Luna memperhatikan catatan kecil di kulkasnya sambil menenteng roti dan sekotak susu.
"Nanti pukul sepuluh ini aku ternyata ada meeting sayang. Klien dari Arab mau lihat koleksi berlian kita. Setelah bazzar kemarin, banyak pesanan masuk. Sekarang akan lebih baik kalau aku yang turun langsung menemui mereka," ujar Luna memincingkan mata membaca to do list yang tertempel rapi di pintu kulkasnya. Ia sadar, waktunya banyak habis di dapur. Jadi selain di kamar, wanita jelita itu menempelnya di ruang dapur.
"Bapak-bapak atau gimana? Kalau pangeran Arab, aku enggak izinkan kamu keluar sendirian! Aku sama Farid harus ikut," rajuk Yudha yang sedang menggoyang-goyangkan box ayunan anak mereka yang berusia tiga tahun. Tampak balita itu asik bermain dengan mainan mobil-mobilannya sambil menikmati sensasi ayunan.
Mendengar ucapan suaminya, Luna tersenyum cantik sekali. Ia meletakkan roti itu lalu mengolesinya dengan slay coklat kacang. Susu UHT yang menjadi minuman kesukaan suaminya perlahan ia tuangkan di gelas kembar milik mereka berdua. Di sana dituliskan Love Mama, Love Papa. Ciamik.
"Orang Arab meski opung-opung itu tampan-tampan. Hihihi," kekeh Luna menutup mulutnya.
"Awas ya kamu Dik! Suka gitu kamu ya!" hentak Yudha mendekati istrinya.
Dengan penuh perasaan sayang, ia mencium pucuk kepala istrinya. Luna hanya terus tersenyum dengan pipi merona.
Setelah selesai sarapan, Luna ke kamarnya untuk mempersiapkan diri. Tangan lentiknya mengusap lembut day cream B Erl ke seluruh wajahnya. Tak lupa ia memberikan sedikit sentuhan maskara dari B Erl untuk menambah kesan tajam dan elegan di kelopak matanya.
"MasyaAllah, kulit wajah istriku ini glazed banget sih. Glowing di atas glowing!" seru Yudha menyentuh pundak Luna.
"Alhamdulillah Mas. Sejak gadis aku perawatan pakai paket B Erl Cosmetics. Mama yang merekomendasikannya. Makanya kamu jangan heran, kalau Mama Zanna tampak awet muda meski sudah hampir kepala lima," ujar Luna menyentuh lembut pouch cantik B Erl Cosmetics yang tergeletak cantik di meja riasnya.
"B Erl bantu para wanita cantik luar dalam ya sayang," tanggap Yudha mengelus lembut pipi istrinya.
Luna mengerjapkan mata, tersenyum menikmati sentuhan suaminya.
"Oh ya, mungkin aku meetingnya sampai tiga jam sayang. Beneran kamu enggak apa-apa?" tanya Luna meraih tasnya dan melangkah mencari sepatunya.
"Iya. Biar Karmila aja yang atur hari ini. Lagian kemarin aku sudah lembur sampai malam. Hari ini, nanti habis zuhur aja aku jalan. Kalau kamu belum pulang, aku titip Farid sama Ratna ya."
Luna mengangguk dan mencium takzim tangan suaminya. Ia juga mengecup kedua pipi Farid berkali-kali.
"Mama pergi sayang. Muach muach muach!"
"Kamu kenapa sih Dek? Ciumnya sekali ajalah! Kalau kamu lanjut cium lagi, aku minta dicium juga! Berkali-kali!" repet Yudha yang membuat Luna tertawa.
"Iya nich. Mama kok kayak berat ninggalin Farid hari ini. Kenapa ya sayang? Apa kamu enggak kasih Mama keluar?" tanya Luna mencubit pelan pipi anaknya.
Balita laki-laki itu terlihat berbinar-binar menatap ibunya. Tampak giginya berderet yang hampir sempurna tumbuh membuat senyumnya sangat menggemaskan. Luna kembali menciumnya.
"Dek! Astaghfirullah! Sudah sana! Jangan sampai kamu terlambat! "
"Iya deh. Iya. Assalamu'alaikum Mas. Assalamualaikum Farid anak Mama! Mama pergi dulu ya. Dadadah! "
"Da da mama!" seru Farid.
Luna melambaikan tangannya dan keluar.
"Sekarang, Farid sama Papa dulu ya. Sambil tunggu Mama pulang, kita liat Babon yuk!" ujar Yudha menggendong putranya menuju pintu.
Tiba-tiba Luna muncul dengan langkah tergesa-gesa.
"Allahuakbar! Aku kira kau sudah sampai kantor Dek!"
"Hehehe. Aku lupa bawa ponselku Mas!" teriak Luna menuju kamarnya. Denganmu cepat wanita bercadar itu kembali.
"Nanti kita vidio call ya sayangku. Muuach muaach muaach!"
Luna mencium tangan dan kaki anaknya dengan sangat gemas. Yudha yang melihat tingkah istrinya menjadi gregetan.
"Dek! Pergi enggak sekarang?! Kalau enggak, aku bawa kamu ke kamar lo sekarang," ancam Yudha sambil menahan senyum. Seketika Luna meninju bahu suaminya hingga membuat Yudha meringis.
"Aaaiikhh sakit Dek! Kapan sih sifat bar-barmu itu berkurang dikiiiit aja! Lama-lama kamu buat aku jadi perkedel Dek!" rintih Yudha menahan sakit bahunya.
Luna tertawa lalu meninggalkan suami dan anaknya mengendarai mobil pribadinya yang mewah. Kendaraan yang hanya ada sepuluh unit di dunia itu meluncur lembut hampir tak terdengar. Yudha mendecak kesal dan gemas pada tingkah istrinya itu.
"Mamamu itu memang aneh, Nak. Khilaf terus Papa sampai bucin begini," kekeh Yudha sambil menutup pintu.
Yudha memutuskan untuk membawa Farid ke kamar saja. Ia baru ingat, harus mengirim file kantor pada Karmila sebelum pukul 11 siang.
Tok! Tok!
Langkah Yudha berhenti. Ia melipat bibirnya menahan kesal.
"Mamamu dah itu! Benar-benar ya! Kali ini apa lagi yang dia lupakan! Diandra Safaluna, awas saja," omel Yudha berbalik menuju pintu.
"Apa lagi Deeeek?!!"
Kedua bola mata Yudha membelalak seperti akan keluar dari kelopaknya. Sesuatu yang sangat mengerikan sedang berdiri di depannya.
"Sss-ssiapa kalian?" tanya Yudha mundur. Tangannya mengeratkan pelukannya pada Farid.
"Tak perlu tahu siapa kami. Serahkan anak itu dan jangan melawan sedikitpun. Jika masih ingin melihat matahari besok," ucap sosok yang bertopeng srigala.
Moncongnya terlihat sangat nyata dengan lilitan bulu panjang di lehernya. Terlihat seperti ekor rubah. Namun tercium ada aroma amis yang terbawa angin dari arah pintu. Besar kemungkinan, ekor berbulu itu asli.
Yudha gemetar. Yang di depannya ini bukanlah manusia biasa. Aroma kebengisan tercium begitu kental. Yudha menelan salivanya yang tiba-tiba terasa sangat pahit. Bukan karena takut akan kehilangan nyawanya, tapi anaknya sekarang justru menangis. Yudha mengelus-elus punggung Farid pelan.
"Papa di sini Nak. Jangan takut, jangan takut," lirih Yudha dengan jantung berdentum-dentum kencang. Pandangannya awas. Kakinya terus saja melangkah mundur sedangkan sosok srigala itu tetap berdiri kokoh di depan pintu.
"Kalian mau apa? Jika kalian perampok, silahkan ambil apa yang bisa kalian ambil di rumah ini. Aku takkan menganggu kalian!" seru Yudha yang terus melangkah mundur.
Tak ... Tak ....
Suara hentakan langkah sosok tinggi besar itu semakin membuat Yudha keringat dingin. Tampak di belakang manusia bertopeng srigala itu beberapa laki-laki sangar dengan wajah yang tertutup topeng besi.
"Apa kamu tuli wahai laki-laki?! Serahkan anakmu itu lalu hiduplah bahagia!" Suara berat dan serak menggema memenuhi rumah mewah itu. Memantul menambah kengerian yang mendengarnya.
"Kalian gila! Untuk apa kalian mengincar seorang anak kecil! Ambil harta yang di rumah ini dan pergilah!" teriak Yudha melawan rasa takutnya yang luar biasa.
"Jangan banyak bicara, serahkan anak itu. Darahnya adalah alat pelunasan hutang janjiku!"
"Bicara apa kau?! Kami tak mengenalmu! Dia anakku! Aku ayahnya! Akan kupertahankan anakku sampai mati!" seru Yudha semakin beringsut mudur.
Sosok bertopeng srigala yang tak lain adalah Razzor itu berhenti. Ia menatap kosong ke arah Farid yang sekarang semakin menangis kencang. Kehadiran orang asing dengan sosok yang menyeramkan itu rupanya membuatnya takut.
"Ambil anak itu!"
Sayudha berlari sekencang-kencangnya ke arah samping hingga menembus taman dimana Babon terkurung. Nampak ular kobra itu menghentak-hentak mengangkat lehernya, berdiri tegap. Sayudha merasakan debaran jantungnya sudah tak di dadanya. Derap langkah berat dan ramai yang sedang mendekatinya bercampur dengan tangis kencang anaknya.
"Papaaa!!! Papaaa!!!" teriak Farid histeris.
"Babon!!! Tolong kami!!!" pekik Yudha berlari mendekati kandang ular itu.
Belum sempat Yudha meraih pintu kandang, enam orang lelaki kasar itu melompat, dan menangkap tubuhnya. Mereka mengelilingi Yudha. Salah satu tangan besi terlihat sedang berusaha meraih Farid. Yudha menendang dan menepis mereka sekuat tenaga. Namun justru kaki dan tangannya terasa sangat sakit. Lapisan tembaga pada kaki dan tangan mereka begitu sangat kokoh.
"Lakukan dengan cepat!" pekik sosok bertopeng srigala itu.
"Allahuakbar! Pergi kalian!" teriak Yudha memberontak.
Tangisan Farid semakin kencang. Yudha mencoba menerobos mereka namun nihil. Dengan kekuatan penuh, Yudha menendang pengait kandang Babon. Kawat besi itu berhasil lepas dan ular kobra itu langsung keluar dari kandangnya dengan gagah.
Kedua mata ular kobra itu awas menatap keenam laki-laki aneh itu. Babon merayap dan mendekat. Salah satu kaki-laki sangar itu justru maju, seolah tak ada rasa gentar menghadapi seekor ular berbisa.
Babon menegakkan tubuhnya dan mematuk laki-laki itu berkali-kali. Namun nampak sia-sia, lapisan besi baja yang seperti baju zirah perang itu begitu kokoh melindungi kaki lawannya. Babon mencoba melompat namun dengan cepat tubuh besar king kobra itu ditangkap begitu santai. Babon meliuk-liuk mencoba lepas. Laki-laki itu meraih leher Babon dan mencekiknya.
Gggggrrrrr ....
Ssssrrrttttt ....
Suara erangan laki-laki itu bersatu dengan desisan Babon.
"Tidaaaaak!!! Lepaskan ular itu manusia laknat!!!" teriak Yudha memekik.
Laki-laki sangar itu menghempaskan tubuh Babon di tanah. Raja ular itu tampak lemah hingga menggeliat saja terlihat kesulitan.
"Babon! Lari! Pergi dari sini!" teriak Yudha.
King kobra itu mencoba bergerak seolah akan menjauh. Naas, sebuah kaki besi mengejar lalu terangkat begitu tinggi lalu...
Buuum!!!
Leher Babon diinjak dengan sangat kasar hingga mulut ular itu menganga lebar. Taring tajamnya telihat berkilau di bawah sinar matahari. Meski seperti sudah tak ada kehidupan, ekor Babon masih berputar-putar pelan.
"Allaaaaaah!!!" pekik Yudha membelalak melihat hewan peliharaan istrinya itu mengeluarkan darah dari mulutnya. Tangis Yudha pecah bersamaan dengan tubuhnya yang terasa ringan sekali. Seolah bumi sedang menariknya ke dasarnya paling dalam.
Buuughh!!!!
Tengkuk Yudha dihantam oleh tangan besi dan membuat pandangannya langsung buram dan semakin gelap. Dekapannya lemah sehingga dengan mudah, keenam laki-laki menyeramkan itu meraih Farid. Balita laki-laki itu terus berteriak semakin kencang melihat ayahnya ambruk.
"Papa! Papaaaa!" teriaknya berusaha meraih ayahnya.
"Fa ... rriiid ...," lirih Yudha di antara kesadarannya yang hampir menghilang.
"Apa perlu dia dibunuh Tuan?" samar terdengar ucapan salah satu laki-laki.
"Tak perlu."
Langkah penjahat itu semakin jauh masuk ke dalam rumah. Yudha yang mendengar suara tangis anaknya menjauh merasakan kesakitan di hatinya yang teramat luar biasa.
"Fa-faaarid ... Ya Allah ... Aaalllaaaah ...."
Suara Yudha hampir tenggelam. Ia bahkan bisa mendengar deru nafas sekarat dari king kobra yang tak jauh darinya. Dengan segenap kekuatan jiwanya sebagai ayah, Yudha mengangkat tubuhnya.
"Aku lebih baik mati hari ini demi anakku," geramnya menegakkan kakinya.
Meski gemetar dan pandangannya nampak berputar-putar, Yudha menguatkan tegadnya. Laki-laki itu meludah dan menatap Babon yang sudah tak bergerak lagi.
"Bertahanlah Babon," lirihnya lalu berlari masuk.
Tubuh Yudha jatuh, namun ia kembali bangkit dan memaksa tubuhnya bergerak. Nafasnya memburu bersamaan dengan sakit di bagian lehernya.
Nampak kawanan penjahat itu akan melewati pintu keluar. Farid masih menangis dan meronta semakin kencang melihat ayahnya mendekat.
"Papa! Papa!!!" teriak balita itu.
"Berhenti!!!" teriak Yudha.
Serentak mereka berhenti.
"Farid, berhenti menangis Nak. Jangan menangis Nak," ujar Yudha mencoba menenangkan anaknya.
"Saya akan menyelesaikannya, King!" seru salah satu laki-laki berkaki besi itu.
"Tak perlu. Biar aku saja. Aku sedang ingin bermain-main" ujar Razzor dingin.
Hentakan kakinya yang menggema tak membuat Yudha gentar. Justru ia semakin berani untuk melawan. Tak peduli jika harus mati, baginya kesalamatan anaknya yang utama.
'Luna, kembalilah Dek! Anakmu dalam bahaya. Tak peduli jika aku yang mati, tapi Farid harus tetap hidup. Kembalilah Dek!" pekik hati Yudha bersamaan dengan matanya yang memerah menahan kemarahan juga kesedihan.
"Kau boleh membunuhku. Tapi lepaskan anakku! Dia masih kecil, tak tahu apa-apa!"
"Justru aku ke sini untuk anak ini," jawab Razzor dingin, berdiri tegap tak jauh dari Yudha.
Kedua laki-laki itu saling berhadapan dan terlihat sangat jauh berbeda. Tubuh tinggi sedikit ramping Yudha begitu kontras dengan tubuh kekar berlapis baja, bertopeng srigala di depannya.
"Apa maksudmu? Apa kau memiliki dendam dengan istriku di dunia mafia?"
Razzor menggeleng.
"Siapa kau?! Apa kau komplotan Eville? Kau ke sini untuk membalas dendam?"
Lagi-lagi Razzor menggeleng. Yudha semakin kebingungan.
"Apa ... istriku mengenalmu?"
Sejenak Razzor diam. Namun kali ini ia memilih bersuara.
"Siapa yang tak mengenal Angel Gracelia? Ratu Mafia utara yang kecantikannya seperti dewi. Namanya dikenal dalam bisikan malam. Sang Penakluk Abere Si Wanita Iblis. Siapa yang tak mengenal putri Luis dan Zanna itu? Namanya digaungkan karena mengeluarkan jantung Jeni hidup-hidup. Siapa yang tak mengenal dia? Hahahhahaah!"
Nafas Yudha tercekat. Jika dia tahu istrinya, berarti laki-laki ini juga berasal dari dunia bawah tanah itu juga?
"Dia memang tak mengenaliku tapi aku yakin dia pernah mendengar namaku. Hahahaha!"
"Siapa namamu?" tanya Yudha dengan sorot mata tajam.
Razzor menggeleng. Yudha menarik nafasnya kuat-kuat. Baginya sekarang yang utama adalah bagaimana ia bisa membujuk monster di depannya itu untuk melepaskan anaknya.
"Baiklah Tuan. Tolonglah. Kasihani anak itu, dia tak tahu apa-apa! Kau bisa menahanku untuk menebusnya! Kau ... kau bahkan bisa menunggu ibunya!" seru Yudha dengan nafasnya yang tersenggal.
Tangisan Farid semakin membuatnya tak karuan. Ia semakin dekat dan dekat, tak peduli Razzor menghadang dan menatapnya tajam. Tangan kanan laki-laki srigala itu melentang.
"Kau akan kubiarkan hidup jika kau berhenti sampai di sini. Biarkan aku membawa anak itu," ujar Razzor dingin menghentikan langkah Yudha.
"Mungkin kau tak tahu, Seorang ayah akan menukar nyawanya untuk keselamatan anaknya," jawab Yudha menabrak tangan Razzor dan melangkah.
Wuusshhh!!!
Razzor menarik kerah baju Yudha dan menyeretnya menjauh. Yudha meronta-ronta mencoba melepaskan diri dan berhasil. Dengan kekuatan penuh Yudha menendang dan meninju Razzor namun nihil. Laki-laki bertopeng srigala itu justru tertawa.
Buuughh!!
Sebuah hantaman dari tangan besi berduri Razzor mengenai dada Yudha. Lalu disusul di perutnya dan tendangan kaki besi Razzor berhasil membuat Yudha tersungkur. Begitu santainya, Razor menginjak perut Yudha hingga laki-laki itu menyemburkan darah. Dengan kejam, Razzor memutar-mutar telapak kakinya di atas tubuh Yudha sehingga menambah rasa sakitnya.
"Allaaaaaaah ...," lirih Yudha hampir tak terdengar.
Deeerrrt ....
Deeerttt ....
Suara getaran dan deringan ponsel yang di atas meja mengalihkan perhatian Razzor. Dengan isyarat tangan, salah satu anak buahnya meraih benda itu dan menyerahkannya pada bossnya.
"The Moriz?" gumam Razzor pelan menatap layar.
Mendengar itu, Yudha membuka matanya. Aleksei The Moriz, seperti air di tengah gurun untuk Yudha saat ini.
"Aleksei!!! Aleksei!!!" teriak Yudha dengan sisa tenaganya. Ia seolah melihat sahabat istrinya itu di depannya.