Mutia adalah seorang gadis yang lugu. Dinikahi oleh seorang pemuda bernama Arman. Namun, pernikahan dia baru seumur jagung. Mutia harus kehilangan suaminya.
Arman meninggal akibat kecelakaan kerja disebuah pabrik. Mutia sudah menjanda selama 6 bulan. Namun, naasnya hari ini dia digiring oleh warga yang notabennya rata-rata perempuan.
“Usir Mutia... Dia telah menggoda suami kita!” teriak Bu Hana.
“Iya, usir dia sekarang pak RT.” Tambah Bu Nunung yang semua merupakan tetangga Mutia.
Malam itu suami Bu Hana tiba-tiba masuk kedalam rumah Mutia. Suami Bu Hana bermaksud untuk mengajak Mutia untuk berselingkuh. Namun, Mutia menolak tak disangka pak Usman suami Bu Hana itu memutar balikkan fakta bahwa dia digoda oleh Mutia.
Mutia menangis. Dia tidak bisa berbuat apa-apa atas tuduhan para warga.
“Mbak Mutia, tolong anda kemasin barang mbak Mutia dan pergi dari sini,” kata Pak RT.
“Pak, tolong beri saya waktu pak untuk mencari tempat tinggal baru.” kata Mutia dalam tangisnya.
“Maaf mbak, para warga akan berbuat nekat jika mbak Mutia tidak segera pergi,” kata Pak RT.
Mutia segera mengemasi pakaiannya. Barang-barang yang lain tidak dia bawa, karena rumah ini merupakan rumah suaminya. Rumah yang dibangun sebelum menikah dengan Mutia.Tidak ada yang membela Mutia dari pihak keluarga suaminya sudah tidak mau tahu. Sedangkan Mutia merupakan pendatang di desa itu. Dia tinggal di desa itu karena ikut dengan suaminya.
Mutia berjalan keluar rumah. Nampak banyak warga masih didepan rumah ada ibu mertuanya.
“Tolong jangan bawa barang apapun dari rumah ini, semua milik almarhum anak saya.” kata Bu Siti mertua Mutia.
“Saya hanya membawa baju ini saja,Bu.”jawab Mutia sambil memperlihatkan tas yang dia bawa.
“Bagus kalau kamu sadar diri.”kata Bu Siti.
Mutia berjalan menjauhi rumah itu dengan hanya membawa sebuah tas pakaian.
Semua warga tampak senang setelah kepergian Mutia.
Mutia berjalan terus hingga ke Desa sebelah. Mencari kontrakan, namun banyak orang yang tidak mau mengontrakannya pada Mutia. Ternyata kabar terusir-nya Mutia dari Desa Kembang sudah sampai ke Desa Mekar. Mutia berjalan terus ke Desa yang lain. Tiba-tiba saja hujan mengguyur bumi. Mutia berteduh di depan sebuah ruko,tapi ternyata atap ruko tersebut sudah pada bocor. Sehingga Mutia melanjutkan perjalanan mencari kontrakan. Seperti peri baik belum berpihak pada Mutia sampai tengah malam dia masih belum menemukan kontrakan. Terpaksa Mutia tiduran di teras sebuah toko. Badannya basah kuyub membuat Mutia makin kedinginan. Badannya menggigil baru tertidur sekitar satu jam Mutia dibangunkan oleh suara seorang Pemuda. Ternyata Pemuda itu mabuk, dan berbicara ngelantur.
“Kamu pergi dari sini. Ini tempatku.” kata Pemuda mabuk itu menunjuk kearah Mutia. Mutia segera bangun dan pergi dari tempat itu, agar pemuda itu tidak menyakiti dirinya.
Mutia hendak menyebrang jalan tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang melaju dengan kencang.
Brugg
Mutia tertabrak oleh sebuah mobil. Badannya berlumuran darah. Kedua orang yang mengendarai mobil itu lalu turun.
“Pa, kita nabrak orang. Bagaimana ini?” tanya Bu Salma nampak panik melihat Mutia yang tergeletak lemas.
Pak Samsul suami Bu Salma segera menelfon ambulan. Beberapa menit kemudian ambulan datang dan membawa Mutia ke rumah Sakit.
“Pa, bagaimana kalau dia meninggal?” tanya Bu Salma panik.
Pak Samsul memeluk istrinya, ”Sabar, Bu. Kita doakan agar wanita itu selamat.” kata pak Samsul.
“Pak, segera urus administrasi ya biar cepat ditangani.” kata seorang perawat.
“Baik, Sus sebentar lagi saya urus.” jawab Pak Samsul.
Pak Samsul membuka tas milik Mutia untuk melihat identitas korban yang ditabrak setelah mendapatkan KTP Mutia pak Samsul mengurus segala administrasi rumah sakit.
Bu salma menunggu didepan IGD, “Ya Allah tolong selamatkan dia.” kata Bu Salma.
Beberapa perawat dan Dokter masuk ke ruang IGD. Bu Salma semakin panik melihat para perawat yang berlalu lalang lewat didepannya.
Pak Samsul kembali setelah dia mengurus semua administrasi rumah sakit.
“Pa,mama takut sekali.” kata Bu Salma.
“Sabar ma, kita doakan yang terbaik buat dia.” kata Pak Samsul.
Pak Samsul memberikan air minum pada Bu Salma agar lebih tenang. Mereka menunggu didepan IGD. Sampai waktu pagi tiba.
Pak Samsul dan Bu Salma di panggil oleh dokter yang menangani Mutia.
“Pak, luka dibagian wajah Mutia cukup parah, namun dibagian lain tidak terlalu parah.” kata Dokter.
“Tindakan apa yang selanjutnya akan dokter lakukan?” tanya Pak Samsul.
“Setelah dia sadar kami akan minta persetujuan beliau untuk operasi wajah Pak.” jawab Dokter.
“Baik, dok. lakukan yang terbaik untuk Mutia.” kata Pak Samsul.
Setelah itu Pak Samsul dan Bu Salma keluar dari ruangan Dokter.
“Pa, apa perlu kita hubungi keluarga dia?” tanya Bu Salma.
“Tidak perlu,Ma. Sepertinya dia bukan orang sini.” jawab Pak Samsul.
Setelah beberapa hari melewati masa kritis akhirnya Mutia sadar, namun dia histeris kala dokter memperlihatkan wajah aslinya yang penuh dengan luka.
“Tidak...ini tidak mungkin,” teriak Mutia histeris.
“Jika, mbak Mutia setuju setelah ini kami akan lakukan Operasi wajah. Namun, tidak disini tapi di Singapura.” kata Dokter.
“Mutia kamu jangan khawatir tentang biayanya. Kami akan tanggung semua sampai kamu benar-benar sembuh.” kata Bu Salma.
“Baiklah, dok saya setuju untuk operasi wajah.” kata Mutia.
Akhirnya Dokter yang menangani Mutia mengurus segala keperluan yang akan dibuat berobat Mutia di Singapura.
“Mutia, Bapak tidak bisa menemani kamu. Tapi Ibu yang akan menemani kamu.” kata Bu Salma.
“Terimakasih, Bu. Mutia tidak bisa berbuat apa-apa untuk membalas kebaikan ibu.” kata Mutia memeluk Bu Salma.
Bu Salma dan Mutia pergi ke Singapura selama Satu bulan untuk operasi dan pemulihan. Selama di sana Mutia dirawat dengan sangat baik. Bu Salma pun senantiasa menunggui dia, Mutia sudah menganggap Bu Salma seperti ibunya sendiri. Begitu pula Bu Salma sudah menganggap Mutia seperti putrinya sendiri.
“Mutia kamu akan menjadi Mutia yang berbeda bukan Mutia yang dulu,” kata Bu Salma.
“Iya , Bu. Semua orang dari masa lalu ku tidak akan ada yang mengenaliku dengan wajahku yang sekarang ini," kata Mutia tersenyum.
Operasi yang dilakukan Mutia berjalan dengan lancar. Wajahnya kembali menjadi cantik. Penampilan Mutia pun berubah drastis bukan lagi gadis desa yang lugu. Dia sekarang menjadi seorang janda yang berkelas dengan wajah baru yang sangatlah cantik.
“Kapan, dok saya bisa ke Indonesia?” tanya Mutia.
“Satu Minggu lagi Mutia.” kata Dokter Maria yang menangani Mutia. Dokter Maria merupakan orang Indonesia yang berkerja di Singapura.
“Kamu akan segera kembali ke Indonesia Mutia dengan kehidupan mu yang baru. Jadilah Mutia yang kuat dan tangguh di segala situasi.” kata Bu Salma memberikan dukungan penuh pada Mutia.
“Baik, Bu. Saya akan menjadi Mutia yang berbeda dari Mutia yang dulu.” kata Mutia dengan senyum manis yang mengembang di bibirnya.
Akan banyak hal yang Mutia lakukan setelah Pulang ke Indonesia.
Mutia dan Bu Salma sudah menyiapkan segala keperluan untuk pulang ke Indonesia. Sehari sebelum pulang Mutia dan Bu Salma jalan-jalan terlebih dahulu, membeli oleh-oleh untuk keluarga di Indonesia.
“Mutia beli baju ini, biar penampilan mu semakin kece.” kata Bu Salma menunjukkan sebuah baju mini dress berwarna merah muda.
“Mahal Bu, nanti Mutia merepotkan Bu Salma.” jawab Mutia.
“Sudah jangan fikirkan masalah uang Mutia, kamu sudah Ibu anggap sebagai anak kandung Ibu. Panggil saja saya dengan sebutan Mama.” kata Bu Salma meyakinkan Mutia.
“Baiklah Bu, Mutia akan beli baju yang Ibu tunjukkan pada Mutia.” jawab Mutia mengambil baju yang Bu Salma tunjuk tadi.
Setelah mereka puas dengan belanja mereka kembali ke apartemen yang selama ini mereka tinggali selama di Singapura. Bu Salma dan Mutia mulai mengemasi pakaian mereka karena besok dia kan pulang ke Indonesia. Dan Mutia kan memulai kehidupan yang baru dengan wajah yang baru.
Esok pun tiba, Mutia sudah siap dibandara untuk segera terbang ke Indonesia.
“Pa, Jangan lupa jemput kita ya!” pinta Bu Salma pada Pak Samsul saat ditelfon.
“Iya Ma, Papa akan Jemput Mama dan Mutia.” jawab Pak Samsul.
Bu Salma menghampiri Mutia yang sedang menunggu. Tidak berapa lama akhirnya pesawat yang dia tumpangi pun berangkat.
Tepat Pukul 2 siang Bu Salma dan Mutia sudah sampai dibandara. Pak Samsul sudah menunggu mereka dipintu keluar.
“Beneran ini Mutia? Berbeda sekali dengan yang dulu.” kata Pak Samsul kaget melihat penampilan Mutia yang sekarang.
“Udah, Ayo kita pulang dulu!” ajak Bu Salma sambil menggandeng Pak Samsul.
Mutia berjalan di belakang mereka dengan tersenyum bahagia melihat dua orang yang kini menjadi keluarga dia.
Dalam perjalanan Bu Salma tidak berhenti bercerita tentang pengobatan Mutia selama di Singapura pada Pak Samsul.
“Saya kira pulang dari Singapura cerewetnya berkurang, ini malah nambah banyak sekali.” kata Pak Samsul sambil menyetir.
“Ah Papa, kalau itu ya tidak bisa berubah Pa sampai kapan pun itu.” jawab Bu Salma tersenyum kearah Pak Samsul. “Pa, nanti ajak Mutia biar belajar kerja kantoran.” kata Bu Salma.
“Saya tinggal terserah Mutia Ma, kalau Mutia mau ya akan Papa ajarkan.” kata Pak Samsul melirik ke arah Mutia yang duduk di jok belakang.
“Kapan kamu akan kembali ke desa tempat tinggalmu itu, Tia?” tanya Bu Salma.
“Setelah saya benar-benar siap ma. Oh ya ma lebih baik panggilan ku diganti Tia saja ya?” tanya Mutia pada Bu Salma.
“Iya tidak apa-apa, kenalkan dirimu sebagai keluarga kami nanti disana. Biar tidak ada yang mencurigai bahwa kamu adalah Mutia.” kata Bu Salma.
“Untuk apa kamu kembali kesana? Bukankah kamu telah diusir?” tanya Pak Samsul heran.
“Dia kesana sebagai Tia, anak kita Pa. Bukan sebagai Mutia janda yang terusir
beberapa bulan yang lalu.” jawab Bu Salma.
“Apa kamu berniat balas dendam?” tanya Pak Samsul pada Mutia.
“Iya Pak, akan saya buat mereka menyesal telah mengusir aku.” kata Mutia menghadap kearah luar mobil.
“Saya rasa jangan balas dendam Mutia, sesuatu yang diawali dengan niat tidak baik hasilnya juga tidak baik.” kata Pak Samsul menasehati Mutia.
“Kalau menurut Mama terserah kamu Mutia, apapun yang kamu lakukan akan Mama dukung.” kata Bu Salma.
Mendengar nasehat Pak Samsul membuat Mutia dilema antara balas dendam atau menjalani hidup yang baru.
“Jangan banyak melamun Mutia, lakukan apa yang kamu mau.” kata Bu Salma menyadari jika Mutia dilema.
Mutia hanya terdiam mendengar ucapan Bu Salma. Mendadak Mutia teringat Ibunya yang sudah tua dikampung. Setelah ini dia berniat pulang kampung sebentar melihat Ibunya yang tinggal dengan Kakaknya dikampung.
“Ma, saya ingin pulang kampung sebentar setelah nanti istirahat.” kata Mutia.
“Kamu pasti merindukan Ibumu, tapi maaf Mutia Mama tidak bisa menemani kamu.” Jawab Bu Salma.
“Tidak apa-apa Ma, Mutia bisa pulang kampung sendiri kok. Lagian Mama sudah banyak membantu Mutia selama di Singapura.” kata Mutia tersenyum.
Terbayang wajah Ibunya yang sudah menua dan keriput, berjalan tertatih-tatih dengan tongkatnya. Kabar terakhir sebelum Mutia diusir dari Desa suaminya, Ibu Mutia mengahrapkan kepulangan Mutia. Kini Mutia akan melihat dan memeluk sosok Ibu yang telah melahirkan dan membesarkan dia. Teringat ketika Mutia diboyong ke desa sang suami, Ibunya menangis berharap Mutia tinggal bersama dia. Namun , sebagai seorang istri Mutia harus mengikuti kemana sang suami pergi. Tidak terasa sudah sampai dirumah Pak Samsul yang begitu besar dan mewah.
“Mutia, Ayo kita turun lalu istirahat.” ajak Bu Salma.
Mutia turun dari mobil dan memandangi rumah yang kini ada dihadapannya. Mutia masuk bersama Bu Salma dan Pak Samsul.
“Asep, Tolong ambil koper ibu dan Non Mutia dibagasi mobil.” kata Pak Samsul pada Asep tukang kebun dirumahnya sambil memberikan kunci mobil.
“Baik, tua,” jawab Asep mengambil kunci mobil dari tangan Pak Samsul.
“Bik Inah, Tolong antar non Mutia ke kamarnya.” kata Bu Salma kepada Asisten rumah tangganya.
“Mari non,” ajak Bik Inah.
Mutia mengikuti Bik Inah menuju kamarnya, sebuah kamar yang luas dan dilengkapi kamar mandi dalam sudah disiapkan untuk Mutia.
“Silahkan istirahat Non,” kata Bik Inah.
“Terimakasih, Bikin,” jawab Mutia.
Setelah Bik Inah keluar, datang Asep membawa koper Mutia dan menaruhnya didalam kamar.
Mutia menaruh baju-bajunya kedalam almari pakaian yang sudah disediakan. Setelah membersihkan diri, Mutia istirahat.
Sebelum magrib tiba, Mutia sudah bangun. Dia mengecek ponselnya yang selama beberapa bulan ini dia matikan. Mutia melihat beberapa story WA teman-temannya, ada status mantan Iparnya yang ternyata sudah menempati rumah milik suami Mutia. Tidak lupa dia melihat story WA kakaknya, Mutia tercengang membaca status kakaknya dikampung. Status itu bertuliskan, semoga Khusnul khatimah. Mutia penasaran Siapa yang meninggal, lalu ada status lain. Orang miskin bukan berarti tidak punya harga diri.
“Siapa yang meninggal?” tanya Mutia pada dirinya sendiri.
Mutia melihat kakaknya kemarin menelfonnya berkali-kali lewat Wa. Dan ada sebuah pesan, jika kamu baca pesan ini segeralah pulang dek, isi pesan dari kakaknya. Mutia lalu mengemasi beberapa bajunya dan pamit pada Bu Salma dan Pak Samsul untuk pulang malam ini juga.
“Biar diantar supir, Papa.” kata Pak Samsul.
“Iya Pa, soalnya kalau naik Bus pasti lama sampainya.” jawab Mutia.
Setelah magrib usai Mutia langsung berangkat ke kampung halamannya diantar supir Pak Samsul menggunakan mobil Pak Samsul. Perjalanan menuju kampung Mutia membutuhkan waktu 5 jam. Sepanjang perjalanan Mutia merasa khawatir jika terjadi sesuatu pada Ibunya.Tepat 23:15 Mutia sampai didepan rumah Ibunya. Mutia kaget tatkala melihat bendera kuning berkibar didepan rumah Ibunya.
Mutia berjalan menuju pintu, Mutia mengetuk pintu rumah Ibunya.
Tok tok tok
Terdengar langkah kaki seseorang dari dalam rumah. Pintu terbuka lebar, Kakak Mutia berdiri mematung.
“Siapa kamu?” tanya Mira kakak Mutia bengong.
“Aku Mutia kak, adik kakak,” kata Mutia.
Mira mengucek matanya,”Kamu bukan Mutia, Mutia tidak seperti ini wajahnya.” kata Mira ragu bahwa yang dihadapan dia adalah adiknya yang lugu. Wajahnya berubah, penampilan juga berubah.
“Biarkan aku masuk kak, nanti aku ceritakan.” kata Mutia.
Mira mempersilahkan Mutia masuk, “Siapa yang meninggal, Kak?” tanya Mutia penasaran.
Bukannya menjawab pertanyaan Mutia, Mira malah menangis tersedu-sedu. Seketika seisi rumah terbangun mendengar Suara tangis Mira.
“Siapa kamu?” tanya Budi suami Mira.
“Aku Mutia mas, adik kak Mira.” jawab Mutia.
Budi pun sama tidak percaya dengan apa yang dia lihat begitu juga keponakan Mutia tidak ada yang percaya bahwa wanita yang ada didepan matanya adalah Mutia.
“Siapa yang meninggal? Ibu mana kak?” tanya Mutia menggoyang-goyang tubuh Mira.
“Ibu, Ibu sudah tiada Mutia.” jawab Mira terisak.
Seketika tubuh Mutia lemas, dia terjatuh kelantai.
“Ibu maafkan Mutia, Mutia tidak dapat melihat Ibu untuk yang terakhir kalinya.” kata Mutia terisak.
“Kenapa kamu tidak bisa dihubungi ,Dek?” tanya Mira.
“Ceritanya panjang sekali kak, aku diusir dari rumah almarhum suami ku atas tuduhan menggoda suami orang. Warga dan keluarga suamiku semua mengusir aku, aku lalu pergi tanpa tujuan naasnya aku tertabrak mobil dan akibat kecelakaan itu wajahku hancur. Orang yang menabrakku menanggung semua biaya rumah sakit termasuk biaya operasi wajah ke Singapura yang aku lakukan sebulan yang lalu.” Kata Mutia.
“keluarga suamimu memang kejam Mutia, sebelum Ibu meninggal mertua dan Ipar kamu datang kemari. Istilahnya dia mengembalikan kami ke Ibu lagi. Tapi tidak hanya itu dia mencaci maki kamu dan keluarga kita yang miskin ini. Terjadilah pertengkaran antara kakak dan Ibu mertua kamu. Setelah kepergian Mereka Ibu tiba-tiba Pingsan dan ternyata ibu terkenal serangan jantung. Hingga akhirnya kemarin Ibu menghembuskan nafas terakhirnya.” jelas Mira sambil mengusap air matanya.
“Mutia janji kak, akan membalaskan sakit hati Ibu. Dengan wajahku yang sekarang ini pasti mereka tidak akan tahu jika aku adalah Mutia. Kakak sekeluarga tolong sembunyikan rahasia ini, kalau ditanya aku siapa? Bilang saja aku temannya Mutia. Namaku Tia, aku sekarang tinggal ditempat Bu Salma dan Pak Samsul orang yang menabrak ku waktu itu.” Kata Mutia.
“Baik dek, kakak sekeluarga akan merahasiakan semuanya.” jawab Mira.
Budi pun mengangguk tanda setuju begitu juga keponakan Mutia, yaitu Sabrina.
Mutia menyuruh pak Supir tidur didipan yang ada diruang tamu. Mutia masuk kedalam kamar Ibunya dan istirahat disana.
Paginya Mutia menyuruh Pak supir kembali kerumah Bu Salma. Dan minta di jemput setelah 7 hari kepergian Ibunya. Bu Salma menelfon Mutia, “Tia gimana disana? Ada kabar apa?” tanya Bu Salma.
“Ibu sudah tiada Ma, dia ninggalin Mutia. Ibu kena serangan jantung setelah kedatangan mantan mertua dan Ipar ku.” kata Mutia.
“Sabar ya sayang, Mama tahu kamu pasti berat kehilangan Ibu mu. Tapi kamu harus kuat demi Ibumu.” Kata Bu Salma.
“Ma, aku menyuruh Pak supir pulang kesana biar nanti aku dijemput setelah 7 harinya Ibu.” kata Mutia.
“Iya nggak apa-apa, disana saja dulu sampai kamu benar-benar siap untuk memulai hidupmu yang baru.” jawab Bu Salma.
“Sudah dulu ya Ma, titip salam buat Papa.” Kata Mutia mematikan saluran telfonnya.
Mutia menyusul Mira yang sedang duduk didepan ruang bersama para tetangga.
“Mira, dia siapa kok cantik sekali?” tanya tetangga Mutia.
“Dia Tia Bu, temannya Mutia,” jawab Mira.
“Kabar Mutia sekarang gimana Mir, kasihan dia kalau harus hidup sendiri di desa orang. Suruh pulang kesini saja Mir.” Kata tetangga Mutia.
“Kabarnya Mutia baik-baik saja Bu, tapi tadi sempat terpukul waktu tahu Ibunya sudah tiada.” Kata Mutia berpura-pura.
“Harusnya kamu ajak dia pulang saja mbak, biar dia tinggal disini saja.” Kata Tetangga Mutia.
“Mutia sekarang sibuk Bu, tidak bisa kesini. Dia sekarang orang yang sukses jadi sibuk.” Jawab Mutia.
“Sudahlah Bu, biarkan saja Mutia pada keputusan dia sendiri. Biar dia kerja keras dan sukses buat kami tidak dihina lagi Bu.” kata Mira.
Tetangga Mutia hanya menganggukkan kepala,” Mbak Tia kok cantik sekali, bedaknya apa mbak?” tanya tetangga Mutia.
“Nggak pakai bedak apa-apa Bu,” kata Mutia.
Semua yang melihat Tia tidak ada yang tahu bahwa Tia adalah Mutia. Banyak orang penasaran dengan penampilan Tia yang sangat cantik dan putih. Beberapa Ibu-ibu Iri melihat kecantikan Mutia, ada yang bicara terang-terangan bahwa dia kagum terhadap Tia.
“Kak, tidak rasa yang tahu kan kalau aku adalah Mutia.” Kata Mutia ketika Meraka hanya berdua.
“Dek, Kakak tidak punya uang untuk biaya meninggalnya Ibu.” kata Mira tertunduk.
“Uang kami habis buat biaya pemakaman Ibu.” tambah Mira.
“Tenang kak, Mutia punya uangnya kok.” Kata Mutia.
Mutia memberikan uang pada Mira untuk biaya kematian Ibunya.
“Kita tidak akan hidup miskin lagi, kak.” Kata Mutia tersenyum.
“Buktikan dek, Kakak akan selalu mendukungmu.” Jawab Mira.
“ Mutia janji kak, mereka akan merasakan apa yang kita rasakan kak.” Kata Mutia.
“Kakak bangga sama kamu Tia, kakak sayang sama kamu.” Jawab Mira.
Mira dan Mutia saling berpelukan, mereka kini hanya berdua.
“Jadilah wanita yang kuat dan berani dek.” Kata Mira melepaskan pelukannya.
“Pasti itu kak, cukup sekali ini kita dihina oleh orang lain.” Jawab Mutia.
Mutia senang sekali mempunyai kakak yang baik dan penyayang seperti Mira.
“Akan aku balas perbuatan mereka.” Kata Mutia dalam hati.
Mutia terlanjur menyimpan dendam pada keluarga mantan suaminya itu, dia tidak ingin harga diri keluarga dia diinjak-injak lagi. Sudah cukup penderitaan yang dia alami selama ini, setelah kepergian Suaminya. Rumah yang diberikan sang suami kini ditempati oleh Iparnya yang licik dan kejam itu.
“Tia ada yang ingin bertemu dengan kamu.” kata Budi mendekati Tia dan Mira.
“Siapa mas? Saya kan tidak ada kenalan disini?” tanya Tia.
“Mas, tidak tahu tapi orangnya ramah sekali.” kata Budi.
Mutia sangat penasaran dengan siapa yang datang menemui dia, selama dia dirumah Ibunya tidak ada yang mengenal dia. Terlihat seorang Pria sedang berdiri menunggu dirinya, Mutia sama sekali tak mengenali pria tersebut. Dan ketika pria itu berbalik arah menghadap Mutia, betapa terkejutnya dia melihat pria itu. Pria itu menatap Mutia dengan tatapan aneh, dia mendekati Mutia.
“Siapa kamu?” tanya Mutia.
Pria tersebut tidak menjawab malah dia tersenyum pada Mutia. Mutia ingin tahu apa maksud keinginan pria tersebut.