1. PROLOG
Reyna Marta Dinata, seorang gadis desa yang cantik tetapi tomboi. Dia terkenal sebagai murid teladan di sekolahnya. Dia kini menempuh pendidikan di Universitas terfavorit di kotanya masuk dengan jalur beasiswa.
Reyna adalah anak pertama dari tiga bersaudara di keluarga yang sederhana. Begitu banyak beban pekerjaan rumah yang dia harus lakukan sebelum berangkat sekolah. Dari memasak, menyapu, menimba air di sumur, sampai menyiapkan adik adiknya sekolah.
Sementara orang tuanya sibuk mencari uang untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
Di bangku kuliah dia menerima cinta dari seorang teman laki-laki sekelasnya yang bernama Riko. Tetapi ternyata Riko adallah tipe pacar yang posesif. Riko mengikat Reyna dalam belenggu hubungan pacaran.
Reyna harus menjauhi teman-temannya yang biasa dia ajak mengobrol. Teentu saja karena Reyna seorang gadis tomboy tentu saja banyak teman-teman laki-lakinya. Namun ketika ada cowok lain menyapa Reyna, Riko langsung memarahi Reyna.
Setelah berpacaran dengan Riko, Reyna seakan akan tidak punya teman dekat lagi. Cara berjalan dan berpenampilan pun dia dituntut harus feminim. Reyna terbiasa menggunakan motor balap temannya pun sekarang tidak diperbolehkan lagi. Banyak cowok disekolah nya yang mendambakan Reyna menjadi pacarnya, tapi Reyna malah memilih Riko menjadi pacarnya.
Setelah menjalin hubungan dengan Riko, seolah hilang sudah semua kebebasannya disekolah dan diisi dengan Riko Riko dan Riko. Sementara itu beberapa bulan terakhir orang tuanya sering cek-cok karena masalah ekonomi keluarga. Karena sudah tidak punya teman dekat lagi, satu-satunya tempat bercerita hanya Riko.
Ya sebagai pacar yang baik tentu dia memberikan kehangatan untuk Reyna. Dan disinilah awal mula kehancuran hidupnya Reyna.
"Aku sudah tidak tahu harus bagaimana sekarang Rik. Di rumah aku tidak betah orang tua ku bertengger terus menerus tiap hari,"
Ucap Reyna sambil menangis mengisahkan orang tuanya di rumah kepada Riko
"Sabar ya sayang, kamu pasti bisa kok melewati semua itu,"
Riko mencoba menenangkan Reyna
"Tapi sampai kapan Rik?"
"Sudahlah jangan putus asa aku selalu menemani mu jangan menangis lagi ya,"
Riko meraih tubuh Reyna dalam pelukannya.
Kehangatan yang Reyna butuhkan pun kini dia dapat dari Riko. Tangan Riko yang mulai bergerilya di punggung Reyna sontak membuat Reyna Bergidik geli, Reyna merasa ada sesuatu yang berbeda dia rasa dari dirinya. Tanpa disadari bibir Riko telah menyentuh bibir ranum Reyna.
Ya itulah ciuman pertama Reyna. Tapi tiba² Reyna tersadar dari kenikmatan ciuman Riko. Reyna mendorong tubuh Riko.
"Hentikan Riko..!!! Ini tidak benar Riko,"
Sambil Tangan Reyna membungkam bibirnya.
"Apanya yang Tidak Benar? Kita pacaran kan? Aku sebagai pacarmu harus memberikan kehangatan untukmu. Aku tidak mau kamu bersedih sayang," Riko kembali memeluk Reyna.
"Aku benar-benar Bingung harus bagaimana Rik."
"Jangan sedih aku selalu ada untukmu Rey, aku akan menemanimu terus."
"Makasih Rik, tolong antar aku pulang ya Rik. Aku kepikiran adik-adik ku jangan sampai mereka mendengar orang tuaku bertengkar."
"Baiklah aku akan mengantarmu pulang Rey, Tapi...." Dengan secepat kilat Riko kembali mencium bibir Reyna.
Tapi kali ini tidak ada penolakan dari Reyna. Riko semakin melumat bibir ranum Reyna.
Karena ini ciuman pertama Reyna, dia merasa aneh dengan rasanya. Ciuman Riko tanpa balasan dari Reyna, seakan membuat Riko semakin memburu bibir Reyna dengan liarnya.
Alhasil Reyna mendesah kenikmatan yang luar biasa yang baru dia rasakan.
Tanpa disadari tangan tangan Riko mulai bergerilya ditubuh Reyna.
Reyna mulai mengikuti permainan Riko.
Riko mengelus punggung, sehingga membuat Reyna bergetar.
"Ah...." Reyna mulai mendesah.
Riko tersenyum mendengar desahan sang kekasih. Riko mencium Reyna semakin dalam. Tangan Riko tiba-tiba sampai di salah satu gundukan kembar milik Reyna.
"Ah..." sekali lagi Reyna mendesah.
Riko meremas gundukan kembar milik Reyna. Bibir Riko menjalar ke leher Reyna. Tangan Riko semakin turun ke perut Reyna. Riko mengusap lembut perut Reyna.
"Ah ....." Reyna mendesah.
Seolah sudah diberikan lampu hijau untuk Riko melakukan lebih, Tangan Riko masuk ke baju Reyna. Tangannya mengusap lembut perut sintal Reyna. Tangannya mulai naik. Dan akhirnya berhenti di salah satu gunung kembar Reyna tanpa terhalang apa pun.
Riko mampu memegang puting Reyna yang telah menegang. Ketika Riko Meremas payudara Reyna, mata Reyna tiba-tiba terbelalak. Dengan Cepat Reyna kembali mendorong Riko.
"Antar aku pulang sekarang,"Reyna menundukkan wajahnya.
"Oke.. Kamu marah?" Riko kaget karena tiba-tiba Reyna menghentikan kegiatannya.
"Antar aku pulang sekarang Rik, tolong!!" Kata Reyna dengan tanpa ekspresi.
"Reyna aku cinta kamu." Riko mencoba merayu Reyna kembali.
"Aku tahu itu Rik. Aku pusing aku ingin istirahat dirumah." Tetap dengan ekspresi datar.
"Baiklah," Riko langsung mengambil motornya dan langsung mengantarkan Reyna pulang.
Dijalan hanya keheningan tanpa ada percakapan sama sekali.
Entah apa yang dipikirkan Riko saat ini, dia begitu menginginkan Reyna. Sedangkan Reyna sekarang masih merasakan Dilema dalam hatinya. Dia mencintai Riko tetapi Dia juga tidak menginginkan cinta nya ternodai oleh nafsu.
Apalagi ini adalah kali pertama Reyna dalam berpacaran. Dia masih mencari tahu tentang arti cinta.
Semenjak berpacaran dengan Riko, banyak sekali perubahan dari diri Reyna. Dari semua jati diri Reyna hilang dan menjelma menjadi sosok Reyna yang baru.
Tidak ada lagi Keramahan, keceriaan, senyum, tawa, canda dari Reyna. Sekarang Reyna menjadi sosok pendiam. Dan itu karena keinginan Riko. Hingga Kini jarang teman-temannya mengajak Reyna untuk sekedar berkumpul atau mengobrol.
Apalagi jika ada teman laki-laki yang mendekati Reyna walau hanya sekedar bertanya tentang materi kuliah, itu sangat membuat Riko marah besar kepada Reyna. Tertekan.
Iya tertekan mungkin kata yang tepat untuk posisi Reyna sekarang. Namun begitu bodohnya atau mungkin sudah dibutakan oleh cinta sehingga Reyna tidak menyadari semua itu.
-----
Sesampai Dirumah
"Rey kamu marah?" tanya Riko
"Tidak!" Jawab Reyna.
"Lalu kenapa kamu diam?" Tanya Riko
"Aku masih ingin sendiri." Jawab Reyna
"Baiklah. Aku mau pulang dulu Rey." Kata Riko.
"........" Reyna tidak menjawab.
-------
Dalam hati Reyna berkata, "Kenapa Riko sudah berani melakukan itu? Padahal kami baru beberapa bulan menjalin hubungan? Sungguh ini tidak benar. Jika saja tadi aku tidak dapat sadar, maka apa yang akan terjadi selanjutnya? Ya Tuhan, sungguh aku tidak sanggup membayangkannya."
-------
Di tempat lain, Riko berkata kepada dirinya sendiri "Sedikit lagi. Dia sudah mulai masuk dalam buaian cintaku. Reyna ternyata tidak gampang mendapatkan hatimu sepenuhnya. Tapi aku yakin akan ada waktu untuk kamu menyerahkannya kepada ku."
Riko tersenyum tipis mengingat semua yang dia lakukan tadi siang.
"Sial! Gara-gara mengingat tubuhmu saja, juniorku sudang menegang. Reyna, kau membuat ku gila," kata Riko di dalam kamarnya.
=======00000=======
Malam ini berlalu seperti biasa, dia Mendengar kan alunan nyanyian dari ke dua orang tua nya yang membuat hati terasa menyiksa hatinya. Teriakan dan suara benda dibanting sudah menjadi musik iringannya. Tapi kali ini berbeda, dia merasakan hal lain.
Pikirannya berhenti di waktu bersama Riko tadi siang. Pikirannya melayang dan terus melayang. Reyna masih menginginkan dengan jelas, ciuman yang Riko berikan masih begitu membekas. Setiap inci belain Riko, masih begitu terasa. Ciuman pertamanya, sentuhan remasan pertamanya tiba-tiba membuat hasratnya kembali naik.
Tanpa sadar dia menyentuh dan meremas payudaranya sendiri. Tanpa disadari Reyna mendesah disela permainannya sendiri. Putingnya pun sampai menegang. Ciuman pertama yang membutakan. Sentuhan pertama yang membuatnya ketagihan.
Hingga pikiran terus melayang terbang dan sampai masuk ke alam mimpinya. Reyna tertidur karena kelelahan. Mungkinkah Reyna sudah mulai kecanduan sentuhan-sentuhan itu?
--------
Keesokan harinya setelah pulang dari kuliah, Reyna dan Riko duduk di taman kampusnya. Reyna merasa gugup disamping Riko karena mengingat kejadian kemarin.
"Ada apa denganmu?"
"Ah, tidak!! Tidak ada apa apa kok Rik," Sahut Reyna dengan Cepat.
"Orang tuamu bertengkar lagi? Sudah tenang saja aku ada di sini untukmu."
Riko menarik tubuh Reyna ke dalam pelukannya.
"Iya seperti biasa Ric." Kata Reyna
"Aku sayang kamu, kamu tidak sendiri sekarang,". awan Riko meyakinkan.
"Terima kasih Ric!" Jawab Reyna gugup.
---------
Tiba-tiba ada seorang laki-laki datang menghampiri Reyna dan Riko.
"Rey...."
Laki-laki itu memanggil Reyna.
"Iya,.."
Reyna menoleh ke arah laki-laki yang datang dibelakang nya.
"Kamu kenal dia Rey?" Tanya Riko dengan wajah penuh kemarahan dan curiga.
"Iya dia temanku di bangku SMA, kenalin namanya William,, Dan William dia Riko. Ada apa Wil??" Jawab Reyna tersenyum.
"A... Aku... Pinjem uangnya $ 50 saja Rey."
Sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal, William mencari alasan untuk kedatangannya diantara Reyna dan Riko.
"Oh, ini Wil.." Reyna segera mengambilkan uang untuk William.
"Terima kasih ya Rey! secepatnya aku kembali kan." kata William
"Santai saja Wil." Jawab Reyna sambil tersenyum.
Seperti kebiasaan Reyna yang selalu ceria dan periang kepada semua orang, tapi Riko melihat Reyna tersenyum semakin membakar hatinya karena cemburu.
"Aku pergi dulu Rey, Dan cepet pulang Rey, kamu (menatap Riko) jaga Reyna baik-baik." Kata William dengan tatapan tajam.
"Mau mu apa? Brengsek aku ini pacar Reyna." Sontak Riko Langsung meluapkan emosi nya. Dan melayangkan pukulan ke arah William tapi dihadang oleh Reyna.
"Hentikan Riko! Dan kamu Wil cepat pergi!," Tegas Reyna.
-----
Setelah William pergi, Riko sangat marah kepada Reyna.
"Maksudmu membela dia apa? Kamu suka sama dia?" Gertak Riko.
"Bukan begitu Ric. Dia tidak salah apa-apa, dia datang cuma pinjam uang saja." Reyna menjelaskan.
"Sudah aku katakan jangan dekat dekat sama orang lain! kamu kenapa tidak mau ku atur?" Riko sangat marah.
"Tapi dia juga teman aku Ric." Reyna menjelaskan lagi.
"Teman? Aku tidak suka kamu berteman dengan laki laki lain." Riko semakin marah.
"Kamu hanya untukku!! Ingat itu! Kamu ngerti!! Pikirkan baik-baik itu kalau hubungan kita ingin berlanjut!"
Riko pergi begitu saja meninggalkan Reyna.
----------
Reyna jatuh duduk ke lantai dengan ditemani air mata. Dari kejauhan William melihat semua yang terjadi. Dan William kaget dengan apa yang dia lihat setelah Riko pergi meninggalkan Reyna.
Ini pertama kalinya William melihat Reyna menangis. William segera berlari menghampiri Reyna, dan segera memeluk Reyna. Tapi Reyna malah mendorong tubuh William.
"Dasar Bodoh, apa yang kamu lakukan?" Tanya Reyna sambil menghapus air mata karena dia tidak mau dianggap lemah dan cengeng.
"Rey, ada apa denganmu? Apa yang terjadi?" William tampak cemas.
"Ada apa? Memang nya apa yang terjadi? Kenapa kamu kesini lagi?" Membalikan badan membelakangi William. Reyna segera menghapus air matanya agar tetap tampak baik-baik saja.
"Aku sudah melihat semuanya Rey, kamu tidak perlu berpura-pura lagi. Pacar kamu terlalu posesif Rey. Kamu sudah dikekang dia Rey. Rey dengar aku..!! Banyak laki-laki lebih baik dari dia Rey. Kamu sekarang sangat berubah, kamu sudah tidak seceria dulu Rey. Kamu sekarang lebih pendiam, kamu sering murung Rey semenjak Kamu dekat dengan laki-laki itu. Rey kamu dengar aku kan." William memegang pundak Reyna
"Kamu tahu apa tentang aku Wil?? Siapa kamu sehingga bisa seenaknya sendiri menilai dia?" Reyna membela Riko dengan air mata.
"Kamu sudah dibutakan dengan cintanya yang mengekang mu Rey! Suatu saat cinta itu akan menghancurkan mu Rey,, dia bukan orang yang pantas untukmu."William menjelaskan.
"Darimana kamu tahu dia pantas atau tidaknya untukku?" Tanya Reyna.
"Seorang laki-laki sejati tidak akan mengekang cintanya,, seorang laki-laki sejati akan selalu mendukung cintanya,, seorang laki-laki sejati tidak akan meninggalkan begitu saja cintanya yang sedang menangis." menerangkan kepada Reyna.
Sontak jawaban William membuat Reyna terdiam dalam air mata yang terus berjatuhan. William memberanikan diri memeluk Reyna lagi.
"Rey badanmu dingin sekali."
William melepaskan jaketnya dan memakaikan kepada Reyna.
"..........." Reyna hanya diam.
"Aku antar kamu pulang ya Rey. Ini sudah mulai gelap. Ayo ambil motorku diparkiran." William meraih tangan Reyna dan menggenggamnya dengan erat seakan takut kehilangan.
Sedangkan Reyna hanya terdiam melihat perlakuan William yang sangat berbeda dengan William yang biasa dia kenal.
Reyna merasakan kehangatan dari sikap William, dia merasa tenang dan seakan semua kesedihan yang baru saja dia rasakan seolah menghilang.
Saat dibonceng William di jalan tanpa sadar Reyna memeluk William. Dengan ditemani air mata yang tak berhenti menetes. Reyna merasa ada orang yang melindunginya saat ini. Seperti memiliki seorang kakak.
Ya... Mungkin itu yang Reyna rasakan saat ini, karena dia sadar sudah ada Riko berstatus sebagai pacarnya saat ini.
"Terimakasih Wil..." Kata Reyna.
"Tidak perlu... Kamu kapan berhenti menangisinya? Kayak bayi gede saja... hahahaha...." Wlliam menghibur Reyna disela-sela dia menyetir motornya.
"Enak saja bayi gede,,, emang kamu... dasar gak berubah...." Reyna mulai melupakan kesedihannya tadi.
"hahahaha... adanya kamu tuh yang berubah jadi cengeng. Kita berhenti di minimarket sebentar ya,, ada sesuatu yang mau aku beli." Ajak William.
"Iya Wil..."
----------
Setelah keluar dari mini market, William memberikan sebuah permen karet kepada Reyna.
"Nih..." memberikan permen karet itu.
"hahaha,,,, William kamu masih ingat aku suka permen karet?" Reyna mulai tertawa.
"Mana mungkin aku lupa, kamu satu-satunya cewek yang bisa buat balon permen karet di Sekolah menengah atas dulu." Jawab William.
"Terimakasih ya Wil..."
"Sudah berapa kali kamu mengucapkan terimakasih kepada ku hari ini?? hahahaha...."
"Dasar..... kamu Wil..."
"Berapa lama kamu tidak makan permen karet Rey?" Tanya William.
"Sudah sejak....."
kata - kata Reyna tiba - tiba terhenti.
"Sejak pacaran sama si pecundang itu?" William mulai geram.
"Wil... Kamu ngomong apa sih?" Reyna masih tidak terima ketika William mengatai sang pacar.
"Sudah jangan dibahas, ayo lanjutkan perjalanan lagi." Dengan cepat William mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin melihat Reyna marah.
=======00000=======
William adalah teman Reyna sewaktu SMA dari kelas 1-3 SMA selalu satu kelas. Reyna terkenal sebagai gadis tomboy kesayangan para guru karena segudang prestasi nya, gadis periang dan berhati mulia yang tak pernah membeda-bedakan teman. Reyna dikenal sebagai murid yang selalu aktif dengan ketomboyan nya.
Memanjat pagar sekolah saat terlambat datang, perempuan satu satunya yang sering dihukum guru didepan kelas karena terlambat datang,, suka bolos jam pelajaran bersama anak laki-laki dan salah satunya William si cowok pendiam.
Reyna selalu mencair kan suasana kelas yang tegang. Gadis satu satunya yang berani mewarnai rambut dan memakai anting anting Doble. Hanya Reyna yang bisa melakukan itu semua tetapi tidak dimarahi oleh guru walau semua guru tahu hal itu.
Pasti kalian bertanya kok bisa tidak dimarahi guru padahal itu sangat tidak baik??
Karena Reyna juga menunjukkan prestasi diberbagai bidang akademik dan non-akademik. Dia juara kelas 3tahun berturut-turut. Sempat salah seorang guru meragukan hasil ujiannya. Guru tersebut mengira jika itu hasil mencontek. Dan dipanggilah Reyna ke ruang Guru.
-------
Di Ruang Guru
Teman-teman yang penasaran termasuk William, mengintip Ruang guru yang ditutup rapat itu. Reyna berada di tengah tengah para guru.
Ada 10orang guru disana dari berbagai mata pelajaran. Salah seorang guru menjelaskan mengapa Reyna dipanggil ke ruang Guru dan guru tersebut menunjukkan buku catatan Reyna yang kosong berbeda dengan buku milik teman-temannya.
Guru tersebut menantang Reyna untuk menjawab beberapa pertanyaan dari masing-masing guru secara lisan dengan imbalan jika Reyna bisa menjawab dengan benar semua pertanyaan dari para guru, Reyna tidak perlu mengerjakan tugas dan ulangan harian lagi. Dan Reyna akan langsung mendapatkan nilai 90 disetiap mata pelajaran.
Awalnya Reyna Ragu takut jika tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, tapi Reyna yakin bahwa Tuhan selalu ada untuk menolongnya karena Reyna pun tidak mau dikatakan jika hasil nilainya adalah hasil mencontek.
Satu jam dia di dalam ruang guru dan menjawab dengan benar pertanyaan para guru.
"Reyna, Bapak bangga denganmu."
Seorang guru menjabat tangan Reyna.
"Terimakasih Pak,"
"Ohc ya, bapak mau tanya. Bagaimana cara kamu bisa menjawab semua pertanyaan dari kami padahal kamu tidak pernah mencatat dan ada juga beberapa soal yang tadi belum kami ajarkan dikelas?"
"Iya pak, memang benar saya tidak mencatat sama sekali. Tapi saat bapak dan guru lain menerangkan di depan kelas saya menggambar anime. Dan yang saya ingat anime apa yang saya gambar waktu guru menerangkan materi tersebut. Dan untuk yang belum diterangkan, untungnya saya sudah membaca buku pelajaran di saat waktu luang juga saya menggambar anime disebelah materi yang saya baca."
"Jadi kamu mengingatnya hanya dengan menggunakan gambar?"
"Iya pak kurang lebih seperti itu."
"Kamu memang luar biasa Reyna."
-------
Semenjak saat itu para guru hingga kepala sekolah sangat menghormati Reyna. Pernah sekali dia terlibat Perkelahian antar sekolah tapi dia bisa lolos.
Pernah juga dia menonjokan seorang siswa dikarenakan dia membela teman perempuannya disakiti. Dan lagi guru BK malah membela Reyna karena BK sangat hafal sifat Reyna yang selalu membela kebenaran.
Pada suatu saat tiba-tiba Reyna dipanggil oleh guru BK. Sang Guru memasang muka masam yang membuat Reyna dan teman-teman sekelasnya bertanya-tanya. Reyna pun langsung pergi ke ruang BK.
"Tidak biasanya Reyna dipanggil ke ruang BK?"
"Ya biar sekali-kali lah dia dapat marahan guru."
"Tidak bisa gitu dong, dia kan baik dan pintar. Tapi bener juga ya dia sering melanggar peraturan tapi selalu lolos dari marahan guru."
"kapok!!! aku sudah muak lihat Reyna."
Ternyata William mendengar semua percakapan kedua gadis itu. tanpa aba-aba William menggebrak meja. Membuat seisi kelas terdiam seketika. tanpa ada kalimat keluar dari mulutnya, William langsung keluar kelas. Dan duduk di taman sekolah.
-----
Di Ruang Guru
"Reyna, kamu tahu kenapa kamu dipanggil kesini?," tanya Guru BK.
"Sebelumnya saya meminta maaf bu, jika saya berbuat kesalahan. Tapi sejujurnya saya tidak mengerti kenapa saya dipanggil ke sini."
"Ini yang ibu suka dari kamu. kamu begitu sopan santun. kamu tidak melakukan kesalahan apapun. kamu tahu kan sebentar Minggu depan akan ada study tour ke Bali?"
"Iya Bu, saya mengetahuinya. Tapi maaf Bu... saya tidak ikut study tour."
"Apa boleh ibu tahu apa alasan kamu?"
"Tahun ini adik saya yang nomer 2 lulus SD akan memasuki SMP. Dan adik saya yang nomer 3 juga lulus TK akan memasuki SD. Jadi orang tua saya pasti akan membutuhkan banyak uang untuk biaya sekolah adik-adik saya. Dan itu lebih sangat lebih penting dari sebuah study tour buat saya."
"Terus bagaimana dengan laporan yang harus kamu kerjakan?"
"Saya bisa membuka di internet untuk panduannya."
"Tidak semudah itu Rey... Laporan dibuat berdasar pengalaman langsung. ini ada surat pemberitahuan dari sekolah silahkan dibuka."
Memberikan amplop berwarna putih berlogo SMA tempat Reyna Sekolah.
"Apa ini Bu??"
"Pemberitahuan tentang pentingnya kegiatan study tour."
"Maaf Bu, saya benar-benar tidak bisa mengikuti kegiatan tersebut. saya tidak mau menambahkan beban orang tua saya Bu."
Meletakkan amplop putih tersebut diatas meja guru.
"Buka saja dulu Rey..."
Reyna membuka isi amplop tersebut adalah selembar kertas resmi dari sekolah yang menginformasikan bahwa Reyna mendapatkan kesempatan mengikuti study tour gratis dibiayai langsung dari sekolah sebagai apresiasi siswa berprestasi. Betapa kaget sekaligus bahagia bercampur menjadi satu.
"Apakah ini benar Bu?" dengan raut berkaca-kaca.
"Selamat ya Rey... kamu memang pantas dan berhak mendapatkannya."
"Terimakasih banyak Bu... saya tidak tahu lagi harus berkata apa."
"Dan ini ada satu lagi."
Memberikan uang 500 ribu rupiah kepada Reyna.
"Untuk apa ini Bu?"
"Untuk saku kamu nanti di Bali."
"Tapi Bu, tidak usah repot-repot... diberikan kesempatan untuk ikut study tour gratis dari sekolah saja saya sudah bersyukur."
"Ini juga dari sekolah Rey, kamu harus menerimanya."
"Ya Tuhan... terimakasih atas segala nikmat yang Engkau berikan."
Meneteskan air mata kebahagiaan.
"Selamat ya Rey, jangan kecewakan kami. Kamu harus mempertahankan prestasi kamu."
"Iya Bu, saya janji."
"Sekarang silahkan kembali ke kelas."
"Baik Bu, sekali lagi Terimakasih banyak."
-------
Saat akan kembali ke kelas, Reyna melihat William duduk sendiri sambil meminum minuman kaleng di taman sekolah. Reyna pun menghampirinya.
"wooeee.... (mengagetkan William) kenapa kamu melamun?"
"Kamu kenapa dipanggil Guru BK? Kamu habis nangis Rey?"
"Ditanya kok malah balik nanya."
"Jawab saja apa susahnya sih Rey, ada masalah apa sampai kamu dipanggil Guru BK? Sampai membuat kamu menangis seperti itu?"
"Masalah study tour."
"Kamu benar jadi tidak ikut Rey? Karena faktor biaya kan? Aku bantu ya?"
"Ya ampun Wil, kamu saja masih sering ngutang ke aku dan tidak kamu balikin."
Sambil senyum pergi meninggalkan William.
"Tapi ini beda Rey... wooee Rey tunggu, kamu mau kemana?"
"ke kelas"
"Rey ikut tungguin."
=======00000=======