Pagi itu, sinar matahari menembus tirai putih rumah besar keluarga Ratna. Alya sudah bangun sejak subuh, seperti biasanya. Ia menyiapkan sarapan dengan teliti, memasak sup hangat, telur dadar, dan bubur ayam kesukaan Ibu Ratna. Tangannya cekatan, meski tubuhnya terasa sedikit lelah karena semalam tidurnya tidak nyenyak.
Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya sejak kemarin sore-tatapan Arka. Tatapan tajam, dingin, seakan ia hanyalah benda asing yang kebetulan mengotori rumah ini. Alya mencoba mengabaikannya, meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah prasangka. Namun firasat di hatinya mengatakan sebaliknya.
Saat aroma masakan mulai memenuhi dapur, suara langkah kaki terdengar di tangga. Alya menoleh dan mendapati Arka turun dengan kemeja putih yang baru disetrika, rambutnya masih basah karena baru mandi.
Ia tampak gagah, berwibawa, aura pria kota yang sukses dan berkelas. Namun semua itu tidak membuat Alya nyaman-justru membuatnya gugup.
Arka melangkah ke meja makan, lalu duduk tanpa berkata apa pun. Ia hanya melirik Alya sekilas, lalu menyalakan ponselnya, jari-jarinya sibuk mengetik sesuatu.
"Selamat pagi, Mas," ucap Alya pelan, mencoba sopan.
Arka mengangkat wajahnya sebentar, lalu menatap Alya dengan tatapan dingin. "Kau yang masak ini?"
"I.. iya, Mas," jawab Alya gugup.
Arka menyendok sup lalu mencicipinya. Ia tidak berkata apa-apa, hanya makan dengan ekspresi datar. Alya menunduk, berharap masakannya tidak mengecewakan.
Tak lama kemudian, Ibu Ratna turun dengan wajah cerah. "Wah, sarapannya sudah siap, ya? Terima kasih, Alya."
"Sama-sama, Bu," jawab Alya sambil tersenyum lega.
Mereka pun sarapan bersama. Ibu Ratna tampak gembira karena akhirnya bisa makan bersama putranya setelah sekian lama.
"Arka, bagaimana pekerjaanmu di luar negeri?" tanya ibunya penuh semangat.
"Baik. Aku akan mulai mengurus beberapa bisnis di sini juga," jawab Arka singkat, matanya tetap menatap layar ponselnya.
Alya diam, hanya fokus melayani kebutuhan mereka. Sesekali ia menambahkan air putih ke gelas atau mengambilkan lauk tambahan. Namun ia bisa merasakan bahwa setiap kali ia mendekat, tatapan Arka selalu mengikutinya. Tatapan yang membuatnya merinding.
Hari-hari berikutnya, Alya semakin sering bertemu Arka. Lelaki itu jarang berbicara padanya, tetapi tatapan dingin itu tidak pernah hilang.
Pernah suatu kali, Alya sedang menyapu ruang tamu ketika Arka pulang larut malam. Tubuhnya sedikit sempoyongan, aroma alkohol tercium jelas. Alya terkejut, buru-buru menunduk.
"Mas sudah pulang," ucapnya pelan.
Arka tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri di depan pintu, menatap Alya dengan sorot mata tajam. Kemudian ia tersenyum tipis, senyum yang lebih menyerupai ejekan.
"Kau selalu sibuk, ya? Apa kau pikir rumah ini akan runtuh kalau kau berhenti menyapu sebentar?"
Alya terdiam, bingung harus menjawab apa.
"Saya hanya menjalankan tugas, Mas," jawabnya lirih.
Arka mendekat, langkahnya pelan namun menekan. Alya mundur setapak, jantungnya berdegup kencang. Namun untunglah, sebelum ia bisa berkata lagi, Ibu Ratna muncul dari tangga.
"Arka! Kau sudah pulang? Kau mabuk lagi, Nak?" tegur ibunya dengan nada kesal.
Arka hanya mendengus, lalu melangkah naik ke lantai dua tanpa menjawab. Alya menghela napas lega.
Keesokan paginya, ketika Alya sedang menjemur pakaian di halaman belakang, ia mendengar suara Arka berbicara di telepon.
"Ya, aku sudah kembali. Urusan di sana sudah selesai... Jangan khawatir, aku akan segera mengatur semuanya."
Suara Arka terdengar tegas, penuh percaya diri. Namun yang membuat Alya gelisah adalah saat ia tanpa sengaja menangkap Arka menoleh ke arahnya. Tatapan itu lagi-menelisik, seakan sedang menilai sesuatu.
Alya buru-buru menunduk, pura-pura sibuk dengan jemuran.
Beberapa hari berlalu, Alya mulai terbiasa dengan kehadiran Arka meski ia tidak pernah merasa nyaman. Ia mencoba fokus bekerja, mengabaikan keberadaan lelaki itu. Namun rupanya Arka tidak mudah diabaikan.
Suatu sore, Ibu Ratna harus pergi ke acara arisan. Alya ditinggalkan di rumah sendirian bersama Arka. Saat itulah ketegangan benar-benar terasa.
Alya sedang di dapur, memotong sayuran untuk makan malam, ketika tiba-tiba suara berat Arka terdengar di belakangnya.
"Kau tidak pernah berhenti bekerja, ya?"
Alya hampir menjatuhkan pisau karena kaget. Ia menoleh, melihat Arka berdiri bersandar di pintu dapur dengan tangan terlipat di dada.
"Saya... hanya menyiapkan makan malam, Mas," jawab Alya gugup.
Arka melangkah masuk, mendekat perlahan. "Berapa lama kau sudah bekerja di sini?"
"Hampir tiga bulan, Mas."
"Dan Ibu memperlakukanmu dengan baik?"
"Iya, Bu Ratna sangat baik pada saya."
Arka mengangguk pelan, matanya menatap Alya tanpa berkedip. "Kau tahu, tidak semua orang bisa mendapatkan keberuntungan seperti itu. Banyak gadis desa datang ke kota dan berakhir di jalanan. Kau cukup beruntung, Alya."
Nada suaranya terdengar seperti pujian, tapi tatapannya membuat Alya merasa sebaliknya-seperti sedang diintai.
"Saya hanya berusaha bekerja sebaik mungkin, Mas," ucap Alya sambil menunduk, berharap pembicaraan segera selesai.
Arka tersenyum tipis, lalu berbalik keluar dari dapur. Namun sebelum pergi, ia sempat berbisik, "Tetaplah seperti itu... rajin dan penurut."
Alya terdiam, tubuhnya merinding. Kata-kata itu terdengar sederhana, tetapi nada Arka membuatnya seolah sebuah ancaman tersembunyi.
Malam itu, Alya sulit tidur. Ia memikirkan sikap Arka yang semakin membuatnya resah. Di satu sisi, ia ingin tetap bekerja demi neneknya. Di sisi lain, ia merasa rumah ini tidak lagi menjadi tempat yang aman sejak Arka kembali.
Ia menatap langit-langit kamar sambil berdoa dalam hati. "Ya Tuhan, lindungi aku. Jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi."
Namun entah mengapa, hatinya semakin yakin bahwa badai besar sedang menunggu di depan.
Beberapa hari berikutnya, Alya berusaha lebih banyak menghindari Arka. Ia bangun lebih pagi, bekerja lebih cepat, lalu berdiam diri di kamar ketika tidak ada pekerjaan. Namun Arka seolah selalu punya cara untuk membuat keberadaannya terasa.
Suatu siang, Alya sedang menata buku-buku di ruang kerja Ibu Ratna. Arka tiba-tiba masuk tanpa mengetuk.
"Apa kau sering masuk ke ruangan ini?" tanyanya.
"Saya hanya membersihkan, Mas. Sesuai perintah Bu Ratna," jawab Alya cepat.
Arka berjalan mendekat, mengamati meja kerja, lalu menatap Alya. "Kau terlihat... berbeda dari pembantu rumah tangga lain. Kau terlalu cantik untuk pekerjaan ini."
Alya tersentak, wajahnya memerah. Ia tidak tahu harus menjawab apa. "Maaf, Mas. Saya harus kembali ke dapur," ucapnya terburu-buru, lalu melangkah keluar.
Namun sebelum ia sempat melewati pintu, suara Arka menahannya. "Alya."
Ia menoleh pelan.
Tatapan Arka menusuk, seakan sedang mengunci gerakannya. "Ingat apa yang kukatakan... tetaplah rajin dan penurut. Itu akan menyelamatkanmu."
Hari berganti, dan kegelisahan Alya semakin menjadi. Ia mulai sering berdoa, berharap Tuhan memberinya jalan keluar. Ia tidak ingin kehilangan pekerjaannya, karena itu satu-satunya harapan untuk neneknya. Tapi ia juga tidak bisa mengabaikan rasa takut yang kian menghantuinya setiap kali berhadapan dengan Arka.
Dan Alya tahu... cepat atau lambat, sesuatu akan terjadi. Sesuatu yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Malam itu hujan turun deras. Rintik air menghantam jendela kamar Alya, menciptakan suara berulang yang seharusnya menenangkan. Namun, bagi Alya, malam itu bukan malam yang tenang. Ia duduk di tepi ranjang, tangannya meremas kain selimut sambil menatap kosong ke arah lantai.
Sejak Arka kembali ke rumah ini, Alya tidak pernah merasa benar-benar aman. Tatapan lelaki itu, kata-kata samar yang dilontarkan, bahkan langkah kakinya yang berat di lorong-semuanya membuat jantung Alya berdegup kencang. Ia sudah berusaha menghindar, tapi semakin hari semakin sulit.
Alya menutup mata, menarik napas panjang. Mungkin aku terlalu takut. Mungkin dia hanya iseng. Aku tidak boleh berpikir buruk terus... gumamnya dalam hati.
Namun pikirannya terhenti ketika suara ketukan keras terdengar di pintu kamarnya.
Tok! Tok! Tok!
Alya tersentak, tubuhnya kaku. Siapa yang mengetuk malam-malam begini?
"Siapa?" tanyanya lirih dengan suara gemetar.
Tidak ada jawaban. Hanya suara hujan yang makin deras di luar sana.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan itu terdengar lagi, lebih keras kali ini. Alya merasakan bulu kuduknya berdiri. Dengan hati-hati, ia bangkit dari ranjang dan berjalan mendekati pintu. Tangannya gemetar saat menyentuh gagang pintu.
"Alya," suara berat itu akhirnya terdengar.
Alya membeku. Itu suara Arka.
Ia mundur beberapa langkah, menjauh dari pintu. "Ada apa, Mas?" tanyanya dengan suara nyaris tak terdengar.
"Aku ingin bicara."
"Bicara saja besok, Mas. Sekarang sudah malam."
Hening sejenak. Lalu suara tawa pendek terdengar dari balik pintu. "Kau pikir aku tidak tahu kau masih terjaga? Buka pintunya."
Alya menggeleng panik meski Arka tidak bisa melihat. "Maaf, Mas. Saya capek. Saya ingin tidur."
Ketegangan makin terasa. Lalu, tiba-tiba, gagang pintu itu digoyang keras. Alya menjerit pelan, mundur lagi hingga menempel ke dinding.
"Alya! Buka pintu!" suara Arka meninggi, kali ini penuh perintah.
Alya memejamkan mata, tubuhnya gemetar hebat. Ia tidak berani menjawab.
Beberapa detik kemudian, suara itu mereda. Tidak ada lagi teriakan, tidak ada ketukan. Alya terdiam, mencoba mendengar dengan seksama. Apakah Arka sudah pergi?
Namun, sebelum ia sempat lega, pintu itu tiba-tiba terbuka dengan keras. Arka berdiri di ambang, wajahnya basah oleh sisa hujan ketika tadi keluar sebentar, matanya merah, entah karena marah atau alkohol.
Alya menjerit kaget, tubuhnya mundur ke ranjang. "Mas! Tolong jangan masuk!"
Arka melangkah masuk dengan tatapan dingin. "Kau pikir kau bisa menolak aku, Alya?"
"Saya mohon, Mas. Jangan seperti ini..." Alya merintih, suaranya pecah.
Arka menutup pintu di belakangnya, lalu melangkah cepat menghampiri Alya. Gadis itu berusaha kabur ke sisi lain ranjang, namun Arka lebih cepat. Tangannya menarik pergelangan Alya dengan kasar hingga gadis itu terjatuh di atas kasur.
"Mas! Lepaskan saya! Tolong!" teriak Alya, air matanya mulai jatuh.
Namun Arka seolah tuli. Tatapannya penuh nafsu dan arogansi. "Diam! Jangan berteriak, atau aku akan membuatmu menyesal."
Alya mencoba meronta, menendang, bahkan memukul dada Arka. Namun tenaganya tak sebanding dengan lelaki dewasa itu. Arka menahan kedua tangannya, mendesaknya ke bawah.
"Saya mohon, Mas! Jangan lakukan ini! Saya hanya ingin bekerja di sini, saya tidak pernah berniat macam-macam! Saya mohon, Mas Arka!" tangis Alya pecah, suaranya parau.
Arka tidak peduli. Ia justru menunduk, membisikkan kata-kata dingin di telinga Alya. "Kau terlalu cantik untuk jadi pembantu. Kau harus tahu tempatmu."
Tangisan Alya semakin keras, tubuhnya bergetar hebat. Ia berusaha meraih apa pun di sekitarnya untuk melawan, tetapi Arka jauh lebih kuat.
Malam itu, hujan deras seakan ikut menangis menyaksikan kehormatan Alya direnggut secara paksa. Dunia Alya runtuh dalam sekejap.
Keesokan paginya, Alya duduk di sudut kamarnya, tubuhnya lunglai, matanya bengkak karena semalaman menangis. Seluruh tubuhnya terasa sakit, tetapi hatinya jauh lebih hancur. Ia merasa kotor, hina, dan kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
Ia memeluk lututnya erat, mencoba menenangkan diri, namun air mata terus mengalir. Kenapa ini terjadi padaku? Apa salahku?
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Arka masuk dengan wajah dingin. Alya spontan menoleh, tubuhnya gemetar ketakutan.
"Pergi!" teriaknya dengan suara serak. "Jangan dekat-dekat lagi sama saya!"
Arka hanya menatapnya, lalu tersenyum tipis. "Kau masih di sini? Kupikir kau akan kabur."
Alya menatapnya dengan benci. "Mas sudah menghancurkan hidup saya! Kenapa Mas tidak punya rasa bersalah sama sekali?"
Arka tertawa pendek. "Rasa bersalah? Untuk apa? Kau hanya seorang pembantu, Alya. Jangan merasa terlalu berharga."
Air mata Alya semakin deras. "Saya manusia, Mas. Saya punya harga diri!"
Arka mendekat, membuat Alya semakin mundur ke dinding. Namun kali ini, Arka hanya berhenti beberapa langkah di depannya.
"Dengar baik-baik. Kau tidak boleh cerita pada Ibu tentang apa yang terjadi. Kalau sampai kau buka mulut, aku akan pastikan kau menyesal seumur hidup," ancamnya dengan suara rendah namun tegas.
Alya terisak, tubuhnya bergetar hebat. Ia ingin melawan, ingin berteriak, tapi ketakutan membungkam suaranya.
Arka melangkah pergi, meninggalkan Alya sendirian lagi di kamar itu-dengan hati yang hancur berkeping-keping.
Hari-hari berikutnya menjadi neraka bagi Alya. Ia masih bekerja seperti biasa, mencoba menutupi luka batinnya di depan Ibu Ratna. Wanita baik itu tidak tahu apa yang terjadi, karena Alya terlalu takut untuk bercerita.
Setiap kali berpapasan dengan Arka, Alya merasa sesak. Lelaki itu bertingkah seolah tidak pernah terjadi apa-apa, bahkan sering memandangnya dengan tatapan meremehkan.
Alya hanya bisa menahan tangis di kamar setiap malam. Ia merasa sendirian, tak ada tempat untuk mengadu. Satu-satunya orang yang ia pikirkan hanyalah neneknya di desa. Kalau aku pulang, bagaimana dengan nenek? Kalau aku bertahan, aku harus menanggung rasa sakit ini...
Ia terjebak di antara dua pilihan yang sama-sama menyakitkan.
Suatu sore, ketika Alya sedang menyiram tanaman di halaman, Ibu Ratna menghampirinya.
"Alya, kau kelihatan pucat. Apa kau sakit?" tanyanya khawatir.
Alya buru-buru menggeleng. "Tidak, Bu. Saya hanya kurang tidur."
Ibu Ratna menatapnya lekat-lekat. "Kalau ada apa-apa, jangan sungkan cerita ke Ibu, ya. Kau sudah seperti anak sendiri bagi Ibu."
Alya hampir menangis mendengar itu. Ingin sekali ia jujur, mengatakan apa yang sudah Arka lakukan. Tapi ketakutan akan ancaman Arka membuatnya hanya bisa tersenyum kaku.
"Iya, Bu. Terima kasih."
Malamnya, Alya duduk di ranjang sambil menatap jendela. Hatinya penuh dengan luka, marah, takut, dan putus asa. Ia berdoa dalam hati, berharap Tuhan memberikan kekuatan.
"Alya harus kuat," gumamnya pada diri sendiri. "Kalau tidak untuk diriku, setidaknya untuk nenek. Aku tidak boleh hancur."
Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu luka ini tidak akan mudah sembuh. Kehormatannya telah direnggut, masa depannya terasa suram, dan lelaki bernama Arka itu masih berada di bawah atap yang sama dengannya.
Dan Alya tahu, penderitaan ini baru saja dimulai.