Bab 2

“Katrok, Deblo dan Supri, segera ke kamar gudang, ada bonus buat kalian!”

Setelah mengetik pesan itu, Fredy Lalu mengirimkannya sembari melengkungkan satu buah senyum yang sangat lebar. Ia benar-benar merasa puas, akhirnya ia dapat membalaskan sakit hatinya selama ini.

Beberapa menit kemudian, Deblo, Katrok dan Supri tampak memasuki ruangan kamar yang sengaja sudah dibuka oleh Fredy Satu menit yang lalu. Ketiga preman itu tercekat, menelan air liur mereka saat melihat tubuh Felisha yang masih tidak tampak sehelai benangpun di tubuhnya.

Dengan sekuat tenaga Felisha terlihat bergerak perlahan, berusaha untuk bangkit dari pembaringannya sembari menutup sebagian tubuhnya dengan kedua tangan. Firasat buruk seketika kembali memenuhinya saat ia memicingkan kedua matanya dan melihat kehadiran ketiga preman itu.

“Tolong... ja... ja.. ja-jangan... huhuhu....”

Tangis Felisha benar-benar terdengar sangat mengiba, rasa takut dan putus asa yang memuncak membuatnya lebih memilih mati saat itu juga. Tetapi, kedua matanya yang sempat menyapu seluruh ruangan kamar, sama sekali tidak melihat satupun cara dan alat yang bisa mengakhiri hidupnya.

“Bos, cantik banget... boleh kami garap bareng-bareng?” tanya Katrok, menelan air liurnya entah untuk ke berapa kalinya. Seketika itu juga ia merasa napasnya mulai bertambah cepat. Begitu pula dengan Deblo dan Supri yang tampak ingin segera mendekati Felisha .

Mereka sudah tidak sabar untuk segera membongkar seluruh pakaian yang melekat pada tubuh mereka, lalu bermain dengan tubuh Felisha yang putih, mulus, kencang dan padat. Sangat berbeda dengan wanita-wanita yang biasa mereka “pakai”.

“Jangan buru-buru, nikmati dulu serbuk dunia ini ...” ucap Fredi sembari mengeluarkan 4 buah bungkus plastik kecil di sakunya dan memberikan bungkusan itu ke Deblo sebelum ia kembali memberikan perintah kepadanya, “Proses ini dulu, yang lainnya boleh melakukan pemanasan sama gadis cantik itu, cepat!”

“Siap bos!”

Ucap Deblo sigap mematuhi perintah Eddie. Lalu dengan cekatan, ia menyiapkan segala peralatan untuk memproses barang terlarang itu. Sementara di ranjang, Katrok sudah berada di atas tubuh Felisha , kedua tangannya sibuk menjelajahi setiap sudut tubuh Felisha yang benar-benar sudah tidak berdaya. Kibasan tangan dan tendangan kakinya sama sekali tidak memberi pengaruh yang berarti, Katrok dan Supri dengan mudah menguasai dan mendominasi tubuh Felisha .

“Aaaarrrghhh Lepaaaassss!”

Teriakan Felisha benar-benar bertambah parau dan serak, bahkan hampir tidak terdengar.

Sementara Katrok dan Supri menikmati tubuh Felisha , Deblo tampak memberikan racikan benda terlarang itu kepada Eddie, lalu menghampiri Katrok dan Supri yang sudah berada di kedua sisi tubuh Felisha sembari menyentuh, membelai, menjilat dan menciumi setiap detail pada bagian tubuh Felisha yang hanya bisa berteriak dengan suaranya yang semakin habis.

Dengan satu dorongan pelan ke arah tubuh rekan-rekannya, Deblo lalu bersiap untuk meyuntikkan racikannya itu kepada Katrok dan Supri, sebelum akhirnya ia menghisap dan menyuntikannya ke tubuhnya sendiri.

Dalam keadaan “high” mereka benar-benar tampak sangat buas, dengan liar dan tidak menyelipkan sedikitpun rasa belas kasihan sama sekali, mereka suguh-sungguh berniat untuk merusak area kewanitaan Felisha sampai berkali-kali hingga mereka benar-benar merasa puas.

Setelah melakukan pengundian, Deblo yang mendapat giliran pertama tampak tersenyum puas. Lalu meminta katrok dan Supri memegang kedua paha tangan tangan Felisha . Sembari mengunci tubuh Felisha agar tidak bisa bergerak dan melawan, sebelah tangan mereka memeras dan menggenggam salah satu buah di dada Jasmin yang tampak putih, bersih serta mulus, bulat dan kencang itu dengan sangat bernapsu.

Napas ketiganya semakin cepat memburu, libido mereka bergejolak dengan sangat hebat. Melihat kemolekan dan kemulusan tubuh Felisha yang mempunyai wajah yang ayu dan sangat cantik, malam ini mereka seolah-olah mendapatkan durian runtuh.

Dengan sekali hentakan, tubuh Deblo amblas menyatu dengan tubuh Felisha yang kembali harus merasakan perih bukan hanya di hati, tetapi seluruh tubuhnya benar-benar terasa sakit. Area kewanitaannya terasa ngilu dan perih. Ia hanya mempu memejamkan matanya erat-erat sembari menjerit sekuat tenaga walau tidak terdengar dan tidak berarti apa-apa.

“Aaaaaakkkhhh... Ssshhhh guys! Ini benar-benar sangat nikmaaaaattt.... Ssssshhhh.. Aaakkkhhh...”

Deblo meracau tidak karuan, pinggulnya bergerak cepat menembus rongga sempit di tubuh Felisha dengan sepenuh tenaga, hingga membuat tubuh Felisha kembali berguncang mengikuti irama hentakan pinggul Deblo yang tanpa henti menghentak melakukan gerakan yang menusuk dan menarik pinggulnya, lalu kembali menusukan sebagian tubuhnya yang panjang dan tumpul itu secara berulang tanpa henti.

Katro dan Supri seakan tidak mau ketinggalan, mereka dengan sangat liar membenamkan wajah mereka ke atas buah di dada Felisha dengan sangat bernapsu, entah sudah berapa tanda yang mereka tinggalkan di tubuh Felisha , bintik-bintik memerah karena terkena gigitan kecil dan hisapan kuat dari bibir mereka tergambar di hampir seluruh tubuh Felisha .

Felisha meronta, menjerit semampu tenaganya yang masih tersisa, tetapi semua itu percuma, ia benar-benar menjadi bulan-bulanan mereka. Hingga akhirnya, setelah hampir tiga menit, Deblo tampak semakin mempercepat gerakan pinggulnya sembari mendesis panjang.

“Aaaaaaakkhhhhhh udaaah maau sampaai iniii guyys!”

Tubuh Deblo menegang untuk beberapa saat, lalu melemas sebelum mencabut sebagian tubuhnya yang masih menancap di tubuh Felisha .

Bab 3

Melihat Deblo sudah mencapai puncak, Katrok dan Supri buru-buru mengepalkan tangan mereka lalu melakukan pengundian lagi. Setelah beberapa kali, akhirnya Katrok yang mendapatkan giliran kedua. Dengan senyum sumriangah, Katrok buru-buru mendorong tubuh Deblo dan mengambil alih posisinya.

Supri yang sudah tidak sabar menahan napsu yang sudah benar-benar meledak di dalam dadanya, tampak bergegas memeluk wajah Felisha dengan tangan kirinya sebelum akhirnya ia mencekik leher gadis malang itu, agar Felisha mau membuka mulutnya.

“Aaaaa... Euuuuummpphh....”

Felisha tampak kesulitan bernapas, lalu ia pun terpaksa harus membuka mulutnya. Disaat itulah Supri bergegas membenamkan batang kelelakiannya ke dalam mulut Felisha dan menekannya, lalu sedetik kemudian ia kembali menarik dan membenamkannya lagi secara berulang. Terus, lagi dan lagi hingga kedua mata Supri terlihat menutup dan membuka setengah merasakan geli yang nikmat dan segala sensasi yang berhasil memecahkan libidonya.

Di bawah kedua pangkal paha Felisha , Katrok sudah siap menikam di posisinya. Lalu, dengan sekali gerakan, ia benamkan seluruh area batang kelelakiannya hingga amblas sepenuhnya ke dalam tubuh Felisha .

“Uuummmmppphh.... huhuhuu....”

Felisha sudah tidak mampu menjerit, apalagi melawan. Ia benar-benar berada di titik keputusaannya yang paling ujung. Tidak ada yang bisa menyelamatkannya selain kematian.

Katrok dengan sangat kasar melakukan gerakan cepat menikam dan menusuk area kewanitaan Felisha berkali-kali. Hentakan pinggulnya tampak bertenaga, hingga deru napasnya terdengar sangat memburu. Tubuh Felisha terlihat bergoyang secara berulang dari atas ke bawah, membuat dua buah di dadanya pun ikut bergerak naik dan turun dengan cepat.

Sementara itu, mulutnya penuh dengan satu tongkat tumpul dari tubuh Supri yang tanpa henti mencekik leher dan menusukan batang kelelakiannya ke dalam mulut Felisha , lalu menarik dan kembali membenamkannya secara berulang.

“Aaakkkhhhh...bener, bro! cewek ini nikmat bangeett!! Ssshhh... Aakkkhhhh... “

“Lezat, ya bro!? Ahahaha....” sahut Deblo tertawa, sembari menyaksikan penyatuan tubuh rekan-rekannya itu, ia tampak masih mengurut dan menggenggam benda tumpul di pangkal pahanya.

“Huuuh.. Aakkhhh enaak banget.. beda sama cewek di pengkolan... ahhaaa... Ssshhhh Aakkhhh...”

Diantara hentakan pinggulnya, Katrok kembali meracau, mendesis panjang sembari menutup kedua matanya, meresapi kenikmatan yang sangat berbeda dari wanita-wanita panggilan yang selama ini pernah ia “pakai”.

Supri yang sudah tidak sabar ingin segera menenggelamkan tubuhnya ke dalam rongga kewanitaan Felisha , terdengar mengerutu, “Bro! Cepet! Bro!”

“Bentar! Udah di situ aja dulu, ah rese!” tukas Katrok merasa terganggu, lalu kembali membenamkan sebagian tubuhnya yang tumpul itu hingga menyatu tanpa sekat di tubuh Felisha yang sudah terlihat benar-benar tidak berdaya.

Hentakan demi hentakan yang membabi buta membuat Felisha seakan sudah kehilangan nyawanya. Ia benar-benar dalam keadaan setengah sadar. Rasanya, setelah semua ini berlalu ia tidak akan lagi merasa layak berjalan di muka bumi ini.

Kecepatan pinggul Katrok dalam menikam dan mencabut batang kelelakiannya semakin bertambah cepat, keringat tampak menetes dari dahi dan ujung kepalanya cukup deras. Dengan napas yang terdengar tersenggal-senggal, ia terlihat menambah kecepatannya. Tubuh Felisha kembali bergoyang sangat cepat mengikuti irama hentakan pinggul Katrok.

Lalu, beberapa menit kemudian tubuh Katrok menegang, satu teriakan panjangnya sampai terdengar menggema dari dalam ruangan kamar itu.

“Aaaaaaakkhhhh... enaaaaakkkhhh....”

Jeritan panjang terdengar dari mulut Katrok saat ia sudah mencapai puncak, sementara Felisha terdengar semakin merintih, menjerit tanpa suara. Airmatanya sudah benar-benar kering, ia sudah tidak mampu lagi menggerakkan tubuhnya.

Melihat Katrok sudah sampai di ujung puncak, Supri dengan segera bergerak mengambil posisi sembari mendorong tubuh Katrok agar segera menjauh dari tubuh Felisha . Supri benar-benar sudah sangat tidak bisa menahan diri. Dengan terburu-buru ia menancapkan batang kelelakiannya dengan sekali hentakan hingga amblas seluruhnya, dilanjutkan dengan gerakan menusuk dan menarik bagian tubuhnya yang tumpul itu berkali-kali dengan kecepatan turbo.

Karena rangsangan dalam dirinya yang sudah mencapai puncak ubun-ubun, Supri hanya mampu bertahan tidak lebih dari satu menit. Ia terlihat mengerang dan menjerit saat sesuatu yang mendesak keluar dari dalam tubuhnya. Cairan lahar putih yang kental seketika menyembur dan melesat ke dalam tubuh Felisha yang terkulai lemas tanpa mampu melakukan perlawanan yang tidak berarti.

Tanpa mereka ketahui, Fredy Diam-diam merekam semua kejadian itu. Dari wajahnya tampak sebuah lengkungan senyum yang sangat lebar. Seperti biasa, ia berniat menyimpan video itu sebagai jaminan, agar Felisha selalu menuruti semua kehendaknya. Termasuk melayani para hidung belang yang rata-rata pengusaha dan penguasa di kota ini.

Felisha yang mempunyai wajah cantik dengan kulit putih dan bentuk tubuh sempurna, tidak akan sulit untuk dijual kepada para hidung belang yang memiliki kuasa dan uang berlimpah. Berapapun angka yang akan ia tawarkan, rasanya mereka tidak akan pernah berpikir sampai dua kali untuk menolaknya.

Malam ini benar-benar menjadi malam terpanjang untuk Felisha . Seakan tidak merasa puas, Katrok, Deblo dan Supri kembali menggilirnya hingga berkali-kali. Mereka berempat melakukan itu sembari menikmati berbagai macam minuman, obat-obatan serta barang terlarang, hingga mereka benar-benar terbang sampai jauh ke angkasa sana.

Sampai pada puncaknya, mereka akhirnya tidak sadarkan diri. Katro, Deblo dan Supri terkulai saling menindih. Sementara Eddie, dengan kepala menyamping terduduk di kursi di depan ranjang kayu di dalam kamar gudang itu.

Beberapa jam berlalu, saat ayam berkokok dengan nyaring, Felisha mendapati seluruh tubuhnya nyeri, ngilu dan perih pada setiap bagian tubuhnya. Ia menangis sejadi-jadinya, menatap penuh dendam dan amarah ke empat orang preman yang tergeletak sembarang saling menindih. Perlahan, ia berusaha bangkit dan berdiri sembari menyingkirkan tubuh-tubuh yang menghalangi gerakannya.

Langkahnya tampak tertatih-tatih merasakan perih yang sangat luar biasa, Felisha memilih pakaian mereka yang dirasa cukup untuk tubuhnya. Setelah dengan susah payah, akhirnya ia berhasil mengenakan pakaian sekenanya.

Lalu, dengan pandangan nanar, ia memandang satu persatu manusia laknat di dalam kamar gudang itu, tatapannya benar-benar menyala penuh api dendam dan amarah yang sangat luar biasa. Hidupnya telah hancur dan tidak lagi mempunyai arti berkat mereka.

Felisha hanya memiliki dua pilihan, kematian untuknya atau kematian untuk keempat manusia laknat itu. Lalu, ia kembali menyapu pandangannya ke seluruh ruangan. Dengan langkah tertatih menahan perih di sekujur tubuh, ia mulai menyusuri ruangan didalam kamar itu.

Tanpa ia duga, di dalam laci meja samping kursi tempat duduknya Eddie, ia menemukan satu buah pistol lengkap dengan alat peredam di ujungnya. Dengan tangan gemetar, ia mengambil sepucuk pistol itu dan mulai menodongkannya ke arah kepala Eddie.

Pistol di tangannya tampak bergetar, Felisha berusaha untuk menguatkan diri. Sembari menahan getir yang sangat mendalam, ia menaruh telunjuk tangan kanannya di pelatuk pistol. Satu detik kemudian, ia menembakan pelurunya tepat di kepala Fredidengan menutup kedua matanya.

Seketika itu juga kepala Fredi hancur dan berlubang. Katrok, Deblo dan Supri yang terkulai dalam keadaan tidak sadar karena pengaruh minuman dan obat-obatan terlarang, sama sekali tidak bereaksi. Lalu, dengan langkah perlahan dan masih tertatih, Felisha mendekati mereka ke arah ranjang dan mulai menembaki Katrok, Deblo dan Supri dengan membabi buta.

Seketika itu juga ranjang kayu dengan kasur busa berwarna putih itu tidak lagi berwarna putih. Ranjang itu kini sudah berubah menjadi ranjang berdarah. Penuh dengan bercak dan semburan darah kental yang mengalir deras dari tubuh Katrok, Deblo dan Supri.

Felisha menangis, tubuhnya tampak bergetar dengan sangat hebat. Untuk beberapa saat, ia hanya menekukan kedua kakinya dan memeluk kedua lututnya dengan erat di bawah lantai yang penuh darah.

Lalu, setelah beberapa saat lamanya, perlahan-lahan Felisha mulai kembali bangkit dan berdiri. Dengan sekuat tenaga ia mengabaikan rasa sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya, dan mulai berjalan tertatih-tatih menyusuri gudang terkutuk itu hingga akhirnya ia sampai di ujung jalan.

Sembari menyeret langkah kakinya yang terseok-seok, Felisha berusaha dengan sekuat tenaganya yang masih tersisa, menembus malam ke arah hutan di seberang jalan samping gudang terkutuk itu. Ia tidak berani membayangkan hari-hari yang akan dijalaninya setelah malam ini.

Trauma yang mendalam telah berhasil membuatnya menjadi seorang pembunuh. Rasanya itu masih belum setimpal dengan semua yang diterimanya malam ini.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED