Pagi-pagi sekali aku datang membawa sebuah tas kanvas putih. Menentengnya berhati-hati, takut kalau isinya bisa saja tumpah dan merepotkanku. Gumpalan-gumpalan awan putih terlihat menyelimuti langit.
Meski pun bisa dibilang pendiam. Aku suka mengamati sekitar. Bagaimana gumpalan awan itu tertiup angin dan menggabungkan diri bersama yang lain. Aku mengambil tempat duduk terdekat dan menunggu kedatangan Dwiyan di kursi taman berpayungkan pohon hijau rindang.
Beberapa kali dalam sebulan, baik aku atau Dwiyan berjanji untuk bertemu di tempat ini. Sebuah taman kota yang terletak di pinggir jalan Gatot Subroto. Persis sama dengan taman lain. Terdapat jalan setapak dan pohon-pohon rindang di pinggir jalan.
Sayang sekali, aku tidak ingat nama dari tanaman itu. Rumput hijau terbentang luas. Setiap kali ke sini, aku selalu membawa serta rantang plastik dengan berbagai macam lauk. Dulu, kesukaanku terhadap masak bisa dibilang nol persen.
Tapi, semenjak berpacaran dengan Dwiyan, aku menjadi semangat untuk belajar memasak. Dulu alasanku memasak hanya karena keadaan. Ibu selalu sibuk dan harus bekerja setiap hari. Itulah mengapa aku yang mengerjakan semua urusan rumah termasuk memasak. Sekarang aku suka menghabiskan waktu bereksperimen dengan memasak resep baru daripada pergi jalan-jalan bersama teman.
Tanganku merogoh ponsel flip di dalam saku jins panjang. Berharap kalau Dwiyan menghubungi. Biasanya siapa pun yang sampai duluan pasti memberitahu lokasinya. Tadi sewaktu sampai di sini, langsung mengirimkan pesan singkat kalau menunggu di depan lampu taman. Di tempat anak-anak kecil yang biasanya bersepeda. Sudah tiga puluh menit berlalu, tapi kehadirannya belum bisa dipastikan.
Banyak sekali pemikiran datang dan pergi. Meski pun harus kuakui lebih banyak pemikiran buruk jika Dwiyan sengaja melupakan janji karena latihan band sepulang kuliah. Aku mulai kesal karena janji-janji tidak tertepati olehnya. Selalu saja alasan yang sama. Setiap kali meminta maaf, beberapa hari kemudian Dwiyan mengingkari janji yang sama seperti hari jumat lalu.
"Sudah lama?"
Aku menoleh dan melihat Dwiyan sudah duduk di sebelahku membawa sebuah CD player berwarna perak. Menurut ceritanya pemutar musik ini dimilikinya sejak dua tahun lalu. Saat berulang tahun ke tujuh belas. Bundanya memberikan hadiah pemutar musik karena tahu ketertarikan Dwiyan terhadap musik, lagu, gitar dan hal-hal yang berhubungan dengan itu.
"Nggak kok. Aku sampai berakar di sini," jawabku sedatar mungkin, memasang wajah sangat memaklumi tindakan Dwiyan. Yang selalu melupakan janji kami. Padahal aku sudah mengatakannya seminggu sebelum kami bertemu.
Ia malah tertawa kecil mendengarnya. Lalu, menepuk pelan puncak kepalaku. "Kalau itu sih lama, Citra. Maaf, kali ini aku benar-benar mendapat sebuah masalah."
Dwiyan memang suka bercanda. Setiap bertemu pasti selalu ada candaan yang membuatku tertawa lepas. Padahal sebuah perasaan sedih tengah bersarang di hati. Mendengar kalimat barusan kurasa bukanlah candaan. Aku berharap masalah yang dikatakan tidak seburuk pemikiranku.
"Kamu ingat lagu yang aku ciptakan?" Ia bertanya dengan wajah teramat sedih.
Dua minggu lalu, Dwiyan menunjukkan lagu ciptaannya kepadaku. Yang menurutku tidak biasa. Mereka belum pernah bermain musik dengan lembut karena menyukai musik keras seperti rock. Tapi, petikan gitar akustik, pukulan pada drum yang mengikuti dan suara khas Dwiyan membuat lagu itu terdengar sempurna.
"Ya, aku ingat. Memangnya kenapa? Apakah terjadi sesuatu?" tanyaku penuh kecemasan. Aku bahkan takut kalau apa yang kupikirkan benar adanya.
Ia tidak langsung menjawab, melainkan menyelipkan sebelah earphone pada telingaku. Detik berikutnya, aku dapat mendengar petikan gitar dan suara seseorang. Bukan suara khas milik Dwiyan. Namun, seorang pria dengan suara beratnya dan sedikit serak. Ada yang diubah. Kata-kata di dalam lagu yang diciptakan oleh Dwiyan adalah beberapa kalimat bahasa inggris dan terdengar manis. Berbeda jauh dari ini. Semuanya adalah bahasa indonesia dengan menyisipkan beberapa ungkapan bahasa inggris yang sulit dimengerti.
"Lagu ini sudah rilis. Bahkan di seluruh Indonesia. Awalnya kukira cuma kebetulan. Namun, panitia lomba mendiskualifikasi karena berpendapat bahwa aku yang menjiplak."
Dwiyan mengakhiri kata-kata itu dengan bernapas dalam-dalam, lalu menghembuskan perlahan. Kurasa ia benar-benar kecewa dan marah. Aku bingung. Orang yang telah menjiplak lagunya tahu dari mana? Tapi, kenapa panitia justru menuduh Dwiyan? Padahal CD lagu telah dikirim dua minggu sebelum lagu yang tengah kudengar sekarang rilis.
"Sungguh, aku nggak menyangka. Apa kamu baik-baik saja?" tanyaku ragu. Pasti Dwiyan kecewa. Apalagi ini adalah perlombaan pertama yang diikuti. Aku mengerti kenapa ia merasa kalau semuanya adalah masalah.
Dwiyan meraih lengan kiriku. Kemudian menautkan jari-jari kami. "Lagu itu mewakili perasaanku terhadapmu, Citra. Bagaimana terasa ringan dan berat di waktu bersamaan."
Pandangan matanya menatap lurus ke depan. Bahkan, tidak terganggu olehku yang menatap secara terang-terangan. Raut wajah itu begitu terluka. Selama mengenalnya dua tahun lalu, ia mampu menyembunyikan setiap masalah dan rasa sakit yang dirasakannya. Namun sekarang, ia menunjukkan seluruh kekecewaannya.
"Aku tahu, Yan.. Kamu juga pernah menceritakannya," ujarku menimpali. Lalu, menyentuh telapak tangan kami yang tengah bertautan penuh kasih. Aku mengusap punggung tangannya, "Semua pasti berlalu. Sama halnya dengan masalah ini," lanjutku berusaha meyakinkan.
"Ya, semua pasti berlalu. Aku nggak mempermasalahkan dikeluarkan dari lomba. Hanya saja, lagu ini kutulis untuk membahasakan perasaanku. Betapa hari-hari yang kulalui terasa semakin berat jika tidak melihatmu sekali saja."
"Dwiyan.."
Aku kehilangan kata-kata. Semua pengakuan Dwiyan baru saja kudengar. Ia bukan sosok pacar yang selalu romantis atau mempunyai banyak waktu menemaniku setiap hari. Tapi, mendengar pengakuannya seperti menyadari sebuah ruang di hatinya yang sama sekali belum tersentuh olehku. Mungkin itulah alasan meski pun sibuk, Dwiyan selalu menyempatkan diri untuk bertemu.
"Berulang kali aku menahan perasaan untuk menemuimu di tengah malam. Karena hanya dengan menatap wajahmu bisa menenangkan segala keresahan yang kurasakan. Aku jadi mempunyai tujuan untuk pulang. Ke hati yang selalu menyambutku dengan keramahan."
Seulas senyum aku sunggingkan. Sedikit tidak percaya kalau kata-kata manis itu memang dikatakan oleh Dwiyan. Setelah berpacaran, ia jarang menunjukkan kepeduliannya. Membuatku berpikir kalau mungkin saja Dwiyan mulai bosan. Sekarang semua itu terpatahkan mendengar pengakuannya barusan.
"Aku sungguh nggak tau kalau kamu menganggapku demikian," ucapku menatap kedua matanya yang terluka. Sekarang orang lain memang menjiplak karya pertama Dwiyan, tapi aku yakin dengan kemampuan yang dimilikinya, ia pasti bisa menciptakan lagu lain. "Terima kasih," lanjutku kemudian mengecup pipi kanannya.
Sebuah tindakan berani. Selama satu tahun lebih berpacaran, tidak sekali pun terlintas di benakku untuk melakukan tindakan kecil barusan. Aku menjauhkan wajah dan menatap wajahnya. Ada sebuah keterkejutan terlihat.
Beberapa menit kemudian, ia malah tersenyum menggoda. Melihat kesalahan besar yang kulakukan hari ini, aku memilih menunduk. Menahan segala perasaan di dalam rongga dada. Seakan ada segerombolan kuda berlari dan membuatnya terasa berat.
"Wah, aku nggak nyangka lho.." ujarnya lalu menepuk pundakku berulang kali. Namun, aku masih tetap menunduk dan menumpukan kedua tangan yang mulai berkeringat.
"Apa sih?" tanyaku dengan wajah memberengut yang tertutup helaian rambut panjang. Aku masih belum berani memandang Dwiyan. Karena aku benar-benar yakin kalau ia nanti meledekku habis-habisan.
"Nggak apa kok. Kenapa masih menunduk? Sini, lihat aku.." ucapnya menggoda. Sekarang, jemarinya justru mencoba menggelitiki pinggang. Membuatku terpaksa memegangi tangan hingga pandangan kami kembali bertemu.
"Nih, sudah kan?" tanyaku menahan rasa malu yang sejak tadi masih kurasakan. Kenapa hari ini Dwiyan iseng sekali? Padahal ia paham sifatku. Jika didesak pasti menjadi bertambah gugup.
Ia tertawa keras sekali. Sampai orang lain yang melintas memperhatikan. Tapi, aku tidak keberatan menjadi tontonan di sini. Asalkan bisa melihat tawa bahagianya. Raut wajahnya berubah sumringah seakan menggodaku saja bisa mengembalikan semangatnya. Beberapa kali aku bertanya apa yang ia sukai dariku. Dan sebaris kalimat itu membuatku bertanya-tanya.
"Kamu memang sup ayamku."
Ya, kata-kata itu lagi dilontarkannya. Aku masih belum paham maksud sup ayam dari kalimat barusan. Setiap kali menanyakannya, ia selalu saja memicu pertengkaran kecil. Dan, aku pasti mendiamkannya seharian. Mengabaikan telepon dan pesan singkat yang dikirimkan setiap menit. Benar-benar menyebalkan setiap kali mengingatnya.
"Tuh, kan. Kamu ngomong seperti itu lagi," gerutuku menekuk kedua tangan. Aku penasaran cukup lama mengartikan maksud kata-kata Dwiyan. Justru melihatku ngambek, ia malah menarik hidung mancungku dan mengacak rambut.
"Memangnya kenapa?" tanya Dwiyan dengan nada terheran. "Aku akan memberitahukan artinya jika kita benar-benar putus," lanjutnya tersenyum jahil.
Apakah ia bercanda? Bagaimana mungkin berpikiran kalau kami nantinya putus? Sedikit pun pikiran itu tidak ada di dalam benakku. Aku takut berandai-andai kalau kami pergi ke jalan masing-masing. Tanpa menengok ke belakang dan menemukan raut penyesalan. Membayangkannya saja membuat perasaanku tidak enak.
"Bercandamu keterlaluan, Dwiyan. Aku nggak pernah membayangkan kalau kita putus. Meski pun nggak ada hal yang mustahil di dunia ini. Namun, sebisa mungkin aku pasti mempertahankanmu. Perasaan kita," jelasku panjang lebar.
Tiba-tiba saja perasaanku dihujani rasa ketakutan teramat sangat. Gelombangnya jauh lebih besar dari sebelumnya. Aku bahkan tidak tahu apakah masih bisa tersenyum jika ia berpaling dan meninggalkanku demi gadis lain. Banyak sekali pemikiran-pemikiran buruk berseliweran di dalam pikiran. Aku berusaha mengenyahkan dengan memikirkan hal lain yang membuatku kembali tersenyum. Seperti menangkap jelas raut wajah pemuda di sebelahku.
"Maaf, aku hanya ingin sedikit menghibur," terangnya. Kemudian mengambil rantang yang kubawa dan tersenyum lebar. "Aku lapar. Bagaimana kalau kita mulai memakannya?"
Aku menyikut perutnya lalu tertawa bersama. Dwiyan membuka tutup rantang dan menaruhnya di pangkuan. Ia tersenyum menghirup aroma dari masakanku. Kalau menurutku, ayam sisit pedas yang kubuat cukup untuk membuatnya terkagum.
Dengan warna merah terang dari sambal yang tercampur pada ayam. Atau, sedikit perasan air jeruk nipis untuk menambah aroma dari masakan. Ia bahkan sudah menyendokkan satu sendok makan penuh ayam sisit dan mengunyah dengan terburu-buru.
"Enak.." gumamnya dengan senyuman khas anak kecil yang berhasil mendapatkan permen setelah merengek. Kurang lebih begitu ekspresinya sekarang.
"Tentu saja enak, aku yang membuatnya.." jawabku percaya diri. Padahal untuk membuat masakan enak ini perlu waktu lama belajar. Beberapa kali kegagalan. Di mana hanya terasa pedas atau sangat asin. Menurut perhitunganku, ini sudah kelima kalinya mencoba. Sejak pertama mempelajari resep ayam sisit pedas.
"Iya aja deh. Biar cepat."
"Jahat, kan memang benar kalau masakanku enak.." jawabku membela diri. Padahal aku lebih semangat belajar memasak karena dia.
Seringkali Dwiyan bercerita, kalau sepulang kuliah tidak ada makanan tersaji di dapur. Karena kakaknya sibuk bekerja, begitu pula ayahnya. Maka hal yang dapat ia lakukan hanya menyeduh mie dalam gelas.
Aku pasti mengomel satu jam penuh kalau sering memakan mie tidak sehat sama sekali. Lalu, aku mulai sering memasak makanan sehat. Dan, masakan yang berhasil selalu kubawa untuk berbagi dengan sahabatku –itulah alasan yang kulontarkan kepada Ibu setiap kali ditanya.
"Hahaha, iya memang enak kok. Terima kasih, Citra." Setelah mengucapkannya, Dwiyan kembali menyendokkan nasi dan ayam sisit juga sayur cah kangkung yang pedasnya cukup untuk membuatku berurai air mata. Karena aku sama sekali tidak menyukai makanan pedas. Padahal, hampir seluruhnya masakan Bali itu rasanya pedas. Aku lebih suka makanan yang manis seperti semur ayam kecap.
"Sama-sama, Dwiyan. Ah ya, kenapa kamu suka sekali makanan pedas?" tanyaku keheranan. Aku juga sering menanyakan ini. Dan ia tidak menjawab apa pun dan hanya tersenyum.
"Karena makanan pedas itu enak," jawabnya singkat.
Biasanya Dwiyan akan menjawab singkat dari setiap pertanyaan yang kulontarkan. Dan, ia lebih banyak diam. Alasannya tidak menawariku makan arena aku sudah lebih dahulu makan sebelum membawa bekal ke sini. Tentu saja bukan masakan pedas yang kumakan.
Ia sudah tahu itu sejak pertama kali membawakannya makanan. Aku tidak mungkin memberikan masakan gagal, karena itulah aku selalu mencoba sedikit untuk memastikan kalau rasanya enak.
Aku memandangi wajah Dwiyan sewaktu menikmati tiap sendok dari masakanku. Ia terlihat sangat menyukai menu yang kubawakan hari ini. Sudah sangat lama ia tidak memakan masakan bundanya. Apalagi bertemu. Berbulan-bulan Dwiyan menghindari Bunda. Bukan karena kesal, melainkan masih belum bisa menerima alasan kenapa meninggalkan ayahnya.
"Nggak semua makanan pedas itu enak. Kamu kan dari Yogyakarta, biasanya orang-orang di sana memakan gudeg. Gudeg itu manis. Memangnya kamu nggak suka masakan manis?"
Dwiyan menaruh sendok makan lalu berpikir untuk beberapa menit. "Nggak terlalu. Apalagi jika rasanya terlalu manis. Ya, aku memang orang Yogyakarta tapi lebih suka makanan pedas. Lalu, kamu gadis Bali malah nggak bisa makan pedas."
"Haha, benar juga sih. Mungkin tergantung selera masing-masing orang."
Apa yang dikatakan oleh Dwiyan ada benarnya. Aku yang asli orang Bali tidak menyukai makanan pedas. Walaupun Ibu sering memasak ayam betutu super pedas atau ikan cakalang bumbu sambal matah. Aku masih mengamatinya makan dengan lahap. Sebenarnya, hatiku tidak benar-benar tenang. Masih memikirkan masalah hubungan kami ke depannya. Seperti sedang bertaruh hal tidak pasti namun aku mempercayakan semua kepada Dwiyan. Ia pasti berusaha. Aku yakin.
Sore hari telah menjelang dengan goresan oranye dan biru membelah langit. Suara-suara sekumpulan burung terbang di langit pun terdengar hingga membuat decakan kagum dariku. Berulang kali, aku menggumamkan kata indah. Kemudian mengendap-ngendap masuk ke kamar dan menyalakan radio.
Sepuluh detik sudah berlalu. Berulang kali aku menghitung di dalam hati. Takut seandainya ibu datang dan menanyakan kenapa lama sekali pergi. Dari pagi keluar rumah dan baru sekarang sampai. Tadi, sepulangnya bertemu Dwiyan, aku menyempatkan diri untuk berteduh di rumah sahabatku, Yanti. Siang hari tadi hujan tiba-tiba turun.
Karena sudah terlanjur mampir, aku bercerita banyak sekali padanya. Bagaimana pagi hari tadi aku mendapatkan berita buruk dari Dwiyan. Atau, alasan yang kukatakan kepada ibu. Kalau aku bertemu dengannya. Yanti merupakan sahabatku sejak masuk SMP. Setiap kali mendapatkan masalah atau memerlukan bantuan. Ia dengan senang hati membantu.
"Sejak kapan Citra datang?" Mendengar sebaris pertanyaan barusan kembali menyadarkanku. Ibu berdiri di depan pintu kamar dan menyilangkan kedua tangan.
Aku menatap wajah tegas ibu yang memakai kacamata bingkai bulat. Dengan guratan keriput di dekat mata. Baru sekarang kusadari kalau ibu memang semakin bertambah umurnya dan aku pun mulai beranjak dewasa.
"Baru saja, Bu." Aku bangkit dari tempat tidur dan menghampiri ibu yang berdiri di depan pintu kamar.
Benar-benar ceroboh. Pintu kamarku terbuka sedari tadi. Untunglah aku tidak sedang menelepon Dwiyan atau menceritakan kabarnya kepada teman-temanku. Hampir semua teman mendukung hubunganku terkecuali keluargaku.
"Kenapa keluar lama sekali?" tanya Ibu dipenuhi oleh raut wajah curiga. Aku saja sampai berpikir keras untuk menjawab. Takut kalau sampai ketahuan tengah berbohong.
"Tadi Citra mampir ke toko buku. Melihat-lihat komik baru," jawabku sebisa mungkin tanpa keraguan. Namun, sebersit rasa bersalah masih menghinggapi rongga dada. Aku merasa tidak enak karena berbohong lagi. Tapi, kuharap suatu hari nanti ibu memaklumi tindakanku ini. Karena aku yakin suatu saat ibu pasti merestui hubungan kami.
"Ya sudah. Ibu mau berbicara, bisa?" Awalnya aku sedikit ragu. Apalagi belum merapikan tas dan menyembunyikan ponsel dengan mengatur mode hening. Aku takut kalau Dwiyan mengirimkan pesan singkat lalu membuat Ibu curiga.
"Bisa Bu.. Sebentar, Citra harus menaruh tas dulu."
Tanpa menunggu jawaban. Aku berjalan dengan langkah lebar dan merapikan tas beserta isinya yang berantakan di atas tempat tidurku. Kudengar langkah kaki mendekat. Lalu, buru-buru kumasukkan tas ke dalam laci. Ibu sudah duduk di dekat meja televisi. Menatapku lekat-lekat, kemudian tersenyum.
"Ibu mau membicarakan apa?" tanyaku mengawali percakapan. Padahal aku mencoba untuk mengalihkan perhatian. Karena takut ibu menanyakan keberadaan tas yang buru-buru kusimpan di dalam laci di dekat meja belajar.
Ibu mengambil telapak tanganku kemudian menepuk-nepuknya. Aku bisa menebak kalau yang dibicarakan merupakan hal yang tidak begitu baik. Karena setiap kali kabar buruk akan kudengar, selalu saja ibu melakukan hal serupa. Kalau mengenai masalah pekerjaan. Aku juga sudah melamar ke beberapa tempat. Tapi, sampai sekarang belum mendapat jawaban dari lowongan kerja yang kukirimkan lamaran.
"Citra kan sudah menganggur selama setahun. Apa nggak kepikiran untuk bekerja?" tanya Ibu dengan hati-hati. Mungkin takut kalau aku menjadi kepikiran. Meski pun begitu tetap saja tidak bisa membuatku merasa nyaman. Aku jadi berpikir kalau keadaanku sekarang memberatkan ibuku. Karena masih juga menganggur. Padahal sudah melamar pekerjaan ke beberapa tempat.
"Ya, kepikiran sih. Citra juga lagi usaha, Bu."
"Apa mau kerja di tempat teman Ibu?"
Ibu menanyakan hal yang sudah pasti jawabannya. Bahkan, tanpa menanyakan pun aku bersedia. Tapi, ada guratan keraguan di wajah Ibu.
"Pasti mau, Bu. Kerja sebagai apa?" tanyaku penuh kebingungan melihat raut wajah ibu yang mendadak gugup.
Aku sebenarnya tidak masalah bekerja sebagai apa saja. Asal bisa membantu kedua orangtuaku. Sayangnya aku hanya lulusan SMK. Dan lapangan pekerjaan yang tersedia untuk lulusan sepertiku bisa dibilang sangat sedikit. Lulusan sarjana juga cukup banyak menganggur. Seandainya aku mempunyai orang tua yang sedikit peka dengan pendidikan mungkin akan berbeda ceritanya.
Ibu melihat ke arah lain. Bahkan bisa dibilang mencoba untuk menjelaskan detail lowongan pekerjaan yang dikatakan barusan. "Sebagai operator bensin. Yang mengisi bahan bakar kendaraan itu."
Detik jarum jam terasa berjalan lambat. Aku berusaha mencerna perkataan ibuku. Hal paling aku takuti adalah harus berhadapan dengan banyak sekali orang asing. Seringkali mataku akan berkunang-kunang jika bersama banyak orang.
Telapak tanganku juga berkeringat dingin. Lalu, jantungku berdebar karena takut. Berulang kali aku bertanya kepada ibu dan selalu mendapat jawaban sama. Kalau aku belum bisa bersosialisasi. Dan, seiring berjalannya waktu pasti berubah membaik.
"Citra tidak yakin, Bu."
Aku menghindari tatapan langsung ibu dan memilih untuk menunduk. Menautkan kedua ibu jari karena merasa bingung harus menjelaskan bagaimana. Kalau menjelaskan tidak menyukai keramaian sudah pasti ibu marah. Jadinya, aku hanya terdiam. Merasakan suasana kamar menjadi jauh lebih dingin walaupun aku sudah menutup jendela.
Telingaku mendengar langkah kaki yang menjauh. Kukira ibu keluar kamar dan membiarkan masalah ini berlalu begitu saja. Saat mendongak, aku melihat pintu kamar tertutup dan raut wajah ibu yang menautkan kedua alis. Ada ketegasan dari pandangan lembutnya. Aku merasa kalau semua tidak berguna sekarang. Suka atau tidak aku pasti bekerja di sana.
Ibu berdiri tiga langkah dari tempatku duduk. Menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Kenapa tidak yakin? Padahal Ibu tadi sudah bilang sama Bapak kalau Citra mau bekerja."
Aku memikirkan kata-kata untuk menjelaskan hal serumit ini. Kenapa harus bercerita kepada bapak tanpa membicarakannya dahulu? Butuh alasan logis untuk menolak bekerja. Pekerjaan apa saja, asalkan tidak berinteraksi dengan terlalu banyak orang. Mungkin terdengar tidak masuk akal. Tapi, memang itu alasannya. Selama ini aku lebih sering berada di rumah. Dari pada pergi ke tempat ramai. Misalkan, jalan-jalan bersama teman pun hanya ke toko buku yang sedikit pengunjung.
"Ibu kan sudah tahu, kalau Citra tidak bisa berinteraksi dengan banyak orang. Apalagi untuk tersenyum ramah terasa sangat sulit," jelasku sebisa mungkin. Menjelaskan apa yang kurasakan selama ini. Sulit rasanya tersenyum ramah dan berada di keramaian.
Raut wajah ibu tidak berubah sedikit pun. Masih menyiratkan kemarahan. Namun terlihat menahannya. Aku masih memandang wajah ibu. Hanya saja tidak sebaris kalimat pun keluar. Dan, membiarkan suasana tidak nyaman masih terus berlanjut. Kadang terpikirkan untuk menjabarkan semua yang kurasakan. Tapi, waktu ibu terlalu padat oleh kerjaan di kantor. Aku tidak sadar kalau tetesan air mata membasahi wajah. Aku mengusap dengan punggung tangan.
"Kurasa kamu sudah cukup besar untuk bertindak egois, Citra. Bapak bisa marah sekali kalau sampai menolak untuk bekerja. Memangnya pekerjaan apa yang bisa dilakukan lulusan SMK?" tanya Ibu dengan penuh penekanan pada setiap katanya. Dan terdengar benar-benar marah.
Kugigit bibir bawah pelan. Mencoba menepiskan rasa kecewa yang bersarang di rongga dada. Dan menghentikan laju air mata yang menetes di kedua telapak tangan yang kugenggam erat. Bahkan sampai terasa menyakitkan. Selama ini aku selalu menurut. Tidak adakah pengecualian? Aku sadar betul kalau tidak banyak hal yang dapat kulakukan dengan mengandalkan ijasahku sekarang.
Ibu masih mengalihkan perhatian ke rak buku di dekat meja belajar dan menatap ke depan. Tidak ada niatan untuk membujukku atau menghibur. Bahkan, aku baru sadar kalau sekarang ibu jauh lebih keras mendidikku seperti bapak.
Semuanya terasa tidak adil. Jika bukan bapak. Kenapa ibu ikut-ikutan begini? Aku hanya ingin orangtuaku paham. Kalau aku mempunyai kekurangan. Salah satunya adalah membenci terjebak di dalam keramaian.
"Sekali ini saja. Citra mohon.." jawabku terbata-bata.
Aku sudah kembali menunduk dengan air mata yang terus mengalir. Napasku tersendat-sendat. Bahkan, sekarang jauh terasa lebih berat. Untuk satu kali ini saja. Aku ingin Ibu mengerti posisiku. Juga karena ketakutanku bertatapan langsung dengan banyaknya orang asing.
"Ibu tidak menerima jawaban apa pun. Sebenarnya, kamu malu kan kalau sampai bertemu temanmu? Bukan karena takut berada di keramaian?" tanya Ibu menaikkan nada suaranya.
Sekarang, aku takut kalau bapak akan mengecek dan menemukanku seperti ini. Sudah belasan kali aku dimarahi karena belum juga bekerja. Tapi, sekarang bukan kesempatan bagus.
Aku bangkit berdiri. Menahan mati-matian semua perasaan seakan mau meledak. "Bukan sama sekali. Ibu pasti tahu kan kebiasaan Citra dari kecil. Kenapa sekarang berbeda?" tanyaku keberatan. Aku sudah menanyakannya. Bagaimana setiap kali berada di keramaian mataku berkunang-kunang atau keringat dingin membasahi telapak tanganku.
Sudah dari dulu ibu mengetahui sifatku. Kalau aku adalah orang yang tertutup kepada orang yang baru dikenal. Apalagi kalau sampai harus mengajak ngobrol. Aku belum punya keberanian untuk memulai percakapan. Takut kalau nantinya mereka tersinggung karena salah bicara.
"Ibu tidak berbeda. Kamu yang tidak berubah. Jangan memaksakan untuk mencoba memahamimu. Padahal, kamu yang tidak berusaha untuk melawan ketakutanmu," jelas Ibu panjang lebar. Tidak membiarkanku membela diri dan memilih keluar dari kamar. Lalu, menutup pintu.
Aku menutup wajah dengan kedua tangan dan menangis sesenggukan. Selama ini aku sudah membantu orangtua semampuku. Belajar memasak di saat anak-anak seusiaku seharusnya bermain-main. Di umurku yang kesebelas. Ibu mengajarkan memasak. Karena baik bapak atau ibu harus bekerja. Jadi yang mengerjakan pekerjaan rumah beserta memasak adalah aku.
Berulang kali aku memaklumi tindakan ini. Kalau aku harus menjadi dewasa sebelum waktunya. Karena aku adalah anak pertama. Apalagi perempuan. Adik keduaku lebih suka bermain di luar dari pada membantuku di rumah. Baik dari sikap maupun wajah kami berbeda jauh.
Aku seringkali berpikir kalau orangtuaku mungkin mengerti. Kalau aku berbeda dari kebanyakan anak lainnya. Dan, aku juga tidak tahu alasannya. Aku hanya membenci berada di keramaian. Terasa asing dan menakutkan. Kukira mereka akan mengerti. Tapi, sampai sekarang pun hal itu tidak terjadi.
Dengan perasaan yang belum juga membaik. Aku berbaring di tempat tidur. Menarik selimut sebatas bahu kemudian menyeka air mata yang menetes. Kadang, banyak sekali pemikiran kalau mungkin saja aku bukanlah anak mereka. Seandainya aku memang anak kandung dari ibu. Ia tidak akan tega membuat perasaanku tidak nyaman. Aku sadar kalau harus melawan segala ketakutanku berada di keramaian.
Setidaknya, selama ini aku sudah mencoba. Meski pun selalu diiringi dengan kegagalan. Pernah suatu ketika, karena malu diledek oleh teman sekelas hanya berdiam di rumah. Aku memutuskan untuk mengikuti mereka menyaksikan pertandingan silat di GOR Ngurah Rai di dekat sekolah.
Bukannya ikut-ikutan merasa senang, karena tim silat sekolah kami menang. Aku justru jatuh pingsan sebelum bisa duduk di bangku penonton. Untuk sekali saja, aku berharap ibu bisa merasakan segala ketakutanku ini. Hingga mengerti bagaimana hidup di dalam ketakutan dan selalu menyendiri di kamar karena tidak menyukai keramaian.