Bab 1

"Halo, Bi. Sepertinya Pak Brata akan datang ke rumah untuk menjemput Viona. Tolong jangan ijinkan Pak Brata membawa Viona dan anakku. Sebentar lagi aku akan pulang."

"Maksudmu, Pak Brata akan membawa istrimu pulang, begitu?"

"Iya. Tolong, jika Pak Brata memaksa untuk membawa Viona dan anakku, tahan dulu, setidaknya sampai aku datang."

"Baiklah. Cepat pulang dan hati-hati di jalan."

Rendra menutup ponselnya. Ia benar-benar takut jika ancaman ibu mertuanya itu benar adanya. Rendra memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, berharap akan cepat sampai ke rumah kakeknya, rumah dimana ia tinggal bersama anak dan istrinya. Jantungnya berdegup kencang. Ia sangat takut kehilangan istri dan anaknya yang baru lahir beberapa bulan yang lalu. Beruntungnya Rendra mendapatkan ijin untuk pulang lebih cepat dari atasannya, sehingga ia bisa segera pulang ke rumah.

Tidak sampai satu jam Rendra akhirnya sampai ke rumah kakeknya. Ia melihat ada mobil hitam terparkir di halaman rumah sang kakek.

'Sepertinya itu mobil ayahnya Viona,' batin Rendra.

Rendra mengambil langkah seribu saat mendengar suara berat dan serak yang sudah dipastikan milik mertua laki-lakinya itu. Bibi Rendra memiilih untuk berdiam diri di dalam kamarnya. Ia tidak mau terlibat dalam urusan rumah tangga keponakannya.

"Kamu harus pulang bersama Papa, Viona! Kemasi barang-barangmu sekarang! Papa tidak rela putri Papa satu-satunya tinggal di rumah yang lebih pantas dikatakan gubug ini!"

Suara bariton milik Brata Mahardika--papa kandung dari Viona-- memenuhi seisi rumah yang tidak terlalu besar itu.

"Tunggu! Apa-apaan ini? Kenapa Papa memaksa Viona untuk ikut bersama Papa?"

Rendra membulatkan matanya tak percaya saat melihat istri tercintanya sedang mengemasi barang-barangnya. Sementara bayinya sedang tertidur pulas di atas kasur. Tidak merasa terganggu sama sekali dengan keributan yang sedang terjadi.

Viona tak bisa berbuat apa-apa lagi, ia segera mengemasi barang-barangnya yang tidak terlalu banyak itu ke dalam kopernya. Matanya menatap wajah laki-laki yang baru satu tahun menjadi imamnya. Kemudian kembali fokus mengemasi barang-barangnya.

Rendra berjalan mendekati istrinya yang sedari tadi mengabaikannya. Ia memegang tangan sang istri, mencoba menghentikan gerakan tangannya yang sedang memasukkan semua pakaiannya dan pakaian bayinya ke dalam koper. "Viona, sayang. Apa yang sedang kamu lakukan, kenapa kamu memasukkan semua pakaianmu dan juga anak kita ke dalam koper?"

Belum juga Viona menjawab pertanyaan Rendra, suara bariton milik Brata lagi-lagi terdengar memenuhi seisi rumah.

"Lepaskan tangan putriku, Rendra! Kamu tidak berhak menyentuhnya! Laki-laki gembel sepertimu tidak pantas untuk menyentuh kulit putriku!"

"Tapi dia istriku, Pa! Papa tidak pantas berbicara seperti itu kepadaku!" Rendra masih berusaha untuk mengontrol emosinya. Karena bagaimanapun pria paruh baya yang ada dihadapannya kini adalah mertuanya. Ia masih menghormatinya.

"Mulai saat ini Viona Putri Mahardika bukan lagi istrimu. Karena dalam waktu dekat, putriku akan menggugat cerai kamu, Rendra. Dan mulai detik ini berhenti memanggilku dengan sebutan 'Papa' karena aku tidak pernah menganggapmu sebagai menantuku!"

Sakit, perih yang dirasakan oleh Rendra saat mertuanya tidak pernah menganggapnya sebagai menantu. Namun selama ini ia tidak pernah memperdulikannya, karena baginya yang terpenting adalah cinta dari sang istri. Selama Viona mau bertahan dengannya, sudah cukup membuatnya bahagia. Apalagi saat kehadiran bayi mungil ditengah-tengah keluarga kecilnya. Menambah kebahagiaan bagi seorang Rendra.

Rendra menatap wajah sang istri yang sedari tadi hanya diam saja. "Viona! Katakan, jika apa yang dikatakan oleh papamu itu tidak benar!" Ia terus menatap wajah Viona, berharap istrinya itu menjawab pertanyaannya. Namun Viona lagi-lagi bungkam menutup mulutnya rapat-rapat.

"Kenapa kamu diam saja, Viona! Jawab pertanyaanku!" Rendra mengguncang pelan tubuh Viona. Tangannya memegangi kedua lengan istrinya. Rendra benar-benar sangat prustasi.

"Singkirkan tangan kotormu itu dari tubuh putriku!" Brata menarik paksa tangan Rendra yang masih memegang lengan istrinya. Viona tetap bergeming, hanya air matanya yang terus keluar membasahi pipinya.

Rendra mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. Pertanda jika ia sedang marah. Namun, Rendra masih bisa menguasai emosinya. Ia tidak mau gegabah dalam bertindak. Dirinya masih berharap jika Viona mengurungkan niatnya untuk pergi dari hidupnya dan mengikuti perintah dari papanya.

"Pak, kita bisa bicarakan masalah ini baik-baik. Tidak dengan cara seperti ini. Bagaimanapun juga aku dan Viona adalah suami istri, apalagi saat ini ada bayi diantar kita berdua. Anda tidak bisa bersikap seperti ini kepadaku juga Viona." Rendra berusaha mengajak mertuanya untuk berbicara baik-baik. Ia masih bisa menahan emosinya dan menghormati Brata sebagai mertuanya.

"Tidak, Rendra. Kamu tidak bisa menjadi suami yang baik untuk putri kesayanganku. Kamu laki-laki miskin. Tidak mungkin bisa membahagiakan putriku yang sejak kecil hidup bergelimang harta," tukas Brata dengan pongahnya.

"Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa membahagiakan Viona. Saat ini aku memang belum terlihat sukses. Tapi aku yakin, suatu saat nanti aku pasti bisa memberikan harta yang berlimpah untuk Viona dan anak kita." Rendra berbicara dengan sangat percaya diri, ia yakin, suatu saat nanti dirinya akan sukses.

Brata justru tertawa mendengar perkataan Rendra. "Hahahaha ... jangan mimpi kamu, Rendra! Jangankan untuk memberikan harta kepada anak dan cucuku, untuk biaya persalinan istrimu saja, aku yang membiayainya. Karena kamu tidak mampu! Suami macam apa kamu? Aku gak sudi anakku satu-satunya hidup dengan gembel sepertimu!"

Pria paruh baya itu terus menghina Rendra. Tidak puas sampai disitu, Brata akan menghancurkan hidup Rendra dengan membawa pulang Viona dan bayinya dengan ataupun tanpa persetujuan dari Rendra.

Rendra terus menahan gejolak didadanya. Emosinya yang sudah di ubun-ubun hampir meledak jika saja ia tidak mengingat bahwa Brata adalah ayah dari istrinya, mungkin saja saat ini juga Brata akan memukul mulutnya yang kotor itu.

"Aku mohon, tolong beri aku waktu sebentar lagi. Aku janji, aku pasti akan menjadi laki-laki sukses seperti anda, Tuan Brata. Aku yakin itu." Rendra terus beroptimis dan meyakinkan mertuanya yang angkuh itu.

Lagi-lagi Brata tertawa mendengarnya. "Mau berapa puluh tahun, Viona harus menunggu kamu untuk menjadi lelaki sukses, hah? Sampai matipun, kamu tidak akan pernah bisa jadi laki-laki sukses sepertiku!" cemoohnya.

"Setidaknya, Viona tetap baik-baik saja, dan selama ia bersamaku Viona terlihat bahagia," lirih Rendra. Matanya menatap penuh harap pada perempuan yang sedari tadi hanya diam merapatkan mulutnya. Seperti tak berniat untuk membela suaminya.

"Jika anakku terus bersamamu, mau kamu kasih makan apa, hah? Kasih makan batu?" Brata terus menghina Rendra. "Viona, ayo masuk ke dalam mobil!" titahnya kepada Viona.

Bak kerbau yang dicucuk hidungnya, Viona menuruti perintah papanya. Ia menggendong bayinya yang sedang terlelap tidur. Kemudian berjalan sembari menundukkan kepalanya melewati suaminya yang menatapnya dengan sendu.

"Rudi, bawakan koper Viona ke dalam mobil!" titah Brata kepada supirnya.

"Baik, Tuan!" Rudi segera melakukan perintah majikannya.

"Viona, tunggu!" Rendra berlari menyusul Viona yang hendak masuk ke dalam mobil papanya.

Bab 2

Sayangnya Viona tidak menghiraukan panggilan dari suaminya. Saat Rendra akan memegang tangan sang istri, tiba-tiba Brata langsung menarik tangan Rendra hingga ia terjengkang ke belakang.

"Sudah saya bilang berapa kali, Rendra. Kamu tidak boleh menyentuh putriku!" Brata menghempaskan tubuh Rendra hingga ia terjatuh kebelakang.

Melihat kejadian itu, sontak Viona membalikkan tubuhnya menatap sendu pada laki-laki yang masih berstatus sebagai suaminya itu. Air matanya menetes satu per satu membasahi pipinya.

"Papa ...."

"Diam kamu, Viona. Masuk ke dalam mobil sekarang juga!" titah Brata kepada Viona yang tidak bisa ia bantah.

Lagi, Viona menuruti perintah papanya. Ia masuk ke dalam mobil.

"Tutup pintunya, lalu kunci! Begitupun dengan kaca jendelanya. Jangan sampai Viona keluar dari mobil!" Kali ini Brata memberi perintah kepada supir pribadinya yang bernama Rudi.

"Baik, Tuan." Rudi segera menuruti perintah majikannya.

Rendra bangkit, berjalan mendekati mobil mertuanya. Lagi-lagi Brata menghalangi Rendra yang ingin mendekati mobilnya.

"Pak, aku mohon ijinkan aku untuk berbicara sebentar saja dengan Viona." Rendra memohon kepada Brata dengan wajah memelas.

"Tidak, Rendra. Mulai detik ini kamu tidak bisa bertemu lagi dengan Viona, begitupun dengan cucuku."

Brata berjalan masuk ke dalam mobil tanpa menghiraukan Rendra yang terus memohon kepadanya.

"Jalan!" titah Brata kepada supirnya untuk menjalankan mobilnya.

"Tunggu!" seru Viona.

"Ada apa Viona?" tanya Brata. "Jangan bilang kalau kamu tidak ingin ikut Papa untuk pergi dari gubug itu!"

"Bukan, Pa. Tapi, setidaknya ijinkan Viona untuk berbicara dengan Mas Rendra. Sebentar saja," jawab Viona. "Untuk terakhir kalinya," ucapnya lagi. Kali ini suaranya sangat lirih. Terlihat jika Viona pun sangat berat untuk berpisah dengan Rendra.

"Baiklah, Papa ijinkan. Tapi janji, hanya sebentar saja. Setelah itu kamu harus cepat masuk ke dalam mobil. Dan ingat, ini untuk terakhir kalinya kamu bertemu dengan laki-laki gembel itu!" Jelas terlihat dari wajahnya, jika Brata benar-benar sangat membenci Rendra.

"Iya, Pa. Viona janji."

Sembari menggendong bayinya, Viona keluar dari mobil. Melihat itu, mata Rendra berbinar bahagia. Ia menyangka jika Viona tidak jadi pergi bersama papanya.

"Viona, sayang. Aku tau kamu pasti tidak akan pergi meninggalkan aku."

Rendra menangkup pipi Viona dengan kedua tangannya. Matanya menatap wajah sang istri dengan penuh cinta. Setelah itu, matanya beralih menatap wajah polos bayi yang ada di pelukan Viona. Berkali-kali Rendra menciumi pipi mungil anaknya. Mengelus lembut kepalanya. Sangat terlihat jika Rendra benar-benar sangat menyayangi bayinya.

Viona membiarkan suaminya menciumi bayinya. Mungkin ini untuk yang terakhir kalinya. Setelah puas menciumi bayinya. Rendra langsung mengambil alih bayinya dari dekapan Viona. Ia menggendongnya dan memeluknya sangat erat.

"Papa tidak bisa kehilangan kamu, sayang. Kamu akan tinggal bersama Papa, sayang." Rendra berbicara pada bayinya. Bayi mungil itu membuka matanya, menatap wajah sang papa, kemudian memberikan senyuman manisnya. Melihat itu, Rendra semakin gemas pada bayi mungilnya. Ia kembali menciumi pipi tembem anaknya.

Melihat Rendra yang sangat menyayangi bayinya, membuat hati Viona semakin hancur. Satu sisi ia tidak tega memisahkan anaknya dari papa kandungnya. Aka tetapi di sisi lain, ia pun tidak bisa bertahan hidup miskin dengan suaminya. Meskipun rasa cinta itu masih kuat untuk Rendra.

"Ayo, sayang. Kita masuk ke dalam, sepertinya sudah mau turun hujan. Langitnya terlihat sangat gelap," ucap Rendra. Ia masih menyangka jika Viona turun dari mobil untuk kembali kepadanya. "Oh iya, mana barang-barangnya tadi?" Matanya melihat kebawah, tak ada koper yang tadi di masukkan ke bagasi mobil oleh Rudi. "Biar Mas saja yang mengambilnya. Lebih baik kamu cepat masuk ke dalam, sayang. Kasian bayi kita, takut kedinginan."

Rendra hendak berjalan menuju belakang mobil mengambil koper milk Viona. Namun tangan Viona menghentikan langkahnya.

"Mas, tunggu!" seru Viona.

"Ada apa, sayang? Sebentar lagi hujan akan turun. Lebih baik kamu cepat masuk ke rumah, sayang. Aku tidak mau kamu dan bayi kita kehujanan." Rendra melanjutkan langkahnya.

"Mas, aku turun dari mobil bukan untuk kembali ke rumah ini. Tapi aku hanya ingin ...." Viona tak dapat melanjutkan kata-katanya. Ia tak sanggup lagi berkata. Matanya mengembun, air mata yang sedari ia tahan akhirnya luruh juga membasahi pipinya.

Seketika Rendra menghentikan langkahnya. Kemudian membalikkan tubuhnya menatap wajah sang istri.

"Apa maksudmu, Viona? Mengapa kamu berbicara seperti itu?" Rendra kembali mendekat pada Viona. "Ingin apa, Viona, katakan!" Nada suaranya meninggi.

"Aku ... aku hanya ingin memberimu kesempatan untuk terakhir kalinya, melihat wajah bayi kita," lirih Viona. Kali ini ia tak mampu menatap wajah Rendra.

Rendra menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kamu tidak boleh berkata seperti itu, Viona. Kamu dan bayi kita tidak akan pergi kemana-mana. Kita akan selalu bersama-sama selamanya."

Viona menundukkan kepalanya. "Maafkan aku, Mas. Aku tidak bisa lagi hidup bersamamu." Lirih Viona mengeluarkan suaranya.

"Tapi kenapa, Viona? Bukankah selama ini kamu bahagia hidup denganku? Bahkan tidak pernah sekalipun aku melihatmu bersedih saat bersamaku. Katakan padaku, Viona, apa kurangku selama ini?"

Rendra mengguncang tubuh Viona pelan. Hancur sudah hatinya, namun ia tak bisa mengeluarkan air matanya meskipun satu tetes. Padahal terlihat jelas jika laki-laki itu sangat terpukul dengan keputusan istrinya.

"Maafkan aku, Mas. Aku ...." Viona tak dapat berkata-kata lagi. Ia pun sebenarnya sama sakitnya dengan apa yang dirasakan oleh suaminya. Suami yang sangat ia cintai. Namun ia tak bisa hidup bersamanya, karena egonya yang mengalahkan rasa cintanya terhadap suaminya sendiri.

"Tidak, Viona. Katakan jika kamu tidak benar-benar serius untuk pergi dariku!" Viona menggelengkan kepalanya. "Katakan Viona!" Rendra sedikit meninggikan suaranya. Berharap istrinya yang paling ia cintai akan menurut kepadanya, seperti sebelumnya yang selalu menuruti setiap perkataannya. Dan untuk pertama kalinya Rendra meninggikan suaranya saat berbicara dengan Viona.

"Jika itu masalah materi, aku janji, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mencari uang sebanyak-banyaknya. Jika perlu, aku akan bekerja siang dan malam demi membuat kamu dan bayi kita bahagia, aku janji, Viona."

Tiba-tiba Brata kembali turun dari mobil untuk menyuruh anak dan cucunya masuk kembali ke dalam mobil.

"Kamu mau tau apa kekuranganmu, Rendra? Kamu terlalu miskin untuk putriku!" Brata menekankan kata 'miskin'. "Ayo masuk, Viona! Buang-buang waktu kamu berbicara dengan gembel seperti dia!"

Brata mendorong pelan tubuh Viona untuk segera masuk ke dalam mobil. Sebelum Viona dan bayinya benar-benar masuk ke dalam mobil, Viona menatap wajah lelaki yang selama ini telah memberikan cinta yang tulus kepadanya untuk terakhir kalinya. Air mata terus berjatuhan membasahi pipinya. Brata segera menyusul Viona dan masuk ke dalam mobilnya.

"Jalan!" Brata memberi perintah kepada supirnya untuk segera menjalankan mobilnya dan pergi dari tempat itu.

"Tidak, Viona ...."

Rendra menggelengkan kepalanya. Menyugar rambutnya dengan kasar. Rahangnya mengeras, tangannya terkepal dengan kuat sehingga urat-uratnya menonjol. Matanya merah. Menatap kepergian istri dan anaknya yang paling ia cintai. Rendra terus memandangi mobil milik mertuanya yang semakin menjauh, berharap masih ada keajaiban jika Viona mengurungkan niatnya untuk ikut pergi bersama papanya. Namun semuanya itu hanyalah khayalannya saja. Nyatanya mobil itu terus pergi hingga tak lagi terdengar suara mesinnya.

Seiring dengan kepergian Viona dan bayinya, hujan lebat tiba-tiba turun dengan sangat deras. Membasahi seluruh tubuh lelaki malang itu. Dan untuk pertama kalinya di dalam kehidupannya, seorang Rendra menitikkan air mata, menangisi kepergian seorang perempuan yang paling ia cintai. Beruntungnya tak ada yang melihatnya menangis, karena air matanya menyatu dengan air hujan yang membasahi wajahnya.

Tanpa Rendra ketahui, dibalik gorden, ada seorang wanita yang sedang menangisi nasib keponakannya. Sama seperti yang Rendra alami, wanita itu sangat hancur melihat ponakannya memiliki nasib yang tragis, ditinggal oleh anak dan istrinya hanya karena materi.

Bab 3

Air hujan turun dengan derasnya, mengguyur tubuh Rendra. Air mata yang membasahi pipi nyaris tak terlihat karena tersapu oleh air hujan yang menerpa wajahnya. Rendra menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya secara perlahan, setidaknya dengan mengatur kembali nafasnya yang sempat memburu karena emosi tadi, ia bisa mengendalikan emosinya. Bagaimanapun masalah yang ada, harus dihadapinya bukan untuk diratapi dan ditangisi. Rendra meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia adalah lelaki kuat dan tak mudah untuk putus asa. Ia akan menunjukkan kepada mertuanya juga kepada dunia bahwa ia bisa menjadi lelaki sukses dan pantas bersanding dengan Viona.

Kepalanya menengadah ke atas, matanya terpejam. Membiarkan air hujan turun tepat di atas wajahnya. Derasnya air hujan yang turun menghujam wajahnya seperti sebuah tamparan keras tepat mengenai wajahnya. Yang menyadarkan dirinya, bahwa hidup harus terus berjalan. Masih banyak yang harus ia lakukan.

Setelah puas bermandikan air hujan. Hatinya kini semakin kuat dan kokoh untuk bangkit dari keterpurukan. Menyambut kebahagiaan bersama anak dan istrinya kelak. Dengan langkah pasti, Rendra berjalan menuju rumah peninggalan kakeknya. Ia melihat bibinya--adik kandung dari sang ayah yang telah meninggal--sedang berdiri menatapnya dengan tatapan sendu di ambang pintu.

Ranum--bibinya Rendra--menatap sendu pada ponakannya yang sedang berjalan ke arahnya. Rendra menghentikan langkah kakinya, saat matanya bersitatap dengan Ranum. Ingin rasanya Ranum memeluk tubuh kekar Rendra dan memberinya semangat. Namun ia tau, jika ponakannya itu pasti sedang tidak ingin di ganggu. Cukup lama Rendra menatap mata Ranum, seolah mengatakan jika ia baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ranum mengerti dengan tatapan itu. Kemudian ia menganggukkan kepalanya. Ranum menganggap Rendra sudah seperti anak kandung sendiri. Karean dia lah yang membesarkan Rendra dari kecil hingga ia dewasa.

Rendra berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Mengguyur kepalanya yang terasa sangat berat. Berharap setelah kejadian ini, ia bisa menjadi lelaki sukses. Apa yang dialaminya tadi menjadi sebuah cambuk untuknya bisa menjadi laki-laki sukses.

Hari berganti malam. Untuk pertama kalinya, Rendra tidak tidur satu ranjang dengan anak dan istrinya. Meskipun baru beberapa jam saja ia ditinggalkan, rasa rindu itu sungguh sangat menggebu. Ia tak bisa hidup tanpa ada istri dan anaknya disampingnya.

"Aarghhh ... bodohnya aku mau saja di hina oleh papanya Viona. Aku tidak boleh menyerah begitu saja. Akan ku buktikan pada dunia terutama pada papanya Viona, bahwa aku juga bisa menjadi lelaki sukses yang kaya raya. Aku yakin aku pasti bisa."

Entah jam berapa Rendra terlelap, yang pasti malam itu adalah malam yang sangat berat untuknya. Malam pertama setelah menikah tanpa adanya Viona di sampingnya. Pagi-pagi sekali Rendra terbangun. Tidurnya tidak terlalu nyenyak. Sempat beberapa kali ia terbangun mendengar suara tangisan bayinya. Namun saat menyadari jika semua itu hanya halusinasi saja, Rendra mencoba untuk kembali memejamkan matanya.

****

"Rendra, tumben kamu tidak semangat dalam bekerja? Tidak seperti biasanya," tegur salah satu teman Rendra yang sama-sama bekerja di pabrik.

"Tidak apa-apa. Aku sedang tidak enak badan saja," sahut Rendra.

Tak ada lagi obrolan diantara mereka. Untuk saat ini, Rendra sedang tidak ingin banyak berinteraksi dengan teman-temannya. Semua temannya tau, jika Rendra bersikap seperti itu, tandanya temannya itu sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun.

Jam pulang kerja sebentar lagi, Rendra sudah tak sabar untuk bertemu dengan anak dan istrinya. Ia akan pergi ke rumah mertuanya yang tidak terlalu jauh dari pabrik tempatnya bekerja. Rendra memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Berharap bisa segera sampai di kediaman rumah mertuanya. Beruntungnya jalanan tidak terlalu padat. Jadi Rendra bisa segera sampai di rumah mertuanya. Kali ini ia ingin berusaha sekali lagi untuk membujuk Viona untuk kembali ke rumah dan berkumpul lagi.

Pagar hitam tinggi menjulang kini berada hadapannya. Beruntungnya pagar rumah mewah itu terbuka. Membuat Rendra dengan mudah untuk masuk ke dalamnya. Biasanya ada satpam yang berjaga di dekat pagar, namun kali ini di depan tampak sepi tak ada penjaganya. Rendra sengaja menakutkan motornya agak jauh dari rumah mertuanya. Langkahnya terhenti saat melihat Viona yang sedang duduk di teras rumahnya sembari menggendong bayinya.

"Viona ...." lirihnya.

Senyum mengembang di bibirnya. Tak sabar rasanya ingin memeluk tubuh sang istri begitu juga anak semata wayangnya. Rendra mempercepat langkah kakinya, agar bisa segera berada dekat dengan Viona.

"Viona, sayang ...." Senyum itu terus mengembang di bibirnya.

Vioana menoleh, mencari asal suara yang memanggil namanya. Ia begitu terkejut saat melihat siapa yang datang dan memanggil namanya.

"Mas Rendra?" Matanya membulat tak percaya melihat suaminya berada di hadapannya saat ini. Kemudian ia langsung beranjak dari duduknya menghampiri suaminya. Antara senang dan takut melihat Rendra berada di rumahnya saat ini.

Sama seperti apa yang dirasakan oleh Rendra, sebenarnya Viona juga sangat merindukannya. Meskipun baru satu hari saja ia tak bertemu. Mas Rendra ngapain disini? Apa Mas tidak takut jika ketahuan oleh papa?" Terlihat jelas diwajahnya, jika Viona sangat cemas.

"Takut? Kenapa harus takut, sayang? Tidak ada yang salah. Aku ini masih suamimu, wajae jika seorang suami menemui anak dan istrinya. Apakah itu suatu kesalahan, Viona?"

Viona menggelengkan kepalanya. "Tapi Mas ... aku mohon, ikuti mau papa. Ini semua demi kebaikan kita," ucapnya dengan nada memohon.

"Kebaikan kita, maksudmu apa, Viona? Kebaikan yang mana? Bukankah selama kamu hidup bersamaku, kamu terlihat bahagia. Tidak pernah aku melihat kamu bersedih apalagi menangis. Apakah aku pernah melukai hatimu, walau sedikit?" cecar Rendra. Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan kepada Viona.

"Mas, aku mohon kamu pergi sekarang juga sebelum papa datang. Aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu," pinta Viona.

Rendra tetap pada pendiriannya. Ia tidak perduli jika papa mertuanya datang dan mengusirnya. Justru itu yang ia tunggu. Rendra ingin menunjukkan pada papa mertuanya, kalau seorang Rendra tidak akan menyerah untuk mempertahankan apa yang telah menjadi miliknya.

"Kamu tidak perlu khawatir seperti itu, Viona. Aku akan baik-baik saja."

"Aku mohon, please ... pergilah dari sini. Sebentar lagi papa pasti akan datang."

Detik selanjutnya, mobil sedang mewah milik Tuan Brata memasuki halaman rumahnya. Viona dan Rendra menatap ke arah mobil tersebut. Hingga pria paruh baya yang sangat berwibawa itu turun dari mobil mewahnya. Matanya menatap nyalang pada laki-laki berpenampilan biasa yang ada di depan rumahnya.

"Mau ngapain gembel itu datang kemari? Apa dia belum juga sadar siapa dirinya, berani-beraninya menginjakkan kakinya yang kotor di halaman rumahku!" Brata berbicara pada dirinya sendiri.

Brata melangkahkan kakinya, berdiri tepat di hadapan menantunya. "Apa yang kamu lakukan di rumahku?" tanyanya dengan jumawa.

"Aku kesini untuk menjemput anak dan istriku," jawab Rendra dengan tenang. Tak terlihat sedikitpun jika ia takut pada papa mertuanya.

"Masih punya nyali ya kamu datang kesini, dan mengatakan jika kamu akan menjemput putri dan cucuku. Siapa kamu berani-beraninya menentang keputusanku!" berang Brata sembari berkacak pinggang.

"Aku suaminya Viona. Dan aku berhak atas hidupnya. Karena jika seorang perempuan sudah menikah adalah milik suaminya bukan milik orang tuanya lagi! Saya harap anda tau akan hal itu. Bukankah anda adalah seorang yang sudah memiliki gelar haji, sudah sepatutnya anda menyerahkan sepenuhnya hidup Viona kepada saya," jawab Rendra dengan percaya diri.

"Berani-beraninya kamu ...."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED