Bab 1

Embusan napas tertahan yang terdengar begitu menyesakan, menguar melalui celah antara bingkai birai milik Sagara Tyson Murphy yang sedikit berjarak juga tampak gemetar, karena tengah mencoba mati-matian untuk menahan tangisan.

Manik mata jelaganya yang dikelilingi iris yang memerah, menyalang tajam, dibiarkan menatap lamat pada pusara yang ada di hadapannya.

Berdiri tegap kendati dengan seluruh persendian di seluruh tubuh sebenarnya sudah merasa begitu lemas, Saga - begitu singkatnya pria berusia tiga puluh tahun itu biasa di sapa, sudah sekitar tiga puluh menit memaku di sana.

Mengabaikan derasnya air hujan yang mengguyur tubuh, juga gelegar guntur yang seakan memberi cambukan pada relung yang tengah didera asa, Saga masih belum memiliki keinginan untuk beranjak.

Hati Saga saat ini sebenarnya sedang remuk redam. Dunianya runtuh, sebab baru saja ditinggalkan oleh Salsabila - sang ibu, untuk selamanya.

Beberapa jam yang lalu, tepatnya saat Saga baru sekali tiba di bandara selepas melakukan perjalanan bisnis, pria pemilik paras tampan itu dikagetkan dengan sebuah kabar yang berhasil membuat dunianya seperti berhenti berputar.

Saga yang ingin bergegas kembali ke Mansionnya, berjalan begitu antusias dengan senyuman yang memeta indah, menghiasi bibir, menambah pesona yang ia miliki.

Ia merasa bahagia bukan main, karena pikirnya ... saat itu akhirnya ia bisa melepas rindu yang sudah begitu menggebu dalam relung pada sang kekasih dan sang ibunda yang menunggu kedatangannya.

Dua minggu terasa waktu berjalan begitu lambat bagi Saga, karena harus berjauhan dengan orang-orang terkasihnya. Namun, begitu dirinya tiba, bukannya ia disambut oleh pelukan hangat atau pun senyum senang dari mereka, Saga mendapati Julian - orang kepercayaannya, menerima telpon dari Sesil yang kepala pelayan di mansionnya membawa kabar menyedihkan.

"Tuan?" Julian ragu-ragu menyeru begitu dirinya menghentikan langkah dan menutup panggilan dengan Sesil.

Dengan perasaan heran, Saga melakukan hal yang sama, yakni menghentikan ayunan tungkai dan menoleh ke arah Julian.

"Ada apa?" Saga bertanya dengan suara bariton bernada dingin, sedikit jengkel.

Pandangan Julian seketika tertunduk, menatap jemari yang ia tautkan di depan badan. "Ada hal yang ha-harus saya sampaikan, Tuan."

Kerutan samar muncul di kening Saga. "Apa? Katakan. Jangan membuang waktu. Aku harus segera pergi menemui Jane dan juga ibuku." Saga memendarkan pandangan, menatap keadaan sekitar dengan nanar. "Kenapa tidak ada satupun dari mereka datang ke bandara seperti biasanya? Apa mereka lupa, jika hari ini aku pulang?" gumamnya.

"Ini tentang Nyonya Besar dan Nona Janesaa, Tu-Tuan."

"Ada apa dengan mereka?"

Julian menelan ludahnya dengan susah payah. "Me-mereka ... me-mereka mengalami ke-kecelakaan, Tu-Tuan."

Mata Saga membelalak. Terkejut, tentu sangat. Jantung Saga saat itu seketika bekerja lebih keras daripada biasanya, berdebar dalam tempo yang begitu cepat, ayalnya orang yang baru selesai melakukan lari marathon.

Rasa bahagia yang sebelumnya hampir membuncah dalam relung, seketika diambil alih oleh rasa cemas yang begitu mengungkung.

"Ke-Kecelakaan? Lalu bagaimana keadaan mereka sekarang? Di mana mereka?"

Sungguh, tak sampai hati Julian menyampaikan kebenaran yang harus Saga dengar saat itu, karena ia mengetahui pasti, jika berita yang hendak ia sampaikan, mampu menghancurkan perasaan orang yang saat ini berdiri di hadapannya itu.

Julian yang bisa dibilang sebagai tangan kanan Saga, orang yang paling mengenal Saga di antara para pekerja lainnya, tahu ... jika Saga sangat menyayangi sang ibu dan Janessa Kennedy Jordan - kekasihnya, lebih dari apa pun, bahkan dirinya sendiri.

"Tiga hari yang lalu mereka mengalami kecelakaan, Tuan. Nona Janessa tidak memberi anda kabar sejak saat itu, karena dia sebenarnya telah meninggal dunia."

Sebagaimana ada ribuan pisau belati yang tepat mengarah pada dada dan menancab dalam relungnya, Saga sungguh merasa dadanya sesak bukan main.

Saga bergeming, membiarkan perasaannya perlahan mengambil alih. Dirinya yang selama ini dikenal dengan pria berhati batu dan tidak memiliki rasa empati, tidak sanggup menerima berita yang baru saja ia dengar.

"Dan Nyonya besar-" Julian menjeda perkataannya, karena terasa berat sekali bagi dirinya untuk berucap. Hatinya tidak menginjinkan, sementara lidahnya enggan, karena tiba-tiba menjadi kelu.

"Damn just say it!" Saga berteriak, penuh emosi.

Julian terhenyak. "Bi Sesil tadi menelponku untuk memberi kabar, jika Nyonya Besar telah mengembuskan napas terakhirnya hari ini."

Belum sempat hatinya bisa menerima berita terkait sang kekasih dan sang ibu mengalami kecelakaan, bahkan Jane telah tiada, kini seolah ada sambaran petir yang membawa badai, membuat hatinya porak-poranda seketika.

Dunia dan perasaan Saga hancur, tak tersisa. Namun, pria tampan itu sama sekali tidak meneteskan air mata, meskipun manik jelaganya sudah gemetar dan berkaca-kaca.

"Tiga hari yang lalu? Kecelakaan itu terjadi tiga hari yang lalu? Lantas kenapa tidak ada yang memberitahuku?!" Suara Saga meninggi di penghujung kalimat.

Dicengkramnya kerah pakaian yang Julian kenakan saat itu, membuat Julian terkejut bukan main, karena kedua tungkainya hampir tidak lagi menapak di lantai.

Pandangan Julian masih tertunduk, tak berani balas menatap Saga yang sudah menatapnya penuh kemarahan. "Tuan B-Besar memintaku untuk memberitahumu, sa-saat anda sudah kembali, Tu-Tuan."

Saga menghempas tubuh Julian, membuat Julian jatuh terjerambab. Namun, daripada marah, Julian lebih merasa sedih, karena melihat atasannya terluka.

Saga mencengkram geram rambutnya dengan telapak tangan sembari memejam dan membungkukan tubuhnya, sesaat. "Antarkan aku pada ibuku, sekarang!"

Sekitar lima jam sudah berlalu, dari proses pemakaman Salsabila dilakukan, dengan sangat berat hati Saga harus meninggalkan tempat peristirahatan beliau dan pulang ke Mansion.

"Jelaskan padaku, sejelas-jelasnya. Kapan mereka mengalami kecelakaan dan apa penyebabnya?" titah Saga seraya menghadap ke arah Julian yang sudah menunggunya di depan pintu kamar miliknya, penuh tuntutan.

"Nona Jane dan Nyonya Besar pergi bersama satu minggu yang lalu ke sebuah pusat perbelanjaan. Setelahnya ... mereka kemudian pergi jalan-jalan bersama di taman kota. Ti-Tidak ada yang tahu bagaimana persisnya kecelakaan itu terjadi, Tuan. Karena Nyonya Besar, sa-saat itu meminta para ajudan membiarkan mereka pergi berdua saja."

"Dan mereka membiarkannya begitu saja?"

"Ti-tidak ada yang berani menolak permintaan Nyonya Besar, Tuan."

"Lalu apa yang terjadi sampai mereka berakhir tiada seperti ini?"

"Se-sepertinya Nyonya Besar dan Nona Janessa mengalami tabrak lari, saat mereka berjalan di trotoar hendak kembali ke mobil, Tuan."

Saga memejamkan pelupuk matanya rapat-rapat, beberapa saat. Kedua telapak tangan yang saat itu menggantung bebas di kedua sisi tubuhnya, mengepal erat.

"Apa kalian belum benar-benar mencari tahu bagaimana kecelakaan ini bisa mereka alami, dan siapa yang menabrak mereka?"

Julian menggeleng ragu. "K-kami belum mendapatkan perintah apa pun."

"Kalau begitu segera lakukan dan berikan laporan padaku sejelas-jelasnya dan secepatnya!"

Tidak memerlukan waktu cukup lama bagi Saga untuk menerima laporan yang ingin ia ketahui dari Julian, karena dua hari setelahnya, Julian datang menemui Saga yang tengah berada di ruang kerja, membawakan sebuah berkas yang berisi sebuah laporan yang diinginkannya tersebut.

Sembari duduk tenang, Saga pun mulai membaca laporan yang dibawa Julian, dibantu oleh Julian sendiri yang sesekali memberikan keterangan terkait bagaimana kecelakaan yang dialami sang ibu dan sang kekasih terjadi.

Benar adanya, sang ibu dan sang kekasih mengalami tabrak lari di jalan yang berada di area dekat taman yang kala itu habis mereka kunjungi.

Dalam berkas yang tengah Saga telisik, terdapat sebuah foto yang menunjukan sosok gadis cantik yang tengah tersenyum manis.

Saga sempat dibuat terkejut, karena kecantikan yang gadis itu miliki. Pria itu membiarkan sebuah seringaian ngeri penuh arti memeta di bibirnya. "Aluna Joylee Morris? Dia cantik." Kemudian mata yang sebelumnya nampak kosong, seketika berubah menjadi dingin, beraura gelap.

"Benar, Tuan. Dia adalah anak kedua dari Tuan Theo Morris, pemilik TM Group."

Saga menengadah, menatap Julian. "Kau yakin dia pelakunya?"

Julian mengangguk samar. "Iya, Tuan. Meskipun tidak ada bukti jelas, karena rekaman Dashcam dari mobil yang dikendarainya hanya merekam suara sang adik yang memintanya untuk memperlambat laju mobilnya."

"Kau mendapatkan rekaman ini dari mana?"

"Dari kantor polisi."

"Kantor polisi?" Kening Saga mengernyit, keheranan. "Apa itu artinya, dia saat ini sedang dipenjara?"

"Seharusnya, tapi keluarganya membebaskannya dengan menyuap pihak berwajib."

Saga marah, sangat marah. Namun, dia tersenyum. Bukan tersenyum karena senang, justru senyum yang ia tunjukan, terlihat begitu sinis. "Cukup menarik. Apa dia memiliki catatan kriminal, sebelumnya?"

Julian mengangguk, mengiyakan. "Saat dia masih kelas dua SMA, dia dijerat kasus penyelundupan obat-obatan terlarang dan perundungan, sampai salah satu korbannya meninggal dunia, karena bunuh diri. Sama seperti saat ini, saat itu ... dia juga tidak dihukum karena keluarganya memberikan jaminan, beserta suapan. Tapi anehnya ... dia sempat menjadi siswi berprestasi."

Saga menyeringai lagi, sementara membiarkan manik mata legamnya menatap dingin potret wajah cantik Luna. "I don't give a damn, tentang prestasinya di sekolah. Wajahnya sangat cantik, membuatku sejenak merasa tidak percaya, jika dia sudah menjadi penyebab Jane meregang nyawa."

Saga melempar map berisi berkas laporan tersebut ke atas meja di hadapannya. Ia kemudian mendongakan kepala sembari membuang napas kasar dan memejam. "Aku harus menemui Tuan Morris."

Saga mengernyitkan kening. "Untuk apa?"

"Kau tidak perlu tahu."

Julian berdehem, singkat. "Apa anda ingin saya buatkan janji temu?"

"Nanti saja. Ada beberapa hal yang ingin aku lakukan lebih dulu."

"Lantas, apa yang akan anda lakukan pada gadis itu, Tuan?"

Saga membuka pelupuk mata seraya meluruskan pandangan. Diraihnya map yang sebelumnya ia lemparkan, guna mengambil foto Luna tadi.

Saga tersenyum sinis, lagi. Manik matanya menatap tajam sosok Luna, sebelum telapak tangannya mengepal, meremat geram foto Luna tersebut. "Aku akan membuatnya menyesali setiap napas yang ia embuskan, sampai menyesali kehadirannya di dunia ini. Aku akan membuatnya menyesal, karena telah menghancurkan satu-satunya kebahagiaan yang aku miliki. Air mata dan penderitaan akan menjadi satu-satunya hal yang hadir dalam hidupnya. Aku akan menunjukan seperti apa itu neraka. Dia tidak akan hanya melihat, tetapi akan hidup di dalamnya."

Bab 2

"Akhirnya, aku bisa beristirahat juga." Aluna Jaylee Morris bergumam sembari mendudukan diri di salah satu sofa panjang yang tertata di ruang utama dari unit apartemennya.

Luna - begitu biasanya gadis dengan paras cantik berusia dua puluh enam tahun itu disapa, baru saja selesai membersihkan diri selepas seharian ini menjalani hari yang cukup sibuk, karena pekerjaan.

Tersenyum sembari menundukan pandangan, Luna yang kala itu hendak meraih remot televisi malah sukses dibuat terhentikan pegerakannya, sebab mendadak ponsel yang ia simpan di permukaan meja kopi di hadapan, berdering.

Luna menoleh, menatap nanar permukaan layar ponselnya yang menyala, menunjukan kontak milik Aruna Eleana Morris - sang adik, terpampang, menghubunginga melalui sambungan panggilan suara.

Mengernyitkan kening, Luna lantas meraih ponselnya tersebut untuk langsung menerima panggilan dari Runa, mengabaikan rasa heran yang seketika menelusup dalam relung, sebab tidak biasanya adik cantiknya itu menghubungi dirinya.

Luna berdehem pelan, sebelum kemudian menahan ponsel yang digenggamnya di dekat daun telinga, selepas menggeser tombol hijau. "Hello, Ru-" "Kak, tolong bantu aku."

Belum sempat Luna merampungkan perkataan untuk menyapa sang adik, saat itu, Runa malah menyelanya dengan penuturan yang terdengar begitu lirih.

Suara Runa mengudara, mengecai ke dalam rungu Luna dengan agar gemetar, ayalnya seseorang yang tengah didera rasa ketakutan.

Tentu hal itu tak gagal membuat Luna panik seketika.

"Runa? Kau baik-baik saja, bukan? Kenapa tiba-tiba menghubungi Kakak dan minta bantuan seperti ini?"

Isak tangis kemudian menyusul, terdengar dari seberang sambungan sana. Sontak Luna membangkitkan diri dari duduknya. "Runa, saat ini kau sedang di mana? Biar Kakak datang ke sana dan menjemputmu."

"Ka-Kak ... ada seseorang yang akan menjemputmu sekarang ke apartmenmu. Tolong ikut saja dengannya. Dia akan membawamu kemari untuk menemuiku," tutur Runa dengan suaranya yang gemetar.

Luna saat itu merasa heran, tetapi tidak ada waktu baginya untuk berpikir secara logis, karena fokusnya saat hanya tertuju pada sang adik.

Bagaimanapun caranya, ia harus menemui adiknya saat itu juga dan memastikan bahwa Runa baik-baik saja.

"Baiklah. Tunggu Kakak, okay? Kau akan baik-baik saja. Tidak perlu khawatir."

Pada saat yang sama, saat itu tiba-tiba bell dari pintu utama apartemen Luna berbunyi. Luna buru-buru menoleh ke arah di mana pintu tersebut berada.

"Orang yang kau maksud sepertinya sudah di sini, Kakak akan pergi sekarang."

Tanpa berpikir panjang dan tidak ingin membuang banyak waktu, Luna memutuskan untuk menghampiri pintu utama dari apartemennya tersebut dan langsung membukanya saat itu juga.

Ia sempat tertegun, karena saat itu ia mendapati ada tiga orang bertubuh tinggi semampai pun memiliki perawakan tegap berdiri di sana. Pakaian mereka formal, bersetelan teksudo hitam, lengkap dengan sepatu dan dasi berwarna senada.

"Nona Aluna?" Salah satu pria tadi bertanya.

Luna yang kala itu menatap mereka dengan tatapan nanar pun, mengangguk gamang. "Iya be-betul."

"Tuan Muda kami, meminta kami untuk memjemput anda Nona," terang si pria yang sama.

Kening Luna mengernyit, keheranan. "Tuan Muda? Siapa Tuan Muda kalian? Bukankah kalian datang ke sini untuk membawaku menemui adikku?"

Tiga pria tadi saling bertukar pandang beberapa saat. "Itu benar, Nona. Tuan Muda kami lah yang meminta kami untuk membawa Nona menemui adik Nona. Sebaiknya Nona tidak perlu banyak bertanya dan ikut saja," tandas salah satunya.

Luna mengerjapkan pelupuk matanya secara berulang. Jelas wajah cantik gadis itu menunjukan sebuah keraguan, tetapi saat benaknya kembali mengingat sang adik, Luna menepis kecurigaan tersebut.

Tanpa membuang lebih banyak waktu dengan bertanya atau mencurigai tiga pria tadi, Luna memutuskan untuk ikut saja bersama mereka.

Asalkan bisa menemui Runa dan melihat adiknya itu baik-baik saja, Luna tidak perduli dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.

Luna dibawa oleh ketiga pria tadi berkendara cukup jauh menggunakan sebuah mobil mewah berwarna hitam.

Hanya ada keheningan yang menguasai perjalan panjangnya, karena baik Luna atau pun pria yang membawanya, tidak ada satu pun yang bicara.

Pikiran Luna kalut. Ia cemas bukan main, takut sesuatu yang buruk saat itu terjadi pada sang adik.

"Kita sudah sampai, Nona." Salah satu pria yang membawa Luna kembali angkat suara, membuat sekelumit lamunan yang ada di benak Luna buyar saat itu juga.

Dua di antara tiga pria tadi membukakan pintu mobil untuk Luna. Luna pun tanpa berpikir panjang langsung beranjak.

Namun, begitu kedua tungkainya mendarat di dataran aspal dan gadis itu langsung memendarkan pandangan, Luna dibuat terpana dan berdecak kagum.

Tepat di hadapannya, ada sebuah bangunan megah yang disekitarnya dikelilingi taman hijau dengan halaman yang begitu luas. Sebuah mansion bercatkan putih, jika Luna tidak salah terka.

Membayangkan dirinya hidup di sana, memiliki suami tampan dan mapan, hidup berkecukupan, tidak perlu lagi bersusah payah untuk bekerja, memikirkan uang sewa apartemen dan biaya hidup sehari-hari, pasti sangat menyenangkan.

"Ikuti kami, Nona." Suara pria tadi kembali mengudara, membuat Luna kembali tersadar dari angan-angannya.

Luna tentu sedikit terhenyak. Ia menoleh dan tersenyum kikuk sembaei menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak terasa gatal. "Apa adikku ada di dalam?"

"Ya. Ikut saja."

Luna mengangguk gamang. "Baiklah."

Menyingkirkan segala prasangka tidak baik dan perasaannya yang tiba-tiba tidak tenang, karena menyadari ada sesuatu yang sangat janggal, Luna pun mengikuti satu dari pria yang membawanya ke sana, menuntun dirinya memasuki mansion megah di hadapannya.

Manik mata Luna berbinar. Mulut kecil dengan bibir ranum itu menganga, selagi dirinya membiarkan pandangannya terpendar, menatap setiap kemegahan yang tersuguhkan di sana, membuat dirinya kagum bukan main.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Luna menginjakkan kaki di sebuah bangunan semegah ini.

Sebuah mansion yang di dalamnya dipenuhi dengan fornitur berkesan mewah dan mahal, unik dan juga aestetik.

Luna bahkan tidak pernah mengira jika tempat seperti ini, nyata adanya ... bukan hanya tergambar di film-film, atau pun diceritakan dalam buku yang suka sekali ia baca saat waktu luang.

"Nona, silahkan duduk di sini. Tuan Muda akan segera kemari untuk menemui anda nanti," tutur si pria yang menuntun Lunanmemasuki area ruang tamu megah yang dindingnya didominasi oleh warna abu gelap.

Luna pun mengangguk gamang dan mendudukan dirinya di sofa yang tertata rapi di sana, berusaha membuat dirinya merasa setenang mungkin.

Pandangannya tidak berhenti berpendar, menelisik setiap sudut ruang yang bisa tertangkap sejauh matanya memandang.

Kening Luna mengernyit keheranan. "Apa yang Runa lakukan di sini? Di tempat seperti ini?"

Tempat yang besar dan mewah layaknya sebuah istana, tidak pantas disebut hanya sebagai hunian belaka.

Di dalamnya bahkan banyak sekali penjaga, membuat Luna bertanya-tanya ... siapa gerangan sang pemilik dari tempat tersebut.

Jika saja dirinya tidak dengan sengaja dijemput dan diminta datang ke sana, Luna yakin ... tidak akan mudah baginya untuk masuk.

Penjagaan di sana sangatlah ketat. Setiap dirinya melewati ambang pintu yang menjadi penghubung antara ruang satu dan ruang yang lainnya, Luna bisa melihat selalu ada saja beberapa pria bertubuh kekar berjaga di sana.

"Silakan diminum, Nona."

Luna sedikit terhenyak, kala tiba-tiba saat itu ada seorang wanita paruh baya menyimpan segelas minuman di meja yang ada di hadapannya.

Luna menoleh, lalu tersenyum. "Terima kasih."

Wanita paruh baya yang Luna yakini merupakan salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di sana, membungkukan sedikit tubuhnya sekilas sambil membalas senyum Luna. "Kehormatan bagi saya, Nona."

"Umm, permisi Nyonya ... kapan saya bisa menemui adik saya?" Luna bertanya dengan penuh sopan santun.

Namun, kemudian Luna merasa bingung, karena wanita paruh baya tersebut, sepertinya sama sekali tidak mengerti dengan apa yang baru saja ia tanyakan.

"Adik?"

Luna mengangguk dengan lugunya. "Iya. Saya datang kemari karena adik saya yang memintanya."

"Maksud Nona, Tuan Saga, adalah adik Nona?"

Kening Luna mengernyit samar. Ia kebingungan. "Tuan Saga? Siapa dia?"

Wanita paruh baya itu telihat menengadahkan pandangan beberapa saat, membuat Luna yang menatap nanar dirinya pun seketika mengikuti.

Pandangan wanita paruh baya tadi tertuju ke arah trali besi pembatas lantai dua, seperti tengah melihat seseorang.

Namun, pada saat Luna menoleh ke sana, gadis itu sama sekali tidak melihat siapapun ada di lantai dua tersebut.

"Saya permisi dulu, Nona." Tiba-tiba beliau berpamitan dan berlalu dari sana, kembali meninggalkan Luna bersama dengan kebingungan yang mengungkungi relung.

Luna menatap nanar sosok wanita paruh baya tersebut yang perlahan menjauh dan menghilang dari pandangannya, tertelan jarak dan terhalang dinding pembatas. "Aneh," hardiknya.

Pandangan Luna kemudian tertunduk. Ia menelan ludahnya dengan susah payah selagi membiarkan manik matanya menatap secangkir minuman yang ada di hadapannya. Asap mengepul dari sana. Aroma teh menyeruak, memenuhi indra penciuman Luna.

Luna berusaha mati-matian untuk menahan rasa ingin untuk menenggak minuman tersebut saat itu juga.

Teh hangat, memang selalu menjadi penggoda terkuat bagi Luna kala dirinya merasa butuh waktu untuk merileks'kan tubuh selepas seharian bergelut dengan pekerjaan.

Rutinitas Luna setiap sore atau malam, begitu ia selesai membersihkan diri, ia selalu duduk di balkon apartemennya, membaca buku sambil menikmati secangkir teh hangat.

Hal itu dirasanya selalu mempu membuat rasa lelah dan stress hilang dan tergantikan dengan rasa tenang.

"Kau bisa meminumnya. Tidak perlu ragu," bisik seorang pria tampan yang Luna tak ketahui keberadaannya, sedari tadi memperhatikan setiap gerak-geriknya dari lantai dua.

Salah satu sudut bibir pria yang bukan lain merupakan Sagara Tyson Murphy, menukik, membuat seringaian ngeri terpatri dengan sempurna, tatkala manik jelaganya yang beruara dingin mengintimidasi itu, menatap sosok Luna yang akhirnya menyerah dan menyesap secangkir teh yang sudah disiapkan di hadapannya.

"Bagus. Memang seperti itu seharusnya. Teh itu memang disediakan khusus untukmu, Aluna Jaylee Morris ... my bed buddy untuk malam ini."

Bab 3

Setengah jam lamanya Luna menunggu, tetapi tidak ada satu pun manusia yang datang ke sana untuk menemuinya.

Luna mulai gelisah. Gadis cantik itu tidak enak diam. Di keningnya, bahkan sudah terlihat peluh mengembun.

Ada yang salah dengan tubuh Luna. Debar jantung gadis itu bertempo cepat, tak terelakan.

Tubuhnya mulai gemetar. Luna tidak bisa lagi hanya duduk diam di sana lebih lama, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi sang adik, guna mendapatkan sebuah kepastian.

Suhu ruangan di sana padahal cukup dingin, tetapi Luna tiba-tiba merasa gerah luar biasa. Deru napasnya menjadi berat, terengah-engah.

Luna menjambak rambutnya sendiri dengan geram selagi menunggu sang adik memberikan jawaban.

"Runa, kau di mana?!" pekik Luna di sela perasaannya yang tidak tenang, mengawali permbicaraan begitu sambungan panggilan suara yang ia lakukan dengan Runa, dijawab.

Luna tiba-tiba berdiri dari duduknya dan memendarkan pandangan. Gadis cantik itu mendekatkan kakinya, rapat-rapat sembari mencengkram geram piyama yang saat itu ia kenakan.

"Aku sudah pulang. Aku sudah di rumah," tukas Runa dengan santainya.

Luna kembali mendudukan diri sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Gadis cantik itu mendongakan kepala, membiarkan manik matanya menatap langit-langit di atas sana.

Deru napas Luna memburu. Area dadanya naik turun dalam tampo yang cukup cepat. Jantungnya berdebar semakin gila cepatnya.

"Kau sudah pulang? Kapan?"

"Baru saja. Sudah, ya. Aku lelah. Aku ingin tidur."

Sambungan panggilan suara itu pun berakhir begitu saja setelah Runa di sebrang sana merampungkan perkataannya.

Namun, Luna tidak protes sama sekali. Ia bahkan dengan pasrahnya hanya membiarkan tangan yang menahan ponselnya terkulai, jatuh di samping tubuhnya.

Peluluk mata Luna mulai berat, bahkan sudah terbuka dan tertutup secara berulang dalam tempo yang begitu cepat.

"Damn it! Apa yang salah denganku?!" jerit Luna, merasa benar-benar geram pada tubuhnya yang tiba-tiba sulit diajak berkompromi.

Tanpa sadar, kedua tangan gadis itu terangkat, mulai membuka kancing piyama yang ia kenakan.

Tubuh Luna masih terkulai di sana, duduk - setengah berbaring di sofa. Pelupuk matanya saat itu memejam.

Luna menggigit bibir bawahnya kala merasakan sensasi aneh semakin kuat, menjalari seluruh tubuhmnya.

Tubuhnya gerah. Perasaan gadis itu semakin resah, tidak menentu. Berulang kali Luna mendesah, melosokan deru napas kuat melalui rongga mulutnya.

Rasanya sangat tidak nyaman, sampai Luna yakin ... jika terus seperti ini, ia bisa menangis di sana kapan saja, kemudian menjadi gila.

"Farel, aku butuh Farel," gumam Luna sembari membiarkan salah satu tangannya meraba-raba permukaan sofa yang ia duduki, guna mencari ponselnya.

Luna merengek kesal sembari mengernyitkan wajah. Tubuhnya semakin aneh dan Luna tidak bisa mengendalikannya.

"Kenapa kau butuh pria lain, saat aku ada di sini, Sweety?" tukas Saga, menggoda.

Saga yang sedari tadi hanya memperhatikan Luna dari kejauhan, akhirnya memutuskan untuk menghampiri gadis cantik itu dan duduk tepat di sampingnya.

Luna sudah benar-benar kehilangan fokus pada apa yang terjadi di sekitarnya. Seluruh fokusnya saat ini hanya tertuju pada tubuhnya yang gelisah dan resah, tidak enak diam.

Gadis cantik itu bahkan sesekali menggeliat sembari merapatkan kaki dan mencengkram geram pangkuan.

"Ka-kau siapa?" Luna bertanya di sisa-sisa akal sehatnya.

Kepala Luna pening, apa yang saat itu ia lihat seperti berputar-putar, hingga ia memutuskan untuk memejamkan pelupuk matanya yang memang sudah berat.

Tubuhnya resah. Perasaannya tidak karuan, tetapi di saat yang bersamaan ... rasa kantuk pun mulai menyerang.

Hal itu sukses membuat Luna benar-benar hampir gila. Akal sehatnya mulai terkikis. Sesekali ia merengek kesal, bahkan hampir menangis.

Namun, sepertinya di sisi lain, Saga justru menikmati. Ia hanya duduk diam di sana tanpa mengalihkan pandangan, hanya menatap sosok Luna yang tidak bisa tenang.

Pandangan Saga kemudian menunduk, menatap telapak tangan Luna yang meremat kuat permukaan sofa.

Saga menyeringai. Ia mengulurkan tangan, menyentuh lembut punggung tangan Luna dengan pergerakan menggoda.

Luna sempat terhenyak dengan kontak pisik yang dilakukan Saga tersebut, tetapi ... kemudian ia mendadak terlihat sedikit tenang, seakan menikmati apa yang Saga lakukan.

Tatapan Saga mulai menjalar, menatap sosok Luna dari ujung kaki, hingga ujung kepala. Melihat kancing piyama gadis cantik itu sudah terbuka sebagian, membuat bra hitam dan lekukan dadanya terlihat.

"Kau ingin aku membantumu, Babygirl?" bisik Saga, menggoda.

Luna menelan ludahnya dengan susah payah. Tubuhnya masih tidak mau diam, terutama area pangkuannya.

Salah satu tangan gadis cantik itu menekan area sensitifnya kuat-kuat, mencoba meredam sensasi menggelitik yang baginya sangat aneh dan baru kali ini ia rasakan.

Saga mendekat ke arah Luna, mengikis segala jarak yang terbentang, hingga bibir ranumnya menyentuh daun telinga Luna, membuat deru napas panasnya menyapu permukaan kulit gadis itu, hingga sekujur tubuhnya meremang.

Telapak tangan Saga mengusap lengan Luna dengan pergerakan menggoda, membuat Luna semakin hilang akal karenanya.

"Just say you want me and i promise to give you what you need, Baby ...." bisik Saga lagi, menggoda. (Katakan saja kau menginginkanku dan aku berjanji untuk memberikan apa yang kau butuhkan."

Ujung jemari jenjang dari telapak tangan Saga tidak mau diam, hingga terus menjalar, memberi sentuhan lembut dan menggoda hingga ke area leher dan dada Luna, bergerak melingkar di sana.

Semakin lama Saga menyentuhnya, semakin kuat pula sensasi gerah dan resah menjalari seluruh tubuh Luna, terutama bagian sensitifnya yang mulai berdenyut, tidak nyeri ... tapi merasa ingin sekali disentuh dan dijamah.

Tidak hanya tangan, wajah Saga pun terus mendekat, menelusup ke arah leher jenjang Luna, mengendus aroma feromon yang memabukan.

Embusan napas hangat Saga menyapu permukaan kulit Luna, membuat gairah yang sedari tadi mendesak, terus memuncak dalam tubuh gadis cantik itu.

Setiap sentuhan yang Saga lakukan, sukses membuat Luna ingin merasakan lebih dan lebih lagi, sementara matanya ia biarkan untuk memejam.

Akal sehatnya sudah tidak lagi tersisa. Luna akhirnya pasrah, membiarkan gairah laknat itu menguasai tubuhnya, bersamaan dengan rasa frustrasi yang ia rasakan.

Tangan Luna pun ikut bergerak, meraba tubuh Saga, mencengkram kerah pakaian yang pria itu kenakan, lalu menariknya mendekat.

Saga menyeringai, penuh kepuasan, terutama saat akhirnya bibir ranumnya mendarat sempurna, di bibir tipis Luna.

Bibir mereka bertaut dan saling memberi lumatan bergairah dengan tempo yang saling mengimbangi, terkesan sedikit kasar dan memaksa, tapi Saga merasa tidak keberatan sama sekali, karena pada dasarnya, hal itulah yang sedari tadi sudah ia tunggu-tunggu.

Tubuh Luna menggeliat di bawah kungkungan Saga, terutama saat tangan Saga mulai bergerak nakal, menjamah tubuhnya yang resah.

Selagi membiarkan bibirnya bertaut, Saga meremat gemas pinggang ramping gadis itu dengan salah satu telapak tangannya yang besar.

Sementara tangan lainnya bergerak menggoda, memberikan usapan lembut di area pangkuan Luna, membuat celananya agak tersingkab.

Kedua tangan Luna melingkar di leher Saga, memberitanda bahwa ia ingin lebih lagi, lebih intim daripada sentuhan dan kedekatan yang saat ini tengah terjadi.

Sebuah lenguhan laknat mencuat, berhasil lolos dari mulut Luna kala Saga mulai menjamah area leher jenjang dan dadanya dengan bibirnya, memberi kecupan basah, lumatan dan hisapan lembut di sana, meninggalkan bercak merah.

Saga berhenti, kemudian menatap wajah gelisah Luna dengan tatapan lekat nan dingin. Bibirnya lalu merenggang, mengulas senyum sinis. "Mari lanjutkan sesi pemanasan menuju inti permainan di kamarku, Baby."

Luna merengek kesal. Wajah cantiknya mengernyit. Sementara Saga tersenyum puas melihat gadis cantik di hadapannya itu begitu berhasrat akan sentuhannya.

Tidak ingin membuang lebih banyak waktu, Saga pun akhirnya memutuskan untuk mengangkat tubuh Luna dengan kedua lengannya, membawa gadis itu ke salah satu kamar terdekat.

Saga menurunkan tubuh Luna ke tempat tidur membiarkan manik jelaganya menatap sosok Luna dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan penuh nafsu yang sudah begitu membara.

Mungkin Saga tahu, bahwa tindakan yang saat ini ia lakukan memang sangatlah salah, tetapi ... jika ia perduli, ia pasti tidak akan menjebak Luna sejak awal.

Sekarang ... segalanya sudah terlanjur terjadi. Tidak ada kata mundur di kamus Saga, terlebih lagi ... setelah dirinya melewati sesi pemanasan dengan Luna, ia merasa bahwa dirinya tidak bisa berhenti begitu saja.

Sudah terlanjur basah, kenapa tidak menceburkan diri sekalian? Dari pada berhenti, Saga memilih untuk melanjutkan.

"Please...," lirih Luna, setengah merengek sembari menatap Saga dengan puppy eyesnya.

Akal sehat gadis cantik itu sudah benar-benar hilang, yang tersisa dalam tubuhnya hanyalah hasrat yang membara akan sentuhan Saga, tidak ada hal lain lagi yang ia perdulikan.

Saga menyeringai penuh kepuasan. Rasanya sangat menyenangkan, melihat seseorang yang ingin ia hancurkan, tidak memiliki keberdayaan.

Pria tampan itu kemudian kembali mengungkungi tubuh Luna, memastikan bahwa jarak wajahnya dan wajah Luna berada dalam posisi sedekat mungkin, tetapi tidak saling bersentuhan.

Namun, kemudian tiba-tiba Luna melingkarkan kedua lengannya di leher Saga, membawa Saga mendekat dan kembali membiarkan bibir mereka saling bertaut.

Saga melepaskan pagutan, membiarkan mulutnya menjalari tubuh Luna, mengecup hingga menyesap dan meninggalkan banyak bercak merah. "Kau yang meminta, jadi jangan harap aku berhenti."

Malam itu menjadi saksi, betapa bejatnya lelaki bernama Sagara Tyson Murphy, menjebak gadis malang hanya demi melampiaskan kemarahannya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED