Pagi ini, hujan mengguyur kotaku. Tidak seperti biasanya, pagi ku kali ini di temani dengan secangkir kopi. Aromanya menguar memenuhi seluruh ruangan di kamarku. Hingga tanpa sadar, ingatanku kembali melesat ke masa dimana aku pertama kali bertemu dengannya 2 tahun lalu.
***
Namaku Anaya Anantara Sabila. Teman-temanku biasa memanggilku dengan sebutan Naya. Aku adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Status ku saat ini, adalah seorang mahasiswi semester 2. Jurusan akuntasi, di salah satu universitas di sebuah kota dengan julukan "Kota Kembang."
Aku merantau ke kota ini seorang diri. Aku tinggal bersama teman-temanku yang lain, yang berasal dari berbagai penjuru kota di Indonesia. Mereka sama sepertiku. Datang ke kota ini, untuk menuntut ilmu sekaligus mencari pengalaman baru.
Aku tinggal di sebuah kost-kostan Putri dengan harga yang lumayan murah untuk ukuran mahasiswi sepertiku.
Siang itu, Ibu meneleponku.
"Neng, uang nya udah Ibu kirim. Jangan lupa! Nanti kalau mau pulang sekalian beli oleh-oleh buat bapak." Ucap Ibu di seberang telepon.
"Iya, Bu. Nanti Neng kabarin ibu sama bapak kalau mau pulang."
"Gimana kuliah kamu, lancar?" Tanya Ibu.
"Alhamdulillah, Bu, lancar. Doain neng, ya. Supaya neng bisa bikin Ibu sama Bapak bangga."
"Ibu sama Bapak selalu doain yang terbaik buat kamu. Tapi ingat! kamu juga harus berusaha sebaik mungkin agar semua cita-cita kamu tercapai. Dan jangan lupa! Untuk selalu libatkan Allah dalam setiap urusan kamu." Ucap Ibu menasehati.
"Iya, Bu. Neng akan selalu ingat sama semua nasihat Ibu." Ucapku tersenyum.
"Ya sudah, kalau gitu teleponnya ibu tutup. Jaga diri baik-baik di sana. Belajar yang rajin. Satu lagi yang paling penting, jangan pernah tinggalin sholat yang lima waktu."
"Iya, Bu."
Tuuuutttt tuuuutttt...
Ibu pun mematikan teleponnya di seberang sana.
Setelah itu, aku langsung bergegas menuju ke sebuah ATM di seberang jalan raya. Aku memutuskan untuk berjalan kaki. Karena jaraknya yang lumayan dekat, aku hanya membutuhkan waktu 5 menit untuk sampai di sana.
Saat tiba di sana, aku melihat sekumpulan seniorku di Kampus sedang asyik nongkrong dan minum kopi. Aku perkirakan, mungkin, sekitar enam atau tujuh orang. Kebetulan, di seberang ATM ini ada sebuah kedai kopi yang sering di jadikan sebagai tempat nongkrong.
Tiba-tiba, seseorang memanggil namaku.
"Eh, Naya! Datar amat sih lo kaya penggaris." Teriak seseorang dari sana.
Dari mana dia tahu namaku? "Ucapku dalam hati."
"Lho, kok, penggaris si bro?" Tanya temannya.
"Iyalah, penggaris kan datar. Luruuus aja kaya si Naya." Ujarnya.
Hahahaha (teman-temannya ikut mentertawakan ku)
Hatiku mulai panas. Berani sekali dia mengejekku seperti itu. Apalagi, aku tidak mengenalnya sama sekali. Awas saja, akan ku balas nanti. "Gerutu ku dalam hati."
Akhirnya, aku memutuskan untuk cepat-cepat mengambil uang kiriman dari Ibu. Malas sekali rasanya meladeni orang yang gak jelas seperti mereka.
Saat aku memutuskan untuk pulang ke kostan. tiba-tiba seseorang menghalangi jalanku. Ya, dia adalah orang yang tadi mengejekku. "Mau apalagi sih dia?" Gerutu ku.
Karena kesal. Akhirnya, aku menginjak kakinya dengan sekuat tenaga dan pergi meninggalkan nya.
"Ahhh... Sakit juga ternyata." Dia meringis kesakitan sambil memegangi kakinya yang aku injak tadi.
"Makanya, jangan coba-coba ganggu aku lagi! Atau, aku akan patahkan kakimu nanti." Aku mencoba mengancamnya.
"Galak amat sih! Tapi, kalau di lihat-lihat, lo tambah cantik kalau lagi ngambek gitu."
"Dasar buaya darat." Umpat ku.
"Ya udah mana?" Tanyanya.
" Mana apa?" Tanyaku lagi.
"Nomor handphone lo."
"Buat apa? Tanyaku bingung.
"Ya, buat ngabarin lo, lah. Katanya lo mau matahin kaki gue kan tadi. Kalau gue udah siap, gue kabarin lo deh kapan waktunya." Ucapnya tanpa rasa bersalah.
"Kenapa harus nunggu nanti? Kenapa gak sekarang aja?" Ucapku.
"Kita kan baru kenal sekarang. Rasanya, gak etis aja kalau lo tiba-tiba langsung hajar gue, kan?
"Ya, gak masalah dong! Anggap aja sebagai hadiah perkenalan kita. Kecuali, kalau lo takut." Ucapku sinis.
"Gue? Takut sama, lo? Gue gak pernah takut sama siapapun, gue cuma gak mau aja di bilang pengecut gara-gara berantem sama cewek."
"Oh, ya? Kalau gitu, buktiin dong! Kalau emang lo gak takut, sini! Serang gue sekarang." Ucapku menantangnya.
"Eh, bro! Lo mau berantem sama Si Naya? Dia kan, cewek. Lo gak malu apa? Ucap temannya tertawa.
"Sejak kapan gue berantem sama cewek? Lo juga tahu kali, kalau gue gak pernah bisa nyakitin cewek, sekalipun itu musuh gue."
"Gue percaya sama lo. Tapi, lo gak lihat, apa? Si Naya udah masang kuda-kuda gitu, kayanya, dia gak takut deh sama lo."
"Cewek lemah kaya dia, gak ada apa-apanya buat gue." Ucapnya sombong.
"Bukannya tadi, kaki lo di injak yah, sama dia? Tanya temannya.
"Gue tadi cuma pura-pura kesakitan aja, biar dia ngasih nomor HP nya sama gue."
"Dasar orang aneh!" Aku pun berlalu pergi dan meninggalkan dia yang masih berdebat dengan temannya.
Kulihat, dia hanya tertawa mendengar ucapan ku. Aku pun kemudian berjalan setengah berlari. Ada perasaan takut jika dia akan mengejar ku sampai ke kostan. Tapi, saat aku melihat kebelakang, aku tidak menemukan siapapun. Syukurlah, ternyata dia tidak mengejar ku. Kalau tidak, aku benar-benar akan mematahkan kakinya.
"Apa kau ingat saat pertama kali kita bertemu? Awalnya, kita tidak saling mengenal bukan? Namun, semesta mengenalkan kita tanpa sengaja." - Anaya Anantara Sabila
Aku tiba di kostan dengan nafas terengah-engah. Hampir saja dia berhasil mengejar ku.
"Ya Tuhan, ternyata orang itu mengerikan juga. Atau, jangan-jangan, dia adalah seorang psikopat yang menyamar jadi mahasiswa? Hihhh membayangkan nya saja aku sudah bergidik ngeri."
Ketika sedang asyik melamun, aku di kejutkan dengan suara ketukan pintu dari luar.
"Nay! Lagi apa si di dalem? Dari tadi aku panggil gak nyaut-nyaut. Hayoo lho! Lagi mikirin Bang Eza ya? Selidik Amel.
"Diihhh... Apaan sih, Mel. Bang Eza siapa? Aku balik bertanya.
"Ya ampun. Naya! Abis kejedot pintu lu? Atau, salah minum obat? Kenapa tiba-tiba jadi amnesia?" Tanya Amel khawatir.
"Gini ya, gue jelasin sama lo. Yang gue maksud itu, bang Eza senior kita di Kampus. Mahasiswa Semester 6, Jurusan Ilmu Komunikasi. Yang naksir berat sama cewek dingin dan jutek, seperti Anaya Anantara Sabila." Jelas Amel panjang lebar.
"Iya, udah tau kali." Ucapku tak mau kalah.
"Lagian, aku itu bukan lagi mikirin bang Eza. Tapi, lagi jatuh cinta." Aku balik menggoda Amel.
"Hah! Lo serius? Jatuh cinta sama siapa?" Tanya Amel antusias.
"Kepo banget sih neng! Mau tahu aja, atau, mau tahu banget?" Tanyaku membuat Amel semakin penasaran.
"Mau tahu banget lah." Ucapnya antusias.
***
Saat sedang asyik mengobrol dengan Amel, tiba-tiba, HP ku berbunyi.
Tiiing...
Sebuah pesan WA masuk ke HP ku.
Dari nomor tidak di kenal.
[Kamu, Naya, kan? Naya, si cewek penggaris, yang datar dan kaku kaya kanebo kering.]
Diiihhh! Siapa sih ni orang? Kenal juga enggak, udah ngajak perang aja.
Tapi, karena penasaran. Akhirnya, aku membalas pesannya.
[Maaf, sepertinya anda salah orang. Saya bukan cewek penggaris. Nama saya Naya. Nama lengkap saya, Anaya Anantara Sabila.]
[Anaya Anantara Sabila? Nama yang bagus. Tapi, sayang. Orang nya dingin banget kaya kulkas. Udah gitu galak lagi. Kayanya, nama itu gak cocok buat lo.]
[Enak aja! Kalau ngomong itu jangan sembarangan. Aku laporin sama bapak aku, baru tahu rasa kamu.]
[Jutek amat sih neng! Jadi cewek jangan jutek-jutek, nanti susah dapat jodoh.]
[Bodo amat.]
[Yeehhh! Di bilangin gak percayaan]
[Ngapain juga harus percaya sama kamu? Kenal juga enggak.]
[Ya udah, kenalin, nama gue Arsa Nata Prawira. Boleh di panggil sayang.]
[Dasar buaya darat]
[Haha, tapi gue pastiin, lo bakal jatuh cinta sama gue.]
[Gak bakalan]
[Kita lihat aja nanti!]
[Oke! Siapa takut]
[Ya udah, gue lagi ada tugas nih. Kita lanjut lagi besok ya. Dadah sayang.]
***
Apaan sih tu orang, gak jelas banget. Baru juga kenal udah manggil sayang, dasar cowok aneh.
Aku terus saja mengomel. Sampai gak sadar, kalau Amel ternyata masih ada di sampingku dengan wajah keheranan.
"Woy! Kenapa lu? Dari tadi ngomel-ngomel gak jelas. Lagi chattingan sama siapa sih?"
"Apaan sih? Kepo banget! Lagian bukan siapa-siapa."
"Jangan bohong! Dari tadi gue perhatiin lu kali."
"By the way, kamu tahu yang namanya Arsa?"
"Arsa yang mana?"
"Itu, lho, Arsa Nata Prawira, tahu gak?"
"Arsa Nata Prawira?" Tanya Amel dengan wajah yang kaget.
"Iya, katanya sih gitu. Kamu tahu?
"Ya, tau lah. Siapa si yang gak kenal sama Kak Arsa. Udah baik, cool, pinter, anak motor lagi. Pokoknya dia itu idaman semua cewek di kampus. Tapi sayangnya, dia itu dingin banget orangnya. Cocok sama lo."
"Cocok apaan! Yang ada, kita itu udah kaya Tom and Jerry. Gak bakal bisa akur."
"Jadi, tadi lo chattingan sama Kak Arsa?
"Yaa, gitu deh."
"Kok bisa?"
" Jadi gini, tadi itu, pas aku pergi ke ATM buat ngambil uang kiriman dari ibu, aku ketemu sama dia dan teman-temannya juga. Tapi, yang bikin aku kesel, masa dia ngatain aku cewek penggaris sih! Katanya, aku itu datar, lurus, kaku, gak jauh beda sama penggaris. Nyebelin banget gak si?
"Hahaha... Emang bener sih! Lo itu emang gak jauh beda sama penggaris. Buktinya nih ya, kalau lo jalan, lo tu gak pernah liat kanan kiri tahu, gak? Luruuus aja, terus yang bikin gue kesel kalo lagi jalan sama lo, lo tu dataaar aja, gak pernah gue lihat lo senyum." Cibir Amel.
Tuk!
Aku memukul kepala Amel, enak aja dia ngatain aku cewek penggaris. Temen apaan coba yang berani ngatain temennya sendiri?
"Awww... sakit tahu!"
"Syukurin! Siapa suruh tadi ngata-ngatain, hah?"
"Iya-iya Maaf! Gue kan cuma bercanda." Ujarnya.
"Ngomong-ngomong nih ya! Kayanya, kalian jodoh deh. Soalnya, sama-sama jutek, dingin, kuliah di jurusan yang sama pula."
"Jangan ngaco deh Mel!"
"Gue serius Nay! Pertemuan kalian itu udah di takdirin sama Tuhan. Buktinya, lo sama dia punya banyak kesamaan. Dan itu bukan sebuah kebetulan kan?"
"Ya bisa aja itu cuma sebuah kebetulan. Atau, bisa jadi dia salah satu kembaran aku. kata orang, kita itu punya tujuh kembaran di dunia. Berarti aku tinggal nyari yang sisanya aja. Bener gak?" Ucapku terkekeh.
"Sumpah ya! Lo itu makin ngaco. Kebanyakan nonton film tahu gak? Lama-lama gue bisa ketularan gak jelas kaya lo."
"Pokoknya menurut gue nih, ya, di dunia ini gak ada yang namanya kebetulan, semua yang terjadi di dunia ini, itu semua udah takdir dari Tuhan. Termasuk pertemuan lo sama kak Arsa."
"Iya benar juga sih!" Ujar ku sambil tersenyum.
"Udah ah! Gue mau balik ke kamar gue dulu. Kalau kelamaan di sini, gue takut lo kerasukan sama kembaran lo yang lainnya." Ucap Amel sambil berlalu.
"Haha... Apa katanya? Kerasukan sama kembaran yang lain? Ada-ada aja tu anak." Aku hanya bisa tertawa mendengar ucapannya.
***
Aku memang setuju dengan semua perkataan yang Amel katakan. Kalau setiap kejadian di dunia ini, semua itu adalah takdir dari Tuhan. Tapi, apakah pertemuanku dengan kak Arsa juga sebuah takdir?
Entahlah. Yang pasti saat ini, aku menjadi penasaran dengan seorang ARSA NATA PRAWIRA.
Sejak tadi pagi, aku sudah di sibuk kan dengan panggilan telepon dari ibu. Dia menyuruhku untuk segera pulang saat ini. Ibu bilang, kalau bapak saat ini tengah sakit. Dan terus menerus memanggil namaku.
Padahal, aku berencana untuk pulang saat libur semester nanti. Tapi, karena aku khawatir dengan keadaan bapak, maka aku memutuskan untuk pulang hari ini juga.
Aku bahkan sudah tidak peduli dengan semua tugas-tugas kuliahku. Yang ada di pikiranku saat ini adalah, segera pulang ke rumah dan melihat keadaan bapak.
Setiap aku mendengar kabar bahwa bapak sakit, aku selalu merasa khawatir. Aku takut sesuatu terjadi pada bapak. Mengingat umur bapak yang sudah sepuh, aku semakin takut untuk kehilangan bapak. Karena dari kecil, aku memang cenderung lebih dekat dengan bapak ketimbang dengan ibu.
Suatu hari, bapak pernah bilang. Bahwa aku adalah anak kesayangannya. Mungkin, karena aku adalah anak bungsu, dan anak perempuan satu-satunya. Karena kata ibu, dari dulu bapak sangat mendambakan mempunyai anak perempuan. Dan ketika aku lahir, bapak begitu menyayangiku.
Pernah suatu hari, ketika aku masih berumur 7 tahun. Aku mengalami sakit demam dan kejang-kejang. Dan bapak sampai menangis karena tidak tega melihat keadaanku saat itu.
Mengingat itu semua, tanpa terasa air mataku jatuh. Tiba-tiba, aku jadi rindu dengan bapak.
Aku bahkan hampir lupa, jika aku harus segera pulang ke rumah. Akhirnya, aku menelepon Amel untuk memberitahunya bahwa hari ini aku akan pulang. Kebetulan, tadi pagi dia sudah berangkat ke kampus. Jadi, aku belum sempat memberitahunya.
Setelah menelepon Amel, dan membereskan semua pakaianku. Aku bergegas menuju ke sebuah terminal bus dengan menggunakan ojek online.
Setelah sampai di sana, aku segera mencari bus yang akan mengantarkan aku ke tempat tujuanku. Karena bus yang akan aku tumpangi sudah hampir penuh, aku buru-buru untuk mencari tempat duduk. Setelah menunggu kurang lebih 10 menit, akhirnya bus yang aku tumpangi melaju menuju ke tempat tujuanku.
***
Setelah melalui perjalanan kurang lebih selama 4 jam. Akhirnya, aku sampai di kampung halamanku. Sebuah desa yang masih sangat asri. Dengan pemandangan sawah yang membentang dari ujung ke ujung. Dan sebuah gunung yang menjulang tinggi, yang membuatnya menjadi semakin sempurna. Dan akan membuat siapapun betah dan berlama-lama memandanginya.
"Assalamualaikum? Aku mengucap salam ketika sampai di depan rumah."
"Waalaikumussalam." Jawab ibu dari dalam.
"Ibu, sehat?" Tanyaku, sambil mengecup tangannya yang sudah mulai keriput karena dimakan usia.
"Alhamdulillah, ibu sehat. Kamu gimana? Sehat? Akhirnya kamu pulang juga neng." Ucap ibu dengan wajah yang berbinar.
"Iya, Bu. Neng khawatir sama keadaan bapak."
"Ya sudah, ayo masuk. Bapak udah nungguin kamu."
"Iya, bu."
"Tapi sebelumnya, kamu simpan dulu tas kamu di kamar. Setelah itu, kamu pergi ke kamar bapak ya! Ibu akan siapkan makanan untuk kamu."
"Bu! Jangan lupa ikan asin sama sambelnya!" Ucapku terkekeh.
"Ibu kira, kamu udah gak suka ikan asin sama sambal." Ucap ibu sedikit meledek.
"Ya, enggak lah bu! Neng mah lidah nya juga lidah Sunda. Jadi, kalau makan tanpa sambal sama ikan asin, rasanya itu kaya ada yang kurang."
Kulihat, ibu hanya tertawa kecil mendengar ucapan ku. Kemudian, ibu berjalan ke dapur untuk menyiapkan makanan.
Aku membuka pintu kamarku. Kamar yang selalu aku rindukan. Tidak ada yang berubah. Semuanya masih sama, seperti terakhir kali aku meninggalkan kamar ini. Aku yakin, ibu pasti selalu membersihkan dan merawat kamar ini setiap hari.
Tanpa aku sadari, ternyata bapak sudah berdiri di depan pintu kamarku sambil tersenyum.
"Neng! Kok senyum-senyum sendiri? Lagi mikirin apa?" Tanya bapak dengan suara yang sangat pelan.
"Kok bapak ada di sini? Harusnya kan bapak istirahat aja di kamar. Biar nanti neng yang nyamperin ke kamar bapak."
"Bapak udah kangen banget sama kamu. Kalau nungguin kamu mah lama, nanti yang ada, bapak keburu tua" Ucap bapak sedikit terkekeh.
"Iyaa, pak. Maaf! Tadi, neng di suruh ibu buat nyimpen dulu tas ke kamar. Baru setelah itu, neng langsung ke kamar bapak." Ucapku sedikit merasa bersalah.
"Gimana kuliah nya lancar?"
"Alhamdulillah, pak. Lancar." Ucapku antusias.
"Alhamdulillah kalau gitu, bapak senang dengernya." Ujar bapak.
"Iya pak! Neng pokoknya janji sama bapak sama ibu, kalau neng gak bakal bikin kecewa kalian berdua."
"Bapak percaya sama kamu. Tapi, sebenarnya, ada yang ingin bapak sampaikan sama kamu." Kali ini, raut wajah bapak terlihat begitu serius.
"Bicara aja pak. Gak usah grogi gitu!Lagian, ngomong sama anak sendiri aja kok kaya mau nembak pacar aja sih. " ucapku tertawa.
"Kapan kamu siap untuk menikah?" Tanya bapak tanpa basa-basi.
Deg!
Seketika, aku langsung terdiam dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh bapak. Kenapa bapak mendadak bertanya seperti itu? Apa itu artinya, bapak ingin aku segera menikah?
Pertanyaan bapak yang tiba-tiba, membuatku, seketika sibuk dengan pikiranku sendiri. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, apa maksud dari pertanyaan bapak tadi? Kenapa bapak tiba-tiba bertanya seperti itu? Semua pertanyaan itu seolah-olah berputar di kepalaku.
"Neng! Kok diem aja bapak tanya?" Ucap bapak membuyarkan lamunanku.
"Kenapa bapak tiba-tiba bertanya seperti itu? Neng kan masih 19 tahun. Kuliah aja baru semester dua. Lagian, kalau neng nikah sekarang. Kasian suami neng nanti. Soalnya neng masih suka bangun siang. Hehe"
Ucapku terkekeh.
"Bapak udah tua neng! Bapak gak tau, apa bapak masih bisa melihat kamu menikah atau tidak." Ucap bapak dengan wajah sedih.
"Bapak harap, kamu pikirkan baik-baik ucapan bapak. Menikahlah! Cuma itu permintaan bapak."
"Iyaa, pak. Neng akan pikirkan lagi permintaan bapak."
"Ya sudah, sekarang kamu istirahat. Pasti kamu cape kan? Bapak akan pergi ke kamar bapak."
Setelah bapak pergi, aku menutup kembali pintu kamarku. Entah apa yang harus aku lakukan sekarang.
Aku tidak menyangka. Jika permintaan bapak kali ini, adalah permintaan yang sangat berat untuk aku penuhi.
Aku masih ingin melanjutkan kuliahku, mengejar semua impianku, menjadi penulis terkenal. Dan keliling dunia seperti cita-citaku dulu.
Tapi sekarang, semua itu menjadi seperti mustahil bagiku. Ya Tuhan! Apa yang harus aku lakukan.?