Setengah jam kemudian, Nindy menerima pesan dari asistennya.
[ Bu Nindy, sudah aku selidiki. Beberapa hari ini nggak ada kebakaran di dalam kota, tapi di wilayah pegunungan barat sempat terjadi kebakaran hutan. ]
[ Kondisinya sangat parah. Kabarnya tim pemadam dari kecamatan sekitar hampir habis-habisan. Tim Dua tempat Pak Ray bertugas juga ikut ke sana beberapa hari lalu. ]
Melihat ini, ekspresi Nindy langsung berubah drastis. Tubuhnya bangkit dari tepi ranjang tanpa kendali, bahkan sampai sedikit gemetar.
[ Terus, sekarang sudah terkendali? Ada korban dari tim Ray nggak? ]
Dengan tangan bergetar, Nindy mengetik kalimat itu dan menekan kirim. Saat ini, dia tidak bisa menjelaskan secara detail apa yang dia rasakan. Namun, rasa sesak di dadanya cukup kuat.
[ Untuk kondisi pasti di tempat kejadian belum jelas. Tapi beberapa hari ini, api sudah berhasil dikendalikan. ]
[ Bu Nindy, Pak Ray itu orang yang beruntung. Beliau pasti baik-baik saja. ]
Melihat balasan itu, Nindy memejamkan mata dengan pasrah. Hanya dia yang tahu, Ray sudah menghilang sejak beberapa hari lalu dan ponselnya sampai sekarang selalu tidak aktif.
Yang lebih membuatnya takut adalah kalimat terakhir dalam surat Ray. Dalam keadaan mental seperti itu ... jangan-jangan dia benar-benar nekat menghadapi kebakaran hutan tanpa peduli nyawanya?
[ Baiklah. ]
[ Cari lokasi tepatnya kebakaran hutan itu. Aku akan ke sana sekarang. ]
Saat membuka mata lagi, Nindy sudah membuat keputusan. Dia memberikan instruksi dengan tegas. Apa pun masalah antara dia dan Ray, itu urusan rumah tangga. Ray tetap suaminya yang sah. Dia harus melihat orangnya, mau itu hidup atau mati!
[ Baik, Bu. ]
[ Tapi, Pak Chicco sudah memesan restoran malam ini. Beliau bilang Ibu mungkin sibuk karena nggak membalas pesannya, jadi beliau meminta aku menyampaikan. Bagaimana? ]
Mendengar ini, Nindy mengernyit. Tak sampai beberapa detik, dia sudah mengambil keputusan.
[ Suruh dia batalkan. Malam ini aku ada urusan. Kita jadwalkan ulang lain hari. ]
[ Baik, Bu. ]
Setelah menutup percakapan, Nindy tidak bisa lagi duduk diam. Rasa gelisah menguasainya. Dia langsung mengambil kunci, keluar kamar, dan mengendarai mobil menuju arah pegunungan barat.
Lima menit kemudian, asisten mengirim lokasi lengkap dan mengingatkan agar berhati-hati. Nindy tidak membalas. Dia hanya menyalakan navigasi dan menambah kecepatan.
"Ray, kamu nggak boleh kenapa-napa! Meskipun akhirnya bercerai, aku nggak bisa biarkan semuanya menjadi nggak jelas seperti ini!"
Mobil melaju dengan sangat kencang. Perjalanan yang seharusnya satu jam, hanya ditempuh dalam 40 menit.
Semakin dekat dengan lokasi kebakaran, perasaan Nindy semakin buruk. Dari kejauhan saja dia sudah mencium bau hangus yang menusuk.
Semakin dekat, semakin jelas terlihat jejak-jejak tanah dan pepohonan yang hangus. Nindy menatap pemandangan itu, hingga seolah-olah bisa membayangkan kemungkinan terburuk tentang Ray.
Dadanya semakin sesak. Dengan satu injakan penuh, dia sampai di lokasi. Bukan pusat kebakaran, tetapi jalan tidak bisa lagi dilalui ke depan.
Nindy buru-buru turun dari mobil. Dia melihat beberapa mobil pemadam. Tidak jauh dari sana, ada tenda-tenda pos pemadam. Di dalamnya tampak bayangan para petugas pemadam kebakaran yang berlalu-lalang.
"Di sana!" Mata Nindy langsung berbinar. Dia cepat-cepat berjalan ke arah tenda.
Namun, baru beberapa langkah, dia mendengar suara tangisan banyak orang dari dalam tenda. Seketika, jantung Nindy seakan-akan berhenti berdetak. Langkahnya semakin cepat tanpa sadar.
"Ray, aku datang! Tolong jangan kenapa-napa!"
Setelah maju beberapa langkah lagi, Nindy melihat pemandangan yang membuatnya hampir tidak bisa berdiri. Di dalam area tenda itu, selain para petugas pemadam kebakaran, ada begitu banyak warga sekitar.
Mereka berkelompok, masing-masing mengelilingi tubuh-tubuh yang ditutupi kain putih, menangis pilu.
Nindy bahkan bisa melihat sebagian lengan yang masih mengenakan seragam pemadam di balik kain. Dia menyaksikan pemandangan yang menyayat hati itu sampai tidak bisa berkata-kata. Tubuhnya bahkan hampir terjatuh.
Nindy tidak bisa membayangkan ... bagaimana kalau salah satu yang terbaring itu adalah Ray? Dalam kelinglungan itu, rasanya ada begitu banyak kata yang tersumbat di dalam hatinya, tetapi tidak bisa diungkapkan.
"Ray ... kamu ada di sini nggak?" Mata Nindy langsung memerah. Dia bahkan tidak peduli dianggap tidak sopan. Dia mendekat dan membuka kain putih satu per satu untuk mengonfirmasi identitas.
"Yang ini bukan."
"Yang ini juga bukan ...."
Baru satu menit, Nindy sudah memastikan beberapa korban. Semua bukan Ray. Namun, dia sama sekali tidak berani menghela napas lega karena jumlah tubuh di sana terlalu banyak.
Yang Nindy tidak tahu adalah di sudut tenda, seorang pria berjaket pemadam baru kembali dan menggendong korban luka.
Begitu melihat sosok Nindy, pria itu tertegun. Nindy? Kenapa dia ada di sini?
Aku mengucek mataku, memastikan bahwa wanita yang berdiri tak jauh itu benar-benar Nindy. Istri sahku, atau lebih tepatnya mantan istriku.
"Dia ... datang mencariku?" Aku berdiri diam, menatap Nindy membuka satu per satu kain dengan wajah panik. Rasanya tidak bisa dipercaya. Belum pernah aku melihat Nindy sekhawatir itu terhadap diriku.
Sesaat, rasanya seperti dulu, di mana Nindy masih belum bersikap dingin, masih peduli padaku, dan masih mencintaiku. Apa mungkin dia masih mencintaiku?
Aku ingin melangkah menghampirinya. Namun, baru mengambil selangkah, kakiku berhenti. Sebab pada saat itu, bayangan Nindy di hari itu muncul jelas, saat dia mengaku sebagai pasangan Chicco di depan umum dan keduanya berciuman mesra.
Rasa sakit itu langsung menghentikan langkahku. Tidak mungkin. Nindy mana mungkin masih mencintaiku?
Paling dia datang karena membaca surat perpisahanku, tidak terima aku memutuskan sepihak, dan datang untuk mencari masalah.
Mengingat surat itu, hatiku langsung kembali tenang. Melihat Nindy yang panik, aku tidak lagi memiliki rasa apa pun. Terserah dia saja.
Keputusan sudah kutetapkan. Tidak akan ada jalan kembali. Mau dia cinta, benci, marah, ataupun dendam, itu semua sudah tidak ada hubungannya denganku.
Suami Nindy yang dulu selalu mengalah dan mencintainya setulus hati, sudah mati di kebakaran hutan ini. Yang hidup sekarang adalah Ray yang baru. Dalam hidup baru Ray, tidak ada Nindy.
Setelah membulatkan tekadku, aku diam-diam menjauh, mengambil posisi di tempat yang tidak terlihat olehnya, dan melanjutkan pekerjaan penanganan korban.
Sementara dia ... aku tidak khawatir timku mengenalinya. Bagaimanapun, Nindy yang selalu menjaga jarak dari dunia pribadiku tidak pernah sekali pun tampil sebagai istriku dalam acara tim. Tidak ada yang tahu bahwa kami menikah.
Setelah itu, aku melihat Nindy dimarahi keluarga korban karena membuka kain jenazah sembarangan. Dia pun pergi dengan linglung seperti tanpa jiwa.
Hingga sosoknya benar-benar hilang, aku tidak menoleh lagi. Yang aku tidak tahu adalah di dalam mobil, Nindy hampir sepenuhnya hancur.
"Ray! Dasar bajingan! Kenapa kamu seenaknya ninggalin aku begitu saja?" Begitu masuk ke dalam mobil, Nindy akhirnya tidak bisa lagi menahan emosi yang sudah lama runtuh. Air mata seketika bercucuran. Rasa sedihnya memuncak.
Barusan saat dia melihat satu per satu tubuh yang terbaring tak bergerak di bawah kain putih, semuanya memakai baju pemadam kebakaran. Hatinya sebenarnya sangat ketakutan. Dia takut tidak menemukan Ray. Lebih takut lagi kalau saat kain itu dibuka, Ray justru ada di bawahnya.
Saat ini, Nindy tak mampu lagi mempertahankan ketenangan dan kejernihannya. Dadanya seperti ditusuk jarum, perih luar biasa.
Ray benar-benar sudah mati? Dia tidak tahu, juga tidak berani terus melihat.
Padahal dia mengira bertahun-tahun mendalami ajaran agama bisa membuat hatinya cukup kuat. Namun pada detik ini, Nindy tetap saja roboh. Seperti anak kecil, dia menelungkup di kursi kemudi sambil menangis tersedu-sedu.
Saat ini, ponsel di sakunya berdering. Nindy hampir seketika bangkit. Dengan hati berdebar, dia meraih ponselnya.
"Ray?" Dalam sepersekian detik, pikirannya sudah mulai menyiapkan alasan pembenaran untuk Ray.
Mungkin Ray menghilang berhari-hari ini hanya karena sedang ikut pemadaman kebakaran hutan dan tidak sempat memberi kabar. Ponselnya mati mungkin karena berhari-hari tak ada daya di gunung.
Namun, Ray tetap mencintainya, tetap peduli padanya. Karena itu, saat ponsel menyala kembali, dia pasti langsung meneleponnya. Bukan begitu?
Memikirkan itu, suasana hati Nindy sedikit membaik. Namun pada detik berikutnya, tatapannya menegang di layar ponsel. Penelepon itu bukan Ray, melainkan Chicco.
"Kenapa dia?" Sekejap, senyuman di wajah Nindy membeku, lalu perlahan menghilang.
Padahal biasanya, dia paling sebal dengan panggilan dari Ray, sedangkan panggilan yang paling dia nantikan adalah dari Chicco. Namun, sekarang justru sebaliknya. Betapa berharapnya dia Ray yang menghubunginya sekali saja.
Nada panggilan terus berbunyi. Nindy mendongak, memandang reruntuhan sisa kebakaran hutan yang penuh luka, lalu menutup mata dengan pasrah.
Saat dia membuka mata lagi, air matanya telah dihapus, emosinya sudah dia kunci. Dia mengangkat telepon sambil menyalakan mobil, bersiap pergi.
"Halo, Chicco, ada apa?"
"Nindy, kenapa seharian kamu nggak hubungi aku? Lagi sibuk banget ya?"
"Oh ... ya, hari ini kantor lagi sibuk banget. Ada perlu apa?" Nindy ragu sejenak, tetapi tetap mengikuti arah bicara Chicco.
"Nggak ada apa-apa, cuma Andrew dari tadi nangis minta ketemu mamanya. Aku sampai kewalahan, makanya aku akhirnya telepon kamu. Nggak ganggu kamu, 'kan?" Dari seberang, suara Chicco terdengar hati-hati.
Belum sempat Nindy menjawab, suara Andrew yang tak sabar langsung menyela, "Mama! Kapan pulang? Aku sama Papa kangen Mama."
"Papa malam ini sudah pesan makanan enak di restoran, tapi Mama nggak datang, Papa sedih .... Tapi Papa bawa makanannya pulang! Mama pulang nggak? Kita makan bareng ya?"
Serangkaian pertanyaan polos itu membuat dahi Nindy yang sejak tadi mengerut, sedikit melonggar.
Dia menarik napas perlahan, tersenyum, dan berpura-pura santai. "Begitu ya. Kalau begitu, Andrew bilang ke Papa, Mama minta maaf ya. Tunggu Mama. Mama sudah selesai kerja. Malam ini Mama pasti pulang makan bareng kalian."
Begitu dia selesai berbicara, suara sorak kegembiraan Andrew langsung terdengar. Setelah itu, Chicco mengambil alih telepon agar Andrew tidak terus mengganggu. "Baiklah, kami tunggu di rumah. Perlu aku jemput?"
"Nggak, nggak usah."
"Kalau begitu, hati-hati di jalan. Aku sama Andrew nunggu kamu pulang."
"Ya," Nindy menjawab dengan senyuman. Nadanya lembut dan sabar.
Begitu telepon ditutup, dia baru menarik kembali senyuman itu. Ada kesuraman singkat di mata, sebelum emosinya kembali samar dan sulit diterka.
Nindy memutar balik mobil sambil menelepon asisten perusahaan.
"Halo, Bu Nindy, ada yang bisa kubantu?"
"Tolong cek daftar semua petugas pemadam yang gugur dalam kebakaran hutan ini, lihat apakah ada nama Ray." Hati Nindy bergetar, suaranya hati-hati.
"Separah itu? Pak Ray pasti baik-baik saja. Begitu aku selesai rekap, aku aku langsung hubungi Ibu." Asisten tampak terkejut mendengar itu.
"Nggak perlu terburu-buru." Nindy memandang sekilas ke arah area kamp pemadam kebakaran, lalu berkata pelan, "Besok saat jam kerja saja lapor ke aku. Malam ini aku ada urusan, jangan ganggu dulu."
"Baik, Bu."
Telepon ditutup. Ekspresi Nindy kembali datar. Dia menyimpan ponsel dan menginjak gas, menyetir pulang.
Ajaran Buddha berkata, tujuh emosi dan enam nafsu hanyalah ujian dunia terhadap hati manusia. Nindy tak bisa menghindari adanya emosi, tetapi dia tidak akan membiarkan emosi menguasainya terlalu lama.
Dia tahu jelas, berlama-lama di sini tidak ada gunanya. Ray mungkin sedang memadamkan api di gunung. Mungkin sedang merajuk, jadi sengaja menghindarinya. Atau mungkin memang sedang terbaring di sana ....
Namun, apa pun hasilnya, besok pagi semuanya bisa dikonfirmasi. Malam ini dia tidak akan menguras energi untuk hal itu. Dia hanya ingin pulang menemani Andrew.
Setelah Nindy pergi, kapten Tim Pemadam Dua tak sengaja melirik bagian belakang mobil Nindy, lalu bertanya padaku dengan heran, "Ray, mobil itu ... kok aku merasa kenal ya? Itu bukan mobil keluargamu? Istrimu datang cari kamu?"
Mendengar itu, hatiku bergetar sedikit. Namun, di wajahku hanya ada senyuman datar. Aku pun menggeleng. "Bukan, Kapten. Itu bukan mobil keluargaku. Mungkin orang yang salah jalan."
"Oh ya, kamu sudah berhari-hari di sini. Sudah kasih kabar ke istrimu kalau kamu aman?"
"Sudah. Dia tahu aku baik-baik saja, jadi tenang saja." Aku mengangguk dengan ekspresi datar.
"Bagus kalau begitu. Kerjaan di sini sudah hampir selesai. Barusan kami dapat kabar kalau tahap terakhir kebakaran itu akhirnya berhasil dipadamkan."
Kapten menghela napas lega. "Ray, pertempuran kita melawan bencana ini sudah berakhir. Besok kita kembali ke markas. Kalian pulanglah ke rumah."
Begitu dia selesai berbicara, para anggota tim langsung bersorak. Mereka akhirnya bisa pulang. Semua orang senang, kecuali aku.
Apa aku masih punya rumah untuk pulang? Terbayang punggung Nindy yang pergi begitu cepat, aku terdiam. Hatiku terasa tak nyaman.
Nindy, bagaimana aku harus percaya padamu? Tadi kamu masih panik mencari aku, tetapi detik berikutnya kamu bisa tersenyum lembut sambil menelepon seseorang di mobil?
Penelepon itu pasti Chicco, 'kan? Adegan tadi sebenarnya kulihat jelas, bahkan tertanam dalam ingatanku.
Gelombang sedih yang familier kembali muncul. Nindy hanya datang sebagai formalitas. Kali ini, kesedihan itu kutekan dalam-dalam, seolah-olah itu bukan apa-apa.