Suara dentuman musik yang begitu memekakkan telinga terdengar sangat kuat di dalam bangunan yang orang-orang kenal sebagai diskotik. Banyak pasangan muda mudi yang tengah menari di lantai dansa untuk menikmati panasnya malam ini.
Tak hanya di lantai dansa, di meja bar dan beberapa sofa yang disediakan pun penuh dengan pengunjung yang ingin menghabiskan malam di tempat tersebut. jika diperhatikan lebih detail, di sudut bar yang cukup gelap bahkan ada seorang wanita yang sedang asik menghisap kejantanan seorang pria. Panas? Tentu saja. Tak ada yang bisa melarang mereka.
Dan salah satu pengunjung bar adalah Renata. Gadis manis berusia dua puluh tahun yang malam ini sangat ingin menghabiskan waktunya ditempat penuh maksiat tersebut.
Kali ini gadis itu datang untuk melenyapkan beban pikirannya karena baru saja ia diputuskan oleh sang pacar. Ditinggalkan karena perempuan lain baginya begitu menyakitkan. Apalagi alasan sang kekasih meninggalkannya Hanya karena ia yang tak mau melepaskan mahkota berharganya yang selalu dituntut oleh kekasihnya tersebut.
Ya. Sang pacar sangat ingin keperawanannya yang dijadikan sebagai bukti perasaan sayang. Apa harus berhubungan intim dulu agar bisa dianggap sayang?
"Wine nya lagi..." teriak Rena yang sudah mabuk.
Pria yang sedari tadi sibuk membersihkan gelas dan menyajikan minuman untuk pelanggan di balik meja bar nya seketika menyipit menatap Rena.
"Maaf nona, anda sudah sangat mabuk." Ucap sang bartender.
Rena melirik bartender itu dengan tatapan tak suka. "Hei. Aku pelanggan di sini. Kau ingin aku laporkan pada atasanmu?"
Sang bartender hanya geleng-geleng kepala melihat Renata yang sudah nyaris pingsan namun masih bersikeras untuk minum.
Ia sebenarnya sudah terbiasa melayani Rena di sini, namun untuk mabuk berat seperti ini baru kali ini. Karena ia Malas untuk berdebat, akhirnya pria itu memberikan minuman yang diminta oleh Rena untuk bisa diteguk oleh gadis tersebut.
Rena menggapai gelas minumannya, namun selalu meleset. Ia melihat gelas itu berubah menjadi tiga yang membuatnya sulit untuk menggenggam.
"Kau mengejekku? Aku ingin mengambil gelasku kenapa kau menggesernya?" teriak Rena.
"Sudah kukatakan, kau sudah mabuk berat nona.. Aku tak menggesernya.."
"Diam kau. Jangan urus aku. Urus saja pekerjaanmu!" Teriak Rena kembali. Namun sedetik kemudian gadis itu menangis histeris, membuat beberapa pengunjung yang ada di sebelah Rena melirik miris kearahnya.
"Jangan perhatikan dia. Dia selalu seperti itu.." ucap bartender saat melihat wanita disebelah Renata sudah menatap Rena heran.
"Dia pelanggan di sini?" tanya si wanita. Bartender itu hanya mengangguk sekali untuk mengiyakan.
"Oo pantas.." balasnya singkat.
"Hampir setiap malam gadis ini di sini. Tapi biasanya ia bersama kekasihnya, tapi sekarang sendiri."
"Sepertinya putus cinta."
Rena langsung menatap tajam gadis di sampingnya, "Kau! Siapa yang kau sebut sedang putus cinta?" Teriak Rena. Rena hendak berdiri namun tak bisa. Kepalanya begitu berat.
Sementara itu dari arah pintu masuk, seorang pria berpakaian santai masuk ke dalam. Ia melirik dan mencari seseorang yang seharian ini sudah mengganggu tidur nyenyaknya.
Ia menajamkan matanya saat ia menelisik satu demi satu pelanggan yang ada dan netranya menemukan seorang gadis mabuk duduk di kursi meja bar.
"Kau nona kecil yang menyebalkan!" gumam pria tersebut saat matanya akhirnya menangkap sosok yang ia cari. Dengan perasaan kesal, ia melangkah menuju Rena yang sudah tak sadarkan diri.
"Kau menyusahkan sekali nona kecil.." ucap sang pria saat ia sudah sampai di sebelah Rena sudah mabuk berat itu.
"Kau datang Ervin? Syukurlah. Bawalah gadis ini pergi. Aku takut dia mengacau disini." Ucap bartender pada pria yang dipanggilnya Ervin tersebut.
"Dia sudah mengacaukan hariku Farel, kau tahu? Orangtuanya menelponku dan mengatakan gadis kecilnya menghilang dan minta untuk dicari saat itu juga." Curhat Ervin pada Farel sang bartender.
Bahkan Ervin terlihat kesal saat ia menceritakan apa yang terjadi padanya.
Farel seketika tertawa, ia tak tega melihat sahabatnya itu disiksa oleh gadis di depannya ini. "Aku akan membawanya." Ucap Ervin.
"Silahkan. Daripada dia mengacaukan bar ini.." jawab Farel dengan tampang menyebalkannya.
Ervin menatap Renata yang sudah terlelap. Sesekali ia menggeleng melihat tingkah Renata yang bergumam tak jelas. "Huuh! Ayo kita pulang nona.." Ervin mengangkat lengan Rena dan melingkarkan di lehernya, menarik Renata kebelakang agar gadis itu terbaring dan langsung ia tangkap. Setelah aman, Ervin memasukkan tangan kananya pada bagian bawah lutut Rena dan langsung mengakat gadis itu.
"Hati-hati bro, dia nyaris menghabiskan tiga botol wine. Jaga mobil mahalmu agar tak dimuntahkan.." teriak Farel sembari tertawa membuat Ervin mendelik jengkel.
Bobot tubuh Rena yang tak terlalu berat, memudahkan Ervin untuk membawa gadis itu menuju mobilnya. Sedangkan untuk mobil Rena, ia akan meminta sopir dari keluarga Rena yang menjemputnya.
*****
Matahari mulai menyapa. Kicauan burung sudah mulai saling bersahut-sahutan untuk menciptakan melodi sendiri di hari ini. cahaya matahari yang menyilaukan, dengan tak sopannya menyelinap masuk melalui celah gorden kamar Rena dan tepat mengenai wajah gadis tersebut.
Rena merasa terusik dan mulai menggeliat. Namun dengan cepat ia menyentuh kepalanya yang terasa sangat sakit. Kepalanya seperti ditusuk jarum membuatnya sulit untuk membuka mata.
Sebisa mungkin Rena mencoba menormalkan tubuhnya dan sedetik kemudian ia dibuat kaget dan langsung terduduk saat netranya melihat sang mami sudah berdiri dengan tangan dilipat ke dada.
"Sudah bangun nona manis?" ucap Mirna yang mulai jengkel dengan kelakuan sang anak.
Renata yang sadar dengan gaya bicara mami nya langsung tersenyum menampakkan semua gigi rapinya, "Eh Mami. Kok pagi-pagi udah datang aja mi..." ucap Rena dengan senyum manisnya.
Mendengar perkataan sang anak, Mirna langsung memajukan tangannya dan menarik kuping sang anak membuat Rena berteriak kesakitan.
"Pagi? Kamu bilang pagi? Udah jam sepuluh gini kamu bilang pagi?" Mirna semakin menarik daun telinga sang anak membuat Renata semakin mengaduh kesakitan dan mencoba melepaskan jeweran sang mami.
"Sakit Mi. Ampun, lepasin mami..!" teriak Rena dan ia bisa sedikit lega karena tangan ajaib maminya sudah terlepas.
Rena mengusap lembut telinganya yang terasa panas. "Mami main tarik aja. Nanti lepas gimana.."
"Biarin! Buat apa punya kuping tapi nggak mau dengerin omongan mami.." geram Mirna pada anak bungsunya itu.
Rena mencebik kesal. Ia melirik kesekeliling, dan benar dugaannya, ia berada di dalam kamarnya sendiri. Rena tampak berpikir, bukannya semalam ia ada di diskotik? Kenapa sekarang bisa disini?.
Rena langsung melirik mami nya kembali, dan seolah paham akan lirikan sang anak, Mirna langsung memberitahu, "Papi kamu marah besar kemaren saat tahu udah tengah malam kamu belum pulang." Ucap Mirna.
Renata seketika menggigit bibir bagian dalamnya saat sang mami bercerita. Apa? Papinya? Mampus sudah. Bisa dipastikan mobil bakalan ditarik lagi nih.
Rena menatap maminya. Ia mencoba mengeluarkan jurus andalannya jika sedang dimarahi. Apalagi kalau bukan puppy eyes. Biasanya cara itu akan mempan, dan ia berharap, cara itu masih bisa ia gunakan untuk membujuk sang mami.
*****
"Mi..." Renata menatap maminya dengan wajah memelas mengiba.
"Tidak! Mami nggak mau lagi bantuin kamu. Ujung-ujungnya bakalan diulang lagi." Ucap Mirna tegas.
"Tapi mi.."
"Ini resiko yang harus kamu tanggung. Kamu sudah dewasa, jadi silahkan tanggung jawab sendiri.." Mirna langsung berbalik arah dan berjalan menuju pintu. Dengan cepat Renata mengejar walaupun ia merasa kepalanya masih sakit.
"Mi, Mi, Rena mohon mi. Bujuk papi ya.." mohon gadis itu dengan mata memelasnya.
"T.I.D.A.K.!! kamu harus belajar bertanggung jawab.." tegas sang mami.
"Tapi kali ini Rena janji mi. Rena nggak akan keluar malam lagi. Kemaren itu Rena ada kejadian tragis mi..."
Mirna melirik sang anak. "Kejadian tragis?" tanyanya penasaran.
Renata mengangguk, "Tragis banget mi.." balasnya.
"Emang kamu ngapain? Kecopetan?"
"Kecopetan nggak mungkin Rena bisa ke club mi.."
"Trus apa dong? Mobilnya mogok?"
Rena lagi-lagi menggeleng, "Dimarahin dosen?"
"iiiii bukan mami. Tapi diputusin Dinar."
Mendengar jawaban sang anak, Mirna langsung melayangkan telapak tangannya pada lengan Rena yang terbuka membuat anaknya itu mengaduh.
"Mami! Kenapa dipukul..!" teriak Rena.
"Kamu ya. Benar-benar. Cuma gara-gara putus cinta, kamu nyiksa diri sampai segitunya?"
"Iiii, mami, Dinar itu cinta mati Renaaaa.." rengeknya.
"Iya! Saking cinta matinya, kamu dibuat gila sama cowok itu. Apa bagusnya sih si Dinar Dinar itu..."
Rena melirik maminya kesal, "Mami nggak tahu rasanya jatuh cinta..!" teriak Rena yang lagi-lagi mendapat pukulan dari sang mami.
"Kamu kalau bicara suka sembarangan. Kalau mami nggak tahu rasanya jatuh cinta, nggak akan ada papi kamu di disi. dan kamu sama Gilang abang kamu nggak akan ada di dunia ini.." geram Mirna.
Renata langsung mencebikkan bibirnya ke bawah. "Tapi Rena sayang sama Dinar Miiiii..."
Mirna mendelik jengah melihat tingkah sang anak gadis. "Tapi Dinarnya nggak sayang sama kamu.."
"iiii Mami masa gitu amat sama Rena.."
"Biar kamu sadar." Ucap Mirna, "Udah! Jangan merengek lagi, sekarang kamu mandi! karena papi kamu udah nungguin di bawah."
Mendengar papi nya disebut, Renata langsung menatap mami nya horror. Alamat bakalan ada perang besar ini. ya Tuhan, selamatkan Rena, Ucap gadis itu membatin.
Rena melihat maminya sudah turun ke bawah, dan kini gilirannya untuk bersiap-siap terutama dalam hal menghadapi papi nya yang ia yakini sudah marah besar di bawah.
"Ya Tuhan, selamatkan Rena." Ucapnya sembari berjalan menuju kamar mandi.
Sebelum masuk, Rena menarik satu handuk bermotif Hello Kitty yang tergantung di jemuran handuk di kamarnya dan langsung berjalan menuju kamar mandi untuk bersih-bersih dan bersiap diri menghadapi amukan sang papi tercinta.
Ia bahkan harus dan harus siap dengan mentalnya dan telinganya. Ia tahu bagaimana papi nya jika mengamuk dan ia paham betul, bahkan maminya tak akan sanggup membujuk.
*****
Setelah selesai memoles sedikit wajahnya dengan bedak dan sedikit liptin di bibirnya, Rena mulai mengatur nafas. Menariknya kuat dan melepaskannya secara perlahan.
Ia melakukan hal tersebut sebanyak tiga kali sampai ia merasa cukup nyaman dengan suasana hatinya saat ini. Setelah yakin untuk turun ke bawah menemui Papinya, ia pun akhirnya keluar dari kamar dan ya, semua masih sama, masih dengan Do'a terbaiknya.
Karena ia tak yakin bisa melewati amukan papinya sekarang. Dan hanya Tuhan yang bisa membantunya.
Selama berjalan menuju pintu kamarnya, ia tetap selalu merapalkan doa, berharap keajaiban datang saat ia turun ke bawah nanti.
Namun sepertinya itu hanya akan menjadi angan-angan Rena saja. Karena Baru saja langkahnya sampai di tangga tengah, ia sudah mendapat lirikan tajam dari papinya. Membuat Rena kesusahan meneguk salivanya sendiri.
Ia serasa menciut dan tak berani untuk kembali melangkah. Namun apa boleh buat, ia tetap harus melangkah dan menemui papinya yang sudah menunggu.
Di sebelah papinya, Rena melihat sang mami sudah duduk manis sembari menyesap minuman. Sepertinya hidupnya akan tamat hari ini. Karena sang mami yang biasa menolongnya kini pun bersikap acuh tak acuh padanya.
Rena turun secara perlahan dan berjalan mendekati papinya yang tengah memasang wajah kesal. Bulu kuduk Rena merinding seketika. Ia terbayang akan amukan murka papinya. Apalagi melihat wajah pria paling tampan baginya itu sekarang tampak tak enak, jadilah ia harus siap-siap dengan resiko yang ada.
Rena menghembuskan nafasnya pelan sebelum ia mulai menyapa.
"Pagi pi.." ucap Rena takut-takut.
"Siang!" jawab pria itu dingin tanpa melihat wajah Rena.
Glek! Ini mengerikan, batin Rena.
Lagian lo bego banget Ren. Udah tahu ini siang ,lo malah sapa nya pagi. Kan cari ribut namanya.
"Si....siang pi.." ulangnya. Pria itu hanya membalas dengan gumaman singkat.
Rena menatap maminya. Wanita itu masih cuek padanya. Terbukti kini Maminya itu tengah mengotak atik chanel di televisi.
"Pa..papi.. Sebenarnya Rena..."
"Ini kunci mobil kamu kan?" Ucap Papinya bertanya sambil memperlihatkan kunci mobil yang ada di tangannya pada Rena. Ucapan Rena seketika terhenti.
Rena melirik benda yang begitu ia kenal. Kunci dengan gantungan boneka Hello Kitty yang cukup besar sebagai mainannya. "Iya Pi.." Jawab Rena pelan. "Me..memangnya ada apa pi sama kunci itu?" Rena merasakan firasat buruk. Ia tak yakin firasatnya ini hanya firasat saja atau akan jadi kenyataan.
"Ini kemaren dikasih Pak Hendra sama Papi. Mobil ini ia jemput kemaren ke diskotik tempat kamu nyaris mati."
GLEK!
Rena tak berani menatap wajah papinya. Ia terus saja menunduk menatap ujung jari kakinya yang sungguh tak ada untungnya ia perhatikan. Namun cukup terlihat bagus untuk saat ini. Karena jika harus menatap wajah murka sang ayah, ia tak yakin akan bertahan cukup lama untuk berdiri di tempatnya saat ini.
"Kunci ini akan papi tahan dan..." ucapan papinya terputus saat Rena mengangkat kepala dan hendak protes, "Dan mulai hari ini, kamu kemana-mana harus dikawal oleh Ervin."
Renata awalnya berekspresi bingung. Ia mencoba mengingat nama Ervin yang ia pikir ia mengenalnya. Dan benar saja, Rena langsung melotot kaget saat ia mengingatnya. Bahkan jika ia tak cepat sadar, bola matanya mungkin akan nyaris terlepas. Lebay memang, namun itulah kenyataannya karena ia yang sungguh terkejut mendengar pernyataan papinya.
Ini apa-apaan? Pernyataan macam apa ini.
Ervin? Cowok super duper menyebalkan itu? Oh nooooo! Bisa gila dia jika kemana-mana harus sama si cowok tengil, Ervin. Dan lagi, apa papinya tak bisa cari yang tampan? Eiuuuu, Ervin sungguh tak tampan sama sekali.. Batinnya merutuk kesal.
Ia bahkan masih ingat bagaimana Ervin kecil dulu. Gendut dan dekil. Tak ada tampan-tampannya sama sekali. Bagaimana mungkin papinya bisa meminta Ervin untuk menjaganya. Bisa hancur harga dirinya jika teman-temannya tahu.
Rena tak terima. Ia ingin mengajukan protes. Siapa tahu saja ia bisa mengajukan banding.
"Pi.. ini nggak adil dong."
"Nggak adil untuk siapa? Kamu mau saingan sama siapa? Yang papi hukum itu kamu."
Rena hendak protes kembali namun langsung di potong papinya, "Tak ada alasan. Tiap kamu ingin pergi, kamu lapor sama papi dan papi akan minta Ervin datang."
Apa-apaan ini. Rutuknya membatin.
"Pi, Tapi Rena nggak suka sama Ervin. Papi tahu kan Rena gimana di kampus. Bisa malu Rena kalau dikawal sama Ervin. Lagian kenapa Ervin sih? Masih banyak yang lebih tampan."
"Memangnya Ervin kenapa? Kamu belum bertemu Ervin lagi?"
Mana mungkin aku mau ketemu sama si gendut itu. Bisa malu dan jatuh harga dirinya.
Pria itu menghela nafas panjang, "Papi nggak minta kamu suka sama dia. Ervin sendiri belum tentu naksir sama kamu. Anak gadis kok suka ke diskotik.." ejek papinya membuat Renata mendadak jadi gadis ngenes paling menderita.
Renata mencelos seketika. Ia menatap papinya nanar. Ia juga tak akan suka sama Ervin. Cowok kusam seperti itu siapa yang akan tertarik.
Sunggung, ia masih ingat bagaimana Ervin dulu. Kulit gelap dan nggak rata warnanya, gemuk, rambut keriting. Oh noooo. Nggak kebayang kalau ia harus kemana-kemana ditemani Ervin. Bisa jatuh harga dirinya sebagai perempuan cantik.
Ia juga tak mau nanti di mata teman-temannya, ia akan ditertawakan. Sungguh itu akan sangat memalukan.
Rena kembali menatap papinya dengan tatapan kesal.
"Papi jahat.." Teriak Rena.
"Kalau papi jahat, papi akan biarkan kamu begini terus dan bikin kamu terpuruk." Ucap Papinya dengan nada sedikit meninggi, "Kemaren kamu mabuk. Beruntung Ervin bisa nemuin kamu di tempat laknat itu. Kamu nggak sadarkan diri. Kamu pikir apa yang akan laki-laki bejat lakukan sama kamu kalau Ervin nggak cepat datang!!" lanjutnya.
Rena melongo mendengar pernyataan papinya. "Ervin? Ervin yang bawa Rena pulang? Iiiihhh, tubuh Rena sudah disentuh sama si gendut itu.!" Rengeknya.
Renata menatap papinya kesal. Apalagi saat tahu fakta bahwa Ervinlah yang membawa dirinya pulang.
Kenapa harus Ervin? Sebanyak itu sopir di rumah dan kantor papi, kenapa harus Ervin. Lagian, kapan baliknya sih tu cowok ke Jakarta.
Dan kenapa papinya bisa mempercayai pria gendut itu begitu saja. Sungguh, Ia dibuat kesal bukan main.
*****
"Pi, Rena--"
"Pokoknya, mulai hari ini, kamu kemana-mana harus diantar jemput dan ditemani sama Ervin. Nggak ada sanggahan lagi.." Renata kembali menarik ucapannya saat kalimat terakhir yang papinya ucapkan berhasil menghancurkan keinginannya untuk berbicara.
Renata melirik maminya, mencoba mencari peruntungan dari sang mami. Siapa tahu mami tercantiknya itu mau membujuk sang papi. Namun Rena kembali mencelos saat sang mami justru membuang muka darinya.
Wanita cantik itu lebih suka melirik cemilan di atas meja ketimbang sang anak yang tengah meminta pertolongan.
Kesal diacuhkan, Renata langsung berjalan keluar rumah, "Mau kemana kamu?" teriak Irman sang papi.
"Mau ke mini market depan. Telpon Ervin juga?" balas Rena kesal.
Irman mengusap dadanya untuk menenangkan diri. Kelakuan Renata sungguh membuatnya naik darah. Beruntung ia memiliki istri yang bisa menenangkannya, jadilah ia bisa kembali nyaman.
"Sudah pi. Nanti papi sakit." Ucap Mirna lembut.
"Dia anak perempuan kita satu-satunya Mi, tapi kenapa kelakuannya lebih heboh dari abangnya Gilang." Ucap Irman dengan raut wajah sedih.
"Sudah Pi. Kita kan sudah minta bantuan Ervin. Siapa tahu Ervin bisa mengajarkan anak kita dan menjaga Rena dengan baik."
Irman mengangguk, "Semoga saja. Makasi ya sayang. Beruntung papi punya istri seperti mami." Mirna tersenyum manis mendengar rayuan suaminya.
Irman kembali duduk di sofa dan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa tersebut. Ia berharap dengan meminta Ervin untuk mengawasi Renata, anaknya itu bisa berubah dan patuh dengan peraturan yang ada. Berubah menjadi gadis baik-baik tanpa ada embel-embel bar atau klub malam lagi dihari-hari sang anak gadis.
*◊*◊*
Rena membuka pintu supermarket yang ada di dekat rumahnya dengan kasar. Ia meraih satu troli dorong dan langsung berjalan menuju rak cemilan. Dengan kesal, ia menarik banyak cemilan dan memasukkan ke dalam keranjang dorongnya, dimakan atau tidak, itu akan jadi urusan belakangan.
Yang penting hatinya tenang sejenak dengan melihat banyaknya cemilan di dalam keranjang belanjaan yang ia dorong kemana-mana selama berada di dalam.
Setelah puas, Rena lalu berjalan menuju rak berisi coklat-coklat kesukaannya dan mengambil coklat disana tanpa mengira. Berbagai merek dan harga ia turunkan semua dan melemparkannya ke dalam troli. Setelah puas di rak khusus coklat, Ia juga berjalan menuju rak box eskrim dan mengambil sesukanya.
Setelah puas, Renata lalu berjalan menuju kasir untuk membayar. Ia tak peduli, tumpukan cemilan di keranjang dorongnya membuat orang-orang melirik takjub padanya. Yang jelas sekarang ia sedang kesal dan ingin melampiaskan dengan makanan.
Saat itu antrian cukup panjang dan Rena harus melewati tujuh pembeli dulu sebelum tiba gilirannya untuk membayar.
Beruntung kemana-mana ia selalu membawa kartu debit yang papinya sediakan untuknya. Dan sekarang sambil menunggu gilirannya membayar, Rena selalu merapalkan doa berharap kartunya tak di blokir papinya. Jika diblokir, Rena sudah tak tahu lagi harus melakukan apa.
Saat tiba gilirannya, Rena menunggu kasih menghitung makanannya yang menggunung tinggi.
"Totalnnya satu juta tiga ratus dua puluh dua ya kak.." ucap sang kasir pada Rena saat ia selesai menghitung.
Rena mengangguk, lalu menyerahkan dengan ragu kartu tersebut. Dan ia bisa bernafas lega setelahnya karena kartu debit yang ia bawa masih bisa dipakai alias tak di blokir sang papi.
Setelah selesai membayar, Renata langsung keluar. Sesampainya diluar, ia harus meletakkan kembali troli yang tadi ia pakai, dan menenteng semua belanjaanya yang banyaknya tak kira-kira. Renata bahkan membawa nyaris tujuh kantong besar belanjaan membuat dirinya kesusahan bahkan tak pelak ia juga tersandung plastik belanjaannya sendiri.
Rasa jengkel Renata bertambah semakin besar. Sudah di rumah ia dimarahi papinya, di sini plastik-plastik belanjaan bahkan juga tak mau bersahabat dengannya.
Saking kesalnya, Renata melemparkan ke lantai semua belanjaanya dengan kesal. Beruntung sang kasir tadi mengklip bagian tengah plastik, jadi belanjaan Rena tak berhamburan keluar. Ia menatap nanar semua kantong tersebut, nyaris Renata menangis sebelum sebuah suara menarik kembali semua air matanya.
"Butuh bantuan?"
Niat Renata yang ingin menangis langsung terhenti saat ia melihat sosok yang sama sekali tak ia kenal berada tak jauh dari tempatnya berdiri.
Sejenak, ia cukup dibuat terpengaruh dengan sosok tersebut. Pria itu sangat tampan. Namun dibalik kagumnya, Rena langsung menyadarkan diri.
"Siapa lo? Jangan sok kenal sama gue." ucap Rena marah. Ia sudah kesal ditambah lagi ini. Makin menjadi emosinya.
"Lo nggak kenal gue?"
Rena kembali menyipitkan matanya melihat cowok tersebut.
Dih! Kegantengan banget sih ni orang.
Pria itu mendelikkan matanya jengah. Ia berjalan mendekati Rena lalu menjulurkan tangannya, "Kalau lo nggak kenal Gue, okelah kita kenalan lagi. Nama gue Ervin, dan seingat gue kita pernah kenal waktu kecil dulu."
Deg!
Renata mendadak merasakan kepalanya pusing. Ia menatap tak percaya pria di hadapannya ini.
Nggak mungkin. Nggak mungkin ini Ervin. Ervin itu gendut, item dan nggak banget.
"Kenapa? Lo bingung kenapa gue nggak seperti dulu?"
Tanpa sadar Rena mengangguk membuat Ervin tertawa.
Tak!
Ervin menjetik kening Rena, "nggak selamanya orang terlihat sama seperti saat dia masih kecil, Rena."
MAMIIII! PAPIIII! CUBIT RENAAAA.
~
Pagi itu Ervin yang baru saja bangun tidur karena kelelahan akibat seorang gadis yang berhasil mengacaukan jam istirahatnya. Ia menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya dan berjalan menuju kamar mandi. Bersih-bersih dipagi hari akan terasa segar, walaupun tak bisa dikatakan pagi juga, karena saat ini jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat dua puluh satu menit.
Hari ini ia berencana akan menemui om Irman. Sahabat papanya yang tak lain adalah papi dari Renata, gadis yang semalam ia jemput dalam keadaan mabuk berat. Beruntung Rena tak muntah di mobilnya.
Setelah rapi dengan pakaian santainya, Ervin langsung turun ke bawah menemui sang bunda yang tengah asik menyirami tanaman. Dengan pelan Ervin melangkah dan saat dirinya tepat berada dibelakang sang bunda, ia langsung memeluk wanita paruh baya tersebut dari belakang, "Pagi nyonya Hermawan yang cantiknya ngalahin bidadari.." ucap Ervin dengan sedikit candaan.
Nyonya Hermawan tersenyum geli mendengar sapaan anak satu-satunya itu. "Pagi juga sayang. Baru bangun banget?" Ervin mengangguk dengan wajah sedikit ditekuk.
"Capek bunda. Ini gara-gara cewek menyebalkan anaknya om Irman."
Nyonya Hermawan tertawa mendenga aduan sang anak, "Ya mau gimana lagi. Kamu tahu kan alm ayah kamu dengan om Irman itu bersahabat dekat, bahkan mereka nyaris seperti saudara kembar yang tak bisa dipisahkan."
Ervin mengangguk. Ia paham tentang yang satu itu. Iya juga tahu seberapa sayangnya ayahnya dulu saat masih hidup dengan Om Irman. Bahkan saat perusahaan ayah butuh dana besar, perusahaan om Irman selalu membantu, begitupun sebaliknya.
Dan setelah ayah tiada, Ervin tak bisa begitu saja memutuskan tali persaudaraan yang sudah dibentuk oleh kedua pria tersebut. Jadilah, untuk terus menjaga, Ervin selalu menanyakan kabar om Irman dan sekarang, ia mendapatkan amanat dari sahabat ayahnya itu untuk menjaga Renata, gadis manja anak bungsu dari Om Irman yang nakalnya membuat emosi naik sampai ke ubun-ubun.
"Hari ini jadi kerumah om Irman?"
"Jadi bunda.."
Nyonya Hermawan membawa sang anak masuk dan berjalan menuju meja makan. Menyiapkan makanan yang tadi sudah ia buatkan untuk sang anak.
"Kamu makan dulu ya sebelum pergi, biar kamu ada tenaga menghadapi Renata." Ervin tertawa sedikit keras saat mendengar celetukan bundanya.
Ervin meraih ponselnya saatia merasakan ada getaran di ponsel tersebut. Ternyata ada panggilan dari Om Irman. Dengan cepat Ervin mengangkatnya, "Pagi Om.." sapa Ervin lebih dulu.
"Pagi juga nak. Kamu dimana?"
"Masih di rumah om, mau sarapan. Ada apa Om?"
"Nggak, ini om mau minta kamu untuk datang cepat hari ini, sepertinya gadis nakal itu akan berulah lagi.." Ervin tersenyum mendengar ucapan Om Irman yang diselipkan sedikit gerutuan dari pria tersebut.
"Siyap om. Tapi Ervin makan sebentar ya om. Laper..heheh"
"Ya sudah. Kamu makan yang banyak ya, biar ada tenaga mengahdapi putri om yang nakal itu.." sekali lagi Ervin nyaris tergelak karena ucapan Om Irman sama persis dengan ucapan bundanya yang meminta makan lebih banyak agar memiliki tenaga untuk menghadapi Renata.
"Iya om. Setelah makan, Ervin langsung ke sana.."
"Ya sudah. Makasi ya nak.."
"Sama-sama om."
Panggilan telpon pun sudah terputus. Ervin tanpa menunggu waktu lagi, ia langsung melahap nasi goreng buatan bundanya yang baginya makanan paling lezat di dunia, mengalahkan makanan para Chef terkenal.
*◊*◊*
Ervin baru saja sampai di halaman rumahnya Renata. Dan ternyata kedatangannya sudah disambut oleh pria tersebut beserta ibunya Renata. Setelah keluar dari mobil, Ervin berjalan menghampiri mereka berdua dan menyalami satu per satu.
"siang Om, siang tante.." ucapnya sopan.
"Siang juga sayang,gimana kabar bunda kamu? Sehat?" Mirna bertanya lebih adulu.
"Sehat tante. Kata bunda, hari ini tante mau pergi jalan-jalan sama bunda?"
"Oh iya. Tante mau belanja ke mall. Hehehe.."
Ervin menyahuti dengan senyuman. Inilah keluarga mereka, yang anehnya, disaat orang tua mereka akur bahkan sangat akrab, sang anak justru tak bisa disatukan. Sebenarnya hanya Renata saja, karena bagi Ervin, dia tak pernah mencari masalah dengan gadis tersebut.
"Oya nak, om bisa minta tolong?" Ervin langsung mengangguk.
"apa om?"
"Tadi om bertengkar dengan Renata. Kunci mobilnya Om sita dan dia langsung keluar. Katanya ke supermarket depan. Bisa kamu cek nak ke sana."
Ervin langsung memutar tubuhnya ke belakang, melihat supermarket yang berada tak jauh dari rumah itu.
"Bisa Om. Ya udah, Ervin ke sana dulu ya om." Ervin lagi-lagi menyalami pasangan suami istri tersebut dan langsung pergi.
"Ervin anak yang sopan ya pi.." ucap Mirna terharu.
"Karena itu, papi yakin Ervin bisa mengajarkan anak kita Mi."
"Mudah-mudahan pi.."
"Satu lagi yang buat papi yakin menyerahkan Rena pada Ervin itu, mami tahu kan Ervin seorang karate dengan tingkatan DAN 3. Ia juga sudah banyak mendapatkan medali emas dari pertandingan karate antar daerah bahkan antar negara. Jadi papi yakin, Ervin bisa menjaga anak kita dari orang-orang jahat yang berniat merusak." Mirna mengangguk setuju. Ia juga berharap, Ervin bisa merubah sifat Rena yang pecicilan menjadi gadis feminim yang selalu menjaga sikap.
*◊*◊*
Sudah lima belas menit Ervin bersandar di dinding luar supermarket. Ia menunggu seorang gadis yang begitu menyebalkan selesai berbelanja.
Tadi Ervin sudah masuk ke dalam untuk mencari keberadaan Renata. Saat netranya menemukan gadis itu, Ervin langsung keluar dan memutuskan menunggu di luar saja. Setidaknya ia tahu, Renata benar-benar di dalam dan tak berbohong.
Lagi-lagi Ervin melirik jam tangan yang melingkar di tangannya. Sudah nyaris jam dua belas.
Braakk!
Suara bantingan mengganggu pendengaran Ervin. Ia segela melirik ke kiri dan menemukan Renata dengan belanjaannya yang berserakan di lantai.
Sepertinya gadis itu tengah kesal, batin Ervin.
Ervin memutar tubuhnya lurus menghadap Renata, namun masih setia bersandar, "Butuh bantuan nona?"
FLASHBACK OFF
******
Rena terusik dan langsung melirik ke depan. Ia yang tadi kesal semakin kesal dengan kehadiran pria yang menjadi salah satu alasan kekesalannya hari ini.
ERVIN GERALDIN HERMAWAN
Dengan tatapan tak suka, Renata menatap tajam Ervin yang melangkah mendekat ke arahnya, "Mau apa lo ke sini?" bentak Renata kesal.
Rasa kesalnya semakin meningkat saat tahu jika pria gendut yang ia kenal dulu saat kecil ternyata pria yang sudah membuatnya harus dipantau 24 jam. Kecil menyebalkan, besarnya jauh lebih menyebalkan.
"Wuissh. Jangan galak-galak neng. Gue ke sini Cuma mau nyari gadis yang dari semalam udah nyusahin gue.." Ervin menghentikan langkahnya tepat di depan Renata, "Dan pagi ini, gue dihubungi lagi sama papi si gadis karena anaknya kabur." Tatapan Renata semakin tajam pada Ervin.
Tanpa banyak bicara, Rena langsung memungut kembali kantong belanjaan yang tadi ia jatuhkan dan berjalan meninggalkan Ervin. Kantong-kantong tersebut cukup mengganggunya. Bahkan Ervin bisa menyadari itu dari cara jalan Rena tang terganggu.
"Butuh bantuan nggak?" terika Ervin namun tak digubris oleh Renata.
Ervin hanya tertawa kecil, ia langsung berjalan cepat mendekati Rena dan langsung meraih semua belanjaan yang tadi Rena bawa, "Sini gue bantuin. Pamalik nolak bantuan.."
Rena yang masih kesal, mencoba kembali merebut kantong tersebut namun masih dalam mode diamnya. Sementara Ervin mencoba terus mengelak bahkan ia berjalan lebih cepat agar Renata tak bisa merebut kantong tersebut.
Rena sudah tertinggal cukup jauh. Ervin sadari itu saat ia tak mendengar langkah kaki di belakangnya. Dan tebakannya benar, karena Rena masih berdiri di posisi yang sama, "Ngapain lo di situ?! Buruan ke sini. Atau gue laporin papi lo lagi!" ancaman Ervin berhasil. Walaupun dengan hentakan kaki kesal, Rena akhirnya mau melangkah mengikuti Ervin dan pulang ke rumahnya.
"Haah.. sampai juga..." lenguh Ervin sembari peregangan. Ia meletakkan belanjaan Renata di ruang keluarga dan langsung duduk di sofa empuk yang ada di ruangan tersebut. Beberapa saat kemudia, Renata muncul dengan wajah kusutnya, "Tu wajah setrika dulu neng. Kusut amat.."
"Diem Lo!" bentak Renata keras.
"Ada apa ini? Ya Tuhan Rena, ini semua belanjaan kamu?" Mirna yang baru datang tak percaya kalau anaknya belanja sebanyak itu.
"Iya tante, lengan Ervin sampai sakit karena dipaksa Rena untuk bawa semuanya.." aduan Ervin yang tak mendasar membuat Rena membelalakkan matanya lebar pada Ervin. Sedangkan Ervin, ia malah menggoda Rena dengan satu kedipan mata.
"Rena nggak minta dia bawain mi.." ucap Rena melakukan pembelaan, "dan lo! Jangan mengada-ada. Kapan gue minta lo bawain belanjaan gue.!"
"Rena.. yang sopan sama Ervin.."
"Mi, dia itu cowok nyebelin yang pernah Rena kenal seumur hidup Rena. Dan kenapa papi mesti minta bantuan dia sih, menyebalkan.." gerutunya..
"Itu karena papi percaya sama Ervin." Suara Irman terdengar, "Itu karena papi yakin Ervin bisa didik kamu menjadi gadis yang feminim dan tak pecicilan lagi."
"Tapi pi..."
"Sudah. Papi nggak mau dengar bantahan kamu lagi. Cukup terima dan ingat kata papi tadi, kamu kemana-mana harus sama Ervin." Ucap Irman tegas dan tak bisa diganggu gugat lagi.
****
Renata menatap papinya lirih. Ia memutar tubuhnya dan menatap Ervin dengan tatapan kebencian. Ia benar-benar kesal dengan Ervin. Pria itu berhasil mengacaukan kebebasannya.
"Sudah. Papi mau antar mami kamu dulu ke rumah tante Rima. Dan Ervin, kamu nggak keberatan kan om minta tolong kamu buat jagain Rena sebentar di sini sampai om kembali. Tapi mungkin agak lamaan nak."
"Pi!!" teriak Rena kesal.
"Oh, nggak apa-apa om. Om tenang aja, Ervin bakalan jaga Rena dengan baik."
"Ya sudah. Om pergi ya."
"Hati-hati om. Senang-senang sama bunda ya tante.." Mirna tersenyum menjawab ucapan Ervin.
Setelah kepergian orang tua Renata, gadis itu langsung berlari menuju kamarnya.
"Makanannya nggak di bawa nih? Jangan salahin kalau gue makan ya!" teriak Ervin, namun bukan jawaban yang ia dapatkan, justru suara keras batingan pintu yang membuat Ervin geleng-geleng kepala.
Ervin merasa masa bodo. Ia meraih satu kantong plastik milik Rena dan membukanya. "Wuiihh coklat.." ia meraih satu coklat yang terkenal di Indonesia, buatan anak negeri dengan cirikhas kacang almond nya.
Setelah meraih satu coklat, ia kembali duduk menikmati sembari menonton tivi. Sementara di kamarnya, Renata dibuat kesal setengah mati. Gadis itu mencak-mencak tak jelas di atas ranjangnya. Jangan lupakan sumpah serapah yang ia keluarkan untuk pria yang kini tengah bersantai di ruang keluarga rumahnya.
Suara perut membuyarkan kebar baran Rena. Dengan cepat ia memegang perutnya yang memang belum terisi sedari pagi. Ingin ke bawah, ia malas bertemu Ervin si cowok menyebalkan.
Lagi-lagi suara perut terdengar. "Lapernyaa.." Gumam Renata.
"WOI! CEWEK BARBAR! LO NGGAK MAKAN? KATA MAMI LO,LO BELUM MAKAN...!!!"
Suara teriakan Ervin terdengar sangat jelas di telinga Renata. "Apaan sih teriak-teriak. Dia kira di sini hutan.." gumamnya semakin kesal.
Sekesal-kesalnya Rena, rasa lapanya lebih menguasai dirinya saat ini. bermodal menurunkan gengsi, iapun akhirnya memutuskan keluar kamar dan langsung disambut dengan tawa mengejek dari cowok menyebalkan bernama Ervin tersebut.
"Nona manis bisa laper juga ternyata.." goda Ervin.
"Itu coklat gue kenapa lo makan?"
Ervin melirik coklat yang ada di tangannya, "Oh! Anggap ini sebagai upah gue bawain belanjaan lo dari supermarket." Ucap Ervin santai membuat Renata melotot kesal.
"Gue nggak minta bantuan lo!"
"Tapi ekspresi wajah lo mengisyaratkan untuk gue bantu.."
"Gue nggak minta!!!" kali ini Renata berteriak cukup keras.
Ervin berdecak. Ia tak lagi mengajak Rena bicara. Ervin kembali melanjutkan aksi menikmati coklat sambil menonton tivi nya.
"Nona barbar!" panggil Ervin yang langsung mengusik Rena yang tengah membuka satu kantong belanjaan. "Gue laper. Bikinin makanan dong.."
Rena melotot tak percaya. Setelah ketenangannya diganggu, lalu apa sekarang? Minta dibikinin makanan? Yang benar saja..
"Gue bukan pembantu lo!" desis Rena tajam.
"Yang bilang lo pembantu gue siapa? Gue bilang gue lapar dan gue minta tolong sama lo bikinin makanan." Jelas Ervin.
"ck! Bikin sendiri.." Rena langsung meraih beberapa coklat dan ciki yang ia beli tadi dan langsung berdiri bermaksud kembali ke kamarnya. Namun baru satu langkah ia berjalan, pergerakannya seketika dihentikan oleh genggaman tangan Evin di ujung baju kaos yang ia kenakan.
"Gue laper Ren.." ucap Ervin dengan mata memelas sedih seperti anak kucing. Rena mencelos melihat cara Ervin membujuk. Namun ia tak boleh tergoda. Ervin itu cowok menyebalkan dan sampai kapanpun akan terus menyebalkan. Ia tak boleh tergoda dengan tatapan memelas cowok dihadapannya ini.
"Bikin sendiri..." tolak Rena kembali.
"tapi gue nggak bisa masak.."
"Bodo'" jawab Renata acuh. Ia tak peduli mau Ervin kelaparan, mau dia nanti bakalan sakit karena tak makan, Rena tak peduli. Ia masih kesal dengan Ervin yang selalu merusak hari-harinya.
"Renata Aloeta Irman..." kali ini Ervin menyebut nama Renata dengan penuh, ia masih mencoba peruntungannya agar renata mau membuatkan dirinya makanan.
Renata memejamkan matanya kesal. Ia menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya kuat, dengan tatapan tajam ia melirik ke belakang tepat di mata Ervin. "Lo bisa masak sendiri. Bikin apa kek.." ucap Rena yang masih mencoba menolak.
"Rena.... gue Laper.." ucap Ervin kembali mengiba, membuat Rena kesal setengah mati. Beginilah Ervin. Sejak kecil Rena memang tak bisa menolak bujukan mematikan Ervin yang satu ini. kegilaan Ervin yang seperti ini sudah ia rasakan sejak dulu. Dan karena itu, Ia tak pernah bisa akur dengan pria yang tengah mengiba di hadapannya ini.
*◊*◊*