Bab 1

Ayah menjualku kepada Fahreza Murni, berharap CEO dingin itu bisa "memperbaiki" putrinya yang liar.

Aku naif, mengira aku adalah kekasih istimewanya, sampai malam terkutuk itu tiba.

Di sebuah acara amal, Fahreza memenangkan lelang bros zamrud peninggalan ibuku.

Namun, ia tidak memberikannya padaku.

Ia memberikannya pada Elok, wanita manipulatif yang ia anggap sebagai penyelamat hidupnya.

Dengan senyum mengejek, Elok melemparkan warisan ibuku itu ke lantai, menjadikannya mainan gigitan anjingnya.

Darahku mendidih. Aku menampar Elok di depan umum.

Tapi Fahreza justru membela wanita itu, menatapku dengan jijik, dan memerintahkan pengawal menyeretku paksa ke pusat rehabilitasi.

Di tempat terkutuk itu, cintaku padanya mati, digantikan dendam yang membara.

Saat ia akhirnya sadar telah ditipu Elok dan datang memohon kembali padaku, aku menyambutnya dengan tangan terbuka.

Bukan untuk memaafkan, tapi untuk menghancurkannya dari dalam.

Malam itu, saat ia tertidur lelap dalam pelukanku karena merasa dimaafkan, aku menguras habis data rahasia Murni Group dan mengirimnya ke pesaing terbesarnya.

"Selamat tinggal, Fahreza. Ini harga yang harus kau bayar."

Bab 1

Alisha POV:

Ayah menjualku lagi. Bukan kepada Fahreza Murni kali ini, tapi kepada ide yang lebih busuk-ide tentang rehabilitasi, tentang memperbaiki "putri liar" yang dianggapnya aib.

Aku memejamkan mata, merasakan sentuhan Fahreza di kulitku. Ini adalah malam kami. Malam di mana Alisha Wangsadinata yang "liar" bisa menjadi seseorang yang berbeda. Di sini, di balik dinding penthouse mewah ini, aku bukan lagi asisten yang sering dimarahi, bukan lagi boneka sosialita yang dicerca media. Aku kekasihnya, setidaknya begitu yang kupercaya.

"Kau tahu, ayahku ingin aku menikahi seseorang," kataku, suaraku nyaris berbisik. Aku merasakan otot-otot di bahunya menegang sedikit. Fahreza selalu membenci jika aku membawa masalah Wangsadinata ke dalam oasis rahasia kami.

"Lalu?" Dia bertanya dingin, matanya tertuju pada pemandangan kota di luar jendela. Sebuah pertanyaan tanpa emosi, sebuah dinding yang tiba-tiba muncul di antara kami.

Aku menatap punggung telanjangnya. Rasa dingin merayapi kulitku, bukan karena suhu ruangan, tapi karena responsnya. Apa yang kami miliki ini? Terkadang, aku merasa seperti boneka yang ia mainkan saat bosan, lalu ia buang begitu saja setelah selesai.

"Aku mungkin bisa menerimanya," lanjutku, mencoba memancing reaksi. Aku ingin melihat apakah ada sedikit pun kecemburuan, sedikit pun kekhawatiran di matanya. Aku ingin ia memohon padaku untuk tetap tinggal.

Dia berbalik, wajahnya datar. "Itu pilihanmu. Berikan saja padaku nama perusahaannya. Mungkin ada peluang bisnis."

Lidahku terasa kelu. Bisnis? Hanya itu yang ia pikirkan? Aku merasa seolah sebilah pisau menghujam jantungku. Rasa sakit itu begitu nyata, seperti tusukan yang dalam, menghancurkan sisa-sisa harapanku.

Pagi itu, ia pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan tidak ada ciuman perpisahan. Hanya keheningan yang tersisa di ruangan, dan bau maskulinnya yang perlahan memudar dari seprai. Aku meraih ponsel di meja samping tempat tidur. Layar menyala, menunjukkan notifikasi pesan masuk dari nomor tak dikenal. Sebuah tautan berita.

Jantungku berdebar kencang saat aku membukanya. Foto-foto Elok Danusastro, cinta pertama Fahreza, yang baru kembali ke Jakarta. Elok tampak rapuh dan cantik dalam balutan gaun sutra tipis, tersenyum ke arah Fahreza yang menggenggam tangannya di sebuah acara amal. Tangannya. Tangannya yang semalam memelukku, kini menggenggam tangan wanita lain di hadapan publik.

Duniaku runtuh. Rasanya seperti dibuang dari tebing tinggi, tanpa ada pegangan. Rasa mual melanda, perutku bergejolak. Aku mencengkeram ponsel begitu erat hingga buku-buku jariku memutih.

Tiba-tiba, semua kenangan pahit itu kembali. Malam-malam yang kulalui sendirian, menunggu pesan darinya. Janji-janji kosong yang ia ucapkan, hanya untuk kemudian diingkari. Aku ingat setiap kali aku mencoba mendekat, ia akan menarik diri. Selalu ada "pekerjaan mendesak" atau "pertemuan penting" yang membuatnya tidak bisa menemaniku. Sekarang aku tahu. Alasan-alasan itu punya nama: Elok.

Aku bangkit, mengenakan gaun tidur sutra yang semalam ia sobek dengan gairah. Rasa sakit itu membanjiri seluruh tubuhku, bukan karena gaun yang rusak, tapi karena hatiku. Aku tahu harus bagaimana. Aku harus melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.

Aku melacak lokasi acara itu. Hotel Mulia. Butuh waktu bagiku untuk sampai di sana, menyelinap melewati kerumunan dan kamera wartawan. Aku melihat mereka. Fahreza dan Elok. Dia menemaninya, tersenyum padanya, berbicara dengannya, seolah akulah yang tidak pernah ada.

Mereka terlihat seperti pasangan yang sempurna, pangeran dan putri dari negeri dongeng. Sementara aku, aku seperti bayangan gelap yang bersembunyi di sudut, menyaksikan kebahagiaan yang seharusnya menjadi milikku. Aku melihat Fahreza memakaikan syal di leher Elok, dengan kelembutan yang tidak pernah ia tunjukkan padaku. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang dulunya hanya untukku.

Aku merasakan kekosongan yang mengerikan. Aku bukan yang utama. Aku hanya pilihan kedua, atau bahkan ketiga. Aku hanyalah rahasia kotor di balik pintu tertutup, sementara dia adalah kekasih yang sah di mata dunia.

Kenangan pertama kali kami bertemu berputar di benakku, seperti film lama yang diputar ulang. Aku, Alisha Wangsadinata, "putri liar" dari keluarga konglomerat, selalu mencari cara untuk memberontak. Aku tidak pernah peduli dengan reputasi, yang penting aku bisa bebas. Kebebasan dari ayahku yang hanya melihatku sebagai aset, kebebasan dari ekspektasi sosial yang mencekik.

Aku dipaksa magang di Murni Group, perusahaan Fahreza, sebagai "pendidikan karakter" yang konyol. Aku membenci segalanya tentang itu. Aku membenci kemeja rapi, jam kerja, dan terutama, aku membenci CEO dingin itu, Fahreza Murni.

"Nona Wangsadinata, Anda harusnya sudah di meja Anda lima menit yang lalu," suaranya menggelegar, dingin dan tajam seperti es. Aku mendengus, sengaja melambat. Aku ingin melihat seberapa jauh aku bisa mendorong kesabarannya.

"Saya kan magang, Pak. Bukannya saya bisa melakukan apa saja?" Aku membalas dengan senyum sinis.

Dia menatapku dengan mata setajam elang. "Anda di sini untuk belajar, bukan untuk bermain-main."

Aku memutar mata. "Belajar apa? Mengatur jadwal rapat yang membosankan? Membaca laporan keuangan yang membuat kantuk?"

Ia tidak bereaksi, hanya menatapku dengan tatapan kosong. Justru ketidakreaksiannya yang membuatku semakin penasaran. Aku ingin melihat apa yang bisa membuatnya marah. Aku ingin melihat retakan di topeng dinginnya.

Suatu malam, setelah semua karyawan pulang, aku sengaja tinggal. Aku tahu ia masih di kantor. Aku mencoba masuk ke servernya, hanya untuk iseng, untuk melihat seberapa aman sistemnya. Tentu saja, ia menangkapku basah.

"Apa yang Anda lakukan, Nona Wangsadinata?" Suaranya rendah, tapi penuh ancaman.

Aku berbalik, jantungku berdebar kencang. Ia tidak terlihat marah, hanya... tertarik? "Hanya mengecek keamanan sistem, Pak. Ternyata lumayan bagus, tapi masih ada celah."

Dia berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa seperti ancaman. "Celah apa?"

Aku menjelaskan, bangga dengan penemuanku. Ekspresinya sedikit melunak. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya, senyum pertama yang kulihat darinya. Dan di saat itu, aku merasakan sesuatu yang aneh. Tarikan. Ketertarikan yang kuat, seperti magnet.

Satu minggu kemudian, kami berada di penthouse ini. Malam itu, ia tidak lagi dingin. Sentuhannya membakar, bisikannya memenuhi telingaku. Aku merasa dicintai, diinginkan. Ini adalah rahasia kami, duniaku dan dunia Fahreza.

Aku telah jatuh cinta padanya, sepenuhnya dan tanpa syarat. Aku percaya kami memiliki sesuatu yang istimewa, sesuatu yang nyata. Ia adalah pelarianku dari keluarga, dari ayahku yang kejam. Ia adalah duniaku.

Namun, ia terus-menerus menarik diri. Setiap kali kami melewati batas antara asisten dan kekasih, ia akan menarik diri ke dunia "pekerjaan" dan "kesibukan". Ia tidak pernah memperkenalkan aku kepada siapa pun sebagai kekasihnya. Aku selalu menjadi rahasia, sebuah bayangan.

"Aku akan makan malam denganmu," ia pernah berjanji. Itu adalah hari ulang tahunku. Aku menunggu di restoran mewah, mengenakan gaun terbaikku. Aku menunggu selama tiga jam. Ia tak pernah datang.

Kudengar, ia menemani Elok di rumah sakit. Elok pingsan karena kelelahan. Itulah yang dikatakan media.

Malam ini, melihatnya dengan Elok, hatiku hancur berkeping-keping. Aku merasa terkhianati, dipermalukan. Semua janji, semua sentuhan, semua bisikan, semuanya adalah kebohongan. Aku hanyalah pengalih perhatian, mainan yang ia gunakan untuk mengisi kekosongan.

Aku melihat tangannya yang menggenggam tangan Elok, dan sebuah ide gila melintas di benakku. Sebuah ide yang akan mengubah segalanya. Aku harus membuatnya merasakan sakit yang sama.

Aku melangkah maju, keluar dari bayangan. Mataku tertuju pada bros zamrud di kerah gaun Elok. Bros yang Fahreza menangkan untuknya di lelang itu. Bros peninggalan ibuku.

Elok, yang duduk di samping Fahreza, tersenyum manis. Ia menoleh ke arah Fahreza dan berbisik, "Sayang, bisakah kau mengambilkan mainan untuk anjingku? Ia sangat menyukai benda berkilau." Matanya tertuju pada bros zamrud itu, dan ia menunjuknya dengan jari lentiknya.

Fahreza tersenyum lembut padanya. "Tentu saja, sayang."

Dia mengambil bros itu dari kerah Elok, dan dengan gerakan santai, melemparkannya ke lantai di dekat anjing Elok yang sedang bermain. Anjing itu segera mencengkeram bros itu dengan giginya, menggoyangkan kepalanya seolah itu adalah mainan biasa.

Saat itu, sesuatu dalam diriku hancur. Bukan hanya hatiku, tapi seluruh jiwaku. Itu bukan hanya bros. Itu adalah warisan ibuku. Itu adalah kenangan terakhir yang kumiliki tentangnya, dan mereka... mereka memperlakukannya seperti sampah.

Darahku mendidih. Aku tak bisa menahan diri lagi. Rasa marah yang membakar, rasa sakit yang menusuk, semuanya meledak. Aku melihat Elok menyeringai padaku, seolah ia tahu apa yang telah ia lakukan, dan ia menikmatinya.

"Dasar jalang!" teriakku, suaraku pecah. Aku berlari ke arahnya, tidak peduli dengan kerumunan orang, tidak peduli dengan Fahreza. Yang kuinginkan hanyalah menghapus seringai itu dari wajahnya.

Tanganku terangkat, menampar wajahnya dengan kekuatan penuh. Suara tamparan itu begitu keras, menggema di seluruh ruangan. Elok terhuyung, matanya melebar karena terkejut.

Fahreza segera menarikku menjauh, cengkeramannya begitu kuat hingga aku merasa pergelangan tanganku akan patah. "Alisha, apa yang kau lakukan?!" Suaranya dingin, penuh kemarahan.

Aku menatapnya, mataku berkaca-kaca. "Kau melihatnya, Fahreza?! Dia menghina ibuku! Dia menghina kenangan ibuku!"

Elok terisak-isak, memegangi pipinya yang merah. "Fahreza... dia menyakitiku..."

Fahreza menatapku dengan jijik, seolah aku adalah makhluk paling menjijikkan di dunia. "Kau sudah keterlaluan, Alisha. Kau harus membayar ini."

Aku merasa seolah rohku dicabut dari tubuhku. Dia membela dia. Selalu dia.

"Kau akan menyesalinya!" aku berteriak, air mata membasahi pipiku. Tapi ia tidak mendengarkan. Ia menyorongkan tubuhku ke arah beberapa pengawal, wajahnya datar.

"Bawa dia pergi. Ke rehabilitasi. Sekarang."

Dan begitulah, aku diseret keluar dari acara itu, di bawah tatapan menghakimi banyak orang. Tatapan mereka seperti pisau yang mengoyak-oyak harga diriku. Tapi yang paling menyakitkan adalah tatapan Fahreza. Tatapan jijik itu.

Aku melihat Elok tersenyum tipis di belakang Fahreza, senyum kemenangan yang kejam. Aku tahu saat itu, aku harus membalasnya. Aku harus membuat mereka berdua menyesal.

Bab 2

Alisha POV:

Setelah insiden di acara amal, aku tidak kembali ke rumahku. Rumahku yang dulu, yang seharusnya menjadi tempat perlindungan, kini terasa seperti sangkar. Ayahku, Hendry Wangsadinata, menjemputku dari pusat rehabilitasi. Wajahnya datar, tanpa emosi. Aku tahu ia tidak peduli. Ia hanya peduli dengan reputasi keluarganya.

"Kau mempermalukan keluarga, Alisha," katanya dingin, saat kami duduk di mobil mewahnya.

Aku menatap ke luar jendela, tidak mempedulikan kata-katanya. "Apa pedulimu? Kau tidak pernah peduli padaku, bukan?"

Ia mendengus. "Aku sudah menjagamu. Memberimu tempat tinggal, makanan. Itu sudah lebih dari cukup."

"Kau menjualku pada Fahreza, Ayah!" teriakku, suaraku serak.

"Itu untuk kebaikanmu! Untuk mendidik karaktermu!" Ia membalas, seolah dia adalah orang suci.

"Pendidikan karakter? Atau kau hanya ingin aku menjadi boneka yang penurut, yang bisa kau gunakan untuk bisnismu?" Aku membalas, air mata menggenang di mataku.

Ia terdiam, menatapku dengan mata kosong. Aku tahu ia tidak akan pernah mengerti.

Setibanya di rumah, aku langsung masuk ke kamar. Kamar yang dulunya adalah duniaku, kini terasa asing. Aku melemparkan semua barang-barang ke dinding, melampiaskan amarah dan rasa sakitku. Vas bunga pecah, cermin retak. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin menghapus semua jejak masa lalu.

Pintu kamarku terbuka, dan aku melihat Elok berdiri di sana, dengan senyum manis yang menjijikkan. Ia mengenakan gaun tidur sutra, seolah ia adalah nyonya rumah.

"Alisha, kau sudah pulang," katanya lembut, tapi matanya memancarkan kemenangan.

Aku menatapnya dengan jijik. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Fahreza memintaku untuk tinggal di sini sementara kau..." Ia mengedikkan bahu, "sedang dalam masa pemulihan."

Darahku mendidih. Fahreza mengirimku ke rehabilitasi, lalu menempatkan Elok di rumahku? Ini adalah penghinaan yang paling kejam.

"Ini rumahku, jalang! Pergi dari sini!" teriakku.

"Fahreza yang menyuruhku. Kau tidak berhak mengusirku." Ia tersenyum sinis.

Aku melihat sekeliling kamar. Semua barang-barangku, semuanya terasa ternoda. Aku tidak bisa tinggal di sini, di bawah atap yang sama dengan wanita ini. Aku tidak bisa tinggal di rumah yang telah menjadi penjara bagiku.

Aku meraih koper, dan mulai mengemasi barang-barangku. Tidak banyak. Hanya beberapa pakaian dan buku.

"Kau mau ke mana?" tanya Elok, pura-pura khawatir.

"Bukan urusanmu," jawabku dingin. Aku tidak akan membiarkan dia melihatku lemah.

Ayah muncul di ambang pintu. "Alisha, apa yang kau lakukan? Kau mau pergi ke mana?"

"Aku pergi dari sini, Ayah. Aku tidak akan lagi menjadi aset bisnismu. Aku tidak akan lagi menjadi aib keluargamu," kataku, suaraku tegas.

"Kau tidak punya tempat tujuan! Kau akan menyesal!" teriaknya.

"Aku tidak akan menyesal. Apa pun yang terjadi, itu lebih baik daripada tinggal di sini," aku membalas.

Aku menyeret koperku keluar dari rumah, tidak mempedulikan teriakan ayah dan senyum kemenangan Elok. Aku tidak tahu ke mana aku akan pergi, tapi aku tahu satu hal: aku tidak akan pernah kembali.

Aku memesan taksi online, dan menyebutkan alamat hotel bintang lima terbaik di Jakarta. Aku punya beberapa kartu kredit yang belum diblokir ayah. Aku akan menggunakannya sampai habis.

"Selamat datang, Nona Wangsadinata," sapa resepsionis dengan sopan.

Aku tersenyum tipis. "Saya ingin suite termahal, dan saya ingin memesan semua layanan spa, makanan mewah, dan semua yang bisa Anda tawarkan."

Aku akan menghabiskan uang ayahku. Aku akan membuat dia membayar setiap tetes air mata yang kutumpahkan. Aku akan membuat dia bangkrut. Itu adalah satu-satunya cara bagiku untuk merasa sedikit lebih baik. Itu adalah awal dari balas dendamku.

Aku segera melancarkan "serangan" terhadap rekening ayahku. Setiap kartu kredit yang masih aktif, kusapu bersih. Aku membeli perhiasan, tas desainer, pakaian mahal, dan segala sesuatu yang bisa kuhabiskan. Aku ingin melihat sejauh mana ia bisa menahan diri.

Teleponku berdering tanpa henti. Ayahku. Aku mengabaikannya.

Akhirnya, ada pesan. "Alisha, apa yang kau lakukan?! Kau akan menghancurkan semuanya!"

Aku tersenyum puas. "Ini baru permulaan, Ayah." Aku membalas, lalu melanjutkan pestaku.

Aku punya rencana. Aku tahu bahwa dengan menghabiskan uangnya, ia akan semakin marah. Ia akan semakin terpojok. Dan di saat itulah, aku akan muncul dengan tawaran yang tidak bisa ia tolak. Sebuah pernikahan bisnis.

Aku menerima pesan dari nomor tak dikenal lagi. Kali ini, sebuah foto. Foto Fahreza dengan Elok, di sebuah restoran mewah. Fahreza memegang tangan Elok. Ada cincin di jari manis Elok. Cincin pertunangan.

Jantungku terasa sakit lagi. Tapi kali ini, aku tidak menangis. Aku hanya merasa mati rasa. Aku tahu ini akan terjadi. Aku sudah tahu sejak awal bahwa aku hanyalah pengganti, pengalih perhatian.

Aku mengetik balasan, tanganku gemetar. "Selamat. Semoga bahagia."

Aku mematikan ponselku. Aku tidak ingin melihat apa pun lagi. Aku tidak ingin merasakan apa pun lagi. Aku hanya ingin membalas dendam.

Hari-hari berlalu. Aku terus menghabiskan uang ayahku, seperti orang gila. Sampai akhirnya, semua kartu kreditku diblokir. Aku tidak punya uang sepeser pun.

Aku diusir dari hotel. Tidak ada tempat tujuan. Tidak ada uang. Aku berjalan tanpa arah, merasakan perutku keroncongan. Aku belum makan selama berhari-hari. Aku merasa lemah, putus asa.

Jakarta, kota yang dulu begitu kukagumi, kini terasa kejam. Tidak ada yang peduli padaku. Tidak ada yang datang menolongku. Aku sendirian.

Aku berjalan melewati gang-gang sempit, mencoba menghindari keramaian. Aku tidak ingin ada yang melihatku dalam keadaan menyedihkan ini. Putri konglomerat yang jatuh miskin. Ironis sekali.

Tiba-tiba, tiga orang pria menghadang jalanku. Mereka terlihat menakutkan, dengan tato di lengan dan tatapan lapar di mata mereka.

"Hei, Nona cantik. Mau ke mana sendirian?" salah satu dari mereka menyeringai.

Aku mencoba mundur, tapi mereka mengepungku. Ketakutan merayapi diriku. Aku tidak punya apa-apa untuk diberikan pada mereka.

"Tidak punya uang, ya? Tapi kau punya hal lain yang menarik," kata pria lain, matanya menelusuri tubuhku.

Aku berteriak, tapi tidak ada yang mendengar. Mereka semakin mendekat. Aku memejamkan mata, bersiap untuk yang terburuk.

Tiba-tiba, aku mendengar suara pertarungan. Pukulan, tendangan. Aku membuka mata. Rehan Sukarno. Dia ada di sana, melawan ketiga pria itu.

Dia memukul salah satu dari mereka dengan tinju yang kuat, lalu menendang yang lain. Gerakannya cepat dan lincah. Dalam beberapa menit, ketiga pria itu terkapar tak berdaya.

Rehan berbalik ke arahku, napasnya sedikit terengah-engah. Wajahnya khawatir. "Alisha, kau baik-baik saja?"

Aku hanya bisa mengangguk, terkejut dan lega secara bersamaan. Rehan Sukarno, pewaris Sukarno Corp, salah satu saingan bisnis terbesar ayahku. Dia menyelamatkanku. Entah kenapa, dia selalu muncul di saat yang tepat.

Dia menatapku, matanya menyiratkan kesedihan. "Kau terlihat... tidak baik."

Aku menunduk. Aku tahu aku terlihat mengerikan. Rambutku acak-acakan, bajuku kotor, dan aku pasti bau.

"Kau mau ke mana?" tanyanya lembut.

Aku mengangkat bahu. "Tidak tahu."

Dia mengulurkan tangannya. "Ikutlah denganku."

Aku ragu sejenak. Aku tidak punya pilihan lain. Aku menggapai tangannya, dan dia menarikku ke atas. Tangannya hangat dan kuat. Aku merasa sedikit aman.

Bab 3

Alisha POV:

Aku duduk di kursi penumpang mobil mewah Rehan. Perjalanan terasa sunyi, tapi keheningan itu tidak membuatku nyaman. Aku masih merasakan sisa-sisa ketakutan dari insiden tadi. Aku menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung tinggi Jakarta yang menjulang. Aku merasa asing di kota ini, meskipun ini adalah tempat kelahiranku.

Rehan melirikku sesekali, tapi tidak berkomentar. Dia mengerti bahwa aku tidak ingin berbicara. Dia membiarkanku dengan pikiran-pikiranku sendiri. Aku bertanya-tanya, mengapa dia selalu muncul di saat aku paling membutuhkan bantuan? Apakah ini kebetulan, atau takdir?

Kami tiba di sebuah kompleks apartemen mewah. Aku mengenali tempat itu. Itu adalah salah satu properti milik Sukarno Corp. Rehan membawaku ke salah satu unit penthouse. Interiornya modern dan elegan, dengan pemandangan kota yang menakjubkan.

"Kau bisa tinggal di sini selama yang kau mau," katanya lembut. "Ini tempat yang aman."

Aku menatapnya. "Kenapa kau melakukan ini?"

Dia tersenyum tipis. "Anggap saja sebagai investasi."

Investasi? Aku mengerutkan kening. Apa yang bisa ia dapatkan dariku? Aku tidak punya apa-apa.

Dia melihat keraguan di mataku. "Kau cerdas, Alisha. Aku melihatnya. Keluarga Wangsadinata terlalu bodoh untuk melihat bakatmu."

Kata-katanya mengejutkanku. Tidak ada yang pernah mengatakan hal seperti itu padaku sebelumnya. Semua orang hanya melihat "putri liar" dan aib keluarga.

"Aku akan menyiapkan kamar tamu untukmu," katanya, lalu berjalan melewati lorong.

Aku mengikutinya. Ini bukan pertama kalinya aku di apartemennya. Aku pernah berada di sini, untuk pertemuan bisnis formal, beberapa tahun yang lalu. Aku ingat betapa mengesankannya tempat ini. Namun, kali ini, rasanya berbeda. Aku bukan lagi Alisha Wangsadinata yang sombong, yang datang dengan kepala tegak. Aku adalah Alisha yang hancur, yang membutuhkan bantuan.

"Ini kamarmu," katanya, membuka pintu. Kamar itu luas dan nyaman, dengan tempat tidur berukuran king dan kamar mandi pribadi.

"Tidak, aku tidak bisa," kataku. Ada sesuatu yang mengganjal. Aku tidak ingin terlalu dekat dengannya, terlalu nyaman. Itu terlalu berbahaya.

Dia menatapku dengan bingung. "Kenapa?"

"Aku hanya butuh sofa," kataku. "Aku tidak bisa tidur di ranjang itu." Aku tahu itu terdengar konyol, tapi aku tidak bisa menjelaskan perasaanku. Aku tidak ingin menjadi beban, atau terlalu bergantung.

Dia mengangkat bahu. "Baiklah, jika itu maumu. Tapi kau harus makan dulu."

Aku mengangguk. Perutku sudah bergejolak sejak tadi.

Malam itu, aku tidur di sofa, di ruang tamu. Aku tidak bisa memejamkan mata. Otakku terus berputar, memikirkan Fahreza, Elok, dan ayahku. Aku merasa seperti boneka yang dimainkan oleh semua orang.

Keesokan paginya, aku terbangun karena bau kopi yang harum. Rehan sudah bangun, menyiapkan sarapan. Ia meletakkan sepiring nasi goreng dan telur mata sapi di depanku.

"Makanlah," katanya.

Aku mulai makan, perlahan. Rasanya lezat. Aku tidak tahu kapan terakhir kali aku makan makanan enak seperti ini.

"Fahreza Murni," kataku tiba-tiba, tanpa berpikir.

Rehan menatapku. "Ada apa dengannya?"

"Kau tahu tentang Elok Danusastro?" aku bertanya, langsung ke intinya.

Dia mengangguk. "Ya. Rumornya, mereka bertunangan."

Jantungku berdebar kencang. Jadi, rumor itu benar.

"Apa kau tahu latar belakang keluarga Elok?" tanyaku.

Rehan menatapku dengan mata serius. "Aku baru saja menemukan beberapa informasi menarik. Keluarga Danusastro, mereka tidak seperti yang terlihat. Ayah Elok, dia punya beberapa koneksi yang gelap. Dan penculikan Fahreza sepuluh tahun lalu..."

Dia berhenti. Aku menatapnya, mendesaknya untuk melanjutkan.

"Ada bukti baru. Rekaman CCTV dan laporan keuangan yang menunjukkan bahwa penculikan itu... mungkin direkayasa," katanya, suaranya rendah. "Dan Elok... ia terlibat."

Duniaku berputar. Jadi, Fahreza telah dibodohi? Semua ini adalah kebohongan? Rasa marah dan sakit kembali melanda. Fahreza, yang selalu membela Elok karena "hutang nyawa," telah dipermainkan. Dan aku... aku telah menjadi korban dari kebohongan ini.

"Jadi, Fahreza adalah korban kebohongan itu, bukan?" tanyaku, suaraku dipenuhi sarkasme. "Dan aku, aku hanyalah korban dari korbannya."

Rehan tidak menjawab. Dia hanya menatapku dengan tatapan kasihan.

"Apa yang akan kau lakukan?" tanyaku, dengan nada dingin. "Apakah kau akan membantunya? Menyelamatkannya dari wanita manipulatif itu?"

Dia menghela napas. "Alisha, Fahreza adalah pria dewasa. Dia harus menyadari sendiri kebenaran ini."

"Atau kau hanya ingin melihatnya hancur?" aku membalas, mataku menyipit. "Itu akan membuat Murni Group lebih mudah ditaklukkan, bukan?"

Rehan tidak menyangkal. Dia hanya menatapku dengan tatapan kosong.

Sebuah ide melintas di benakku, pikiran yang gelap dan kejam. Aku bisa menghancurkan mereka semua. Ayahku, Fahreza, Elok. Aku bisa menggunakan Rehan. Aku bisa menggunakan kekuatanku, kecerdasanku, untuk balas dendam.

"Jangan libatkan dirimu terlalu dalam, Alisha," katanya, seolah membaca pikiranku. "Fahreza adalah pria yang berbahaya."

"Dan aku? Aku jauh lebih berbahaya," aku membalas, senyum tipis terukir di bibirku. Ini adalah awal dari permainanku. Aku akan membuat mereka semua membayar.

Aku mengangguk pelan. "Aku mengerti. Aku akan menjaga jarak. Aku tidak akan mencampuri urusan Fahreza dan Elok." Aku berbohong. Aku tidak akan menjaga jarak. Aku akan menyeret mereka semua ke neraka bersamaku.

Aku bangkit dan berjalan ke kamar tamu. Aku mengunci pintu. Aku ingin sendirian. Aku ingin merencanakan.

Aku duduk di lantai, bersandar di dinding. Perasaan kosong itu kembali. Aku telah memberikan segalanya untuk Fahreza, dan ia membalasku dengan pengkhianatan. Ia memilih wanita yang memanipulasinya, wanita yang membangun kebahagiaannya di atas kebohongan.

Aku mencoba menenangkan diri, tapi hatiku sakit. Aku merasa seperti pecundang. Aku merasa tidak berharga. Semua cinta yang kuberikan, semua kesetiaan, semuanya sia-sia.

Dulu, aku selalu bermimpi memiliki hubungan yang normal, yang tulus. Aku ingin seseorang yang mencintaiku tanpa syarat, yang tidak akan pernah meninggalkanku. Aku ingin seseorang yang akan berdiri di sisiku, tidak peduli apa pun. Tapi Fahreza... ia bukan orang itu.

Ia adalah seorang pengecut yang terjebak dalam jaring kebohongan. Dan aku, aku adalah orang bodoh yang jatuh cinta padanya. Aku merindukan pelukannya, sentuhannya, bahkan bisikannya yang dingin. Aku merindukan malam-malam di penthouse, ketika aku bisa berpura-pura bahwa kami adalah satu-satunya di dunia.

Kini, semua itu telah hilang. Hancur berkeping-keping. Aku melihat kembali pada diriku, Alisha Wangsadinata yang rapuh. Sudah cukup. Aku tidak akan lagi menjadi korban. Aku akan menjadi predator.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED