum di rekeningnya, dan ayahnya menguasai 30% pasar properti di Vortez!" Nyonya Maya bersikeras.

Clarisa tampak frustrasi. "Aku tidak suka Aldo, Bu! Dia angkuh dan licik. Aku hanya ingin menjalani hidupku sendiri."

Gerald berdeham, membuat kedua wanita itu terkejut dan menoleh.

"Kenapa kau kembali, menantu sampah? Bukankah sudah kukatakan, kamu sudah diceraikan?" teriak Nyonya Maya, wajahnya kembali merah padam.

Clarisa hanya menatap Gerald, matanya tampak gelisah.

"Aku kembali untuk urusan terakhir, Clarisa," ujar Gerald, matanya kini lurus dan tanpa emosi. "Surat cerai. Berikan padaku."

Nyonya Maya menyeringai. "Bagus! Cepat tandatangani! Setelah ini, kau tidak akan mendapatkan sepeser pun dari putriku!"

Clarisa mengambil dokumen dari meja. Ia menyerahkan pulpen kepada Gerald.

Saat Gerald meraih pulpen itu, dan hendak menandatanganinya. Seorang kurir tiba-tiba mengetuk pintu apartemen. Dan sebuah paket besar tiba-tiba diantar oleh kurir itu. Kurir itu tampak gugup dan hormat.

"Permisi, Nona Clarisa? Apakah ini benar alamat Nyonya Clarisa Alvero? Ada paket penting dari Kantor Pusat Keluarga Wilton," tanya kurir itu.

Nyonya Maya dan Clarisa sama-sama terkejut. Keluarga Wilton adalah salah satu keluarga elite dan terkuat di Dunia, mereka menguasai industri keuangan dan teknologi rahasia. Mereka tidak punya urusan sama sekali dengan keluarga Alvero saat ini. Ngomong-ngomong Tuan Besar Keluarga Alvero, Warge Alvero. dulu bekerja di Keluarga Wilton sebagai Kepala pengurus. tetapi, semenjak Tuan Besar meninggal satu tahun lalu. Mereka tidak pernah berhubungan lagi dengan Keluarga Wilton.

"Iya, ini benar. Dari siapa?" tanya Clarisa, curiga.

"Dari Tuan Leo. Beliau mengirimkan dokumen penting untuk Tuan Muda Ketiga, Gerald." Jawab Kurir itu.

Semua orang terdiam sesaat mendengar ucapan kurir.

Nyonya Maya tertawa sinis. "Gerald? Apa-apaan ini? Paling juga kiriman dari tempat kerjanya yang serabutan!"

Gerald tersenyum tipis. Ia mengambil paket itu dari kurir. Kurir itu membungkuk dalam-dalam padanya sebelum pergi.

"Tuan Leo bilang ini surat dari kakek, aku penasaran, apa yang akan disampaikan oleh 'bajingan tua' itu." kata Gerald, perlahan membuka paket itu.

Di dalam paket itu, terlihat sebuah amplop berlapis emas yang disegel dengan lambang naga yang terukir rumit-lambang kuno Keluarga Wilton.

Gerald meletakkan amplop emas itu di atas meja, di samping surat cerai. Ia kemudian meraih pulpen, lalu menandatangani surat cerai tanpa ragu sedikit pun.

"Baiklah, Clarisa. Sudah kutandatangani. Sekarang kau bebas," kata Gerald, suaranya tenang.

"Tunggu! Amplop apa ini?" Nyonya Maya merebut amplop emas itu, matanya dipenuhi keserakahan.

Gerald tidak menghentikannya. Ia hanya bersandar, menatap ibunda mertuanya yang kini mantan itu.

Nyonya Maya merobek segel naga itu dengan tergesa-gesa. Clarisa mendekat, wajahnya penuh kebingungan.

Di dalam amplop, ada dua lembar kertas surat dan satu kartu. Satu adalah Kartu Aura Hitam (Abyssal) yang baru atas nama Gerald. Satunya lagi, adalah surat resmi bertanda tangan kakek Gerald, Tuan Besar Keluarga Wilton.

Nyonya Maya mulai membaca surat itu dengan suara keras:

Tulisan surat pertama isinya...

"Teruntuk cucuku, Gerald. Maafkan kakek, sebenarnya, kakek tidak ingin melakukan hal ini padamu dan ibumu. Tetapi, sebagai kepala keluarga Wilton, kakek terpaksa melakukan hal ini padamu dan ibumu. Kakek mohon, maafkan kakek, Nak! Ayok bawa kembali adik dan ibumu ke-keluarga. Kakek akan mencabut perintah kakek yang dulu. Kakek membiarkan kalian untuk kembali. Kakek sekarang sudah tua, mungkin usia kakek tidak akan lama lagi. Sebelum kakek meninggal, kakek ingin bertemu denganmu, adikmu dan ibumu. Kakek ingin meminta maaf langsung pada kalian bertiga."

Dari Kakekmu 'Arga Wilton'

Lalu, di surat kedua...

"Kepada semua pihak yang berkepentingan di Vortez City,

Dengan ini, saya, Tuan Besar Wilton, secara resmi mencabut status pembuangan 'sementara' atas cucu saya, Gerald. Dia kini secara penuh menjabat sebagai Direktur Eksekutif dari Wilton Corporation cabang Vortez, menguasai 80% saham dan aset kami di wilayah ini. Semua transaksi bisnis yang melibatkan asetnya sebesar $10 Miliar Aurum, Kalian harus menjaga dan menghormati cucuku.

Hormat dariku, Tuan Besar Wilton."

Suasana di ruangan itu seketika hening, lebih dingin daripada pagi tadi.

Nyonya Maya tampak seperti patung, tangannya memegang surat itu, matanya membelalak tidak percaya. $10 Miliar Aurum! Itu adalah kekayaan yang bisa membeli hampir seluruh Vortez City!

Clarisa, yang juga membaca surat itu, mundur dua langkah. Jantungnya berdebar kencang. Pria yang baru saja ia ceraikan, pria yang ia sebut 'beban', pria yang memohon $20.000 KS padanya pagi tadi... ternyata adalah pewaris Keluarga Wilton yang legendaris, dan kini menjadi Direktur Eksekutif dengan kekayaan yang tak terbayangkan!

Gerald berdiri, mengambil kembali surat dan kartu Abyssal itu dari tangan Nyonya Maya yang gemetar.

"Surat cerai sudah aku tanda tangani. Aku harap kau dan ibumu tidak akan pernah lagi mengucapkan nama 'Gerald' di hadapan orang lain. Karena sekarang, kita bahkan tidak sepadan untuk berada di lingkaran yang sama," ujar Gerald dengan nada yang mematikan.

Nyonya Maya tiba-tiba jatuh berlutut, wajahnya berubah dari marah menjadi panik yang ekstrem.

"G-Gerald... Anakku... Tuan Muda... Ini salah paham. Aku... aku tidak tahu..." Nyonya Maya berusaha meraih kaki Gerald, air mata palsunya mulai mengalir.

Gerald menepis tangan Nyonya Maya dengan jijik. "Jangan panggil aku 'Anakku'. Aku bukan siapa-siapa kau. Aku hanyalah 'menantu sampah' yang tidak punya uang $20.000 KS untuk mengobati ibunya."

Ia menoleh ke arah Clarisa yang masih membeku.

"Clarisa, kita selesai. Semoga kau menemukan pria yang sepadan, seperti Aldo Sanjaya yang punya $50.000 Aurum itu." Gerald tersenyum, senyum yang kali ini penuh ironi dan penghinaan.

Tanpa menunggu balasan, Gerald berbalik dan berjalan keluar dari apartemen, menutup pintu dengan pelan, meninggalkan dua wanita yang kini dipenuhi penyesalan mendalam.

--

Gerald masuk ke mobil taksi online yang ia pesan. Ia tersenyum kecil dan merasa Bebas.

Saat taksi itu melaju, ponselnya berdering lagi.

"Tuan Muda, Selamat atas pengangkatanmu!"

"Tuan Leo, kamu sudah tahu?"

"Ya, setelah aku mengirimkan surat itu melalui kurir, Tuan besar memanggilku dan menyuruhku pergi ke Vortez untuk membantumu mengelola perusahaan disana."

"Huh, aku tidak menyangka tua Bangka itu akan meminta maaf padaku!" Ucap Gerald dingin. sejujurnya, dia masih merasa terkejut dan syok! Kakeknya, yang terkenal keras kepala dan tanpa ampun. Tiba-tiba meminta maaf pada dirinya dan keluarga kecilnya.

"Tuan besar sudah berada diujung hidupnya, wajar saja, jika beliau ingin bertemu dan meminta maaf pada cucunya! Aku harap Tuan Muda dapat memahami kesulitan Tuan Besar." Leo berkata dengan nada kesungguhan.

"Hmph, lupakan saja. Pokoknya, aku tidak ingin bertemu dengannya. Sudah jangan bahas dia! Ada apa, mengapa kamu menghubungiku?"

"Baik, Tuan Muda! Begini, Ada laporan. Tuan Muda Aldo Sanjaya, yang dikabarkan ingin menikahi Nona Clarisa, baru saja menelepon ke kantor. Dia mengeluhkan bahwa semua rekeningnya di Bank Besar Vortez dibekukan. Dia menuntut penjelasan," ujar Leo di ujung telepon.

Gerald bersandar santai. "Aldo Sanjaya? Aku bahkan belum selesai mengurus penceraian. Tuan Leo, kirimkan tim hukum ke Bank Besar Vortez. Aku ingin semua rekening yang terhubung dengan Keluarga Sanjaya diinvestigasi atas tuduhan pencucian uang. Aku tidak suka pria yang mengincar mantan istriku itu."

"Baik, Tuan Muda. Perintahmu adalah hukum."

Gerald menatap Vortez City yang kini terlihat berbeda dari balik kaca mobil. Kota ini mungkin akan menjadi miliknya, mulai saat ini.

"Tugas pertama: memastikan ibuku sembuh. Tugas kedua: membangun dan mengambil kembali, yang seharusnya aku miliki sejak awal," gumam Gerald pada dirinya sendiri, aura kekuasaan mulai menyelimuti dirinya.

Bersambung...

Bab 3

Gerald tiba di Rumah Sakit Utama Vortez, la langsung buru-buru pergi ke lantai delapan. Ia melewati resepsionis yang segera membungkuk hormat saat melihatnya-sekarang semua staf sudah mengenali wajahnya sebagai "Tuan Muda" yang membayar $50.000 Aurum.

Ketika melewati depan Kamar bangsal biasa yang dulu, dimana disitu ada sebuah sofa, ia melihat Nadia sedang tertidur di sofa tunggu, rasa lelah yang jelas terlukis diwajah adiknya itu. Gerald tersenyum kecil, lalu melanjutkan naik lift ke kamar 808. Disana, Gerald melihat Bu Rina sudah tenang di ranjang canggih, terpasang monitor yang menunjukkan vital sign stabil.

Seorang perawat berjaga di sudut ruangan. Begitu melihat Gerald, perawat itu langsung menghampirinya dengan sopan.

"Tuan Muda, operasinya berjalan lancar. Dokter Elara melakukan yang terbaik. Nyonya Rina hanya perlu istirahat. Dia sempat menanyakan kau sebelum tidur," lapor perawat itu.

"Terima kasih. Lanjutkan tugasmu," kata Gerald. Ia mendekati ranjang ibunya, mencium kening wanita yang sangat ia cintai itu. "Ibu, aku akan buat kau sembuh total. Semua kesulitan kita akan berakhir," bisiknya.

Ia merasa sedikit bersalah. Dalam beberapa tahun ini, ia tidak pernah membahagiakan orang-orang disekitarnya, yang ia sayangi.

Gerald kemudian memutuskan untuk mencari makan. Ia keluar dari kamar bangsal dan turun ke lantai bawah, lalu membangunkan Nadia.

"Kau harus makan. Aku akan carikan makanan enak untukmu. Jangan khawatir, Ibu aman," ujar Gerald.

Nadia mengucek mata. Ketika ia sadar, ia memeluk Gerald dengan erat. "Kak, terima kasih. Kau menyelamatkan Ibu. Kau adalah yang terbaik. Tapi... bagaimana kau mendapatkan uang sebanyak itu?"

Gerald mengelus kepala adiknya, dengan lembut. "Aku akan jelaskan nanti. Sekarang, kita makan terlebih dahulu."

"Em, baiklah, Kak!" Nadia mengangguk dan beranjak berdiri dari sofa tunggu.

Brak!

Saat Nadia berdiri, ia tiba-tiba terpeleset dan jatuh!

"Nadia! Kau tidak apa-apa, kan?" Gerald buru-buru menghampiri Nadia, memeriksa tubuhnya, lalu membantunya untuk bangkit.

"Apa sih, yang aku injak?" Nadia tidak membalas pertanyaan kakaknya, justru ia memusatkan perhatian pada barang yang ia injak.

"Sebuah kertas?" Nadia mengambil barang itu, yang ternyata adalah sebuah kertas.

"Ini... Bill transaksi belanja, lihat, Kak!" Nadia memperlihatkan kertas itu pada Gerald. Gerald kemudian melihat dan membacanya.

"Itu Bill belanjaan, milik Clarisa," kata Gerald, suaranya tiba-tiba menegang.

Di dalam kertas tertulis:

Nota pembelian Pasar Tradisional!

Nama pembeli: Clarisa Alvero

Nota 1: Pembelian obat pereda nyeri (tanggal tiga hari lalu).

Nota 2: Pembelian makanan diet khusus untuk pasien ginjal (tanggal tiga hari lalu).

Nota 3: Pembelian Biskuit Gandum (tanggal tiga hari lalu).

Gerald merasakan jantungnya mencelos. Nadia, yang ikut melihat, menatapnya dengan bingung.

"Clarisa... A-apakah, dia sering datang ke sini?" tanya Gerald, suaranya serak.

Nadia berpikir keras. "Tidak, Kak. Aku tidak pernah melihat Kak Clarisa datang. Lagipula, Bu Maya mungkin melarang dia untuk datang ke sini. Aku selalu ada di sini, dan tidak pernah melihat Kak Clarisa, tapi..."

Tiba-tiba, Nadia menunjuk ke arah biskuit yang sudah terbuka di atas sofa. "Tunggu! Biskuit ini! Tiga hari lalu, saat itu, aku tertidur karena lelah dan kelaparan. Ketika aku terbangun aku melihat ada bungkusan biskuit ini di sampingku. Aku pikir itu dari perawat dan dari pihak rumah sakit, tapi ketika aku bertanya, mereka bilang bukan. Sekarang setelah melihat nota ini, mungkin biskuit itu sengaja ditaruh di situ oleh Kak Clarisa."

Gerald mengambil biskuit itu. Itu adalah merek yang selalu dibeli Clarisa untuknya-merek paling murah yang hanya dijual di pasar tradisional, tempat yang Clarisa benci karena kotor.

Air matanya mulai menggenang. Clarisa tidak datang saat ada Nyonya Maya atau Nadia. Dia datang secara diam-diam, saat semua orang tidur atau tidak ada. Dia membeli makanan dan obat-obatan murah itu dengan uangnya sendiri, lalu meninggalkannya untuk adiknya, Nadia, dan ibunya. Clarisa melakukannya tanpa pernah mengklaim kredit atas kebaikannya.

Clarisa telah mengurus ibunya dan adiknya, dalam diam, dari balik layar.

Gerald mengingat kembali kata-kata Clarisa saat di apartemen: "Aku lelah, Gerald. Aku lelah dengan semua ini... Kau hanya... beban."

Dia menyadari, Clarisa mungkin lelah bukan karena Gerald adalah beban finansial, tetapi karena dia lelah menghadapi tekanan ibunya sendirian, lelah harus berakting kejam di depan umum, sementara di dalam hati ia masih peduli pada Gerald dan keluarga kecilnya. Clarisa mungkin waktu itu ragu memberi Gerald $20.000 KS karena ia tahu Nyonya Maya mengawasi dan ada saat itu, dan ia tidak ingin Gerald semakin mendapat hinaan dari ibunya.

Gerald mengepalkan tangannya. Rasa bersalah menghantamnya dengan keras.

"Aku adalah pria bodoh," gumam Gerald. "Aku bersembunyi di balik kekayaan istriku, dan membiarkan dia menanggung semua tekanan dari ibunya sendiri, dan para tetangganya, hanya untuk diriku. Seharusnya aku yang melindunginya."

Nadia menatapnya, tidak mengerti mengapa Gerald, yang baru saja terlihat bahagia, tiba-tiba menjadi terlihat rapuh, penuh penyesalan, rasa bersalah, dan seperti tertekan.

"Kak, kenapa kau?"

Gerald menarik napas dalam-dalam. "Clarisa. Dia mungkin tidak sejahat yang kita pikir. Dia hanya tertekan. Aku harus memenangkan dia kembali, Nadia."

"Aku akan pergi menemuinya, kau makan sendiri dulu! Ini pakai kartu milik Kakak." Tanpa menunggu jawaban Nadia, Gerald langsung berlari keluar rumah sakit.

--

Gerald meninggalkan Nadia di rumah sakit dan segera menghubungi Tuan Leo.

"Tuan Leo, hentikan terlebih dahulu semua investigasi terhadap Keluarga Sanjaya dan Aldo," perintah Gerald, suaranya tegas.

Tuan Leo terkejut. "Tuan Muda? Tapi beberapa jam lalu kau..."

"Lakukan saja," potong Gerald. "Dan kau segera kumpulkan semua detail tentang Keluarga Alvero, terutama aset pribadi Clarisa. Laporan lengkap harus ada di mejaku dalam satu jam."

"Baik, Tuan Muda. Segera disiapkan."

Dalam waktu kurang dari satu jam, sebuah tablet high-tech dikirimkan ke tangan Gerald. Di dalamnya, tertera laporan keuangan Clarisa.

Gerald membuka dan membaca laporan itu, Di Taman Kota!.

Aset Clarisa Alvero:

Saham Minoritas di Perusahaan Kecil Ayahnya, bidang kosmetik dan kecantikan yang berada di bawah naungan Alvero Group (nilainya fluktuatif).

Tabungan Pribadi: $5.000 KS (hampir kosong).

Aset Tetap: Tidak ada.

Gerald mengerutkan dahinya. $5.000 KS! Itu sangat kecil untuk seorang manajer marketing di perusahaan menengah. Clarisa selalu terlihat elegan, tetapi ia ternyata tidak punya apa-apa.

Ia membaca lebih lanjut, dan menemukan catatan kecil di akhir laporan:

'Dalam dua tahun terakhir, Nona Clarisa Alvero secara diam-diam telah melunasi semua utang medis lama Nyonya Rina (Ibu Gerald) yang mencapai $50.000 KS, menggunakan semua dana yang ia peroleh dari hasil kerjanya di perusahaan ayahnya, dan sebagai desainer lepas. Semua dilakukan tanpa sepengetahuan Nyonya Maya atau Gerald.'

Kebenaran itu memukul Gerald untuk kedua kalinya, lebih keras dari yang pertama. Clarisa tidak hanya mengurus ibunya saat sakit akut, tetapi dia sudah membayar utang pengobatan lama ibunya! Dia menghabiskan semua uangnya untuk keluarga Gerald, sementara suaminya? Hanya membebaninya dan hidup dari uang saku minim, dan itupun terkadang berasal dari Clarisa!

"Dia... dia mengorbankan tabungannya demi Ibuku. Dan aku? Dan...dan aku menceraikannya," Gerald merasakan kerongkongannya tercekat.

"Ternyata, semua utang biaya pengobatan ibuku dia yang bayar. Pantas saja, pihak rumah sakit tidak menagih. Aku awalnya mengira, yang membayar hutang-hutang itu adalah Keluarga Wilton."

Dia mengambil ponsel lama miliknya dan menelepon Tuan Leo lagi.

"Tuan Leo, aku punya tugas mendesak untukmu. Segera beli 51% saham Perusahaan Kosmetik Alvero, perusahaan ayah Clarisa. Beli dengan harga tiga kali lipat di atas harga pasar. Aku ingin perusahaan itu berada di bawah naungan Wilton Corporation dan segera pulihkan dari semua masalah utang. Jika perusahaan itu memiliki utang," perintah Gerald.

"Baik, Tuan Muda!" jawab Tuan Leo.

Setelah itu, telepon pun diputus!

Kemudian, Gerald kembali memutar sebuah nomor. Nama di atas nomor itu adalah 'Mantan Istri' yang tentu saja merujuk pada Clarisa.

Tinut... tinut... tinut...

Setelah berdering tiga kali, akhirnya telepon diangkat.

"Halo, Gerald. Ada apa?" tanya Clarisa dari ujung telepon.

"Emm, anu... Clar, bisakah kita bertemu?" jawab Gerald.

"Ada apa? Kapan?" jawab Clarisa sambil mengerutkan keningnya.

"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Nanti sore, ya! Di tempat makan barbeque pinggir jalan, yang dulu kita pernah makan berdua di sana."

"Hm, baiklah. Jika aku tidak sibuk, aku akan menemuimu nanti sore di sana!."

"Ya sudah itu saja, aku tutup teleponnya, ya!" Kemudian, sambungan telepon pun dimatikan oleh Gerald.

"Huh, semoga saja. Dia memaafkan ku." Gerald menarik napas dalam-dalam.

Bersambung...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED