Hari-hari setelah pertemuannya dengan Leon, Naya merasa hidupnya mulai berubah. Pikiran tentang Leon terus mengganggu dirinya. Pria itu muncul di benaknya pada saat-saat tak terduga-di tempat kerja, saat ia pulang, bahkan dalam mimpinya. Semakin ia mencoba melupakan, semakin sulit baginya untuk tidak memikirkan Leon.
Ada sesuatu tentang dirinya yang tak bisa diabaikan. Sikapnya yang dingin, cara bicaranya yang tenang namun penuh misteri, dan tatapan mata yang seolah bisa menembus dirinya membuat Naya tergila-gila. Tapi ia juga tahu, perasaan itu tidak sepenuhnya normal. Ada peringatan halus di dalam dirinya, suara kecil yang berbisik bahwa pria ini bukanlah orang yang aman untuk didekati.
Beberapa hari kemudian, Leon menghubunginya. "Kita bertemu di kafe dekat hotel pukul 7. Aku harap kau datang." Pesannya singkat, tapi penuh keyakinan. Naya menatap layar ponselnya sambil ragu, tetapi tanpa disadari, tangannya sudah mengetik balasan: "Baik."
Malam itu, Naya tiba di kafe seperti yang dijanjikan. Ia mengenakan gaun sederhana namun anggun, sedikit lebih rapi daripada biasanya. Di sudut kafe, Leon sudah duduk dengan tenang, mengenakan kemeja hitam yang pas di tubuhnya. Wajahnya terlihat sama memikat seperti malam pertama mereka bertemu, namun ada sesuatu yang lebih dalam, lebih kelam di balik sorot matanya.
"Naya," sapanya, tatapan matanya langsung mengunci pada dirinya. "Aku senang kau datang."
Naya tersenyum tipis, berusaha menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba berdebar kencang. "Aku penasaran kenapa kamu mengundangku."
"Karena aku ingin mengenalmu lebih baik," jawab Leon tanpa basa-basi, "dan mungkin juga karena aku ingin kau mengenalku."
"Aku sudah tahu sedikit tentangmu," ucap Naya, mencoba membuka pembicaraan dengan ringan. "Tapi aku merasa masih banyak yang kamu sembunyikan."
Leon mengangguk pelan. "Benar. Ada banyak hal tentangku yang mungkin lebih baik tidak kau ketahui. Tapi aku tak ingin berbohong padamu, Naya. Dunia tempatku berasal bukanlah tempat yang mudah atau indah."
Naya merasakan hawa dingin menyelimuti dirinya. "Apa maksudmu?"
Leon diam sejenak, memandang Naya dengan tatapan tajam. "Aku menjalankan bisnis yang mungkin tidak kau setujui. Ada sisi gelap dalam hidupku, Naya. Sesuatu yang tidak bisa kubagikan begitu saja. Dan jika kau terlibat denganku, kau juga akan terseret ke dalamnya."
Naya menggigit bibirnya, mencoba mencerna kata-kata Leon. Di satu sisi, ketakutan mulai merayap di benaknya. Leon tidak pernah memberikan banyak detail, tapi dari caranya berbicara, jelas bahwa dia bukan sekadar pengusaha biasa.
"Kau... mafia?" Naya akhirnya bertanya, suaranya hampir tak terdengar.
Leon menghela napas, senyumnya tipis namun penuh arti. "Sebutan itu sudah sering kudengar, tapi ya, kau bisa menyebutnya begitu."
Naya terdiam, hatinya bergetar mendengar pengakuan itu. Sebagian dari dirinya ingin segera berdiri dan pergi. Tapi entah mengapa, ia tetap duduk di sana. Mungkin karena pesona Leon, atau mungkin karena rasa penasaran yang membara di dalam dirinya.
"Kenapa kau memberitahuku semua ini?" tanyanya dengan suara bergetar. "Kau bisa saja menyembunyikannya."
"Karena aku ingin jujur padamu, Naya. Aku ingin kau tahu risiko yang kau hadapi jika terus bersamaku. Aku tidak bisa menjanjikanmu kehidupan yang normal atau aman. Dunia di sekitarku penuh bahaya, pengkhianatan, dan kekerasan."
Naya memandang Leon dalam-dalam. Mata pria itu penuh dengan kesungguhan, seolah-olah ingin melindunginya sekaligus menantangnya untuk menerima kenyataan. "Lalu, kenapa aku?"
"Karena kau berbeda. Kau membuatku merasa... manusiawi. Dalam dunia gelapku, kau seperti cahaya," jawab Leon, suaranya rendah namun penuh emosi yang dalam. "Tapi aku juga tahu bahwa dengan mendekat padamu, aku bisa membahayakanmu."
Kata-kata Leon membuat Naya semakin bingung. Hatinya terombang-ambing antara rasa takut dan keinginan untuk tetap dekat dengan pria ini. Pesonanya begitu kuat, bahkan ketika ia tahu bahwa setiap langkah yang ia ambil bersama Leon bisa membawanya ke dalam bahaya.
"Aku tidak tahu apakah aku bisa menjalani hidup seperti itu," Naya berkata jujur, matanya berkabut dengan rasa ragu.
Leon menatapnya dengan lembut, namun ada kegelapan di matanya. "Aku tidak akan memaksamu. Kau bebas memilih. Tapi jika kau memilih untuk tetap bersamaku, kau harus siap menghadapi semua itu."
Naya terdiam. Ia tahu Leon tidak mengada-ada. Dunia mafia adalah dunia yang penuh bahaya, dan cinta kepada pria seperti Leon akan mengorbankan banyak hal. Tapi ada sesuatu dalam dirinya yang tidak bisa membiarkannya pergi begitu saja.
"Aku belum tahu," kata Naya akhirnya, "Tapi aku ingin tahu lebih banyak tentangmu, Leon. Aku ingin mengerti siapa dirimu."
Leon tersenyum samar, seolah sudah menduga jawabannya. "Kau akan mengetahuinya, Naya. Tapi semakin kau mengenal diriku, semakin besar risiko yang kau ambil."
Malam itu, Naya meninggalkan kafe dengan hati yang semakin bimbang. Di satu sisi, Leon telah memperingatkannya dengan jujur tentang bahaya yang mengintai. Namun di sisi lain, pesona Leon terlalu kuat untuk diabaikan. Dan meskipun ia tahu ada sisi gelap dalam diri Leon yang bisa menghancurkannya, Naya tak bisa mengelak dari daya tarik pria itu.
Tanpa sadar, ia sudah melangkah lebih jauh ke dalam dunia Leon-sebuah dunia yang penuh dengan pesona berbahaya.
Malam semakin larut ketika Naya melangkah keluar dari kafe. Hawa malam yang sejuk seharusnya menenangkan pikirannya, tetapi justru membuatnya semakin resah. Percakapan dengan Leon berputar-putar di benaknya. Ia tahu, pesona Leon seperti pisau bermata dua-menggoda, tapi bisa melukai dengan dalam.
Tiba-tiba, suara mobil mendekat, membuat Naya terhenti. Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depannya.
Kaca jendela perlahan turun, dan Leon menatapnya dari dalam mobil dengan ekspresi yang tenang.
"Naya, biar kuantar pulang," katanya tanpa memberikan ruang untuk penolakan.
Naya ragu sejenak, tetapi akhirnya mengangguk. Meskipun ada peringatan di dalam benaknya, ia tak bisa menolak tawaran itu. Ia membuka pintu dan masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil, suasana terasa lebih tegang. Naya duduk diam, sementara Leon mengemudi dengan tenang. Mereka tak berbicara selama beberapa menit, hanya terdengar suara mesin mobil dan gemericik hujan yang tiba-tiba turun.
Setelah beberapa saat, Leon memecah kesunyian. "Apa yang kau pikirkan?"
Naya terdiam sesaat, menatap ke luar jendela. "Aku masih memikirkan apa yang kau katakan tadi. Tentang dunia gelapmu."
Leon mengangguk, matanya tetap fokus pada jalan. "Aku tak akan memaksamu untuk menerima semuanya. Tapi kau perlu tahu bahwa dunia ini bukan tempat bagi orang-orang yang lemah."
Naya menoleh, menatap Leon dengan tajam. "Kau pikir aku lemah?"
Leon tersenyum tipis, tapi ada keseriusan dalam matanya. "Aku tidak pernah meremehkanmu, Naya. Justru sebaliknya. Kau kuat, lebih dari yang kau sadari. Tapi kuat saja tidak cukup untuk bertahan dalam dunia yang kujalani."
"Kau mengatakannya seperti aku harus memilih untuk bertahan hidup," Naya menjawab dengan nada tak percaya.
"Karena itulah kenyataannya," balas Leon cepat. "Dunia mafia bukan sekadar soal kekayaan dan kekuasaan. Ini soal bertahan. Dan kadang, kau harus melakukan hal-hal yang tak terbayangkan hanya untuk tetap hidup."
Naya menggigit bibirnya, merasakan ketegangan yang semakin merayap ke dalam dirinya. Kata-kata Leon penuh dengan kesan ancaman, seolah-olah ia telah memberikan peringatan terakhir sebelum Naya benar-benar tenggelam ke dalam dunia yang ia sendiri tak bisa pahami.
"Aku mengerti kalau kau ingin melindungiku, tapi..." Naya menghela napas dalam-dalam, "Kenapa aku? Kenapa kau ingin aku terlibat dalam duniamu?"
Leon menatapnya sejenak sebelum kembali fokus ke jalan. "Aku tidak ingin kau terlibat, tapi aku tidak bisa menahan diri. Kau membuatku merasakan sesuatu yang sudah lama hilang. Sesuatu yang nyata."
Naya terdiam mendengar pengakuan itu. Ada kejujuran dalam suara Leon yang sulit dijelaskan. Di balik kedinginan dan pesona gelapnya, ada sisi manusiawi yang selama ini tersembunyi.
"Apa kau pernah jatuh cinta sebelumnya, Leon?" tanya Naya tiba-tiba, suaranya nyaris berbisik.
Leon tampak terkejut dengan pertanyaan itu. Bibirnya tersenyum, tapi tatapan matanya menjadi lebih suram.
"Cinta... bukan hal yang biasa dalam hidupku, Naya. Aku tidak bisa mengizinkan diri untuk merasakannya. Terlalu banyak risiko. Terlalu banyak hal yang bisa hilang."
"Tapi sekarang?" desak Naya, matanya mencari jawaban di wajah Leon.
Leon terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab. "Sekarang, kau membuatku meragukan semua itu."
Kata-kata itu membuat Naya merasa aneh. Seolah-olah dia adalah kekuatan yang mampu mengubah sesuatu yang selama ini tak tersentuh oleh siapa pun. Tapi bersamaan dengan itu, ada perasaan takut. Jika bahkan Leon, dengan semua kekuatannya, mulai merasa goyah, apa yang akan terjadi pada mereka?
"Kau sadar ini semua tidak masuk akal, kan?" Naya berkata pelan, hampir tertawa sarkastis pada dirinya sendiri. "Aku seharusnya lari sejauh mungkin darimu. Kau adalah bahaya."
Leon tertawa kecil, tapi tawanya terdengar getir. "Ya, kau benar. Aku bahaya. Tapi kau di sini, di dalam mobil ini bersamaku."
"Kau menarikku seperti gravitasi," Naya mengaku tanpa bisa menahan diri lagi. "Dan itu yang paling menakutkan. Aku tahu seharusnya aku menjauh, tapi aku tidak bisa."
Leon menoleh padanya, kali ini tatapannya lebih lembut. "Aku juga tidak bisa menjauh darimu, Naya. Itu sebabnya kita di sini."
Mereka terdiam, membiarkan kata-kata itu menggantung di udara. Hujan semakin deras di luar, tetapi di dalam mobil, suasana terasa begitu intim, seolah-olah hanya ada mereka berdua di dunia ini.
Namun, di balik keheningan itu, Naya tahu bahwa apa yang baru saja mereka akui satu sama lain adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih gelap dan rumit. Cinta ini tidak akan sederhana, dan setiap langkah ke depan hanya akan membawa mereka lebih dalam ke dalam bahaya yang mengintai.
Saat mobil berhenti di depan apartemen Naya, Leon menatapnya sekali lagi. "Kau masih punya waktu untuk berpikir, Naya. Tapi begitu kau memutuskan, tidak ada jalan kembali."
Naya menatap Leon dalam-dalam, merasakan ketegangan yang luar biasa di dadanya. Ia tahu Leon tidak bercanda. Pilihannya malam ini akan menentukan segalanya.
"Aku butuh waktu," ucap Naya akhirnya, suaranya hampir bergetar.
Leon mengangguk pelan, kemudian meraih tangannya dengan lembut. "Ambil waktu sebanyak yang kau butuhkan. Tapi ingat, aku tidak akan menunggu selamanya."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Leon melepaskan tangannya dan Naya keluar dari mobil. Saat ia melangkah ke pintu apartemennya, hujan yang turun membasahi wajahnya, tapi tidak cukup untuk meredakan badai di dalam hatinya.
Di belakangnya, mobil Leon melaju pergi, meninggalkan jejak ketidakpastian yang semakin dalam di dalam diri Naya. Pesona berbahaya Leon telah memenjarakan hatinya, dan kini, ia harus memilih apakah akan mengikuti perasaannya atau berlari dari bahaya yang semakin mendekat.
Bersambung...
Pagi itu, Naya duduk di meja kerjanya dengan pikiran yang kacau. Sejak pertemuan terakhirnya dengan Leon, rasa resah tak kunjung hilang. Di satu sisi, perasaannya terhadap Leon semakin mendalam, tetapi di sisi lain, ada ketakutan yang tak bisa diabaikan. Bayangan kata-kata Leon, tentang dunia gelap dan bahaya yang mengintai, terus menghantuinya.
Seperti biasa, Naya mencoba mengalihkan pikirannya dengan pekerjaan, tetapi tidak berhasil. Setiap kali dia melihat ponselnya, hatinya berdebar. Ia berharap ada pesan dari Leon, meskipun sebagian besar dirinya tahu bahwa lebih baik menjauh.
Sore itu, Sara, sahabatnya, mengajak Naya untuk makan siang di sebuah restoran kecil di pusat kota. Naya setuju, berpikir bahwa menghabiskan waktu bersama temannya mungkin bisa mengalihkan pikiran tentang Leon.
"Jadi, bagaimana dengan pria misterius itu?" tanya Sara dengan nada penuh rasa ingin tahu setelah mereka memesan makanan. "Leon, kan namanya? Apa kalian masih bertemu?"
Naya tersenyum canggung, merasa sedikit gelisah. "Ya, kami masih bertemu. Tapi... aku nggak yakin harus ke mana ini semua."
Sara mengerutkan kening, menatap Naya dengan serius. "Apa maksudmu? Ada yang aneh?"
Naya terdiam sejenak, lalu memutuskan untuk membuka diri. "Dia... tidak seperti yang kukira. Dia bilang ada sisi gelap dalam hidupnya, sesuatu yang berbahaya."
Sara terdiam mendengar pengakuan Naya. "Apa maksudnya? Apa dia bilang dia terlibat dalam sesuatu yang ilegal?"
Naya menggigit bibirnya, merasa ragu untuk menceritakan lebih banyak. "Dia bilang dunia yang dia jalani tidak aman, dan kalau aku ingin tetap bersamanya, aku harus siap menghadapi bahaya."
Sara menatap Naya dengan cemas. "Naya, kamu harus berhati-hati. Pria seperti itu biasanya tidak membawa hal-hal baik."
Naya tahu Sara benar, tapi ada sesuatu yang membuatnya sulit untuk melepaskan diri. Pesona Leon begitu kuat, dan meskipun ia tahu bahaya itu nyata, hatinya seolah mengabaikan semua tanda-tanda peringatan.
Beberapa hari kemudian, Naya memutuskan untuk tidak menemui Leon. Ia butuh waktu untuk berpikir, untuk menjernihkan kepalanya. Namun, takdir tampaknya punya rencana lain.
Sore itu, Naya keluar dari kantor lebih awal untuk bertemu klien di sebuah kafe. Ketika dia melangkah ke luar, pandangannya tertuju pada sebuah mobil hitam yang familiar-mobil Leon. Mobil itu terparkir di sudut jalan, namun Leon tidak ada di dalamnya.
Rasa penasaran membawanya lebih dekat, dan tanpa sadar Naya mengikuti perasaannya, berharap menemukan jawaban tentang siapa Leon sebenarnya. Ketika ia melangkah ke sebuah gedung tua di dekat sana, pintu belakang terbuka sedikit. Tanpa berpikir panjang, Naya masuk, bersembunyi di balik dinding untuk menghindari terlihat oleh siapa pun.
Saat itulah ia mendengar suara yang dikenalinya-Leon. Suaranya tenang, tapi penuh dengan otoritas.
"Kita tidak punya waktu banyak. Aku ingin semua transaksi selesai minggu ini. Pastikan semuanya bersih, jangan sampai ada kesalahan."
Naya merasa napasnya tertahan. Suara Leon terdengar tegas dan dingin, berbeda dari cara bicaranya saat mereka berdua berbicara. Rasa penasaran Naya berubah menjadi ketakutan.
"Leon, apa kita yakin ini langkah yang aman?" suara pria lain bertanya.
Leon menghela napas panjang. "Aku tidak peduli soal aman atau tidak. Kita sudah terlalu dalam. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merusak rencana ini. Kalau ada yang mencoba, mereka tahu akibatnya."
Suara Leon yang begitu tegas dan dingin membuat darah Naya berdesir. Ada sisi lain dari pria ini-sisi yang belum pernah ia lihat. Naya perlahan mundur, berusaha keluar dari tempat itu sebelum ada yang melihatnya.
Namun saat ia berbalik, ia menabrak sesuatu-atau seseorang.
Pria itu menatapnya dengan tajam, matanya penuh curiga. "Siapa kamu?" tanyanya dengan nada dingin.
Naya merasa jantungnya berhenti sejenak. "Aku... aku hanya lewat," jawabnya terbata-bata.
Sebelum pria itu sempat bertindak lebih jauh, Leon muncul di belakangnya. Matanya langsung terfokus pada Naya, dan wajahnya berubah dari terkejut menjadi penuh amarah. "Naya?"
Pria yang menahan Naya segera melepaskannya, menyadari siapa dia. Tapi Leon tak memindahkan tatapannya dari Naya. "Apa yang kau lakukan di sini?"
Naya merasa kakinya lemas. "Aku... aku tidak tahu. Aku hanya kebetulan lewat."
Leon melangkah maju, menatap Naya dalam-dalam. "Kau tidak seharusnya berada di sini. Ini bukan tempat yang aman untukmu."
"Leon, apa ini semua?" Naya akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. "Siapa kau sebenarnya?"
Leon menghela napas panjang, tatapannya tidak berubah. "Aku sudah memperingatkanmu, Naya. Dunia ini gelap, penuh bahaya. Dan sekarang kau sudah terlalu dekat."
Naya merasa dunianya runtuh. Ia telah menduga, tetapi mendengar pengakuan Leon secara langsung membuat segalanya terasa nyata dan mengerikan. "Jadi, kau benar-benar... bos mafia?"
Leon tidak menjawab, tapi tatapannya cukup untuk menjelaskan segalanya. Naya merasa seluruh tubuhnya gemetar. "Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya sejak awal?"
"Aku ingin melindungimu," jawab Leon dengan suara yang lebih lembut. "Tapi sekarang kau sudah tahu, Naya. Aku tidak bisa menyembunyikan apa pun darimu lagi."
Naya menelan ludah, bingung dan takut. Perasaannya bercampur aduk-cinta yang semakin dalam, tetapi juga ketakutan yang tak bisa diabaikan. "Apa kau benar-benar berpikir aku bisa tetap di sisimu setelah mengetahui semua ini?"
Leon mendekat, suaranya rendah dan serius. "Aku tidak akan memaksamu untuk tinggal, tapi aku tidak bisa mengubah siapa diriku. Kau sudah masuk terlalu dalam, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu. Tapi keputusan ada di tanganmu."
Naya menatap Leon, hatinya penuh dengan kebingungan. Ia tahu Leon bukan pria biasa, tetapi sekarang semua kebenaran itu terlalu berat untuk dihadapi. Perasaan cintanya yang mendalam semakin membingungkannya. Meninggalkan Leon mungkin berarti menyelamatkan dirinya, tetapi itu juga berarti kehilangan pria yang telah mencuri hatinya.
Malam itu, Naya pergi dengan hati yang hancur, tetapi pertanyaan terbesar yang tersisa: apakah ia akan bisa melepaskan diri dari pesona mematikan Leon, atau justru semakin tenggelam dalam dunia gelap yang kini terungkap?
Naya keluar dari gedung tua itu dengan langkah gontai. Pikirannya kacau, hatinya terasa penuh sesak. Angin malam yang dingin menggigit kulitnya, tapi rasa dingin di hatinya jauh lebih menusuk. Dia berjalan tanpa arah, mencoba memproses semua yang baru saja terjadi. Leon, pria yang selama ini membuatnya merasa aman dan istimewa, ternyata adalah bos mafia. Semua rasa ketertarikan, perasaan yang tumbuh selama ini, tiba-tiba terasa asing dan menakutkan.
Telepon di tasnya bergetar. Dengan tangan gemetar, Naya mengeluarkannya dan melihat nama Leon di layar. Dia ragu sejenak, tapi akhirnya menekan tombol jawab.
"Naya, kau di mana?" suara Leon terdengar dari seberang, tenang, tapi ada ketegangan di baliknya.
"Aku... aku butuh waktu, Leon," jawab Naya, suaranya bergetar. "Aku tidak tahu harus bagaimana."
"Jangan pulang sendirian. Aku akan menjemputmu."
"Tidak, Leon. Jangan sekarang," Naya menyela dengan cepat. "Aku butuh waktu sendiri."
Hening. Naya bisa mendengar Leon menarik napas panjang. "Aku mengerti. Tapi aku tidak bisa membiarkanmu berjalan sendirian setelah apa yang terjadi."
"Leon..." Naya menelan ludah, suaranya pelan tapi tegas. "Aku butuh ruang. Tolong... biarkan aku sendiri."
Ada jeda panjang sebelum Leon akhirnya menjawab. "Baik. Tapi jika kau butuh sesuatu, kau tahu di mana mencariku."
Naya menutup telepon, hatinya terasa semakin berat. Dia tahu Leon tidak akan membiarkannya lepas begitu saja. Tapi yang paling mengganggunya adalah, apakah dia ingin benar-benar melepaskan Leon? Cinta itu ada, tetapi sekarang bayang-bayang bahaya tak pernah jauh.
Naya akhirnya sampai di apartemennya, tubuhnya terasa lelah baik fisik maupun mental. Dia langsung menuju kamar mandi, mencuci wajahnya dengan air dingin, berharap bisa menjernihkan pikirannya. Namun bayangan Leon terus terngiang di benaknya-kata-katanya, tatapan dingin yang disertai rasa peduli yang tak bisa dipungkiri.
Setelah mengganti pakaian, Naya duduk di tepi ranjang, memandangi ponselnya yang tergeletak di meja. Di kepalanya, pertanyaan terus bermunculan. Bagaimana mungkin ia bisa jatuh cinta pada seorang bos mafia?
Apakah cintanya benar-benar sepadan dengan semua risiko yang akan dihadapinya?
Pikiran Naya beralih ke percakapan mereka di mobil beberapa malam yang lalu. Leon mengatakan bahwa dunia ini berbahaya, bahwa dia tak bisa menawarkan keamanan atau kehidupan yang normal. Tapi waktu itu, Naya tidak pernah membayangkan sejauh ini.
Tok-tok-tok.
Suara ketukan di pintu mengejutkannya. Naya berjalan perlahan menuju pintu, jantungnya berdegup kencang. Dia tidak menunggu siapa pun, dan bayangan tentang Leon membuatnya lebih waspada.
"Naya, ini aku," terdengar suara Sara dari luar.
Naya menghela napas lega dan membuka pintu. Sara berdiri di depan pintu dengan ekspresi khawatir.
"Aku dengar kau keluar lebih awal tadi. Ada apa? Kau kelihatan tidak baik," kata Sara sambil masuk ke dalam apartemen.
Naya menutup pintu dan berusaha tersenyum, meskipun senyum itu tak sampai ke matanya. "Aku baik-baik saja, hanya sedikit lelah."
Sara menatapnya dengan penuh rasa curiga. "Jangan bohongi aku. Kau kelihatan seperti habis melihat sesuatu yang mengerikan. Ada apa sebenarnya?"
Naya terdiam, mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan kebenaran. Dia butuh seseorang untuk berbagi, dan Sara adalah sahabatnya. "Aku... aku menemukan sesuatu tentang Leon," katanya pelan, menunduk.
Sara duduk di sofa dan menatapnya dengan cemas. "Apa yang kau temukan?"
Naya menghela napas panjang sebelum akhirnya berbicara. "Leon... dia bukan pria biasa. Dia... bos mafia.
"
Wajah Sara berubah seketika. Matanya melebar, penuh keterkejutan. "Apa? Apa kau yakin?"
"Aku melihatnya sendiri, Sara," Naya menjawab dengan suara serak. "Aku mendengar dia berbicara dengan orang-orangnya. Mereka bicara tentang transaksi, tentang hal-hal yang tidak bisa dibenarkan. Semua ini nyata. Leon bukan pria biasa."
Sara terdiam sejenak, mencoba memproses informasi tersebut. "Oh Tuhan, Naya... Apa yang akan kau lakukan?"
Naya menggelengkan kepalanya, air mata mulai menggenang di matanya. "Aku tidak tahu. Aku mencintainya, tapi dunia ini terlalu gelap. Aku tidak yakin bisa hidup dengan semua ini."
Sara mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Naya dengan lembut. "Kau harus hati-hati. Orang seperti Leon tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja. Kalau kau sudah terlibat, mungkin ada bahaya yang lebih besar."
Naya menggigit bibirnya, menyadari kebenaran dari kata-kata Sara. Ia sudah terlalu jauh terlibat, baik secara emosional maupun fisik. Leon mungkin tidak akan pernah membiarkannya pergi, dan bahkan jika ia mencoba, bahaya yang mengintai mungkin lebih besar dari yang bisa ia bayangkan.
"Ini bukan sekadar cinta yang bisa kau putuskan begitu saja, Naya. Kau harus berpikir dengan hati-hati. Apa yang kau inginkan? Apa yang bisa kau tanggung?" Sara menambahkan dengan nada penuh keprihatinan.
Naya menatap sahabatnya, hatinya bergejolak. Dia tahu Sara benar, tetapi cinta ini bukan sesuatu yang bisa dia tinggalkan dengan mudah. Leon sudah menguasai hatinya, dan meskipun sekarang dia tahu kebenaran yang mengerikan, perasaan itu tidak hilang begitu saja.
"Aku butuh waktu untuk memikirkannya," jawab Naya akhirnya. "Tapi satu hal yang pasti, hidupku tidak akan sama lagi setelah ini."
Sara memeluk Naya dengan erat, memberikan dukungan dalam keheningan. Naya merasakan kehangatan dari pelukan itu, tetapi di dalam hatinya, ketakutan dan kebingungan terus berkecamuk. Leon telah mengungkapkan sisi tergelap dari dirinya, dan kini, Naya harus memutuskan apakah dia akan tenggelam lebih dalam atau berjuang untuk keluar dari dunia yang penuh bahaya itu.
Bersambung...