Di bar kasino dan karaoke milik Federico Castaro, pengusaha dunia hitam yang berkedok sebagai pengusaha mebel di Roma.
Gemerlap lampu kristal yang tergantung di tengah ruangan berisik itu menjadi saksi bisu apa yang sedang dilakukan Federico pada gadis belia yang bekerja di bar-nya.
"Jangan menangis saja. Ayo berdesahlah, Sayang!" gertak pria berambut pirang sambil menjambak rambut merah gadis yang sedang berjongkok di depannya.
Mata basah gadis itu terangkat ke wajah Federico. Dia berusaha keras membuat pria itu senang.
Namun, ini yang pertama baginya. Dia benar-benar tak paham, bagaimana melakukannya dengan benar.
"Terus, Baby! Masukan lebih dalam. Oh, Baby!" Federico melenguh panjang sambil menjambak rambut merah gadis itu. Dia menekan dan mendorongnya kasar.
Gadis itu tersedak sampai batuk-batuk. Permainan pun dihentikan beberapa saat. Cairan kental tercecer di bibirnya. Dia butuh waktu untuk kembali siap.
Federico yang baru melalui pelepasan tetap terjaga. Miliknya masih menegang dan menuntut lebih.
Dengan cepat, diraih pinggang kecil gadis itu, lantas mendudukannya di atas meja. Dengan penuh gairah, Federico mulai melampiaskan hasrat liarnya.
"Tuan, pelan-pelan!" Gadis itu mengerang kesakitan saat Federico mendesak dengan kasar.
"Diamlah, Jalang!" Federico yang sedang sangat bernafsu menampar pipi gadis itu dengan keras.
Gadis itu hanya bisa pasrah sepanjang permainan. Dengan liar dan brutal pria itu menggumuli tubuhnya di atas meja. Federico sangat menikmati penyatuan itu. Dia tak henti mengerang dan berdesah.
Brak!
Pintu ruangan itu di dobrak dari luar. Baik Federico mau pun gadis yang bersamanya, mereka sama-sama terkejut melihat komplotan para Mafia memasuki ruangan.
Michele menaikan sudut bibirnya melihat Federico dalam kondisi tanpa busana. Kemudian matanya turun pada gadis belia di dekat pria itu.
Dengan menggunakan pistolnya, Michele melempar pakaian ke arah gadis itu.
Si gadis buru-buru mengenakan pakaian lalu pergi. Tinggalah Federico yang masih telanjang bulat. Pria itu mundur saat Michele bergerak maju padanya.
"Bagaimana rasanya bercinta dengan gadis belia yang bahkan lebih muda dari putrimu? Dasar Pedofil," cibir Michele sambil memainkan pistolnya.
Federico tampak ketakutan."Tuan Muda Riciteli, kenapa Anda ke sini? Bukankah urusan kita sudah selesai?"
Michele menyeringai tipis. "Harusnya sih begitu," jawabnya acuh. Kemudian dia langsung menyambar leher Federico dengan sekali tangkap. Tentu saja pria itu sangat terkejut dibuatnya.
Michele menatapnya tajam."Kenapa kau membohongiku? Di mana barang yang asli? Kau coba menipuku? Apa kau sudah bosan hidup?" desisnya ke wajah Federico.
"Maafkan aku, Tuan Muda. Ini semua perintah Tuan Georgio, aku cuma orang suruhannya." Federico nyaris pingsan ketakutan. Michele bisa menembak kepalanya kapan saja.
Michele tersenyum remeh."Kau sudah menipuku, artinya kau lebih memilih mati."
Federico, dengan wajah melasnya memohon pada Michele. Namun, bukan Pangeran Mafia Riciteli jika masih punya rasa kasihan di hatinya.
Duar!
Tubuh Federico tumbang seketika dengan luka tembak di dahinya.
Michele hanya tersenyum sinis, lantas melempar pistolnya ke salah satu anak buahnya. Kemudian dia pergi sambil menghembuskan asap cerutunya dengan santai.
Sepuluh orang pria berpakaian formal berjalan mengekor di belakang Michele. Musik RMB terdengar di sepanjang lorong. Orang-orang berlarian menuju ruang karaoke di mana terdengar suara tembakan.
Sementara itu dari atap gedung sebuah universitas ternama di kota Roma, dua orang pria tampak sedang berdiri di sana. Mereka melempar jenazah Emily ke bawah setelah hitungan ke tiga.
Paolo, kaki tangan Michele menghampiri dua orang pria itu. Dilihatnya jasad Emily di bawah saja. Gadis itu mati dengan sangat menggemaskan.
"Ayo kita pergi," ucapnya kemudian. Mereka segera meninggalkan lokasi.
*
"Aku sudah katakan padanya jika aku tak mau berkencan, tapi dia memaksa. Sial! Bahkan pria itu lebih buruk dari yang aku bayangkan!"
Seorang gadis berambut kecokelatan bicara dengan wajah kesal sambil membuka seat belt yang melingkar di tubuhnya.
Meghan Crafson, gadis cantik dengan bola mata biru terang. Pagi ini ia baru tiba di kampus bersama temannya, Moly.
"Benarkah? Tapi bukankah Ricardo cukup tampan? Bahkan dia memiliki banyak uang! Cintailah uangnya, persetan dengan orangnya," ucap Moly acuh sambil menutup pintu mobil. Mereka berjalan bersisian memasuki area kampus.
"Kalau begitu kau saja yang berkencan dengan pria kurus itu," desis Meghan dengan wajah sebal.
Moly tertawa kecil melihat temannya merajuk."Baiklah, Nona Crafson. Lupakan pria pilihan kakakmu itu, kita ke pesta nanti malam. Bagaimana?"
Meghan menoleh cepat. "Tentu," sambutnya dengan serius.
Moly kembali tertawa. Kemudian dia merangkul bahu Meghan. Mereka berjalan cepat menuju koridor.
Kerumunan di belakang kampus mengalihkan perhatian dua gadis itu. Meghan dan Moly saling pandang dengan mimik heran.
Kemunculan mobil polisi dan ambulans semakin membuat mereka terkejut dan penasaran.
"Vito, ada apa ini? Kenapa ada mobil polisi di kampus?" Meghan menghadang seorang pemuda yang sedang bejalan dengan terburu-buru.
"Anak-anak menemukan mayat di belakang kampus," jawab Vito dengan wajah panik.
"Mayat?" Meghan dan Moly saling pandang kaget.
"Baiklah, aku harus ke ruangan dekan sekarang. Bye!" Vito bergegas pergi dengan tergesa-gesa.
Meghan hanya diam nyaris tak percaya. Di kampus elit ini, bahkan terjadi pembunuhan? Ini benar-benar gila!
"Awas! Tolong beri jalan!" Para medis mendorong brankar menuju mobil ambulans.
Semua orang menyingkir. Meghan dan Moly hanya memandangi dengan wajah ngeri.
"Apa yang terjadi pada Emily? Kenapa dia sampai bunuh diri? Ini benar-benar aneh!"
Meghan bicara sambil memainkan sedotan jusnya di kantin. Dia cukup mengenal Emily. Gadis itu introvert dan tak pernah terlibat masalah. Mustahil dia bunuh diri. Dia benar-benar heran.
"Entahlah. Bukankah kakakmu sedang menyelidikinya?" jawab Moly dengan wajah acuh. Dia tak begitu tertarik untuk mengurusi hal semacam itu. Lain dengan Meghan yang selalu ingin tahu dan penasaran.
"Ya, kakaku pasti akan menangkap penjahatnya," jawab Meghan, lantas kembali sibuk dengan jusnya meski pikirannya masih mengenai Emily.
Pukul dua sore. Dari seberang jalan, Michele memperhatikan aktifitas di kampus itu sambil duduk pada bangku tengah mobil Mercedes Benz C-Class warna hitam yang dikemudikan oleh Sergio.
Para polisi dan detektif masih berkeliaran di sekitar kampus. Garis polisi pun masih terpasang di sekitar. Pria itu memicingkan satu alisnya.
"Apa kabar terbarunya?" tanya Michele.
Sergio yang sedang duduk menghadap kemudi mobil bergegas menjawab, "Kampus akan diliburkan selama proses penyelidikan."
"Apakah mereka sudah menemukan barang bukti?" Michele bertanya lagi, kali ini sambil memainkan batang cerutu yang baru diambilnya dari saku jas.
"Sepertinya mereka akan kesulitan," jawab Sergio sambil menatap siluet Michele lewat kaca spion di atasnya.
Pria di bangku tengah menaikan sudut bibirnnya. "Gadis itu tewas bunuh diri, bukankah begitu?"
"Benar, Bos."
Sergio segera melajukan mobil. Kaca jendela mobil itu pun naik perlahan menutupi wajah tampan Michele.
Meghan yang sedang duduk di kursi taman tak sengaja melihat wajah pria di dalam mobil itu. Siapa dia dan mau apa? Bahkan dia melihat mobil itu menepi cukup lama tadi. Mencurigakan sekali, pikirnya.
Malamnya Michele mendatangi gudang ganja milik Federico. James mengatakan jika Federico sudah menukar barang yang mereka pesan dengan yang palsu.
Michele yang murka langsung menghabisi pria itu di bar kasino miliknya. Kemudian membuang mayat Federici ke teluk.
"Ini asli, Bos." Paolo, kaki tangan Michele mencicipi lebih dulu serbuk putih yang mereka temukan di gudang Federico.
Michele tersenyum licik. "Cepat angkut semuanya ke markas. Kemudian bakar gudang ini," perintahnya.
Paolo segera menjalankan perintah bosnya. Mereka mengangkut semua barang dengan truk menuju markasnya. Kemudian membakar gudang Federico. Setelah itu mereka pergi berpesta.
"Anda yakin, jika putri Anda benar-benar bunuh diri?" Letnan Jose bertanya pada Alberto saat menemui pria tua itu di rumahnya. Dia tak yakin dengan semua penuturan Alberto.
Sayangnya pria itu menolak saat mereka mau melakukan proses autopsi pada jenazah Emily.
Alberto mengangguk sambil memejamkan matanya. "Aku yakin. Pergilah dan tutup kasus ini. Aku mau putriku beristirahat dengan damai," ucapnya, lantas bangkit dari sofa dan membawa tubuh ringkih itu masuk kamar.
Jose menarik nafas panjang lalu menggeleng pusing. Kenapa Alberto berbohong pada pihak kepolisian? Apa yang pria tua itu takuti? Beragam pertanyaan muncul di benaknya.
"Kasus ini akan segera di tutup. Mulai selidiki kasus lain saja. Mungkin kasus pembobolan Bank Century. Ya, kurasa itu jauh lebih meresahkan warga kota."
Mata Jose teragkat ke wajah atasannya yang sedang bicara sambil mondar-mandir tak jelas.
Dia muak terus bekerja pada pria itu. Para Mafia itu pasti sudah menyokong mereka dengan uang dan wanita. Jose benar-benar tak habis pikir.
"Sepertinya aku mau ambil cuti dulu dua hari ini," ucap Jose dengan wajah bosan. Kemudian pria itu bangkit dari duduknya.
"Cuti?" Sang atasan bertanya dengan wajah heran pada Jose.
"Ada serial animasi yang ingin aku tonton dengan adik perempuanku," jawab Jose acuh lantas menghambur pergi begitu saja.
Semua orang menatapnya heran. Persetan dengan semua itu, Jose terus saja melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan.
Hatinya benar-benar kesal dengan kinerja para rekannya akhir-akhir ini.
Dia yang berasal dari Amerika tak paham dengan kepolisian di Italia, di mana para Mafia yang memegang kendali mereka.
Michele Lazzaro Riciteli, suatu saat dia pasti akan menangkap bajingan itu dengan tangannya sendiri. Ini janjinya, janji seorang polisi.
Jarum jam menujuk ke angka 10. Terdengar bunyi air yang masih mengalir di wastafel.
Pintu kamar mandi tidak di tutup dengan rapat. Di dalamnya terlihat seorang pria yang sedang berdiri di depan cermin.
Alberto, pria itu menatap siluetnya sesaat sebelum menurunkan pandangan pada tangannya yang sedang merakit pistol jenis Revolver berkaliber 44 yang berisi 5 - 7 peluru.
Wajah pria itu tampak dipenuhi amarah dan dendam. Tentu saja. Putrinya baru saja tewas dengan mengenaskan dan dia di keluarkan dari partai.
Semua itu terjadi karena Michele Lazzaro Riciteli. Mafia sialan itu ... dia akan menembaknya malam ini.
Pistol selesai di rakit, Alberto bergegas mengenakan sarung tangan hitam, topi, dan yang terakhir ia menutup sebagian wajahnya dengan kain hitam.
Dipandagi siluetnya pada cermin. Dia tak lagi kelihatan seperti orang politik atau pengusaha, melainkan seperti seorang pembunuh bayaran. Bahkan dia akan lebih sadis dari itu.
Malam kian larut. Sudah saatnya anjing pemburu keluar dan mencari mangsa. Alberto segera meninggalkan rumahnya.
Seorang wanita paruh baya melihat punggung pria dengan manntel hitam itu masuk mobilnya.
Apakah itu Tuan Castaro? Wanita itu tampak heran melihat penampilan Alberto yang aneh dan tak biasanya.
Pesta besar sedang di adakan di bar kasino milik Federico yang kini sudah berpindah tangan pada Michele.
Para wanita berpakaian seksi meliuk-liukan tubuhnya mengikuti irama musik. Ada pula yang sedang duduk menemani para tamunya minum.
"Waw! Ini pesta yang hebat, Bro!" Carlo Riciteli, adik angkat Michele yang baru berusia 16 tahun tampak begitu senang sambil mengoyangkan kepalanya menikmati musik.
Michele yang sedang duduk hanya tersenyum tipis melihatnya."Carilah wanita dan cobalah melakukan seks. Kau harus belajar dari sekarang," ucapanya pada Carlo kemudian.
Paolo yang duduk di samping Carlo hanya tersenyum geli seraya mengacak-acak rambut remaja itu.
"Aku tak mau. Itu menjijikan!" ujar Carlo yang langsung di sambut gelak tawa oleh Paolo dan para bodyguard yang mengelilingi mereka.
Sementara Michele hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Carlo masih belia. Bahkan dia hanya bayi di matanya. Betapa pun kejamnya dia, Michele sangat menyayangi Carlo sebagaimana adiknya.
Sepuluh tahun yang lalu dia tak sengaja menembak sepasang suami-istri saat mabuk di bar.
Mereka adalah orang tua Carlo.
Anak laki-laki berusia enam tahun itu membuatnya iba di pemakaman. Michele memutuskan untuk membawanya pulang.
Sampai saat ini Carlo tak pernah tahu jika Michele yang sudah menghabisi orang tuanya.
Dia bersyukur memiliki Michele. meski dia hanya adik angkatnya, tapi Michele memberikan kekuasaan dan kemewahan layaknya pada adik kandungnya.
Di luar bar tampak dua orang gadis yang sedang berjalan meninggalkan mobilnya.
Meghan dan Moly mendatangi bar yang salah. Ini bukan bar di mana temannya mengadakan pesta, tapi ini bar di mana di dalamnya terdapat para komplotan Mafia sadis.
"Kau yakin ini tempatnya? Kurasa kita salah mendatangi bar," ucap Meghan seraya memperhatikan aktifitas tempat hiburan malam di depannya itu.
Moly sibuk merapikan riasan wajahnya."Memang ini bar-nya. Nick yang sudah memberikan alamatnya padaku tadi," ucapnya lalu membenahi alat make up yang dipegangnya ke dalam tas.
"Ayo masuk!" lanjutnya seraya menarik lengan Meghan.
Setibanya di dalam bar, Meghan dibuat heran. Tak ada satu pun orang yang ia kenali di sana. "Aku yakin ini bukan bar-nya."
Moly tak kalah heran."Kurasa kau benar," sahutnya dengan mata yang enggan berkedip melihat apa yang sedang orang-orang lakukan.
Mereka sedang mabuk dan melakukan seks bebas di depan umum tanpa rasa malu. Ini gila. Mereka harus segera pergi.
"Hei, Nona! Mau kemana kalian?" Dua orang bodyguard menghadang jalan Meghan dan Moly yang sedang menuju pintu keluar. Dua gadis itu dibuat terkejut.
"Kami salah masuk bar. Kami mau pulang," jawab Meghan. Sementara Moly hanya berlindung di belakang bahunya dengan mimik ketakutan.
Dua orang bodyguard itu saling pandang. Kemudian mata mereka turun pada kamera yang sedang dipegang oleh Meghan.
Dengan cepat direbut benda itu."Apa kalian para reporter yang sengaja ingin meliput kegiatan di bar ini?" tanya si bodyguard dengan tatapan curiga pada Meghan.
Gadis itu buru-buru menggeleng. "Bukan, kami bukan reporter! Kami benar-benar hanya salah masuk bar saja. Tolong berikan kameranya dan biarkan kami pergi."
Sepertinya dua orang bodyguard itu tidak percaya pada mereka. Meghan dan Moly saling pandang dengan wajah cemas. Mereka dalam masalah besar jika tetap di sini.
Dua gadis itu saling memberi isyarat untuk segera kabur. Namun, dua orang bodyguard berhasil menangkap Meghan.
"Lepaskan aku! Bajingan kalian!" Meghan berteriak saat dua orang bodyguard itu menyeretnya kembali masuk bar.
"Meghan, ya Tuhan ... bagaimana ini?" Moly yang panik bergegas menghidupkan mesin mobil.
Mereka para Mafia sadis, terlalu berbahaya jika dia kembali masuk ke bar itu. Dengan kebingungan dan memikiran Meghan, Moly akhirnya pergi.
"Meghan, maafkan aku."
Kembali ke dalam bar. Dua orang bodyguard membawa Meghan menuju salah satu kamar VIP di hotel yang berada di lantai dua bar itu.
Meghan tak henti berotak dan berteriak minta tolong. Namun, siapa yang akan datang menolongnya? Yang ada di bar itu penjahat semua. Dia dalam masalah besar saat ini.
"Moly, apa kau bersama Meghan?
Di mana kalian?"
Jose menelepon Moly karena Meghan belum juga pulang. Satu jam yang lalu mereka pamit untuk mendatangi pesta temannya, tapi sampai sekarang Meghan belum juga kembali. Sebagai kakak tentu Jose sangat khawatir pada adik perempuannya.
Moly yang sedang duduk bersandar di bawah ranjangnya sangat gugup saat menerima telepon dari Jose.
"Meghan, dia ... dia ada di sini! Ya, Meghan menginap di apartemenku. Jangan cemas," ucapanya berbohong karena kebingungan dan ketakutan.
"Meghan di apartemenmu? Syukurlah. Namun, kenapa ponselnya tak bisa di hubungi?" Jose bertanya lagi.
Moly memejamkan matanya erat-erat. Jose seorang polisi. Bagaimana jika pria itu tahu kalau dia sedang berbohong?
Ah, tidak. Jose tak boleh sampai tahu. Para Mafia itu bisa saja menculiknya jika mengetahui dirinya yang sudah memberitahu polisi.
Moly berusaha tenang."Ponsel Meghan kehabisan daya. Dia pun sudah tidur. Aku juga sudah mengantuk. Nanti aku minta Meghan menghubungimu besok pagi. Selamat malam," ucapnya lalu menutup panggilan.
Moly bersandar lesu pada tepi ranjangnya. Astaga ... entah bagaimana nasib Meghan di markas para Mafia itu?
Jose masih ingin menanyai Moly pasal Meghan, tapi ponselnya kehabisan daya dan mati. Penuturan gadis itu terdengar aneh.
Apa benar Meghan sudah tertidur dan ponselnya tidak aktif?
Entahlah, dia tak yakin. Namun ini sudah malam. Baiknya esok pagi dia segera menjemput Meghan di apartemen Moly, pikirnya seraya membaringkan tubuh di atas sofa.
Kembali pada Meghan.
"Lepaskan aku! Apa yang kalian lakukan?!"
Gadis dengan mini dress warna hitam itu menjerit-jerit saat dua orang bodyguard merebahkan dia secara paksa lalu mengikat kedua tangannya ke masing-masing sisi ranjang quen size di kamar VIP itu.
Entah kamar siapa ini dan mau apa mereka? Gadis itu nyaris menangis ketakutan.
"Bos, kami sudah membawa gadis itu ke kamar Anda." Seorang bodyguard menelepon sambil berdiri membelakangi Meghan.
Bos?
Siapa yang di panggil bos oleh bodyguard itu? Apakah bos para Mafia? Bulu kuduk Meghan meremang ketakutan. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya.