“Prang”
Pecahan kaca tersebar dilantai. Menjulurkan tangannya, Zeesya berusaha menjangkau perawat di sampingnya. Tidak mendapat pegangan kuat, Zeesya malah terdorong ke arah pecahan kaca.
Tangannya sangat perih, lama dalam keadaan koma membuat kulitnya menjadi rapuh. Matanya merah berkaca-kaca.
Sakit, tapi Zeesya berusaha menahannya. Menegakkan kepala, Zeesya melihat bayangan senyum sinis di wajah perawat yang mendorongnya.
“Oh nona, harap hati-hati.” Dasty dengan cepat membantu Zeesya berdiri. Beberapa pecahan kaca menembus terlapak tangan.
“Siapa namamu?” suara Zeesya bergema di bangsal itu. Tidak ada indikasi memaksa.
Baginya hal kecil ini tidak akan menghilangkan keanggunan dan pengajaran yang didapatnya selama ini. Pandangan Zeesya diarahkan kepada perawat yang menghindar ketika ia jatuh tadi.
“Rania.” Jawabnya sambil mengangkat sebelah alis. Seakan memperjelas tebakan di hati Zeesya.
Rania, pantas saja Zeesya merasa tak asing. Salah satu teman Natallie yang bisa dibilang bukan berasal dari keluarga yang berpengaruh.
Tapi Rania adalah sosok yang bisa dijadikan alat oleh Natallie. Sebagai perwujudan dewi dihati semua orang. Padahal dibalik semua itu, Rania adalah pion, anak kuda Natallie.
“Apakah kamu tau, etika seorang perawat?”
Suara Zeesya tenang dan mengalir. Wajahnya tetap tenang , lembut dan indah seperti biasa. Tapi Rania tidak dapat mengabaikan intimidasi yang ada.
“Apa kamu berhak mengajariku?,,hah.”
“Zeesya,,,ckckck”
“Kau pantas mendapatkannya. Beraninya kau menolak kehormatan untuk dapat mengandung bayi Natallie.” Rania berkata dengan keras.
Perawat yang sedang membantu mengambil pecahan kaca ditangan Zeesya merasa bingung dengan pertengkaran yang ada. Untungnya sebuah interupsi datang menyelamatkan keadaan.
Pintu bangsal terbuka, sosok tinggi berjas putih dan tak lupa berkacamata masuk kedalam bangsal.
“Apa kabar nona Lawrence?”
“Tampaknya Anda tidak baik-baik saja.” Ujar dokter Bryan.
Zeesya mengarahkan pandangan kepada pria tersebut. Dilihat dari penampilannya sudah jelas bahwa ini adalah seorang dokter veteran yang masih muda, sepertinya masih dibawah 30 tahun.
Ini pertama kalinya dokter tersebut memeriksa keadaannya.
Melihat kekacauan yang ada, Bryan James mengeluarkan tanda tanya diraut wajahnya. Rania terkejut melihat kedatangan dokter Bryan, sedikit kalang kabut ia mulai merapikan rambutnya. Mencoba mengambil sikap tenang dan anggun.
“Dokter, pasien ini sengaja menuduh saya.” Keluh Rania dengan suara centil. Sangat kontras sekali. Rania yang tadi berwajah kejam berubah seketika menjadi lembut.
Setelah mendengar penjelasan dari perawat yang menangani Zeesya. Bryan mengerti apa yang sedang terjadi. Ia bukan orang bodoh yang tidak bisa membedakan yang baik dan buruk.
“Kembali dan ambil surat peringatan rumah sakit setelah ini!”
Lagian ia sudah sangat muak dengan perawat centil ini.
Seketika wajah Rania pucat.
“Dokter, ini bukan kesalahanku. Dia... wanita jalang itu menejebakku.” sergahnya tergesa.
“Kau harus membelaku. Bryan...” Rania mulai menangis. Berusaha membelai hati Bryan.
Bryan pusing dengan kelakuannya, memerintahkan dua perawat yang dibawanya untuk menyeret Rania keluar bangsal.
Setelah keadaan tenang, Zeesya juga sudah selesai menjalani perawatan. Tangan kirinya terbalut kain kasa tebal.
Wajah yang beberapa hari ini sudah kemerahan mulai pucat kembali.
Melihat gadis ini, Bryan masih bertanya-tanya. Apa yang membuat sahabatnya mau menolong kecantikan ini.
Awalnya Bryan berpikir, apa Zehan terpana dengan paras cantik gadis ini. Harus diakui kalau gadis ini sangat cantik.
Tapi pikiran itu langsung ditepis oleh Bryan. Seorang Zehan tidak akan tergoda dengan wanita manapun.
"Maaf atas ketidaknyamanannya nona Lawrence.” Ucap Bryan.
Zeesya yang memperhatikan setelah sekian lama, akhirnya bersuara.
“Tidak apa-apa.”
Zeesya tidak ingin memperpanjang masalah. Fakta bahwa Rania hanya mendapat teguran dan surat peringatan menyatakan bahwa ia memiliki orang yang berpengaruh dibelakangnya. Dan Zeesya sudah bisa menebaknya. Orang itu sudah pasti Natallie.
“Bagaimana keadaannya And hari ini? Apakah ada keluhan?” tanya dokter muda itu.
Zeesya menggeleng dengan lemah,
“Saya baik-baik saja dokter.”
Setelah itu, Bryan mulai melakukan serangkaian tindakan pemeriksaan terhadap jantungnya.
....
Setelah banyak rangkaian perawatan pasca sadar dari koma. Akhirnya, hari ini Zeesya diizinkan keluar dari rumah sakit.
“Suster,,,siapa yang membayar biaya pengobatan saya selama ini?” suaranya yang lembut dan merdu mengisi bangsal.
Hari ini Dasty telah menyelesaikan pekerjaannya, dibantu oleh perawat lainnya Zeesya menyelesaikan prosedur check out.
Zeesya tidak yakin Roy akan membayar biaya pengobatannya, tapi siapa sebenarnya. Kamar VIP ini jelas bukan bentuk rasa kasihan pihak rumah sakit padanya.
“Maaf nona saya tidak tahu tentang masalah ini, tapi nona tenang saja semua biaya pengobatan sudah dilunasi.” jelas perawat itu.
Zeesya mengangguk dengan lembut. Meskipun ia sangat penasaran tapi waktu kedepannya masih panjang untuk mengetahuinya.
Setelah keluar dari rumah sakit ia pasti akan mendapatkan informasi dermawan itu dan membalasnya kembali.
“Suster bolehkah saya meminjam ponsel anda?”pintanya.
Perawat dengan terburu-buru mengambil ponsel di sakunya. Meskipun perawat itu tidak tau siapa yang membayar biaya pengobatan pasien ini, tapi yang jelas itu perintah dari atas. Satu hal yang pasti bahwa ia tidak dapat menyinggung perasaan nona muda ini.
Mengetik serangkaian angka, Zeesya menghubungi nomor telepon rumahnya. Pada dering ketiga panggilan dijawab.
“Hallo...”
Suara yang sudah dikenal Zeesya menjawab panggilannya. Ini adalah suara kepala pelayannya.
“Paman,,, ini aku”
“Nona mudaaa...” tangisan histeris terdengar di ujung telepon membuat mata Zeesya berkaca-kaca.
“Paman aku berada di rumah sakit kota, kemarilah nanti aku akan menjelaskan semuanya.”
Setelah menyelesaikan panggilan, Zeesya berterimakasih sambil mengembalikan ponsel kepada perawat.
Meski masih sedikit lemah, tapi Zeesya penuh vitalitas. Baju putih pasien sebelumnya kini sudah berganti dengan sebuah gaun biru sederhana.
Satu tahun koma membuat kulitnya menjadi sangat putih, jenis yang yang seperti bersinar dibawah cahaya matahari. Meskipun berjenis kelamin perempuan, perawat tidak bisa menahan sipuan diwajahnya.
....
Disebuah mansion indah di tepi kota A, terjadi keributan. Seorang wanita paruh baya sedang membantu para pelayan menyiapkan makanan di dapur. Tak lama kemudian terdengar suara bersemangat seorang pria tua.
“Emma, nona muda sudah kembali,,, Ya Tuhan nona muda kita...” seru seorang lelaki tua.
Kepala pelayan itu berlari dengan penuh semangat, menyampaikan berita pada Emma yang sudah mengasuh nona muda mereka sejak kecil.
Air mata bahkan tak dihiraukannya lagi. Rasanya ia sedang bermimpi, nona muda mereka yang telah menghilang selama setahun akhirnya kembali.
“Apa...nona...nona muda yang mana?” wajah Emma pucat, wajahnya putih seputih kertas. Pisau ditangan kanan melenceng menggores jari telunjuk kirinya. Sayangnya kepala pelayan tidak memperhatikannya.
“Tentu saja nona muda Zeesya, siapa lagi yang bisa menjadi nona muda?,,,Ya Tuhan,,,Tuan dan Nyonya bisa tenang diatas sana.” Ujarnya menangis bahagia.
Mata kepala pelayan kabur oleh air mata. Raut ekspresi Emma tak terbaca olehnya.
Emma terpaku, pisau yang sebelumnya sempat menggores tangannya telah meneteskan darah, menetes ke atas paha ayam yang akan dimasaknya.
“Ya Tuhan, nona muda akhirnya kembali. Cepat pergi jemput nona, untuk apa kau masih berdiri seperti patung disini. Aku akan masak semua hidangan kesukaan nona.” Desak Emma kepada kepala pelayan.
Wanita itu kini heboh tidak menentu setelah sebelumnya terpaku mendengar kata-kata Zayn, kepala pelayan itu.
‘Zeesya kembali!”
Pikirannya kosong, berita ini mengguncang hatinya. Nona muda kembali, lalu putrinya bagaimana. Tapi Emma bukan seorang yang mudah, wajahnya dengan cepat berubah.
Kebahagiaan palsu tertera diwajahnya.
Mengikuti semangat kepala pelayan, Emma mengusap air mata yang tak ada diwajahnya.
Kepala pelayan meminta pengemudi dengan cepat mengantarkannya menuju Rumah Sakit pusat kota. Sungguh sebuah misteri, hampir satu tahun nona menghilang, semua upaya sudah dikerahkan untuk mencarinya, tapi seseorang yang dicari itu ternyata ada didekat mereka selama ini.
Setelah kepala pelayan pergi, Emma kembali kamarnya. Dengan tangan yang bergetar, ia buat panggilan kepada putri semata wayangnya.
"Arg,,, kenapa jalang ini masih hidup?" Bisiknya frustasi.
Di salah satu club malam terkenal di ibu kota, banyak tamu dari lapisan masyarakat kelas atas berkumpul malam ini.
“Malam ini, aku akan mentraktir kalian semua.” Seru Anna dengan dagu tingginya. Pakaian yang terbuka tampaknya tak menjadi masalah baginya dimalam musim dingin ini.
Mendengar perkataan gadis itu, semua temannya bersorak.
“Wahh,,, Anna tersayang kita adalah yang paling kaya. Hatiku rasanya akan berdarah dengan semua ini.”
“Sayangku,,,aku tidak akan sopan malam ini.”
Mereka semua tertawa gembira. Anna selalu sangat loyal kepada teman-temannya.
Mereka semua adalah masyarakat kelas menengah keatas di ibu kota, meski para orang tua mereka kaya bukan berarti mereka bisa menghabiskan uang saku seperti air mengalir.
Apalagi tempat ini adalah Dream Night, tempat seperti apa itu? Club malam yang akan menghabiskan uang hidup tiga bulan hanya dengan sekali duduk.
Tapi bagi Anna itu berbeda, kartu keanggotaan VVIP tertinggi sekarang adalah miliknya. Ia bisa mendapatkan semua layanan terbaik yang ada di Dream Night.
Bunyi ponsel yang entah sudah kesekian kalinya terdengar ditelinganya. Anna berdiri dari pelukan kekasihnya dan berjalan menuju sudut yang agak sepi.
“Ibu...ada apa?” Anna mengernyitkan dahinya, merasa agak kesal karena kesenangannya diinterupsi.
“Sayang kau cepatlah pulang, jalang itu kembali. Dia masih hidup.” Suara Emma terdengar dengan tergesa-gesa.
“Apa,,,siapa yang kembali bu?” tannya Anna yang tengah menekan telinganya dengan tangan sebelah kiri. Musik disko yang keras mengganggu pendengarannya.
“Zeesya,,, jalang itu kembali sayang, pokoknya kau pulang secepatnya. Jangan sampai dia tau kalau kau menghabiskan uangnya selama ini.” Lontar Emma.
“Sial,,, kenapa dia tidak mati saja?” sungut Anna kepada ibunya.
“Oke, sebentar lagi aku akan pulang.” Sambungnya kesal dan langsung menutup panggilan.
Anna kembali ke tempat duduknya. Beberapa temannya sudah ada yang mabuk.
“Tolong kirimkan tagihan malam ini kepada saya.” Ujarnya kepada salah satu pelayan.
Mengambil tas diatas meja ia melenggang pergi.
....
Audy hitam sampai di depan gerbang hitam besar terlihat terbuka secara otomatis. Di depan pintu masuk utama, deretan pelayan memiliki mata merah berkaca-kaca tersusun menyambut kepulangan Zeesya.
Pintu mobil terbuka, dengan bantuan kepala pelayan Zeesya duduk diatas kursi roda, didorong melewati halaman yang sangat akrab baginya.
Memasuki pintu utama, Zeesya merasakan sedikit keasingan. Ia memandang keatas. Pada lukisan air terjun yang tergantung di dinding tengah diantara dua tangga besar yang melingkar.
Walaupun Indah dan menyegarkan tapi ia tidak menyukainya.
Raut wajahnya masam, sebab lukisan itu menggantikan foto keluarga tiga orang. Foto ia bersama ayah dan ibunya. Meski bukan anak kandung mereka, Zeesya bahagia bisa menjadi bagian dari keluarga yang harmonis ini.
“Paman, dimana lukisan sebelumnya?” tanyanya.
“Sayang sekali Nona, lukisan itu jatuh 2 bulan yang lalu. Tapi tenang saja, saat ini sedang dalam perbaikan.” Ujar kepala pelayan menenangkan dirinya.
Sudah satu tahun ia menghilang, ia berharap semuanya tetap baik-baik saja. Semakin kedalam ia bisa melihat ada beberapa dekorasi mansion sudah berubah.
Zeesya ingat di sudut dinding kiri ini Ia meletakkan sebuah keramik kuno langka senilai puluhan ribu dolar. Tapi tampaknya seseorang memindahkan keramik itu.
Sekarang disana yang terpajang sebuah keramik imitasi yang bisa dibilang sama seperti sebelumnya. Tapi siapa Zeesya?, hanya dengan sekali pandangan Zeesya tahu ini palsu.
“Paman, Aku ingin semuanya kembali seperti sebelumnya besok pagi!” tegas Zeesya.
Emma hanya diam saja, merasa tak bersalah sedikit pun.
“Sesuai kehendak Anda Nona.”
Bagi Zeesya akun ini akan diperhitungkan nanti, jangan sampai ia mengejutkan ular yang bersembunyi. Tampaknya satu tahun ia absen, nyonya rumah ini pun sudah berubah.
Para pelayan semua sangat bersemangat, tapi melihat wajah muram tuan mereka, mereka memilih untuk diam.
Kepala pelayan dengan cepat mengantarkan Zeesya ke kamarnya. Meski ruang utama mansion ada sedikit perubahan, kamarnya tetap seperti yang diingatnya.
Tak lama kemudian, ketukan pintu terdengar, tanpa menunggu jawaban Zeesya, Emma melenggang masuk dengan seorang pelayan. Pakaiannya mewah, tidak ada indikasi seorang pengasuh atau pelayan pada dirinya.
“Nona muda,,,akhirnya kau kembali. Bibi sudah lama resah. Sangat menyakitkan bagiku untuk makan dan tidur selama ini.” Ujarnya wanita itu dengan prihatin.
“Memikirkanmu entah dimana aku tak bisa berhenti menangis setiap malam. Syukurlah kau masih hidup nona.”
Sambil menganis terisak, Emma memegang tangan Zeesya. Merasa munafik Zeesya melepaskan tangannya.
“Nona muda, hari ini aku sudah menyiapkan semua hidangan kesukaanmu.” Dengan penuh semangat Emma memerintahkan pelayan menyiapkan hidangan.
Dari awal sampai akhir Zeesya tetap tenang, saat ini ia tidak percaya dengan siapapun dirumah ini, ia harus menangkap ular yang tersembunyi.
“Terimakasih Bibi Emma, aku sangat senang melihatmu lagi.” Ujar Zeesya datar.
Emma adalah pengasuhnya sejak sekolah dasar. Tak lama setelah mendiang Ayah dan Ibunya mengangkatnya menjadi putri mereka. Emma ditunjuk sebagai pengasuhnya.
“Bibi, bawa saja kembali makanan ini ke dapur. Aku tidak bisa mencerna semua ini.” Pintanya.
Emma mengoceh di dalam hati. ‘Dasar jalang, kau pikir aku sudi menyambutmu.’
“Baik nona,,, saya harap nona beristirahat dengan baik.” Ucap Emma dengan senyum palsunya.
Sesampainya di depan kamar. Emma menyibakan rambutnya, keluar dengan kesal.
Setelah Emma pergi Zeesya merasa sedikit tenang. Ia duduk diatas kasur, matanya berputar mengelilingi kamar.
Mata Zeesya berlinang, sedih teringat akan Ayah dan Ibunya. Ia mengambil sebuah foto dilaci nakas sebelah kanan ranjangnya.
“Ayah,,, Ibu,,, apa kabar?”
“Zeesya harap semuanya akan baik baik saja.”
Zeeya meletakkan kembali foto itu, tanpa sengaja ia melihat gelang hitam yang sudah usang di lacinya.
Gelang itu dikelilingi oleh beberapa huruf yang tergantung disana. Sebuah kata ZeeZe terangkai dari gantungan itu.
Meskipun terbuat dari bahan yang murah, tetapi terlihat indah dan lucu. Semenjak kecil, Zeesya tak pernah terpikir untuk membuang gelang itu. Ia merasa bahwa gelang ini sangat bermakna.
Merasa sedikit lapar, Zeesya mengembalikan gelang itu dan mengambil handphone baru yang sudah disiapkan kepala pelayan sebelumnya.
Tiba-tiba saja kepalanya terasa sakit berdenyut.