Pukul 19.30 saat hujan perlahan turun, Khalid terpaku di ambang pintu ruang perawatan istrinya. Pria itu sedih melihat kondisi Lita yang semakin hari semakin memburuk. Keinginannya untuk bertemu Lita urung ia lakukan. Khalid berbalik, duduk di kursi tunggu di depan ruang perawatan.
Dagunya ia tahan dengan kedua tangan, mata Khalid terpejam memikirkan cara untuk menyembuhkan Lita. Rasa sesal dan marah bercampur menjadi satu. Andai saja Wulan ditemukan, Khalid berjanji akan membuat wanita itu membusuk di penjara.
“Tuan, kami sudah menemukan lokasinya.” Asisten tampan Khalid datang menghampiri, memberikan informasi yang membuat Khalid sedikit lega.
Pria itu membuka mata, menatap Leo yang masih mengenakan seragam kerja. “Kerja bagus. Segera tangkap mereka dan orang-orang yang mungkin terlibat dalam membunuh putraku!”
Leo mengangguk paham. Ia segera meninggalkan rumah sakit untuk menjalankan tugas yang diberikan oleh Khalid. Meski malam terasa dingin, dan hujan tak kunjung reda tak membuat Leo menunda pekerjaannya. Jika menunggu hari esok, bisa jadi Wulan dan Udin kabur dari tempat persembunyiannya yang sekarang.
“Beritahu anggota kita untuk terus mengawasi mereka berdua. Kita akan tiba di sana sebelum subuh. Jangan sampai mereka lolos, atau Tuan Khalid akan menghukum kita.”
Leo memutuskan panggilan sebelum menaiki mobil yang akan membawanya ke tempat Wulan berada. Pria tampan yang sudah memiliki tunangan ini berusaha untuk memendam amarahnya ketika mengingat kejahatan yang telah dilakukan Wulan.
“Tuan, Nyonya Lita sudah tertidur. Tadi dokter telah memberinya obat penenang.” Perawat khusus yang telah diminta Khalid untuk merawat istrinya di rumah sakit itu menghampiri.
Meski memiliki banyak dokter dan perawat yang profesional, Khalid takut seseorang akan menyakiti Lita seperti yang telah dilakukan pada putranya.
Ia lebih memilih menyewa tenaga kesehatan pribadi agar kesehatan istrinya cepat stabil.
“Jangan pernah tinggalkan dia. Aku ingin kamu selalu ada disisi Lita dua puluh empat jam! Paham?”
“Baik, Tuan.” Wanita itu mengangguk dan kembali masuk ke ruang perawatan Lita.
Khalid hendak berdiri, sebelum itu ia sempat melihat seorang perempuan yang tampak mencurigakan. Pria itu mengikuti tanpa sepengetahuannya. Jika dilihat dari belakang, wanita itu seperti Wulan.
“Maaf, nggak sengaja.”
Khalid bersembunyi di balik tembok rumah sakit saat perempuan itu tanpa sengaja menabrak seorang perawat. Ia kemudian menoleh ke belakang saat menyadari ada seseorang yang tengah mengikutinya.
Matanya celingukan mencari seseorang yang ia curigai. Di sisi lain, Khalid menajamkan matanya melihat wanita yang memakai masker dan topi hitam itu yang kembali meninggalkan tempat.
“Seseorang baru saja keluar dari rumah sakit, ikuti dia!” perintah Khalid pada salah satu anak buahnya melalui panggilan telepon.
***
“Dengan wajah ini, aku yakin kita bisa menjalankan rencana yang sempat tertunda.” Seorang perempuan mengenakan seragam medis berbicara pada pria yang berdiri di hadapannya.
Pria itu tersenyum menatapnya sembari mendekat. Membelai lembut puncuk kepala wanita yang saat ini berstatus sebagai adik angkatnya.
“Kamu tenang saja, kali ini rencana kita akan berhasil. Mereka akan membayar semua penderitaan yang selama ini kamu alami sendiri,” ujar pria itu.
“Aku mohon, Kak! Kakak jangan sampai melukai pria itu apalagi istrinya. Aku hanya ingin mereka tahu bagaimana perasaanku selama ini. Kalau perlu, aku akan menjadi istri keduanya untuk membalaskan dendam kita.”
Wanita itu memeluk kakaknya, menangis di sana saat mengingat masa lalunya yang pahit. Ia sendiri tak menyangka akan mengalami nasib buruk akibat perbuatan satu orang yang telah merenggut kebahagiaannya. Kini, dendam yang selama ini mereka pendam akan segera terbayarkan agar rasa sakit itu segera berkurang.
“Sekarang kamu kembali ke rumah sakit, tenangkan pikiran dan jangan menangis,” ujar pria itu melepas pelukan. “Biar Kakak yang memikirkan caranya untuk bisa masuk dalam keluarga itu.”
Ia mengangguk, kemudian meninggalkan kakaknya sendiri. Sementara kepergian sang adik, pria itu langsung masuk ke dalam mobilnya dan menuju lokasi tempat persembunyian Wulan.
***
“Tuan, ada yang bisa saya bantu?” tawar perawat pribadi Lita menghampiri Khalid yang masih duduk di ruang tunggu.
Pria beranak satu itu menengadahkan kepala, melihat wanita berhijab itu berdiri di hadapannya.
“Jenni, kamu di sini? Bagaimana keadaan istri saya?” tanyanya sembari berdiri.
“Nyonya baik-baik saja, Tuan. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan sekarang, InsyAllah Nyonya Lita akan segera sembuh,” jawabnya.
Khalid mengangguk, mengusap wajahnya yang terlihat kusut. Malam ini Khalid tak bisa berpikir dengan sempurna, ia masih belum tenang sebelum Wulan ditemukan.
“Jen, boleh saya minta tolong?” tanya Khalid serius.
“Minta tolong apa, Tuan?”
Pria itu tak langsung menjawab, Khalid takut permintaannya akan membuat Jenni tersinggung. Sebelumnya, Khalid sudah pernah membicarakan hal serius ini dengan Lita akan tetapi rencana itu terpaksa dibatalkan dengan kehadiran Rais.
“Saya ingin punya anak, tapi saya bingung bagaimana caranya.”
“Nyonya Lita masih bisa punya anak ‘kan, Tuan? Mungkin setelah kondisi beliau stabil, Tuan bisa mencobanya lagi,” saran Jeni.
Khalid menatap Jenni lama. Matanya terlihat sendu dan menyimpan sesuatu yang sulit untuk diucapkan. Namun, tampak bermakna.
“Tidak, Jenni. Lita tak mungkin bisa hamil lagi, rahimnya sudah diangkat sejak Rais lahir.”
“Kalau begitu, Tuan bisa mengangkat anak dari panti asuhan,” saran Jenni lagi.
Khalid terdiam, bingung harus menjelaskannya lagi. Bukan Jenni yang tidak peka dengan perkataannya, namun Khalid sendiri yang terlihat ambigu saat mengatakannya.
“Lita nggak mau mengasuh anak yang bukan darah dagingku. Dia hanya ingin anak dariku saja.”
Jenni menyipitkan mata, baru paham dengan maksud dari perkataan Khalid. “Apa Tuan mau menikah lagi?” tanyanya hati-hati.
Pria itu menghembuskan napas pelan, kemudian mengangguk. “Akhirnya kamu paham juga.”
“Maaf, Tuan. Saya memang sulit untuk mencerna perkataan yang serius. Saya nggak tahu kalau permasalahan yang Tuan hadapi begitu rumit. Tapi, Tuan, dengan siapa anda akan menikah?”
“Kamu.”
Jenni membulatkan matanya mendengar ucapan Khalid. Ia yakin majikannya ini hanya bercanda untuk menghibur diri. Tak mungkin semudah itu bagi seorang pria seperti Khalid yang sangat mencintai Lita akan tega berkhianat di saat kondisi istrinya tidak begitu baik.
“Maaf, mungkin Tuan bercanda.”
“Tidak, Jenni,” sanggah Khalid cepat. “Kita sudah kenal lama, dan kamu gadis yang sangat baik. Saya pernah meminta izin pada Lita untuk menikahimu, tapi dia menolak. Saat itu saya nggak punya keberanian untuk menyakitinya.”
“T-tapi, Tuan. Saya hanyalah gadis biasa yang pernah Tuan selamatkan dari kejaran preman itu. Saya nggak berani menyakiti Nyonya yang sudah menganggap saya seperti adiknya sendiri,” tolak Jenni.
“Lita akan mengerti dengan keputusan ini. Cuma ini satu-satunya cara untuk membuat Lita kembali seperti semula. Hanya dengan kehadiran seorang anak, istri saya akan sembuh,” ujar Khalid memelas.
Jenni berpikir sejenak, antara menerima permintaan Khalid atau tidak. Ia juga tak ingin hanya dianggap sebagai mesin pembuat anak. Biar bagaimana pun, Jenni masih memiliki perasaan yang tak ingin disakiti.
“Saya akan membicarakan hal ini dengan keluarga terlebih dahulu. Tuan jangan terlalu berharap lebih, saya nggak mungkin bisa menerimanya.” Jenni berlalu begitu saja, membiarkan Khalid sendiri yang masih berada dalam kebingungan.
“Sebenarnya kamu di mana? Kenapa begitu lama pergi tanpa meninggalkan jejak. Pulanglah! Aku merindukanmu,” batin pria itu.
Penyesalan akan datang di saat orang yang selama ini setia berada di sampingmu pergi tanpa meninggalkan jejak. Mungkin ia ingin menghapus kenangan yang pernah tercipta dan membuatnya terluka.
Jenni tersenyum saat memasuki ruang perawatan Lita yang hanya diperbolehkan untuknya saja. Bahkan perawat rumah sakit harus izin kepadanya terlebih dahulu jika ingin memeriksa kondisi Lita. Selain dokter kepercayaan Khalid, siapa pun yang ingin melihat Lita harus izin dulu pada Jenni.
Jenni terdiam di samping tubuh Lita yang masih belum sadarkan diri. Dia tersenyum licik sembari membelai lembut rambutnya yang terlihat lembut.
“Tunggu saja, Lita! Aku akan membuat hidupmu jauh lebih menderita dari ini. Aku akan merebut kembali milikku yang sudah kamu ambil dulu,” ujarnya tajam dan penuh makna.
Jenni kemudian melangkah ke arah infus, melihatnya sebentar dan mengeluarkan suntikan dari dalam saku bajunya. Jenni menyuntikkan sesuatu di dalam infus Lita yang cairannya terlihat sedikit menguning.
Beberapa menit kemudian tubuh Lita mengejang dan mulutnya terbuka lebar. Keringat bercucuran dari dahinya, mungkin saat ini Lita sedangkan merasakan sesuatu yang menyakiti tubuhnya. Jenni bergegas memasukkan kembali suntikan itu dan mengusap lembut kepala Lita sembari tersenyum.
“Tahan sedikit lagi, Lita. Reaksi obat ini tidak membutuhkan waktu yang lama dan jika kamu menolaknya untuk masuk ke tubuhmu itu akan semakin membuatmu tersiksa,” bisik Jenni di telinga pelan.
Lita seperti bisa mendengar apa yang Jenni katakan, dia merespon bisikan itu hanya dengan air mata saja. Tubuhnya sudah sedikit tenang dan tidak mengalami kejang seperti tadi.
“Bagus. Tetaplah seperti ini agar aku bisa menikahi suamimu yang tampan itu. Dan kamu jangan khawatir lagi, aku akan segera memberikan Khalid keturunan seperti yang dia inginkan.”
Tangan Lita terkepal dengan kuat. Meski matanya terpejam dan tubuhnya sulit untuk digerakkan, tapi anggota tubuhnya yang lain masih bisa merespon. Lita berusaha untuk melawan dan menggagalkan rencana Jenni untuk merebut suaminya. Namun, hal itu tak mampu ia lawan sendiri. Lita semakin sulit untuk merasakan kakinya, sangat berat dan bahkan sulit untuknya meraba. Dalam tidurnya Lita merasa bahwa kakinya sudah tidak ada lagi, sehingga yang bisa dia lakukan saat ini hanya menangis.
***
Jauh dari kehidupan kota, di tengah hutan belantara terdapat satu gedung kosong yang sudah lama terbengkalai. Dua orang yang sedang dirundung ketakutan tengah meringkuk dibalik tembok sembari terus melihat ke arah luar untuk mengawasi sesuatu. Sepertinya mereka sedang ketakutan dan kabur dari pengejaran.
“Apa kamu yakin tempat ini aman? Mereka tidak tahu kita ada di sini kan?” tanya sang wanita yang mengenakan selendang di kepalanya.
Lawan bicara yang ada di sebelahnya hanya mengangguk saja. Dia sendiri sepertinya bingung apa yang telah terjadi dan kenapa gadis di sebelahnya sangat ketakutan.
“Neng, Mas Udin tidak mengerti satu hal. Kenapa kita lari dan harus pergi meninggalkan rumah majikan kita. Apa Neng Wulan sudah melakukan kejahatan?” tanya pria yang ternyata adalah Udin, sopir tetangga Khalid.
Wulan berbalik dan menatap Udin dengan penuh kekesalan. “Pelankan suaramu, kita tidak tahu bagaimana keadaan di luar sana. Bisa jadi tuan Khalid itu menyuruh anak buahnya untuk mencari kita dan dengan suara besarmu bisa membuat kita dalam masalah nantinya.” Wulan memperingatkan Udin untuk lebih berhati-hati dan berbicara dengan pelan.
Udin mengangguk paham, wajahnya yang terlihat polos itu masih belum menyadari alasan Wulan mengajaknya kabur. Hanya saja Udin sedikit curiga saat dia bertanya tentang Rais dan Wulan malah memintanya untuk pergi dari rumah itu.
“Apa ini berhubungan dengan putranya Tuan Khalid?” pertanyaan Udin berhasil merebut perhatian Wulan yang masih fokus memantau kondisi di luar sana. “Apa Neng membunuhnya?”
Wulan sangat syok mendengar penuturan kekasihnya itu. Meski yang dikatakan Udin itu benar, tapi tetap saja Wulan tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Dia harus mencari alasan untuk menjelaskan pada Udin karena pria itu bisa saja mengkhianatinya.
“Apa yang kamu katakan? Jangan asal bicara! Mana berani aku melakukan hal itu pada putra mereka,” kilah Wulan, keringatnya mulai bercucuran. “Aku hanya takut Tuan Khalid marah karena sudah lancang mengenakan pakaian Nyonya Lita. Kamu sendiri tahu bahwa mereka tidak suka orang lancang,” jelas Wulan berbohong.
“Oh begitu.” Udin manggut-manggut.
“Sekarang kamu diam dan jangan banyak bicara. Aku yakin Tuan Khalid pasti sedang mencari kita.”
“Kalau hanya itu masalahnya kenapa kita mesti kabur? Mas Udin bisa kehilangan pekerjaan juga nantinya, Neng. Sebaiknya kita kembali ke rumah majikan kita,” ajak Udin.
“Gila ya kamu. Aku nggak mau kembali ke rumah itu lagi. Setelah semuanya terasa aman aku akan pergi jauh dari kota ini,” tolak Wulan.
“Ya sudah, biar Mas Udin yang kembali ke rumah majikan sebelum dipecat.”
Udin lantas berdiri dan hendak meninggalkan Wulan. Wulan yang mendengar hal itu menjadi semakin takut. Dia khawatir jika nanti Udin kembali otomatis Khalid akan memaksanya untuk mengatakan di mana tempat persembunyian Wulan.
“Mas Udin jangan tinggalkan Wulan.” Wulan memegang tangan Udin erat, mencegahnya untuk pergi. “Wulan takut sendiri,” ujarnya manja.
“Tapi, Neng. Mas Udin harus kembali, soalnya Mas Udin nggak mau dipecat,” ujar Udin.
“Mas Udin tega ninggalin Wulan di sini?”
“Makanya Neng harus ikut sama Mas Udin. Nanti biar Mas yang menjelaskan pada Tuan Khalid.”
Wulan bersikukuh untuk tidak pergi dari tempat persembunyiannya, dan Udin juga belum tahu alasan Wulan bersembunyi dengan penuh ketakutan di sana. Wulan memutar otaknya untuk mencari alasan agar Udin tidak pergi dari tempat itu.
“Cuacanya sangat cerah, Mas. Suasana di sini juga romantis, sangat cocok untuk kita berdua memadu kasih di sini. Besok pagi baru kita kembali ke rumah majikan masing-masing. Gimana menurutmu, Mas?” Wulan menggoda Udin dengan bergelayut manja di dadanya yang tidak berbidang itu. Mata kirinya mengedip Udin yang masih terpaku menatap kekasihnya itu.
Sejenak rayuan Wulan berhasil membuat Udin tak berkutik, tapi satu menit berikutnya dia langsung sadar dan kembali berdiri untuk bersiap pergi.
“Tidak, Neng. Mas Udin harus pergi, besok baru kita memadu kasih di sini,” ujar Udin.
Wulan tentu tak ingin Udin kembali ke rumah majikannya atau Khalid nanti akan tahu di mana lokasi persembunyiannya itu. Wulan kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam saku bajunya dan bergerak cepat ke punggung Udin saat pria itu lengah.
“Akhhhh,” teriak Udin kesakitan.
Wulan tersenyum senang, gadis itu menatap pisau kecil di tangannya yang berlumuran darah Udin. Setelah itu dia duduk dan menyamakan posisi dengan Udin yang tergeletak di lantai sembari meringis kesakitan.
“Sudah tahu apa akibatnya tidak mendengarkan perkataanku? Makanya kamu jangan banyak tingkah dan menuruti apa yang aku katakan. Dengan begitu kamu tidak akan seperti ini, Mas.” Wulan menyeringai.
Udin hanya diam saja, tubuhnya tidak kuat untuk membalas perbuatan Wulan barusan. Sakit yang ditimbulkan oleh benda itu membuatnya hanya menatap Wulan dengan tatapan marah. Rasa cinta yang Udin miliki untuk gadis itu sirna seketika bersamaan dengan jiwanya yang telah pergi jauh.
“Apa yang kamu lakukan?”
Wulan tersentak kaget, dia segera berdiri saat melihat seorang pria masuk ke dalam gedung itu dan menatapnya dengan penuh tanda tanya.
“Dia berusaha untuk kembali ke rumah majikannya. Aku nggak punya pilihan lain selain melakukan hal ini dari pada Khalid tahu di mana lokasi persembunyian kita,” ujar Wulan jujur.
Pria itu mengusap wajahnya kasar. “Bodoh! Tindakanmu ini malah membuat kita semakin berada dalam masalah besar. Aku baru saja mengirim Jenni untuk masuk ke dalam kehidupan Khalid dan kamu ingin menghancurkan semua rencanaku itu? kamu akan tahu akibatnya nanti, Wulan!” pria itu terlihat marah besar, tapi Wulan malah menanggapinya dengan santai. Sepertinya dia tidak takut dengan kemarahan dari pria itu.
“Kamu nggak usah khawatir Mas Bian, aku punya rencana yang bagus untuk mengatasi masalah ini,” ucap Wulan membujuk Bian.
“Apa rencanamu?”
***
“Bagaimana keadaannya sekarang?”
Khalid masuk ke ruang perawatan Lita, di sana hanya ada Jenni yang dia tugaskan untuk menjaga istrinya itu. Khalid yang baru saja kembali dari luar tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk berbicara dengan Jenni. Malam ini dia harus mendapatkan persetujuan dari Jenni untuk bersedia menjadi istri keduanya.
“Nyonya Lita sedang istirahat, Tuan. Tadi aku sudah memberinya suntikan obat tidur agar Nyonya Lita bisa tidur dengan nyenyak,” jawab Jenni menatap Khalid sebentar dan kembali menoleh pada Lita.
“Jenni,” panggil Khalid lembut.
“Ada apa, Tuan?”
“Bagaimana dengan lamaran saya tadi?” tanyanya.
Jenni menarik kedua sudut bibirnya, tersenyum licik karena memang dia sangat menyukai hal ini. “Aku akan memikirkannya lagi, Tuan,” balasnya.
“Kapan kamu bisa memberikan saya keputusannya?”
“Entahlah. Saat ini aku ingin fokus pada kesembuhan Nyonya Lita.”
“Apa kamu masih berpikir bahwa saya yang telah melakukan hal itu?”
Jenni kembali menatap Khalid. Tatapannya sangat tajam dan sulit untuk diartikan. Sementara Khalid malah memandang wanitanya dengan sendu, ada kerinduan yang terpancar dari mata elangnya itu.
“Aku sudah lama melupakan masalah itu, jangan mencoba untuk mengingatkanku lagi, Tuan!” ujarnya.
“Tapi, kenapa sepertinya kamu ingin menolak lamaranku?” tanya Khalid heran.
“Itu karena Nyonya Lita masih sakit dan kalian baru saja kehilangan Rais kan?”
Khalid mengerutkan kening, kejadian yang menimpa Rais bisa diketahui oleh Jenni yang selama ini menghilang dari kehidupannya. Tiba-tiba saja muncul kecurigaan di dalam pikiran Khalid, tapi dia tidak ingin curiga pada Jenni.
“Bagaimana kamu bisa tahu tentang hal ini, Jenni? Sepertinya saya tidak pernah mengumbar tentang peristiwa yang menimpa Rais di media sosial,” ucap Khalid bingung.
Jenni gelagapan. “Sepertinya Tuan masih belum memahami siapa diriku. Sangat banyak orang yang tahu tentang Rais, dan aku juga bukan orang pertama yang mengetahuinya,” ujar Jenni, untung saja dia pintar bicara dan bisa mengelak dari kecurigaan Khalid.
Khalid menarik napas berat, memijit keningnya yang tidak sakit. “Kamu benar, Jenni. Sampai saat ini saya masih belum bisa memahami dirimu.”
Tok... tok... tok.
Pembicaraan mereka terganggu saat seseorang tiba-tiba mengetuk pintu ruang perawatan itu. Di balik pintu muncul seorang pria yang tidak dikenali Khalid. Khalid mengerutkan kening menatap pria asing yang masuk ke ruang perawatan istrinya.
“Siapa kamu? Berani sekali masuk ke kamar istri saya,” bentak Khalid. Dia curiga jika pria itu ingin menyakiti Lita.
Pria asing itu tidak menjawab, hanya menunduk karena takut dengan tatapan maut Khalid.
“Aku yang menyuruhnya datang, Tuan.” Jenni menjawab, Khalid menatapnya bingung. “Namanya Hasan, asisten pribadi Mas Bian. Tuan Khalid tahu bahwa aku tidak bisa mengawasi kondisi Nyonya Lita selama dua puluh empat jam. Sementara Tuan tidak ingin dokter lain yang merawat beliau. Makanya aku menyuruh Hasan untuk menggantikanku malam ini,” jelas Jenni.
Khalid sekarang paham dengan yang gadis itu katakan. Jenni memiliki pekerjaan lain dan kehidupan yang harus dijalaninya. Tidak mungkin dia selalu berada di sisi Lita.
“Apa dia bisa dipercaya?” tanya Khalid yang masih belum yakin dengan pria itu.
“Seperti Tuan mempercayaiku, seperti itu lah kepercayaanku pada Hasan,” jawabnya.
“Baiklah, dia bisa membantumu untuk merawat istriku. Sebagai gantinya kamu akan merawatku mulai malam ini juga.”
Jenni sontak terkejut, dia membulatkan mata tak mengerti. “Maksud Tuan apa?” tanyanya bingung.
Khalid mendekat, matanya menatap nakal pada Jenni. Jenni tahu maksud dari pria yang masih memiliki istri itu, hanya saja ia pura-pura polos dan tidak mengerti apa-apa.
“Aku membutuhkanmu malam ini, Jenni. Tolong jangan menolak! Karena sudah lama aku memendam perasaan ini sendirian,” bisik Khalid tepat di telinga Jenni.
Jenni tersenyum manis mendengar hal itu. Hanya sebentar, kemudian raut wajahnya kembali seperti semula. Sebenarnya Khalid tahu semua hal tentang Jenni. Pria itu tahu bahwa selama menghilang dari kehidupannya, Jenni tinggal di luar kota bersama kakaknya. Kemudian mereka kembali ke rumah lama yang menjadi saksi semua peristiwa itu.
Jenni tak bisa mengalihkan pandangannya. Khalid masih sangat tampan seperti pertama kali mereka bertemu. Tidak ada yang berubah dari diri pria itu meski sudah memiliki seorang putra. Jantung Jenni berdetak tak karuan. Dia segera mengalihkan pandangan ke arah lain agar tidak terhipnotis oleh pesona seorang Khalid.
“Aku tidak bisa melakukan hal itu, Tuan! Jangan anggap aku seperti wanita di luar sana yang memanfaatkan keadaan demi keuntungan pribadi,” tolak Jenni tegas.
“Tidak Jenni, kamu salah paham. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk membuatmu berpikiran seperti itu. Kamu sungguh berbeda dengan mereka di luar sana, dan aku sangat menghormati hal itu.” Khalid mencoba untuk menjelaskan agar Jenni tidak salah paham.
“Kalau begitu jangan mengharapkan apa pun dariku. Tugas yang Tuan berikan hanya merawat Nyonya Lita agar secepat mungkin keluar dari rumah sakit jiwa ini.”
“Tapi, Jen...”
“Tidak untuk hari ini,” potong Jenni cepat.
“Maksud kamu?” Jenni tidak menjawab, dia hanya tersenyum dan keluar dari sana.