Happy Reading
*****
Seorang wanita menampar pria yang berdiri di depannya dengan cukup keras membuat seluruh pengunjung menatap mereka berdua. Wanita bernama Zeline memergoki kekasihnya, Bagas, berselingkuh dengan wanita yang tidak diketahui identitasnya oleh Zeline, di salah satu kafe yang berada tidak jauh dari kantor Bagas.
"Tiga hari, sulit dihubungi dan selalu menghindar. Ternyata ini yang kau lakukan?" tuding Zeline pada pria berwajah manis asli pribumi itu.
Pria itu mendengkus dan menatap Zeline dengan pandangan meremehkan. "Seharusnya kau berkaca. Kenapa aku melakukan semua ini." Zeline menatapnya emosi.
Bagas melanjutkan, "Aku pria yang bukan hanya butuh cinta. Aku pria normal, yang menginginkan kepuasan lebih dari cinta. Kau hanya membuang waktuku, wanita tidak normal dan aneh. Aku menyesal menjadi kekasihmu!"
Satu buah lagi, tamparan keras mendarat di pipi Bagas dihadiahi oleh Zeline. Wajah Zeline memerah penuh emosi tingkat tinggi. "Pergi dari sini! Kita putus!" tegas Zeline.
"Itu memang yang aku inginkan. Dasar wanita gila!" umpat Bagas lantas segera beranjak dari kafe sambil menggandeng wanita seksi di sebelahnya.
Untung saja saat itu kafe tidak begitu ramai, hanya beberapa orang yang berada di sana. Zeline ditarik duduk oleh Mesya, salah satu sahabatnya. Mesya menyodorkan Ice Lemon Tea pada Zeline.
Kejadian seperti ini bukan kali pertama bagi Zeline. Kejadian yang keempat kali ini dalam dua tahun terakhir. Kisah cintanya selalu berakhir tragis. Menyedihkan.
✈✈✈✈✈
Saat itu Zeline bersama ketiga sahabatnya, Mesya, Fini dan Vera berjanjian untuk berkumpul melepas rindu setelah dua minggu mereka disibukkan dengan pekerjaan masing-masing.
Mesya, wanita cantik bertubuh langsing, berambut hitam panjang dan kini berkerja sebagai sekretaris pribadi tunangannya yaitu Pradipta, seorang pengusaha kafe dan resto terkenal yang memiliki cabang di seluruh wilayah Indonesia.
Fini, wanita sexy memiliki rambut pirang yang panjang adalah seorang pengusaha kelab malam di beberapa kota besar di Indonesia. Wanita yang sering kali berganti pasangan ini begitu menyukai travelling ke berbagai negara.
Vera, wanita manis berlesung pipi merupakan seorang Fotografer freelance yang sekarang sedang dekat dengan salah satu anak konglomerat.
Zeline Zakeisha, wanita cantik bertubuh proposional, yang memiliki kulit putih bersih ini berprofesi sebagai MUA (Make Up Artist) dan sesekali menjadi model freelance. Kisah cinta yang tidak pernah sukses selalu menjadi pengiring cerita di kehidupan seorang Zeline.
Sebagai contoh nyata, yang baru saja terjadi yaitu Bagas. Pria yang selama 5 bulan terakhir menjalin kasih dengan Zeline ternyata berselingkuh. Bukan hanya Bagas, tapi Gilang, Amar dan Haris, merupakan deretan mantan Zeline yang pernah selingkuh.
✈✈✈✈✈
"Calm, Babe!" Mesya menenangkan Zeline yang baru saja menyemburkan emosi dan dipermalukan oleh mantan kekasihnya.
Ya. Mantan. Karena, detik itu juga Zeline memutus-kan hubungan mereka. Berengsek!
"Zel, please. Jangan habiskan waktumu dengan pria bodoh macam mereka!" Vera menggoyangkan telunjuknya ke kanan ke kiri.
"Pacarmu selalu saja membosankan!" ejek Fini dengan rokok di selipan bibirnya.
"Diamlah! Oh, Shit! Aku mencintai Bagas!" Zeline menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Mesya mendengkus, "simpan saja airmatamu. Kau tidak pantas menangisi pria yang berselingkuh itu. Kau bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik."
"Wajah pas-pasan serta pekerjaan sangat biasa dengan beraninya mematahkan hati sahabatku, Fuck!" umpat Vera.
"But aku begitu penasaran. Apa yang dimaksud Bagas tadi?" pertanyaan Fini sukses membuat Zeline menatap semua mata sahabatnya.
"Ya, aku juga begitu penasaran! Kenapa dia bisa berkata begitu padamu? Tell Us!"
'Sesuatu yang memalukan ini, tentu akan membuat mereka semua terbahak mendengarnya.' pikir Zeline.
Fini, Mesya, Vera menanti jawaban Zeline. Mereka menatap wajah Zeline dengan wajah penasaran.
"Hei! Aku tidak menyuruhmu melamun, Zel!" kata Fini kesal menunggu.
Zeline menarik napas panjang sebelum memberi-kan jawaban pada sahabat-sahabatnya.
"Because ... Karena—" Zeline menggigit bibirnya dalam.
Mesya menyela, "Karena apa? Jangan membuatku penasaran."
"Dia meminta melakukan sex! I can't !" Persis seperti apa yang dibayangkan Zeline, ketiga sahabat-nya terbahak mendengar jawaban wanita itu.
Mesya meredakan tawanya. "Yeah, perawan Ibukota."
"Pasti karena fobia-mu itu. Tapi kali ini aku setuju atas penolakanmu, Zel, pada mereka semua," sambung Mesya.
"Aku sudah bisa membayangkan ukuran sosis Bagas, Gilang, Amar atau Haris." Vera berakting seolah memuntahkan sesuatu.
"Pendek dan tidak memuaskan. Oh, Shit! But pilihan yang benar mengabaikan ajakan mereka. Kau tidak akan puas, Babe!" Fini menambahkan ucapan Vera.
"Aku sangat tidak suka produk lokal." Fini bergumam.
"Beberapa produk lokal punya ukuran pistol yang panjang, Bitch! Kau meremehkan milik tunanganku?" protes Mesya.
Vera mengangguk menyetujui ucapan Mesya.
"Ah, sudahlah. Aku jadi benci pria!" lirih Zeline.
"What ...?!" ucap ketiga sahabatnya bersamaan.
"Jangan bilang kau ingin jadi Lesbian!"
"Shit! Big No!" umpat Zeline.
"Patah hati membuatmu gila," sindir Fini.
Jangan lupa komentarnya yah
*****
Zeline mematut wajahnya di cermin. Ia baru saja membasuh wajahnya. Menghabiskan waktu hampir lima belas jam untuk tidur. Patah hati membuat ia membatalkan segala pekerjaannya. Wanita itu lebih memilih tidur ketimbang bekerja.
Zeline tak habis pikir, kenapa pria hanya memikirkan sex di kepalanya selama menjalin hubungan dengan seseorang.
Di usia yang menginjak 25 tahun, Zeline memang sama sekali belum merasakan sex. Meskipun dirinya termasuk wanita bebas yang berteman dengan hiburan malam serta alkohol. Namun, untuk sex sendiri Zeline masih takut karena ucapan beberapa orang.
Pengetahuan Zeline mengenai sex yaitu ketika sex pertama kali itu akan mengakibatkan nyeri yang luar biasa lalu pendarahan dan sulit untuk berjalan. Mendengar hal mengerikan itu saja, membuat Zeline merinding. Meskipun sahabatnya sudah berusaha meyakinkan jika tidak seperti itu kenyataannya.
Sifat paranoid yang dimiliki Zeline membuatnya tetap menjadi perawan. Menonton video sex, membuatnya bergidik ngeri. Banyak pria yang melakukannya dengan kasar. Oh, big no! Zeline masih menyayangi lubang surgawinya dan kulit mulusnya.
Itulah alasannya mengapa para mantan kekasihnya banyak yang berselingkuh darinya. Keengganan Zeline melakukan hubungan badan dengan mereka semua yang membuat para mantan kekasihnya berpaling.
Zeline mencintai para mantannya tersebut. Ia bukan wanita yang memandang pria dari segi materi namun Zeline begitu menyukai wajah yang rupawan. Deretan para mantan kekasih Zeline, merupakan pria yang baik dan cukup tampan serta mampu membuat Zeline nyaman di awal kedekatan dan hubungan mereka. Namun, lambat laun mereka meminta pembuktian cinta dengan melakukan sex.
Zeline sepertinya harus segera memeriksakan diri ke psikiater. Mengobati penyakit phobia yang ia derita.
✈✈✈✈✈
"Kau benar-benar akan pergi ke psikiater?"
Saat ini, Zeline berada di studio foto milik Vera untuk melakukan photoshoot katalog salah satu merek produk lokal pakaian kasual. Zeline mengangguk menjawab pertanyaan Vera.
"Aku pikir kau tidak perlu ke psikiater, kau bisa mengobati penyakitmu lewat dirimu sendiri," kata Vera bijak.
Vera menyodorkan sekaleng bir dingin rendah alkohol untuk Zeline. Vera prihatin terhadap kehidupan percintaan sahabatnya ini meskipun kisah cintanya pun tidak jauh berbeda dengan Zeline. Hanya saja, ia tidak pernah diselingkuhi kekasihnya.
"Kau hanya perlu membuktikan apa yang ada pikiranmu itu. Tidak perlu membayar mahal psikiater untuk mengobati penyakit ketakutanmu itu." Vera menegak minumannya.
Zeline menatap Vera seakan bertanya. "Maksudmu? Aku harus mencoba melakukan sex?" Vera mengangguk.
Wanita itu dengan cepat menggeleng. Membayangkan tongkat milik pria merobek selaput daranya yang akan menyebabkan pendarahan. Mengerikan!
"Zeline, itu hal yang menyenangkan. Come on!"
"Buktinya, aku, Mesya, Fini, tetap hidup bahagia sampai detik ini. Kami tidak terluka bahkan kesakitan seperti bayanganmu." Vera mulai nampak geram.
Zeline pikir ucapan sahabatnya satu ini cukup masuk akal. Apalagi, jam terbang seorang Fini begitu mencengang-kan, karena beberapa kali Zeline mendapati Fini melakukan itu dengan pria yang berbeda.
"Kau harus mencobanya!" Vera meyakinkan Zeline. Zeline hanya bisa diam sambil menggigit bibir bawahnya dengan kuat.
"Aku tidak punya pacar lagi sekarang," ucap Zeline putus asa.
"Kau bisa mencarinya di kelab malam Fini. Di sana banyak pria bertebaran." Vera memberi saran.
Zeline menaikan sebelah alisnya. "Big No! Aku ingin mendapatkan pria untuk kujadikan kekasih, bukan mencari pria sembarangan hanya untuk melakukan sex semata. Bukankah kau tahu, jika aku sulit menemukan pria yang mampu membuatku nyaman."
Vera memutar bola matanya saat mendengar ucapan Zeline. Sahabatnya satu itu memang begitu Complicated. Sejenak Vera berpikir, bagaimana cara Zeline menemukan pria yang bisa dijadikannya kekasih.
Vera menjentikan jarinya ke depan wajah Zeline.
"Salah satu klienku, bertemu calon suaminya melalui situs kencan online Internasional. Kau bisa saja mencobanya. Tidak ada yang tidak mungkin bukan? Kau bahkan bisa menyeleksi terlebih dulu dari wajah mereka, bagaimana?" Vera menawarkan sesuatu yang sangat tidak terpikirkan oleh Zeline sebelumnya.
"Kemungkinan besar kau mendapatkan kekasih bule sangat besar. Aku yakin, itu hal yang menyenangkan, Zel. Kau harus mencobanya," bujuk Vera dan Zeline menarik napas panjang lalu mengangguk menyetujui ide gila yang diajukan Vera padanya.
✈✈✈✈✈
New York
Ricard merenggangkan dasi yang melilit di lehernya. Pekerjaannya seharian ini cukup banyak. Jadwal bertemu klien-pun begitu padat.
Ricardo F Daniello, triliuner muda pewaris tahta kekayaan dari Daniello Corp. Perusahaan keluarga Daniello yang paling gagah perkasa di New York dan dikenal di seluruh belahan dunia. Saat ini, Daniello menjabat sebagai CEO Daniello Corp, perusahaan milik keluarganya dan Owner RFD Corp, perusahaan yang didirikan secara pribadi oleh Ricardo.
Wajah tampan yang dipenuhi dengan brewok, menutupi ketegasan rahang, memiliki sepasang bola mata abu-abu terang, serta tubuh yang begitu proposional menjadi magnet kuat untuk menjadi incaran para wanita. Belum lagi ditambah kekayaan yang berlimpah ruah. Ricardo F Daniello merupakan paket sempurna untuk seorang wanita.
Ricard sama halnya dengan pria dewasa yang hidup di negara bebas lainnya. Pria normal yang membutuhkan sex di dalam kehidupannya. Tapi, ia bukan pria bastard yang hobi berganti jalang. Ia melakukan hubungan sex hanya dengan kekasihnya. Ricard sendiri hanya pernah berpacaran dua kali dalam hidupnya secara serius.
Pria itu begitu selektif memilih wanita untuk dijadikan kekasih. Bella dan Sofia, dua wanita yang beruntung pernah menempati ruang hati Ricard. Namun, keduanya dicampakan begitu saja oleh Ricard ketika pria itu mengetahui pengkhianatan yang dilakukan Bella dan Sofia padanya.
Bella dan Sofia, keduanya wanita yang ditinggalkan Ricard akibat pengkhianatan yang dilakukan mereka. Bella yang sengaja mendekati Ricard untuk mengetahui sisi lemah perusahaan Ricard, karena pada saat itu Bella juga merupakan kekasih dari Rival bisnis Ricard. Terbuktinya hal itu akibat campur tangan Steven, sahabat baik Ricard. Saat itu ia tidak sengaja mendengar percakapan antara Bella dan kekasihnya di suatu kelap malam. Tentu saja, Steven bergerak lebih cepat untuk merekam pembicaraan serta beberapa kali memotret keduanya yang sedang bermesraan. Bukti yang diberikan Steven cukup untuk membuat Ricard marah dan segera memutuskan hubungannya.
Beda lagi dengan Sofia. Wanita cantik dan seksi ini, merupakan salah satu model Internasional. Ricard dijodohkan oleh Ibunya yang bersahabat baik dengan Ibu Sofia. Tentu saja, sebagai anak yang berbakti, Ricard menerimanya tanpa penolakan. Lima bulan hubungan mereka berlangsung, apa pun permintaan Sofia, Ricard penuhi. Tas limited Edition, pakaian mewah, sepatu mahal dan kebutuhan mewah lainnya. Ricard tidak ambil pusing awalnya, karena bukankah wanita memang senang berbelanja dan dimanjakan dengan hal-hal mewah. Lagipula, Sofia terlihat begitu perhatian padanya. Ricard dibutakan oleh cintanya pada Sofia, sehingga tidak memperdulikan jika uangnya akan terkuras habis oleh Sofia. Sampai pada akhirnya, Ricard memergoki langsung Sofia sedang bercumbu mesra dengan seorang aktor yang sedang naik daun. Tanpa rasa bersalah, Sofia mengakui jika ia hanya mencintai uang Ricard bukan Ricardnya sendiri.
✈✈✈✈✈
Ricard dan Steven sekarang berada di private room salah satu kelap malam ternama di New York. Keduanya akan menghabiskan malam di sana untuk melepaskan penat.
"Kau terlihat seperti pria yang tidak terawat, Ri." Steven mengamati penampilan Ricard yang kini wajahnya dipenuhi bulu-bulu cukup tebal.
Ricard tersenyum pasrah. "Bukankah jika aku begini, aku terlihat semakin seksi?" Steven lantas terbahak.
"Entahlah. Aku bukan pria homo yang akan bilang kalau kau itu seksi!"
"Carikan aku IT handal yang bisa menghapus semua data diriku yang telah beredar di Internet!" ucap Ricard tiba-tiba.
Steven menoleh dan terkejut. "Untuk apa kau melakukan itu?"
"Aku ingin melakukan sesuatu. Namun, sebelumnya aku butuh semua informasiku dihapus, sehingga tidak ada yang bisa melacaknya."
"Hmm. Aku punya kenalan IT yang bisa membantumu melakukan itu semua. Akan tetapi, apa yang akan kau lakukan, jika datamu yang sudah beredar telah terhapus semua?" tanya Steven penasaran.
Ricard memainkan gelas whisky-nya. "Aku akan mendaftarkan diri di sebuah situs kencan online Inter-nasional. Aku ingin mencari kekasih yang entah di mana, yang tidak mengetahui identitas asli diriku."
Steven tercengang. "Are you kidding me? Seriously? Kau tidak depresi kan, Dude?"
Ricard menegak whisky-nya hingga tandas dan kemudian menuangkannya lagi. "Aku pikir, hal itu patut dicoba. Bukankah itu hal yang menarik sekaligus menantang?"
"Aku bahkan tidak sabar untuk mendaftarkan diri."
Steven menggeleng tak percaya akan pemikiran sahabat baiknya ini. Dari mana sahabatnya menemukan ide gila itu demi mendapatkan kekasih. Steven pikir, Ricard masih cukup tampan untuk membuat para wanita bertekuk lutut tanpa harus melakukan hal gila seperti itu.
"Kau yakin, Bro?"
"Sangat! Aku melihat di internet, banyak orang yang berhasil menemukan pasangan hidupnya di sana."
"Jika aku ingin wanita matre atau seksi semata. Hanya sekali kedipan mata, wanita akan datang dengan sendirinya menawarkan diri mereka," ucap Ricard percaya diri.
"Lakukan saja apa yang aku mau, Stev. Aku akan membayar berapa pun orang itu. Lakukan dengan segera, jangan bertele-tele!" Perintah Ricard pada Steven.
Steven menghela napas berat. Ia masih tak habis pikir. Namun, berusaha menghargai apa yang menjadi pilihan sahabat serta bossnya itu.
*****
Keadaan hening menyambut Zeline. Sudah hampir lima tahun terakhir, Zeline memilih tinggal di sebuah komplek apartemen mewah sendirian. Zeline merupakan sulung dari dua bersaudara, ia memiliki adik laki-laki yang kini sedang kuliah di Singapura sedangkan kedua orangtuanya nomaden, tergantung bisnis mereka sedang dibangun di kota atau negara mana, di sanalah mereka akan menetap.
Hari ini terasa begitu melelahkan bagi Zeline, bagaimana tidak, ia harus merias wajah tiga klien di tiga tempat berbeda. Memoles wajah seseorang tidak begitu melelahkan, hanya saja perjalanan dari satu klien ke klien lainnya memakan waktu begitu banyak. Kepadatan lalu lintas Ibukota, tentu sulit dihindarkan.
Zeline bekerja sebagai MUA freelance karena ia tidak ingin bekerja terikat kontrak sehingga kapanpun ia ingin libur tidak ada yang akan melarang.
Waktu sudah menunjukkan pukul 22.17 WIB, namun, bel apartemennya tiba-tiba berbunyi. Zeline bergegas menuju pintu dan mengintip melalui interkom dari dalam rumahnya. Ternyata tiga wanita cantik sudah berdiri menunggu Zeline membukakan pintu.
"Haruskah, kalian bertamu hampir tengah malam begini?" sindir Zeline pada ketiga sahabatnya.
Mereka bertiga tampak tak acuh dan memilih masuk serta duduk di sofa tanpa perlu dipersilakan oleh Zeline. Zeline hanya bisa memutar bola matanya melihat kelakuan ketiga sahabatnya itu.
Fini menghidupkan rokok, kepulan asap memenuhi ruangan tamu Zeline. Mesya menyusun sepuluh kaleng bir dingin serta tiga kotak pizza berukuran besar dari kantung masing-masing yang dibawanya.
"Kenapa kalian bertiga malam-malam kemari? Tidak ada jadwal kencan?" tanya Zeline sambil menggigit potongan pizza yang dibawa Mesya.
"Tunanganku sedang ke Malaysia."
Vera menelan gigitan pizza-nya lantas berujar, "Gebetanku sedang sibuk mengurusi deadline kantornya."
Zeline menatap Fini yang sibuk dengan rokoknya. "Tidak ada pria menarik yang bisa diajak berkelahi di ranjang."
Zeline bergedik ngeri mendengar perkataan Fini. Ia masih sulit menerima ucapan sahabatnya itu, jika sex merupakan sesuatu hal biasa baginya.
"Kau sudah mendaftarkan dirimu?" tanya Vera dan Mesya menatap Zeline dengan berbinar penuh harap.
Zeline menggeleng. "Aku belum punya waktu untuk melakukannya. Seharian ini aku sibuk."
Mesya mengambil Macbook dari dalam tasnya dan membuka salah satu situs kencan internasional. Ia mulai mengetik sesuatu secara serius dengan macbook-nya.
"Apa yang kau lakukan, Mey?" tanya Zeline penasaran.
Mesya mengangkat telapak tangannya agar Zeline diam. "Aku sedang mendaftarkanmu di sebuah situs."
"Situs porno kah?" Fini tertarik dan Vera melempari kepala Fini dengan kulit kacang dari tangannya.
"Shit!" umpat Fini atas lemparan Vera padanya.
"Kau lupa, jika sahabat kita satu ini masih perawan? Bagaimana mungkin dia bisa punya video mesum pribadi, jika dia saja takut dengan pistol panjang milik pria." Terdengar sekali ucapan Mesya seperti mengejek Zeline terang-terangan.
"Kau sudah berjanji, bukan. Jika memiliki kekasih kali ini, kau akan membuktikan ucapan Kami semua, jika sex itu tidak menyakitkan. Bahkan itu sesuatu hal yang menyenangkan." Vera seakan menodong Zeline dengan mengungkit ucapannya kemarin.
"Iya," jawab Zeline ragu.
"Aku sudah merekam jawabanmu, Dear!" kata Fini senang.
"Dasar Bitch!" umpat Zeline dan ketiga sahabat-nya hanya terkekeh.
Semua sahabatnya sibuk terfokus dengan kegiatan masing-masing. Zeline sibuk dengan remote TV di tangannya, lantas tak sengaja tangannya menekan tayangan film yang dimana pemain filmnya sedang berciuman mesra sambil meraba tubuh masing-masing. Tubuh Zeline meremang, sungguh, hal yang hanya dilakukannya hanyalah berciuman panas dengan para deretan mantan kekasihnya, tidak lebih dari itu. Padahal, bisa saja setelah ciuman itu dilanjutkan ke kegiatan selanjutnya, bermain kuda di kamar misalnya. Namun, karena ketakutan yang dialami Zeline, dirinya terpaksa menolak secara halus dan berakhir lagi-lagi dia diselingkuhi karena alasan yang sama.
✈✈✈✈✈
"Taraaaaa ... Akunmu sudah siap! Aku juga sudah memilihkan foto yang luar biasa, agar para pria tertarik padamu," ucap Mesya dengan bangga.
Zeline, Vera dan Fini mendekat ke arah Mesya.
Mereka semua terpaku pada situs yang sedari tadi menyita waktu Mesya.
"Kau yakin memilih foto ini? Ini terlalu sexy!" Zeline meragukan.
"Benar, yang ada para pria itu berpikir Zeline adalah seorang slut."
Profile :
Name : Zeline Zakeisha
Age : 25 y.o
Country : Indonesia
Account : Zeline.Z@hotmail.com
I'm single, Happy
Foto profil yang dipilihkan oleh Mesya adalah hasil dari photoshoot Zeline untuk sebuah brand pakaian dalam.
Mesya mengkode Fini untuk menanggapi protes Zeline dan Vera. Fini menyetujui ide kedua sahabatnya yang lain untuk mengganti foto profil itu.
"Dia terlihat benar-benar seperti jalang," ucap Fini jujur.
"Dia memiliki ratusan koleksi foto sexy yang membuat para pria meneteskan air liurnya. Namun, sayangnya, wanita seksi itu ternyata masih menjaga selaput daranya." Mesya, Vera dan Fini terkekeh geli, tak ayal membuat Zeline kesal.
"Kau liar, Zel. Namun, liar-mu hanya di depan kamera. Ckckck—sangat disayangkan!" sindir Fini.
"Ya, dan aku benci setelah memosting foto seksiku, banyak yang mengajakku bermain kuda-kudaan di ranjang. Damn! Menyeramkan," aku Zeline.
"Salah kau sendiri, kenapa memamerkan gunung kembar serta hutan belantara milikmu di sosmed. Kau membuat fantasi liar para pria, padahal kau sendiri—payah!" cemooh Mesya.
Zeline mendengkus. "Aku melakukannya karena kebutuhan pekerjaan, jika tidak karena sebuah kontrak bernilai ratusan juta, aku juga tentu akan menolaknya."
"Ya, ya, ya, terserah kau saja! Cepat kemarikan, ponselmu. Aku akan mendownload aplikasinya. Dengan begitu kau akan mudah berkomunikasi dengan calon kekasihmu."
"Ingat, pilih yang menarik, kekar berurat dan besar!" bisik Fini dan Zeline menoleh cepat.
"Memangnya aku sedang mengikuti kompetisi pemilihan bakso?" sindir Zeline dan Fini hanya berdecak kesal.
"Jangan main terlalu jauh. Nanti kau dan dia tidak akan pernah bisa bertemu, percuma," nasihat Vera.
"Betul. Pilihlah pria yang mudah dijangkau. Singapore, Malaysia atau Thailand. Tiket pesawat tidak begitu mahal dan waktu tempuh cukup sebentar," timpal Mesya.
"Pilihlah pria kaya, di mana pun ia berada pasti bisa menjangkaumu. Jelek tapi kaya tidak masalah, apalagi besar, panjang dan berurat!" celoteh Fini.
"Aku tidak suka pria jelek! Karena akan merusak keturunanku," ucap Zeline dan ketiga sahabatnya terkekeh.
"Keturunan? Melakukannya saja kau takut, bagaimana mungkin bisa punya keturunan? Kau pikir, anak itu hadir hasil dengan cara kau mencharger dirimu dengan kabel?" sindir Vera.
"Hmm, benar juga yah. Ah sudahlah, tidak perlu membahas masalah itu. Aku jadi pusing memikirkannya," keluh Zeline.
"Aku tinggal tidur duluan. Hari ini hari yang sangat melelahkan untukku," pamit Zeline dan masuk ke dalam kamarnya meninggalkan ketiga sahabatnya yang lainnya.
Baru saja Zeline akan menyelimuti tubuhnya, ketiga sahabatnya masuk dan mengambil tempat saling berdempet di atas kasur.
"Kita sudah lama tidak berdesak-desakan seperti ini!"
"Aku rindu kebersamaan kita pada satu ranjang yang sama."
"Aku ingin mengenang di mana Zeline memelukku erat sepanjang malam."
Zeline menoleh ketiga temannya dan serentak mereka semua tertawa bahagia.
*****
Kalian adalah salah satu alasan mengapa sampai saat ini aku masih bahagia. Sahabat!