Bab 2

“Sejak kapan?” tanya Ayu, tatapannya lurus, tidak mau melihat wajah yang kini berdiri di sampingnya, dibiarkannya nasi dan lauk bersama serpihan piring berserakan di lantai.

“Maaf dek Abang bisa jelasin. A-abang cuma iseng, Dek,” ucapku gelagapan.

“Kalian sudah pernah berhubungan bad ….”

“Demi Allah belum Dek, Abang masih punya iman,” ucapku sembari memegang tangan kanan Ayu dengan kedua tangan.

“Kemarin tas itu buat dia?”

“Tas, tas yang mana?” Aku sedikit bingung kemudian Ayu meninggalkanku begitu saja dia terlihat seperti tengah mencari sesuatu. Setelah mendapatkannya dia segera memberikannya padaku. Itu adalah sebuah bon pembelian tas dan sebuah lingerie. Dua hari lalu aku membelikan Tas untuk Tiara, tapi tidak tahu kalau dia juga membeli sebuah lingerie, saat itu aku menerima telepon dari kantor pusat sehingga tak terlalu memperhatikannya, aku hanya mengiyakan tanpa tahu apa yang dia beli.

“Cih, kukira itu hadiah untuk ulang tahunku hari ini, hahahah.” Tiba-tiba Ayu tertawa seraya memijat keningnya kemudian berlalu meninggalkanku yang masih terpaku dengan pikiran yang kalut, pantas saja dia langsung menanyakan tentang hubungan badan ternyata dia sudah salah paham, aku bahkan tak pernah menyentuhnya. Aku memang brengsek tapi sejujurnya ini hanya tentang haus perhatian perempuan. Hal yang tak pernah Ayu berikan karena terlalu sibuk mengurus rumah dan anak-anak. Aku suka saat Tiara bergantung padaku bermanja-manja denganku, merayuku, hal yang sudah jarang sekali Ayu lakukan. Karena sibuk seharian baru teringat hari ini adalah hari ulang tahun Ayu. Aku mengejar wanita itu, kemudian memeluk dengan erat, erat sekali, tak peduli kalau dia akan menolak atau bahkan memberontak, tetapi ternyata tak melakukan perlawanan. Hanya saja dapat kurasakan nafasnya yang tak beraturan, juga degup jantung yang teramat kencang sampai-sampai bisa terasa hanya dengan memeluknya. Ayu hanya diam seperti sebatang kayu, tak membalas pelukan tidak pula menolak.

“Dek, Demi Allah Abang enggak pernah sampai berhubungan badan, percaya sama Abang, Abang enggak tahu kalau Tiara beli pakaian begitu,” ucapku sambil terus memeluknya.

“Abang mau aku percaya?”

“Dek percaya sama Abang, Abang tahu Abang salah, Abang khilaf Dek, Abang minta maaf sejujurnya Abang enggak ada pikiran ke sana, sudah cukup sama kamu, cuma iseng sama perempuan itu.”

“Hanya karena aku tak secantik dia, Apa aku ini bukan perempuan?”

“Abang minta maaf, Dek.”

“Aku bahkan sampai tertawa seperti orang gila saat menemukan bon itu di saku celanamu Bang, aku berbunga-bunga seperti orang jatuh cinta ,selama pernikahan untuk pertama kalinya Abang beli lingerie buat aku.” Untuk sesaat Ayu terdiam.

“Abang tahu enggak? Harga tas dan baju itu sama dengan nafkahku untuk 4 bulan,” tambahnya kemudian. Sungguh perkataan barusan seakan menghunjam jantungku, itu baru satu yang ketahuan bahkan aku sering membelikan Tiara barang-barang lain yang harganya lebih dari itu.

“Abang mau tahu ke mana larinya uang 50 ribu, biar aku kasih tahu rumah kita 2 lantai, tidak seperti awal menikah hanya kontrakan 3 petak tentu saja listriknya berkali-kali lipat. Anak kita 3 mereka butuh makanan yang bergizi butuh pakaian yang layak. Kenapa aku jualan makanan online? Uangmu habis hanya untuk biaya listrik dan tagihan bulanan. Aku hanya berusaha membuat mereka terlihat sama dengan anak-anak pada umumnya hingga aku lupa kalau aku pun butuh pakaian yang layak.”

“Cukup Dek, jangan diteruskan.” Aku sudah tak tahan mendengar ucapannya.

“Mulai sekarang Abang janji enggak akan ngehubungin Tiara lagi.” sambil melepaskan pelukan. Kutatap matanya yang kini terlihat lebih tenang. Sayang Ayu tak mau balas menatap pandangannya tertuju ke arah lain.

“Abang mau poligami? ”

“Dek, cukup Abang tahu salah, Abang enggak akan pernah poligami, cukup satu, lupain Tiara, kita mulai lembaran baru oke?”

“Aku benci pengkhianatan, kalau Abang sudah bosan silakan cari kebahagiaan sendiri, pernikahan itu harusnya saling membahagiakan, kalau tetap bertahan. Kita hanya akan saling menyakiti satu sama lain. Aku enggak akan pernah menahan orang yang tidak mencintaiku lagi.”

“Dek setiap manusia pernah salah kan? jangan pergi dek jangan tinggalin Abang, Abang sayang sama kamu dek, Reno, Ilham dan Randy, Abang enggak mau kehilangan kalian, maafin Abang.” Untuk pertama kalinya aku meneteskan air mata di depan Ayu. Sakit sekali melihatnya hancur seperti itu, meskipun dia tak menangis aku bisa melihat keputusasaan lewat matanya, mangkinkah dia percaya kalau aku sudah melakukan hubungan terlarang itu. Tanpa basa basi kugendong Ayu masuk. Saat aku berjalan menuju kamar kami, pintu kamar Reno terbuka sepertinya ia terbangun, mungkin hendak ke dapur atau ke kamar mandi, aku tak tahu.

“Cie, cie, mau juga dong di gendong,” celetuk Reno.

Aku hanya melotot ke arahnya, sambil menggelengkan kepala agar dia segera pergi. Reno meneruskan berjalan ke arah dapur sambil cengengesan. Anak sulungku sudah remaja umurnya sudah 17 tahun, kini bahkan tingginya hampir menyamaiku. Apa yang akan dia lakukan kalau tahu aku menyakiti hati ibunya? Kubaringkan Ayu di tempat peraduan kami, ini malam yang panjang. Mataku tak mampu terpejam sedangkan Ayu sudah terlelap. Wajahnya yang kini mulai memperlihatkan garis-garis halus di bawah mata. Kita memang sudah tak muda lagi, tapi begitu tak tahu dirinya mengkhianatimu, dengan wanita yang bahkan seumuran dengan anak kita, hanya terpaut tiga tahun.

‘Maafkan aku sayang, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, janji!’

Keesokan harinya aku memutuskan untuk izin tak masuk kerja karena kepalaku sakit gara-gara terjaga semalam suntuk, Ayu merawatku dengan telaten dan seperti biasa dia melakukan pekerjaan rumah dengan baik hanya saja jadi agak sedikit pendiam, tak ada lagi teriakan yang sering kali terdengar saat pagi, ketika anak-anak enggan dibangunkan untuk salat. Dari kejauhan kulihat Ilham anak ke duaku yang usianya menginjak 5 tahun berlari ke arah kamarnya, sepertinya dia mengambil sesuatu, mungkin kartu mainannya, tapi lengan bajunya tampak sudah sobek di bagian ketiak.

“Ham sini deh! Ganti baju sana ini loh ketek nya sobek!”

“Enggak mau ah pah.”

“Loh, ya sudah kalau ilham masih mau pakai baju ini, minta dijahit sama mamah dulu, malu keteknya kelihatan tuh!”

“Hahaha nanti kalau udah dijahit juga sobek lagi Pah.”

“Ya kalau gitu, Ilham pakai baju lain aja.”

“Ga ah yang lain juga sama aja, baju Ilham yang enggak sobek tuh lihat! Cuma Betmen sama Ultramen, tuh lagi dijemur! Lagian kata Mamah ini buat lubang angin. Sudah dulu ya Pah aku buru-buru ditungguinya temen-temen.” Ilham lantas berlari sangat kencang keluar rumah kami.

Lubang angin katanya? miris sekali gajiku yang 20 juta perbulan bahkan tak sanggup memberikan pakaian yang layak, anakku memakai baju yang kekecilan sampai sobek di bagian ketiaknya. Ternyata Ayu sedari tadi memperhatikan. Seketika pandangan kami bertemu, namun Ayu malah seperti melarikan diri ke arah dapur. Selalu saja menghindar. Dari semalam kami belum sempat bertegur sapa. Segera kutarik lengannya, mengambil dompet, mengeluarkan kartu debit kemudian memindahkan ke tangannya, tak lupa kuberi tahu pinnya.

“Terima kasih,” ucapnya kemudian.

“Dek kenapa kamu gak pernah bilang kalau uangnya gak cukup?”

“Sudah sering bilang, tapi mas kan suka marah-marah kalau aku mintain.”

“Ya sudah nanti sore kita ke Mall ya, beli pakaian buat anak-anak sekalian buat Adek!”

“Mas aja sama anak-anak! Aku enggak mau dibilang boros lagi.” Diserahkannya kartu debit tadi ke tanganku. Kata-katanya barusan kenapa terasa begitu menusuk. Teringat ketika Ayu meminta uang tambahan aku memang selalu marah lalu mengakhiri kemarahan dengan mengatai Ayu boros. Kalau sudah begini terpaksa, akhirnya aku pun pergi bersama Reno dan Ilham.

Bab 3

Sebulan setelah kejadian itu Ayu jadi sering melamun di siang hari, sedang di malam sering kudapati dia berzikir di ruang salat hingga larut malam. Sikap hemat bicaranya kian menjadi. Sejujurnya rasa takut kalau mungkin saja dia kurang tidur akan mengganggu kesehatannya, tetapi bisa jadi itulah yang menjadi sumber kekuatannya. Sampai hari ini belum pernah sekali pun melihatnya menangis. Itulah yang membuat diri ini semakin merasa bersalah, kenapa kamu tidak pernah marah, membentak, atau memukulku! Aku ikhlas Dek setidaknya itu sedikit mengurangi nyeri di sini, di dalam dadaku. Kamu terlalu lembut untuk pria brengsek seperti ku. Entah apa yang kau minta pada Tuhanmu kau tak berbuat apa pun, tapi justru itulah hukuman yang paling berat. Pukul aku Dek! Pukul! Jangan diamkan aku! Kita sudah seperti dua orang asing yang tinggal satu rumah.

Hari ini aku pulang lebih awal, aku berencana mengajak keluargaku liburan, kami akan menginap selama 2 hari di Bandung. Selama menikah mereka belum pernah liburan ke luar kota. Teringat janjiku dulu, kalau kita sudah punya mobil akan ku bawa dia jalan-jalan tiap weekend. Dia selalu ingin ke Bandung, sayangnya 18 tahun pernikahan, aku belum pernah mengabulkannya. Terobsesi ingin punya segalanya, membuatku lupa. Dulu Ayu kuajak ke Bandung saat kami belum menikah dan masih satu kerjaan, itu pun ramai-ramai, dengan teman kerja, mana mau dia, kuajak pergi berdua.

~~

Karena ingin cepat sampai rumah, aku mengambil jalan pintas, jalan ini memang sepi karena kanan kiri masih hamparan persawahan. Semoga saja usahaku kali ini berhasil membuat Ayu mau berbicara padaku, tak masalah kalau dia belum memaafkan, yang penting Ayu lebih banyak berbicara.

“Astagfirullah.” Tiba-tiba ada anak kecil seumuran Ilham yang menyeberang jalan, untunglah aku refleks menginjak pedal rem.

“Mamah.” Anak kecil itu meraung memanggil mamahnya. Syukurlah dia tidak apa-apa mungkin hanya syok.

“Maafin Om ya, jangan takut lagi ya, sini sama Om.” Awalnya dia menghindar tapi akhirnya dia mau kupeluk juga.

“Adek sama siapa? Kok sendirian?”

“Sama Mamah, aku di tinggal mamah, huhuhu tadi aku mau kencing, tapi pas udah selesai, mamah enggak ada om hiks hiks hiks."

“Ya sudah kalau begitu, Om antar pulang aja, mungkin mamah masih di jalan.”

“Om mau culik aku ya? Aku gak mau.” Anak itu tiba-tiba berlari sangat kencang. Aku mengejar tapi sayangnya tak terkejar. Dia terlihat sangat ketakutan, menyangka aku ini seorang penjahat. Akhirnya aku berhenti mengejarnya. Karena hal itu, sampai melupakan mobil yang dibiarkan terparkir di pinggir jalan. Setengah berlari kembali ke mobil. Di perjalanan pulang, kami bertemu kembali. Terlihat anak kecil itu sedang mengejar seorang wanita dengan balita dalam gendongannya. Di sampingnya ada anak perempuan yang kutaksirkan usianya sekitar 3 tahunan. Anak itu tengah memegang ujung baju Ibunya. Melihat mereka, seketika mengingatkan pada Ayu dan anak-anak di rumah, ditambah lagi daster yang dipakai wanita itu, model dan motifnya sama seperti Ayu. Aku masih merasa harus bertanggung jawab. Mobil mulai menepi, lalu perlahan berjalan ke arah mereka. Penampilan wanita itu sedikit acak-acakan. Bajunya lusuh juga rambut yang dibiarkan berantakan. Anak-anaknya pun tak jauh berbeda, yang membuat miris anak yang digendong wanita itu, kuperkirakan umurnya tak jauh berbeda dengan bungsuku, 1 tahunan. Dia tengah menghisap ASI langsung pada ibunya. Dengan secepat kilat kuputar kepala, memalingkan wajah dari wanita itu. Hati ini mendadak nyeri melihat pemandangan itu. Bagaimana mungkin anak sekecil itu berjalan tanpa payung dan topi di bawah terik sinar mentari yang begitu menyengat? Aku khawatir kalau mungkin bayi itu dehidrasi. Kepalanya hanya ditutupi ujung kain jarik tipis tentu saja tak banyak membantu. Panas matahari bisa langsung menembus kulit walau pun sudah jam 3 siang, cuaca di sini masih sangat panas.

“Mbak, mau ke mana ? Yuk saya antar ya, kasihan dedeknya kepanasan.”

Wanita itu hanya diam.

“Adek jangan takut ya, Om gak akan nyulik kok, Adek mau ya naik mobil! Om antar pulang.” Aku mencoba membujuk anak laki-laki yang hampir kutabrak tadi, karena di antara ke tiga anaknya, dialah yang paling besar. Dia pun hanya diam, tapi kemudian menarik tangan ibunya seperti tengah mencoba berkomunikasi. Tak lama kemudian kami pun masuk ke dalam mobil, kuberikan minum dan camilan yang memang sengaja kubeli untuk bekal liburan nanti. Raut mereka begitu bahagia berbeda dengan ibunya yang hanya murung dan lebih banyak melamun.

“Mbak pulangnya ke arah mana?” tanyaku, saat kami tengah berada di dalam mobil. Wanita itu lagi-lagi bungkam. Ya Tuhan aku bisa gila.

‘Aku salah apa Mbak ? Cukup Ayu saja yang mendiamkanku, Mbak kenapa ikut-ikutan.’

“Adek kamu namanya siapa?” Aku menyerah pada wanita itu, hingga akhirnya kuputuskan untuk bertanya pada anak-anaknya saja.

“Ilham Om,” ucap nya, kenapa namanya harus sama. Mungkin hanya kebetulan.

“Pulangnya ke arah mana Ham, Om bingung nih belok kanan apa kiri?”

“Kiri Om!” Ilham terus menunjukkan jalan pulang aku hanya mengikuti sesuai arahannya, tapi ada yang aneh. Seingatku sudah dua kali memutari jalan tapi kenapa malah kembali lewat sini.

“Ham kok lewat sini lagi?”

“Aku gak tahu Om, aku lupa,” jawabnya, yang justru membuatku sedikit jengkel.

Astaghfirrullahaladzim, Sabar Andi Sabar. Kuhela nafas pelan, mencoba menenangkan diri yang mulai tersulut emosi. Wajar anak sekecil itu tidak tahu jalan pulang, mungkin bisa jadi dia baru pertama lewat sini.

“Hehehe hehehe heheheh.” Tiba-tiba ibunya ilham tertawa sendiri.

“Astaghfirrullahaladzim, Kenapa Mbak?”

“Hehe hhehe hehehe.” Aku menghentikan laju mobil, kulihat wanita itu masih saja tertawa sedang anak-anak mereka malah melempar pandang padaku. Sesekali mereka tampak saling sikut, seolah menyuruh menjelaskan sesuatu tapi mungkin takut. Hari sudah mulai gelap terdengar azan maghrib berkumandang, dalam situasi seperti ini, di tengah persawahan, penerangan yang ala kadarnya, juga suara perempuan ini yang terus tertawa seperti orang kerasukan, sungguh membuat merinding sekujur badan.

“Mamahku gila Om,” celetuk anak perempuan tiga tahun.

“Hah?” Aku tak percaya, kutatap Ibunya Ilham itu sekali lagi.

“Hehehehehe.”

‘Sial! Dia malah tertawa lagi.’

“Astaghfirrullahaladzim, ya Allah. Huh”

Aku membuang nafas, kemudian mengusap wajah dengan telapak tangan.

Aku terus beristigfar mencoba menenangkan pikiran, setelah mendengar ucapan anak perempuan itu, dari penampilannya memang terlihat acak-acakan tapi logikaku kembali menolak untuk percaya kalau ibu ini ODGJ. Mungkin hanya sedang banyak pikiran, tapi melihat Ilham terlihat murung dengan wajah tertunduk, memaksaku untuk percaya, mungkin Ilham ingin berbicara tapi dia takut kalau aku akan menurunkannya di jalan. Sejenak aku terdiam kutatap wajah anak-anak itu bergantian, ada raut ketakutan di wajah mereka. Hanya si bungsu yang sesekali terlihat ikut tertawa bersama ibunya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED