Februari, 1997
Sepasang insan berjalan dimalam hujan. Di antara jalanan sepi. Dalam kebisuan kata, rintikan air di atas payung bergemuruh kecil menguasai ruang. Tak ada ucap, langkah kaki menuntun diri untuk terus berjalan. Di persimpangan jalan, hujan sedikit mereda. Sang gadis melirik si pemuda.
"Sampai sini saja, kak."
Dalam diam, mereka saling melempar senyum. Si pemuda mengambil lengan si gadis. Menautkan jemari mereka, tatap penuh mesra. Penuh arti.
Aku belum ingin berpisah. Ucap hati pemuda.
Aku masih rindu. Kata batin si gadis.
Mereka bergumul dalam batin, menelan semua kalimat yang ingin keluar. Mencari penyelesaian untuk hasrat yang menggebu, namun enggan mengungkapkan.
Tiba-tiba angin berembus kencang. Payung terpental, terhempas angin. Tempias mengguyur keduanya. Seketika hujan lebat kembali. Basah. Kuyup. Si pemuda yang berdiri di tepi, meloncat naik ke tengah teras. Mereka menggigil memeluk diri, dengan baju yang basah.
"Bagaimana ini? Baju kakak jadi basah semua ...." Lirih si gadis.
"Ah ... Benar. Dingin sekali ...." Jawab si pemuda.
"Masuk dulu kak, biar aku bantu keringkan dulu bajunya," tawar si gadis.
Menatap kikuk, si pemuda mengangkat kedua alisnya.
"Ah tidak! Maksudku ... Itu, di dalam ada baju kakakku . Pasti cukup di badan kakak. Ganti dulu biar gak masuk angin," tangkasnya.
Tersenyum penuh kemenangan, si pemuda tak repot-repot menolak tawaran itu. Berjalan gontai mengekori si gadis, pemuda itu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Rumah yang tampak mini malis di luar, namun elegan di dalamnya. Sofa empuk dengan bantal yang tertata rapi, lemari kaca yang penuh dengan cangkir dan teko antik, TV besar di tengah meja etalase. Seperti rumah idaman yang nyaman.
Seketika pemuda itu hanya terpikirkan satu hal. Rumah ini, seperti rumah yang dihuni oleh pasangan suami istri yang telah menjalani banyak hal dan melewati masa tua bersama. Penuh kenangan. Dan hangat.
“Aku ambil baju untuk ganti kakak dulu. Kakak keringkan badan dengan handuk ini,” Suruh si gadis.
“Toiletnya di sana kak. Nanti saya antarkan bajunya,” tambahnya.
Bukannya menjawab, pemuda itu malah menatap dalam wajah gadis di hadapannya. Tanpa sadar jemarinya bergerak menyentuh poni tipis gadis itu, lalu menyelipkannya disela telinganya.
“Cantik ....” tanpa sadar pemuda bergumam mesra.
Gadis malu-malu menunduk, mengalihkan perhatian. Tetesan air terjatuh dari helaian rambutnya yang basah.
“Aku ganti baju dulu kak.”
“ah ... Iya, aku pun.”
***
Jam menunjukkan pukul 9 malam. Pemuda itu duduk bertumpang kaki di atas sofa empuk, dengan sebuah majalah dibacanya. Menunggu gadis yang sejak setengah jam yang lalu belum keluar juga dari kamarnya. Menarik nafas, pemuda itu mulai bosan. Ia pun mengeluarkan sebatang rokok Dji Sam Su yang tadi malam dibelikan si gadis. Menyulutnya, lalu menghisapnya dalam-dalam. Fuuh ... Asap pekat mengepul dari lubang hidung dan ia hembuskan dari mulutnya.
"Lama ya kak?" Tetiba gadis itu muncul dari belakangnya. Aroma tubuhnya yang segar dan wangi parfum buah-buahan tropis membuat pemuda itu seketika menelan ludah.
"Ah! Tidak juga ...." Tampik pemuda.
"Saya buatkan coklat hangat ya kak?" Tanyanya.
"Kopi saja," tawar si pemuda. Gadis itu pun menuju dapur.
Tak sampai lima menit, ia sudah kembali dengan dua cangkir yang mengeluarkan asap di atasnya. Satu cangkir kopi, dan satu cangkir coklat panas untuknya. Ia pun menghampiri si pemuda tanpa pinta ataupun titah. Lalu duduk di sampingnya. Kini, mereka sudah bersisian. Mengobrol hangat tentang ini itu. Tertawa riang, mencairkan suasana yang beku dan kaku. Sampai satu jam berlalu, dan topik sudah mulai habis. Gadis pun menawari si pemuda untuk menonton TV. Sambil menunggu hujan benar-benar reda, 'katanya'.
"Kalo malam acaranya lumayan seru," tambahnya. Pemuda tak menolak.
Hujan malam, ditemani kopi dan coklat hangat sambil menonton film horor berdua saja dengan gadis di rumahnya ... 'Sangat menyenangkan,' batin si pemuda.
Bukannya menonton film di TV, si pemuda justru hanya sibuk menatap wajah gadis disisinya. Mengagumi ciptaan tuhan yang manis dan cantik itu. Juga aroma tubuhnya yang mengganggu. Sensual, dan menggairahkan. Ketika ia sibuk menatapi wajah itu, tiba-tiba adegan film berubah menegangkan. Boneka hantu yang terlihat menyeramkan penuh darah muncul bersamaan dengan bunyi 'Jreng!' Yang menggelegar.
Gadis pun meloncat kaget, tanpa sadar merangkul tubuh si pemuda. Tak mau kehilangan momen, pemuda itu pun mengelus lembut punggung gadis yang membenamkan wajahnya itu di dadanya. Sekali lagi, si pemuda mendapat Jack pot.
Suara detak jantungnya melaju dengan frekuensi yang cepat. Dag! Dig! Dug! Terdengar oleh keduanya.
'Suara jantung siapa?' mereka bertanya dalam batin. Keduanya tak sadar mereka sudah membuka celah hasrat untuk segera masuk.
Lalu mereka saling mengunci tatap dalam diam. Tanpa kata. Tanpa jarak. Keduanya mulai hanyut. Seperti hipnotis yang mengendalikan diri, tubuh mereka bergerak dengan sendirinya. Mematikan kerja akal sehat untuk beberapa saat ke depan. Masa bodo dengan nanti. Hati mereka luluh, lemah. Hasrat gairah yang menggebu.
Perlahan saling mendekap, memeluk erat, dan mulai saling mendikte setiap inci tubuh satu sama lain. Untuk beberapa waktu hanya euforia yang menguasai seluruh indra mereka.
"Kak Anis ...." Si gadis berbisik lemah.
"Lara ... Aku mencintaimu," pemuda bernama Anis itu balas berbisik mesra.
***
Mentari pagi menyusup lewat celah gorden coklat tua. Hangat dan menyilaukan. Anis meregangkan tubuhnya yang kaku. Ujung kakinya yang dingin tersentuh cahaya mentari. Nyaman. Ia mengerjapkan kedua matanya, sementara pikirannya belum sadar sepenuhnya.
Saat kedua manik mata itu terbuka sepenuhnya, ia pun mengingat kembali potongan ingatan semalam seperti sebuah fuzzle yang perlahan tersusun rapi. Sontak ia bangkit, terduduk di atas ranjang yang asing baginya. Benar, tadi malam ia 'melakukannya' dengan Lara di sana.
Ia pun bangkit, tergesa ke arah pintu. Namun sebelum ia sampai ke dekat pintu, ia mundur kembali beberapa langkah. Menuju cermin, ia merapikan poni rambutnya dengan jemari lalu mengucek kedua matanya. Memastikan bahwa ia masih tampan seperti biasanya, meski belum mandi sekalipun. Setelah itu ia benar-benar meraih daun pintu, baru beberapa langkah ... Ia mendapati lara berdiri di hadapannya dengan sebuah nampan berisi sarapan. Nasi goreng, dan teh hangat.
“Kukira, kakak masih tidur ....” ujarnya canggung.
“Tidak. Sudah bangun kok.” Anis menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Dimakan dulu kak, nanti keburu dingin,” tambah Lara.
Lara menyantap sarapan pagi dengan khidmat, tak ada sepatah kata pun yang terucap. Hanya menunduk menatap setiap sendokkan nasi yang lalu mendarat dimulutnya. Pun Anis, namun bedanya, ia justru terlihat tegang. Beberapa kali ia hampir menjatuhkan sendok karna salah tingkah. Melihat tingkah Anis, Lara terkekeh kecil.
Sementara di luar udara pagi cerah dan sejuk, suasana hati Anis dan Lara tak bisa ditebak sama sekali. Lara banyak tersenyum meski tak menyiratkan arti dibaliknya. Sedangkan Anis tak terlihat senang atau pun sedih. Sesekali anis melirik jemari Lara, di sana sebuah cincin emas putih melingkar di jari manisnya.
***
“Kakak menghindariku?” lirih Lara sambil menatap wajah Anis yang terlihat agak tirus.
Warna gelap menggelayut di sekitar bawah matanya. Sudah pasti ia tidak tidur semalaman. Atau mungkin berhari-hari?
“Jadi benar kakak menghindariku?” sekali lagi Lara bergumam lirih.
Bukannya menjawab Anis membisu seribu kata. Menatap kosong ke luar jendela. Lara menemuinya di rumahnya setelah dua minggu tak bertemu dengan Anis sejak kejadian malam itu.
“Haah ....” Lara membuang nafas kasar sembari menghempaskan tubuhnya di kursi bambu.
Ia mengedarkan pandangan, melihat sekeliling isi rumah Anis. Di sana sangat berbeda dengan rumah yang ditinggalinya. Gubuk reyot, dengan atap dari anyaman bambu yang sudah rapuh, penuh lubang dan lembab bekas tempias hujan.
“Kuanggap itu sebuah jawaban. Ternyata kakak lebih pengecut dari yang kukira. Tidak salah aku memilih Darwan dari pada kakak.” Lara beranjak pergi meninggalkan Anis yang tak bergeming sedikit pun.
Setelah Lara benar-benar pergi, Anis membanting kasar pintu reyot itu, lalu melempar semua barang yang terlihat olehnya. Berteriak sekerasnya lalu menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi. ‘Hidup ini tak adil baginya’ begitu isi batin Anis. Tak ada komentar lain, ia hanya ingin merutuki nasib yang tak memihaknya lagi.
Dalam diam Anis menatap piringan emas yang tertempel di dinding dengan namanya tertera di sana. Ia juga melirik beberapa piala yang juga terpajang di meja sudut ruangan.
“Aku bisa jadi orang hebat. Akan kuperlihatkan aku juga bisa.” Semangat membara dan dendam memenuhi dadanya. Seketika asanya kembali.
“Aku harus sukses,” Desis Anis.
Juli, 2015.
Gadis itu duduk paling depan di kelas yang bising dengan kesibukannya masing-masing. Mencurat coret buku tulisnya, tanpa peduli dengan yang lainnya. Zheyya mutia, siswi kelas X di SMA Bahagia. Wajahnya terlihat muram, bibirnya dikerucutkan lalu menunduk menatap kedua kakinya yang dibungkus sepatu hitam polos. ‘Kapan pelajarannya dimulai sih? Gurunya juga ga datang-datang,' gerutu Zheyya dalam hati.
Di antara semua murid, hanya Zheyya yang tidak beradaptasi. Dia tidak menegur sapa atau menghiraukan siapa pun. Bagi Zheyya, sekolah hanya untuk belajar. Dia tidak ingin menjalin pertemanan yang tidak perlu. Sekali lagi, Zheyya menatap ke arah jam dinding di atas papan tulis. Pukul 9 tepat, dan itu menjadi awal pertemuan siswa siswi baru yang ricuh tanpa arahan. Tak ada guru ataupun kakak kelas OSIS yang datang membimbing.
Zheyya yang mulai bosan melirik jam dinding, menundukkan kepalanya lagi lalu menangkupnya dengan kedua tangan yang dilipat di atas meja. Perlahan matanya menutup. Namun tiba-tiba ... Kelas menjadi hening. Refleks zheyya mengangkat kepalanya dan duduk tegap. Matanya langsung menatap ke arah siswa yang datang dari arah pintu masuk. Seperti yang dilakukan semua murid di kelas itu. Bagaimana tidak? Selain penampilannya yang mencolok, siswa itu juga cukup menarik perhatian.
"Famous boy pentolan SMP TAMAN BAHAGIA" bisik seorang siswi di belakang Zheyya.
'Really? Ffft ... Famous boy?' Zheyya terkekeh dalam batin, meski begitu dia tak mengalihkan pandangannya.
“Kanha!" Seru seorang siswa yang duduk di barisan samping Zheyya sambil menepuk-nepuk kursi kosong di sisinya.
Namun Kanha acuh, dan malah mendekat ke arah kursi di samping Zheyya.
Drrrk .... Kursi itu digeser dan dia pun duduk santai. Zheyya menghela nafas berat, merasa apa yang dia lakukan sia sia.
'Kirain yang dateng guru atau OSIS' batin Zheyya. Lalu dia pun menurunkan bahunya dan menyender ke kursinya lagi dengan santai.
Tapi tak lama kemudian tiga orang siswi dengan rok SMP datang menghampiri Kanha. Mencubit lengannya yang sedang asyik memainkan Blackberry Gemininya sembari menunduk. Kanha pun menengadah, lalu merespons dengan senyuman kecil. Sontak dua gadis lainnya berteriak histeris.
"Aaaa! ... Ciye! ... Ciye! ... Jenny dan Kanha!,"Dan sekali lagi Kanha menjadi pusat perhatian seisi kelas.
Zheyya yang merasa risi, ikut melirik mereka. Melihat lirikan Zheyya, gadis itu menggelayut mesra di lengan Kanha sambil menatap sinis ke arah Zheyya.
'What's wrong with me?' batin Zheyya tak habis pikir, lalu memalingkan wajah dan menutupnya dengan buku.
Zheyya yang tak ingin menjadi pusat perhatian menjadi sangat tidak nyaman, karna ikut terlihat di antara pasangan itu. Iris mata Jenni yang berbinar menatap Kanha dengan malu, dan wajah putihnya semakin terlihat imut saat kedua lesung pipinya ikut merona. Hanya dengan melihat sudut bibir Kanha sedikit melengkung saja, gadis-gadis berteriak histeris. Namun lain dengan pandangan Zheyya, baginya Kanha tidak menarik perhatiannya sama sekali.
Romansa SMA, kisah cinta klise yang umum terjadi. Manis dan mendebarkan! Cinta? Itu tidak ada di kamus Zheyya. Baginya cinta adalah hal tabu, perasaan yang harus ia hindari. Lingkungan dan tuntutan keluarga membentuknya menjadi pribadi yang kaku, dan berpikiran kolot. Di usia remajanya Zheyya sudah harus bekerja sangat keras. Berjualan kue keliling, mengasuh anak tetangga, atau melakukan apa saja demi beberapa lembar rupiah meski harus melakukan pekerjaan yang cukup berat.
Teng! Teng! Teng!
Bunyi bel sekolah membangunkan Zheyya dari mimpi singkatnya.
“Oke, hari ini sampai di sini saja. Kalian boleh pulang! Jangan lupa bawa alat alat yang kakak suruh untuk kegiatan besok!” ujar seorang siswa dengan seragam OSIS, sambil menutup spidol yang baru saja ia gunakan lalu meletakannya di atas meja.
Semua murid pun berhamburan keluar kecuali Zheyya yang masih melongo sambil mencerna situasi. Beberapa saat kemudian akhirnya kelas pun hening. Zheyya mengeluarkan pulpen dengan malas, lalu mencatat tulisan yang ada di depannya. Tiba tiba ....
“Pules banget tidurnya, besok-besok bawa bantal gih,” celetuk seseorang di belakang Zheyya. Sontak Zheyya pun menoleh kaget. Ternyata sedari tadi Kanha berdiri di belakangnya. Namun Zheyya memasang wajah sedatar mungkin, dan malah kembali menulis tanpa menggubris kehadiran Kanha.
Melihat Zheyya yang mengacuhkannya, Kanha berjalan gontai pergi meninggalkan ruangan itu. Setelah Kanha pergi, gadis itu membuang nafas kasar sambil memegangi dada sebelah kirinya.
“Dasar cowo aneh, gajelas! Bikin kaget aja!” Zheyya mendengus kesal.
Selesai menulis, Zheyya memasukkan buku dan pulpennya ke dalam tas. Lagi-lagi Zheyya menghela nafas berat seakan enggan melakukan apa pun, lalu meregangkan badan mungilnya sambil menatap ke luar jendela. Terlihat lapangan sekolah dengan beberapa pohon rindang di kedua sisinya. Semilir angin menggoyangkan dedaunan pohon-pohon itu, lalu masuk ke sela ventilasi jendela kelas.
Zheyya pun refleks menarik nafas dalam-dalam, merasakan kesejukan saat kedua manik matanya ia pejamkan sesaat. Tapi kali ini gadis ini bangkit dari duduknya, menggendong ransel hitamnya dan berlalu dari sana.
Sementara itu, Kanha bersenandung kecil menikmati semilir angin bersama kuda besinya. Lalu terkekeh saat mengingat kejadian di kelas tadi. Ia sengaja berdiri di belakang Zheyya saat murid-murid lainnya berhamburan keluar untuk pulang, demi menutupi sobekan di punggung baju Zheyya.
“Sialan. Ngapain juga gua repot-repot nutupin punggungnya kalo tau dia gak tau trimakasih gitu!” umpat Kanha.
Saat sedang asyik bermonolog, tiba-tiba gawai di saku celananya bergetar. Kanha pun menepikan motornya lalu mengambil ponsel itu.
[Bae, kamu jadi ke tongkrongan gak?]
Tanya seorang perempuan dari seberang, saat Kanha mengangkat teleponnya.
“Ya jadi lah sayang ....” Jawab Kanha manja.
[Oke ditunggu. Jangan lama-lama, udah kangen nih.]
“Iya, gua lagi di jalan nih. Tungguin aja ok?” Kanha menutup telpon tanpa menunggu jawaban. Lalu menghapus daftar panggilan dengan nama kontak *Player 13 itu sebelum akhirnya memasukkan gawainya kembali ke saku celananya.
Dengan mimik wajah yang berubah, Kanha melajukan kembali motornya. Melesat di atas aspal dengan kecepatan tinggi. Menyalip setiap kendaraan yang menghalangi jalannya.
Kedua kakinya terus melangkah dengan tergesa, wajah datarnya menatap lurus ke arah jalan yang ia tuju tanpa menengok ke mana pun. Sampai di depan gerbang oren yang tinggi dia pun berhenti. Zheyya merogoh saku roknya, lalu mengeluarkan gantungan dengan beberapa kunci, dan membuka gembok yang menggantung di selot pagar itu. Dia pun masuk ke dalam rumah besar itu dengan buru-buru. Matanya langsung tertuju pada lemari jam antik besar warna cokelat di tengaht ruangan. Sudah Jam dua siang.
"Assalamualaikum," ucap gadis itu setengah teriak.
"Waalaikumsalam, gimana hari pertama jadi anak SMA?" Seorang wanita paruh baya tetiba turun dari tangga di samping jam besar itu. Menghampiri Zheyya sambil tersenyum ramah. Lalu gadis itu mengambil tangan wanita itu dan menciumnya.
"Maaf Zhey telat bu," Zheyya menunduk malu.
"Iya gapapa, lagian ga banyak yang harus dikerjain. Hari ini cuma cuci baju sama piring aja," Ujar wanita itu lalu memakai kacamata dan menenteng sebuah tas tangan hitam ukuran sedang.
Untuk usia 50an wanita itu terlihat modis dan rapi. Pipinya yang mengkilap dan kencang diberi blush on merah muda dan lipstik dengan warna senada.
"Baik Bu Ratna," jawab Zheyya singkat.
"Oh ya, ibu mau keluar hari ini. Mungkin pulang nanti agak malam. Zheyya bisa tungguin rumah sampai jam 8 nan gak?" Tanya bu Ratna.
"Em, bisa Bu," jawab Zheyya.
"Di kulkas ada sayur, kalo mau makan angetin aja. Jangan lupa pintu kunci kunci." Ujar Bu Ratna.
“Ya Zhey, ibu berangkat dulu. Titip rumah ya! “Assalamualaikum,” Wanita itu pun pergi meninggalkan Zheyya. “Alaikumsalam,” jawab Zheyya.
Bu Ratna berjalan menuju mobil klasik putih jadul yang sudah terparkir di depan gerbang. “Berangkat sekarang?” Tanya seorang pria yang juga paruh baya.
“Besok aja pih,” jawab bu Ratna.
“Kemarin aja deh,” canda suaminya.
“Ya atuh sekarang papih Dimas! Udah telat ini,” timpal Bu Ratna ketus, dan mobil pun melaju.
Sementara itu Zheyya membuka ranselnya, mengeluarkan sebuah kaos lengan pendek dan mengganti seragamnya. Lalu melihat seisi ruangan, ruang tamu kotor, sampah di mana-mana, mainan anak, bahkan piring dan baju kotor juga menumpuk. Sepertinya cucu Bu Ratna baru saja pulang.
“Tidak banyak yang harus dikerjakan,” gumamnya sarkastis.
Keheningan pun berhenti saat Zheyya mulai menunjukkan kelincahan tangannya. Satu per satu pekerjaan diselesaikannya. Dengan telaten dan gesit jari jemarinya mulai mencuci piring, menatanya, dan membersihkan seisi ruangan. Ruang tamu, kamar mandi, ruang makan, teras, dan halaman terkecuali dua kamar utama yang ada di lantai dua rumah itu.
Rumah gedong orang sekitar menyebutnya begitu. Lantaran rumah besar itu ada di antara pemukiman warga menengah bawah yang rumahnya kecil. Bisa dibilang rumah itu satu satunya rumah bertingkat yang ada di sana. Didominasi warna oren dan coklat rumah bergaya simpel klasik itu sudah cukup berumur. Di dalamnya banyak benda-benda antik yang dipajang hampir di setiap sudut ruangan. Guci, vas, cangkir dan alat makan unik yang dipajang di lemari kaca, bahkan lantai marmer dan lampu gantung, semuanya terlihat mahal bahkan bagi yang tidak tahu harga sekalipun.
Zheyya menghempaskan tubuhnya ke atas sofa tunggal di paviliun. Ruangan itu berukuran sama dengan ruang tamu yang ada di sampingnya, tapi terlihat lebih luas karna hanya ada satu sofa, dan piano di pojok ruangan itu. Di sana hanya ada satu hiasan Mozaik yang menempel di atas dinding bertema krem, kontras dengan lantai granit kasar dan karpet coklat. Berbeda dengan Bu Ratna yang suka mengoleksi barang antik bernilai seni , Pa Dimas lebih suka musik dan ketenangan. Meski begitu mereka pasangan yang serasi karna saling menghargai hobi masing-masing.
Zheyya menatap langit-langit, hanyut dalam lamunannya sendiri. Kuharap waktu berhenti, rasanya nyaman sekali padahal hanya tiduran di atas sofa, Batin Zheyya. Perlahan matanya menutup, tenggelam dalam kenyamanan.
Din! Din!
Klakson mobil beberapa kali berbunyi, membuat Zheyya tersentak dan terjaga. Gadis itu tergesa berlari keluar menuju gerbang, lalu membuka gerbang itu lebar-lebar.
“Maaf ibu agak telat, soalnya di jalan macet total. Ada tawuran anak-anak nakal tadi,” ujar Bu Ratna saat keluar dari mobil. Zheyya hanya mengangguk dan tersenyum kecil, lalu membantu membawa barang bawaan Bu Ratna masuk.
“Untung kaca mobil kita ga kena lemparan batu tadi. Dasar anak zaman sekarang, berantem bawa sejata tajam, bawa gir segala. Serem amat! Udah kayak mau bunuh orang hiyy!” cerocos Bu Ratna sambil bergidik ngeri.
“Lagian papih udah mami suruh jalan biasa aja malah jalan situ,” tambah Bu Ratna.
“Yamana papi tau ada tawuran disana,” timpal pa Dimas dengan nada halus.
Zheyya terkekeh kecil melihat argumen sepasang suami paruh baya itu.
“Kalo gitu Zheyya ijin pamit, udah malem juga Bu, Pa,” ucap Zheyya yang sudah menggendong ranselnya.
“Gak nginep aja Zhey? Udah jam 9 loh, lebih malah?” tanya Pa Dimas.
“Iya nginep aja, malah lebih deket berangkat ke sekolahnya kan?” tambah Bu Ratna.
“Ngga bu, pa, soalnya ada alat-alat yang harus Zheyya bawa dari rumah buat tugas,” Zheyya menolak halus tawaran mereka.
“Yaudah, ibu telpon dulu mang nanang biar anterin kamu pake motor ya ... Tunggu sebentar,” tawar Bu Ratna sambil meraih gawainya yang baru saja ia simpan.
“Gak usah bu, kasian udah malem. Takutnya udah tidur malah ganggu,” sekali lagi Zheyya menolak sambil melangkah mundur.
“Yowis, mumpung di jalan masih rame gih! Nanti malah kemaleman kalo ngobrol mulu kasian Zheyyanya mih ... Hati-hati di jalannya ....” Ujar Pa Dimas.
“Oiya ini buat Zheyya bawa pulang. Salam buat orang rumah ya tihati dijalan ... “ Bu Ratna menyodorkan keresek hitam.
“Makasih bu, Zhey pulang ya ... Assalamualaikum ....”
***
Zheyya berjalan menyusuri trotoar jalanan kota yang masih cukup ramai kendaraan. Bahkan angkutan umum pun masih ada, tapi dia memilih berjalan kaki ketimbang naik angkutan umum.
“Aku harus mengirit uang,” gumamnya sembari menepuk-nepuk saku rok sebelah kanannya.
Angin malam yang dingin terasa menusuk hingga ketulang. Kaos tipis yang dikenakannya tadi tidak cukup menutupi kulitnya. Zheyya yang mulai menggigil pun mengeluarkan seragamnya dari ransel lalu mengenakannya. Tidak lebih baik, tapi setidaknya lehernya sedikit tertutup.
Sampai di pertigaan jalan, Zheyya berhenti. Melihat kanan kiri untuk menyeberang jalan. Baru selangkah dia maju ... Di seberang jalan ada beberapa pemuda nongkrong tepat di teras warung kopi. Seorang pemuda menatap Zheyya dengan saksama lalu....
“Woy! Di sini ada anak SMA BAHAGIA!” Teriak pemuda itu menunjuk ke arah Zheyya lalu menoleh ke seorang temannya yang sedang memarkirkan motor vespa hitam.
“Dasar gila, itu cewek beg*!” timpal seorang lelaki di belakangnya.
“Bawa buat sandera!” titah lelaki dengan luka berdarah di tangan kiri dan kepalanya, sepertinya dia yang paling dendam terhadap anak SMA BAHAGIA.
Zheyya yang ada di seberang tersentak kaget. Perasaan merinding menyeruak dari dadanya ke seluruh tubuh. Tawuran yang Bu Ratna bilang tadi di sini kan? Batin Zheyya. Dia tahu apa yang sedang terjadi, dan itu bukan hal yang baik. Tetiba beberapa pemuda dari dalam warung keluar untuk melihat, dan tiga orang Lainnya hampir menyeberang jalan.
Zheyya mundur beberapa langkah, tapi dia sudah terlalu lelah karena seharian bekerja. Diapun tersungkur dan ambruk, lututnya tidak bertenaga saking takutnya. Satu langkah, tinggal selangkah lagi lelaki itu meraih tangan Zheyya.
Ckittt....
Bruagh!