Bab 1

“Y

u. bisa enggak sih enggak bikin malu? Kenapa kamu antar makanan segala ke kantorku?” ucapku sembari menyeretnya keluar halaman gedung.

“Maaf Bang pesanannya lumayan banyak, aku butuh buat beli diaper Randi. ” Ayu tertunduk seraya mengusap pergelangan tangan, ada jejak merah di sana. Bekas cengkeramanku yang mungkin terlalu kuat.

“Emang 50 ribu yang aku kasih tiap hari, kamu pakai apa hah?” Aku sedikit membentak. Mau ditaruh di mana wajahku. Teman sekantor harus mengetahui istri seorang Manager berjualan makanan. Ditambah lagi bisa dipesan online. Kenapa juga dia harus mengantarnya sendiri, zaman sekarang kan banyak ojek.

‘Memalukan!’

“Uangnya sudah enggak cukup lagi, Abang juga enggak mau kasih tambahan lagi.” Ayu mundur selangkah menjauh dariku.

“Ya sudah enggak usah pakai diaper segala?”

“Kemarin Abang bilang enggak suka kalau tiba-tiba Randi Buang air sembarangan, jadi Adek pakaikan diaper.”

“Ah sudah sana pulang ke rumah, kamu saja yang enggak bersyukur.” Terlanjur kesal, akhirnya Ayu mengalah, lalu memilih pergi. Dengan setengah berlari wanita itu mengambil motornya di parkiran kantor. Sedang, aku masih terpaku di depan gerbang kantor. Bukannya segera berlalu Ayu justru memarkirkan motornya tepat di hadapanku.

“Adek pamit, Bang,” ucapnya mengulurkan tangan mengajakku bersalaman.

“Sudahlah sana.” Cepat-cepat kutepis. Emosi yang kian menggebu membuatku muak. Pelan-pelan wanita itu mengelus tangan kanannya. Kala itu dia hanya diam, hingga akhirnya memilih pergi dengan scooter matic pink yang kubelikan saat ulang tahun pernikahan yang pertama.

Di kantor teman-teman sudah siap dengan berbagai macam pertanyaan. Bagaimana bisa istri seorang Manager berjualan makanan bahkan sampai mau mengantarnya sendiri.

‘Sungguh memuakkan! Lihat sana nanti! Tunggu aku pulang, biar kuberi pelajaran kali ini!’

~~

Sesampainya di rumah, sengaja kubanting pintu, membukanya lalu menutupnya kembali dengan kasar, hingga menimbulkan bunyi gebrakan cukup keras. Randi Si bungsu, yang sepertinya tengah tertidur akhirnya menangis, mungkin terkejut karena ulahku. Tak lama setelah itu, sosok Ayu muncul dengan Randi dalam gendongannya. Dia menuruni tangga rumah, dengan sedikit tergesa-gesa, lengkap dengan wajah bingung tanpa dosa. Jelas-jelas dia sudah membuatku malu, masih tak tahu juga salahnya apa.

“Yu sejak kapan kamu jualan makanan sampai mengantarnya sendiri, bukannya biasanya dipaketkan?”

“Semenjak Randi lahir Bang, sekarang jualan camilan di Shopee lagi sepi, makanya Adek coba bikin makanan lain, maaf enggak izin dulu, Adek takut Abang enggak mengizinkan.” Ucap Ayu lembut.

“Apa uangku enggak cukup?”

“Bang anak kita sudah tiga, saat Randi lahir cuma dua bulan Adek menyusuinya, setelah itu ASI Adek enggak keluar lagi, Adek kan sudah pernah bilang, harus beli susu formula. Benar Bang, uangnya enggak cukup lagi.” Kali ini tampak netranya mulai mengembun.

“Memang berapa harga susunya?”

“Delapan puluh lima ribu, itu pun cuma cukup untuk lima hari, Bang,” jawabnya sembari memalingkan seperti mati-matian menahan tangisnya agar tak sampai pecah di depanku.

“Kamu itu bisanya cuma nangis. Pantas saja rumah ini bau masakan tiap hari!”

“Nih, besok enggak usah jualan lagi, bikin malu!” Kuserahkan uang 100 ribuan, saat uang itu telah berpindah ke tangannya raut wajahnya seketika berubah, ada semburat bahagia yang tampak di sana.

“Sekalian buat jatah besok, sisanya kamu masih ada untung jualan tadi pagi ‘kan?”

“Terima kasih.” Secepat kilat binar bahagia itu menghilang berganti dengan raut wajah yang ditekuk, lalu kembali meneruskan langkahnya menuju dapur. Sepertinya hendak mengambilkan segelas air putih hangat, untukku. Bisa kulihat dari sini, gerakkannya yang lambat. Sudah diberi uang masih saja begitu, tak pandai bersyukur.

“Apa kopi saja sampai tak terbeli, Yu?”

“Maaf Bang, mmm kalau Adek enggak jualan lagi. Abang tambahi ya uang belanjanya!”

“Kamu ini uang terus, aku capek pulang kerja. Kopi saja enggak ada.” Kembali kubanting tas kerja itu ke atas meja, hingga menimbulkan bunyi cukup keras.

“Dasar kamu saja yang boros,” bentakku sembari berlalu. Ayu selalu diam saat aku marah, kemudian dia akan menangis di ruang salat setelah anak-anak tidur. Tak pernah sekali pun memarahiku balik, mengakuinya atau tidak dia memang perempuan soleha yang lembut.

Keesokan harinya, tepat hari minggu aku memilih untuk lari pagi berkeliling kompleks perumahan.

“Pak Andi!” teriak seorang perempuan.

“Eh Tiara, kamu lari juga?” tanyaku, Tiara adalah staf di kantor dia masih gadis usianya masih 20 tahun.

“Bareng yuk Pak!”

“Oke, Ayo!” ajakku kemudian, kenapa rasanya hatiku berdebar-debar tak karuan saat di samping Tiara?

Mungkinkah menyukainya? Dia memang cantik modis dan wangi, berbeda dengan Ayu yang setiap hari nyaman dengan daster kumalnya dan aroma masakkan yang tak enak di cium. Terlalu sibuk memikirkan Ayu, bisa-bisanya aku sampai tak menyadari ada polisi tidur di depan, hingga aku tersungkur mencium aspal.

“Kenapa, Pak?” Tiara terlihat sedikit khawatir.

“Enggak apa-apa kok, Ra.” Aku langsung berdiri, menggaruk kepala yang sejujurnya yang tidak gatal, sekadar menghilangkan malu. Baru jalan sekali, sudah terjatuh dengan konyol. Setelah berlari cukup lama, lelah juga ternyata akhirnya kami pergi mencari sarapan di sebuah kedai makan. Aku tahu ini salah, tetapi salahmu sendiri tak pandai merawat diri. Setelah selesai sarapan aku pulang ke rumah, terlihat Ayu tengah menyuapi anak-anak yang berlarian ke sana kemari.

“ Sarapan dulu, Bang.”

“Aku sudah sarapan di luar.” Aku pun berlalu meninggalkannya begitu saja.

~~

“Mau ke mana, Bang?” tanya Ayu saat aku sudah bersiap lagi untuk pergi keluar.

“Kamu cerewet banget sih Yu, malas aku lihat kamu. Apa enggak bisa kamu pakai baju bagusan dikit biar enak dilihat?”

“Maaf, Bang,” ucapnya sambil tertunduk.

Aku benci sekali saat dia tertunduk dan meminta maaf. Kutinggalkan dia sendir. Tak lagi memedulikannya yang kini tengah sibuk dengan anak-anak, apalagi kudengar Randi menangis. Hari ini aku ada janji dengan Tiara. Bukankah tak apa kalau sesekali keluar. Sekedar menghilangkan kepenatan.

Seiring waktu berlalu, intensitas kedekatan kami semakin bertambah. Saat pulang ke rumah rasa bersalah kadang datang saat kudapati hingga larut malam Ayu masih berkutat dengan pekerjaan rumah. Ayu memang cantik, rambutnya hitam panjang dan lurus hanya saja dia tak pandai menjaga penampilan. Rambutnya yang indah hanya diikat dan digulung ke atas. Kulitnya pun terlihat kusam. Laki-laki mana yang betah dengan istri berpenampilan kumal seperti itu? Hasratku sebagai laki-laki luruh saat aroma tubuhnya yang bau dapur itu menyeruak. Sungguh mengganggu. Itu salahnya bukan? Aku hanya laki-laki normal.

Sejak Ayu berhenti berjualan. Ketika pulang kerja kerap kali rumah dalam keadaan gelap gulita. Apa lagi kalau bukan karena kehabisan token listrik. Hal itu membuatku kesal dan akhirnya melampiaskan emosi pada Ayu. Entah ke mana larinya uang yang kuberikan padahal sudah kutambahi jatah susu Randi, tetapi bukannya membaik, yang terjadi justru rumah seringnya dibiarkan kehabisan token.

‘Bikin malu suami.’

Hari ini aku pulang tepat pukul sebelas malam. Ayu menyambut hangat, tak lupa lengkap dengan segelas susu Jahe kesukaanku. Dia memang istri yang pandai menyenangkan perut. Ayu juga tak pernah menolak saat aku mengajaknya memuaskan hasrat. Hanya saja semenjak ada Tiara, rasanya dia tak lagi menggairahkan. Sejak itu juga kadang aku lebih sering tidur di depan televisi karna tak ingin ketahuan saat berbalas pesan dengan Tiara. Ayu begitu naif. Tidak pernah menaruh curiga. Mungkin dia berpikir aku benar-benar terganggu karena Randi kerap menangis pada tengah malam, padahal itu hanya alasan. Bagaimana mungkin bisa terganggu? Bahkan jika dia meletakkan alarm yang bising, di samping telinga pun belum tentu sanggup membangunkan tidurku.

“Sayang sebal banget sama Si kumal! Rumah sudah kaya gua setiap pulang sering banget gelap-gelapan padahal dikasih uang tapi token aja enggak kebeli, dasteran mulu, mana bau bawang bikin mual. Sekalinya harum malah bau minyak telon, beda banget sama kamu yang cantik dan wangi. Ih jadi kangen deh.” Kukirim pesan itu ke Tiara.

“Hahaha istri kayak gitu kok masih betah sih sayang, si kumal itu memang belum tidur? Kangen nih mau video call, tadi sih Mas enggak ajak aku meeting sama klien seharian, jadi kesepian.” Aku menyebut Ayu si kumal, aku yang mengawalinya tapi kenapa rasanya tak terima saat orang lain merendahkan istriku seperti itu.

“Sabar ya sayang, dia masih mondar-mandir, bikin pusing, sudah kayak kereta.”

“Hahaha, oh ya Mas kita sudah lama dekat, kapan Mas mau nikahi aku? Meski pun jadi yang kedua aku rela sayang asalkan bisa sama mas terus.” Pesan dari Tiara sontak membuatku tersedak susu jahe. Aku masih terbatuk karenanya. Hingga tiba-tiba terdengar suara benda kaca yang jatuh di belakangku. Aku yang tengah tiduran di sofa refleks membalikkan badan sejurus kemudian tampak di lantai piring berserakan. Ada sepasang kaki tepat berdiri di sana. Itu milik Ayu. Sejak kapan dia berdiri? Seketika jantungku berpacu sangat cepat, seperti pencuri yang tertangkap Tuan Rumah.

Bab 2

“Sejak kapan?” tanya Ayu, tatapannya lurus, tidak mau melihat wajah yang kini berdiri di sampingnya, dibiarkannya nasi dan lauk bersama serpihan piring berserakan di lantai.

“Maaf dek Abang bisa jelasin. A-abang cuma iseng, Dek,” ucapku gelagapan.

“Kalian sudah pernah berhubungan bad ….”

“Demi Allah belum Dek, Abang masih punya iman,” ucapku sembari memegang tangan kanan Ayu dengan kedua tangan.

“Kemarin tas itu buat dia?”

“Tas, tas yang mana?” Aku sedikit bingung kemudian Ayu meninggalkanku begitu saja dia terlihat seperti tengah mencari sesuatu. Setelah mendapatkannya dia segera memberikannya padaku. Itu adalah sebuah bon pembelian tas dan sebuah lingerie. Dua hari lalu aku membelikan Tas untuk Tiara, tapi tidak tahu kalau dia juga membeli sebuah lingerie, saat itu aku menerima telepon dari kantor pusat sehingga tak terlalu memperhatikannya, aku hanya mengiyakan tanpa tahu apa yang dia beli.

“Cih, kukira itu hadiah untuk ulang tahunku hari ini, hahahah.” Tiba-tiba Ayu tertawa seraya memijat keningnya kemudian berlalu meninggalkanku yang masih terpaku dengan pikiran yang kalut, pantas saja dia langsung menanyakan tentang hubungan badan ternyata dia sudah salah paham, aku bahkan tak pernah menyentuhnya. Aku memang brengsek tapi sejujurnya ini hanya tentang haus perhatian perempuan. Hal yang tak pernah Ayu berikan karena terlalu sibuk mengurus rumah dan anak-anak. Aku suka saat Tiara bergantung padaku bermanja-manja denganku, merayuku, hal yang sudah jarang sekali Ayu lakukan. Karena sibuk seharian baru teringat hari ini adalah hari ulang tahun Ayu. Aku mengejar wanita itu, kemudian memeluk dengan erat, erat sekali, tak peduli kalau dia akan menolak atau bahkan memberontak, tetapi ternyata tak melakukan perlawanan. Hanya saja dapat kurasakan nafasnya yang tak beraturan, juga degup jantung yang teramat kencang sampai-sampai bisa terasa hanya dengan memeluknya. Ayu hanya diam seperti sebatang kayu, tak membalas pelukan tidak pula menolak.

“Dek, Demi Allah Abang enggak pernah sampai berhubungan badan, percaya sama Abang, Abang enggak tahu kalau Tiara beli pakaian begitu,” ucapku sambil terus memeluknya.

“Abang mau aku percaya?”

“Dek percaya sama Abang, Abang tahu Abang salah, Abang khilaf Dek, Abang minta maaf sejujurnya Abang enggak ada pikiran ke sana, sudah cukup sama kamu, cuma iseng sama perempuan itu.”

“Hanya karena aku tak secantik dia, Apa aku ini bukan perempuan?”

“Abang minta maaf, Dek.”

“Aku bahkan sampai tertawa seperti orang gila saat menemukan bon itu di saku celanamu Bang, aku berbunga-bunga seperti orang jatuh cinta ,selama pernikahan untuk pertama kalinya Abang beli lingerie buat aku.” Untuk sesaat Ayu terdiam.

“Abang tahu enggak? Harga tas dan baju itu sama dengan nafkahku untuk 4 bulan,” tambahnya kemudian. Sungguh perkataan barusan seakan menghunjam jantungku, itu baru satu yang ketahuan bahkan aku sering membelikan Tiara barang-barang lain yang harganya lebih dari itu.

“Abang mau tahu ke mana larinya uang 50 ribu, biar aku kasih tahu rumah kita 2 lantai, tidak seperti awal menikah hanya kontrakan 3 petak tentu saja listriknya berkali-kali lipat. Anak kita 3 mereka butuh makanan yang bergizi butuh pakaian yang layak. Kenapa aku jualan makanan online? Uangmu habis hanya untuk biaya listrik dan tagihan bulanan. Aku hanya berusaha membuat mereka terlihat sama dengan anak-anak pada umumnya hingga aku lupa kalau aku pun butuh pakaian yang layak.”

“Cukup Dek, jangan diteruskan.” Aku sudah tak tahan mendengar ucapannya.

“Mulai sekarang Abang janji enggak akan ngehubungin Tiara lagi.” sambil melepaskan pelukan. Kutatap matanya yang kini terlihat lebih tenang. Sayang Ayu tak mau balas menatap pandangannya tertuju ke arah lain.

“Abang mau poligami? ”

“Dek, cukup Abang tahu salah, Abang enggak akan pernah poligami, cukup satu, lupain Tiara, kita mulai lembaran baru oke?”

“Aku benci pengkhianatan, kalau Abang sudah bosan silakan cari kebahagiaan sendiri, pernikahan itu harusnya saling membahagiakan, kalau tetap bertahan. Kita hanya akan saling menyakiti satu sama lain. Aku enggak akan pernah menahan orang yang tidak mencintaiku lagi.”

“Dek setiap manusia pernah salah kan? jangan pergi dek jangan tinggalin Abang, Abang sayang sama kamu dek, Reno, Ilham dan Randy, Abang enggak mau kehilangan kalian, maafin Abang.” Untuk pertama kalinya aku meneteskan air mata di depan Ayu. Sakit sekali melihatnya hancur seperti itu, meskipun dia tak menangis aku bisa melihat keputusasaan lewat matanya, mangkinkah dia percaya kalau aku sudah melakukan hubungan terlarang itu. Tanpa basa basi kugendong Ayu masuk. Saat aku berjalan menuju kamar kami, pintu kamar Reno terbuka sepertinya ia terbangun, mungkin hendak ke dapur atau ke kamar mandi, aku tak tahu.

“Cie, cie, mau juga dong di gendong,” celetuk Reno.

Aku hanya melotot ke arahnya, sambil menggelengkan kepala agar dia segera pergi. Reno meneruskan berjalan ke arah dapur sambil cengengesan. Anak sulungku sudah remaja umurnya sudah 17 tahun, kini bahkan tingginya hampir menyamaiku. Apa yang akan dia lakukan kalau tahu aku menyakiti hati ibunya? Kubaringkan Ayu di tempat peraduan kami, ini malam yang panjang. Mataku tak mampu terpejam sedangkan Ayu sudah terlelap. Wajahnya yang kini mulai memperlihatkan garis-garis halus di bawah mata. Kita memang sudah tak muda lagi, tapi begitu tak tahu dirinya mengkhianatimu, dengan wanita yang bahkan seumuran dengan anak kita, hanya terpaut tiga tahun.

‘Maafkan aku sayang, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, janji!’

Keesokan harinya aku memutuskan untuk izin tak masuk kerja karena kepalaku sakit gara-gara terjaga semalam suntuk, Ayu merawatku dengan telaten dan seperti biasa dia melakukan pekerjaan rumah dengan baik hanya saja jadi agak sedikit pendiam, tak ada lagi teriakan yang sering kali terdengar saat pagi, ketika anak-anak enggan dibangunkan untuk salat. Dari kejauhan kulihat Ilham anak ke duaku yang usianya menginjak 5 tahun berlari ke arah kamarnya, sepertinya dia mengambil sesuatu, mungkin kartu mainannya, tapi lengan bajunya tampak sudah sobek di bagian ketiak.

“Ham sini deh! Ganti baju sana ini loh ketek nya sobek!”

“Enggak mau ah pah.”

“Loh, ya sudah kalau ilham masih mau pakai baju ini, minta dijahit sama mamah dulu, malu keteknya kelihatan tuh!”

“Hahaha nanti kalau udah dijahit juga sobek lagi Pah.”

“Ya kalau gitu, Ilham pakai baju lain aja.”

“Ga ah yang lain juga sama aja, baju Ilham yang enggak sobek tuh lihat! Cuma Betmen sama Ultramen, tuh lagi dijemur! Lagian kata Mamah ini buat lubang angin. Sudah dulu ya Pah aku buru-buru ditungguinya temen-temen.” Ilham lantas berlari sangat kencang keluar rumah kami.

Lubang angin katanya? miris sekali gajiku yang 20 juta perbulan bahkan tak sanggup memberikan pakaian yang layak, anakku memakai baju yang kekecilan sampai sobek di bagian ketiaknya. Ternyata Ayu sedari tadi memperhatikan. Seketika pandangan kami bertemu, namun Ayu malah seperti melarikan diri ke arah dapur. Selalu saja menghindar. Dari semalam kami belum sempat bertegur sapa. Segera kutarik lengannya, mengambil dompet, mengeluarkan kartu debit kemudian memindahkan ke tangannya, tak lupa kuberi tahu pinnya.

“Terima kasih,” ucapnya kemudian.

“Dek kenapa kamu gak pernah bilang kalau uangnya gak cukup?”

“Sudah sering bilang, tapi mas kan suka marah-marah kalau aku mintain.”

“Ya sudah nanti sore kita ke Mall ya, beli pakaian buat anak-anak sekalian buat Adek!”

“Mas aja sama anak-anak! Aku enggak mau dibilang boros lagi.” Diserahkannya kartu debit tadi ke tanganku. Kata-katanya barusan kenapa terasa begitu menusuk. Teringat ketika Ayu meminta uang tambahan aku memang selalu marah lalu mengakhiri kemarahan dengan mengatai Ayu boros. Kalau sudah begini terpaksa, akhirnya aku pun pergi bersama Reno dan Ilham.

Bab 3

Sebulan setelah kejadian itu Ayu jadi sering melamun di siang hari, sedang di malam sering kudapati dia berzikir di ruang salat hingga larut malam. Sikap hemat bicaranya kian menjadi. Sejujurnya rasa takut kalau mungkin saja dia kurang tidur akan mengganggu kesehatannya, tetapi bisa jadi itulah yang menjadi sumber kekuatannya. Sampai hari ini belum pernah sekali pun melihatnya menangis. Itulah yang membuat diri ini semakin merasa bersalah, kenapa kamu tidak pernah marah, membentak, atau memukulku! Aku ikhlas Dek setidaknya itu sedikit mengurangi nyeri di sini, di dalam dadaku. Kamu terlalu lembut untuk pria brengsek seperti ku. Entah apa yang kau minta pada Tuhanmu kau tak berbuat apa pun, tapi justru itulah hukuman yang paling berat. Pukul aku Dek! Pukul! Jangan diamkan aku! Kita sudah seperti dua orang asing yang tinggal satu rumah.

Hari ini aku pulang lebih awal, aku berencana mengajak keluargaku liburan, kami akan menginap selama 2 hari di Bandung. Selama menikah mereka belum pernah liburan ke luar kota. Teringat janjiku dulu, kalau kita sudah punya mobil akan ku bawa dia jalan-jalan tiap weekend. Dia selalu ingin ke Bandung, sayangnya 18 tahun pernikahan, aku belum pernah mengabulkannya. Terobsesi ingin punya segalanya, membuatku lupa. Dulu Ayu kuajak ke Bandung saat kami belum menikah dan masih satu kerjaan, itu pun ramai-ramai, dengan teman kerja, mana mau dia, kuajak pergi berdua.

~~

Karena ingin cepat sampai rumah, aku mengambil jalan pintas, jalan ini memang sepi karena kanan kiri masih hamparan persawahan. Semoga saja usahaku kali ini berhasil membuat Ayu mau berbicara padaku, tak masalah kalau dia belum memaafkan, yang penting Ayu lebih banyak berbicara.

“Astagfirullah.” Tiba-tiba ada anak kecil seumuran Ilham yang menyeberang jalan, untunglah aku refleks menginjak pedal rem.

“Mamah.” Anak kecil itu meraung memanggil mamahnya. Syukurlah dia tidak apa-apa mungkin hanya syok.

“Maafin Om ya, jangan takut lagi ya, sini sama Om.” Awalnya dia menghindar tapi akhirnya dia mau kupeluk juga.

“Adek sama siapa? Kok sendirian?”

“Sama Mamah, aku di tinggal mamah, huhuhu tadi aku mau kencing, tapi pas udah selesai, mamah enggak ada om hiks hiks hiks."

“Ya sudah kalau begitu, Om antar pulang aja, mungkin mamah masih di jalan.”

“Om mau culik aku ya? Aku gak mau.” Anak itu tiba-tiba berlari sangat kencang. Aku mengejar tapi sayangnya tak terkejar. Dia terlihat sangat ketakutan, menyangka aku ini seorang penjahat. Akhirnya aku berhenti mengejarnya. Karena hal itu, sampai melupakan mobil yang dibiarkan terparkir di pinggir jalan. Setengah berlari kembali ke mobil. Di perjalanan pulang, kami bertemu kembali. Terlihat anak kecil itu sedang mengejar seorang wanita dengan balita dalam gendongannya. Di sampingnya ada anak perempuan yang kutaksirkan usianya sekitar 3 tahunan. Anak itu tengah memegang ujung baju Ibunya. Melihat mereka, seketika mengingatkan pada Ayu dan anak-anak di rumah, ditambah lagi daster yang dipakai wanita itu, model dan motifnya sama seperti Ayu. Aku masih merasa harus bertanggung jawab. Mobil mulai menepi, lalu perlahan berjalan ke arah mereka. Penampilan wanita itu sedikit acak-acakan. Bajunya lusuh juga rambut yang dibiarkan berantakan. Anak-anaknya pun tak jauh berbeda, yang membuat miris anak yang digendong wanita itu, kuperkirakan umurnya tak jauh berbeda dengan bungsuku, 1 tahunan. Dia tengah menghisap ASI langsung pada ibunya. Dengan secepat kilat kuputar kepala, memalingkan wajah dari wanita itu. Hati ini mendadak nyeri melihat pemandangan itu. Bagaimana mungkin anak sekecil itu berjalan tanpa payung dan topi di bawah terik sinar mentari yang begitu menyengat? Aku khawatir kalau mungkin bayi itu dehidrasi. Kepalanya hanya ditutupi ujung kain jarik tipis tentu saja tak banyak membantu. Panas matahari bisa langsung menembus kulit walau pun sudah jam 3 siang, cuaca di sini masih sangat panas.

“Mbak, mau ke mana ? Yuk saya antar ya, kasihan dedeknya kepanasan.”

Wanita itu hanya diam.

“Adek jangan takut ya, Om gak akan nyulik kok, Adek mau ya naik mobil! Om antar pulang.” Aku mencoba membujuk anak laki-laki yang hampir kutabrak tadi, karena di antara ke tiga anaknya, dialah yang paling besar. Dia pun hanya diam, tapi kemudian menarik tangan ibunya seperti tengah mencoba berkomunikasi. Tak lama kemudian kami pun masuk ke dalam mobil, kuberikan minum dan camilan yang memang sengaja kubeli untuk bekal liburan nanti. Raut mereka begitu bahagia berbeda dengan ibunya yang hanya murung dan lebih banyak melamun.

“Mbak pulangnya ke arah mana?” tanyaku, saat kami tengah berada di dalam mobil. Wanita itu lagi-lagi bungkam. Ya Tuhan aku bisa gila.

‘Aku salah apa Mbak ? Cukup Ayu saja yang mendiamkanku, Mbak kenapa ikut-ikutan.’

“Adek kamu namanya siapa?” Aku menyerah pada wanita itu, hingga akhirnya kuputuskan untuk bertanya pada anak-anaknya saja.

“Ilham Om,” ucap nya, kenapa namanya harus sama. Mungkin hanya kebetulan.

“Pulangnya ke arah mana Ham, Om bingung nih belok kanan apa kiri?”

“Kiri Om!” Ilham terus menunjukkan jalan pulang aku hanya mengikuti sesuai arahannya, tapi ada yang aneh. Seingatku sudah dua kali memutari jalan tapi kenapa malah kembali lewat sini.

“Ham kok lewat sini lagi?”

“Aku gak tahu Om, aku lupa,” jawabnya, yang justru membuatku sedikit jengkel.

Astaghfirrullahaladzim, Sabar Andi Sabar. Kuhela nafas pelan, mencoba menenangkan diri yang mulai tersulut emosi. Wajar anak sekecil itu tidak tahu jalan pulang, mungkin bisa jadi dia baru pertama lewat sini.

“Hehehe hehehe heheheh.” Tiba-tiba ibunya ilham tertawa sendiri.

“Astaghfirrullahaladzim, Kenapa Mbak?”

“Hehe hhehe hehehe.” Aku menghentikan laju mobil, kulihat wanita itu masih saja tertawa sedang anak-anak mereka malah melempar pandang padaku. Sesekali mereka tampak saling sikut, seolah menyuruh menjelaskan sesuatu tapi mungkin takut. Hari sudah mulai gelap terdengar azan maghrib berkumandang, dalam situasi seperti ini, di tengah persawahan, penerangan yang ala kadarnya, juga suara perempuan ini yang terus tertawa seperti orang kerasukan, sungguh membuat merinding sekujur badan.

“Mamahku gila Om,” celetuk anak perempuan tiga tahun.

“Hah?” Aku tak percaya, kutatap Ibunya Ilham itu sekali lagi.

“Hehehehehe.”

‘Sial! Dia malah tertawa lagi.’

“Astaghfirrullahaladzim, ya Allah. Huh”

Aku membuang nafas, kemudian mengusap wajah dengan telapak tangan.

Aku terus beristigfar mencoba menenangkan pikiran, setelah mendengar ucapan anak perempuan itu, dari penampilannya memang terlihat acak-acakan tapi logikaku kembali menolak untuk percaya kalau ibu ini ODGJ. Mungkin hanya sedang banyak pikiran, tapi melihat Ilham terlihat murung dengan wajah tertunduk, memaksaku untuk percaya, mungkin Ilham ingin berbicara tapi dia takut kalau aku akan menurunkannya di jalan. Sejenak aku terdiam kutatap wajah anak-anak itu bergantian, ada raut ketakutan di wajah mereka. Hanya si bungsu yang sesekali terlihat ikut tertawa bersama ibunya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED