Bab 1

Zara Liana Anastasya menatap kosong ke luar jendela mobil yang melaju cepat. Angin sore yang masuk melalui jendela sedikit mengusap wajahnya yang cantik, namun tidak mampu meredakan ketegangan yang menggulung di dalam dadanya. Hari ini adalah hari pernikahannya. Hari yang seharusnya menjadi kebahagiaan, namun bagi Zara, ini adalah mimpi buruk yang terpaksa ia jalani.

Ayahnya, lelaki keras yang hanya peduli pada kekayaan dan status, duduk di sampingnya, wajahnya tegang dan penuh kekhawatiran. "Ingat, Zara, ini demi nama baik keluarga kita," ujarnya dengan nada datar yang membuat Zara semakin merasa terasing. Ia tahu ayahnya tidak pernah menganggap perasaan anaknya penting. Yang penting baginya adalah kepentingan bisnis dan jalinan kekuasaan yang didapat dari pernikahan ini.

Zara menghela napas, menatap tangan kecilnya yang memegang erat cincin tunangan yang tak pernah ia inginkan. Ia bahkan tidak tahu siapa pria yang akan menjadi suaminya. Rayyan Syam Naraputra-nama itu hanya terdengar sekali dalam obrolan singkat antara ayahnya dan beberapa kolega. Tidak ada yang memberinya informasi lebih banyak tentang pria yang katanya sangat kaya dan memiliki kedudukan tinggi.

Mobil berhenti dengan suara rem yang menjerit, memecah kesunyian. Pintu terbuka, dan sosok seorang pria dengan tubuh tinggi tegap, mengenakan jas hitam yang elegan, berdiri di depan pintu mobil. Mata Zara tidak bisa lepas dari pria itu. Rambut hitam pekatnya terpotong rapi, dengan ekspresi yang sulit terbaca. Wajahnya tampak tenang, namun ada sesuatu yang dingin, seolah ia menyimpan banyak rahasia. Senyum tipis di bibirnya hanya memperburuk rasa takut di hati Zara.

"Rayyan," suara ayahnya terdengar menggema, membangunkan Zara dari lamunan. "Zara, ini suamimu. Rayyan, ini putri saya, Zara."

Rayyan menatap Zara dengan sorot mata yang tidak bisa ia artikan. Tidak ada kehangatan, hanya kekosongan yang begitu mencolok. Zara menundukkan kepalanya, berusaha tidak menatapnya lebih lama. Ia merasa sangat canggung, tak tahu apa yang harus dilakukan, apalagi mengatakan. Ini bukan hidup yang ia inginkan. Semua ini terjadi begitu cepat-terlalu cepat.

Pernikahan ini adalah sebuah kontrak, bukan sebuah janji cinta. Zara tahu itu sejak awal. Ia tidak ingin menjadi istri seseorang yang bahkan tidak ia kenal, namun ayahnya tidak memberinya pilihan. Keputusan telah dibuat. Pintu mobil ditutup dengan keras, dan mereka berjalan menuju pintu gerbang besar yang menandakan rumah tangga baru yang akan dijalani Zara.

Di dalam ruangan besar, para tamu berkerumun, dengan gaun-gaun indah dan pakaian-pakaian mahal yang membuat Zara merasa seperti seseorang yang tersesat di dunia yang asing. Di sana ada tepuk tangan dan senyuman palsu, semuanya berjalan seperti pertunjukan. Sebuah upacara pernikahan yang hanya akan dilalui dengan harapan palsu, tanpa ada ruang untuk kebahagiaan.

"Zara," suara Rayyan tiba-tiba memecah pikirannya. "Ikuti aku."

Ia merasa sesuatu yang ganjil saat pria itu menyentuh tangannya untuk pertama kalinya-sentuhan yang dingin dan kuat, namun juga penuh kekuatan. Mata Zara menatap tangan mereka yang bergandengan, sementara rasa takutnya semakin menjadi. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa pernikahan ini terasa seperti perangkap yang tak bisa ia hindari?

Upacara pun berlangsung dengan cepat. Zara hanya mengikuti langkah Rayyan, merasa tubuhnya seolah terikat pada takdir yang tidak bisa ia ubah. Ketika akhirnya mereka resmi menjadi suami istri, sebuah perasaan hampa memenuhi hatinya. Ia merasa seperti telah kehilangan dirinya sendiri dalam permainan yang tidak ia pilih.

Setelah upacara selesai, Rayyan menariknya dengan kekuatan yang tak terduga, membawanya ke ruang pribadi yang sepi dan tertutup. Hanya ada lampu temaram yang menggantung di atas meja besar yang dihadirkan untuk mereka. Zara merasakan ketegangan yang mencekam di udara, dan Rayyan menghadapnya dengan tatapan yang tidak bisa ia baca.

"Jangan coba menghindar," ujar Rayyan dengan suara yang rendah namun jelas. "Kamu mungkin tidak tahu siapa aku, tapi aku tahu segalanya tentangmu, Zara."

Senyum sinis terukir di wajahnya, dan Zara merasa setiap kata yang keluar dari mulutnya seperti ancaman. "Kamu mungkin bertanya-tanya mengapa aku menikahimu," lanjutnya. "Tapi percayalah, ini lebih dari sekadar pernikahan. Ada banyak hal yang harus kita jalani bersama, dan aku tidak akan memberikan ruang untuk penolakan."

Zara tidak menjawab. Bibirnya terasa kering, dan hatinya berdebar begitu cepat. Ada sesuatu dalam sikap Rayyan yang tidak ia mengerti, sesuatu yang membingungkan dan mengerikan sekaligus. Perasaan takut dan kebencian mulai bercampur aduk, menciptakan badai yang menggelora di dalam dirinya.

Namun, meski ia ingin menjerit, meski ia ingin melawan, Zara tahu satu hal: dalam permainan ini, ia sudah terjebak. Dan Rayyan adalah pemain utama yang tidak akan melepaskannya begitu saja.

Bab 2

Setelah upacara, malam pertama mereka dimulai dengan keheningan yang mencekam. Zara duduk di ujung tempat tidur, mengenakan gaun pengantin yang terasa terlalu berat untuk tubuhnya. Di seberang ruangan, Rayyan berdiri, menatapnya dengan ekspresi yang tak bisa ia baca. Suasana di dalam kamar begitu berat, seolah ada sesuatu yang menghalangi udara untuk bergerak bebas.

Zara menatap tangan yang masih terikat dengan cincin pernikahan. Setiap detik terasa seperti beban yang semakin menambah rasa terperangkapnya. Tidak ada pelukan hangat, tidak ada kata-kata lembut atau janji-janji manis. Hanya keheningan dan tekanan dari situasi yang sudah diputuskan untuknya.

"Tidurlah," suara Rayyan akhirnya memecah keheningan. Kata-katanya dingin, tanpa emosi. Zara menatapnya, masih berusaha mencari-cari sesuatu di balik tatapan itu. Sesuatu yang bisa memberinya petunjuk tentang siapa dia sebenarnya.

Namun, Rayyan tidak memberikan ruang untuk pertanyaan. Dia berbalik, berjalan menuju pintu. "Aku akan tidur di ruang sebelah. Jangan coba untuk mengganggu apapun yang terjadi di sini, Zara."

Perintah itu tajam, dan Zara hanya bisa terdiam. Rasanya seperti terperangkap dalam cengkeraman tak terlihat yang semakin mengikatnya. Dia ingin melawan, tetapi semua kekuatannya terasa hilang di hadapan pria ini.

Malam itu, Zara terbangun beberapa kali, hanya untuk mendapati dirinya sendirian di kamar pengantin yang sunyi. Hanya ada suara detakan jam dinding yang mengiringi kegelapan. Rasanya seperti waktu melambat, menelan harapan-harapan yang perlahan memudar.

Keesokan harinya, segala sesuatunya tampak normal-terlalu normal. Rayyan tidak banyak berbicara, hanya memberi arahan agar Zara mengikuti jadwal pertemuan dengan para kolega bisnisnya. Setiap pertemuan seolah lebih mengutamakan kepentingan pribadi Rayyan daripada hubungan mereka yang baru dimulai. Tidak ada sapaan mesra, tidak ada percakapan yang menyentuh. Zara merasa seperti dia hanya menjadi bagian dari sebuah rencana besar yang tidak pernah ia setujui.

Hari-hari berlalu begitu saja, dan setiap kali Zara berusaha untuk berbicara, Rayyan selalu menghindar atau memberikan jawaban singkat yang tidak memadai. Namun, di balik sikap dinginnya, Zara mulai melihat sesuatu yang lebih dalam. Ada ketegangan di setiap gerakannya, sebuah kedalaman yang terasa seperti rahasia besar yang dipendamnya.

Rayyan mulai menunjukkan sisi lain dari dirinya-sisi yang jauh lebih mengerikan. Dia seringkali datang ke ruangannya, mengeluarkan kata-kata tajam yang terkadang membuat Zara merasa seolah-olah dia adalah orang yang paling bodoh di dunia. Kadang, dia tampak marah tanpa alasan yang jelas, memandangnya dengan mata yang penuh penghinaan.

Tapi entah mengapa, ada satu hal yang semakin terasa jelas-setiap perlakuan kasar dan penuh kebencian itu, seolah menumbuhkan sebuah kebencian dalam diri Zara yang lebih besar dari yang ia kira. Setiap kata yang penuh hinaan dari Rayyan membuat hatinya semakin tertutup. Zara tidak tahu bagaimana cara untuk menghadapinya, tapi satu hal yang pasti: dia tidak akan membiarkan dirinya hancur begitu saja.

Suatu malam, ketika Zara sedang duduk sendirian di ruang kerjanya, perasaan gelisah menyelimutinya. Ia tidak bisa berhenti berpikir tentang Rayyan, tentang sikapnya yang begitu kompleks, begitu penuh dengan teka-teki. Mengapa dia sekejam itu? Apa yang tersembunyi di balik sikapnya yang dingin dan mengancam?

Tiba-tiba, pintu ruangannya terbuka tanpa peringatan, dan Rayyan muncul di ambang pintu, wajahnya tampak keras dan tak terbaca. Zara menatapnya, merasakan perasaan takut yang kembali menyergap. "Ada apa?" suara Zara terdengar lebih lemah daripada yang ia inginkan.

Rayyan tidak langsung menjawab. Dia melangkah ke dalam ruangan, mendekat dengan langkah yang begitu tenang. Ada ketegangan yang semakin meningkat di udara, seolah-olah mereka sedang berada dalam persaingan yang tak terlihat. "Kamu semakin pintar, Zara," kata Rayyan tiba-tiba, suaranya rendah namun penuh dengan makna. "Tapi apakah kamu cukup pintar untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik pernikahan ini?"

Zara terdiam. Kata-katanya menggantung di udara, penuh dengan ancaman yang tak terucapkan. Apa yang dimaksudnya? Dan apa yang akan terjadi jika ia benar-benar tahu?

Namun, sebelum Zara bisa mengajukan pertanyaan, Rayyan berbalik dan melangkah keluar, meninggalkan ruangannya dengan tatapan yang penuh dengan rahasia. Zara hanya bisa menatapnya pergi, hatinya berdebar keras.

Apakah Rayyan sengaja membiarkannya merasa bingung? Atau adakah sesuatu yang lebih besar yang sedang menunggu untuk diungkap? Bagaimanapun juga, Zara tahu satu hal dengan pasti-kehidupan yang ia jalani sekarang penuh dengan ketidakpastian, dan semakin lama ia berada dalam dunia ini, semakin dalam ia terperangkap dalam permainan yang tak bisa ia menangkan.

Bab 3

Zara menghabiskan hari-harinya dalam kebingungan dan kebisuan. Setiap kali ia mencoba mencari celah untuk memahami suaminya, Rayyan Arkan Devantara, pria itu selalu menutup semua kemungkinan dengan tatapan dingin dan sikap penuh dominasi. Namun, satu hal semakin jelas-Rayyan menyimpan sesuatu. Ada misteri yang mengikat pernikahan mereka, sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kesepakatan bisnis keluarganya.

Malam itu, Zara memutuskan untuk tidak tinggal diam. Ia tahu, jika terus menjadi boneka dalam permainan ini, ia akan kehilangan dirinya sepenuhnya. Dengan napas tertahan, ia melangkah keluar dari kamarnya, menyusuri koridor rumah megah yang kini menjadi tempat tinggalnya. Cahaya lampu redup menerangi dinding marmer yang dingin, menciptakan bayangan panjang yang semakin menambah suasana menegangkan.

Ketika ia hampir mencapai ruang kerja Rayyan, suara rendah yang tajam membuat langkahnya terhenti.

"Aku tidak peduli bagaimana caranya. Aku ingin semuanya tetap terkendali."

Zara menahan napas. Suara itu jelas milik Rayyan, namun nada bicaranya lebih gelap dari biasanya, penuh perintah dan ancaman tersembunyi.

"Tidak ada yang boleh tahu, terutama dia."

Jantung Zara berdetak lebih cepat. 'Dia?' Apakah yang dimaksud adalah dirinya?

Tanpa berpikir panjang, Zara berjongkok di dekat pintu, mencoba menangkap lebih banyak percakapan. Namun, sebelum ia sempat mendengar kelanjutannya, suara sepatu yang mendekat memaksanya mundur ke bayangan gelap di dekat pilar.

Rayyan melangkah keluar dari ruangannya dengan wajah yang lebih tegang dari biasanya. Mata tajamnya menelusuri koridor, seolah ia merasakan keberadaan seseorang yang menguping. Zara berusaha menahan napasnya, tubuhnya menempel erat pada dinding marmer yang dingin.

Untuk sesaat, waktu terasa berhenti. Namun, Rayyan akhirnya melanjutkan langkahnya, meninggalkan koridor dengan tatapan penuh rahasia.

Zara menggigit bibirnya. Ada sesuatu yang sedang terjadi-sesuatu yang tidak ingin Rayyan ia ketahui.

Keesokan harinya, Zara memutuskan untuk menguji batas suaminya. Ia masuk ke ruang makan lebih awal dari biasanya, tempat Rayyan biasanya menikmati sarapannya sendiri. Namun, saat ia tiba, pria itu sudah ada di sana, duduk dengan tenang sambil membaca koran.

"Pagi," ujar Zara dengan suara datar.

Rayyan mengangkat tatapannya sekilas, kemudian kembali fokus pada korannya. "Pagi."

Zara mengambil tempat duduk di seberangnya, menatap pria itu lekat-lekat. "Apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku?"

Rayyan menurunkan korannya perlahan. Tatapannya berubah tajam, seolah sedang menilai seberapa jauh Zara berani masuk ke dalam wilayahnya.

"Apa maksudmu?" tanyanya, nada suaranya tetap dingin.

Zara menggenggam sendoknya erat. "Aku mendengar percakapanmu semalam," ucapnya pelan tapi tegas. "Siapa yang tidak boleh tahu? Apa yang sedang kau rencanakan?"

Untuk pertama kalinya, wajah Rayyan berubah ekspresi. Ia menatap Zara dengan sorot mata berbahaya, seolah perempuan itu baru saja menyentuh sesuatu yang seharusnya tidak ia sentuh.

"Kau terlalu banyak bertanya, Zara," ujar Rayyan, suaranya lebih rendah, hampir seperti bisikan yang menekan. "Dan itu bukan kebiasaan yang baik untuk istri seorang Devantara."

Zara menegakkan punggungnya, menolak untuk menunjukkan rasa takut. "Jika kau tidak ingin aku bertanya, maka jangan buat aku penasaran."

Rayyan menyeringai tipis, senyum penuh makna yang membuat Zara merasakan ketegangan di udara semakin meningkat. Ia bersandar di kursinya, seolah menikmati permainan ini.

"Kau ingin tahu rahasia, Zara?" Rayyan mencondongkan tubuhnya ke depan, membuat wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. "Baik. Tapi ingat, setiap rahasia yang kau ketahui, ada harga yang harus kau bayar."

Zara menelan ludah, namun ia tidak mundur.

"Aku siap membayarnya."

Rayyan mengangkat alisnya, jelas tidak menduga jawaban itu. Sejenak, keheningan menggantung di antara mereka sebelum Rayyan akhirnya menggelengkan kepalanya dengan ekspresi samar.

"Kita lihat saja nanti," gumamnya sebelum kembali membaca korannya, seolah percakapan mereka barusan tidak pernah terjadi.

Tapi Zara tahu lebih baik.

Ini bukanlah akhir. Ini baru permulaan dari sesuatu yang jauh lebih dalam dan berbahaya. Sesuatu yang bisa menghancurkan mereka berdua.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED