"Andi, sebelum Om dipanggil sama yang maha kuasa, Om minta sama kamu, untuk menikahi Indri sekarang. Om percaya sama kamu, kamu anak baik yang Om kenal. Om yakin kamu bisa menjaga anak semata wayang Om. Om serahkan tanggung jawab menjaga Indri sama kamu. Apakah kamu bersedia, mengabulkan permintaan terakhir Om, sebelum Om pergi untuk selama-lamanya?"
"Baik Om, Om jangan khawatir. Hari ini, tanggal ini, di jam ini juga, saya siap menikahi putri Om. Saya janji akan menjaganya dan mencintainya dengan sepenuh hati. Hubungan kami sudah berjalan cukup lama, dan saya tidak akan ragu-ragu untuk segera menikahinya."
"Jangan, jangan bicara seperti itu, Ayah. Ayah akan sembuh, aku mohon!"
Sedih, itulah yang aku rasakan saat ini. Ayahku, orang tuaku yang merawat aku dari kecil, semenjak Ibu meninggal dunia. Ayahlah yang menjadi sandaran hidupku.
Menikah dengan Mas Andi, tentu suatu kebahagiaan untukku. Hubungan kami sudah berjalan selama 4 tahun. Namun kebahagiaan ini akan menjadi dilema buatku. Antara bahagia dan sedih. Ayah meminta Mas Andi menikahiku, di saat dirinya sudah berada di ambang menyerah antara hidup dan mati.
"Indri, kamu harus siap menjalani ini. Ayah yakin, dengan kamu menikah dengan Andi, kamu akan bahagia. Hana, tolong kamu hubungi penghulu. Saya mau menyaksikan Indri dan Andi menikah, sebelum saya dipanggil oleh-Nya," imbuh Ayah kepada Rihana atau biasa dipanggil dengan Hana, anak Bibi Ratmi yang bekerja sebagai asisten rumah tangga, di rumah Ayah.
"I-iya, Pak. Saya akan panggilkan Pak penghulu sekaligus saksi untuk pernikahan Non Indri," sahut Hana, seraya mengambil ponselnya dari saku celana.
Terlihat wajah Hana memerah dengan mata berkaca-kaca. Aku memaklumi, mungkin Hana juga merasakan kekhawatiran terhadap Ayah. mengingat Ayah sudah sangat baik terhadapnya, yang dengan sukarela meminta Bu Ratmi mengajaknya untuk tinggal bersama di rumah kami. Ayah juga tanpa keberatan, beliau menyekolahkan Hana sampai dia lulus. Karena sebelumnya, Rihana telah putus sekolah, karena terhalang oleh. Biaya. Aku bangga sama Ayah, dan aku sangat mencintai dan menyayanginya.
Aku terduduk di samping Ayah. Aku tidak kuasa menahan sedih, karena Ayah sudah sangat lemah dan nyaris menyerah.
Dokter yang menangani Ayah, berdiri tak jauh dari tempat Ayah berbaring.
Setengah jam kemudian, datang tiga orang pria paruh baya memasuki ruangan tempat Ayahku dirawat.
"Ada apa, Pak Yuda, apa yang bisa saya bantu?" tanya Pak penghulu, saat berada di hadapan Ayahku.
"Tolong nikahkan putri saya dengannya sekarang juga," tunjuk Ayah ke arahku dan Mas Andi.
Keadaan Ayah semakin kritis, dan itu berhasil membuatku rapuh saat itu juga. Tak hentinya aku menangis dan ketakutan seketika mendera dalam jiwaku.
"Baik, Pak Yudha. Akan saya nikahkan mereka berdua," sahut Pak penghulu.
Kini, dihadapan Ayah yang terbaring lemah. Andi berjabat tangan dengan Pak penghulu. Dengan mas kawin seadanya, akhirnya pernikahan ini terjadi.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Andika bin Alex dengan Ananda Indriana binti Yudha. Dengan mas kawin uang sebesar lima ratus ribu rupiah dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Indriana binti Yudha dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Dengan satu tarikan nafas, akhirnya Mas Andi sudah sah menjadi suamiku.
"Gimana para saksi, sah?" tanya Pak penghulu.
"Sah … sah!" jawab kedua saksi.
"Alhamdulillah …." Pang penghulu membacakan doa yang diamini oleh kami semua.
"Terima kasih …." lirih Ayah.
Kami semua menoleh ke arah Ayah. Senyuman damai terbit di kedua sudut bibir Ayah. Namun senyuman Ayah berbeda yang aku lihat saat ini.
Perlahan tatapan Ayah mulai meredup. Kepalanya lunglai dan terkulai ke sebelah kanan.
"Ayaaaah!"
–
"Kamu yang sabar, sayang. Ayah sudah tenang dan bahagia di alam sana. Sekarang, yang harus kamu lakukan adalah mendoakannya. Mendoakan supaya beliau dijauhkan dari siksa kubur. Kamu jangan nangis lagi, ya. Ikhlaskan Ayah pergi," imbuh Mas Andi, saat kami tengah berada di depan makam Ayah.
"Aku tidak menyangka saja, Mas. Aku tidak percaya kalau Ayah akan pergi secepat itu. Disaat aku bahagia menikah dengan kamu, disaat bersamaan pula, Ayah pergi meninggalkan aku untuk selama-lamanya," sahutku dengan beruraian air mata.
Mas Andi merangkulku mencoba menenangkan aku yang rapuh ini.
Penyakit jantung itu, telah merenggut duniaku, yakni Ayah. Harta peninggalan Ayah begitu banyak. Sehingga aku tidak akan kesusahan apabila bertahan hidup. Namun tetap, hati ini begitu sakit kehilangan Ayah.
Setelah aku dan Mas Andi menaburkan bunga di atas makam Ayah. Mas Andi mengajakku untuk pulang.
"Mas, kita pulang ke rumah aku aja. Mulai hari ini, kamu tinggal di rumahku," ujarku.
"Iya, sayang terima kasih banyak. Nanti setelah kamu tenang, aku akan ajak kamu ke rumah Ibu dan Bapakku. Mereka pasti akan sangat bahagia, mempunyai menantu seperti kamu," ucap Mas Andi.
Kami berdua menaiki mobil peninggalan Ayah.
Sampai di rumah, Mas Andi mengajakku untuk makan siang. Awalnya aku enggan untuk makan, karena tidak bernafsu. Tapi Mas Andi memaksaku.
–
Malam hari
"Sayang, boleh kan?" tanya suamiku saat kami berada di dalam kamar.
Saat itu di rumahku telah selesai menggelar acara tahlilan.
Aku yang mengerti menganggukkan kepala.
Perlahan Mas Andi menaiki tempat tidur dan berbaring di sebelahku.
Mas Andi mulai membelai rambutku, dan menyibakkan anak rambut yang berada dekat dengan telingaku.
"Sayang, besok aku akan kembali kerja di pabrik. Tidak enak juga kalau lama-lama libur," imbuh Mas Andi sambil membelai rambut hingga wajahku.
Aku mengangguk, mengiyakan. Aku mengerti, Mas Andi juga tidak bisa berlama-lama libur seperti ini. Mas Andi hanya karyawan biasa di sebuah pabrik yang tak begitu besar di kampung ini.
Mas Andi adalah pria yang baik. Jadi, status sosial bukan halangan untuk hubungan kami. Terlebih Mas Andi sangat dekat dengan Ayah dan sering main ke rumah. Maka tak heran, Ayah sedikit besarnya tahu sifat dan sikap yang ditunjukkan oleh Mas Andi.
Tak berselang lama, Mas Andi memulai aksi malam pertama kami.
Setengah jam kira-kira, kami bergelut mencari kepuasan bersama. Sampai pada akhirnya, kami berdua ambruk dengan perasaan bahagia yang teramat. Sejenak aku bisa melupakan kesedihan atas kehilangan Ayah.
Mas Andi begitu lihai membahagiakanku, walaupun ini adalah pengalaman pertama kami.
Kami berdua tertidur pulas dengan berjuta kepuasan yang didapat.
Prak
Aku terbangun karena mendengar benda jatuh. Aku menatap jam weker yang terpajang di atas meja kecil. Jam sudah menunjukkan waktu tengah malam. Aku melihat ke sisi kananku. Mas Andi ternyata tidak ada di sampingku. Aku berpikir mungkin Mas Andi sedang berada di kamar mandi.
Aku kembali memejamkan mata, karena tidak kuat menahan kantuk.
"Sayang, bangun!"
Samar-samar aku mendengar suamiku membangunkanku. Aku membuka mata, dan benar saja. Senyuman manis tersungging di bibir Mas Andi.
"Huam … sudah pagi ya, Mas?" tanyaku seraya menggeliatkan tubuh.
Mas Andi tidak menjawab, namun ia menyerahkan sebuah kertas yang entah untuk apa.
"Ini kertas apa, Mas?" tanyaku, dengan mata yang masih lengket menahan kantuk.
"Em … ini aku mau mengajukan pinjaman ke bank, untuk usaha kecil-kecilan. Ini untuk usaha sampingan selain aku kerja di pabrik. Kamu maukan tanda tangan surat ini? Aku butuh tanda tangan kamu, supaya semuanya dipermudah," jawab Mas Andi.
"Tapi … kok tanda tangannya disini. Kan bisa nanti di bank. Emang bisa seperti ini? Lagi Pun, aku bisa kok, memberikan modal untuk kamu, tanpa kamu harus pinjam uang ke bank. Huam …." Aku berbicara pada suamiku sambil menahan kantuk. Berkali-kali kepalaku mengangguk-angguk karena mata terasa berat.
"Bisa sayang, karena ada teman aku yang bekerja di bank. Katanya bisa seperti ini. Kamu cukup tanda tangan aja sekarang, kamu nggak perlu ikut ke bank. Aku tahu kamu masih berkabung atas kepergian Ayah. Aku cuma mau punya usaha dengan hasil jerih payahku. Biarlah semua uangmu kamu yang simpan dan gunakan. Aku mau mandiri dan bisa membahagiakanmu dengan hasil keringatku sendiri. Sekarang, aku mau kamu tanda tangani surat ini," sahut suamiku.
Aku merasa aneh dengan penjelasan suamiku. Baru kali ini mengajukan pinjaman uang ke bank seperti ini caranya. Tapi aku nggak mau berpikiran aneh-aneh, aku tahu, maksud suamiku itu baik. Aku pun menerima pulpen dari tangan suamiku dan menandatangani surat itu tanpa membacanya terlebih dahulu.
"Huam … aku ngantuk, Mas. Loh, ini masih jam 03 00 rupanya. Aku mau tidur lagi, ya! Aku ngantuk banget. Tanda tangan juga nggak fokus. Entah bagus atau jelek," ujarku.
"Nggak apa-apa, sayang, bagus kok. Kamu tidur saja. Aku juga mau tidur lagi. Tapi aku mau ke dapur dulu ngambil minum. Haus banget," sahut Mas Andi.
Aku mengangguk, kemudian kembali berbaring tidur. Tidak membutuhkan waktu lama, aku langsung tertidur kembali dengan pulas.
–
Sinar matahari masuk menembus di sela-sela lubang ventilasi.
Aku terbangun dengan tubuh segar dan langsung beranjak dari tempat tidurku. Aku berjalan hendak keluar kamar, untuk minum di dapur.
Ceklek
Aku membuka pintu kamar, namun sesuatu membuatku bingung.
"Kenapa ada koper aku disini? Siapa yang menaruh koperku disini?" batinku.
Aku meraih koperku yang tergeletak di depan pintu kamar.
"Loh kok berat," gumamku.
Aku berjongkok hendak membuka koperku yang sepertinya ada sesuatu di dalamnya. Sehingga terasa berat saat aku akan membawanya ke dalam kamar.
"Bajuku? Apa-apaan ini? Siapa yang melakukan ini?" imbuhku dengan suara sedikit lantang.
Aku berjalan masuk ke dalam kamar. Aku membuka pintu lemari, dan aku kaget saat melihat lemariku sudah kosong.
"Mas Andi!" teriakku memanggil Mas Andi.
Mas Andi tidak terlihat disini, aku pun berniat memanggil yang lain.
"Bi Ratmi! Hana!" teriakku.
Tidak ada sahutan sama sekali dari mereka. Kemana sebenarnya mereka? Kemana Mas Andi? Ada apa ini?
Aku mengambil ponsel berniat menghubungi Mas Andi.
"Ih … Mas, kamu nakal."
Aku terbelalak, telingaku mendengar suara seorang perempuan yang sepertinya sedang bersama seorang laki-laki di kamar ujung lantai atas, yang terhalang satu kamar dari kamarku. Dan itu adalah kamar almarhum Ayahku.
Aku mengurungkan niatku untuk menghubungi Mas Andi.
Aku berjalan mengendap, berusaha tidak menimbulkan suara sedikitpun.
Aku berdiri di depan pintu kamar itu. Aku mencoba menempelkan telingaku pada daun pintu.
"Mas,top mana? Aku atau si Indri, si perempuan naif itu?"
"Tentu saja kamu sayang, semalam aku hanya main-main saja. Tapi tetap, kamu yang paling top!"
Refleks tanganku mengepal kuat. Aku menduga, suara lelaki itu adalah Andi. Tapi aku berharap aku salah dengar. Tidak mungkin Mas Andi tega melakukan ini terhadapku.
"Main-main kamu bilang? Tapi kamu suka kan?"
"Iya sih … kan sayang masih disegel!"
"Hahahah!"
Tawaan kedua manusia laknat menggema di ruangan kamar itu.
Aku berjalan mundur, kemudian mengambil meja bulat kecil di sudut ruangan atas.
Aku memindahkan vas bunga dari meja itu ke atas lantai.
Perlahan aku mengangkat meja itu, bermaksud ingin mendobrak pintu kamar itu. Aku yakin, kamar itu pasti dikunci dari dalam.
Dengan hitungan 1, 2, 3.
Brak!!!
Daun pintu terbuka lebar. Yang pertama aku lihat, adalah pemandangan yang membuatku tidak bisa berkata apa-apa.
"Mas Andi! Hana! Sedang apa kalian?"
Aku syok melihat suamiku bersama Hana, dalam keadaan tidak berbusana.
"Eh, sayang! Kamu sudah bangun?" sapa Mas Andi seraya tersenyum ke arahku.
"Ini ada apa sebenarnya? Ada skandal apa kalian berdua di belakangku? Hana! Kamu lancang sekali berduaan dengan suamiku. Dan kamu, Mas! Sedang apa kamu berduaan dengan Hana di kamar Ayahku?" berangku.
Tanpa ekspresi terkejut, tanpa takut, dan dengan wajah yang seolah tak berdoa. Mereka berdua hanya menatapku santai.
"Aku lagi melakukan sesuatu yang seperti kita lakukan semalam, sayang!" jawab Mas Andi.
Air mataku spontan terjatuh mendengar ucapan menjijikan dari mulut Mas Andi.
"Kurang ajar! Bajingan kau Andi. Kamu juga Hana! Apa maksud kamu melakukan hal ini dengan suamiku?" bentakku sambil menunjuk-nunjuk wajah menjijikan mereka berdua.
"Sayang, sepertinya kamu harus cepat memberikan pengertian deh sama calon mantan istri kamu itu," imbuh Hana.
Mataku membulat, mendengar ucapan Hana.
"Apa maksud kamu, Hana? Calon mantan istri? Coba jelasin sama aku, Mas!" pungkasku.
"Kami berdua sudah menjalin hubungan selama 1 tahun. Dan kamu, dengan sadar hari ini, jam ini, tahun ini dan bulan ini, aku menalak kamu. Jelas?" sahut Mas Andi.
Bagai disambar petir disiang bolong. Aku tak percaya dengan ucapan yang terlontar dari mulut Mas Andi.
Kemarin pagi Mas Andi menikahiku. Bahkan semalam kami berdua menghabiskan malam pertama dengan penuh gairah. Tapi sekarang, Mas Andi dengan teganya menalakku di depan Hana.
Aku tidak menyangka, pernikahanku hanya bertahan 1 hari. Dalam waktu sekejap, aku sudah menjadi janda.
Air mataku mengalir semakin deras, seiring suara sesenggukan dari mulutku.
Duniaku semakin runtuh, setelah kepergian Ayah dan menyaksikan pengkhianatan yang dilakukan Mas Andi dan Hana secara terang-terangan.
"Tidak tahu diri kamu, Hana. Sekarang, kamu keluar dari rumah saya. Kamu juga Mas, sekarang kamu juga angkat kaki dari rumah saya. Kalian telah lancang berbuat seperti itu di kamar Ayahku. Bajingan kalian berdua," bentakku mengusir mereka berdua.
"Hahaha … nggak salah tuh, kamu ngusir kami? Yang ada kamu yang mesti pergi dari rumah kami," imbuh Hana.
"Apa? Rumah kami? Jangan mimpi kamu Hana. Dasar anak pembantu yang tidak tahu diri. Ternyata selama ini Ayahku telah menolong seekor anjing terjepit," makiku terhadap Hana.
"Jelasin, sayang!" tukas Hana.
Mas Andi beranjak dari tempat tidur Ayahku. Terlebih dulu ia menggunakan celana yang tergeletak di sembarang tempat.
Mas Andi berjalan mendekati laci di kamar Ayahku.
Ia kemudian mengambil sebuah map dan menyerahkannya kepadaku.
"Baca!" titah Mas Andi.
Aku pun membaca isi surat yang di dalam map itu.
"Surat penyerahan semua harta kepada atas nama Andika. Rumah, kendaraan, semua lahan sawah dan perkebunan." Aku membaca detail isi surat itu.
Aku membekap mulutku sendiri, saat melihat ada tanda tanganku disana.
Aku teringat, dinihari tadi jam 03.00. Mas Andi membangunkanku hanya untuk meminta tanda tangan dengan alasan ingin mengajukan pinjaman uang ke bank. Ternyata Mas Andi telah menipuku. Menikahiku ternyata semata-mata karena silau dengan harta Ayah. Pantas saja, saat Ayah memintanya menikahiku, Mas Andi dengan cepat tanpa pikir panjang menyetujui permintaan Ayah. Ternyata ini alasannya. Dan masalah hubungannya dengan Hana? Seketika kepalaku terasa pusing memikirkan ini semua.
"Sudah mengerti, kan? Jadi hari ini kamu tidak berhak menempati rumahku," kata Mas Andi.
Tanganku kembali mengepal kuat. Ingin rasanya aku menghajar lelaki tidak tahu diri itu.
"Saya yakin, itu semua tidak sah!" ucapku penuh keyakinan.
"Tidak sah? Masa? Aku sudah mengurusnya di kantor notaris. Aku bisa melakukan apa saja yang aku mau. Aku terlalu cerdik, dan kamu tidak tahu itu, Indriana!" sahut Mas Andi.
"Kurang ajar kau Andi. Ternyata kamu dan Hana tidak lain adalah penyakit. Penyakit yang mesti dibasmi dari muka bumi ini!" Aku melangkah dengan geram ke arah Mas Andi.
Plak!!!
Satu buah tamparan mendarat di pipi kiri Mas Andi.
Aku belum puas, aku pun berniat untuk kembali menampar lelaki bajingan itu.
"Apa? Mau menamparku lagi?" sanggah Mas Andi menahan tanganku.
Plak!!!
Mas Andi membalas menamparku, sehingga pipiku terasa sakit dan panas.
Kemudian Mas Andi menyeretku keluar dari kamar Ayah. Tidak sampai itu, aku masih diseret menuju keluar rumah.
Hana pun tidak tinggal diam. Ia menarik koperku dan melemparnya keluar.
"Pergi kau Indri, perempuan miskin," ucap Hana dengan nada mencemooh.
"Hana, kamu manusia tak tahu diri. Ternyata Ayahku salah besar sudah mau menampung mu di rumah ini.Tidak ingatkah kamu, saat Ayahku dengan baiknya menyekolahkan kamu. Ayahku yang mengangkat harkat derajat kamu dan ibumu. Dulu kalian sangat miskin, tapi Ayahku yang membuat kalian tidak kekurangan apapun, karena Ayah memberikan pekerjaan layak buat ibumu. Ingat itu baik-baik, Hana," bentakku.
Aku menatapnya nyalang.
"Ayahku … Ayahku … Ayahku. Iya memang, Ayahmu yang mengangkat keluargaku dari jurang kemiskinan. Tapi itu Ayahmu, bukan kamu! Dan kamu juga harus ingat, Ayah kamu sudah mati!" seloroh Hana.
Tanganku mengepal kuat. Ingin rasanya aku menampar mulutnya yang sangat lancang itu.
"Tunggu apa lagi? Sana pergi!" usir Hana.
Mas Andi tersenyum sambil merangkul Hana. Tak ada sedikitpun rasa kasihan terhadapku. Mereka tidak punya hati, dan mereka sangat pantas dijuluki sebagai sepasang benalu.
Aku mulai berdiri dan menyeret koperku keluar dari pekarangan rumah. Rumah yang menjadi saksi hidupku dari mulai aku dilahirkan dan dibesarkan sampai aku seperti sekarang ini.
Sepanjang jalan, tetangga-tetanggaku banyak yang melihatku dengan tatapan heran. Ada pula yang bertanya kenapa aku seperti ini.
Mulutku sudah lelah berbicara, tak ku hiraukan mereka dan aku terus berjalan melewati mereka. Aku berjalan dengan tangisan yang tak kunjung berhenti. Air mataku seakan dikuras.
Setelah aku berjalan cukup lama. Aku pun sudah keluar dari kampungku, dan kini aku sudah berada di pinggir jalan raya.
"Ya Tuhan, kenapa semuanya jadi seperti ini? Ujian apa yang Engkau berikan kepada hamba?" Aku terus membatin di sepanjang jalan.
"Ya Tuhan … aku-aku rasanya lemas sekali. Tubuhku, tubuhku terasa melayang. Ada apa ini? Ada apa denganku?" gumamku.
Kepala pun terasa pusing dan ….
Bruk!!!
Semuanya menjadi gelap.
"Non, Non Indri … bangun, Non!"
Sayup-sayup aku mendengar seseorang memanggil namaku. Aku membuka mata, dan mendapati diriku yang tengah dikerumuni banyak orang.
"Aku dimana?" Aku mengedarkan pandangan, menatap sekeliling.
"Non Indri sudah sadar? Ini saya, Non, Bi Ratmi. Non Indri kenapa bisa pingsan disini? Kenapa Non bawa-bawa koper? Non mau kemana?" tanya seseorang yang ternyata Bi Ratmi, artku sekaligus Ibu kandung Hana.
"Bi Ratmi," lirihku.
Aku bangkit lalu duduk sambil memegangi kepala dan perut. Rasanya aku lapar dan pusing sekali, karena aku belum sempat sarapan.
"Non kenapa?" tanya Bi Ratmi lagi.
Aku menoleh ke arah Bi Ratmi. Kemudian bergeser menjauh darinya.
Semua orang yang menatapku heran. Aku tidak mau berdekatan dengan Bi Ratmi. Mengingat Hana yang sangat jahat terhadapku. Dan aku yakin, Bi Ratmi juga pasti terlibat dengan masalah ini. Aku harus berjaga-jaga, aku tidak mau terpedaya oleh kebaikan Bi Ratmi. Aku takut mereka bersekongkol membuatku semakin hancur.
"Non Indri kenapa? Kenapa Non seperti ini?" tanya Bi Ratmi lagi.
Berkali-kali Bi Ratmi melontarkan pertanyaan kepadaku. Tapi aku belum sama sekali menjawab pertanyaannya.
"Aku harus pergi," ucapku seraya berdiri, walaupun tubuhku rasanya lemas.
Aku berjalan melewati kerumunan itu. Kemudian melangkah menjauh dari mereka.
"Non Indri," panggil Bi Ratmi.
Aku tidak menggubris panggilan Bi Ratmi. Aku fokus menatap lurus ke depan, tak ingin sampai Bi Ratmi mengejarku. Mereka semua jahat. Mas Andi, Hana, dan Bi Ratmi.
Aku mempercepat langkahku tanpa arah tujuan.
"Ya Tuhan, aku harus pergi kemana?" batinku merasa sedih.
"Non, tunggu!"
Tiba-tiba tanganku dicekal dan membuat langkahku berhenti.
"Lepaskan, Bi. Aku mau pergi! Sana Bibi nikmati saja harta Ayahku. Sana Bibi puas-puasin bersenang-senang diatas penderitaan ku. Hiks!" bentakku kemudian tangisku pecah.
"Apa maksud Non Indri? Bibi tidak mengerti apa yang diucapkan, Non. Menikmati harta Pak Yudha, bersenang-senang diatas penderitaan Non? Apa-apaan ini, Non? Saya tidak mengerti dan saya tidak akan melakukan itu. Apa alasan saya harus melakukan itu semua? Kenapa Non Indri bisa bicara seperti itu kepada saya?" sanggah Bi Ratmi membela diri.
Aku mengangkat wajahku yang semula menunduk.
"Bibi nggak usah berakting di depanku. Bibi pasti sama saja dengan Hana dan Mas Andi!" bentakku.
Bi Ratmi mengernyitkan dahi, dia menatapku seperti keheranan.
"Sebaiknya kita duduk dulu, Bibi minta penjelasan, apa yang kamu maksud," ajak Bi Ratmi.
Bi Ratmi menarik tanganku menuju tempat duduk di warung kosong yang berada di pinggir jalan.
Setelah kami berdua duduk, Bi Ratmi lanjut menanyaiku.
"Ayok, Non. Jelaskan apa masalahnya? Kenapa Non bisa bicara seperti itu?" tanya Bi Ratmi.
Aku menyoroti manik Bi Ratmi. Aku memastikan apakah dia sedang berakting atau dia memang tidak tahu masalahku dengan putrinya.
"Ayok, Non, bilang sama Bibi. Siapa tahu Bibi bisa bantu masalah Non," pinta Bi Ratmi.
Aku menyeka mataku, dan kemudian menarik nafas panjang.
"Aku diusir dari rumahku sendiri, Bi!" ungkapku.
"Apa?" Tangan Bi Ratmi spontan menutupi mulutnya. Aku menatapnya, dan bisa melihat, Bi Ratmi seperti terkejut mendengar penuturanku.
"Kenapa, Bi? Kenapa Bibi terkejut?" tanyaku.
"Serius Bibi tidak tahu, Bibi dari tadi pagi pergi ke pasar. Karena persediaan bahan makanan di rumah sudah habis. Makanya dari pagi sekali, Bibi pergi ke pasar. Tolong jelasin, ada apa dengan Hana? Terus, kenapa dengan Mas Andi?" tanya Bi Ratmi bersikeras meminta penjelasan ku.
"Oke, Bi, saya akan jelaskan semuanya!" Aku pun menjelaskan semua kronologis tentang masalahku. Dari mulai aku dibangunkan Mas Andi jam 03.00 pagi untuk diminta tanda tangan, sampai tragedi pengusiranku tadi.
"Ya Tuhan … kenapa Hana tega sekali sama Non. Bibi tidak menyangk, anak Bibi sendiri bisa ngelakuin ini semua terhadap Non Indri. Padahal, Non Indri sama Pak Yudha begitu baik kepadanya. Sampai-sampai Pak Yudha rela menampung dan menyekolahkan Hana sampai lulus. Ya Tuhan, Hana … kenapa kamu bisa berubah seperti itu, Nak," ucap Bi Ratmi sembari terisak.
Aku bisa melihat dari ekspresi dan sorot matanya. Bi Ratmi sangat sedih, dan sangat menyayangkan perbuatan anaknya seperti itu.
Aku merangkul Bi Ratmi, berusaha saling menguatkan.
"Maafin Indri, sempat tidak percaya kepada Bibi," lirihku menahan pilu.
Bi Ratmi membalas rangkulanku.
"Bibi yang mestinya minta maaf. Bibi sudah gagal mendidik Hana, sampai dia tega melukai perasaan orang yang pernah menolongnya. Bibi malu, Non!" sahut Bi Ratmi.
"Sudah … ini bukan salah Bibi. Ini semua salah Hana dan Mas Andi. Maaf jika saya bicara seperti itu. Tapi saya sakit hati," ujarku.
"Tidak apa-apa, Non. Bibi mengerti perasaan Non Indri. Bibi mau bicara sama Hana. Bibi mau minta penjelasan kenapa dia bisa bersikap rendahan seperti itu. Pokoknya Bibi harus bisa menyadarkan dia. Bahwa yang dia lakukan adalah kesalahan besar," imbuh Bi Ratmi.
Bi Ratmi berdiri dan mengambil keranjang belanjaannya yang berisi sayur mayur dan bahan makanan lainnya.
"Tunggu, Bi, duduk dulu. Tenangin dulu pikiran Bibi. Menghadapi mereka harus dengan kepala dingin," cegahku.
"Iya, Non Indri benar. Bibi harus tetap tenang. Oh iya, Non Indri ikut sama Bibi, kembali ke rumah Non. Bibi akan meminta Hana untuk mengembalikan semua harta Non Indri. Mungkin jika Hana luluh, Mas Andi juga akan senantiasa mengembalikannya," pungkas Bi Ratmi.
Aku pun mengangguk setuju. Mungkin dengan Bi Ratmi memohon kepada Hana, Hana akan luluh dan bersedia mengembalikkan semua hakku.
Krucuk krucuk krucuk
Aku memegangi perutku karena merasa lapar.
"Non Indri lapar?" tanya Bi Ratmi.
"Iya, Bi, aku belum sempat sarapan," jawabku.
"Kasihan sekali, Non Indri. Pantas saja wajahnya pucat," ucap Bi Ratmi seraya mengusap lembut punggungku.
"Iya, Bi, aku mau makan tapi aku nggak punya uang. Semua uangku ada di kamar. Ponsel juga ketinggalan di atas nakas. Itu juga kalau belum diambil sama Mas Andi dan Hana," sahutku.
Bi Ratmi menatapku iba, kemudian Bi Ratmi menuntunku menuju pedagang nasi uduk yang kebetulan masih buka.
"Kita makan dulu disini, ya! Nggak apa-apa kan?" Imbuh Bi Ratmi.
"Tidak apa-apa, Bi. Terima kasih, aku sudah sangat lapar," ucapku.
Kemudian Bi Ratmi memesan dua porsi nasi uduk. Lalu aku makan dengan begitu lahapnya.
"Ayok, Non, kita pulang sekarang. Bismillah … semoga Hana mau mendengarkan ucapan Bibi," ajak Bi Ratmi, setelah kami berdua selesai makan.
Aku mengangguk, kemudian Bi Ratmi menyetop mobil angkot dan kami langsung menaikinya.
"Sayang sekali, kalau semua perkebunan, sawah yang luas, rumah dan kendaraan milik Non Indri harus jatuh ke tangan Andi. Di kampung ini, Pak Yudha terkenal sangat terpandang dan begitu disegani. Beliau orang baik, orang dermawan. Bibi nggak rela kalau semuanya jatuh kepada orang yang salah. Sekalipun itu anak kandung Bibi sendiri. Bibi juga sangat menyesalkan perbuatan Hana," imbuh Bi Ratmi saat kami berdua sudah berada di dalam angkot.
Di dalam angkot hanya ada kami bertiga. Aku, Bi Ratmi dan sopir angkot.
"Iya, Bi, aku juga sangat sedih. Ini semua salah aku, yang dengan mudahnya percaya dengan tipu muslihat Mas Andi yang licik itu. Semoga saja mereka mendapat balasan atas perbuatan mereka," sahutku.
Tak berselang lama, angkot yang kami tumpangi sudah berada di depan gang rumahku. Kami berdua turun dan berjalan kaki menuju rumahku, yang hanya berjarak seratus meter.
Kami berdua sudah sampai di depan rumahku. Bi Ratmi berjalan duluan masuk ke dalam rumah. Sementara aku mengikutinya dari belakang.
"Hana … Hana!" teriak Bi Ratmi memanggil Hana.
"Hana!" teriak Bi Ratmi lagi yang ketiga kalinya.
"Ada apa sih, Bu? Teriak-teriak begitu kayak ada kebakaran saja. Eh … ada tamu juga ternyata. Nggak malu, ya? Sudah diusir masih berani menginjakkan kaki di rumah saya," imbuh Hana yang baru saja turun dari lantai atas.
"Hana, Ibu mau bicara sama kamu. Apa maksud kamu dan Andi mengusir Non Indri? Kenapa kalian berdua lancang merebut semua harta Non Indri? Ibu mohon, sudahi ini semua sebelum kamu menyesal di kemudian hari," tanya Bi Ratmi.
"Sudahlah, Bu, Ibu nggak usah pikirkan soal ini. Mulai sekarang, Ibu adalah Nyonya besar di rumah ini. Gimana, Ibu senang kan?" sahut Hana.
Plak!!!