Bab 2

Liany memandangi takjub kediaman Myla yang sangat luas dan bagus, Myla membawakan tas Liany dan menyerahkannya kepada seorang asisten rumah tangga mereka.

“Tolong siapkan kamar untuk kakak sepupu saya yaa, Bi. Ayo, Lia duduk dulu di sini, kamu pasti lelah. Aku gak nyangka aka nada orang sekejam ibu mertua dan adik iparmu itu!” seru Myla dengan geramnya.

“Tidak apa, Myla, ini sudah takdirku, aku tidak peduli dengan sikap mereka, aku hanya kasihan pada anak yang kukandung ini, dia belum sempat mengenal ayahnya,” ujar Liany dengan lirih. Jemarinya dengan halus mengelus perutnya yang membuncit.

“Sudah lah , jangan bersedih lagi, di sini kau akan baik-baik saja, jangan khawatir tentang apapun, segala kebutuhanmu akan dipenuhi di rumah ini, mama dan papa pastinya tidak akan keberatan.”

“Non Myla, kamar kakak sepupunya sudah siap.” Bi Inah salah satu asisten rumah tangga mereka menghampiri Myla sambil menunjuk kamar depan dengan ibu jarinya.

“Terima kasih yaa, Bi Inah, oh iya kenalkan, ini Liany kakak sepupu saya, Lia, ini Bi Inah, beliau sudah lama bekerja di sini.”

Bi Inah menyalami Liany sambil tersenyum ramah dan dibalas juga dengan senyum lebar Liany.

“Kamu pasti capek seharian belum istirahat, ayo masuk ke kamar istirahat sekarang,” pinta Myla sambil membimbing Liany. Tak dapat dipungkiri jika Liany memang sangat kelelahan karena perjalanannya siang tadi. Myla meninggalkan Liany di kamar yang luas dan sangat nyaman itu, jauh berbeda dengan kamar yang ditempatinya ketika di rumah ibu Witri.

Liany merebahkan dirinya di kasur pegas yang empuk, pendingin udara di setel pas, tidak terlalu dingin tetapi bisa membuat gerahnya pergi. Ada satu set meja rias dan kamar mandi yang luas, bersih dan harus.

Liany menghela napas, entah sampai kapan dia akan berada di rumah ini, sementara uang duka yang diterima dari ibu RT tidaklah seberapa. Kembali gerakan halus dirasakan Liany di balik dinding perutnya.

“Kamu harus kuat yaa, sayang, meski kita sudah tidak punya ayah lagi, Ibu akan tetap berusaha memberi yang terbaik buatmu, Nak.” Liany berusaha menghibur dirinya sendiri. Dia membuka satu tas yang dilemparkan oleh Eve tadi, berisi beberapa lembar pakaian bayi yang sempat dibelinya bersama mendiang Adam. Air mata Liany jatuh menitik, meskipun kepergian suaminya begitu cepat paling tidak Adam telah memberikannya kenang-kenangan seumur hidup, calon bayi mereka.

Ketukan pelan terdengar dari pintu kamar Liany, matanya mengerjap ternyata dia ketiduran sambil memeluk baju bayinya.

“Non Lia, makan malam sudah siap, Non Myla, Bapak dan Ibu sudah menunggu,” ucap Bi Inah di balik pintu. Liany melihat jam di dinding ternyata di tertidur cukup lama setelah membersihkan diri.

“Baik, Bi, terima kasih, saya akan menyusul,” jawab Liany sambil turun dari tempat tidur dan menyimpan kembali baju bayi yang dipeluknya tadi. Liany merapikan penampilannya kemudian keluar untuk bergabung di ruang makan.

“Lia Sayang, sini , Nak, yaa ampuun Tante sampai kaget denger cerita Myla tadi. Tante turut berduka cita yaa atas kematian Adam, ibunya dan adiknya itu sungguh terlalu!” seru tante Katrin dengan wajah yang prihatin.

“Sebelumnya terima kasih banyak atas kebaikan kalian menampung saya di sini, kalau gak ketemu Myla dan diajak ke sini saya tidak tahu malam ini saya akan tidur di mana.” Mata Liany berkaca-kaca, dia merasa beruntung saat ini tengah duduk di kursi yang nyaman dengan makanan yang telah terhidang.

“Jangan dipikirkan Sayang, buatlah dirimu senyaman mungkin, Tante ingat saat masih susah dulu mendiang ibumu yang sering membantu Tante kalau Tante dalam kesulitan. Kamu dan Myla juga hampir sebaya, kamu sudah seperti anak Tante sendiri.”

“Yaa sudah, ayo makan sekarang, Lia pasti sudah lapar,” ujar om Rudy. Tatapan mereka bertemu, dan om Rudy melemparkan senyum khasnya dengan dua lesung pipi yang membuat senyumnya sempurna. Liany merasa om Rudy awet muda, lama tak bertemu Om Rudy masih saja gagah dan tampan seperti beberapa tahun yang lalu. Hanya beberapa helai rambutnya yang keperakan menandakan jika om Rudy memang sudah berumur mendekati senja.

“Lia, kapan kamu terakhir periksa kandungan, Sayang?” tanya tante Katrin yang memperhatikan perut Liany. Sejenak Liany berpikir dan mencoba mengingat-ingat kapan dia dan Adam pergi bersama.

“Waktu kandungan saya masuk tiga bulan, Tante, saat itu mas Adam sedang off jadi bisa menemani Lia, setelah itu tidak lagi karena mas Adam berangkat kerja dan tidak kembali lagi.” Senyum getir Liany terlihat membuat tante Katrin merasa semakin prihatin.

“Kalau gitu besok kamu ke dokter kandungan yaa, Myla, besok bisa kan temani Lia?” Tante Katrin menoleh pada putrinya, tampak gadis itu berpikir sejenak.

“Sebenarnya Myla ada janji sama klien, Ma, gimana yaa?”

“Ouh kalo gitu gak usah, Tante, biar besok-besok saja, gak enak kalau mengganggu kerjaan Myla,” tukas Liany cepat.

“Kalau Papa gimana? Akhir-akhir ini perasaan Papa banyak waktu luang deh, bisa anterin Lia, gak? Mau yaa, Pa… Lia udah kayak kakaknya Myla lho…” bujuk tante Katrin pada suaminya.

“Hum, baiklah, kebetulan memang belum ada hal yang mendesak di kantor, memangnya Mama mau kemana lagi sih?” Om Rudy sudah menyelesaikan makan malamnya.

“Itu, Pa, proyek Mama di kota wisata masih belum selesai juga, makanya besok Mama mau lihat kendala mereka apa sih kok kerjanya lelet banget,” jawab tante Katrin yang seorang pebisnis di bidang konstruksi besar.

“Lia, kamu dianterin Om Rudy gak apa yaa?” tanya tante Katrin lagi. Sesaat Lia menatap Om Rudy dengan ragu, tetapi tatapan teduh milik pria paruh baya itu membuat Liany mengangguk setuju.

“Bawa ke rumah sakit khusus ibu dan anak yaa, Pa, nanti Mama cari rekomendasi terbaik.”

Liany tertunduk, betapa hidupnya berubah drastis hanya dalam beberapa saja, kini dia tengah berada di keluarga yang sangat peduli kepadanya.

Tante Katrin menuju ruang kerjanya setelah makan malam, ditatapnya layar ponselnya dengan ragu, sebaris nama di kontak itu disamarkannya sehingga tak ada yang curiga. Tante Katrin pun menekan panggilan cepat dan terdengar nada tunggu.

“Ada apa?” jawab seorang pria muda di seberang sana.

“Besok aku akan keluar kota, proyekku tak jauh dari apartemenmu, aku akan mampir besok.”

“Kenapa kau harus menemuiku lagi?”

“Karena aku menyayangimu, Satria. Aku—“

“Aku sedang sibuk, datang saja kalau kamu mau.”

Panggilan pun terputus, pria bernama Satria itu pun menutup telponnya. Tante Katrina hanya menghela napas dan tersenyum pahit. Dia sudah terbiasa dengan sikap ketusnya tetapi kerinduan dan cintanya pada Satria tak membuatnya menyerah untuk mengambil kembali hati laki-laki muda itu.

Bab 3

Om Rudy membukakan pintu mobil dan mengulurkan tangannya agar Liany bisa turun dengan aman. Tangan hangat om Rudy seakan-akan memberikan pesan jika Liany akan baik-baik saja bersamanya. Mereka memasuki ruangan dokter yang sudah lebih dulu dibuatkan janji oleh tante Katrin. Perawat dengan cekatan mencatat tensi darah Liany dan berat timbangannya.

Air mata Liany menetes ketika dia mendengar degup jantung bayi yang dikandungnya, peninggalan Adam mendiang suaminya yang sangat berharga. USG empat dimensi yang dilakukannya memperlihatkan jika dia akan memiliki seorang putra yang memiliki garis hidung seperti ayahnya.

“Ibu, tolong jaga kesehatan dan kondisinya yaa, ini berat bayinya masih kurang, jangan stress dan perbanyak makan dengan gizi yang seimbang,” saran dokter pada Liany. Matanya masih basah karena rasa sedih bercampur haru.

“Tolong diperhatikan istrinya yaa, Bapak,” tegur dokter perempuan itu lagi.

“Dia bukan istri saya, Bu Dok, dia putri saya, wajar mungkin dia saat ini sedang mengalami stress karena suaminya baru saja meninggal dunia, tetapi kami pasti akan menjaga dan memperhatikannya,” jawab Om Rudy meluruskan kesalahpahaman dokter di depannya itu.

“Ouh maaf, saya turut berduka cita, Bu, tetapi tolong yaa, nyawa di dalam perut ibu kini jauh lebih berharga, kasihan jika bayinya juga ikut stress karena ibu merasa sedih yang berkepanjangan.”

“Baik, Bu Dokter, terima kasih, saya akan ingat kata-kata Bu Dokter, saya akan menjaga kandungan saya sebaik mungkin.” Liany tersenyum kecil sambil mengelus perutnya. Berbagai vitamin dan kalsium diresepkan oleh dokter dan Om Rudy mengambil kertas resep itu. Mereka diminta datang untuk kontrol bulan depan lagi.

Setelah menebus resep obat itu, Om Rudy tidak langsung pulang mengantarkan Liany kembali ke rumah.

“Lho, kita mau ke mana, Om?” Liany bingung karena mereka mengambil jalan memutar yang bukan jalan pulang mereka.

“Kita akan ke supermarket untuk berbelanja kebutuhanmu, kau dengan tadi kan kalau bayi dalam kandunganmu beratnya tidak sesuai dengan yang seharusnya. Kita akan beli susu hamil, buah-buahan dan apa saja yang bisa kau makan sepuasnya.” Om Rudy menyetir mobil dengan hati-hati agar Liany tidak mengalami guncangan di jalan. Dia tahu jika Liany tidak mendapat kehidupan yang layak di rumah mantan mertuanya itu. Seingatnya dulu, Liany adalah gadis yang cantik, bentuk tubuhnya proporsional, pipi yang berisi dan kemerahan. Sangat berbeda dengan Liany yang dilihatnya di meja makan, kurus sehingga tulang pipinya menonjol, terlihat rapuh dan ringkih serta kepayahan dengan kehamilannya yang kurang gizi itu. Dalam hatinya dia mengutuk semua kekejaman yang telah dilakukan ibu Witri dan Eve pada Liany.

Masih dengan gerakan yang sama, om Rudy turun dan membukakan pintu mobil Liany, digenggamnya tangan Liany agar berhati-hati turun dari mobil. Sikap yang sangat mengayomi, persis perlakuan Adam yang sangat menyayangi Liany. Keduanya berjalan beriringan, om Rudy menarik troli lalu menuju rak bagian susu.

“Kau suka rasa apa Liany? Ambilah sesuai dengan kesukaanmu,” tunjuk om Rudy pada deretan kotak susu hamil itu. Liany memilih sesaat dan mengambil sekotak susu rasa coklat ukuran sedang dan meletakkannya dalam keranjang beroda itu.

“Kenapa cuma ambil satu? Ayo ambil lagi, kau harus rutin minum susu agar asupan gizimu cukup,” suruh om Rudy yang tak puas melihat satu kotak susu hamil yang dipilih Liany. Liany mengambil sekotak lagi dan di saat yang sama om Rudy juga ingin mengambilkan untuknya. Om Rudy malah memegang tangan Liany, perempuan itu merasa canggung dan segera menarik tangannya. Om Rudy pun merasakan kecanggungan yang sama sehingga dia mempersilakan Liany kembali memilih.

“Setelah ini kita ke rak buah dan sayur,” kata om Rudy lagi setelah melihat enam kotak susu berukuran besar.

Tante Katrin memencet bel pintu apartemen mewah itu berulang kali, Satria yang baru saja terbangun melihat sejenak pada ponselnya yang menunjukkan panggilan tak terjawab tante Katrin. Dengan malas Satria beranjak dari tempat tidurnya untuk membuka pintu.

“Apa kau baru bangun?” tanya tante Katrin yang melihat wajah Satria yang mengantuk.

“Menurutmu?” dengan ketus Satria menjawab pertanyaan tante Katrin dengan pertanyaan. Perempuan paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu hanya menghela napas dengan sikap lelaki muda yang tampan di depannya ini. Tante Katrin berjalan berkeliling di dalam apartemen Satria, beberapa kaleng minuman berserakan, kulit kacang dan sebelah stoking wanita di sudut ruangan. Apartemen Satria terlihat seperti habis mengadakan pesta kecil. Tante Katrin memunguti sampah yang berserakan dan memasukkannya ke keranjang sampah. Sesaat dia bergidik jijik ketika tangannya tanpa sengaja memungut benda pengaman pria yang masih basah itu.

“Tidak perlu repot untuk mengurusiku.” Satria merampas tempat sampah yang dipegang tante Katrin juga kond*m bekas yang dipegang perempuan itu.

“Aku melakukan ini karena peduli padamu, aku bersyukur telah menemukanmu kembali dan—“

“Cukup! Kau telah meninggalkanku dan itu sudah cukup untuk membuat kita menjadi orang asing saja, kau sudah mengingkariku, pada dunia pun kau tidak mau mengakui keberadaanku, Nyonya Katrin Hermawan!” Nada suara Satria meninggi, dihempaskannya tempat sampah itu ke sudut ruangan.

“Maafkan aku... maafkan aku, aku sedang berusaha untuk—“

“Untuk apa hah? Apa kau bisa menelpon suamimu sekarang dan memberitahukan tentang aku pada laki-laki kaya itu?!” tantang Satria yang membuat tante Katrina menggelengkan kepalanya.

“Sudah kuduga … kau hanya akan mempertahankan status sosialmu itu, Nyonya. Sebaiknya kau berhenti menemuiku, aku sudah punya jalan hidupku sendiri. Kau urus saja keluarga kebangganmu itu.” Satria menghempaskan bokongnya di sofa sambil memandang tajam tante Katrin.

“Satria, kau tidak akan pernah tahu betapa menyesalnya aku telah meninggalkanmu dulu, aku paham saat ini kau masih marah padaku. Tolong aku mohon padamu, beri aku waktu untuk menyiapkan semuanya.” Tante Katrin berjalan menuju wastafel dan membersihkan kedua tangannya. Perempuan itu hanya mampu memandangi Satria dengan penuh kerinduan.

“Jika kau butuh sesuatu, apa saja, katakana padaku, berapapun yang kau minta aku akan sediakan, aku tahu saat ini kau sedang merintis perusahaan baru. Aku akan mendukungnya untukmu, aku punya banyak kolega dan aku bisa membuatmu jauh lebih sukses lagi.” Tante Katrin masih mencoba meraih simpati Satria.

“Kau menghinaku, Nyonya? Aku sudah bisa berdiri di atas kakiku sendiri, sejauh ini aku sudah bisa berhasil tanpa bantuanmu, aku malah berterima kasih kau telah menghilang dari hidupku sehingga aku bisa menikmati kerja kerasku yang sekarang. Silahkan tinggalkan apartemenku jika kau tidak punya urusan lagi.” Kali ini nada suara Satria melunak, tetapi kata-katanya tetap saja seakan sebuah tamparan bagi tante Katrin.

“Aku menyayangimu, Satria, meskipun kau berbicara padaku seperti ini.” Tante Katrin mengeluarkan selembar cek kosong yang sudah ditandatanganinya, meskipun dia tahu laki-laki muda itu tak akan sudi menyentuhnya tetap saja kertas itu ditaruhnya di atas meja tamu. Dengan senyum getirnya tante Katrin berpamitan pada pemuda itu. Setelah tante Katrin tak terlihat lagi, satria mengambil kertas cek yang diberikan tante Katrin dan meremasnya kesal. Diusapnya wajahnya dengan kasar sehingga embun di matanya turut menghilang.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED