Bab 1

“Bos! Gadis itu terikat di dalam mobil, mau dibawa ke tempat biasa sekarang?” tanyanya. Langkah kakinya tegap bak seorang lelaki jantan. Sedetik kemudian, asap tebal dari dalam mulutnya terbang ke udara setelah ia menengadahkan kepalanya ke atas, lalu dengan cepat membuang semua asap rokok yang sempat memenuhi rongga paru-parunya.

“Bagus! Bawa sekarang kesana!” ucap Fredi tegas, lalu bergerak cepat ke arah selatan, menuju gudang yang ia sediakan untuk menyimpan stok minuman-minuman yang keras sampai paling keras. Di gudang itu pula ia menyiapkan dua ruangan khusus. Satu kamar untuk mengumpulkan gadis-gadis yang ia culik dari beberapa kampung, dan satu lagi kamar khusus dengan sebuah ranjang kayu lengkap dengan kasur busa berwarna putih untuk menjajal gadis-gadis malang itu.

Fredi memang tidak pernah tanggung dalam mengerjakan apapun. Cita-citanya sedari kecil ialah menjadi orang kaya, bagaimanapun caranya. Perkara haram tidak jadi soal, asal bisa mendatangkan uang yang sangat banyak. Sejak Fredi masih berumur 12 tahun, ia sudah mulai jadi pencopet, bandar obat dan barang-barang terlarang sampai merampok rumah orang-orang kaya di kota. Semuanya pernah ia lakukan seorang diri, sampai akhirnya sekarang ia jadi mafia penjual wanita.

Di dalam kamar gudang, tercium bau menyengat dari daun cannabis yang sudah dilinting menjadi sebatang rokok dengan ukuran yang cukup besar, terselip diantara jari-jari Fredi yang duduk di tepian ranjang menunggu gadis yang dibawa Ellee, wanita yang tadi ia temui di depan halaman warung remang-remangnya. Sesuai perintahnya, Ellee membawa gadis malang itu setelah beberapa hari melakukan pengintaian yang cermat.

Gadis itu adalah anak orang kaya yang dulu sempat menangkap dan mem-persekusi Fredi karena ketahuan sedang menggasak perempuan pacar ayah perempuan itu. Fredi ingin membalaskan dendam, ia akan menghancurkan anak gadisnya itu seperti perlakuan ayah gadis itu yang telah membuat Fredi hampir mati digebuki orang-orang satu kampung.

“Masuk!”

Tiba-tiba terdengar suara teriakan Ellee, ia tampak mendorong tubuh gadis itu hingga terhuyung tepat di depan Fredi . Dengan tawanya yang mengekeh kencang, Fredi segera menangkap tubuh gadis itu dan melemparkannya ke atas ranjang.

“Bluugh!”

“Arrgh! Toloooong!” teriak gadis itu dengan kencang dan terdengar histeris ketakutan.

“Diam! Percuma teriak, tidak akan ada yang bisa mendengar!” bentak Fredi , matanya tampak mengamati gadis itu dengan seksama sebelum ia bertanya lagi kepadanya, “Hmmm, siapa nama kamu, gadis cantik?!” tanya Fredi , menatap ke arah tubuh gadis itu dengan mata yang berputar-putar mengelilingi setiap sudut dari tubuh gadis malang itu.

‘Felisha , Bos!” Sahut Ellee, setelah gadis itu lama tidak menjawab pertanyaan Fredi . Gadis itu hanya menundukan kepalanya sembari menangis histeris di antara dua lipatan tangan yang melingkari kedua lututnya.

“Hemmm... Felisha , ya... nama yang bagus, sesuai dengan wajah dan tubuh sempurna yang kamu miliki....” ucap Fredi , lalu kembali menghisap sebatang cannabis ditangannya sebelum kemudian ia menyerahkannya kepada Ellee sembari memberi isyarat dengan gerakan kepalanya agar Ellee segera angkat kaki dari sana.

Ellee menganggukan kepala, setelah mengambil sebatang cannabis yang disodorkan Fredi , ia pun pergi meninggalkan Fredi dan Felisha berdua di dalam kamar gudang.

“To-tolong ja... ja-jangan....” ucap Felisha terbata-bata, untuk telinga orang waras, isak tangisnya benar-benar terdengar mengkhawatirkan, Felisha berusaha menghindar, memundurkan letak duduknya hingga sampai terpojok di ujung ranjang saat Fredi mulai mendekatinya.

Sembari melangkah pelan ke arah Felisha , Fredi terlihat sedang melepaskan satu persatu pakaian yang dikenakannya, hingga yang tersisa hanya celana kolor berwarna merah menyala. Kedua paha Felisha yang sempat terbuka saat ia bergerak mundur, membuat rok yang dikenakan Felisha tersingkap, melihat putih dan mulusnya kulit paha gadis itu, napas Fredi seketika terdengar cepat memburu, ia tampak sudah tidak sabar ingin segera mencicipi keindahan tubuh gadis malang itu.

“Bagus juga paha kamu gadis cantik....” ucap Fredi sembari menelan air liurnya. Lalu, satu detik kemudian, ia mulai naik ke atas ranjang dan siap menerkam Felisha yang sedari tadi berteriak-teriak dengan histeris. Tendangan dan pukulan yang melayang dari tangan dan kaki Felisha sama sekali tidak berarti, Fredi dengan sangat mudah meringkusnya.

Tangan dan kaki Felisha terkunci dibawah himpitan tubuh Fredi yang tinggi besar, Felisha hanya bisa menghabiskan air matanya. Ia kembali menjerit sejadi-jadinya saat kedua tangan Fredi merobek-robek semua pakaian yang dikenakannya.

“Aaaaarrrghhh! Toloooooong!!!”

Felisha berteriak hingga suaranya terdengar parau dan serak. Fredi sama sekali tidak menghiraukannya, ia terus saja menarik, merobek dan melemparkan kain-kain yang terkoyak dari tubuh Felisha ke bawah lantai sembari merasakan libido yang semakin mendidih di dalam tubuhnya.

“Fredi sama sekali tidak membutuhkan waktu lama untuk membuat tubuh Felisha nyaris tidak lagi terhalang suatu apapun. Hanya beberapa detik saja, yang tersisa dari tubuh Felisha hanyalah beberapa helai kain terkoyak yang masih menempel dan melindungi tubuh gadis malang itu.

Tetapi, hal itu tidak lama. Dengan sekali renggut, sisa pakaian yang sudah terkoyak itu pun terlepas seluruhnya dari tubuh bagian atas gadis itu. Tiba-tiba, suara jeritan Felisha terdengar semakin menipis, tangisannya pun mulai perlahan menghilang. Fredi tidak ingin lawannya hanya diam tanpa perlawanan, dengan segera ia menampar pipi Felisha hingga membuat gadis itu kembali tersadar dan menjerit histeris. Ketakutan yang teramat sangat tergambar jelas dari raut wajahnya yang pucat pasi.

“To...to-tolong... le-lepasin sayaa... le...le-lepasin sa-sayaa.... “ ucap Felisha , suaranya terdengar lemah, ia benar-benar merasa putus asa, rasanya ia lebih baik mati daripada diperlakukan seperti itu.

“Diam! Pasrah dan nikmati saja gadis cantik... kamu pasti suka....” desis Fredi , napasnya kian terdengar cepat. Lalu dengan gerakan penuh napsu, ia mulai menjelajahi buah di dada Felisha yang tampak ranum, muda dan masih kencang bulat sempurna tanpa goresan noda sedikitpun. Bahkan, sebutir daging kecil di atas puncak bukit itu masih berwarna merah muda dan menantang.

Liar bibir Fredi menyambar kedua buah di dada Felisha . Dengan rakus ia menjilat, menghisap dan menciuminya. Sementara itu, kedua telapak tangannya seolah tidak ingin hanya berdiam diri, dengan cepat kedua tangan Fredi bergerak ke segala arah menyusuri lekuk tubuh indah dari gadis itu. Mulai dari meraba wajah cantiknya, lalu turun ke dada, hingga akhirnya bermuara di tengah-tengah pangkal paha Felisha , lalu dengan gerakan memaksa, Fredi menarik satu-satunya yang tersisa dari pakaian Felisha paling dalam hingga terlepas dari tubuhnya, melewati kedua kaki Felisha yang meronta-ronta dengan tenaga yang semakin melemah.

“Ja... ja-jangan.... to... to-tolong jaaangaaan! Arrrrghhh huhuhuu....”

“Diam!” bentak Fredi , ia tampaknya sudah tidak dapat lagi menahan berahi yang meletup-letup di atas puncak ubun-ubunnya.

“Aaaarrrrrrghhh! Huhuhuhu....”

Felisha kembali menangis histeris, suaranya benar-benar semakin habis. Terdengar serak, parau dan mulai menipis. Setipis napas yang terasa sesak dalam dada.

Untuk sesaat, Fredi menciumi kain berbentuk segita milik Felisha sebelum melemparkannya ke bawah lantai. Tenaga Felisha benar-benar kalah telak saat ia berusaha menahan tangan Fredi yang menarik paksa celana paling dalam miliknya. Satu detik lalu, celana berbentuk segitiga miliknya masih melindungi area paling sensitif dari tubuhnya, kini area sensitif dari tubuhnya sudah terbuka dengan sangat bebas, membuat dentuman di dalam dada Fredi semakin meletup-letup, seolah ingin meledakan diri saat itu juga.

Dengan mudah, Fredi membuka kedua paha Felisha lebar-lebar, hingga satu gundukan yang dipenuhi bulu-bulu halus di tengah-tengah kedua pangkal pahanya terlihat dengan sangat jelas di mata Fredi . Dua garis daging lembut berwarna merah muda tampak benar-benar menyegarkan kedua matanya.

Sembari menelan air liurnya, ia segera mengarahkan bagian dari tubuhnya yang sudah sedari tadi berdiri dengan sangat tegak hingga lurus ke atas dengan gagah.

Saat hentakan pinggul Fredi mendesak maju, kedua mata Felisha tampak terbelalak. Suara jeritannya sudah tidak lagi terdengar kencang, teriakannya benar-benar hampir menghilang. Sebelum Felisha menutup kedua matanya, Fredi mendorong pinggulnya dengan sangat keras dan cepat, hingga tubuhnya benar-benar menyatu dengan tubuh Felisha yang hanya mampu menggigit bibir bawahnya sembari menggelengkan kepalanya kuat-kuat saat benda tumpul itu merobek selaput daranya.

“Aaaarrrrrggghh! Le... lepasssskaan.. huhuu...”

Fredi tidak menghiraukan raut muka Felisha yang tampak kesakitan, ia terus saja mendorong dan menarik pinggulnya secara bergantian dan berulang-ulang. Jepitan dari rongga kecil yang masih original itu benar-benar menghisap dan mengurut batang kelelakiannya. Fredi memejamkan kedua matanya meresapi kenikmatan darah perawan yang berhasil ia raih dari tubuh anak gadis lurah kampung sebelah yang pernah menangkap dan menyiksanya.

“Ssshhhh... Aaaaakhhhh cantik... punya kamu ternyata masih di segel, yaa... enak bangeetttt... Aaaaakkhhh...”

Ediie mulai meracau, sembari menarik dan mendorong pinggulnya dengan kecepatan yang mulai bertambah, kedua tangannya menjulur meraih kedua bukit kembar yang membusung di atas dada Felisha . Ia meremas, memeluk dan memelintir secuil daging di atas puncak bukit pada tubuh Felisha yang terguncang mengikuti irama hentakan pinggul Fredi .

Entah sudah berapa lama Fredi menghentakan pinggulnya. Keringat mulai membasahi kening, sementara napasnya terdengar semakin tersenggal-senggal seperti orang yang tengah berlari mengelilingi stadion.

Beberapa saat kemudian Fredi menjatuhkan tubuhnya dan menindih tubuh Felisha , lalu mendaratkan bibirnya ke atas bibir Felisha yang dengan segera melipat dan menutup bibirnya kuat-kuat. Merasa ia tidak diberi akses untuk menjelajahi rongga mulut gadis itu, Fredi dengan kasar mencekik leher Felisha dan menampar pipinya.

“Buka mulut kamu!” ucap Fredi dengan nada yang menggeram.

“Aaaaargh!” Felisha berteriak kecil dan merintih, lalu tanpa sadar mulutnya terbuka, melihat itu dengan cepat Fredi kembali menyambar bibir Felisha dan menjelajahi rongga mulut Felisha dengan lidahnya yang begerak liar di dalam rongga mulut Felisha . Sementara pinggulnya masih saja menghentak, lagi dan lagi terus berulang hingga akhirnya Fredi merasa ia sudah akan sampai di puncak.

Fredi tampak mempercepat gerakan pinggulnya, tubuh Felisha bergoyang mengikuti dorongan pinggul Fredi yang menusuk dan menarik batang kelelakiannya dengan cepat, kemudian kembali menikamnya dengan batang kelelakiannya yang semakin mengeras di dalam rongga kewanitaan gadis malang itu.

“Aaaaaakhhhh... cantiiikkk! A.. a-aku ma-mau sampaaaii!”

Fredi berteriak saat tubuhnya tiba-tiba menegang sebelum akhirnya melemas saat lahar putih panas dari dalam tubuhnya menyembur beberapa kali dengan kencang memenuhi rahim gadis itu.

“Aaaakhhhhh.... Ssssshhhh... Enaaaakk banggettt cantiik....”

Fredi mendesis panjang, sebelum ia menarik tubuhnya yang masih menancap di dalam tubuh Felisha , ia mengecup bibir Felisha dengan sangat liar dan penuh napsu yang menggelora. Kedua tangannya lalu merangkum kedua buah di dada Felisha dan meremasnya hingga beberapa kali sampai akhinya ia melepaskan diri dan terkulai di samping tubuh gadis itu.

“Ini belum selesai, cantik... malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang... hahahaa...” ucap Fredi sembari tertawa, lalu mengatur deru napasnya. Felisha tampak membuka kedua matanya setengah, berusaha untuk memicingkan mata dan kembali berteriak ke arah Fredi , tetapi tenaganya sudah benar-benar habis, ia tidak mampu melakukan itu.

Sebelum Felisha kembali menjerit dan mengeluarkan segala caci maki, Fredi sudah berdiri dan mengambil pakaiannya yang tergeletak sembarang di bawah lantai lalu kembali mengenakannya. Untuk beberapa detik, Fredi tampak mengabaikan Felisha yang masih terkulai lemas di atas ranjang, ia mengambil ponsel di dalam saku dan mengetik satu pesan singkat di grup whataspp dan mengirimkan foto telanjang Felisha.

Bab 2

“Katrok, Deblo dan Supri, segera ke kamar gudang, ada bonus buat kalian!”

Setelah mengetik pesan itu, Fredy Lalu mengirimkannya sembari melengkungkan satu buah senyum yang sangat lebar. Ia benar-benar merasa puas, akhirnya ia dapat membalaskan sakit hatinya selama ini.

Beberapa menit kemudian, Deblo, Katrok dan Supri tampak memasuki ruangan kamar yang sengaja sudah dibuka oleh Fredy Satu menit yang lalu. Ketiga preman itu tercekat, menelan air liur mereka saat melihat tubuh Felisha yang masih tidak tampak sehelai benangpun di tubuhnya.

Dengan sekuat tenaga Felisha terlihat bergerak perlahan, berusaha untuk bangkit dari pembaringannya sembari menutup sebagian tubuhnya dengan kedua tangan. Firasat buruk seketika kembali memenuhinya saat ia memicingkan kedua matanya dan melihat kehadiran ketiga preman itu.

“Tolong... ja... ja.. ja-jangan... huhuhu....”

Tangis Felisha benar-benar terdengar sangat mengiba, rasa takut dan putus asa yang memuncak membuatnya lebih memilih mati saat itu juga. Tetapi, kedua matanya yang sempat menyapu seluruh ruangan kamar, sama sekali tidak melihat satupun cara dan alat yang bisa mengakhiri hidupnya.

“Bos, cantik banget... boleh kami garap bareng-bareng?” tanya Katrok, menelan air liurnya entah untuk ke berapa kalinya. Seketika itu juga ia merasa napasnya mulai bertambah cepat. Begitu pula dengan Deblo dan Supri yang tampak ingin segera mendekati Felisha .

Mereka sudah tidak sabar untuk segera membongkar seluruh pakaian yang melekat pada tubuh mereka, lalu bermain dengan tubuh Felisha yang putih, mulus, kencang dan padat. Sangat berbeda dengan wanita-wanita yang biasa mereka “pakai”.

“Jangan buru-buru, nikmati dulu serbuk dunia ini ...” ucap Fredi sembari mengeluarkan 4 buah bungkus plastik kecil di sakunya dan memberikan bungkusan itu ke Deblo sebelum ia kembali memberikan perintah kepadanya, “Proses ini dulu, yang lainnya boleh melakukan pemanasan sama gadis cantik itu, cepat!”

“Siap bos!”

Ucap Deblo sigap mematuhi perintah Eddie. Lalu dengan cekatan, ia menyiapkan segala peralatan untuk memproses barang terlarang itu. Sementara di ranjang, Katrok sudah berada di atas tubuh Felisha , kedua tangannya sibuk menjelajahi setiap sudut tubuh Felisha yang benar-benar sudah tidak berdaya. Kibasan tangan dan tendangan kakinya sama sekali tidak memberi pengaruh yang berarti, Katrok dan Supri dengan mudah menguasai dan mendominasi tubuh Felisha .

“Aaaarrrghhh Lepaaaassss!”

Teriakan Felisha benar-benar bertambah parau dan serak, bahkan hampir tidak terdengar.

Sementara Katrok dan Supri menikmati tubuh Felisha , Deblo tampak memberikan racikan benda terlarang itu kepada Eddie, lalu menghampiri Katrok dan Supri yang sudah berada di kedua sisi tubuh Felisha sembari menyentuh, membelai, menjilat dan menciumi setiap detail pada bagian tubuh Felisha yang hanya bisa berteriak dengan suaranya yang semakin habis.

Dengan satu dorongan pelan ke arah tubuh rekan-rekannya, Deblo lalu bersiap untuk meyuntikkan racikannya itu kepada Katrok dan Supri, sebelum akhirnya ia menghisap dan menyuntikannya ke tubuhnya sendiri.

Dalam keadaan “high” mereka benar-benar tampak sangat buas, dengan liar dan tidak menyelipkan sedikitpun rasa belas kasihan sama sekali, mereka suguh-sungguh berniat untuk merusak area kewanitaan Felisha sampai berkali-kali hingga mereka benar-benar merasa puas.

Setelah melakukan pengundian, Deblo yang mendapat giliran pertama tampak tersenyum puas. Lalu meminta katrok dan Supri memegang kedua paha tangan tangan Felisha . Sembari mengunci tubuh Felisha agar tidak bisa bergerak dan melawan, sebelah tangan mereka memeras dan menggenggam salah satu buah di dada Jasmin yang tampak putih, bersih serta mulus, bulat dan kencang itu dengan sangat bernapsu.

Napas ketiganya semakin cepat memburu, libido mereka bergejolak dengan sangat hebat. Melihat kemolekan dan kemulusan tubuh Felisha yang mempunyai wajah yang ayu dan sangat cantik, malam ini mereka seolah-olah mendapatkan durian runtuh.

Dengan sekali hentakan, tubuh Deblo amblas menyatu dengan tubuh Felisha yang kembali harus merasakan perih bukan hanya di hati, tetapi seluruh tubuhnya benar-benar terasa sakit. Area kewanitaannya terasa ngilu dan perih. Ia hanya mempu memejamkan matanya erat-erat sembari menjerit sekuat tenaga walau tidak terdengar dan tidak berarti apa-apa.

“Aaaaaakkkhhh... Ssshhhh guys! Ini benar-benar sangat nikmaaaaattt.... Ssssshhhh.. Aaakkkhhh...”

Deblo meracau tidak karuan, pinggulnya bergerak cepat menembus rongga sempit di tubuh Felisha dengan sepenuh tenaga, hingga membuat tubuh Felisha kembali berguncang mengikuti irama hentakan pinggul Deblo yang tanpa henti menghentak melakukan gerakan yang menusuk dan menarik pinggulnya, lalu kembali menusukan sebagian tubuhnya yang panjang dan tumpul itu secara berulang tanpa henti.

Katro dan Supri seakan tidak mau ketinggalan, mereka dengan sangat liar membenamkan wajah mereka ke atas buah di dada Felisha dengan sangat bernapsu, entah sudah berapa tanda yang mereka tinggalkan di tubuh Felisha , bintik-bintik memerah karena terkena gigitan kecil dan hisapan kuat dari bibir mereka tergambar di hampir seluruh tubuh Felisha .

Felisha meronta, menjerit semampu tenaganya yang masih tersisa, tetapi semua itu percuma, ia benar-benar menjadi bulan-bulanan mereka. Hingga akhirnya, setelah hampir tiga menit, Deblo tampak semakin mempercepat gerakan pinggulnya sembari mendesis panjang.

“Aaaaaaakkhhhhhh udaaah maau sampaai iniii guyys!”

Tubuh Deblo menegang untuk beberapa saat, lalu melemas sebelum mencabut sebagian tubuhnya yang masih menancap di tubuh Felisha .

Bab 3

Melihat Deblo sudah mencapai puncak, Katrok dan Supri buru-buru mengepalkan tangan mereka lalu melakukan pengundian lagi. Setelah beberapa kali, akhirnya Katrok yang mendapatkan giliran kedua. Dengan senyum sumriangah, Katrok buru-buru mendorong tubuh Deblo dan mengambil alih posisinya.

Supri yang sudah tidak sabar menahan napsu yang sudah benar-benar meledak di dalam dadanya, tampak bergegas memeluk wajah Felisha dengan tangan kirinya sebelum akhirnya ia mencekik leher gadis malang itu, agar Felisha mau membuka mulutnya.

“Aaaaa... Euuuuummpphh....”

Felisha tampak kesulitan bernapas, lalu ia pun terpaksa harus membuka mulutnya. Disaat itulah Supri bergegas membenamkan batang kelelakiannya ke dalam mulut Felisha dan menekannya, lalu sedetik kemudian ia kembali menarik dan membenamkannya lagi secara berulang. Terus, lagi dan lagi hingga kedua mata Supri terlihat menutup dan membuka setengah merasakan geli yang nikmat dan segala sensasi yang berhasil memecahkan libidonya.

Di bawah kedua pangkal paha Felisha , Katrok sudah siap menikam di posisinya. Lalu, dengan sekali gerakan, ia benamkan seluruh area batang kelelakiannya hingga amblas sepenuhnya ke dalam tubuh Felisha .

“Uuummmmppphh.... huhuhuu....”

Felisha sudah tidak mampu menjerit, apalagi melawan. Ia benar-benar berada di titik keputusaannya yang paling ujung. Tidak ada yang bisa menyelamatkannya selain kematian.

Katrok dengan sangat kasar melakukan gerakan cepat menikam dan menusuk area kewanitaan Felisha berkali-kali. Hentakan pinggulnya tampak bertenaga, hingga deru napasnya terdengar sangat memburu. Tubuh Felisha terlihat bergoyang secara berulang dari atas ke bawah, membuat dua buah di dadanya pun ikut bergerak naik dan turun dengan cepat.

Sementara itu, mulutnya penuh dengan satu tongkat tumpul dari tubuh Supri yang tanpa henti mencekik leher dan menusukan batang kelelakiannya ke dalam mulut Felisha , lalu menarik dan kembali membenamkannya secara berulang.

“Aaakkkhhhh...bener, bro! cewek ini nikmat bangeett!! Ssshhh... Aakkkhhhh... “

“Lezat, ya bro!? Ahahaha....” sahut Deblo tertawa, sembari menyaksikan penyatuan tubuh rekan-rekannya itu, ia tampak masih mengurut dan menggenggam benda tumpul di pangkal pahanya.

“Huuuh.. Aakkhhh enaak banget.. beda sama cewek di pengkolan... ahhaaa... Ssshhhh Aakkhhh...”

Diantara hentakan pinggulnya, Katrok kembali meracau, mendesis panjang sembari menutup kedua matanya, meresapi kenikmatan yang sangat berbeda dari wanita-wanita panggilan yang selama ini pernah ia “pakai”.

Supri yang sudah tidak sabar ingin segera menenggelamkan tubuhnya ke dalam rongga kewanitaan Felisha , terdengar mengerutu, “Bro! Cepet! Bro!”

“Bentar! Udah di situ aja dulu, ah rese!” tukas Katrok merasa terganggu, lalu kembali membenamkan sebagian tubuhnya yang tumpul itu hingga menyatu tanpa sekat di tubuh Felisha yang sudah terlihat benar-benar tidak berdaya.

Hentakan demi hentakan yang membabi buta membuat Felisha seakan sudah kehilangan nyawanya. Ia benar-benar dalam keadaan setengah sadar. Rasanya, setelah semua ini berlalu ia tidak akan lagi merasa layak berjalan di muka bumi ini.

Kecepatan pinggul Katrok dalam menikam dan mencabut batang kelelakiannya semakin bertambah cepat, keringat tampak menetes dari dahi dan ujung kepalanya cukup deras. Dengan napas yang terdengar tersenggal-senggal, ia terlihat menambah kecepatannya. Tubuh Felisha kembali bergoyang sangat cepat mengikuti irama hentakan pinggul Katrok.

Lalu, beberapa menit kemudian tubuh Katrok menegang, satu teriakan panjangnya sampai terdengar menggema dari dalam ruangan kamar itu.

“Aaaaaaakkhhhh... enaaaaakkkhhh....”

Jeritan panjang terdengar dari mulut Katrok saat ia sudah mencapai puncak, sementara Felisha terdengar semakin merintih, menjerit tanpa suara. Airmatanya sudah benar-benar kering, ia sudah tidak mampu lagi menggerakkan tubuhnya.

Melihat Katrok sudah sampai di ujung puncak, Supri dengan segera bergerak mengambil posisi sembari mendorong tubuh Katrok agar segera menjauh dari tubuh Felisha . Supri benar-benar sudah sangat tidak bisa menahan diri. Dengan terburu-buru ia menancapkan batang kelelakiannya dengan sekali hentakan hingga amblas seluruhnya, dilanjutkan dengan gerakan menusuk dan menarik bagian tubuhnya yang tumpul itu berkali-kali dengan kecepatan turbo.

Karena rangsangan dalam dirinya yang sudah mencapai puncak ubun-ubun, Supri hanya mampu bertahan tidak lebih dari satu menit. Ia terlihat mengerang dan menjerit saat sesuatu yang mendesak keluar dari dalam tubuhnya. Cairan lahar putih yang kental seketika menyembur dan melesat ke dalam tubuh Felisha yang terkulai lemas tanpa mampu melakukan perlawanan yang tidak berarti.

Tanpa mereka ketahui, Fredy Diam-diam merekam semua kejadian itu. Dari wajahnya tampak sebuah lengkungan senyum yang sangat lebar. Seperti biasa, ia berniat menyimpan video itu sebagai jaminan, agar Felisha selalu menuruti semua kehendaknya. Termasuk melayani para hidung belang yang rata-rata pengusaha dan penguasa di kota ini.

Felisha yang mempunyai wajah cantik dengan kulit putih dan bentuk tubuh sempurna, tidak akan sulit untuk dijual kepada para hidung belang yang memiliki kuasa dan uang berlimpah. Berapapun angka yang akan ia tawarkan, rasanya mereka tidak akan pernah berpikir sampai dua kali untuk menolaknya.

Malam ini benar-benar menjadi malam terpanjang untuk Felisha . Seakan tidak merasa puas, Katrok, Deblo dan Supri kembali menggilirnya hingga berkali-kali. Mereka berempat melakukan itu sembari menikmati berbagai macam minuman, obat-obatan serta barang terlarang, hingga mereka benar-benar terbang sampai jauh ke angkasa sana.

Sampai pada puncaknya, mereka akhirnya tidak sadarkan diri. Katro, Deblo dan Supri terkulai saling menindih. Sementara Eddie, dengan kepala menyamping terduduk di kursi di depan ranjang kayu di dalam kamar gudang itu.

Beberapa jam berlalu, saat ayam berkokok dengan nyaring, Felisha mendapati seluruh tubuhnya nyeri, ngilu dan perih pada setiap bagian tubuhnya. Ia menangis sejadi-jadinya, menatap penuh dendam dan amarah ke empat orang preman yang tergeletak sembarang saling menindih. Perlahan, ia berusaha bangkit dan berdiri sembari menyingkirkan tubuh-tubuh yang menghalangi gerakannya.

Langkahnya tampak tertatih-tatih merasakan perih yang sangat luar biasa, Felisha memilih pakaian mereka yang dirasa cukup untuk tubuhnya. Setelah dengan susah payah, akhirnya ia berhasil mengenakan pakaian sekenanya.

Lalu, dengan pandangan nanar, ia memandang satu persatu manusia laknat di dalam kamar gudang itu, tatapannya benar-benar menyala penuh api dendam dan amarah yang sangat luar biasa. Hidupnya telah hancur dan tidak lagi mempunyai arti berkat mereka.

Felisha hanya memiliki dua pilihan, kematian untuknya atau kematian untuk keempat manusia laknat itu. Lalu, ia kembali menyapu pandangannya ke seluruh ruangan. Dengan langkah tertatih menahan perih di sekujur tubuh, ia mulai menyusuri ruangan didalam kamar itu.

Tanpa ia duga, di dalam laci meja samping kursi tempat duduknya Eddie, ia menemukan satu buah pistol lengkap dengan alat peredam di ujungnya. Dengan tangan gemetar, ia mengambil sepucuk pistol itu dan mulai menodongkannya ke arah kepala Eddie.

Pistol di tangannya tampak bergetar, Felisha berusaha untuk menguatkan diri. Sembari menahan getir yang sangat mendalam, ia menaruh telunjuk tangan kanannya di pelatuk pistol. Satu detik kemudian, ia menembakan pelurunya tepat di kepala Fredidengan menutup kedua matanya.

Seketika itu juga kepala Fredi hancur dan berlubang. Katrok, Deblo dan Supri yang terkulai dalam keadaan tidak sadar karena pengaruh minuman dan obat-obatan terlarang, sama sekali tidak bereaksi. Lalu, dengan langkah perlahan dan masih tertatih, Felisha mendekati mereka ke arah ranjang dan mulai menembaki Katrok, Deblo dan Supri dengan membabi buta.

Seketika itu juga ranjang kayu dengan kasur busa berwarna putih itu tidak lagi berwarna putih. Ranjang itu kini sudah berubah menjadi ranjang berdarah. Penuh dengan bercak dan semburan darah kental yang mengalir deras dari tubuh Katrok, Deblo dan Supri.

Felisha menangis, tubuhnya tampak bergetar dengan sangat hebat. Untuk beberapa saat, ia hanya menekukan kedua kakinya dan memeluk kedua lututnya dengan erat di bawah lantai yang penuh darah.

Lalu, setelah beberapa saat lamanya, perlahan-lahan Felisha mulai kembali bangkit dan berdiri. Dengan sekuat tenaga ia mengabaikan rasa sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya, dan mulai berjalan tertatih-tatih menyusuri gudang terkutuk itu hingga akhirnya ia sampai di ujung jalan.

Sembari menyeret langkah kakinya yang terseok-seok, Felisha berusaha dengan sekuat tenaganya yang masih tersisa, menembus malam ke arah hutan di seberang jalan samping gudang terkutuk itu. Ia tidak berani membayangkan hari-hari yang akan dijalaninya setelah malam ini.

Trauma yang mendalam telah berhasil membuatnya menjadi seorang pembunuh. Rasanya itu masih belum setimpal dengan semua yang diterimanya malam ini.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED