Saat kata-kata tak lagi didengar saat hati tak lagi saling peduli, maka masih ada Tuhan sang pemilik hati yang dengan mudah membulak balikkan hati manusia.
~
“Jangan lancang kamu, kalau anakku tidak berbaik hati menikahimu, selamanya kamu hanya akan tinggal di rumah kecil yang sempit di desa.”
“Ayah, cukup! Dia istriku jangan pernah mengatakan hal buruk apa pun tentang dia!”
“Berani kamu sama Ayah.” Ayah mertuaku mulai terpancing.
“Maaf Ayah aku permisi, Ayo Dek kita pulang,” Mas Bagas lagi-lagi menarik tanganku kali ini sedikit lebih kasar, aku hanya bisa mengikutinya dari belakang. Bahkan kami belum sempat bersalaman dengan mertuaku, Mas Bagas sudah lebih dulu menarikku keluar rumah. Kugiring anak-anakku masuk ke mobil. Anak-anak tampak bingung karena biasanya mereka tidak akan pulang sebelum menyalami kakek dan neneknya.
“Uma kenapa ga salaman dulu?” tanya Meisya.
“Iya nih Uma, aku mau salaman sama nenek ah, yu balik lagi!” Tambah Arumi.
“Waduh bagaimana dong Sayang, Uma buru-buru nih. Papah nyuruh kita harus cepet-cepet pulang,” ucapku pada anak-anak.
“Ya udah deh,” ucap Arumi. Anak-anak tampak kecewa karena mereka hanya mampir sebentar, hanya Meisya yang terlihat biasa saja, mungkin karena usianya sudah bukan balita lagi, dia tak terlalu menjadikan hal ini sebuah masalah. Saat kami sudah mau keluar gerbang tiba-tiba Rinjani berteriak.
“Uma, stop!”
“Astaghfirrullah, kenapa De?” Mas Bagas mendadak menginjakkan pedal Rem membuat kami yang berada di dalam mobil jadi ikut terkejut.
“Itu nenek lari, Uma,” kata Rinjani. Aku refleks menengok ke belakang, tanpa basa basi aku segera keluar dari mobil lalu berlari mendekat ke Ibu mertuaku.
“Kenapa, Bu?” Dia tiba-tiba saja memelukku, sambil sedikit terisak. Aku tak mengerti ada apa sebenarnya.
“Yang kuat ya Nak, kalaupun kamu ga kuat tinggalkan saja Bagas jangan memaksakan hatimu. Hidupmu terlalu berharga, Nak,” ucap Ibu.
“Nenek,” anak-anakku berhamburan memeluk neneknya seketika dia memalingkan wajahnya ke belakang. Refleks aku membuka tas lalu menyelipkan beberapa lembar tisu ke tangannya. Ibu Dena, mertuaku langsung menerimanya lalu mengelapkan tisu itu ke wajahnya. Sepertinya Bu Dena ingin mengatakan sesuatu, tetapi karena ada anak-anak dia jadi membatalkannya. Setelah kami bersalaman kami pun pamit, kembali ke mobil lalu pulang. Sesampainya di rumah aku langsung ke kamar untuk menidurkan anak-anakku.
“Dek, bisakah kita bicara sebentar,” Mas Bagas masih saja mengikutiku sampai kamar. Aku tersenyum ke arahnya, menyentuhkan jari telunjukku ke bibirku mengisyaratkan agar dia diam, karena ke dua anakku akan tertidur. Mas Bagas menurut dia keluar kamar tapi bisa ku lihat dia terus saja mengintip di balik pintu. Setelah anak-anak terlelap aku malah ikut terlelap, hatiku lelah, terkadang tertidur bisa jadi obat mujarab untuk sejenak melupakan masalah. Saat aku keluar kamar ternyata Mas Bagas masih menungguku dia tampak gelisah walaupun televisi menyala di depannya. Hatiku terlalu sakit mengingat kejadian di rumah mertuaku, aku melewatinya begitu saja.
“Dek udah bangun? Sebentar Mas pengen ngomong.” Aku tak ingin menjawabnya seperti dia yang tak mau menjawabku saat aku bertanya padanya tentang tawaran poligami.
“Dek, tolong jangan diemin Mas!” Aku masih diam.
“Dek maafin Mas, tolong bicaralah!” Mas Bagas mulai meraih tanganku
“Ga enak ‘kan rasanya didiamkan?” tanyaku.
“Ke mana suara Mas, saat aku tanya maukah mas menikahi wanita itu?”
“Maafin Mas, De,” ucap Mas Bagas.
“Jadi laki-laki itu harus tegas, jangan plin plan! Mas membuatku bingung. Aku terlanjur percaya kalau Mas berada di pihakku, tapi apa yang mas lakukan tadi menunjukkan seolah Mas ada di pihak Ayah.”
“Mas ga akan nikahin Ria De, percaya sama Mas!” kata Mas Bagas.
“Siapa Ria? Apa itu panggilan spesial untuk perempuan itu?” Lagi-lagi Mas Bagas hanya bisa terdiam.
“Beneran De, Mas cuma cinta sama kamu,” ucapnya.
“Aku tak menanyakan soal cinta Mas padaku, kenapa? Mas takut kalau aku tahu bahwa sejujurnya Mas telah berubah pikiran,” tanyaku.
“Engga gitu, De,” jawabnya lagi.
“Jangan mencoba berbohong padaku! Seandainya Mas mengatakan hal ini tadi, di depan semua orang, maka aku akan mempercayainya.”
“Tapi, Mas ga cinta sama dia,” Mas Bagas mencoba meyakinkanku. Aku meletakkan telapak tanganku di dada bidang Mas Bagas.
“Yakinkan hatimu dulu Mas, benarkah Mas tidak pernah mencintainya? Baru setelah itu mas bisa meyakinkan orang lain. Aku permisi.” Tak lupa aku berikan senyuman termanis untuk suamiku, lalu pergi dari hadapannya.
“Ra, bisakah kita ketemu? Aku Riana.” Sebuah pesan dari nomor baru masuk dari ponselku. Kukirimkan alamat rumahku.
“Datanglah ke rumahku bukankah dulu kita teman dekat, ada banyak yang ingin aku bicarakan padamu!” balasku.
“Hallo Ra, kenapa ga di luar aja?” Tiba-tiba saja dia meneleponku.
“Anakku 3, terlalu repot membawanya pergi bersamaku, sedang kita akan membicarakan hal yang tak seharusnya di dengar oleh anak-anakku.”
“Baiklah besok aku datang.”
~~
“Apa yang mau kamu bicarakan Riana?” tanyaku pada Riana.
Sesuai janjinya kemarin, dia datang ke rumahku. Mas Bagas sedang pergi ke kantor, padahal aku berharap bisa bertemu dengan mereka sekaligus.
“Kiran, izinkan aku menikah dengan suamimu!” pintanya.
“Apa yang kamu katakan?” Aku refleks tersenyum ke arahnya.
“Apa kamu ke sini untuk meminta restu?” tanyaku.
“Bukan restu Kiran, aku ingin Mas Bagas jadi milikku seutuhnya!” ucapnya lantang. Aku jadi merinding menyaksikan seorang wanita cantik, berpendidikan dan kaya raya terang-terangan meminta suami temannya.
“Apa alasanmu?” Aku harus mengetahui alasan apa yang membuatnya senekat itu.
“Aku mencintainya Kiran aku yakin dia juga masih mencintaiku. Aku menyesal memilih karier dari pada menikah dengannya sehingga dia memilih perempuan sembarangan untuk menjadi istri.” Apa katanya? Aku perempuan sembarangan? Dia memang orang kaya tapi benar-benar miskin adab.
“Mau ke mana?” tanyanya saat aku berdiri hendak menyuguhkannya minuman. Aku sampai lupa menjamunya, tetapi tujuanku sebenarnya hanya ingin meredam emosiku untuk sesaat. Mendengar penuturannya sungguh membuatku panas.
“Mau bikin minum untukmu? Kenapa, mau ikut juga?” tanyaku. Entah kenapa dari dulu aku merasa dia selalu mengikutiku, bahkan sampai sekarang kami harus jatuh cinta pada pria yang sama. Aku menghargainya, karena kita dulu pernah dekat, tapi dia dengan tidak tau diri berbicara tanpa memikirkan perasaanku. Setelah membuatkannya es sirup aku membawanya ke ruang tamu.
“Bagaimana, kamu bisa ‘kan melepaskan Mas Bagas buat aku?” tanyanya.
“Tidak akan pernah, selamanya dia hanya akan jadi suamiku.” Aku sedikit menekankan suaraku.
“Kenapa, bukankah dari dulu kamu tidak keberatan aku meminta apa pun darimu?” tanya Riana.
“Suamiku bukan barang, pergilah bukankah kamu itu kaya? Apa orang kaya sepertimu masih kekurangan pria?” tanyaku, aku sudah terlanjur emosi.
“Kamu ngusir aku?” tanyanya
“Apa aku harus berbaik hati pada calon perusak rumah tanggaku?” tanyaku pada Riana.
“Oke aku pergi, lihat saja nanti aku akan merebut Mas Bagas dari kamu!” Setelah mengancamku Riana langsung pergi dari rumahku. Dari dulu dia selalu meminta barang milikku. Dia tak segan untuk memintanya dariku. Selain itu dia selalu berusaha menyamaiku bahkan sering kali dia membeli tas, buku dan peralatan sekolah lain yang gambarnya sama dengan punyaku. Aku melihat satu teko sirup yang baru saja kubuat. Dia bahkan tak sedikit pun meminum minuman yang kusuguhkan.
Glek!
“Uma, kenapa minumnya di teko?” tanya Arumi tiba-tiba saja dia sudah berada di belakangku. Aku sampai tersedak, karena terkejut sekaligus bercampur malu karena kelakuan konyolku meminum sirup langsung dari tekonya.
Ya ampun, malunya aku.
“Arumi Sayang, jangan di tiru ya, oke!”
“Memangnya kenapa, Uma? Uma aja minum di teko?”
“Iya, ini Uma haus banget jadi Uma ga tahan langsung minum dari teko, tapi Arumi ga boleh ngikutin Uma. Itu enggak sopan Sayang, apa lagi ngelakuinnya di depan orang,” jelasku.
“Kalau lagi sendiri boleh, Uma?”
“Tidak boleh!” ucapku
“Loh, kok Uma marah,” tanya Arumi.
“Enggak Sayang, Uma enggak marah. Ayo pergi ke dapur aja ya, Uma bikini Arumi sirup, mau?” Aku mengusap kepala anak keduaku dengan lembut
“Iya mau, Uma,” ucap Arumi kegirangan,
Alhamdulillah selamat, untung saja sirup ini menyelamatkanku. Bagaimana bisa aku berbuat sekonyol itu? Setelah membuatkan Arumi sirup tiba-tiba Mas Bagas sudah pulang dari kantornya dia langsung berhambur memelukku di dapur. Untung Arumi sudah pergi dari dapur jadi aku dan Mas Bagas jadi leluasa melakukan apa pun.
“Kenapa ini, dateng-dateng kok meluk?” tanyaku.
“Bolehkah Abang poligami, Dek?” tanyanya. Aku refleks melepaskan pelukannya namun dia semakin erat memelukku.
“Bukankah aku sudah pernah bilang padamu berkali-kali sebelum menikah? Mas berjanji tidak akan mengingat masa lalumu lagi, tapi apa ini Mas?” tanyaku.
“Tidak masalah kalau kamu tidak mau aku tidak akan melakukannya,” kata suamiku.
“Poligami atau tidak kenyataannya hatimu sudah medu, Mas,” ucapku. Perlahan Mas Bagas mulai melonggarkan pelukannya.
“Aku tak pernah mau tahu siapa mantanmu, karena aku tak peduli pada masa lalumu lagi setelah kau berjanji akan melupakannya, tapi hari ini ke mana janji itu?” tanyaku.
“Maafkan Mas Dek, Mas enggak bisa mengabaikan Riana begitu saja,” ucap Mas Bagas.
“Mas yakin itu cinta atau sebenarnya itu hanya godaan setan?” tanyaku.
“Jangan serakah Mas, apa ada jaminan Riana bisa melahirkan anak laki-laki?”
“Atau kalian sebenarnya hanya ingin bersenang-senang mengatasnamakan ikatan poligami yang suci?” tanyaku. Mas Bagas terdiam.
“Pikirkan baik-baik, Mas
Kutinggalkan Mas Bagas sendirian di dapur. Memilih pergi ke kamar tak lupa untuk menguncinya dari dalam. Aku berdiri bersandar di pintu. Rasanya untuk menopang bobot tubuhku pun aku tak sanggup. Aku pergi ke ruang Ibadah, dadaku mendadak sesak. Aku masih punya Tuhan, tak ada salahnya bukan kalau aku meminta pada-Nya untuk tetap menautkan hati suamiku hanya padaku.
Kunyalakan shower, membiarkan air mengguyur membasahi tubuh. Semua kenangan manis bersamanya kembali terlintas. Menolaknya pun sulit aku tak dapat mengendalikan otakku untuk berhenti memutar kenangan indah bersamanya. Saat dia memintaku untuk menjadi istrinya saat dia mengucapkan ijab qabul di depan orang tuaku lalu berjanji untuk sehidup semati bersamaku, kenangan itu, apakah semua itu semu?
“Kiran, buka pintunya sudah 2 jam kamu di dalam, nanti masuk angin! Anak-anak nyariin Umanya,” teriak Mas Bagas dari balik pintu. Benarkah aku sudah menghabiskan 2 jam hanya untuk mandi, tapi rasanya belum cukup untuk memadamkan hatiku yang terbakar api cemburu. Aku segera memakai pakaianku, lalu keluar dari balik pintu tak kuhiraukan Mas Bagas yang menatap khawatir padaku. Jangankan menatapnya untuk bicara pun enggan. Aku kecewa, dia yang selama ini kuperjuangkan dengan mudahnya berpaling pada wanita lain. Setelah selesai makan aku kembali ke kamar menidurkan bungsuku.
“Kiran Maafkan Mas, kalau kamu ga setuju Mas ga akan nikah lagi. Jangan diamkan Mas seperti ini!” Aku tersenyum kecut mendengar penuturannya namun tubuhku masih memunggunginya.
“Pergilah Mas, cari kebahagiaanmu sendiri! Aku ga bakal ngelarang kamu.”
“Jangan begini, Kiran! bukannya dulu kamu janji untuk tetap menemaniku sampai kapan pun kamu bahkan bilang kalau kamu akan mencintaiku selamanya.”
“Kamu bahkan sudah lupa janjiku, Mas,” ucapku.
“Itu janjimu Kiran, aku tidak pernah melupakannya.” Aku membalikkan tubuhku menatapnya dengan tajam.
“Aku akan tetap hidup bersamamu, mencintaimu selamanya tidak peduli dalam keadaan apa pun. Sehat atau sakit, miskin atau kaya, aku kan menemanimu sampai kapan pun. Asalkan kamu tidak pernah BERKHIANAT, sudah ingat sekarang?” tanyaku, aku sengaja menekankan kata berkhianat.
“Aku tidak pernah berkhianat Kiran, aku baru tahu kalau yang dijodohkan Ayah itu Riana.”
“Apa harus sampai melakukan hubungan badan baru kamu sebut berkhianat, Mas?” tanyaku.
“Kiran, jaga bicaramu!” seru suamiku. Aku tersenyum ke arahnya.
“Aku tidak peduli wanita itu punya hubungan apa denganmu di masa lalu. Bagiku dia hanya orang asing yang tidak tahu diri, karena berani meminta ayah dari anak-anakku. Apakah anak-anakku harus ikut berkorban demi kepuasan nafsumu?” tanyaku.
“Apa maksudmu, Kiran?”
“Dia datang ke rumah memintaku untuk meninggalkanmu. Apa kamu pernah berpikir, Mas? Wanita cantik seperti dia akan rela jadi madu, bahkan wanita buruk rupa sepertiku pun tidak akan pernah rela di madu?”
“Jadi dia ke sini?” tanyanya. Aku hanya mengangguk.
“Tidurlah Mas, kalau kamu ingin memastikannya tanyalah pada perempuanmu itu!” Aku kembali memunggunginya. Setelah mandi 2 jam rasa dingin mulai menjalar ke tubuhku. Aku menarik selimut hingga hanya menyisakan bagian kepalaku, tapi dapat kurasakan Mas Bagas memelukku dari belakang. Dia terus saja meminta maaf. Untuk apa kata maaf, kalau pengkhianatanmu masih terus berjalan. Aku merasakan kehangatan di tubuhku karena pelukannya, tapi hatiku dibiarkan membeku. Sebulan berlalu hari-hari kujalani dengan hampa. kami melakukan semuanya seperti biasa tapi ada yang berbeda di sini, di hatiku dan mungkin juga di hati suamiku.
Kami tak seakrab dulu. Aku tak pernah mau tahu kabar Riana. Aku blokir semua kontaknya agar tak bisa terhubung padaku. Pernah suatu hari dia meminta suamiku untuk kedua kalinya. Jelas aku hanya mengabaikannya, tenagaku terlalu berharga hanya untuk melayaninya. Hingga suatu hari kutemukan potongan 2 buah tiket bioskop dalam saku jas suamiku. Bisa kutebak dengan siapa dia pergi.
Keesokan harinya aku menyiapkan baju kerja Mas Bagas di atas kasur. Kuletakkan juga potongan tiket bioskop yang kutemukan kemarin. Sedangkan, aku pergi ke ruang makan memakan sarapanku tanpa menunggu Mas Bagas seperti biasanya. Anak-anak pun kusuruh makan duluan hingga Mas Bagas keluar dari kamar, anak-anak sudah berada di ruangan lain sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Sementara itu, aku membereskan piring sisa makan kami lalu membawanya ke dapur.
“Kiran, tunggu!” Mas Bagas berteriak, bisa kupastikan kegelisahan tak bisa lagi dia sembunyikan dari wajahnya.
“Makanlah sarapanmu Mas, aku sudah siapkan di meja!” Aku meneruskan langkah kakiku ke dapur. Bukannya sarapan Mas Bagas malah mengikuti sampai dapur.
“Kiran Mas bisa jelasin, jadi kemarin itu Mas, Mas nonton, Mas nonton sama ....”
“Riana?” tanyaku, aku tetap fokus mencuci piring-piring kotor. Tak ada jawaban darinya. Aku membalikkan badanku, melepas celemek. Lalu, berjalan pergi melaluinya. Untuk apalagi aku bicara padanya, kalau dia tak lagi mendengarkanku. Aku sudah seperti orang asing baginya. Aku melarangnya menikah, tapi dia malah melakukan hubungan terlarang di belakangku. Aku menaruh setengah sendok kopi ke dalam gelas lalu di tambah 4 sendok gula pasir kutuangkan air panas ke dalamnya kemudian mengaduknya perlahan. 4 sendok gula dalam secangkir kopi tentu saja akan sangat manis, masa bodo dengan rasanya aku butuh sesuatu yang manis untuk hidupku yang pahit. Aku duduk di depan rumah melihat anak-anakku yang berlari ke sana kemari bermain air di selang. Aku yang meminta Meisya menyiram tanaman. Namun, adik-adiknya malah menyiram Meisya dengan selang air. Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah anak-anakku padahal biasanya aku akan berteriak menghentikan aktivitas mereka. Biarkan saja untuk sehari anak-anakku menikmatinya.
“Kiran,” tiba-tiba saja Mas Bagas sudah berdiri di sampingku, entah sejak kapan dia di situ.
“Sejak kapan kamu suka kopi,” tanyanya.
“Apa itu penting?” tanyaku balik.
“Akhir-akhir ini aku kurang memperhatikanmu,” katanya.
“Mas terlalu sibuk dengan mainan baru,” jawabku.
“Kiran ....”
“Aku melarangmu menikah. Apa itu artinya kamu boleh berpacaran di belakangku?” tanyaku tapi masih enggan menatap wajahnya.
“Maaf Kiran, aku khilaf.” Aku tertawa mendengar penuturan Mas Bagas, khilaf katanya.
“Hahhaha, Apa khilaf itu akan terus berjalan selama aku tidak mengetahui perselingkuhan kalian?” tanyaku.
“Kalian sudah berhubungan badan?” tanyaku.
“Tidak Kiran, tidak pernah,” jawabnya dengan nada sedikit memelas.
“Lakukanlah hubungan badan! Setelah itu kita berpisah secara baik-baik, bukankah menurut Mas selama belum melakukan hubungan badan yang kalian lakukan selama ini bukan pengkhianatan?”
“Lakukanlah Mas, lakukan sekarang juga! Aku tidak peduli.”