Bab 1

19 Juni 1999

"APA?! KAMU HAMIL?!"

Seketika tangan besar nan kasar itu mendarat di pipi gadis itu yang serta merta tertoleh ke samping. Panas dan perih terasa menjalar di rahangnya. Matanya terpejam menahan sakit.

"Jadi perempuan nggak bisa jaga diri. Bikin malu saja!"

Gadis itu kini hanya bisa menangis mendengar kata-kata kasar yang menghinanya.

"Jaga emosimu, Pa, jangan kasar begitu, bagaimana pun dia cucu kita." Seorang wanita paruh baya memeluk cucu perempuannya yang menangis di kursi.

Gadis itu baru saja mengadukan kepada kakek dan neneknya kalau dia tengah mengandung sudah lima Minggu. Di luar dugaannya, bukannya mendapat keadilan seperti yang diharapkan, kakeknya justru marah besar.

Pria paruh baya itu lalu menatap lekat cucunya yang masih menangis terisak di pelukan sang nenek, "katakan siapa bapaknya?"

Takut-takut gadis itu menjawab. "Mas Bagaskara."

Kakeknya terkejut bukan main mendengar nama yang keluar dari mulut cucunya. Nenek Karla yang sedang memeluknya ikut syok.

"Aku akan menyuruhnya untuk bertanggung jawab," ucap kakeknya mantap.

***

"Tidak, Ma! Mas Bagas itu milikku! Dia harus menikah denganku, bukan dengan Leyla. Aku tidak sudi jika Mas Bagas harus menikah dengan perempuan lain! Apalagi dengan Leyla!"

Kabar yang baru disampaikan oleh ibunya, Karla, secara tiba-tiba membuat Rista serasa bagai disambar petir di siang bolong. Wanita itu tentu tidak menyetujui jika kekasihnya, Bagaskara, harus menikahi keponakannya sendiri.

"Tapi Bagaskara itu sudah menghamili Leyla dan dia harus bertanggungjawab atas perbuatannya. Apa kamu tega melihat Leyla harus menanggung semuanya sendiri? Apa kamu tega jika orang-orang tahu dia hamil tanpa suami ketika perutnya makin membesar nanti? Ini semua juga demi menutupi aib kita, Rista."

Karla berusaha memberi pengertian pada anaknya. Sejak awal Karla sudah tahu bahwa ini adalah keputusan yang sulit, terutama bagi Rista. Karena Bagaskara adalah kekasihnya. Mereka telah menjalin hubungan sejak lama dan berencana akan naik ke jenjang yang lebih serius.

Karla awalnya juga sempat bimbang. Leyla dan Rista, cucu pertama dan anak bungsunya, dua gadis yang sama-sama beliau sayangi. Tapi kali ini dia harus memenangkan Leyla, cucunya, karena yang terpenting saat ini adalah menutupi aib Leyla, juga aib keluarganya.

Rista menggeleng. Apa pun alasannya dia tidak setuju.

"Kalau masalah kandungan tinggal gugurkan saja kandungannya. Atau kalau Mama kekeh menikahkan Leyla cari laki-laki lain yang mau menerimanya. Asal jangan Bagas!"

"Tapi Bagas adalah ayah biologis dari anak itu!"

"Ya sudah kalau begitu gugurkan saja kandungannya!" Rista bersikeras.

"Astagfirullahal'adzim ...." Karla mengusap dada. Tidak menyangka dengan sikap putri bungsunya yang sangat dia sayangi.

"Kalau Mama dan Papa tetap bersikeras menikahkan mereka sedangkan kalian tahu Mas Bagas itu adalah kekasihku, berarti kalian egois, kalian tidak memikirkan perasaanku, yang kalian pikirkan hanyalah perasaan Leyla!" Rista berdiri dan berlari masuk ke kamar.

Rista sebenarnya sungguh sakit hati dan kecewa dengan apa yang sudah Bagas perbuat. Dia tak menyangka selama ini Bagas selingkuh di belakangnya dan lebih parahnya Bagas selingkuh dengan keponakannya yang dia benci. Rasanya dia tak ingin menerima Bagas lagi. Namun, keinginannya untuk menikahi pria konglomerat itu lebih kuat dari apa pun. Dan dia tak ingin jika Leyla yang harus memiliki semua yang dia inginkan pada akhirnya.

Rista mengepalkan tangannya, geram. "Kurang ajar! Aku harus lakukan sesuatu!"

***

Bulan demi bulan berganti. Dan perut Leyla semakin membuncit. Keluarganya sudah meminta Leyla untuk menggugurkan kandungannya saja jika Bagas tidak mau menikahinya, tapi Leyla tidak mau dan tetap memilih membesarkan kandungannya sampai dia melahirkan nanti.

Keluarganya juga sempat marah besar ke Bagas atas apa yang sudah dia perbuat ke Leyla. Namun, Rista mati-matian membela pacarnya. Dia memenangkan Bagaskara di hadapan keluarganya dan menyudutkan Leyla. Katanya, Bagaskara pasti tidak sengaja melakukan itu dan Bagas tidak bisa dipaksa menikahi Leyla karena Bagas tidak mencintai Leyla. Dia juga mengatakan pasti Leyla lah yang sudah menggoda Bagas lebih dulu. Bagas itu seumpama kucing dan Leyla adalah ikan. Dan kucing tidak akan menolak jika dilempari ikan. Rista sudah bertekad akan melakukan apa pun sampai dia bisa menikahi pria konglomerat itu. 

Alhasil, demi menutupi aib keluarga, Leyla diusir dari rumah. Nenek Karla pun tidak bisa menolongnya karena itu keputusan kakeknya.

"Tolong aku, Ma, jangan usir aku, ampuni aku. Aku tahu aku salah tapi jangan usir aku ...." Leyla bertekuk lutut pada Rina, ibunya. Masih mencoba mengharap sedikit belas kasih yang mungkin masih ada. 

Leyla benar-benar menyesali perbuatannya. Dia hanya bisa berharap ibunya mau membelanya dan memenangkannya di hadapan keluarga besar. Namun, harapan itu sia-sia karena Rina pun tak memiliki daya untuk membela anaknya yang jelas-jelas telah bersalah. Dia teramat malu dengan apa yang sudah Leyla perbuat. Hatinya pun jadi benci terhadap anak pertamanya itu.

Dengan mata berkaca-kaca, Rina menendang anaknya yang bertekuk lutut itu hingga tubuh Leyla terduduk di halaman yang basah karena air hujan.

"Ini adalah risiko yang harus kamu terima atas perbuatanmu! Jangan pernah panggil saya Mama lagi karena saya bukan Mama kamu! Saya tidak punya anak tukang pembuat aib seperti kamu!" teriak Rina dengan teganya. Tak kuasa menahan kesedihannya melihat nasib anaknya itu, dia pun masuk ke dalam rumah dan menutup pintu, meninggalkan Leyla yang menangis sendiri.

Rista yang menyaksikan itu dari balik kaca jendela hanya tertawa dalam hati. Dia sangat mensyukuri atas apa yang menimpa keponakannya itu. Dia memang tidak menyukai keponakannya yang selalu merebut haknya sejak kecil. Dan dia senang karena akhirnya keponakan yang tidak dia sukai hengkang dari rumah ini. Dan setelah itu hidupnya bebas tidak ada lagi yang mengganggu hubungannya dengan Bagaskara.

Malam itu, di tengah hujan deras dan kilat yang sesekali menyambar, Leyla berjalan tertatih membawa perutnya yang buncit. Pasrah ke mana kaki akan membawanya. 

***

18 Maret 2000

"Anak kamu sudah lahir. Semua biayanya sudah Mas Bagas lunasi jadi kamu tidak ada alasan lagi untuk menuntut," jelas Rista pada Leyla yang sedang menggendong bayinya begitu dia dan Bagas masuk ke ruangan di mana Leyla di rawat pasca melahirkan. 

Leyla memandangi mereka berdua, lantas tersenyum tipis. Ada sepercik rasa syukur di hatinya karena akhirnya Bagas mau bertanggungjawab membiayainya lahiran. "Makasih."

"Dan ini sejumlah uang untuk penghidupan kamu dan anak kamu." Rista meletakkan amplop kuning dan tebal di samping Leyla. "Setelah ini kamu boleh pergi yang jauh dari hidup kami dan jangan ganggu Mas Bagas lagi, karena sebentar lagi aku dan Mas Bagas akan menikah," jelasnya lagi panjang lebar. Lantas menatap pria di sampingnya dengan tersenyum. "Iya, 'kan, Sayang?"

Dan kalimat itu membuat senyum di wajah Leyla memudar.

Bagas yang berdiri di sampingnya hanya mengangguk.

Menjelang kelahiran sang buah hati, Leyla kembali pada keluarganya untuk meminta pertanggungjawaban Bagas. Keluarganya waktu itu sudah memaafkan Leyla dan meminta menyelesaikan masalah itu secara kekeluargaan saja. 

Leyla meminta Bagas membiayai semua kebutuhan anaknya sampai dia besar nanti, termasuk biaya melahirkan di rumah sakit. Kalau tidak, Leyla nekat akan melaporkan Bagas ke pihak polisi atas tuduhan menelantarkan anak.

Namun, Rista punya usul lebih bagus waktu itu. Dia meminta kalau sebaiknya bayi itu nanti mereka saja yang rawat dan besarkan. Rista juga berjanji akan membesarkan anak itu dengan penuh kasih sayang serta di sekolahkan hingga sukses layaknya anak sendiri. Jadi Leyla tidak perlu memikirkan biaya anak itu lagi. Namun, Leyla menolak keras usul itu.

Karena Leyla tidak mau menyerahkan bayinya, Bagas hanya akan membiayainya lahiran dan menafkahi anak itu sampai satu tahun ke depan. Leyla pun setuju dengan kesepakatan itu, tapi Rista tetap meminta Leyla untuk memikirkan tawarannya lagi baik-baik atau Leyla akan menyesal di kemudian hari.

Rista kembali menatap Leyla. "Bagaimana dengan tawaran itu, Leyla? Aku harap kamu bisa berpikir realistis dan tidak egois. Demi masa depan anakmu."

Leyla menggeleng. "Aku tidak yakin kalian akan merawatnya dengan baik. Dia putriku, kalian tidak boleh memisahkan kami,"

"Apakah kamu pikir, membiarkannya hidup denganmu, hidupnya akan terjamin? Bagaimana dengan masa depannya? Sekolahnya? Apa kamu sanggup membiayai sekolahnya?" Jeda sejenak. "Kalau bayi itu besar di bawah asuhan kami, dia pasti akan mendapatkan penghidupan yang layak, sekolah yang tinggi dan jadi orang sukses. Aku dan Mas Bagas akan merawatnya.

"Kamu harus percaya, aku akan menyayanginya seperti anak sendiri. Kamu tidak perlu khawatir. Dan kami tidak berniat memisahkanmu dengan anak itu. Kalau dia sudah dewasa dan sukses nanti, kamu boleh mengambilnya, Leyla. Kami hanya peduli dengan masa depan anak itu." Rista masih berusaha membujuk dan meyakini Leyla, tapi Leyla tetap tidak mau.

Wanita itu menggeleng tegas. "Aku pasti bisa menghidupi anakku sendiri!"

"Ya sudah, kalau kamu tidak mau," ucap Bagas pada Leyla. "Tapi jika terjadi sesuatu pada anak itu jangan salahkan kami. Dan aku minta anak ini tak boleh tahu siapa ayahnya."

Leyla menatap Bagas dengan raut terkejut, matanya mulai berkaca-kaca. Namun, sejenak kemudian dia mengangguk. Apa pun akan dia lakukan asalkan dia dan anaknya tidak dipisahkan.

"Karena kamu tidak mengizinkan aku merawat anak itu, maka izinkan aku memberinya nama. Aku harap kamu tidak melarangku kali ini."

Leyla menatap bayinya sejenak, lalu pelan dia menyerahkan bayi yang tengah tertidur itu pada Bagas. Bagas menerima bayi itu dengan perasaan terenyuh.

Ditatapnya bayinya yang tidur dengan mata terpejam sangat rapat. Bayi itu cantik, lucu, kulitnya putih merona, meski pun masih bayi sudah terlihat jelas dia memiliki hidung yang mancung. Jauh dalam lubuk hatinya dia sangat ingin memiliki bayi itu. "Aku kasih dia nama Alena," ucapnya sambil tersenyum. "Halo, Alena."

Setelah cukup lama menggendong bayi itu, akhirnya dengan berat hati, Bagas melepas bayi itu, mengembalikannya ke ibunya. Dan setelah itu, Bagas dan Rista pamit pulang.

"Sudah cukup mereka membuatku menderita. Aku tidak mau mereka menambah penderitaanku dengan mengambil bayiku." Leyla berbicara sendiri. Lantas menunduk, memandangi bayinya yang masih tidur. Leyla tersenyum. "Ibu tidak akan biarin ada orang lain rebut kamu dari Ibu," bisiknya.

Bab 2

18 Tahun Kemudian.

"Jadi, Pak, saya di sini bekerja sebagai Cleaning Service?"

Raut wajah Alena seketika berubah kala pria dihadapannya mengatakan kalau dia terima di sini sebagai Cleaning Service. Tatakala dia dipanggil untuk datang ke perusahaan yang dimasuki surat lamaran kerja, dia pikir akan diterima dengan posisi yang bagus. Namun, ternyata ekspektasinya terlalu tinggi. Perasaan senang yang tadi dia rasakan seketika lenyap. Dan dia bertanya kembali untuk memastikan.

"Benar, Mbak. Bagaimana? Apakah Mbak terima?" Perubahan raut wajah Alena tentu terbaca oleh pria itu. 

"Saya terima, Pak," jawab Alena akhirnya. Meski awalnya dia sedikit kecewa karena fakta tidak sesuai dengan keinginannya, dia tetap menerima pekerjaan itu. Karena yang penting dia punya pekerjaan dan penghasilan sendiri setelah selama ini dia bersusah payah mencari pekerjaan ke sana ke mari.

"Bagus kalau begitu. Tugas Mbak di sini adalah bertanggungjawab untuk kebersihan seluruh area kantor ini dan kerjakan dengan teliti," jelas pria berjas di hadapannya yang merupakan direktur di perusahaan ini.

"Baik, Pak. Jadi kapan saya mulai bekerja?"

"Di sini pakai sistem shift, seminggu masuk pagi dan pulang sore. Seminggu lagi masuk sore dan pulang malam. Begitu setiap minggunya," terang sang direktur.  "Mulai besok kamu sudah boleh masuk. Besok pagi jam delapan kamu harus sudah ada di kantor dan pulang setengah empat sore," tambahnya.

"Baik, Pak."

"Oke."

"Kalau begitu saya permisi, ya, Pak. Terima kasih."

Pria itu mengangguk. Alena berdiri dan keluar dari ruangan tersebut.

Gadis itu mengehela napas lega seiring dengan langkahnya menuju keluar kantor. "Meskipun jadi CS nggak pa-pa, deh. Yang penting gue punya pekerjaan dan bisa bantuin Ibu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Lagi pula gue cuman tamatan SMA. Seharusnya gue tahu diri. Ya, gue harus bersyukur." Perempuan itu lalu menengadah memandangi langit-langit kantor yang mewah, berdoa kepada penghuni langit. "Ya Allah makasih akhirnya hamba diterima bekerja dan hamba bakal punya penghasilan sendiri." Perempuan berusia delapan belas tahun itu lalu tersenyum dan mempercepat langkahnya keluar kantor. Tak sabar ingin cepat pulang ke rumah dan mengabari ibu tentang kabar gembira ini.

***

"Stop, Pak." Alena mengetuk langit-langit angkot yang dia tumpangi kala kendaraan itu telah mendekati gang sempit di mana rumahnya berada. Angkot itu berhenti. Alena turun setelah membayar biaya angkot pada supirnya.

Sepeninggal angkot, gadis itu melanjutkan perjalanannya memasuki gang sempit dengan berjalan kaki. Rumah kontrakan Alena berada di gang sempit. Yang mana gang itu hanya cukup dilewati dua motor yang berdampingan dengan rapat, tidak untuk mobil apalagi truk. Jalannya terbuat dari semen dan membentuk jalan setapak. Di sepanjang gang itu rumah-rumah kecil dan sederhana berjejer rapat.

"Assalamu'alaikum, Ibu!" Alena memanggil ibunya tatkala dia membuka pintu yang tidak dikunci. Gadis itu langsung masuk mencari ibunya. Namun, dia tak menemukan ibunya di rumah. Dia pun keheranan karena sebelum dia berangkat ke kantor tadi ibunya masih di rumah dan tidak ada rencana pergi ke mana-mana. Hari ini ibunya juga istirahat dari bekerja karena majikannya sekeluarga sedang ke luar kota.

"Ibu!" panggilnya lagi sambil masuk ke kamar, tapi ibunya juga tak ada di sana. "Apa Ibu main ke rumah tetangga?" gumamnya.

Alena pun keluar rumah. Bu Sari, tetangga sebelahnya yang tengah melayani pembeli nasi kuning menyadari keberadaan Alena. "Eh, Alena, tadi saya lihat Ibu kamu di bawa warga ke rumah sakit." Bu Sari langsung mengabarkan.

Alena syok. "Ibu masuk rumah sakit? Kok bisa?"

Bu Sari menggeleng. "Saya nggak tahu. Sebaiknya kamu segera susul ibumu ke rumah sakit."

Alena mengangguk. "Makasih, Bu, infonya."

"Iya."

Alena pun kembali mengunci pintunya. Dan segera menghubungi sahabatnya, Farah. "Farah lo lagi sibuk nggak? Tolongin antarin gue ke rumah sakit. Gue buru-buru, Ibu gue masuk rumah sakit," jelasnya begitu sambungan telepon diangkat lawan bicaranya. Wajah Alena terlihat panik.

"Ini gue baru pulang dari kampus. Gue langsung ke rumah lo, ya?"

"Iya, iya, gue tunggu di depan gang aja." Alena mematikan ponselnya dan memasukkannya ke saku jins. Buru-buru keluar gang menunggu jemputan Farah di depan.

***

Setelah menanyai ruangan ibunya di rawat melalui resepsionis, Alena dan Farah berjalan tergesa di sepanjang lorong rumah sakit menuju ruang tempat ibunya dirawat. Perasaan Alena kian cemas. Tiap detik waktu terasa berjalan sangat lambat. Membuatnya kian cepat memacu langkah agar cepat mengetahui keadaan ibunya.

Sesampainya di ruangan ibunya, Alena langsung menghampiri ibunya yang tampak terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Farah mengiringi Alena. Mereka berdua berdiri di sisi ranjang itu.

"Ibu ...." Alena membungkuk menatap ibunya dengan rasa khawatir yang menjadi. "Keadaan Ibu gimana? Kata dokter Ibu sakit apa? Kenapa bisa sampai masuk rumah sakit?" tanya Alena beruntun. Sementara Farah di samping Alena hanya diam memandang iba Leyla.

"Alena, Ibu mau cerita sesuatu sama kamu." Bukannya menjawab pertanyaan anaknya, Leyla malah bicara hal lain.

"Cerita apa, Bu?"

"Maafkan Ibu sebelumnya karena sudah merahasiakan ini dari kamu. Sekarang Ibu rasa sudah waktunya buat kamu tahu semuanya ...." Alena mengernyit. Perasaannya semakin tak nyaman. "Ini tentang ayah kandung kamu,"

Alena tertegun.

Ayah kandungnya?

Kenapa tiba-tiba ibunya membicarakan itu?

Bukankah selama ini ibu sudah menceritakan yang sebenarnya tentang itu?

Apakah selama ini ibu menyembunyikan sesuatu tentang ayah kandungnya?

Bab 3

"Sebenarnya ... Ibu bohong ... tentang Ayah kamu selama ini." Dengan susah payah, Leyla menuntaskan kalimatnya. Suaranya terdengar semakin melemah. "Ayah kamu ... nggak meninggalkan Ibu. Dia ada ... di dekat kamu."

"Bohong gimana, Bu?" Pikiran Alena mulai berspekulasi.

"Ayah kamu nggak meninggalkan Ibu seperti yang pernah Ibu ceritakan. Ayah sama Ibu nggak pernah menikah."

Alena tertegun.

Jadi ibu dan ayah tidak pernah menikah?

Itu artinya ibunya hamil di luar nikah dan dirinya adalah anak haram?

 "Kenapa bisa, Bu? Jadi siapa sebenarnya Ayah aku?"

Mata Leyla yang sedari tadi menatap Alena, beralih menatap langit-langit ruangan bercat putih bersih. "Ayah kamu adalah orang yang selama ini kamu anggap sebagai Kakek kamu. Bagaskara."

Alena lebih syok lagi. Kakek Bagaskara? Bukannya kakek Bagaskara itu suami nenek Rista, adik dari neneknya? Bagaimana bisa Bagaskara adalah ayahnya? Alena tak mengerti bagaimana semuanya bisa terjadi.

"Ibu nggak bohong, 'kan, Bu?" Alena rasanya tak percaya.

Leyla menggeleng lemah. "Ceritanya rumit ...." Suara Leyla nyaris tak terdengar.

"Bagaimana itu bisa terjadi, Bu? Jelasin ke aku." Alena mendesak ibunya dengan rasa penasaran yang membesar. Sementara Farah yang mendengarnya kian membisu.

Leyla kembali menatap Alena. "Maafin Ibu, Alena ..." Leyla malah minta maaf membuat Alena makin tak mengerti. "Intinya Bagaskara adalah Ayah kandung kamu. Ibu nggak menikah dengannya karena ulah Rista. Rista itu jahat! Sangat jahat! Dia yang sudah merebut Ayah kamu dari Ibu! Dia wanita manipulatif. Munafik." Leyla menggebu-gebu. Meski lemah, intonasinya kian meninggi.

Alena diam, menunggu ibunya melanjutkan ucapan. Namun, tidak dengan pikirannya yang sibuk berspekulasi.

"Sekarang mereka hidup bahagia bersama anaknya, Alyssa. Mereka bahagia di atas penderitaan kita." Tangis Leyla pecah seketika. Tak dapat lagi menahan kesedihan yang kian menyesakkan hati. Peristiwa-peristiwa masa lalu mendadak berkelabat di ingatannya. "Seandainya dulu Ibu yang menikah dengan ayahmu. Nasib kamu tidak akan begini, Alena."

Alena berusaha untuk tidak menangis, meski tak dapat dimungkiri perasaannya sedih dan sakit mendengar cerita Ibu. "Ibu nggak boleh nangis," bisiknya.

"Kamu harus datangin mereka, kamu harus--" 

"Ibu jangan ngomongin itu dulu, Bu. Ibu fokus aja sama kesembuhan Ibu, ya?" Alena berusaha mengalihkan perhatian ibunya. Tapi Leyla malah menggeleng.

"Ibu mohon kamu harus datangin mereka ... minta pertanggungjawaban kepada mereka ...." Selepas mengucapkan kalimat itu, Leyla mendadak mengalami sakaratul maut. 

"Ibu!" Alena berteriak tertahan. Tak pernah terduga olehnya, di usianya yang masih sangat belia, dia melihat sendiri ibunya sakaratul maut, secepat itu.

"Laa ... ilaaha ...."

"Laa ... ilaaha ... illallaahh ...." Dengan air mata tak terbendung, Alena membantu ibunya mengucapkan dua kalimat syahadat. "Muhammadur Rasulullah ...."

Persis kalimat itu selesai dilisankan, Leyla menghembuskan napas terakhir. Tangis Alena pecah seketika. Tangannya menutup kedua mata sang ibu yang telah tak bernyawa "Ibu!!"

"Tante Leyla!" Farah yang sejak tadi terdiam akhirnya berseru. "Al, lo yang sabar, ya?" Farah mengusap bahu Alena.

Alena lantas menggeleng, tersadarkan sesuatu. "Ibu pasti belum meninggal. Ibu masih bisa diselamatkan!" Alena masih berharap semua ini tidak nyata. Yang dia lihat tadi hanyalah ilusi-nya. "Bu, bangun, Bu!"

"Al, Tante Leyla beneran udah meninggal."

Alena tak memedulikan Farah dan malah berlari menuju pintu, ke luar ruangan mencari dokter. "Dokter!"

Farah yang melihat itu tak bisa mencegah lagi.

"Dokter!" Suara Alena terdengar lantang di lorong depan ruangan itu. Mengundang perhatian pengunjung lain dan staf rumah sakit. Tak lama kemudian, dokter yang tadi menangani ibunya beserta seorang perawat pun datang.

"Ada apa, Mbak?" tanya perawat itu.

"Ibu saya! Ibu saya!" Alena kehilangan kata-kata. Melihat aksi Alena yang demikian, dokter dan perawat itu langsung bergegas masuk ke ruangan. Alena ikut masuk dan menyaksikan semua.

"Permisi."

Farah menepi.

Dokter memeriksa denyut nadi di tangan Leyla dengan kedua jarinya. Lantas menggeleng. "Innalillahi Wa'innailaihi Rajiun, Bu Leyla sudah tiada."

Alena menggeleng keras. "Nggak mungkin, Dok! Dokter pasti salah, periksa lagi, Dok! Atau coba lakukan sesuatu siapa tahu Ibu saya masih bisa sadar!"

"Maaf, tapi Ibu Anda sudah meninggal dunia," jelas dokter itu lagi.

 Alena menatap sang dokter tak percaya, lalu menghampiri ibunya yang terbaring kaku. "Ibu! Ibu kenapa tinggalin Alena, Ibu?! Ibu bangun!!" Alena mengguncangkan tubuh ibunya sekuat tenaga berharap ibunya bangun.

"Al, istighfar, Al. Tante Leyla udah nggak ada," bisik Farah. "Ikhlasin, Al."

Alena tak peduli dan terus berteriak histeris sambil mengguncang tubuh ibunya. Berharap ada keajaiban.

"Ibu!!" Alena terus menangis dan berteriak sampai akhirnya gadis itu jatuh pingsan.

"Alena!" Farah yang melihat itu langsung panik sekaligus bingung. Apa yang harus dia lakukan?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED