Bab 2

Bel istirahat baru saja berbunyi membuat seluruh siswa berhambur keluar kelas untuk mengisi perut mereka yang mulai keroncongan.

Namun Maudy sendiri, dia lebih memilih menyelesaikan tulisannya yang belum selesai.

"Maudy kantin yuk!" Valen beserta Ferisha menghampirinya namun gadis itu masih tetap engan untuk bangkit.

"Gue belum selesai nulisnya, kalian duluan aja!" ucapnya.

"Gak ah gue tungguin aja sampai lo selesai, masih kurang dikit kan?"

Maudy menggeleng, melihat tulisannya yang masih kurang banyak. "Kalian duluan aja, tulisan gue kurang banyak!"

"Yah, entar aja deh salin tulisan gue!" Maudy menggeleng, dia tidak senang jika harus menunda-nunda pekerjaan.

"Yaudah kita duluan aja, lo mau nitip nggak?"

"Iya gue titip roti aja deh sama minuman satu!" Setelah kedua temannya pergi Maudy kembali melanjutkan tugasnya.

Devian beserta teman-temannya masih berdiam diri di kelas, mereka semua ketiduran bahkan sampai jam istirahat berbunyi.

"Eungh, sepi amat anak-anak pada kemana!" Angga merenggangkan otot-otot tangannya, sembari menatap seluruh kelasnya yang hanya tersisa Maudy saja.

"Eh bego! bangun udah waktunya istirahat." Angga menggoyangkan tubuh teman-temannya, agar segera terbangun.

"Cepet amat!" Edgar mendengus mengucek matanya yang masih terasa berat.

Jika semua teman-temannya tertidur Kenzo lebih asyik membaca bukunya, dia yang paling beda di antara mereka semua.

"Lo gak bangunin kita semua, Ken!" ucap Angga kesal.

"Hm."

"Dih, hm doang! gagu lo." Angga mendengus kesal.

Kevin yang sudah terbangun mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas mencari kekasihnya yang sepertinya sudah meninggalkan dirinya.

"Yah, gue ditinggal!" ujarnya.

Devian membuka matanya dengan malas, namun saat objek pertama yang dia lihat membuat mata itu langsung segar.

"Cewek gue masih di kelas ternyata, setia banget sampai nungguin gue bangun!"

"Dih cewek lo? ngimpi lo!" kekeh Angga.

Devian tersenyum miring, dia menatap lekat ke arah Maudy lalu berganti menatap teman-temannya.

"Dalam waktu satu bulan gue pasti bisa pacarin dia, kalau gue gagal motor baru gue buat kalian!" Mereka semua bersorak gembira mendengarnya.

"Lo cinta sama dia?"

"Cinta? tolol banget kalau gue sampai cinta sama tuh cewek!" sinisnya, matanya menatap lekat pada Maudy yang tengah fokus menulis di bangkunya.

Tuk!

Maudy menoleh menatap tajam pada orang yang telah melempar pulpen ke arahnya. Sedangkan sang pelaku tersenyum miring ke arahnya.

"Balikin pulpen gue!" teriak Devian.

"Gak usah ganggu gue sialan!" sahut Maudy melempar kembali pulpen Devian namun dengan keadaan yang telah patah.

Mereka semua tertawa melihatnya, Devian memang sangat suka membuat Maudy marah. "Eh, udah lama juga ya Maudy nggak teriakin uang kas!" kekeh Edgar.

"Belum waktunya, besok gue tarikin. Kalian siapin duitnya. Gue gak mau ya ada yang gak bayar alasan gak punya duit!" sahut Maudy cepat.

Maudy menutup bukunya lalu memasukkan ke dalam tas, berniat untuk pergi malas sekali jika harus berlama-lama dengan mereka.

"Woi singa betina!" Maudy melotot tajam ke arah Devian saat lelaki itu memangilnya dengan seenak jidatnya.

"Dih, emang gue manggil lo ngapain lo noleh!" Mereka semua kembali menertawakannya, membuat Maudy geram.

"Karena di sini yang perempuan cuma gue tolol! bego amat sih lo jadi orang!" ujarnya.

"Oh jadi lo betina?"

"Bacot!" Maudy segera keluar namun langkahnya kembali terhenti kala Devian menahan pergelangan tangannya.

"Dengerin ucapan gue gue baik-baik! dalam waktu satu bulan gue pastikan kita akan pacaran!" bisiknya.

****

Maudy berjalan lesu di koridor sekolah, karena teman-temannya sudah mendapat jemputan semua.

Sedangkan dirinya? siapa yang akan menjemputnya, Maudy harus naik angkutan umum jika dia ingin pulang.

Maudy tersenyum getir saat melihat papanya tengah menjemput saudara kembarnya, Maura.

Bahkan mereka tak ingat jika ada Maudy di sekolah ini, atau mungkin mereka tak ingat jika Maudy adalah keluarganya.

Keluarga? lebih tepatnya babunya mungkin.

Maudy berdiam lebih dulu di koridor sepi itu menunggu sampai mereka pergi barulah dia akan pulang.

Malas rasanya jika harus bertemu, tidak mendapat tumpangan yang ada Maudy mendapat olokan.

Maudy memejamkan matanya, merasakan nyeri yang menusuk di dadanya. Tentu saja dia lemah melihat itu semua, Maudy sama dengan perempuan lainnya.

Dia lemah soal keluarga!

Dia lemah soal orang tua!

Dan dia lemah soal kasih sayang!

"Kenapa lo nggak pulang? saudara lo udah di jemput tuh!" Buru-buru Maudy mengusap kasar air matanya kala mendengar suara tak asing dari seseorang.

"Bukan urusan lo!" cetusnya lalu pergi.

Membuat tanya tanya di kepala lelaki itu. "Gue tanya santai kenapa dia ngegas, aneh tuh cewek!" dengusnya.

Maudy menendang-nendang kerikil-kerikil kecil di jalanan, karna menunggu mereka pergi dirinya jadi ketinggalan angkot.

"Masa gue jalan, yang bener aja. Jarak rumah sama sekolah kan jauh!" gumamnya.

Namun terpaksa dia tidak mungkin menunggu sampai sore yang ada Maudy akan mendapat hukuman dari mereka jika pulang terlambat.

"Maudy!" Gadis itu berbalik dan mendapati temannya di sana.

"Kendra, ngapain lo di sini?"  Lelaki itu tersenyum manis mengacak kepala Maudy gemas.

"Sekolah gue gak jauh sama sekolah lo, dan gue insiatif buat jemput lo aja. Mau ajak lo jalan, udah lama kita gak jalan bareng! lo mau gak?"

Setelah Maudy pikir-pikir, mungkin keluar sebentar tidak masalah. Lagian dia tidak terlalu suka berada di rumah terlalu lama.

"Ayo!" Maudy segera menerima helm yang Kendra berikan, lalu mulai naik ke atas motor besar Kendra.

"Mau kemana?" tanya Maudy sedikit berteriak, setelah Kendra melajukan motornya.

"Kemana aja asal berdua sama lo!" kekeh Kendra.

Dari kejauhan nampak seorang lelaki yang tengah menahan geram melihat kebersamaan mereka.

"Kalah cepet lo, Dev!" ledek teman-temannya.

****

Tanpa sadar, karena keasyikan mereka sampai lupa waktu dan berujung pulang malam hari.

"Seneng?" tanya Kendra sembari mengacak rambut Maudy.

"Banget, thanks buat traktirannya!" kekeh Maudy.

"Masuk sana, istirahat." Maudy mengangguk melambai singkat ke arah Kendra sebelum dirinya masuk ke dalam rumah.

Maudy berhenti sejenak, menahan degupan kencang pada dadanya. Sekarang dia yang takut.

Dengan sangat pelan Maudy membuka pintu rumahnya. Rumahnya terlihat sepi membuat Maudy bernafas lega.

"Sepertinya mereka lagi keluar!" gumamnya.

"Bagus!" Maudy terkejut,

Setelah dia berbalik semua orang tengah menatapnya tajam, dan satu gadis yang tengah tersenyum miring melihatnya.

"Dari mana kamu jam segini baru pulang!" bentak Mareta, mamanya.

Maudy menatap mereka lekat, meski sedikit takut. Tapi dia akui jika kali ini dirinya salah.

"Maaf," ujarnya.

"Gak tau diri banget jadi cewek, lo itu cuma numpang gak usah seenaknya keluar masuk rumah orang!" Maura, saudara kembar Maudy menatapnya sinis.

"Kalau gue cuma numpang itu artinya lo juga cuma numpang!" balas Maudy sembari menatapnya tajam.

Plak!

Tamparan keras Mareta layangkan pada pipi Maudy. "Anak gak tau diri. Jaga bicara kamu! beraninya kamu bicara seperti itu pada anak saya!" sentaknya.

"Maudy juga anak mama kalau mama lupa!" ucap Maudy lirih.

"Anak pungut!" Maudy mencelos kala mendengar ucapan mamanya.

Itu tidak benar tapi terasa sangat menyakitkan, Setega itu mamanya kepada dirinya.

Bab 3

"DEVIAN, ANGGA, KEVIN, EDGAR, JANGAN LARI LO PADA!!" Maudy mengeram kesal, empat anak sialan itu malah kabur saat dia menagih uang kas.

Hosh hosh hosh

Maudy membungkuk dengan tangan di lutut, nafasnya tersengal lantaran lelah mengejar empat begundal itu.

"Maudy, lo kenapa?" Valen dan Ferisha baru datang dan melihat temannya yang membungkuk dengan nafas ngos-ngosan.

"Untung kalian dateng, bantu gue narikin uang kas ke cowok-cowok bandel itu!" ucap Maudy geram.

"Gampang, lo tinggal urus Devian aja, untuk yang lain biar gue sama Ferisha yang urus." Maudy menggeleng tegas.

"Kenapa harus gue? Kalian urus sekalian aja!" ucapnya kesal.

"Ck, udah di bantuin ngelunjak lo ya. Karena Devian nurutnya cuma sama lo, aja!" decak Valen.

"Bodo, gue gak sudi narik uang ke dia. Gue mau ke kelas, itu semua urusan kalian!" Valen dan Ferisha Cengo melihatnya.

"Ck, gak tau diri lo!" kesal mereka berdua, namun Maudy acuh tetap memilih masuk ke dalam kelas.

Dia melihat Kenzo yang nampak anteng di bangkunya. "Ken, kenapa sih temen-temen lo kalau di tagih kas selalu kabur?"

Kenzo mengangkat pandangannya ke arah Maudy lalu menatap sekitar. "Ngomong sama gue?" Maudy berdecak kesal.

"Tau ah, gak ada yang waras emang!" Kenzo menggedikan bahunya acuh, kembali fokus dengan buku yang tengah ia baca.

"SELAMAT PAGI EPRIBADI!!" Mata Maudy menghunus tajam saat melihat satu lagi biang kerok yang susah ketika dia tariki uang kas.

"Kas!" tagih Maudy saat Reno baru saja mendudukkan dirinya pada kursi.

Wajah yang tadinya sumringah kini terlihat murung. "Kas mulu elah!"

"Kas!" ulang Maudy sekali lagi, wajahnya datar, matanya menatap tajam ke arah lawannya.

"Bayar atau gue lempar ke luar kelas!" ucapnya santai namun penuh penekanan.

Reno menatapnya kesal, mengambil uang di saku seragamnya. "Berapa sih?"

"50 ribu!"

"Hah? banyak amat, perasaan gue selalu bayar!" Maudy menunjukkan buku catatnya.

"Satu Minggu bayar uang kas dua kali, dan lo selalu alasan, yang pertama lo alasan uang ketinggalan, yang kedua lo alasan uang habis buat tambal ban."

"Dan Minggu kemarin lo gak masuk sekolah dua kali dan entah lo sengaja atau nggak lo nggak masuk pas waktunya bayar kas."

"Setiap kali kas bayar sepuluh ribu, lo udah empat kali gak bayar artinya 40 ribu ditambah sekarang sepuluh ribu artinya lo harus bayar 50 ribu!" Jelas Maudy.

"Ya, kalau gue gak masuk ya gue gak perlu bayar uang kas lah!" sewot Reno.

"Itu kan unsur kesengajaan eh maksud gue unsur tidak kesengajaan. Jadi gue gak perlu bayar kenapa sekarang lo tagih!"

Maudy menghela nafas kasar, malas sebenarnya adu mulut dengan Reno yang sangat tidak berfaedah.

"Gak usah banyak bacot, bayar sekarang atau gue lempar lo keluar kelas!"

"Lo main lempar aja, gue nih anak orang. Kalau gue kenapa-napa lo bisa ganti!" sewot Reno.

"Bisa, itu gampang. Kembaran lo kan banyak, entar gue cari!"

"Maksud lo?"

"Bayar dulu baru gue jawab!" ucap Maudy dengan senyum miring di bibirnya.

"Nih!" Reno dengan mudah memberikan uangnya 50 pas dengan tunggakannya.

"Jadi, siapa kembaran gue? perasaan nyokap gue gak pernah bilang kalau gue kembar, kok lo tau?"

Maudy berusaha menahan tawa melihatnya, entah polos atau bego.

"Kembaran lo gue temuin kemarin di jalanan lagi kerja joget-joget, namanya si monkey!" ujarnya lalu tertawa terbahak.

Reno menatapnya datar lantaran kesal dengan ucapan Maudy, kerja joget-joget yang dimaksud Maudy adalah topeng monyet.

"SIALAN LO MAUDY!"

****

Hari ini cukup melelahkan untuknya, lelah menariki uang kas kepada teman-temannya khususnya, Devian. Yang harus membuatnya kehilangan banyak energi.

"Gue capek bego!" kesal Maudy, dia menjewer telinga Devian setelah lelah mencari keberadaan cowok itu.

Ternyata dia malah enak-enakan makan bakso di kantin. Sialan memang!

"Belum gue apa-apain, udah capek aja. Lemah lo!" ujarnya ambigu.

Maudy mengeram kesal semakin menarik telinga Devian tak perduli jika telinga itu akan putus.

"Woi anjing sakit bego!" Devian berusaha melepas jeweran tangan Maudy pada telinganya.

"Gue udah sabar ya, Dev. Narikin uang kas baik-baik ke lo! tapi emang dasarnya lo yang suka nyari gara-gara sama gue!" kesal Maudy.

Geram rasanya, tangannya gatal seolah ingin menampar mulut Devian yang tidak bisa diam. "Lepasin bego!"

"Gak akan gue lepas sebelum lo lunasin semua uang kas lo!" Devian mengangguk, dia tidak mungkin membiarkan singa betina ini terus menjewer teliganya.

Yang ada telinganya bisa putus. "Iya, gue bayar! tapi lepasin dulu!" sahutnya.

"Gak!"

"Lepasin atau gak gue bayar!"

"Bayar atau telinga lo putus!" sahut Maudy santai.

Mereka semua melihat kejadian itu dengan tawa cekikan. Angga dengan kegabutannya malah merekam kejadian itu, dan Edgar memakan camilannya sembari menonton tanpa ada keinginan membantu.

Devian dengan cepat merogoh saku bajunya dan menyerahkan satu lembar uang 100 ribu pada Maudy.

"Tuh, lepasin sekarang juga!"

Maudy mengambilnya lalu menepuk bahu Devian cukup kencang. "Gitu kek dari tadi, nyusahin lo!" cetusnya lalu pergi.

"Maudy setan!" Devian mengusap-usap telinganya yang terasa panas, akibat jeweran Maudy yang tak main-main.

"Bangsat! lo pada nggak mau nolongin gue." Devian menatap sebal ke arah teman-temannya yang malah menertawakan dirinya.

"Haha, gak berani gue! gila, galak amat si Maudy. Lo serius sama taruhan itu? gak yakin gue kalau lo menang!" ledek Angga.

"Gue pasti menang, sebelum satu bulan singa betina itu akan tunduk sama gue!" ujarnya dengan tersenyum tipis.

"Motif lo apa?" Kenzo menyahut menatap datar ke arah Devian.

Tumben, bisanya cowok irit bicara itu tak pernah nimbrung dengan obrolan teman-temannya.

"Gabut aja sih, haha!"

"Sinting! itu hati lo men lo buat mainan. Anak orang lo jadiin taruhan, gue yakin seratus persen kalau Maudy tahu bakal diamuk lo!" sahut Kevin.

"Itu urusan nanti, yang pasti gue akan buat dia jadi pacar gue. Dan kalau nanti dia udah mulai cinta sama gue, bakal gue tinggal!" ucapnya tanpa hati.

"Shit! gila lo." Edgar tertawa mendengarnya.

"Awas kemakan omongan lo sendiri!" Lagi, Kenzo menyahut sebelum dia pergi dari sana membuat mereka saling pandang.

"Kenapa tuh anak?"

"Dia suka Maudy, maybe?"

Deviana terdiam namun setelahnya dia menggedikan bahunya acuh. "Kalau dia suka Maudy, ya bagus sih. Lagian gue cuma main-main sama dia!" ucapnya.

"Wah, parah lo tapi belum tentu juga Maudy mau sama lo!" ledek Kevin, membuat mereka semua tertawa.

****

Plak!

Maudy terdiam kala dia kembali mendapat tamparan. Apa salahnya? dia baru pulang lalu mamanya menamparnya.

"Maudy salah apa lagi?" tanyanya lirih, dia mengusap pipinya yang terasa kebas.

Lalu menatap sendu ke arah mamanya yang tengah menatapnya marah.

Plak!

"Anak pembawa sial!" sentak Mareta.

"Gak becus bersihin rumah!" murkanya.

Maudy semakin bingung apa maksud mamanya, kenapa dia marah-marah kepadanya tanpa sebab.

"Kamu tahu, gara-gara kamu Maura hampir jatuh dari tangga. Kalau sampai anak saya kenapa-napa, saya bunuh kamu!"

Maudy terdiam, Maura akan jatuh tapi dia yang disalahkan? tidak masuk akal!

"Maaf non, jadi Non Maudy yang di salahkan, sebetulnya itu salah bibi. Tadi bibi tidak sengaja menumpahkan minyak di tangga. Waktu bini mau ambil pel udah keburu Non Maura turun untung dia gak jatuh." Maudy mengangguk, ternyata itu sebabnya.

"Iya bi, nggak papa. Terus keadaan Maura sekarang gimana, bi?"

"Kakinya ke kilir non, yaudah Non Maudy masuk kamar sana. Nanti bibi antar makannya ke kamar, non."

"Eh, gak usah bi. Nanti Maudy makan di dapur aja barang bibi!" Maudy tersenyum tipis sebelum dia masuk ke kamarnya.

Kurang miris apa hidupnya?

Selalu disalahkan! dan satu hal yang membuatnya setiap kali merasa sakit hati. Bahkan orang tuanya tak mengijinkan Maudy makan di meja makan, setiap hari Maudy harus makan di dapur bareng dengan pembantu di rumahnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

DEVIAN

Bab 2
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED