Bab 1

Bab 1

Hati Hesti terasa hampa meski harus ia akui rumah tangganya berlangsung harmonis dan mesra terus. Ia juga selalu menikmati percintaan yang penuh gairah dengan suaminya tapi  setelah dua minggu ia harus merasakan perasaan kecewa saat mendapat hasil tes kehamilannya hanya bergaris satu. Ia akan kembali merasa bersalah kepada suaminya, mas Haris.

Sudah beberapa tahun ini, meski mereka sangat rutin dan aktif melakukan hubungan intim, tetap saja ia tidak kunjung hamil! Apa masalahnya! keluh Hesti merasa sangat sedih dan kecewa pada dirinya sendiri kalau mengingat hal itu.

Beruntung selama ini mas Haris tidak pernah menyalahkannya sedikitpun. Ia malah selalu menyemangati dan selalu membela saat keluarga besarnya menanyakan hal itu kepada mereka. Ia akan menyela kalau dia masih belum menginginkan anak dan menanggung semua kesalahan. Secara pribadi dia mengatakan kalau hal itu akan terjadi sendiri bila sudah waktunya. Dia tidak pernah keberatan dengan situasi pernikahan mereka saat ini meski sampai saat ini mereka masih belum dikaruniai anak.

Saat mas Haris mengatakan hal itu memang beban yang ia rasakan agak terangkat sedikit tapi karena terlalu cinta perasaan bersalah belum bisa memberikan keturunan kepada mas Haris kembali datang dan membuat Hesti selalu mencari cara agar ia bisa segera hamil.

Ia sudah menjalani berbagai teknik bercinta yang bisa membuka peluang kemungkinan untuknya hamil dari menaikkan kedua kakinya ke atas tembok setelah mas Haris membanjiri rahimnya dengan benih cinta, sampai ia harus menahan diri untuk tidak bergerak terlalu aktif setelah mas Haris mencapai klimaksnya, ia menerima benih cinta mas Haris dengan senyuman penuh harapan agar sel sperma mas Haris bisa bekerja lebih maksimal lagi agar bisa bertemu dengan indung telurnya.

Berbagai hal yang meski terdengar janggal dan konyol ia telan bulat-bulat dan lakukan! Belum lagi ia selalu meminum obat penyubur kandungan dan berbagai ramuan rekomendasi dari para karyawannya agar bisa segera hamil dan memberikan anak untuk suaminya.

Semua sudah dilakukan tapi saat semuanya tidak berhasil, ia malah  merasa geram dan frustasi, kenapa hal itu bisa berhasil kepada orang lain tapi tidak berhasil pada dirinya sendiri! keluhnya sambil terisak di atas bantalnya dengan frustasi.

Mas Haris hanya bisa memeluk dan menenangkannya bisa dia meluapkan perasaannya.

Ia sudah memeriksakan diri ke dokter kandungan dan dari hasil tes juga pemeriksaan semuanya baik-baik saja. Dokter berasumsi mungkin saja karena Hesti kelelahan bekerja. Hesti merasa asumsi dokter memang benar adanya. Selama ini dia selalu aktif bekerja tapi di hari Sabtu dan Minggu, mereka selalu mengkhususkan diri untuk melepas kesibukan mereka dan menikmati masa bulan madu singkat.

Hubungan mereka selalu harmonis dan mesra selama ini, tidak pernah ada masalah apa lagi mereka sampai bertengkar. Hanya saja Hesti sangat merindukan kehadiran seorang anak!

Pernah beberapa kali ia meminta mas Haris untuk ikut bersamanya ke panti asuhan dengan tujuannya untuk mengirimkan donasi berupa sembako dan alat-alat tulis untuk seluruh anak panti kemudian dengan sengaja, ia akan mengajak mas Haris ke ruang bayi dan melihat bayi-bayi yang lucu-lucu di sana tapi sayangnya mas Haris seakan sudah mengerti maksudnya. Ia hanya tersenyum dan menggenggam tangannya keluar dari ruangan bayi tanpa mengatakan apapun juga.

Ketika ia mengungkit mengenai adopsi anak, mas Haris langsung menenangkannya dan memberinya semangat kalau mereka pasti bisa memiliki darah daging mereka sendiri kalau waktunya memang sudah tiba kalau sekarang ia hanya ingin menikmati kebersamaan dengannya berdua saja.

Hesti merasa bersyukur memiliki suami seperti mas Haris yang sangat penyayang dan pengertian terhadapnya tapi rasa syukurnya langsung berubah menjadi emosi dan penuh rasa kecewa, saat ini dia benar-benar kaget saat membenahi berkas-berkas lama, ia menemukan surat kontrol suaminya. Surat kontrol pasca operasi vasektomi!

Ia mengingat-ingat tanggalnya dan tanggal itu beberapa minggu sebelum dia menikah dengan mas Haris! Tubuhnya lemas dan gemetar. Ia menelan air ludahnya dengan susah payah sambil menangis pilu.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyanya pada dirinya sendiri. Kalau mereka tidak berbenah untuk pindah ke mansion yang baru mana mungkin ia akan mengetahui kenyataan ini! Berapa lama mas Haris akan membohonginya!

“Apa kau sudah selesai, Sayang? …” tanya Haris dengan senyuman menghilang dari bibirnya saat menyadari kertas dalam genggaman istrinya yang tampak memandanginya dengan tatapan kecewa.

“Ini apa maksudnya?” tanya Hesti dengan menahan kecewanya.

“Apa?” tanya Haris berusaha untuk tetap tenang meski dalam hati ia takut kalau Hesti akan meradang.

“Ini!” seru Hesti sambil melemparkan lembaran kertas pemicu emosinya.

Haris melihat salinan surat kontrol yang lupa ia buang! Ia mengumpat dalam hati kenapa waktu itu bisa melupakan melenyapkan hal sepenting ini! keluhnya lagi dalam hati. Ia mendekati dengan tujuan menenangkan kemarahan istrinya.

Hesti mendorong dan menepis saat mas Haris ingin menenangkannya. Ia berteriak dan mengumpat dengan kesal! Perasaan bersalah yang menumpuk dalam hatinya berubah menjadi rasa muak saat mengetahui apa yang telah dilakukan suaminya sendiri.

“Kau tahu dari awal pernikahan, aku sangat mendambakan untuk bisa memiliki bayi, Mas! Bayi kita! Tapi kenapa Mas Haris malah melakukan vasektomi?" serunya sambil memukuli mas Haris dengan perasaan kesal. Air matanya berderai merasa sangat sedih dengan tindakan suaminya. "Yah Tuhan! Dosa apa aku ini!” ratapnya dengan sikap menyalahkan nasibnya.

“Hesti! Jangan keterlaluan!” sentak Haris sambil menenangkan Hesti.

“Aku? Keterlaluan katamu, Mas!" sergah Hesti merasa sangat terluka dengan ucapan Haris. "Sekian lama aku merasa bersalah karena tidak bisa mengandung anakmu tapi Mas malah berpura-pura bodoh menghiburku!” seru Hesti tidak bisa menahan kegeraman dalam hatinya. Ia sangat marah karena mas Haris memperlakukannya seperti ini.

“Aku tidak suka anak-anak, Hes!” aku Haris berterus terang. Dari awal dia tahu kalau istrinya ini sangat menyukai anak kecil tapi berbanding terbalik dengannya. Baginya, anak-anak hanya membuat hari-hari mereka repot sementara mereka memiliki segudang aktifitas bisnis yang mesti mereka jalani secara profesional tapi Haris tidak berani berterus terang kepada Hesti karena ia takut Hesti akan menolak menikahinya karena itu secara diam-diam dia melakukan operasi vasektomi untuk mencegah mereka memiliki anak yang tidak diinginkan.

“Tapi Mas tahu aku menyukai dan merindukan kehadiran mereka di tengah-tengah kita!” seru Hesti merasa berang mendengar pernyataan mas Haris.

“Mas tahu karena itu hanya ini jalan satu-satunya yang bisa Mas lakukan  untuk keharmonisan rumah tangga kita, Hes!” kata Haris berusaha untuk memberi Hesti pengertian. "Apa kau mau tubuh indahmu berubah dan membuatmu harus bekerja keras untuk mendapatkan tubuh idealmu lagi? Belum proses melahirkan! Bagaimana kalau kau sampai kenapa-napa! Mas tidak mau kehilanganmu, Hes!" sahut Haris dengan cepat.

Mata Hesti terbuka lebar. “Rumah tangga apa seperti ini, Mas! Rumah tangga tanpa kehadiran seorang anak? Tidak, Mas! Aku tidak mau!” seru Hesti dengan cepat menolak penjelasan mas Haris.

“Tapi selama ini kita bahagia tanpa anak, Hes! Kenapa perlu mempermasalahkannya sekarang?” sahut Haris merasa tidak mengerti dengan pengertian Hesti.

“Kau gila, Mas! Gila!” seru Hesti dengan penuh kemarahan melayangkan tangannya ke wajah suaminya.

“Hes!” sergah Haris tidak menerima tamparan Hesti tapi berusaha untuk menahan diri dan membujuk Hesti lagi untuk mendengarkannya.

“Lepaskan aku, Mas!" seru Hesti dengan cepat menepis tangan mas Haris yang ingin menyentuhnya lagi.  "Jangan pernah berani menyentuhku lagi!" ucap Hesti dengan kesal. Air matanya kembali luruh. "Tega kau, Mas! Kau sudah membohongiku dengan keji!” lanjutnya di sela isak tangisnya.

“Aku hanya tidak ingin membuatmu sedih, Hes. Coba pikirkan, kalau kita memiliki anak, kita tidak akan fokus dan menikmati pernikahan kita. Selama ini kita bahagia mesti tanpa kehadiran seorang anak, bukan!” sahut Haris berusaha keras menenangkan kemarahan Hesti.

Dengan mata terbuka lebar, Hesti mengumpat perkataan Haris dengan kata-kata yang hanya ia dengar dari tayangan televisi untuk meluapkan kemarahannya.

“Hes!” seru Haris tidak menyangka Hesti semakin berani mengumpatnya.

“Kenapa? Apa Mas tidak terima dengan umpatanku!” serunya tidak menahan diri lagi. Selama ini dia sangat menghormati semua keputusan suaminya tapi kali ini ia sudah kehilangan rasa hormat terhadap suaminya itu.

Haris berusaha menahan diri dan memahami perasaan Hesti saat ini karenanya ia berusaha untuk mengalah. “Kau sedang marah sekarang, aku maklum …” kata Haris lagi.

“Maklum?” sela Hesti sambil mengeluarkan umpatannya lagi dengan penuh emosi. “Aku tidak mau tahu, Mas! Aku menginginkan anak karena itu Mas harus ikut bersamaku sekarang juga, ke rumah sakit untuk membuka membatalkan efek operasi yang sudah Mas lakukan selama ini,” sahut Hesti dengan tegas.

“Tidak!” seru Haris langsung menolak ajakan Hesti.

“Mas!” seru Hesti tidak percaya kalau Haris menolak ajakannya dengan tegas.

“Mas sudah katakan tidak maka tidak! Dan itu sudah keputusan final! Kau harus menuruti keputusan Mas atau …!” kata Haris tidak bisa menahan diri lagi saat harga dirinya terusik.

“Atau apa!” sahut Hesti menantang ucapan mas Haris.

“Atau Mas akan menceraikanmu!” sahut Haris mengatakan ekspresi dingin saat menatap istrinya.

Ucapan mas Haris bagaikan geledek di siang bolong di telinga Hesti! Air mata jatuh bergulir begitu saja di pipinya. Sambil tersenyum kecut, dengan berani ia menatap mas Haris dengan perasaan terluka. “Baik, kalau begitu ayo kita bercerai,” sahut Hesti pada akhirnya.

Haris mengumpat kesal melihat kekeraskepalaan Hesti. Ia meninggalkan Hesti sendirian di dalam kamar mereka untuk meredam amarah yang sedang mendera mereka berdua.

Bab 2

Bab 2

Hesti merasa perjalanan hidupnya sangat menyedihkan. Ia terus menatap ponselnya berharap mas Haris akan meminta maaf dan menyusulnya ke sini tapi ngenesnya, tidak ada satu panggilan atau pun pesan dari mas Haris yang menanyakan ada di mana dia saat ini!

Ia menangis meraung sambil menertawakan kisah hidupnya. Pria normal mana yang tidak menginginkan anak! Seharusnya ia sudah menyadari hal itu sebelumnya. Mas Haris terlalu baik untuk ukuran pria normal pada umumnya. Ternyata di belakangnya dia menyimpan rahasia yang mengejutkannya sampai sekarang! Vasektomi! Bayangkan!

Hesti mengambil gelasnya yang sudah kosong dan mengisinya lagi dengan perasaan gusar. Beraninya dia mengelabuinya sampai saat ini!

Coba bayangkan kalau mereka tidak membeli mansion yang baru pasti saat ini dia masih memuja mas Haris seperti orang bodoh dan tragisnya mas Haris seolah tidak melakukan kesalahan!

Rumah tangga tanpa anak? Apa mas Haris sedang main rumah-rumahan bersamanya?!

Besok dia akan menjadi janda karena itu ia harus menyiapkan mentalnya. Untung saja selama ini dia meneruskan usahanya sendiri dan tidak menyatukan perusahaan mereka kalau tidak akan merepotkan harus membagi semuanya nanti!

Hesti merasa sedih dan menangis lagi. Ia melampiaskan rasa frustasi yang menderanya dengan meneguk minuman keras yang dipesannya! Anehnya dia tidak mabuk sedikitpun! Ia malah merasa kembung karena terlalu banyak meneguk minuman-minuman yang sudah kosong. Ia ingin sekali bisa melakukan hal yang konyol seperti yang sering ia lihat di televisi dengan alasan mabuk. Tapi yang ia lakukan saat ini, dia malah merenung dan berpikir tentang hari esok. Besok dia akan bercerai, ucapnya lagi dalam hati kemudian menjadi panik!

Jadi bagaimana dengan program bayinya! serunya dalam hati dengan panik. Ia malas kalau harus menyeleksi calon suami lagi dari awal, berapa banyak pria yang sanggup memuaskannya seperti yang mas Haris lakukan selama ini!

Alat bantunya tidak mungkin memberinya bayi! Mereka tidak bisa mengeluarkan sperma untuk membuatnya hamil! keluh Hesti seraya mengerang sedih karena itu ia memulai misinya. Saat ini matanya bergerilya menatap semua orang yang berada di klub satu persatu.

Banyak pria-pria tampan di keremangan cahaya! Hesti merasa senang melihatnya! Dia hanya harus menarik satu di antara mereka dan tidur dengan mereka, bukan?! Dengan begitu dia bisa hamil!

Napas Hesti menderu cepat, ia merasa gembira dengan pemikiran genius-nya saat ini. Kalau hal itu sampai terjadi, dia akan merasa senang sekali! Akan ada bayi yang lucu meski ia tidak akan mendapatkan suami lagi ke depannya, ia sama sekali tidak keberatan. Ia kaya! Ia mampu menghidupi dirinya sendiri dan juga bayinya. Hesti tersenyum seraya menghela napas panjang. Semua itu bukanlah masalah! ucap Hesti lagi sambil terkekeh dalam hati. Ia merasa bersemangat menjalankan misinya saat ini. Yang penting setelah ini, dia akan memiliki bayi, bayinya sendiri! ucap Hesti dengan mata berbinar dan meneliti semua orang yang ada di dalam klub untuk menyeleksi calon ayah dari bayinya, paling tidak mereka harus tampan! ucapnya sambil terkekeh.

Setelah beberapa saat mengamati, Hesti menghela napas dengan dan menghembuskannya dengan hembusan putus asa dan frustasi. Tapi bagaimana dia bisa tidur dengan pria asing yang tidak dikenalnya! Bagaimana? Dia tidak memiliki pengalaman hidup dengan banyak laki-laki sebelumnya. Mas Haris adalah pria pertamanya sampai detik ini. Dia bahkan pria yang mendapatkan ciuman pertamanya!

Ia menangis lagi di tengah hingar bingar berisiknya dentuman musik di klub malam ini. Ia baru sekali ini pergi ke tempat seperti ini. Dengan sedih, ia pergi dari rumah dengan taxi untuk meluapkan kekesalannya kepada mas Haris. Di dalam taxi, ia tidak bisa menahan diri lagi. Ia terisak dan menangis saat supir menanyakan tujuannya.

“Jalan dulu saja Bang, saya mau puasin nangis dulu sekarang,” jawab Hesti saat itu. Hingga matanya melihat klub malam ini, ia tertarik dan langsung meminta turun. Ini adalah kali pertama ia memasuki klub malam! Kalau mas Haris tahu, bisa-bisa dia langsung diseret keluar tapi pemikiran itulah yang membuatnya nekat untuk masuk dan mencari tahu ada kesenangan apa yang bisa merusak keimanannya!

Ia memesan banyak minuman keras yang bisa membuatnya mabuk dengan tujuan untuk bisa melewati malam ini!

Dia tidak ingin bertemu dengan mas Haris malam ini. Dia belum siap dan harus mempersiapkan diri untuk menjadi janda besok pagi.

Ia menertawai pemikirannya sendiri yang tampak sangat menyedihkan! Pernikahannya akan kandas besok pagi! serunya mencoba untuk bersemangat dan tidak sedih.

Hesti mengumpat lagi karena teringat beberapa minggu lagi adik mas Haris akan menikah! Jadi apa dia harus tetap menghadirinya atau tidak? Pertanyaan-pertanyaan itu membuat kepalanya pusing.

“Apa kau tidak apa-apa?” tanya Samuel dengan ragu.

Hesti menoleh dan menatap pria muda yang tampan di depannya. Ia tersenyum sambil mengamati wajah tampan yang tersedia di hadapannya ini. Tidak buruk untuk ayah calon bayinya! pekiknya merasa bersemangat dalam hati. Ia memberanikan diri membelai wajah pria asing di depannya itu. “Kau terlihat sangat tampan,” katanya sambil mengagumi ciptaan Tuhan di hadapannya ini. Mas Haris akan memotong tangannya bisa tahu ia berani membelai pria lain dengan berani seperti ini! pekiknya sambil terkekeh senang dalam hati.

“Well, terima kasih,” sahut Samuel dengan kikuk karena wanita cantik ini berani membelainya dan memujinya secara terang-terangan.

“Katakan padaku, apa kau mau memberiku bayi yang tampan sepertimu?” tanya Hesti dengan berani mengungkap niatnya.

Samuel sangat terkejut mendengar ucapan wanita cantik di depannya ini lalu mendehem berniat menjauhkan diri. “Maaf, aku tidak tertarik,” kata Samuel dengan cepat. Dia suka bercinta dengan banyak wanita tapi bayi? Adalah hal yang harus ia hindari agar bisa hidup bebas tanpa harus terkekang dalam sebuah pernikahan!

Melihat buruan favoritnya akan pergi, Hesti langsung menahan Samuel dan menariknya ke sudut yang gelap. “Kau hanya perlu menghamiliku dan tidak perlu bertanggung jawab. Setelah aku hamil, aku malah akan memberimu uang, berapapun yang kau minta aku berjanji akan membayarnya!” kata Hesti dengan napas yang menderu.

“Hei, Wanita!” seru Samuel merasa terhina dengan ucapan wanita cantik ini.

Hesti tidak membiarkan pria incarannya ini marah dan menolak keinginannya karena itu ia langsung membungkam bibir pria itu dengan ciumannya. Tangannya bergerilya dan menyentuh kejantanan pria itu untuk membangkitkan hasratnya.

Tampak jelas kalau pria muda di depannya ini sangat terkejut dengan apa yang ia lakukan saat ini tapi ia tersenyum senang saat protes pria muda itu kini telah menjadi pagutan dan tanpa menunggu lama ia membalas ciumannya.

Samuel meremas payudara wanita asing ini dan mendesah karena menginginkan lebih.

Hesti tersenyum dan melanjutkan ciuman basah mereka. Erangan dan desakan untuk menyatukan diri membuat mereka harus menundanya karena banyak pengunjung yang lalu lalang di dekat mereka.

Samuel menatap mata elang teman-temannya yang mengawasinya dari tempat mereka duduk. “Apa kau mau melanjutkan ke apartemenku?” tanya Samuel sambil menenangkan wanita asing itu yang masih tampak berhasrat dan tidak mau menunda lagi.

Hesti mencoba mencerna permintaan pria muda itu kemudian mengangguk. “Tentu, bawa aku ke manapun yang kau mau,” kata Hesti masih terbuai dengan sentuhan jari-jari pria yang akan menjadi ayah dari bayinya ini.

Samuel tersenyum dan berjanji akan melanjutkan kenikmatan yang mereka lakukan, Samuel menarik tangan wanita asing ini sambil mengaitkan genggaman tangannya dan membawa wanita asing ini segera pergi dari klub.

Bab 3

Bab 3

Sesampai mereka di apartemen, Samuel membuka pintu dengan sedikit bersusah payah karena harus menggendong wanita yang sudah mabuk berat ini. “Apa besok pagi dia akan mengamuk kalau sampai mereka bercinta malam ini?” tanya Samuel saat menurunkan tubuh wanita itu di atas ranjangnya dengan perasaan ragu.

Hesti membuka mata kemudian tersenyum seraya mengamati pria asing yang sedang berdiri sambil memandanginya dengan tatapan ragu. Ia lega pria muda yang ia temui di klub barusan bukanlah khayalannya semata. Ia merasa senang karena mendapati rupa pria itu jauh lebih tampan dari yang terlihat di keremangan klub.

Ia menemukan pria tampan itu tampak sedang asyik memandanginya dengan tatapan ragu. Ia mengerti dan tidak segan untuk menarik pria asing itu kemudian menciumnya tanpa keraguan sedikitpun. Hasratnya bergejolak liar untuk merasakan bagaimana bercinta dengan pria lain selain suaminya dan segera menuntaskan misinya untuk mengandung seorang bayi.

“Bercintalah denganku,” desahnya di telinga pria itu tanpa merasa malu-malu. Untuk apa dia malu! Mereka hanya akan bertemu sekali ini karena itu ia harus menikmati semua prosesnya. Proses kehadiran bayinya ke dunia ini karena suaminya tidak bersedia memberinya bayi!

Samuel tidak bisa menolak ataupun membuat wanita itu sadar karena ia takut setelah wanita itu sadar, wanita cantik ini tidak akan lagi menginginkannya. “Aku akan membuatmu menginginkan aku terus seumur hidupmu, Sayangku,” bisik Samuel di telinga wanita yang sangat menggiurkan ini.

Hesti tertawa mendengar ucapan pria muda di pelukannya ini. “Yah, yah, yah, buat aku menjerit dan mencapai klimaks yang tidak akan pernah aku lupakan!” seru Hesti menjadi lebih bergairah mendengar ucapan pria muda yang sangat gagah ini.

Samuel tertawa senang mendengar tanggapan wanita cantik dalam pelukannya ini. “Siapa namamu, Cantik?” tanya Samuel sambil membuka pakaian wanita yang akan menghangatkan ranjangnya malam ini.

“Namaku? Apa itu penting?” sahut Hesti seraya terkekeh sambil bekerja sama membiarkan pakaiannya dilucuti satu persatu tanpa meninggalkan tatapan penuh hasrat ke arah pria gagah ini.

Samuel tidak bisa mengalihkan tatapan matanya saat semua pakaian sudah dilepaskan dari tubuh wanita cantik ini. Dia benar-benar tidak menyangka, tubuhnya sangat halus dan mulus! Ia seperti mendapatkan harta karun malam ini! “Sangat penting, agar aku bisa menyerukan namamu di tengah klimaksku, apa kau suka?” tanya Samuel lagi seraya terkekeh dan menyentuh perlahan tubuh wanita cantik ini.

Hesti mengerang, menikmati kehangatan tangan pria muda yang sedang menggerayangi tubuhnya dengan penuh gairah. Ia juga sudah tidak sabaran dan merasakan lebih! “Suka, sangat suka! Namaku Hesti. Kalau begitu aku juga perlu tahu siapa namamu, bukan?” tanya Hesti merasa penasaran seraya tersenyum memandangi pria di atasnya ini.

“Namaku Samuel,” jawab Samuel sambil mencumbu tubuh Hesti untuk membuatnya bertambah gairah.

“Samuel, itu nama yang sangat indah,” sahut Hesti seraya memejamkan mata menikmati sentuhan Samuel pada tubuhnya.

“Terima kasih,” sahut Samuel seraya tersenyum memandangi Hesti yang sedang menikmati sentuhannya.

“Buatlah aku melupakan segalanya Samuel,” pinta Hesti mengerang tertahan karena hisapan Samuel di payudaranya begitu membuatnya melambung ke awan-awan.

Samuel tersenyum sambil menjauh sebentar dari Hesti untuk membebaskan tubuhnya dari pakaian yang menyiksanya. Ia membuka seluruh pakaiannya dengan tangan gemetaran sambil menatap tubuh telanjang Hesti yang sangat indah dan berlekuk sempurna. Kulitnya sangat putih dan mulus. Payudaranya ranum dan manis. Tubuh Hesti benar-benar indah dan tidak bercacat noda sedikitpun. Ia sudah bisa menebak kalau Hesti berasal dari keluarga berada tapi kenapa ia menginginkan bayi darinya? Ia merasa kecewa saat melihat jari Hesti yang sudah mengenakan cincin kawin di jarinya! Meski merasa kecewa tapi tidak menyurutkan hasrat dan gairah yang dirasakan Samuel saat ini. Kalau begitu mereka hanya punya malam ini karena itu ia harus membuat malam ini berkesan untuk Hesti dan memastikan kalau dia akan selalu mencarinya di lain waktu.

Ia sudah banyak bercinta dengan gadis-gadis muda tapi tubuh mereka tidak seperti tubuh  Hesti, tubuh Hesti dan ukurannya terlihat sangat sempurna di matanya. Samuel menelan air ludahnya dengan susah payah tanpa bisa mengalihkan tatapan matanya dari tubuh Hesti yang sedang menggodanya untuk cepat menggaulinya!

Payudara Hesti yang ranum, lehernya yang jenjang, bibirnya yang merekah, semua itu membuat Samuel bertambah gairah untuk bergegas menyongsong hadiah pemberian dewa pada malam ini untuknya dan dengan hasrat yang menggebu, ia langsung menghampiri Hesti dan mencumbunya dengan bibirnya.

Hesti mengerang menyukai kehangatan mulut dan bibir Samuel yang mencumbu semua bagian tubuhnya dengan penuh gairah. Tubuhnya memanas dan menginginkan lebih. Ia meremas-remas rambut Samuel yang lebat dan membuatnya semakin bergairah.

Samuel tersenyum seraya menatap ekspresi Hesti yang menyukai kecupan dan lumatannya. Satu tangan perlahan turun ke area intim kewanitaannya dan memberikan belaian penuh kasih hasrat melalui jari-jarinya yang terkenal mampu memberi kepuasan kepada lawan jenisnya.

Hesti mengerang sambil meremas sprei karena sangat menyukai kehangatan jari-jari Samuel yang memenuhi dirinya saat ini. Tangannya bergerak maju dan mundur dengan tempo yang sengaja dipercepat, membuat Hesti seakan jadi gila dan tidak mau Samuel berhenti melakukannya.

“Jangan berhenti, kumohon!” pinta Hesti sambil mendesah dan meremas sprei dengan kuat.

“Apa kau menyukainya?” tanya Samuel dengan penuh percaya diri.

“Sangat!” jawab Hesti sambil menyambut ciuman Samuel dan menambah panas gairah yang ia rasakan saat ini.

Ciuman Samuel turun dan mengulum kedua payudara Hesti secara bergantian. Ia menikmati saat mata Hesti yang tanpa segan menatapnya seraya tersenyum.

Tangan Hesti membelai lembut rambut Samuel dan meremasnya sambil menekankannya  agar Samuel tidak menghentikan kulumannya yang membuatnya terus menjerit merasakan betapa gelombang kenikmatan menderanya saat kehangatan lidah dan mulut Samuel mencumbu payudaranya. Ia merasa sangat siap untuk menyatukan diri dengan Samuel tapi tampaknya Samuel ingin terus menyiksanya dengan kenikmatan saat ini. “Please, Sam, please!” pintanya setengah memohon.

Samuel tersenyum bahagia mendengar rintihan Hesti. Semuanya itu membuatnya tambah bergairah. Dia sangat menyukai erangan dan juga rintihan Hest yang memohoni agar ia bisa segera memberikan apa yang ia inginkan.

Dengan satu tangannya, ia segera menenangkan Hesti lagi di bawah sana dan hal itu membuat Hesti memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya dengan menyerukan erangan kenikmatan. Apalagi saat Samuel menggerak-gerakkan jari-jarinya dengan gerakan cepat. Ia melihat sendiri kalau Hesti benar-benar menyukai keterampilan jari-jarinya menari di dalam inti sari kewanitaannya yang sangat hangat dan basah saat ini.

Samuel berusaha untuk berlama-lama menggoda Hesti tapi pada akhirnya ia tidak tahan lagi dan segera menggantikan posisi.

“Ini!” kata Hesti langsung tersentak kaget saat Samuel memutar posisi tubuhnya dan menghadapkannya langsung dengan kejantanannya yang sudah mengeras dan berukuran sangat besar dibanding kejantanan mas Haris. Wajahnya langsung memerah karena berada dalam posisi yang canggung.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED