“Kiran, Mas mau ngomong serius.” Mas Bagas tiba-tiba mendekatiku lalu berbisik pelan, mungkin khawatir anak-anakku akan terbangun mendengar suaranya. Dia menarik lengan, lantas menuntunku keluar kamar supaya kami lebih leluasa untuk bicara.
“Kiran kamu tahu ‘kan, selama ini orang tua Mas nuntut Mas buat punya anak laki-laki terus?” Digenggamnya tanganku dengan erat.
“Terus?” tanyaku singkat.
“Ayah nyuruh Mas nikah lagi.” Seketika senyum terukir di bibirku, lalu perlahan kulepaskan genggaman tangan Mas bagas.
“Sudah kuduga ini bakal terjadi Mas.” Mas Bagas kembali memegang tanganku kini dia memelukku dengan erat. Apakah melahirkan anak perempuan sebuah kesalahan aku bukan wanita yang kurang subur? Aku bahkan sudah memberinya 3 cucu perempuan.
“Bolehkah aku menolaknya?” Aku ingin tahu apakah Mas Bagas berpihak padaku.
“Mas udah nolak berkali-kali, tapi Ayah tetap ngotot.”
“Sebenarnya apa mau mereka, Mas? Apa bener cuma karena cucu laki-laki atau ada yang lain?”
“Maksud Adek?” Dia melonggarkan pelukannya padaku menatapku dengan penuh tanya.
“Bolehkah Adek menyerah?”
“Engga ada yang boleh nyerah De, baik Mas atau Ade sekalipun.” Mas Bagas mengatakannya dengan mantap.
“Apa sesulit ini ketika orang miskin sepertiku nekat menikah dengan konglomerat sepertimu, Mas?” Entah kenapa orang tua suamiku selalu saja menuntut banyak hal padaku.
“Tidak cukupkah ijazah S1 milikku? Aku bahkan rela kuliah demi bisa mempertahankan rumah tangga kita.” Seketika aku tersenyum hanya dengan mengingatnya. Aku menghabiskan waktu 4 tahun di universitas, hanya untuk memuaskan mertuaku. Mereka bilang aku tak cukup berpendidikan untuk bersanding dengan putranya.
“Kita diundang ke rumah Ayah besok pagi, katanya dia sudah menyiapkan calon istri untuk Mas.” Calon istri katanya bahkan aku belum menyetujuinya.
“Mas seneng ‘kan bakal punya istri 2? Mana ada laki-laki yang nolak di suruh nikah lagi,” sindirku padanya.
“Adek ini ngomong apa? Mas masih di sini ga akan ada orang lain di antara kita. Kita hadapi besok berdua ya.” Dia menangkupkan kedua tangannya di wajahku.
“Sekalipun wanita itu lebih muda dan cantik dariku?”
“Tidak ada yang lebih cantik dari Karina Widyawati istri mas tercinta.” Dia tersenyum ke arahku, membuat amarah padam seketika. Beginilah kelemahan wanita hanya dengan satu kalimat mampu mengubah amarah menjadi rona kemerahan di wajahnya, aku tersipu malu Mas Bagas berhasil menggodaku. Malam semakin larut bukan waktu yang baik untuk berdiskusi kami pun kembali ke kamar, sudah waktunya tubuh ini diistirahatkan. Sayangnya setelah sampai kamar mataku enggan terpejam. Ini malam yang panjang bagiku, mendengar suamiku akan menikah lagi. Jangankan untuk terpejam sekedar menenangkan hati sejenak pun aku kepayahan, gelisah melanda sanubariku.
“Dek, kamu ga tidur?”
“Astaghfirrullah Mas, ih ngagetin aja.” Suaranya benar-benar mengagetkanku.
“Tidurlah Dek, besok kita butuh tenaga ekstra. Jangan khawatir sayang Mas akan selalu ada buat kamu.” Aku tersenyum ke arah Mas Bagas. Sungguh aku ingin selalu mendengar kalimat itu terus terucap dari mulut suamiku sampai akhir hayat.
“Benarkah?”
“Hm.” Mas bagas hanya berdehem, sambil merentangkan tangannya memberi kode agar aku mau mendekat ke sisinya. Tak menunggu lama, entah karena fisiikku yang memang sudah waktunya diistirahatkan atau karena hatiku yang jauh lebih tenang. Aku pun menyusul Mas Bagas ke alam mimpi dalam dekapannya. Keesokan harinya sesuai janji, kami berkujung ke kediaman mertuaku. Tampak sebuah mobil mewah terparkir di halaman rumah, mungkinkah itu milik calon maduku? Karena sebelumnya aku tak pernah melihat mobil seperti itu terparkir di garasi mobil mertuaku.
“Kenalin Bagas ini Riana, calon istri kamu,”
“Riana?” Bukankah itu teman sebangkuku waktu sekolah dasar dulu.
“Maaf siapa?”
“Aku Karin, Karina Widyawati. Teman sebangkumu waktu sekolah dasar.” Aku mencoba menjelaskan seingatku mungkin tak lupa kusuguhkan dengan senyum ramahku.
“Ga nyangka ya, kita bakal ketemu dengan cara kayak gini.” Kata Riana.
“Bagus dong kalau kalian saling kenal ini akan lebih baik ke depannya,” ucap Ayah mertuaku. Sementara Ibu mertuaku sedari tadi hanya diam menunduk, entah apa yang ada dalam pikirannya, tampak gurat kesedihan tersirat di wajahnya.
Belakangan ini aku memang sempat merindukan Riana. Ingin sekali rasanya aku bertemu dengannya kembali karena setelah lulus sekolah dasar kami tak pernah lagi berjumpa yang aku tahu dia ikut pindah bersama orang tuanya. Tak kusangka do’aku diijabah Tuhan dengan sangat cepat, tetapi bukan pertemuan seperti ini yang aku harapkan. Sekilas aku melirik Mas Bagas, dia tampak terpukau dengan penampilan Riana. Balutan dress bodycon selutut sangat pas di padupadankan dengan hak tinggi yang berwarna senada serta rambutnya yang hitam kecoklatan dibiarkannya terurai begitu saja. Laki-laki mana yang tahan kalau di hadapkan pada wanita seperti itu, melihat suamiku terpesona dengan penampilan Riana, hatiku bagai ditusuk belati, sakit sekali.
Astaghfirrullahaladzim.
“Mas,” Kutepuk lutut suamiku yang masih saja ternganga memandang Riana.
“Eh iya Dek, kenapa?” Aku tersenyum ke arahnya.
“Dia cantikkan?” bisikku ke telingan Mas Bagas.
“Hm iya eh tapi lebih cantik kamu, De,” ucap Mas Bagas gelagapan dia memang bukan tipe laki-laki yang pandai berbohong.
“Maaf semuanya saya permisi dulu mau ke toilet.” Tak lupa kuberikan senyum termanisku pada mereka, setelah itu aku berjalan menuju kamar kecil. Terlalu menyesakkan berada dalam situasi seperti ini.
Aku tak pernah menentang poligami tetapi haruskah itu terjadi pada rumah tanggaku. Aku belum siap Tuhan sekalipun Engkau janjikan tiket surga padaku bolehkah aku menolaknya? Aku takut dengan ilmuku yang tak seberapa ini menjadikanku berbuat zolim yang justru malah menyeretku ke neraka-Mu. Menyaksikan lelakiku berada dalam satu ruangan dengan wanita lain lalu berbagi tempat tidur dengannya, akankah aku sanggup? Sementara di ruangan lain aku akan melewati malam-malam panjang dengan rintihan penuh kesakitan.
Senyum itu sedekah dan sedekah mrupakan ibadah. Aku ingin terus beribadah sepanjang waktu. Tak peduli kalau hatiku sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya dengan tersenyum mampu menjadi obat pelipur lara, walau hanya sekejap.
Aku berjalan keluar rumah lewat pintu belakang, untuk apa juga aku ke kamar mandi aku tak punya hasrat untuk buang air. Kebetulan rumah mertuaku punya akses pintu samping, yang bisa terhubung langsung keluar, masa bodo Mas Bagas akan melihatku karena posisi duduknya tepat menghadap ke arah jendela yang akan aku lewati. Aku pergi menuju halaman depan di sana ada ke tiga putriku yang sedang bermain. Aku pecundang bukan? Pecundang yang hanya bisa lari dari masalah. Kupeluk Rinjani putriku yang ketiga usianya masih 2 tahun dia mungkin keheranan melihatku tiba-tiba memeluknya di saat dia tengah bermain kejar-kejaran dengan saudaranya yang lain.
“Uma kenapa?” tanya Meisya anak pertamaku usianya masih 9 tahun.
“Cup cup Uma, jangan nangis! Aka sama Arumi juga sayang sama Mamah,” ucap Arumi putri ke duaku usianya 4 tahun. Kedua anakku terbiasa memanggil kakanya dengan kata Aka. Ya Tuhan, apa aku menangis? Tidak, aku tidak boleh lemah seperti ini. Kuusap air mataku dengan ujung khimar yang kukenakan.
“Uma ga nangis kok Sayang, sini-sini peluk Uma!” Ketiga anakku pun berhamburan memelukku.
“Tapi mata Uma merah, jangan boong Ma dosa, nanti Allah marah,” kata Arumi
“Siapa yang bilang kalau Allah marah?” Entah tahu dari mana dia kalimat seperti itu.
“Kan Uma yang bilang, ya kan Aka, kalau boong nanti Allah marah?” Arumi malah memastikannya pada kakanya Meisya. Ternyata akulah yang mengajarinya kalimat itu, aku sampai lupa pada ucapanku sendiri.
“Sayang kenapa di sini, ga baik loh ninggalin gitu aja yang lain belum pada bubar, yuk ke sana lagi,” tiba-tiba Mas Bagas mengahampiri kami.
“Buat apa?” tanyaku singkat.
“Ya masih ada yang harus di bicarain, De.”
“Abang terpesona ‘kan sama perempuan itu?” tanyaku.
Mas Bagas tak menjawab pertanyaanku.
“Dia cantikkan?” Lagi-lagi dia hanya diam. Aku menurunkan Rinjani dari gendonganku, lalu menyuruh anak-anakku agar bermain agak jauh dari tempat kami berbicara. Aku hanya tidak ingin mereka mendengar obrolan orang dewasa seperti kami.
“Kenapa diem aja? Berubah pikirankah?”
“Dek maafin Mas ya,”
“Hanya karna dia cantik Mas berubah pikiran?” tanyaku.
“Tunggu dulu Dek, mas belum selesai bicara. Ayo, kita selesaikan di dalam!” Mas Bagas menarik tanganku, mau tak mau aku mengikuti langkah kakinya menuju ke dalam ruangan yang menyesakkan itu lagi.
“Abis dari mana kok malah barengan tadi bukannya ke toilet,” Aku tersenyum mendengar penuturan ayah mertuaku.
“Apakah kehadiranku penting Ayah? bahkan Ayah tak pernah meminta pendapat dariku.” Seketika ibu mendongakkan kepalanya menatap wajahku seolah terkejut dengan apa yang aku ucapkan.
“Laki-laki itu tidak perlu ijin istri untuk menikah lagi,” katanya. Mendengar ucapan Ayah bisa kulihat Ibu malah tertunduk lagi, ada apa sebenarnya? kenapa dia hanya diam tanpa suara?
“Dari sekian banyak sunah nabi kenapa harus poligami, Riana biar kutanya langsung padamu, bersediakah kamu jadi istri kedua suamiku?”
“Hmm, aku, tolong kasih aku waktu, aku engga bisa ngasih keputusan sekarang,” jawab Riana.
“Kenapa nak Riana bukannya kamu dan Bagas sudah saling kenal, bukankah kalian sudah dekat sejak kuliah?” tanya Ayah mertua. Hah? Apa ini jadi mereka pernah dekat? Kenapa hidup serumit ini. Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum menyaksikan permainan takdirku.
“Kenapa Dek, kenapa kamu malah senyum?” Mas bagas menatap heran ke arahku, raut mukanya tampak gelisah mungkin dia takut aku akan meledak.
“Kenapa dunia ini begitu sempit, Mas? kamu sendiri bagaimana? maukah menikahi mantan teman sebangkuku?” Aku harus memastikan ini sendiri disaksikan kedua orang tuanya. Dia lagi-lagi tak menjawab.
“Tentu saja suamimu tidak akan menolak menikah dengan wanita cantik seperti Riana, toh mereka juga sudah saling mengenal,” sambar ayah mertuaku.
“Kalau tolak ukur menikahi wanita hanya dilihat dari kecantikannya, apakah setelah menikah ada jaminan dia akan memiliki anak laki-laki, kalau tidak bukankah semuanya sia-sia?”
Saat kata-kata tak lagi didengar saat hati tak lagi saling peduli, maka masih ada Tuhan sang pemilik hati yang dengan mudah membulak balikkan hati manusia.
~
“Jangan lancang kamu, kalau anakku tidak berbaik hati menikahimu, selamanya kamu hanya akan tinggal di rumah kecil yang sempit di desa.”
“Ayah, cukup! Dia istriku jangan pernah mengatakan hal buruk apa pun tentang dia!”
“Berani kamu sama Ayah.” Ayah mertuaku mulai terpancing.
“Maaf Ayah aku permisi, Ayo Dek kita pulang,” Mas Bagas lagi-lagi menarik tanganku kali ini sedikit lebih kasar, aku hanya bisa mengikutinya dari belakang. Bahkan kami belum sempat bersalaman dengan mertuaku, Mas Bagas sudah lebih dulu menarikku keluar rumah. Kugiring anak-anakku masuk ke mobil. Anak-anak tampak bingung karena biasanya mereka tidak akan pulang sebelum menyalami kakek dan neneknya.
“Uma kenapa ga salaman dulu?” tanya Meisya.
“Iya nih Uma, aku mau salaman sama nenek ah, yu balik lagi!” Tambah Arumi.
“Waduh bagaimana dong Sayang, Uma buru-buru nih. Papah nyuruh kita harus cepet-cepet pulang,” ucapku pada anak-anak.
“Ya udah deh,” ucap Arumi. Anak-anak tampak kecewa karena mereka hanya mampir sebentar, hanya Meisya yang terlihat biasa saja, mungkin karena usianya sudah bukan balita lagi, dia tak terlalu menjadikan hal ini sebuah masalah. Saat kami sudah mau keluar gerbang tiba-tiba Rinjani berteriak.
“Uma, stop!”
“Astaghfirrullah, kenapa De?” Mas Bagas mendadak menginjakkan pedal Rem membuat kami yang berada di dalam mobil jadi ikut terkejut.
“Itu nenek lari, Uma,” kata Rinjani. Aku refleks menengok ke belakang, tanpa basa basi aku segera keluar dari mobil lalu berlari mendekat ke Ibu mertuaku.
“Kenapa, Bu?” Dia tiba-tiba saja memelukku, sambil sedikit terisak. Aku tak mengerti ada apa sebenarnya.
“Yang kuat ya Nak, kalaupun kamu ga kuat tinggalkan saja Bagas jangan memaksakan hatimu. Hidupmu terlalu berharga, Nak,” ucap Ibu.
“Nenek,” anak-anakku berhamburan memeluk neneknya seketika dia memalingkan wajahnya ke belakang. Refleks aku membuka tas lalu menyelipkan beberapa lembar tisu ke tangannya. Ibu Dena, mertuaku langsung menerimanya lalu mengelapkan tisu itu ke wajahnya. Sepertinya Bu Dena ingin mengatakan sesuatu, tetapi karena ada anak-anak dia jadi membatalkannya. Setelah kami bersalaman kami pun pamit, kembali ke mobil lalu pulang. Sesampainya di rumah aku langsung ke kamar untuk menidurkan anak-anakku.
“Dek, bisakah kita bicara sebentar,” Mas Bagas masih saja mengikutiku sampai kamar. Aku tersenyum ke arahnya, menyentuhkan jari telunjukku ke bibirku mengisyaratkan agar dia diam, karena ke dua anakku akan tertidur. Mas Bagas menurut dia keluar kamar tapi bisa ku lihat dia terus saja mengintip di balik pintu. Setelah anak-anak terlelap aku malah ikut terlelap, hatiku lelah, terkadang tertidur bisa jadi obat mujarab untuk sejenak melupakan masalah. Saat aku keluar kamar ternyata Mas Bagas masih menungguku dia tampak gelisah walaupun televisi menyala di depannya. Hatiku terlalu sakit mengingat kejadian di rumah mertuaku, aku melewatinya begitu saja.
“Dek udah bangun? Sebentar Mas pengen ngomong.” Aku tak ingin menjawabnya seperti dia yang tak mau menjawabku saat aku bertanya padanya tentang tawaran poligami.
“Dek, tolong jangan diemin Mas!” Aku masih diam.
“Dek maafin Mas, tolong bicaralah!” Mas Bagas mulai meraih tanganku
“Ga enak ‘kan rasanya didiamkan?” tanyaku.
“Ke mana suara Mas, saat aku tanya maukah mas menikahi wanita itu?”
“Maafin Mas, De,” ucap Mas Bagas.
“Jadi laki-laki itu harus tegas, jangan plin plan! Mas membuatku bingung. Aku terlanjur percaya kalau Mas berada di pihakku, tapi apa yang mas lakukan tadi menunjukkan seolah Mas ada di pihak Ayah.”
“Mas ga akan nikahin Ria De, percaya sama Mas!” kata Mas Bagas.
“Siapa Ria? Apa itu panggilan spesial untuk perempuan itu?” Lagi-lagi Mas Bagas hanya bisa terdiam.
“Beneran De, Mas cuma cinta sama kamu,” ucapnya.
“Aku tak menanyakan soal cinta Mas padaku, kenapa? Mas takut kalau aku tahu bahwa sejujurnya Mas telah berubah pikiran,” tanyaku.
“Engga gitu, De,” jawabnya lagi.
“Jangan mencoba berbohong padaku! Seandainya Mas mengatakan hal ini tadi, di depan semua orang, maka aku akan mempercayainya.”
“Tapi, Mas ga cinta sama dia,” Mas Bagas mencoba meyakinkanku. Aku meletakkan telapak tanganku di dada bidang Mas Bagas.
“Yakinkan hatimu dulu Mas, benarkah Mas tidak pernah mencintainya? Baru setelah itu mas bisa meyakinkan orang lain. Aku permisi.” Tak lupa aku berikan senyuman termanis untuk suamiku, lalu pergi dari hadapannya.
“Ra, bisakah kita ketemu? Aku Riana.” Sebuah pesan dari nomor baru masuk dari ponselku. Kukirimkan alamat rumahku.
“Datanglah ke rumahku bukankah dulu kita teman dekat, ada banyak yang ingin aku bicarakan padamu!” balasku.
“Hallo Ra, kenapa ga di luar aja?” Tiba-tiba saja dia meneleponku.
“Anakku 3, terlalu repot membawanya pergi bersamaku, sedang kita akan membicarakan hal yang tak seharusnya di dengar oleh anak-anakku.”
“Baiklah besok aku datang.”
~~
“Apa yang mau kamu bicarakan Riana?” tanyaku pada Riana.
Sesuai janjinya kemarin, dia datang ke rumahku. Mas Bagas sedang pergi ke kantor, padahal aku berharap bisa bertemu dengan mereka sekaligus.
“Kiran, izinkan aku menikah dengan suamimu!” pintanya.
“Apa yang kamu katakan?” Aku refleks tersenyum ke arahnya.
“Apa kamu ke sini untuk meminta restu?” tanyaku.
“Bukan restu Kiran, aku ingin Mas Bagas jadi milikku seutuhnya!” ucapnya lantang. Aku jadi merinding menyaksikan seorang wanita cantik, berpendidikan dan kaya raya terang-terangan meminta suami temannya.
“Apa alasanmu?” Aku harus mengetahui alasan apa yang membuatnya senekat itu.
“Aku mencintainya Kiran aku yakin dia juga masih mencintaiku. Aku menyesal memilih karier dari pada menikah dengannya sehingga dia memilih perempuan sembarangan untuk menjadi istri.” Apa katanya? Aku perempuan sembarangan? Dia memang orang kaya tapi benar-benar miskin adab.
“Mau ke mana?” tanyanya saat aku berdiri hendak menyuguhkannya minuman. Aku sampai lupa menjamunya, tetapi tujuanku sebenarnya hanya ingin meredam emosiku untuk sesaat. Mendengar penuturannya sungguh membuatku panas.
“Mau bikin minum untukmu? Kenapa, mau ikut juga?” tanyaku. Entah kenapa dari dulu aku merasa dia selalu mengikutiku, bahkan sampai sekarang kami harus jatuh cinta pada pria yang sama. Aku menghargainya, karena kita dulu pernah dekat, tapi dia dengan tidak tau diri berbicara tanpa memikirkan perasaanku. Setelah membuatkannya es sirup aku membawanya ke ruang tamu.
“Bagaimana, kamu bisa ‘kan melepaskan Mas Bagas buat aku?” tanyanya.
“Tidak akan pernah, selamanya dia hanya akan jadi suamiku.” Aku sedikit menekankan suaraku.
“Kenapa, bukankah dari dulu kamu tidak keberatan aku meminta apa pun darimu?” tanya Riana.
“Suamiku bukan barang, pergilah bukankah kamu itu kaya? Apa orang kaya sepertimu masih kekurangan pria?” tanyaku, aku sudah terlanjur emosi.
“Kamu ngusir aku?” tanyanya
“Apa aku harus berbaik hati pada calon perusak rumah tanggaku?” tanyaku pada Riana.
“Oke aku pergi, lihat saja nanti aku akan merebut Mas Bagas dari kamu!” Setelah mengancamku Riana langsung pergi dari rumahku. Dari dulu dia selalu meminta barang milikku. Dia tak segan untuk memintanya dariku. Selain itu dia selalu berusaha menyamaiku bahkan sering kali dia membeli tas, buku dan peralatan sekolah lain yang gambarnya sama dengan punyaku. Aku melihat satu teko sirup yang baru saja kubuat. Dia bahkan tak sedikit pun meminum minuman yang kusuguhkan.
Glek!
“Uma, kenapa minumnya di teko?” tanya Arumi tiba-tiba saja dia sudah berada di belakangku. Aku sampai tersedak, karena terkejut sekaligus bercampur malu karena kelakuan konyolku meminum sirup langsung dari tekonya.
Ya ampun, malunya aku.
“Arumi Sayang, jangan di tiru ya, oke!”
“Memangnya kenapa, Uma? Uma aja minum di teko?”
“Iya, ini Uma haus banget jadi Uma ga tahan langsung minum dari teko, tapi Arumi ga boleh ngikutin Uma. Itu enggak sopan Sayang, apa lagi ngelakuinnya di depan orang,” jelasku.
“Kalau lagi sendiri boleh, Uma?”
“Tidak boleh!” ucapku
“Loh, kok Uma marah,” tanya Arumi.
“Enggak Sayang, Uma enggak marah. Ayo pergi ke dapur aja ya, Uma bikini Arumi sirup, mau?” Aku mengusap kepala anak keduaku dengan lembut
“Iya mau, Uma,” ucap Arumi kegirangan,
Alhamdulillah selamat, untung saja sirup ini menyelamatkanku. Bagaimana bisa aku berbuat sekonyol itu? Setelah membuatkan Arumi sirup tiba-tiba Mas Bagas sudah pulang dari kantornya dia langsung berhambur memelukku di dapur. Untung Arumi sudah pergi dari dapur jadi aku dan Mas Bagas jadi leluasa melakukan apa pun.
“Kenapa ini, dateng-dateng kok meluk?” tanyaku.
“Bolehkah Abang poligami, Dek?” tanyanya. Aku refleks melepaskan pelukannya namun dia semakin erat memelukku.
“Bukankah aku sudah pernah bilang padamu berkali-kali sebelum menikah? Mas berjanji tidak akan mengingat masa lalumu lagi, tapi apa ini Mas?” tanyaku.
“Tidak masalah kalau kamu tidak mau aku tidak akan melakukannya,” kata suamiku.
“Poligami atau tidak kenyataannya hatimu sudah medu, Mas,” ucapku. Perlahan Mas Bagas mulai melonggarkan pelukannya.
“Aku tak pernah mau tahu siapa mantanmu, karena aku tak peduli pada masa lalumu lagi setelah kau berjanji akan melupakannya, tapi hari ini ke mana janji itu?” tanyaku.
“Maafkan Mas Dek, Mas enggak bisa mengabaikan Riana begitu saja,” ucap Mas Bagas.
“Mas yakin itu cinta atau sebenarnya itu hanya godaan setan?” tanyaku.
“Jangan serakah Mas, apa ada jaminan Riana bisa melahirkan anak laki-laki?”
“Atau kalian sebenarnya hanya ingin bersenang-senang mengatasnamakan ikatan poligami yang suci?” tanyaku. Mas Bagas terdiam.
“Pikirkan baik-baik, Mas
Kutinggalkan Mas Bagas sendirian di dapur. Memilih pergi ke kamar tak lupa untuk menguncinya dari dalam. Aku berdiri bersandar di pintu. Rasanya untuk menopang bobot tubuhku pun aku tak sanggup. Aku pergi ke ruang Ibadah, dadaku mendadak sesak. Aku masih punya Tuhan, tak ada salahnya bukan kalau aku meminta pada-Nya untuk tetap menautkan hati suamiku hanya padaku.
Kunyalakan shower, membiarkan air mengguyur membasahi tubuh. Semua kenangan manis bersamanya kembali terlintas. Menolaknya pun sulit aku tak dapat mengendalikan otakku untuk berhenti memutar kenangan indah bersamanya. Saat dia memintaku untuk menjadi istrinya saat dia mengucapkan ijab qabul di depan orang tuaku lalu berjanji untuk sehidup semati bersamaku, kenangan itu, apakah semua itu semu?
“Kiran, buka pintunya sudah 2 jam kamu di dalam, nanti masuk angin! Anak-anak nyariin Umanya,” teriak Mas Bagas dari balik pintu. Benarkah aku sudah menghabiskan 2 jam hanya untuk mandi, tapi rasanya belum cukup untuk memadamkan hatiku yang terbakar api cemburu. Aku segera memakai pakaianku, lalu keluar dari balik pintu tak kuhiraukan Mas Bagas yang menatap khawatir padaku. Jangankan menatapnya untuk bicara pun enggan. Aku kecewa, dia yang selama ini kuperjuangkan dengan mudahnya berpaling pada wanita lain. Setelah selesai makan aku kembali ke kamar menidurkan bungsuku.
“Kiran Maafkan Mas, kalau kamu ga setuju Mas ga akan nikah lagi. Jangan diamkan Mas seperti ini!” Aku tersenyum kecut mendengar penuturannya namun tubuhku masih memunggunginya.
“Pergilah Mas, cari kebahagiaanmu sendiri! Aku ga bakal ngelarang kamu.”
“Jangan begini, Kiran! bukannya dulu kamu janji untuk tetap menemaniku sampai kapan pun kamu bahkan bilang kalau kamu akan mencintaiku selamanya.”
“Kamu bahkan sudah lupa janjiku, Mas,” ucapku.
“Itu janjimu Kiran, aku tidak pernah melupakannya.” Aku membalikkan tubuhku menatapnya dengan tajam.
“Aku akan tetap hidup bersamamu, mencintaimu selamanya tidak peduli dalam keadaan apa pun. Sehat atau sakit, miskin atau kaya, aku kan menemanimu sampai kapan pun. Asalkan kamu tidak pernah BERKHIANAT, sudah ingat sekarang?” tanyaku, aku sengaja menekankan kata berkhianat.
“Aku tidak pernah berkhianat Kiran, aku baru tahu kalau yang dijodohkan Ayah itu Riana.”
“Apa harus sampai melakukan hubungan badan baru kamu sebut berkhianat, Mas?” tanyaku.
“Kiran, jaga bicaramu!” seru suamiku. Aku tersenyum ke arahnya.
“Aku tidak peduli wanita itu punya hubungan apa denganmu di masa lalu. Bagiku dia hanya orang asing yang tidak tahu diri, karena berani meminta ayah dari anak-anakku. Apakah anak-anakku harus ikut berkorban demi kepuasan nafsumu?” tanyaku.
“Apa maksudmu, Kiran?”
“Dia datang ke rumah memintaku untuk meninggalkanmu. Apa kamu pernah berpikir, Mas? Wanita cantik seperti dia akan rela jadi madu, bahkan wanita buruk rupa sepertiku pun tidak akan pernah rela di madu?”
“Jadi dia ke sini?” tanyanya. Aku hanya mengangguk.
“Tidurlah Mas, kalau kamu ingin memastikannya tanyalah pada perempuanmu itu!” Aku kembali memunggunginya. Setelah mandi 2 jam rasa dingin mulai menjalar ke tubuhku. Aku menarik selimut hingga hanya menyisakan bagian kepalaku, tapi dapat kurasakan Mas Bagas memelukku dari belakang. Dia terus saja meminta maaf. Untuk apa kata maaf, kalau pengkhianatanmu masih terus berjalan. Aku merasakan kehangatan di tubuhku karena pelukannya, tapi hatiku dibiarkan membeku. Sebulan berlalu hari-hari kujalani dengan hampa. kami melakukan semuanya seperti biasa tapi ada yang berbeda di sini, di hatiku dan mungkin juga di hati suamiku.
Kami tak seakrab dulu. Aku tak pernah mau tahu kabar Riana. Aku blokir semua kontaknya agar tak bisa terhubung padaku. Pernah suatu hari dia meminta suamiku untuk kedua kalinya. Jelas aku hanya mengabaikannya, tenagaku terlalu berharga hanya untuk melayaninya. Hingga suatu hari kutemukan potongan 2 buah tiket bioskop dalam saku jas suamiku. Bisa kutebak dengan siapa dia pergi.
Keesokan harinya aku menyiapkan baju kerja Mas Bagas di atas kasur. Kuletakkan juga potongan tiket bioskop yang kutemukan kemarin. Sedangkan, aku pergi ke ruang makan memakan sarapanku tanpa menunggu Mas Bagas seperti biasanya. Anak-anak pun kusuruh makan duluan hingga Mas Bagas keluar dari kamar, anak-anak sudah berada di ruangan lain sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Sementara itu, aku membereskan piring sisa makan kami lalu membawanya ke dapur.
“Kiran, tunggu!” Mas Bagas berteriak, bisa kupastikan kegelisahan tak bisa lagi dia sembunyikan dari wajahnya.
“Makanlah sarapanmu Mas, aku sudah siapkan di meja!” Aku meneruskan langkah kakiku ke dapur. Bukannya sarapan Mas Bagas malah mengikuti sampai dapur.
“Kiran Mas bisa jelasin, jadi kemarin itu Mas, Mas nonton, Mas nonton sama ....”
“Riana?” tanyaku, aku tetap fokus mencuci piring-piring kotor. Tak ada jawaban darinya. Aku membalikkan badanku, melepas celemek. Lalu, berjalan pergi melaluinya. Untuk apalagi aku bicara padanya, kalau dia tak lagi mendengarkanku. Aku sudah seperti orang asing baginya. Aku melarangnya menikah, tapi dia malah melakukan hubungan terlarang di belakangku. Aku menaruh setengah sendok kopi ke dalam gelas lalu di tambah 4 sendok gula pasir kutuangkan air panas ke dalamnya kemudian mengaduknya perlahan. 4 sendok gula dalam secangkir kopi tentu saja akan sangat manis, masa bodo dengan rasanya aku butuh sesuatu yang manis untuk hidupku yang pahit. Aku duduk di depan rumah melihat anak-anakku yang berlari ke sana kemari bermain air di selang. Aku yang meminta Meisya menyiram tanaman. Namun, adik-adiknya malah menyiram Meisya dengan selang air. Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah anak-anakku padahal biasanya aku akan berteriak menghentikan aktivitas mereka. Biarkan saja untuk sehari anak-anakku menikmatinya.
“Kiran,” tiba-tiba saja Mas Bagas sudah berdiri di sampingku, entah sejak kapan dia di situ.
“Sejak kapan kamu suka kopi,” tanyanya.
“Apa itu penting?” tanyaku balik.
“Akhir-akhir ini aku kurang memperhatikanmu,” katanya.
“Mas terlalu sibuk dengan mainan baru,” jawabku.
“Kiran ....”
“Aku melarangmu menikah. Apa itu artinya kamu boleh berpacaran di belakangku?” tanyaku tapi masih enggan menatap wajahnya.
“Maaf Kiran, aku khilaf.” Aku tertawa mendengar penuturan Mas Bagas, khilaf katanya.
“Hahhaha, Apa khilaf itu akan terus berjalan selama aku tidak mengetahui perselingkuhan kalian?” tanyaku.
“Kalian sudah berhubungan badan?” tanyaku.
“Tidak Kiran, tidak pernah,” jawabnya dengan nada sedikit memelas.
“Lakukanlah hubungan badan! Setelah itu kita berpisah secara baik-baik, bukankah menurut Mas selama belum melakukan hubungan badan yang kalian lakukan selama ini bukan pengkhianatan?”
“Lakukanlah Mas, lakukan sekarang juga! Aku tidak peduli.”