Dada Dea bergemuruh hebat mendapati noda lipstik di kerah baju suaminya. Ini sudah ketiga kalinya dia melihat noda yang sama. Pertama kali noda itu muncul ia langsung menanyakan pada Kevin.
“Mas, ini kok ada noda lipstik?” tanya Dea dengan menunjukkan baju berkerah itu.
Dengan santai suaminya menjawab, “tadi ada salah satu siswi yang pingsan. Mungkin bibirnya menyentuh baju Mas.”
Pada awalnya Dea mempercayai alasan itu, karena suaminya berprofesi sebagai guru olahraga di salah satu SMA Negeri Surabaya. Ditambah kini sudah banyak siswi yang mengenakan make-up saat ke sekolah.
Ketika noda kedua datang, ia kembali menanyakan pada suaminya, dan jawaban lelaki itu adalah, “itu lipstik Mama, kemarin aku kan nginap di rumah orangtuaku Dik.”
Kini Dea sadar jika ada yang tak beres. Ditelitinya baju hingga celana itu. Ketika merogoh saku, terdapat sebuah cincin emas berbentuk swan.
‘Apa ini untukku?’ batin Dea yang sedikit kegirangan. Namun, ketika ia melirik kerah baju Kevin, kebahagiaanya sontak hilang. Diseka wajahnya dengan kasar. Pikirannya jadi kemana-mana. Ada satu hal yang membuat dahinya berkerut, di balik cincin itu terdapat sebuah simbol K dan I.
“Apa dia selingkuh?” gumamnya.
‘Ini bukan kebetulan, tapi sudah direncanakan,’ batin Dea. Noda lipstik sudah tiga kali tertoreh di baju suaminya, ia sempat memfoto kedua noda sebelumnya dan warnanya pun tetap sama.
Kling! Sebuah notifikasi masuk ke ponselnya. Ada sebuah pesan yang bertuliskan,
[TEMUI AKU DI RUMAH MAKAN LESTARI BESOK. JAM 15.30 WIB, aku akan membeberkan kebejatan suamimu.]
Tangannya gemetar hebat membaca pesan itu. Ditelitinya nomor yang tertera. Rasa penasaran itu menjalar dengan cepat di tubuhnya. Ketika hendak membalas, tanpa disangka ada pesan lanjutan. Pesan kedua anonim itu berisi sebuah foto.
Dea sangat terkejut sekaligus marah menerima pesan itu. Terlihat Kevin yang sedang memeluk seorang perempuan! Sayangnya wajah wanita itu tak terlihat.
‘Siapa perempuan ini?’ batin Dea penasaran. Dadanya terasa dihujam ribuan anak panah saat melihat foto ini. Namun, rasa penasarannya lebih besar. Ia tak ingin masuk ke dalam lubang penderitaan hanya karena melihat foto ini. Dia harus mampu mengendalikan dirinya supaya tidak menjadi wanita lemah karena satu foto dari orang tidak jelas.
Di sela pikiran Dea yang sedang berkecamuk itu, tiba-tiba ada notifikasi tambahan.
[KAMU AKAN MENYESAL JIKA TIDAK DATANG!!! ADA RAHASIA BESAR SUAMIMU YANG TIDAK KAMU KETAHUI!
Love wanita kedua Kevin <3]
Betapa terkejutnya Dea ketika mendapatkan pesan susulan itu.
“Tidak salah lagi, Kevin benar-benar berselingkuh! Dan... bagaimana bisa perempuan ini memiliki keberanian seperti ini!?” ucap Dea penuh emosi. Nyali wanita kedua Kevin sangat mengejutkan. Kebanyakan selingkuhan akan menyembunyikan dirinya rapat-rapat. Namun, perempuan ini justru mengungkapkan jati dirinya sendiri.
Dengan penuh pertimbangan, Dea memilih untuk mendiamkan pesan itu. Pelakor ini sangat berani menantangnya, dan dia sadar jika wanita itu ingin memancingnya agar berapi-api dan membuat masalah menjadi runyam.
Tanpa ada angin ataupun badai suaminya sukses meruntuhkan segala kesucian pernikahan yang telah mereka bina. Kini, bagaikan abu di atas tanggul, Dea berada di kondisi yang terpuruk dan mudah sekali dijatuhkan. Pengkhianatan ini menorehkan luka yang begitu dalam di hatinya. Apa yang harus dilakukannya? Membongkar perselingkuhan suaminya? Bagaimana? Pikirannya benar-benar kalut, ia sangat bingung! Tindakan apa yang perlu dilakukan untuk menghadapi semua ini?
Brrmmm... Suara motor itu memaksa Dea berdiri, meninggalkan segala huru-hara bukti pengkhianatan suaminya. Dia buru-buru membukakan pintu. Nampak suaminya dengan raut wajah tertekuk dan bibir mengerucut sedang menunggunya di teras.
“Mas tumben hari ini pulang cepat,” ucapnya basa-basi saat membuka pintu. Lelaki itu tak mengeluarkan sepatah katapun dan langsung meninggalkannya.
‘Lagi-lagi dicuekin,’ batin Dea yang terenyuh. Hatinya terasa sakit, sikap Kevin selama dua bulan ini memang tak beres. Dan kenyataannya lelaki itu memang melakukan perbuatan bejat di belakangnya.
Jam dinding menunjukkan pukul 21.00 WIB, ini adalah waktu tercepat suaminya pulang ke rumah. Biasanya Kevin sampai di rumah pada 23.00 WIB atau 01.00 WIB.
‘Pasti dia habis dari selingkuhannya,’ terka Dea dalam hati. Pesan itu masih terlekat di dalam pikirannya. Ditambah adanya foto mesra Kevin dengan wanita lain membuatnya terus-terusan berpikir negatif pada suaminya. Wanita mana yang tak sakit hati mendapati lelaki yang dicintai membagi hati dengan perempuan lain.
Dea langsung membuyarkan lamunannya dan segera menyusul Kevin, lelaki itu sibuk mengganti bajunya. Tiba-tiba matanya terbelalak ketika melihat bercak keunguan di leher suaminya. Hatinya terasa sangat sakit, dugaannya benar!
‘Dengan siapa dia berselingkuh?’ pikir Dea yang berusaha mencari jawaban teka-teki di kepalanya. Ia menelan salivanya dengan paksa, berusaha mengontrol emosi yang ingin meledak. Menahan air mata yang sedari tadi memberontak. Ini sangat menyakitkan, tapi jika dia menggila sekarang maka semua akan menjadi runyam.
“Mas mau disiapkan air hangat untuk mandi?” tanya Dea memberikan perhatian lebih pada suaminya.
“Tidak, aku mau tidur. Matikan lampunya,” jawab Kevin dingin.
“Hahhh...” Wanita itu menghela napas dengan berat. Dea mengambil baju kotor milik suaminya yang berserakan di lantai, lalu mematikan lampu kamar. Dengan langkah tergesa-gesa ia kembali ke tempat cucian. Sangat disayangkan Dea mendapati jejak pengkhianatan suaminya lagi. Baju lelaki itu berbau parfum yang sangat berbeda dengan miliknya. Tidak hanya itu, ada beberapa helai rambut panjang berwarna pirang di dalam saku kemeja.
Perlahan mata perempuan itu basah. Helaian rambut ini persis dengan potret wanita yang ada di dalam foto.
“Tega kamu Mas,” lirih Dea dengan tangan yang meremas erat baju itu. Perasaan sedih, marah, terkejut, dan bingung bercampur menjadi satu. Matanya terpejam merasakan perihnya jiwa dan raga karena kecurangan yang dilakukan suaminya.
Di sisi lain, kini Kevin sedang berada di kamar mandi. Entah kenapa tiba-tiba perutnya terasa nyeri. Tanpa sadar ketika melihat pantulan cermin di depannya. Mata lelaki itu melebar,
‘Astaghfirullahaladzim!’ pekiknya dalam hati. Dia sangat terkejut melihat bercak keunguan di lehernya. Perasaannya langsung berubah menjadi gusar.
‘Apa tadi Dea melihat ini?’ batinnya.
‘Jika memang melihat itu, seharusnya dia langsung marah. T-tapi dia tadi terlihat biasa saja,’ terka Kevin. Perasaannya menjadi gundah. Pikirannya melalang buana.
‘Sial! Aku harus menyembunyikan bekas ini,’ pikir Kevin yang langsung menyelesaikan hajatnya. Dia tak ingin ketahuan oleh istrinya. Jika Dea mengetahui ini, maka akan menjadi masalah besar. Mumpung istrinya tak tau noda di kulitnya, maka ia harus pintar-pintar menyembunyikannya.
Lelaki itu langsung menuju meja rias milik istrinya. Mencari make-up yang bisa digunakan untuk menutupi bercak yang ada di lehernya. Ketika melihat concelear, ia segera menyambar benda itu dan mengoleskannya. Cara ini sangat ampuh untuk menutupi bercak pengkhianatan yang telah ia lakukan.
“Mas...” panggil Dea yang baru saja masuk kamar.
Kevin terkejut mendengar suara perempuan itu. Dea mendekati suaminya yang nampak sibuk di meja rias miliknya. Tatapan penuh curiga ditujukan pada suaminya. Kevin nampak gusar dan langsung menaruh benda yang sebelumnya ia pegang.
“Lagi cari apa Mas?” tanyanya penasaran.
“Lagi nyari minyak kayu putih, Mas tiba-tiba masuk angin,” kelit Kevin. Lelaki itu langsung membalikkan tubuhnya menghadap Dea. Mata lelaki itu bergerak ke kiri dan ke kanan dengan cepat. Itu adalah salah satu tanda orang sedang berbohong, Dea mengetahui hal itu. Dipindainya leher Kevin, bercak itu sudah hilang. Bukan hilang melainkan ditutup oleh bedak, terlihat sangat berantakan.
‘Sepertinya dia buru-buru sampai bedak itu tidak rata,’ pikir Dea.
“Minyak kayu putihnya habis Mas, pakai balsem aja ya,” tawar Dea.
“I-iya,” jawab Kevin gelagapan. Lelaki itu beberapa kali terlihat menggaruk telinganya guna menutupi bercak yang ada di lehernya. Dea sangat mengetahui tingkah suaminya.
Perempuan itu langsung berjalan ke meja rias dan menarik laci tempat balsem itu berada.
“Ini Mas.” Dea menyodorkan cup balsem pada suaminya. Kevin langsung menerima benda itu dan mengoleskannya di leher dan perut.
“Terimakasih Sayang,” ucapnya sembari mengecup kening Dea. Perempuan itu terdiam, tetapi Kevin langsung menyeretnya untuk segera merebahkan tubuh di atas ranjang.
“Kerjaanmu sudah selesai?” tanya lelaki itu.
“Sudah,” jawab Dea dingin.
“Kalau begitu ayo tidur Dik, ini sudah jam duabelas malam,” ajak Kevin.
Dia langsung memeluk tubuh perempuan di depannya. Dea hanya diam menerima pelukan itu. Sikap suaminya yang sangat manis ini membuat perempuan itu muak. Tanpa dia sadari, selama ini Kevin melakukan hal romantis hanya untuk menutupi kebejatannya. Pantas saja akhir-akhir ini sikapnya suka berubah drastis, dari dingin tiba-tiba menjadi hangat.
Ia sudah lelah merasakan rumah tangga yang semakin kehilangan arah. Dea sudah berpikir untuk menggugat cerai suaminya setelah semua bukti terkumpul. Ia bahkan sudah memikirkan berbagai kemungkinan tragis yang akan terjadi pada dirinya.
Pembalasan dendam atas pengkhianatan ini segera terbayarkan. Dea akan merampas semua kekayaan Kevin dengan menyerahkan bukti ke pengadilan agama. Bahkan foto di atas ranjang.
‘Aku harus kuat! Lihat, pahami, lalu bergerak,’ batin Dea yang masih berada di dekapan suaminya. Ia berusaha menguatkan diri menghadapi polemik rumah tangganya. Bahkan perempuan ini sudah siap menyandang gelar janda yang akan tersemat dalam dirinya beberapa bulan ke depan.
Gelar ini terkesan memalukan mengingat dia adalah seorang guru PNS di salah satu Sekolah Menengah Negeri Surabaya. Namun, Dea tak ingin berada di lingkar neraka lebih lama. Ia ingin segera menuntaskan semua penderitaan dalam pernikahan ini dengan cepat. Lelah bergulat dengan pikirannya, kesadaran Dea mulai menghilang dan tergantikan oleh alam mimpi.
***
Keesokan paginya, Dea melihat Kevin sedang sibuk di dapur.
“Lagi apa Mas?” tanyanya penasaran. Pria itu sangat jarang menjamah dapur rumahnya. Ini terlihat sangat ganjil.
“Lagi bikin sarapan,” jawab Kevin dengan menenteng teplon berisikan dua telur mata sapi.
“Mas bisa masak?” tanyanya dengan sedikit terkekeh. Melihat celemek yang bertengger di tubuh lelaki itu terasa sangat menggemaskan.
“Coba incipi masakan Mas dulu.” Kevin memberikan sepiring nasi goreng lengkap dengan toping spesial pada istrinya.
‘Sikapmu benar-benar manis Mas, tapi siapa sangka kamu sembunyikan racun di bawah madu yang manis.’ batin Dea sembari menatap makanan di depannya.
‘Jika kamu menyediakan madu dan racun secara bersamaan, maka aku akan memberikan lebah dan ular untukmu. Tunggu saja!’