Bab 1

"Dasar istri katrok! Kampungan! Malu-maluin aja!" 

Aku menyentak kasar pegangan Diana. Sebal. Bisa-bisanya ia mempermalukanku di depan teman-teman kantor. Kupikir mendandaninya saja bisa mengcover sedikit sifat kampungannya itu. Ternyata aku salah. Ia tak berubah. Diana tetap kampungan. Bayangkan saja. Ia melepas sendalnya saat masuk aula pesta. Belum lagi saat menaiki lift. Ia menjerit ketakutan. Mengundang gelak tawa teman-temanku. Bodohnya aku yang tak berpikir dua kali untuk mengajak Diana datang kemari. 

Aku malu! Istri orang-orang berkelas masa iya kampungan begini? Kalau saja bukan karena Ibu. Mana mau aku nikah sama Diana! Huh!

"Bajunya terlalu terbuka, Mas," ucap Diana sambil menutupi bagian pahanya. Sengaja kupilihkan gaun yang cukup mini dan ada belahan di bagian tengah. Diana itu cantik, tubuhnya bagus, tapi sayang tak pernah dipamerkan. Oh, ayolah. Lihat istri teman-temanku yang tanpa malu memamerkan body goal mereka. Sesekali, aku pun ingin pamer milikku. 

"Terbuka apanya sih? Wajar aja kok. Kamu tuh harus bisa menempatkan diri. Masa iya diundang pesta, kamu datang kayak ibu-ibu mau pengajian. Halah!" 

"Tapi nggak gini juga, Mas. Aku risih!" 

"Udah, deh. Jangan manja dan lebay. Kamu begini malu-maluin suami tauk!"

"Mas, aku risih. Orang-orang melihatku begini. Aku nggak nyaman."

"Makanya jaga sikap! Huh! Menyebalkan!" 

Aku membuang napas kasar. Tahu gini, mending bawa Susan aja, sekretarisku di kantor.

"Mas ..."

Diana terus merengek. Sia-sia mencoba berbicara padanya. Kuedarkan pandangan ke sekeliling. Sepi. Tak ada orang. Hanya beberapa petugas catering yang membawai piring. Sengaja kubawa Diana ke halaman belakang gedung.  

"Sudahlah, kamu tunggu di mobil saja. Balik ke parkiran sana. Aku mau ke dalam. Malu dilihat teman-teman," ucapku. 

Diana menggeleng. 

"Takut nyasar, Mas. Aku juga takut kalau sendirian." 

"Lah kamu di dalam malu-maluin. Udah sana! Jangan banyak protes!"

Aku membalik badan. Berjalan meninggalkan Diana. Kucoba abai dan terus berjalan. 

"Mas ... Mas ..." 

Diana menarik ujung jas yang kukenakan. Tepat di anak tangga bagian belakang. Nyaris saja aku jatuh. Kesal, kudorong Diana hingga ia terjerembab ke belakang. Biarlah ia yang jatuh. Bukan aku. Nasib apes sebenarnya  punya istri model begini!

"Astagfirullah, Pak! Bapak keterlaluan!" 

Seorang pria dengan tergesa berjalan mendekat. Dari pakaian yang ia kenakan. Kentara sekali bahwa ia adalah pegawai catering yang bertugas di sini. Konyolnya lagi, ia bak pahlawan kesiangan, membantu Diana berdiri.  

"Hey, jangan pegang-pegang istri saya!" sentakku sambil menatapnya tajam, tak suka. Ikut campur urusan orang saja. Lagi pula, aku sama sekali tak mengenalnya.

"Lah Bapak nggak nolongin. Mana tadi istrinya jatuh gara-gara Bapak juga." Pria itu menyindirku. 

"Bukan urusanmu! Cepat pergi sana atau kulaporkan pada atasanmu! Tuh, banyak piring kotor di dalam." Aku mengancam. 

"Mas, sudahlah." Diana menengahi. 

"Sudah apanya? Semua juga gara-gara kamu. Ayo. Pergi sana ke parkiran!" ketusku pada Diana. 

"Kamu juga. Kenapa masih diam di sini? Sana pergi!" bentakku pada petugas catering. 

"Dasar lelaki sinting!" gumamnya yang terdengar jelas di telingaku. 

"Apa kamu bilang?"

Petugas catering tak menjawab. Ia melengos pergi. Diana pun begitu. Kali ini tanpa penolakan, ia membalik badan. Berjalan menuju parkiran. Seperti perintahku. 

Masa bodoh dengan Diana. Kini saatnya menemui rekan-rekan kantor di dalam. Kucoba menghubungi nomor Susan. Ia pasti datang malam ini. Setidaknya, meski hanya melihatnya saja, aku bisa meredamkan emosiku. 

"Pak!" 

Binggo! 

Baru saja aku memikirkan, Susan ternyata  datang. Aku sengaja memutar jalan. Hingga kini berada di depan pintu utama dan akhirnya bertemu dengan Susan. 

Kuamati penampilan Susan dari ujung kepala hingga kaki. Rambutnya diikat ke atas. Menampilkan lehernya yang jenjang nan putih. Sepasang anting bertengger di telinga. Ia juga memakai kalung berbentuk V. Gaun malam yang ia kenakan didominasi warna biru elektrik. Tanpa lengan, dengan belahan di bagian depan dada.  Kain bawahnya panjang menyentuh lantai, tapi ada belahan hingga sebatas paha. Tanpa sadar aku menelan ludah. Indah sekali. 

"Sendirian aja, Pak?" tanya Susan yang seketika membuyarkan lamunanku. Ia celingak-celinguk. "Ibu nggak ikut?" tanyanya lagi. 

"Tadi ikut, sekarang menunggu di mobil. Kamu tahu kan, istri saya itu kurang suka jika diajak ke pesta." Aku menjawab tanpa menutup-nutupi. 

"Ouh, begitu. Jadi ... Bapak mau ke dalam sendiri?" 

"Enggak lah. Ngapain juga sendiri. Kan ada kamu sekarang. Kita barengan." 

Aku tersenyum penuh arti. Susan mengangguk lalu membalik badan. Ia menyelipkan tangannya dan menggamit lenganku. Tanpa ragu, tanpa malu, kami berjalan beriringan, sama seperti hari-hari sebelumnya. Saat kami hanya berdua saja di kantor. 

Bersambung ....

Bab 2

"Coba istri saya cantik dan menantang kayak kamu. Betahlah lama-lama begini." Aku menjawil dagu Susan, dia adalah asistenku di kantor.

"Ish, Bapak bisa aja. Makanya, jadikan saya bagian dari itu." Susan menpis pelan jemariku. Kedua pipinya memerah. Ia tampak tersipu malu.

"Memang kamu beneran mau?" tanyaku.

"Kenapa tidak? Siapa yang mampu menolak pesona Bapak."

Susan tersenyum tipis. Ia membisik pelan di telingaku. Jemari tangannya bergerak lincah menyentuh leher. 

Kami sedang di dalam lift. Kebetulan hanya berdua saja. 

Ting! 

Denting pintu lift terdengar. Cepat aku membetulkan posisi. Merapikan bagian krah kemejaku yang sempat terbuka oleh Susan. Beberapa orang masuk ke dalam. Kulirik sekilas pada Susan, ia tampak sebal. Bibirnya mengerucut. 

"Sabar dulu," bisikku padanya. 

Tiba di lantai tiga. Aku dan Susan kembali berjalan. Beberapa pegawai kantor hadir. Mereka menyapaku.

Kuedarkan pandangan ke sekeliling. Tampak dekorasi pesta yang mewah. Gelas-gelas kaca berjajar rapi di atas meja berwarna putih. Kerlap kerlip lampu menggantung sangat indah. Pesta kali ini diadakan oleh dewan komisaris di perusahaan tempatku bekerja. 

"Ayo Susan," ucapku sambil menggenggam tangan Susan. 

"Tapi, kalau ada yang bertanya istri Bapak, bagaimana?"

"Tenang saja. Tak ada yang akan berani bertanya tentang itu." 

Aku meyakinkan Susan dan ia pun mengangguk setuju. Kami berdua berjalan menuju meja Pak Anton, sang pemilik pesta. Kulihat dari tempatku berdiri. Ada Pak Yosef, Pak Elvin, Bu Manda dan beberapa wajah yang cukup asing. Ternyata bukan cuma karyawan kantor di perusahaan saja yang diundang. Sebab banyak wajah asing dan berkelas turut hadir. 

"Selamat malam, Pak," sapaku begitu tiba. 

"Selamat malam juga, Pak Wira. Wah, terima kasih sudah datang." 

Pak Anton mengulurkan tangan. Aku menjabatnya. Lelaki berbadan bulat dengan kepala botak di depanku ini memakai setelan jas berwarna silver. 

"Selamat malam Bu Susan." Pak Anton beralih pada Susan. Seperti yang ia lakukan padaku. Kali ini, tangannya menjabat lembut jemari Susan. Kulirik dari ekor mataku. Rasanya ada yang terbakar di sini. 

"Selamat malam juga untuk Bapak-Bapak semuanya." Susan menjawab sambil tersenyum. 

Tak ingin lama-lama terbakar cemburu, aku menyentuh pelan lengan Susan. Memberi kode untuk duduk di meja lain saja. 

"Apa sih, Pak?" tanya Susan seolah tak paham. 

"Kita ambil makan dulu," ucapku mengalihkan. 

"Oh, oke. Baiklah. Kalau begitu, kami permisi dulu, ya, Pak." 

Aku dan Susan berpamitan menuju tempat makanan. Tanpa sengaja aku berpapasan dengan petugas catering yang kutemui di bawah. Saat bersama Diana tadi. Ia menatapku penuh dengan raut benci. 

"Apa lihat-lihat!" sengitku.

Petugas catering yang tak kuketahui namanya itu menggeleng-gelengkan kepala lalu pergi menjauh. 

"Mau saya ambilkan?" tawar Susan setelah beberapa menit berselang. 

"Boleh. Jangan banyak-banyak, ya."

"Baik, Pak." 

Kuperhatikan dengan seksama. Gerakan tangan Susan yang sangat hati-hati menyiapkan makanan untukku. Lalu saat ia sedikit merunduk dan tanpa sengaja memperlihatkan bagian tubuhnya. Darahku seketika berdesir. 

Ah, andai saja ia bisa kubawa pulang ke rumah dan menggantikan posisi Diana. 

"Udah deh, Pak. Jangan gitu ngelihatnya." Susan menyodorkan piring berisi makanan. 

"Saya terhipnotis sama kamu, Susan."

"Alah, gombal mulu nih, Bapak." 

"Saya serius." 

Susan tersenyum sambil menggelengkan kepala. Ia mencondongkan tubuhnya dan membisik di telingaku.

"Kalau begitu buktikan." 

Glek. 

Aku menelan saliva karena aroma parfum Susan dan bisikannya yang bernada manja. Menggoda. 

"Malam ini, mau?" tanyaku.

Susan mengangguk. Ia menggigit bibir sendiri. Kesempatan tak boleh disia-sia bukan? 

"Tunggu di sini. Biar kuantar istriku pulang lebih dulu." 

*** 

Berjalan menuju parkiran. Isi kepalaku hanya dipenuhi oleh Susan. Ia sudah memberi izin dan malam ini harus terjadi. Sesuatu yang .... 

Ouh, bahkan untuk memikirkannya saja aku sudah tersenyum sendiri. 

Sampai di tempat parkiran dan menuju mobil, aku justru tak menemukan Diana. Ke mana perginya perempuan itu? Huh! Menyusahkan saja! 

Aku terus menyisir beberapa baris mobil. Sampai terdengar suara yang tak asing sedang berbicara. Di deretan mobil paling ujung. Dekat pohon besar berdaun lebat. 

"Tidak, Mas. Terima kasih banyak. Saya menunggu suami saya di sini saja." 

"Tapi, ini sudah larut malam, Bu. Anginnya cukup kencang. Ibu bisa sakit." 

"Enggak, nggak papa. Saya di sini saja." 

Aku mendekat. Tak salah lagi. Itu adalah suara Diana. Ia sedang duduk di dekat pohon tanpa alas kaki dan yang paling mengejutkan  lagi adalah saat kulihat seorang pria bersamanya. 

"Diana!" teriakku. Istriku itu menoleh, ia tersenyum namun kuberi tatapan tak suka dengan segera. 

"Mas--"

"Ngapain kamu di sini?" 

"Diana nggak ketemu mobilnya, jadi nunggu di sini. Di sana malu banyak orang," jawab Diana polos. 

"Yasudah, ayo kita pulang sekarang." 

"Pestanya sudah selesai, Mas?"

"Belum, aku antar kamu pulang dulu. Nanti balik ke sini lagi. Ayo cepetan!" 

Aku menyeret tangan Diana. Ia menahan. 

"Nggak bisa jalan, Mas. Kakiku terkilir. Sandalnya terlalu tinggi, tadi--"

"Halah! Alesan!" 

Kutarik tangan Diana kembali. Memakan waktu saja. Bisa-bisa Susan bosan menungguku. 

"Mas, sakit," rintih Diana. 

"Pak, Pak, maaf saya ikut campur. Itu istrinya beneran sakit. Digendong kek. Jangan kasar begitu." 

Aku sampai lupa pada lelaki yang bersama Diana tadi. Sudah dua kali bertemu dengan orang-orang seperti ini. Ikut campur orang saja bisanya.

"Bukan urusanmu! Sana pergi! Ganggu orang saja!" ketusku.

"Memang bukan urusan saya, tapi itu Bapak nyakitin istrinya. Mana bisa didiemin begitu!" 

Wah, bocah di depanku justru menantang. 

"Apa urusanmu, hah?" 

"Mas--"

"Diam kamu Diana!"

"Ck! Ck! Ck! Kupikir yang datang di pesta malam ini orang-orang berkelas semua. Ternyata ada juga sampah seperti Anda di sini." 

Hah? Apa aku tak salah dengar? Lelaki di depanku ini menyebutku sampah?

"Hey, jaga bicaramu bocah!" 

Aku tersulut emosi.

"Memang Anda sampah! Cuih!" 

Ia kembali menghinaku bahkan meludah. Dasar kurag ajar. Tak tahu apa dengan siapa ia melawan. 

"Mas, sudahlah. Tuntun aku pelan-pelan. Mari kita pulang." Diana menengahi. 

"Cepetan makanya. Ini semua gara-gara kamu! Dasar istri gak guna! Ngerepotin aja!" 

Emosiku belum redam. Kutarik tangan Diana hingga ia nyaris tersungkur. Kedua mataku mendelik, sebab dari belakang lelaki yang tadi menghinaku dengan sigap menahan tubuh Diana. 

"Hey, bocah! Jangan sentuh-sentuh istriku! Kurang ajar sekali kamu, ya!" 

"Bapak tuh yang gak ada akhlak! Istrinya hampir tersungkur begitu! Mikir, Pak! Ya ampun!" 

"Kenapa? Kamu apanya istri saya? Kenal juga enggak. Berani ngatain orang lagi!" 

"Mas ... Mas--"

"Diam kamu Diana! Pria kecil ini harus diberi pelajaran. Nyulut emosi aja bisanya!" 

"Tapi, Mas--"

"Tapi apa? Kamu ada hubungan apa dengannya? Katakan!"

"Hey, hey, kalem!" 

Lagi-lagi lelaki itu berbicara. Kali ini ia menepuk lenganku. 

"Apa? Apa yang kamu mau, hah? Kamu peduli sama istri saya? Kamu mau mengambilnya? Ambil saja!" 

"Mas!" Diana membentak. Ia menatapku dengan kedua mata berkaca-kaca. 

"Dasar pria sinting! Laki nggak ada akhlak!" cerca pria itu. 

"Lah, kamu begitu peduli pasa istriku. Kenapa? Pasti ada sebab kan? Kamu mau? Ambil saja!" ulangku sambil melotot. 

"Hahahahaha, benar-benar sampah. Baru tahu ternyata perusahaan ini punya pekerja macam Anda. Dengar, ya, setiap orang punya kesempatan untuk memilih. Dan pada setiap pilihan akan menunjukkan siapa jati diri yang sebenarnya." 

Lelaki itu mendengkus. Tatapannya tajam mengancam.

"Jangan sok, saya orang penting di perusahaan ini. Apa urusanmu, hah?" 

"Ck ck ck! Anda adalah pria terbodoh yang pernah saya jumpai, dan attitude Anda saat ini, rasanya tidak pantas jika memposisikan diri sebagai seorang petinggi perusahaan. Mau tahu siapa saya?"

"Halah, paling juga bocah ingusan yang jaga parkir!" 

Aku melotot. Kuperhatikan tampilan lelaki di depanku ini yang memakai celana jeans dan kaos putih berbalut hoodie hitam. Benar-benar ingusan. Kuperhatikan kembali wajahnya, kenapa seperti tak asing, garis mata tegas dan hidung mancung itu. Seperti .... 

Bersambung ....

Bab 3

Di depanku tampak seperti slide demi slide potongan wajah Pak Taheer Atmadja. Pemilik perusahaan AXA Corp tempatku bekerja. Beliau orang yang sangat penting, jarang datang sebab perusahaannya bukan hanya satu, melainkan ada beberapa. 

"Kamu siapa?" tanyaku akhirnya. 

"Tidak perlu saya jelaskan sekarang. Percuma. Bawa istri Anda pulang, atau Anda akan sangat menyesal sudah berurusan dengan saya!" 

"Wah, jelaskan saja? Kenapa? Malu mengakui jika hanya tukang parkir?" ledekku.  Kutepis pikiranku tadi yang menyamakan wajah lelaki ini dengan Pak Taheer. Ah, tidak mungkin!

"Cih! Benar-benar buruk sekali attitude Anda. Cepat bawa istri Anda pulang. Atau--"

"Atau apa? Hahahahaha, berani sekali memberi perintah."

Kupotong cepat kalimatnya sambil menggelengkan kepala berkali-kali. Konyol saja jika aku menurut. Jelas pria kecil ini bukan siapa-siapa. Kalau pun kebetulan mirip dengan wajah Pak Taheer Atmadja, itu mungkin hanya dugaanku. Bukankah setiap orang ada kemiripan?

"Mas, sudahlah. Tolong." Diana merengek lagi. Kode matanya memberi perintah agar aku tak lagi bicara. Mana bisa? Gengsi dong. Pemuda di depanku ini bahkan terlihat seumuran dengan Diana. Tujuh tahun lebih muda di bawahku. So, aku yang harus dihormati di sini. 

Kulihat benda bulat bermerek galaxy di tangan. Dua belas juta adalah nilai saat aku membelinya. Tampak jarum jam  menunjukkan waktu hampir pukul sebelas malam. Bedebah mengurus Diana di sini. Susan tak bisa menunggu lebih lama lagi. 

"Sudahlah, kamu bisa pulang sendiri. Kalau perlu, minta antar pada lelaki ini untuk sampai depan. Pesan taxi online!" ucapku sambil melepas pegangan Diana. 

"Lho, kok? Mas--"

"Aku pergi!" 

"Mas! Mas!" 

Tanpa menoleh, kutinggalkan Diana bersama lelaki aneh tadi. Membawanya ke pesta, sungguh begitu sia-sia. Cukup ini yang pertama dan terakhir kali. Aku tak akan membawa Diana datang lagi. Kalau saja bisa, ingin kuenyahkan perempuan itu dari hidupku.

***  

- Pov Author - 

Merasa terbuang dan tercampakkan, Diana masih duduk sambil memegangi kaki yang sakit. Tak jauh dari tempatnya duduk, William pura-pura tak melihat bahwa Diana sedang menangis. Ia memilih untuk mendengarkan musik dari dalam earphone saja. Mode pesawat sudah ia aktifkan sejak tadi. Tak ingin diganggu oleh siapapun, termasuk Papanya yang sedang menunggu di dalam gedung pesta. 

William menyandarkan punggung di bawah pohon akasia. Memejam barang sebentar. Merasai dinginnya udara malam yang membelai wajah. Tawaran untuk masuk ke perusahaan yang tadinya ia tolak, sepertinya akan ia terima. Sebab melihat sikap Wira barusan. Ingin sekali William tahu, menjabat sebagai apa lelaki sombong itu di perusahaan papanya. 

Menghela napas dalam. William membuka mata dan melirik pada Diana. Masih di tempat semula. Perempuan yang lebih tepat dipanggilnya dengan sebutan nama itu masih diam di tempat. Tampak bahunya berguncang. Diana menangis tanpa suara. 

"Bu, sudahlah, mari saya antar. Di sini gelap dan dingin," ujar William akhirnya setelah hampir setengah jam Diana masih tak beranjak. 

"Saya hanya berniat membantu. Jangan salah paham. Kalau Ibu mau, saya bisa antar ke depan. Seperti kata suami Ibu tadi. Silakan pesan taksi online. Anggap saja saya seorang tukang parkir. Mari saya antar." William berbicara lagi. Kali ini Diana menoleh. Rambut hitamnya tergerai jatuh di bahu. Dua bola matanya yang jernih, tampak berkaca-kaca tertimpa pendar lampu gantung di parkiran. 

William mengalihkan pandangan, sebab tanpa permisi hatinya berdentam sendiri. Diana masih muda, usianya bahkan masih di bawahnya. Naluri sebagai lelaki itu menyambangi hati. Duhai ... pesona setiap perempuan memang memiliki auranya tersendiri. 

"Bagaimana, Bu?" tanya William. Dipanggilnya Diana dengan sebutan 'Bu'. Berusaha untuk menyadarkan hati, bahwa perempuan di depannya ini sudah bersuami.  

"Sebentar, saya kesulitan berdiri."

"Saya bantu." 

"Jangan, maaf, saya merambat saja perlahan." 

Diana berdiri lalu berjalan merambat sambil memegangi sisi-sisi mobil. Tak ada pilihan lain. Tubuhnya mulai menggigil karena dingin, ditambah pakaian yang kurang bahan, membuatnya sangat tak nyaman. 

"Maaf sudah merepotkan. Terima kasih sudah membantu meski kita tidak saling kenal," ucap Diana begitu tiba di depan.  Hampir mendekati pintu utama parkiran. Susah payah ia berjalan tanpa alas kaki. Beruntung sebab ada William yang menyalakan senter dari gawai untuk melihat jalan yang Diana lewati. Hingga tak ada benda tajam atau duri yang melukai.

"Sama-sama," jawab William. 

Diana tersenyum tipis. Ia lalu mencoba memesan taxi online. Namun di luar dugaan, ternyata gawainya mati. Ah, gelisah. Bagaimana nasibnya setelah ini. Diana menoleh ke arah gedung tempat suaminya menghadiri pesta. Tak ada harapan. Entah pukul berapa Wira akan keluar. 

"Duh, gimana ini?" gumam Diana pelan. 

Dinyalakannya gawai yang mati, tapi sama sekali tak ada perubahan berarti. Layar tetaplah hitam. Gawai masih mati. 

"Saya antar saja."

Diana mengerutkan dahi. Tadinya ia juga berpikir bahwa William hanyalah seorang tukang parkir. Bukan menilai dari penampilannya, tapi karena sejak bertemu tadi, lelaki itu memang diam di tempat parkir. Menyendiri seperti sedang menjaga mobil-mobil yang berderet rapi. Padahal faktanya, William  sengaja menghindari orang-orang suruhan Pak Taheer, Papanya. 

"Bagaimana?" tanya William cepat. 

"Maaf, jangan. Tidak perlu. Saya di sini saja. Menunggu suami keluar." 

"Jangan keras kepala. Anda tahu, dia bahkan abai dengan luka di kaki Ibu!" 

"Biarkan saja." 

Diana menjawab singkat. Membuat William mengembus napas kasar. Jika bukan karena kasihan dan prihatin, ia sudah pergi meninggalkan Diana. 

"Ibu meragukan saya? Saya punya mobil, mari saya antar," ucap William lagi. 

"Bukan, bukan seperti itu. Maaf jika saya menyinggung, tapi, tidak mungkin saya berduaan di dalam mobil dengan Mas ini. Kalau pun driver taxi online, saya biasa langganan yang perempuan. Sudah ada khusus."  

"Oh, begitu ... baik." 

William tersenyum tipis. Diana dengan tampilannya yang terbuka, ternyata masih memahami batasan diri. Tanpa berbicara lagi, segera diaktifkannya mode gawai dari pesawat menjadi normal. Semua akses baik data maupun jaringan seluler kini menyala kembali. Beberapa detik setelah mode normal, gawai William bergetar hebat. Pesan dan notifikasi bertumpuk ia terima. 

Skip!

Skip!

Skip!

William fokus menghubungi satu kontak dengan nama Margareth. Kepala asisten di rumah Papanya. Ditekannya tombol panggilan berwarna hijau. Setelah terhubung, ia basa basi sebentar kemudian menyampaikan maksud penting. 

"Kirimkan saya supir perempuan, di gedung tempat pesta berlangsung. Saya tunggu secepatnya." 

Satu perintah sudah meluncur. Diana yang menyaksikan sikap William, menjadi penasaran. Keningnya berkerut, kedua alisnya bertaut. Ah, penasaran!

'Jangan-jangan ancaman pada Mas Wira tadi bukan candaan atau main-main?' 

"Ibu kenapa? Kepo, ya?" sergah William saat mendapati Diana sedang memperhatikannya. 

"Emm, rasanya tak pantas jika saya memanggil Ibu. Anda masih tampak sangat muda sekali," sambung William lagi. 

Diana menatap masih dengan kening berkerut. Memang penasaran, ingin bertanya, tapi .... 

William menarik sebuah garis di bibir. Dilihatnya ekspresi wajah Diana yang serius. Lucu sekali. Sengaja ia tak menjelaskan siapa jati dirinya. Karena William merasa, sepertinya ini bukan pertemuan yang terakhir. 

Tak lama, sebuah mobil berwarna merah cherry berhenti tepat di depan gerbang masuk. William melambai, membuat Diana seketika menoleh ke arah mobil. 

"Masuklah, itu teman saya. Supirnya perempuan sesuai permintaan. Jangan khawatir." 

"Tapi, anu, Mas, ini--"

"Apa perlu saya serahkan ktp saya sebagai jaminan bahwa mobil itu aman?" William cepat-cepat memotong ucapan Diana sebelum perempuan itu mengelak.

Hening menjeda. Diana diam tanpa kata. Dua bola matanya menelisik kejujuran di wajah William. Pria itu baik, bahkan sejak pertemuan awal tadi. 

"Anda baik sekali, padahal kita tidak saling kenal. Bahkan, pertemuan tiba-tiba ini ... ah, entahlah. Situasi yang aneh, tapi terima kasih banyak, terima kasih." 

Bibir Diana bergetar. Antara haru, dan sedih. 

"Tidak ada yang tiba-tiba. Semua sudah digariskan. Sudahlah. Silakan masuk mobil, udara semakin dingin. Saya ada urusan ke dalam."

Diana mengangguk. Ia berjalan masuk ke dalam mobil. Tak lama, mobil kemudian melaju, hilang dalam gelapnya malam. 

Tepat saat itu, gawai William memekik nyaring. Panggilan masuk dari Papa. Cepat ia menerima. 

"Kamu di mana, Willy? Ini sudah hampir tengah malam, ayo cepet masuk!"

Suara bernada tegas milik Pak Taher membuat William mau tak mau harus ke dalam. Ia pun sudah memutuskan. 

"Lima belas menit lagi, Pap. Tunggu, Willy akan ke dalam." 

"Oke. Jangan lama-lama. Pesta selesai jam satu. Papa tunggu di dalam." 

"Siap!" 

Panggilan segera diakhiri. William berjalan kembali masuk ke tempat parkir. Mengambil koper berisi pakaiannya di dalam mobil. Sudah saatnya untuk berganti kostum. Hati kecilnya masih berharap, pria bernama Wira harus diberi pelajaran malam ini juga. 

Bersambung ....

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED